14/07/13

SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS


SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS
Oleh: Jum’an

CPU komputer saya ada dibawah meja berukuran 120 x 75 cm diatas dingklik setinggi 10 centi. Karena ruang gerak terlalu sempit saya menggunakan jempol kaki untuk menekan tombol on-off tiap kali menghidupkan komputer. Tetapi mencolokkan flashdisk kedalam lubang USB tidak mungkin menggunakan kaki, jadi saya terpaksa mengulurkan tangan kebawah meja mecari lubang kecil itu tanpa melihatnya. Mula-mula selalu kesasar dan lama meraba-raba, tapi untuk selanjutnya tangan saya seperti punya mata sendiri dan tak pernah salah. Tahu persis dimana titik yang saya cari. Demikian pula dengan parkir paralel atau memarkir mobil kedalam garasi yang sempit. Sesudah beberapa kali kesulitan maju mundur, selanjutnya mobil dan badan kita serasa menyatu sehingga jarak beberapa centimeter saja serasa terdeteksi dengan baik; tak pernah menyerempet tembok atau mobil lain. Anda begitu juga; untuk hal yang sama atau yang lain. Gerakan gerakan kita ternyata menunjukkan kemanjuran yang tidak kita sangka dan menjadikan kita percaya diri.
Tetapi ingat-ingat ini: Sekali kita sudah terbiasa dengan letak lubang USB dibawah meja atau parkir parallel atau ketrampilan lainnya, jangan lagi dipikir waktu mengerjakannya. Sebab memikirkan sesuatu yang sedang kita kerjakan akan merusak kinerja kita. Dalam blognya The Myth of ‘Just Do It’  Barbara Montero seorang profesor filsafat mengutip rumus seorang tokoh baseball Yogi Berra: “Anda tidak bisa memukul dan berpikir pada saat  yang sama.” Juga nasehat koreografer terkenal George Balanchine kepada para penarinya “Don’t think, dear; just do.” Jangan dipikir, lakukan saja! Bagi yang sudah terlatih melakukan sesuatu, memikirkan apa yang sedang dilakukannya mengarah pada ketidak-akuratan, kesalahan dan kadang-kadang bahkan ketidak-berdayaan total. Membawa gelas penuh air sambil memikirkan caranya akan membuat tangan kita bergoyang dan menumpahkannya; berpidato sambil memikirkan bagamana cara memulainya bisa membuat kita tersedak. Sebabnya, menurut sebuah artikel dalam The Scientific American yang pernah saya kutip dalam tulisan saya Akibat Terlalu Banyak Berpikir, "Mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja."
Saya kira fenomena diatas ada kaitannya dengan usaha saya yang selalu gagal untuk melaksanakan tertib solat dengan baik. Bukankah kita yang selalu melakukan solat wajib lima kali sehari sangat terlatih dan lancar melakukan urutan langkah-langkah dari takbir hingga salam? Kita melakukannya secara intuitif dan otomatis. Tidak kita pikir-pikir lagi. Meskipun demikian tidak jarang diantara kita yang tersesat di rakaat mana kita sedang berada. Saat itulah kita berfikir untuk mencari kejelasan supaya dapat melanjutkan langkah berikutnya. Karena daya ingat yang menurun dimakan usia, saya memakai cara begini: Ketika berdiri untuk mulai setiap rakaat, pikiran saya berkata: ini adalah rakaat ke sekian. Saya berharap cara ini akan menghilangkan keraguan. Tetapi waktu melakukan rakaat berikutnya selalu muncul pikiran: rakaat yang sebelum ini tadi sudah saya kerjakan atau baru rencana dalam pikiran?  Pikiran pun menjadi buntu dan solat 4 rakaat saya tetap berpotensi meleset menjadi tiga atau lima rakaat. Kita memang sulit untuk mengerjakan sesuatu sambil memantaunya secara bersamaan.
Dalam sebuah penelitian, dua kelompok mahasiswa diberi tugas untuk memberikan peringkat lima buah merk selai, dari yang terbaik sampai yang terburuk. Kelompok pertama hanya diminta menentukan peringkatnya saja, sedangkan kelompok kedua diminta juga untuk menyertakan alasan-alasan mereka. Hasilnya, kelompok pertama menunjukkan pernilaian yang cukup konsisten, selaras baik antar mereka dalam satu kelompok maupun dengan pernilaian dari Lembaga Konsumen.  Sedangkan penilaian oleh lompok kedua yang harus menyertakan alasan, ternyata kacau dan saling berbeda baik antar anggota kelompok maupun dengan penilaian Lembaga Konsumen. Para peneliti menduga karena kelompok kedua lebih banyak berpikir dalam menilai dan mempengaruhi hasil penilaian mereka.

