Tampilkan postingan dengan label AMERIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AMERIKA. Tampilkan semua postingan

12/11/15

MENUA DENGAN LAPANG DADA


SAMBUT HARI TUA DENGAN LAPANG DADA
Oleh: Jum’an Basalim

Proses penuaan adalah fenomena alamiah dan universal, semua orang akan menua dengan sendirinya. Suatu saat dalam hidup kita terpaksa membiarkan sesuatu terlepas, menangisi yang hilang dan menggeliat bangkit untuk meneruskan pejalanan. Orang tua memang menurun fisik dan memorinya. Di Amerika dimana sikap generasi muda terhadap orang tua tidak terlalu ramah, ada sebutan ”Dirty Old Man” dengan konotasi bahwa orang tua itu lusuh dan tidak berguna. Tidak ada lagi kontribusinya untuk masyarakat karena lemah dan rentan. Di China orang tua lebih dihormati. Pemerintah di sana memberikan lima jaminan bagi orang tua: cukup makan, cukup pakaian, papan, pengobatan dan biaya penguburan. Lepas dari sampai dimana bukti pelaksanaannya, ini menunjukkan bahwa masyarakat China memberikan tempat terhormat bagi orang tua mereka. Di Indonesia orang tua juga mempunyai kedudukan yang mulia. Pepunden tempat kita sungkem di hari Lebaran, memohon restu dan nasihat.

Hari tua itu lebih baik disambut dengan ramah, jangan sekali-sekali dilawan. Kalau bisa, menualah dengan ikhlas. Takut seksualitas menurun, rambut memutih dan kulit keriput? Ketakutan itu timbul hanya karena kita membayangkannya dengan otak muda. Pada saat mengalaminya kelak, kita akan memahaminya sebagai kewajaran belaka. Asalkan kita menjaga keseimbangan jasmani dan rohani. Usia tua berarti menghampiri maut. Maka banyak orang menghadapinya dengan rasa cemas yang mendalam dan berkepanjangan. Orang yang beriman dan percaya kepada kehidupan akhirat dan meyakininya dengan sungguh-sungguh, menanggapinya dengan sikap yang lebih ringan bahkan disertai harapan akan kehidupan yang baik di sana nanti. Kebersamaan spiritual dengan orang-orang yang se-iman juga memberikan rasa senasib dan sepenanggungan yang menghilangkan kecemasan. Hidup bukanlah sebuah jalan yang terus menurun dari dataran tinggi yang terang benderang menuju lembah kematian yang gelap gulita. Meskipun kebanyakan orang muda beranggapan bahwa orang tua itu mudah tersinggung dan pemarah, penelitian menunjukkan orang menjadi lebih bahagia ketika sudah tua. Penelitian membuktikan bahwa grafik tingkat kebahagiaan manusia berbentuk huruf U dengan titik yang terendah pada usia sekitar 45 tahun, kemudian naik lagi. Meskipun kualitas fisik manusia menurun setelah usia pertengahan, kepuasan mental justru meningkat. Kebanyakan orang hidup ceria sampai usia 20 tahun. Lalu menurun sampai usia pertengahan yang dikenal sebagai krisis paruh baya yaitu pada umur 45 – 50 tahun. Yang mengejutkan adalah yang terjadi sesudah itu. Meskipun karena menua orang kehilangan miliknya yang berharga seperti vitalitas, ketajaman mental dan penglihatan, mereka ternyata memperoleh apa yang dicari orang dalam hidup selama ini yaitu kebahagiaan. Ini dapat disebabkan oleh kemampuan mereka mengatasi sesuatu dengan lebih baik, dapat juga oleh menurunnya harapan dari kehidupan, dimana orang tua tidak lagi bersedia memaksa diri dalam bidang pribadi maupun pekerjaan. Banyak penjelasan mengapa grafik kebahagiaan berbentuk huruf U tetapi penyebab yang dominan adalah menurunnya ambisi dan penerimaan kenyataan apa adanya. Penelitian yang lain menemukan bahwa otak orang tua lebih suka untuk memproses informasi positif dibanding otak orang muda. Orang tua memandang dunia melalui kacamata berwarna sejuk, lebih mengingat yang baik daripada yang buruk.