Bagi mereka yang sudah ahli atau terbiasa baik dalam berolah raga, menari, menyanyi, berkhotbah maupun solat, tidaklah seharusnya untuk berfikir waktu mengerjakannya karena pertimbangan cermat dapat menimbulkan kesulitan. Wallohu a’lam 

03/07/13

SOLAT BERBAHASA JAWA

SOLAT BERBAHASA JAWA
Oleh: Jum’an

Pak Sri teman saya asli Solo mengatakan bahwa ia merasa lebih sreg bila berdoa dalam bahasa Jawa. Katanya lebih terasa kalau dia mengucapkan Duh Gusti dibandingkan Ya Robbi. Dengan rendah hati ia mengatakakan seandainya diizinkan, ia ingin solat menggunakan bahasa Jawa: setidak-tidaknya pada tahiyat akhir saja. Saya tertegun mendengarkan curhatnya. Saya hanya menimpali bahwa keinginannya mirip dengan keinginan saya dalam menjalankan profesi sehari-hari. Setiap kali berurusan dengan suhu, volume, berat atau jarak, selalu terasa ada yang janggal yang tidak sreg. Karena menerapkan teknologi Amerika, suhu terpaksa dinyatakan dalam derajat Fahrenheit, bukan dalam derajat Celcius (Centigrade), padahal saya lebih sreg menggunakan derajat Celcius karena lebih mudah dibayangkan. 0o C adalah sedingin menggenggam es batu dan 100o C sepanas tersiram air mendidih. Sedangkan 100o F tak terbayang seberapa panas, kecuali jika saya konversikan lebih dulu. Begitu juga volume, berat dan jarak saya lebih sreg menggunakan liter, kilogram dan meter daripada feet, pound dan gallon. Lebih terbayang. Pak Sri juga ingin doa dan solatnya lebih terasa, seperti manisnya rasa buah, tidak seperti menelan kapsul vitamin meskipun mungkin sama khasiatnya. Meskipun tak pernah terlintas untuk solat menggunakan bahasa Jawa, saya memahami pentingnya ibadah yang terasa sampai kehati tidak verbalististis dan mekanistis. Bagi Pak Sri bahasa Jawa tidak hanya enak diucapkan tetapi terasa meresap sampai kehati dibanding bahasa Arab yang tidak ia kuasai dengan baik. Saya maklum karena sebagai orang Banyumas saya juga setali tiga uang.

Konon suatu saat Raden Ajeng Kartini merasa bosan mengaji dan menghafal dalam bahasa Arab tanpa memahami artinya. Ia dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngaji yang mengaharapkannya menjadi wanita yang soleh. Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya Estella Zeehandelaar, seorang tokoh feminis Yahudi Belanda. Salah satu baris surat bertanggal 6 November 1899 itu berbunyi: “Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” Ini tragis! Karena guru ngaji yang mungkin tidak pandai menyajikan materinya dalam bahasa Jawa yang difahami dan diresapi, Kartini berpaling kepada komunitas Belandanya. Tetapi bukan salah sang guru ngaji. Kartini memang dibawah pengaruh mereka; bahkan ia memandang Dr. Snouck Hurgronje orientalis-kolonialis Balanda sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Kepada Rosa Abendanon istri Menteri Agama & Kebudayaan Hindia Belanda waktu itu, Kartini menulis: “… sudikah nyonya menanyakan kepada beliau apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” Mempertentangkan arti soleh dan baik hati adalah tidak relefan; bahkan dalam hal ini terdengar provokatif dan menunjukkan ketidak sukaan kepada bahasa Arab, padahal RA Kartinii adalah cucu dari pasangan KH Madirono seorang guru agama dan Nyai Hajjah Siti Aminah.

Kebanyakan kita menyangka bahwa apa yang kita ungkapkan dengan kata-kata sama persis dengan yang kita rasakan dalam pikiran. Yang kita ucapkan tergantung dari apa yang kita gambarkan dalam pikiran kita. Tetapi ada pendapat yang sebaliknya yaitu apa kita rasakan, apa yang kita lihat, tergantung dari kata yang kita ucapkan. Artinya persepsi seseorang tergantung dari bahasa orang itu. Menurut Hipotesa Sapir-Whorf  bahasa menentukan atau sangat mempengaruhi cara berfikir dan perilaku masyarakat pengguna bahasa itu dan bahwa  macam-macam bahasa tidak dapat diterjemahkan satu dengan lainnya. Bahasa seseorang memang berpengaruh terhadap persepsi dan pemikirannya, sebagaimana terbukti dari penelitian dua orang dari Ben-Gurion Univ. Israel dan Bangor Univ. Inggris. Subyek dalam penelitian mereka adalah orang-orang Arab warga Israel, yang fasih dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab, yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang menggunakan bahasa Ibrani. Terbukti bahwa asosiasi positif mereka dengan bangsanya sendiri (sesame Arab) lebih lemah ketika mereka diuji dalam bahasa Ibrani daripada ketika mereka diuji dalam bahasa Arab. Mereka berfikir Arab lebih positif ketika mereka dalam lingkungan berbahasa Arab daripada lingkungan berbahasa Ibrani. Padanan awamnya, Kartini yang fasih berbahasa Belanda dan Jawa berkurang simpatinya kepada guru ngaji bangsa sendiri ketika ia bergaul dengan komunitas yang berbahasa Belanda. Karena itu ia memilih bertanya kepada Snouck Hurgronje daripada kepada ulama Islam berbahasa Jawa

Saya juga sering berdoa dalam bahasa Indonesia atau Jawa terutama bila harus menyebut hal-hal yang bersifat masa-kini atau khas-pribadi. Tetapi melakukan solat menggunakan bahasa Jawa, … tidak akan! Karena seperti dikatakan Edward Sapir diatas, pada hakekatnya suatu bahasa tidak dapat diterjemahkan kedalam bahasa lain. Apalagi ayat suci Qur’an. Anda tidak akan solat dalam bahasa selain bahas Arab bukan? Saya dan Pak Sri juga tidak.

21/06/13

SEDEKAH PELINDUNG JANTUNG & API NERAKA


SEDEKAH: MELINDUNGI JANTUNG & API NERAKA
Oleh: Jum’an

Prof. Stephen Post, Ph.D. adalah pakar bioetika dari Case Western Reserve University yang memiliki Sertifikat Pengakuan Khusus dari Konggres AS atas kontribusinya dalam bidang kedokteran. Dalam bukunya “Why Good Things Happen to Good People” (2007) ia menyajikan kisah-kisah nyata untuk menunjukkan bagaimana perbuatan “memberi” membuka pintu menuju kesehatan, kebahagiaan , dan hidup lebih lama. Beliau telah mengabdikan bagian besar hidupnya bagi penelitian ilmiah untuk membuktikan manfaat peningkatan kualitas kehidupan dari perilaku memberi. Penelitiannya menunjukkan bahwa bila kita memberi, terutama jika kita mulai pada umur muda, maka mulai dari kepuasan hidup, potensi diri dan kesehatan fisik meningkat secara signifikan. Kematian tertunda. Depresi berkurang. Kesejahteraan dan keberuntungan meningkat. Dalam buku ini Prof. Stephen telah mensarikan penelitian akademik menjadi pesan inspirasional. Disajikan pula bukti-bukti bahwa orang yang suka memberi selama tahun-tahun SMA memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik sepanjang hidup mereka. Studi lain menunjukkan, orang tua yang melakukan pemberian, hidup lebih lama daripada mereka yang tidak. Membantu orang lain telah terbukti membawa manfaat kesehatan bagi orang dengan penyakit kronis, termasuk HIV, multiple sclerosis dan masalah jantung. Dan studi menunjukkan bahwa orang dari segala usia yang membantu orang lain secara teratur, bahkan dengan cara yang kecil, merasa paling bahagia.
Menurut  Dr. David R. Hamilton, ketika kita melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, kita merasa senang. Dari segi biokimia diyakini bahwa perasaan senang yang kita dapatkan adalah karena peningkatan kadar morfin dan heroin alamiah dalam otak, yang disebut opioid endogen. Mereka menyebabkan peningkatan kadar dopamin dalam otak sehingga kita merasakan kegembiraan alami. Itulah mengapa perbuatan baik membuat kita lebih bahagia. Tindakan kebaikan umumnya disertai dengan kehangatan emosional. Kehangatan emosional menghasilkan hormon oksitosin, di otak dan di seluruh tubuh. Oksitosin menyebabkan pelepasan bahan kimia yang disebut oksida nitrat dalam pembuluh darah, yang melebarkan pembuluh darah. Hal ini mengurangi tekanan darah dan karena itu oksitosin dikenal sebagai hormon 'kardioprotektif' karena melindungi jantung (dengan menurunkan tekanan darah). Kuncinya adalah bahwa tindakan kebaikan dapat menghasilkan oksitosin dan karena itu kebaikan dikatakan melidungi jantung. Oksitosin dikenal juga sebagai hormon kedermawanan, katalisator silaturahmi, pembangkit ukhuwah.
Menurut Dr. Hamilton dua penyebab yang mempercepat proses penuaan adalah radikal bebas dan peradangan (inflamasi), yang berasal dari pilihan gaya hidup yang tidak sehat. Tetapi penelitian mutakhir menunjukkan bahwa oksitosin (yang kita produksi melalui kehangatan emosional) mengurangi kadar radikal bebas dan inflamasi pada sistem kardiovaskular dan karena itu memperlambat penuaan. Kebetulan kedua radikal bebas dan inflamasi juga memainkan peran utama dalam penyakit jantung jadi ini juga alasan lain mengapa kebaikan adalah baik untuk jantung.
Penelitian  dari Universitas Bristish Columbia mengungkapkan bahwa berbuat atau bertingkah laku baik, dapat membuat orang yang cemas merasa jauh lebih baik. Selama 4 minggu, sejumlah orang dengan kecemasan tinggi ditugaskan untuk melakukan perbuatan baik untuk orang lain setidaknya enam kali seminggu, termasuk hal-hal seperti memegangi pintu agar orang dibelakang ikut lewat, melakukan pekerjaan untuk orang lain, menyumbang untuk amal, dan membeli makan siang untuk teman. Menurut Lynn Alden, profesor psikologi yang merancang penelitian itu, melakukan hal-hal yg baik untuk orang lain menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam suasana hati yang positif. Juga meningkatkan keakraban dan menurunkan kecenderungan individu yang cemas menghindar dari orang banyak.
Para peneliti juga percaya bahwa melakukan tindakan-tindakan kebaikan kecil dan bersyukur dapat membuat orang lebih bahagia. Menurut professor psikologi Universitas California yang telah mempelajari kebahagiaan selama lebih dari 20 tahun, Sonja Lyubomirsky, kegiatan positif meningkatkan emosi positif, pikiran dan perilaku, pada gilirannya meningkatkan kebahagiaan. Berulang kali melakukan tindakan kebaikan yang sama mungkin kehilangan kemampuannya untuk meningkatkan kebahagiaan, katanya. Variasi, frekwensi dan motivasi semua memainkan peran. Penelitian Sonja menemukan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tindakan-tindakan kebaikan menjadi lebih bahagia dari waktu ke waktu.Kenapa? "Karena, saat anda baik kepada orang lain, anda merasa sebagai orang baik -lebih bermoral, optimis, dan positif," katanya.

Apa yang saya kutip diatas tidak lain adalah  tentang amal saleh, memberikan sedekah, menolong orang lain, dan bersyukur. Hal-hal yang seharusnya akrab dalam kehidupan serorang muslim. Hadis mengatakan bahwa sedekah menyembuhkan penyakit,  sedekah memperpanjang umur, sedekah mencegah kematian su’ul khotimah, sedekah (meskipun hanya sepotong kurma) melindungi kita dari api neraka, sedekah mendinginkan panasnya kubur. Sedekah menghilangkan sifat sombong dan kemiskinan. Padahal menyingkirkan duri dari jalanan, senyum pada saudara, berkata baik-baik, menunjukkan jalan orang yang pusing nyari alamat…itulah sedekah. Masyaallah!

09/06/13

GERAKAN BERBURU ANAK YATIM


GERAKAN BERBURU ANAK YATIM
Oleh: Jum’an

Konon sejak aktris cantik Angelina Jolie mengadopsi Zahara anak Ethiopia, jumlah orang Amerika yang mengadopsi anak Ethiopia melonjak empat kali lipat. Mereka terpaksa berurusan dengan agen-agen oportunis karena tidak adanya aturan yang jelas. Disana ada 5 juta anak yatim dan di Amerika ada jutaan keluarga yang butuh anak angkat. Adopsi internasional yang mereka anggap sebagai solusi ideal untuk negeri miskin seperti Ethiopia, ternyata penuh masalah. Banyak orang tua angkat curiga atau menemukan anak yang baru mereka adopsi bukanlah anak yatim. Anak itu mungkin juga memiliki sederet masalah kesehatan yang ditutup-tutupi oleh para pejabat korup. Keluarga yang melepaskan juga mungkin telah ditipu menyerahkan mereka melalui cara yang tak berperasaan. Kantor berita Australia ABC yang menelusuri  adopsi di Ethiopia mengisahkannya sebagai tragis, memyedihkan dan menunjukkan kekejaman bisnis adopsi internasional dalam memburu keuntungan. Selama dekade terakhir, banyak orang Amerika bersemangat untuk mengadopsi anak anak dari negara-negara miskin atau bermasalah seperti negara-negara bekas blok Soviet, Nepal, Uganda, Korea, Vietnam, Guatemala, China dan Rusia. Ketiga yang terakhir ini, pada 2005 merupakan pemasok 85% anak angkat untuk Amerika! Sayang banyak orang Barat tak tahu betapa adopsi intrnasional sangat menyedihkan di beberapa negara. Adopsi internasional telah menjadi ranah Wild West, yang bebas dari hukum, peraturan, atau pengawasan yang berarti. Biaya adopsi seorang bayi mencapai 25.000 sampai 50.000 dollar Amerika. Uang sebanyak itu – kali sekian ribu - telah menyebabkan kasus korupsi di banyak negara. Jutaan dolar itu sebagian digunakan untuk usaha tak bermoral seperti membeli, menipu, memaksa, dan kadang-kadang bahkan menculik anak-anak dari keluarga yang mencintai dan akan membesarkan mereka.

Akibat maraknya skandal dan korupsi, adopsi internasional oleh Amerika telah menurun hampir 60 persen dari puncakya pada 2004. Beberapa tahun lalu, Rusia merasa benar-benar tersinggung ketika seorang ibu angkat dari Amerika mengembalikan anak Rusia umur 7 tahun sendirian dalam pesawat dari Tennesee ke Moskow hanya dibekali tulisan "Saya tidak ingin lagi mengasuh anak ini.” Insiden ini dan berbagai skandal lainnya membuat Rusia dan negara-negara pemasok utama termasuk Korea Selatan, Cina, Guatemala semuanya mengurangi izin adopsi oleh Amerika.

Pada 17 Mei 2013 sekitar 500 orang tua angkat dari 37 negara bagian Amerika mengadakan “Pawai Menyongsong Anak Yatim” (Step Forward for Orphans March)" di Washington. Pawai penuh semangat ini diadakan oleh kelompok “Both Ends Burning” untuk memprotes peraturan yang mereka anggap tidak adil dan menghambat proses adopsi internasional. Mereka menuntut agar jumlah anak yang memasuki AS untuk diadopsi dinaikkan 5 kali lipat, perubahan dramatis dari tingkat adopsi yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pimpinan mereka Craig Juntunen berkata: "Sekarang ini proses adopsi terlalu ketat, birokratis berantakan, kita benar-benar menghalangi keluarga dan anak-anak berkumpul bersama-sama. (Seolah-olah anak- anak luar negri sudah menjadi keluarga mereka!) Ini gila." Pawai itu, katanya, adalah awal dari "gerakan sosial yang tak akan terbendung" yang akan "menggalang tuntutan sosial dan politik untuk mengeluarkan anak-anak yatim dari panti asuhan masuk ke dalam keluarga." Menurun drastisnya adopsi Amerika juga membuat mereka ingin merubah citra adopsi menjadi sesuatu yang lebih diminati dan orang rela melepaskan anaknya untuk diadopsi. FRC sebuah organisasi Kristen menyarankan untuk mengubah bahasa mengenai adopsi untuk menyajikan adopsi sebagai heroik, tidak egois, penuh kasih dan matang - dan sebaliknya, menggambarkan ibu-ibu muda atau belum menikah yang memilih untuk mengasuh sendiri anak-anak mereka sebagai belum matang dan egois

Menurut Kathryn Joice, dalam Huffington Post 9 Juni menuliskan bahwa Pawai Menyongsong Anak Yatim dan usulan pengubahan istilah adopsi adalah bagian dari Gerakan Adopsi Kristen. Sejak tahun 2000an, sejumlah pemimpin Kristen Protestan Amerika yang termotivasi oleh gagasan bahwa ada ratusan juta anak yatim di dunia, dan bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk merawat mereka, mulai meniup terompet bahwa adopsi dan perawatan anak yatim adalah panggilan khas Kristen. Adopsipun menjadi semacam badai pendorong bagi banyak orang Kristen Amerika. Para pemimpin penginjil menyusun theologi adopsi: “Kita mengadopsi anak-anak, sama seperti Allah telah mengadopsi kita.” Gerakan keagamaan yang bagi mereka beriktikad baik ini ternyata bermasalah. Sebagai efek samping dari ribuan umat Kristen yang baru dibangkitkan untuk mengadopsi, terjadilah bottleneck tak terduga: makin banyak calon pengadopsi yang mengantri, tingkat adopsi domestik maupun internasional malah menurun drastis. Baik adopsi bayi domestik yang lahir dari ibu yang tidak menikah atau anak yatim di luar negeri, tampaknya terlalu sedikit yang dapat diadopsi untuk memenuhi permintaan calon orang tua angkat yg meroket. Ternyata ada kekeliruan yang mendasar tentang anak yatim. UNICEF mendefinisikan yatim sebagai anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Dengan definisi ini ada 132 juta anak yatim di Afrika, Asia dan Amerika Latin 2005. Mereka bukan hanya anak-anak yang kehilangan kedua orang tua, tapi termasuk yang tak ber-ayah tetapi ibunya masih hidup atau tak ber-ibu tetapi ayahnya masih hidup. Dari 132 juta anak yang diklasifikasi sebagai yatim, hanya 13 juta yang benar-benar kehilangan kedua orang tuanya. Jadi bahwa ada 210 juta anak yatim dunia yang menunggu adopsi tidak benar.
Tingkat adopsi domestik juga menurun. Dulu, sebelum aborsi disahkan atau orang tua tunggal diterima, banyak wanita yang hamil yang tak terduga cenderung melepaskan bayinya untuk diadopsi; sekarang jumlah tersebut menurun tinggal 1% saja. Menurut Kelompok konservatif FRC, semua anak yang lahir dari ibu yang tidak menikah secara de facto adalah "anak yatim" yang tersedia untuk diadopsi (definisi dari alkitab kata mereka). Masalah lainnya, upaya untuk meningkatkan angka adopsi tampaknya lebih merupakan keinginan calon orang tua angkat. Permintaan adopsi terus meningkat, bukan hanya datang dari pasangan yang mandul tetapi juga demi panggilan Tuhan!

Menurut Kathryn Joice, Gerakan Adopsi Kristen perlu memahami bahwa krisis yang sebenarnya bukanlah soal anak yatim tetapi masalah kemiskinan, pembangunan yang buruk dan kurangnya infrastruktur kesejahteraan anak yang membuat banyak keluarga terpaksa menitipkan anaknya ke panti asuhan, sementara belum mampu membesarkan sendiri. Realitas itu sangat jelas terlihat di negara-negara berkembang, tapi sulit didengar ditelinga banyak orang tua angkat - khususnya oleh anggota Gerakan Adopsi Kristen. Tetapi jika mereka benar-benar memaksudkan adopsi menjadi sesuatu yang lebih menolong daripada menyakitkan, mereka perlu mempertimbangkan bagaimana sistem dan keyakinan mereka tentang adopsi dapat ditinjau kembali.


Professor David Mark Smolin, seorang pakar hukum dari Alabama, menulis sebuah risalah yang mengkritik bahwa analisa teologis dan penafsiran kitab suci yang mendasari gerakan adopsi Kristen adalah jelas-jelas sangat keliru. Berdasarkan pada standar, metode, dan pra-anggapan yang dianut bersama secara  luas oleh para pendeta Kristen dalam menganalisa kitab suci dan teologi, maka analisa khusus gerakan adopsi Kristen tentang konsep-konsep seperti "adopsi" dan "anak yatim" benar-benar kurang sempurna dan telah menghasilkan kesimpulan yang telah terbukti keliru. Dan bahwa kesalahan dari analisa Kitab Suci dan Teologi ini, kini menghasilkan praktek-praktek yg dalam istilah-istilah agama disebut "berdosa" dan dalam bahasa yang lebih sekular bisa disebut eksploitatif. Kritik teologis David Smolin itu dapat diunduh sisini.

01/06/13

HADIS ABAD KE 21 VERSI TURKI


HADIS ABAD 21 VERSI TURKI
Oleh: Jum’an

Sekitar 5 tahun lalu British Broadcasting Corporations (BBC) menyiarkan bahwa Pemerinta Turki akan menerbitkan kompilasi hadis edisi baru hasil re-interpretasi revolusioner serta modernisasi yang radikal. Berita yang merisaukan para ulama dan umat Islam itu dibantah oleh Direktorat Agama Turki yang mengatakan, berita itu merupakan cara pandang Kristen yang keliru terhadap perkembangan Islam. Prof. Hakki Unal dari Fakultas Agama Universitas Ankara menyatakan inisiatif re-interpretasi hadis itu merupakan upaya untuk memperjelas makna Islam dalam masyarakat modern. Seorang ulama Saudi dengan sinis betanya: Apakah anda mau menerbitkan Qur’an baru sesudah ini? Tetapi proyek reformasi hadis yang didukung Pemerintah berjalan terus. Pimpinan proyek itu, seorang petinggi Direktorat Urusan Agama (Dyanet) Mehmet Ozafsar berkata: “Kita bukan hidup di abad 20 lagi. Kita memerlukan suatu karya baru tentang Islam dalam perspektif budaya hari ini.”  “Dalam menghakimi suatu tindakan, kita jangan hanya membuka Qur’an atau kumpulan Hadis, menemukan satu ayat atau Hadis dan berkata ‘Aha! ini dia hukumnya!’  Itu berarti literalisme dan kebodohan; kata Mehmet Pacaci, petinggi Dyanet lainnya kepada Reuters

Begitulah, 100 orang pakar hadis telah memilih 500 dari 17.000 hadis tentang akidah, iman dan sosial, bekerja tekun selama 6 tahun dan akhirnya lahirlah sebuah eksiklopedia 7 jilid yang berisi hadis-hadis yang penting menurut para penyusunnya. Dikelompokkan berdasar subyek diikuti dengan esai pendek penjelasan hadis itu dalam konteks sejarahnya dan apa artinya hari ini. Hasil karya mereka akan dirilis resmi bulan Ramadan mendatang. Sebenarnya menseleksi dan mencermati hadis bukan hal baru dalam Islam. Para ulama terdahulu telah melakukannya untuk membantu umat Islam mempelajari hadis tanpa harus menelusuri kitab-kitab klasik yang panjang dan rumit. Hanya saja kali ini seleksi dan pembahasan itu dilakukan berdasarkan perspektif Turki hari ini, yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas masyarakat Muslim serta ekonomi yang dinamis.

Seberapa menyimpang hadis-hadis edisi Turki ini dari pengertian kita? Apakah sabda-sabda Rasulullah itu diselewengkan, kata-katanya dirubah, dinyatakan tidak asli atau sebagian dipersalahkan dan tidak diakui? Tidak demikian. Menurut Tom Heneghan editor berita Agama Reuters “tidak seperti Tesis Marthin Luther th 517 yang mengutuk praktek Gereja Katolik Roma dan melancarkan Reformasi Protestan.”  Mereka hanya membahas pandangan Islam tentang aqidah, iman dan kehidupan dalam terminologi yang difahami oleh orang Turki modern yang awam. Para ahli hadis itu adalah penganut Islam Sunni dengan akidah yang kuat yang tidak menggunakan penafsiran literal seperti yang dianut kaum muslimin dikebanyakan negara lain. Menurut Ozafsar, Turki mempunyai pandangan yang berbeda tentang budaya Islam. Temasuk tradisi sekuler yang kuat yang membolehkan konsumsi alkohol, berpakaian ala Barat utuk wanita. Turki juga membolehkan imam dan khatib wanita di masjid -masjid. Delegasi keagamaan Turki sering mengunjungi Universitas Al-Azhar Cairo yang merupakan tempat utama pedidikan Sunni.

Di Mesir dimana ulama Islam tradisional, ulama Ikhwanul Muslimin yang sedang berkuasa dan ulma Salafi radikal saling berbeda pendapat atas isu-isu utama keimanan, koleksi hadits Turki ini bisa membawa perspektif baru untuk perdebatan. Menurut penasehat Mufti Besar Mesir, Ibrahim Negm, ada sambutan baik terhadap interpretasi baru ini dikalangan intelektual Mesir. Mereka sangat terkesan dengan model Turki, tidak hanya di bidang ekonomi dan politik tetapi juga dalam orientasi keagamaan moderat. Turki mereka pandang sebagai "antitesis dari model Wahhabi-Salafi."

Otoritas keagamaan yang berwenang di Turki menjelaskan bahwa pembahasan yang menyangkut isu-isu modern seperti hak-hak wanita tidak disajikan sebagai sikap resmi yang harus disebarkan para imam atau diterapkan oleh para hakim syariah. Tujuannya bukan untuk menjawab topik masa kini seperti isu-isu gender, hukuman dan jihad. Mengenai sekolah bagi anak perempuan misalnya  diterangkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim, karena itu merupakan hak bagi anak perempuan dan wanita dewasa juga. Tulisan lain tentang wanita menekankan bawa ketika Nabi memerintah di Madinah, wanita pergi ke masjid, menjalankan bisnis. Mereka aktif disemua bidang kehidupan. Hadis tentang hukuman yang keras seperti potong tangan bagi pencuri dimasukkan ke dalam perspektif sejarah sehingga tidak diambil sebagai model untuk zaman modern. Di masa Nabi masyarakat membutuhkan aturan-aturan ini untuk kedamaian masyarakat. Hari ini kita memiliki sistem sosial yang berbeda. Kita dapat mengatakan aturan-aturan dan hukuman yang bersifat historis.


Para imam suka sekali membumbui khotbah mereka dengan hadis karena hadis meliputi begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari. Tetapi jika mereka membaca dari sumber aslinya, mungkin memilih hadis-hadis yang tidak sesuai dengan kehidupan Turki modern. Kami keberatan para khatib menggunakan terlalu banyak hadis. Dengan karya referensi baru dari pemerintah, yang menggaji para imam, mereka hanya akan menggunakan hadits dan interpretasi dari kitab hadis edisi baru ini.

26/05/13

GEREJA SCOTLAND, STEPHEN HAWKING DAN PALESTINA


GEREJA SCOTLAND, STEPHEN HAWKING PALESTINA
Oleh Jum’an

Tujuh tahun yang lalu, 171 Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Palestina bergabung dalam gerakan untuk melancarkan kampanye boikot, divestasi dan sanksi  terhadap Israel (BDS Movement) dengan tujuan diberlakukannya hukum internasional serta pengakuan hak-hak rakyat Palestina. Mereka menghimbau “rakyat yang berhati nurani di seluruh dunia untuk melancarkan boikot meluas dan melakukan divestasi dan sanksi terhadap Israel seperti yang diterapkan terhadap Afrika Selatan pada era apartheid." Kegiatan gerakan BDS, para pendiri, pendukung serta prestasi mereka dapat dilihat dalam situs diatas, termasuk deretan prestasi 2012. Bulan Mei ini BDS telah mencatat dua kemenangan besar. Pertama keputusan kosmolog dan fisikawan internasional terkenal, Stephen Hawking untuk memboikot dan menolak undangan dari Shimon Peres untuk menghadiri konferensi ilmiah yang disponsori oleh Israel. Yang kedua suatu makalah amat penting yang dikeluarkan oleh Gereja Skotlandia sehubungan dengan Sidang Majlis bulan Mei 2013, yang berisi diantaranya bahwa keberadaan Negara Yahudi Israel tidak dapat dibenarkan menurut kitab Injil.
Fisikawan Inggris Stephen Hawking mengumumkan menarik diri dari Konferensi Ilmiah bulan Juni, sebuah konferensi bergengsi yang disponsori oleh presiden Israel, Shimon Peres. Hawking telah menerima undangan untuk menghadiri konferensi, tapi kemudian menolaknya setelah menerima banyak email dari akademisi Palestina yang memintanya untuk menghormati boikot akademik terhadap Israel. Belakangan diketahui bahwa Hawking juga menerima himbauan dari 20 akademisi dari berbagai universitas ternama Inggris seperti Cambridge, London, Leeds, Southampton, Warwick, Newcastle dll termasuk M.I.T. (USA) untuk memboikot konferensi ilmiah itu. Mereka menganjurkan boikot sebagai cara yang tepat kaum ilmuwan untuk menanggapi praktek diskriminasi  terang-terangan dan sistimatis terhadap penduduk Palestina dan non-Yahudi lainnya. Keputusan Hawking juga menyiratkan bahwa nalar dan moralitas haruslah berjalan seiring. Prestai ilimiah Israel yang membanggakan harus dinilai nihil jika teknologi tersebut digunakan untuk menerapkan kekerasan dan memperkuat pendudukan militer. 'Ilmu pngetahuan' itulah andalan mereka untuk meyerbu Gaza yang merenggut ribuan nyawa yang tewas dan terluka.
Hawking bukanlah orang yang relijius tetapi seorang sarjana berprinsip dengan track record yang terhormat. Karena itu boikotnya terhadap konferensi ilmiah Israel merupakan pukulan moral yang menentukan. Ia berkeyakinan bahwa kebijaksanaan pemerintah Israel saat ini cenderung mengarah menuju bencana. Peristiwa ini sungguh menggelisahkan pemerintah Israel yang tidak berhasil membujuk sekutu-sekutunya. "Belum pernah ada seorang ilmuwan sederajat dia yang memboikot Israel" kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor. Karya ilmiah Hawking memiliki dampak demikian mendasar hingga hampir seluruh bidang penelitian dari teori relativitas, mekanika kuantum dan bidang studi lainnya terpaksa ditinjau ulang. Tokoh besar yang menderita kelumpuhan fisik total ini telah memberikan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan; hanya segelintir pria dan wanita yang sederajat dengannya dalam sejarah.
Pada 3 Mei 2013 Gereja Skotlandia menerbitkan laporan berjudul: "WARISAN ABRAHAM? PERIHAL NEGERI YANG DIJANJIKAN” Naskah 5000 kata untuk konsumsi nasional dan internasional ini isinya bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional saat ini dimana kebanyakan gereja utama di seluruh dunia memandang dan membenarkan “hak untuk exist” Israel adalah didasarkan kepada janji Tuhan dalam Injil. Itu tidak benar!  "Tanah yang dijanjikan' dalam Injil bukanlah berarti  tempat," kata makalah itu, "itu hanya metafora, kiasan tentang bagaimana seharusnya segala-sesuatu berlaku antara umat Tuhan. 'Tanah yang dijanjikan' ini dapat ditemukan - atau dibangun - di mana saja. "Keinginan banyak orang di Israel untuk memperoleh tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi adalah salah. Ekspansi pemukiman, tembok pemisah dan tindakan kekerasan melipat-duakan kesalahan itu jika dicarikan pembenarannya dari kitab Injil." ”Sementara beberapa gereja utama tetap diam, Gereja Skotlandia menanggapi masalah ini dengan keberanian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka mendesak untuk menjawab pertanyaan: "Apa yang dituntut Tuhan dari kalian…?” Kesimpulan politik utama laporan itu adalah pengakuan bahwa "situasi saat ini menunjukkan ketidaksetaraan kekuasaan dan perdamaian hanya mungkin jika pendudukan militer Israel di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, dan blokade Gaza, dihentikan.

Meskipun dasar moral keputusan Hawking dan Gereja Skotlandia berbeda tetapi ada dua hal yang jelas terbukti: Pertama, seruan boikot global BDS terus mendapat sambutan dari tokoh dan badan yang berpengaruh. Kedua, Israel semakin defensif karena alasan resmi pendudukan Palestina semakin berantakan dimata masyarakat sipil seluruh dunia. Belum pernah Israel kehilangan kontrol atas penjelasan yang telah disusun dengan hati-hati tentang alasan pendudukan militer dan pelanggaran hak asasi manusia di Palestina lebih dari yang mereka alami saat ini. 

19/05/13

DENG XIAOPING & KUCING HITAMNYA



DENG XIAOPING & KUCING HITAMNYA
Oleh: Jum’an

Sebuah jajak pendapat oleh lembaga survey terkenal Baseera di Mesir menunjukkan bahwa populariatas Presiden Mohammad Mursi telah menurun tajam dari 78% pada Sept. 2012 anjlok menjadi 49% beberapa pekan terakhir. Mereka yang tak setuju dengan kinerja Presiden naik dari 15% menjadi 43% dalam tujuh bulan terakhir. Setelah 100 hari menjabat, 58% responden menyatakan akan memilih dia lagi sedang hari-hari terakhir ini hanya 35% yang menyatakan demikian. Mursi adalah ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang dibentuk oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dar FJP pada pemilu 2012 dan menang. Di Tunisia yang mengalami revolusi lebih awal (2011), Mohammad Rashid Ghannushi pemimpin partai Islam Hizb-Nahdhah yang berkuasa tidak jauh berbeda nasibnya. Ia dilempari tomat dan telur busuk dalam acara peringatan jatuhnya pemerintah yang sebelumnya, karena banyak warga yang tidak puas dengan kinerja pemerintah. Menurut hasil survei bulan Februari lainnya, 77% responden menyatakan Tunisia bergerak kearah yang salah. Tingkat ketidak-puasan terhadap kinerja pemerintah tertinggi selama 2 tahun.

Demikian dimuat dalam The Daily Star Lebanon 13 Maret yang lalu. Disertai banyak contoh kasus lain termasuk Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon disimpulkan bahwa kinerja, dan bukan kesalehan yang merupakan faktor utama bagi suatu gerakan Islam untuk memperoleh dukungan rakyat setelah mereka memegang kendali  pemerintahan. Ikhwanul Muslimin adalah organisasi yang berlandaskan dan memandang Islam sebagai dien yang universal dan menyeluruh, bukan sekedar urusan ibadah ritual. Tujuannya mewujudkan terbentuknya individu muslim, rumah tangga serta pemerintahan yang Islami, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan mengibarkan bendera jihad dan dakwah sehingga dunia mendapatkan ketenteraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia seperti Partai Masyumi, Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Konflik kepentingan idealisme dan tuntutan rakyat bagi partai politik yang berkuasa  selalu terjadi dimana-mana. Partai yang semula populer karena idealismenya ternyata kinerjanya buruk ketika harus menjalankan roda pemerintahan.

Deng Xiaoping adalah Perdana Menteri RRC dan tokoh paling berkuasa China sesudah Mao Zedong dari tahun 70-an s/d awal 90-an. Tidak seperti Mao, Deng tidak menganggap politik sebagai panglima. Pandangan politik haruslah komunis tetapi ekonomi tidak harus, sebab tujuan pembangunan ekonomi Cina adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Teori tradisional Maois memfokuskan pengembangan China pada pembangunan sosialisme dan perjuangan kelas, sementara teori Deng menekankan pembangunan ekonomi dan stabilitas. Ia memasukkan pola ekonomi pasar dalam sistem politik Marxis-Leninis. Menurutnya menjunjung ajaran Mao tidak berarti meniru tindakannya secara membabi buta seperti yang dilakukan pemerintahan PM Hua Guofeng sebelumnya. Deng juga menganjurkan membuka Cina ke dunia luar serta mendukung pragmatisme politik dan ekonomi.

Semboyan Deng yang terkenal adalah: “Tidak peduli kucing putih atau kucing hitam asalkan bisa menangkap tikus” Dengan kata lain ia tidak terlalu khawatir tentang apakah kebijakan itu kapitalis atau sosialis asalkan meningkatkan perekonomian. Sementara semboyan di era Mao Zedong adalah: "Kereta sosialis yang datang terlambat lebih baik daripada kereta kapitalis yang tepat waktu". Sukses pertumbuhan ekonomi China yang fenomenal adalah berkat jasa pragmatisme teori Deng Xiaoping.

Hampir bersamaan waktu dengan gejolak Partai Komunis China dimasa Deng Xiaoping, Partai Nahdatul Ulama (NU) di Indonesia juga menghadapi dualisme kepentingan antara idealisme dan tuntutan masyarakat. NU akhirnya tidak lagi menjadi partai politik dan kembali ke organisasi sosial keagamaan pada 1984.
Nahdatul Ulama didirikan tahun 1926 sebagai gerakan sosial-keagamaan dengan tujuan mempertahankan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan untuk menghadapi tekanan-tekanan Pemerintah Penjajah Belanda terhadap ummat Islam di Indonesia. Garis perjuangan sosial keagamaan ini mengalami banyak kendala dan kritik internal sejak NU menjadi partai politik pada tahun 1952. Oleh karena itu pada Muktamar ke 27 tahun 1984 di Situbondo diputuskan untuk kembali ke khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan dan tidak terlibat dalam politik praktis lagi.
Adapun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sekarang disibukkan dengan kemelut impor daging sapi, menurut Harian Republika adalah :”Partai Islam Pengadopsi Ikhwanul Muslimin yang Gagal”