Sementara orang muda cenderung menikmati pengalaman yang menggairahkan seperti seperti berkelana, jatuh cinta atau mencari sensasi, orang tua lebih menyukai pengalaman biasa dan kesenangan sehari-hari, dan memperoleh jati-diri dari jenis pengalaman ini. Semakin tua, orang semakin menghargai hal-hal kecil. Orang tua, karena menyadari lebih dekat dengan kematian, mereka lebih hidup untuk saat ini, fokus pada hal-hal penting sekarang dan kurang pada tujuan jangka panjang. Orang muda menyangka, alangkah menakutkannya mendekati kematian. Tetapi orang tua tahu apa yang lebih penting dengan niat memanfaatkan sisa usia sebaik-baiknya. Kebanyakan orang tua memutuskan untuk menerima kekuatan dan kelemahan mereka, apa adanya dan melepaskan harapan untuk menjadi orang yang terkenal atau berkedudukan. Alangkah leganya merasakan sensasi ketika kita menyerah berjuang untuk tetap tampak muda. Tak usah mengecat rambut dan diet yang menyiksa. Menerima ketuaan adalah sumber kelegaan yang membahagiakan. Orang yang lega dan bahagia lebih cepat sembuh dari penyakit dibanding mereka yang cemas dan ambisius. Jadi meskipun orang tua cenderung kurang sehat daripada yang lebih muda, kebahagiaan mereka membantu melawan kerapuhan.

Ada bonus istimewa bagi kita di hari tua yaitu cucu. Cucu adalah sumber kebahagiaan, kemesraan dan kegembiraan. Megasuh dan mendidik adalah kewajiban orang tuanya. Cucu adalah sepenuhnya balas-jasa dari anak tanpa mengurangi hak mereka sebagai ayah-ibu. Berkah dari Sang Pengasih; sumber keceriaan yang instan, penenteram resah dan gelisah, obat rindu dan hiburan diusia senja. Cucu adalah kompensasi dari Tuhan untuk kita yang menua. Bagi sang cucu, kakek dan nenek itu orang tua ya, guru ya dan teman main juga ya. Kakek dan nenek yang berambut perak dan berhati emas; murah dengan pelukan dan ciuman, dongeng dan oleh-oleh. Tempat terbaik bagi cucu yang bersedih adalah dipangkuan kakek. Menjadi kakek cukup membebaskan seseorang dari dari tanggung jawab sehingga ia boleh berteman saja dengan cucunya. Jangan sedih jangan berduka. Pada usia 80 tahun nanti semoga kita lebih bahagia daripada waktu kita berumur 20 tahun.


23/11/14

AMERIKA: MUDA SEJAHTERA TUA MENDERITA?


AMERIKA: MUDA SEJAHTERA TUA MENDERITA?
Oleh: Jum’an

Rakyat adil makmur sentosa yang merupakan cita-tita kita bersama, insyalloh akan tercapai suatu saat nanti. Kelak rakyat akan merasa aman dan sejahtera, terpenuhi kebutuhan fisik dan mentalnya serta dihormati kedaulatannya. Orang tidak perlu lagi merasa takut akan kelaparan, penyakit dan kerusuhan. Generasi muda akan hidup penuh gairah sampai hari tua yang tenteram dan bahagia. Sementara kita masih merangkak untuk menuju kesana, mari kita mengintip betapa sejahteranya kehidupan mereka yang sudah sampai disana. Amerika! Ya Amerika. Negara Adidaya dan Adikuasa. Semuanya serba maju semuanya serba kesampaian. Menurut Legatum Prosperiy Index 2014 Amerika menempati ranking ke 10 dalam kesejahteraan global sementara Indonesia menempati nomor 71. Harapan hidup mereka pun lebih panjang daripada harapan hidup kita. Dengan kata lain, lantaran kesejahterannya mereka bisa hidup lebih lama dari kita. Kelebihan umur itu mereka nikmati untuk bertamasya ke pelosok-pelosok dunia atau berleha-leha di peristirahatan mereka. Alangkah senangnya bila bangsa kita adil makmur sentosa!

Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Umur panjang sebagai berkah kesejahteraan, bukannya tidak membawa beban ikutan. Anda yang masih muda dapat membuat daftar penyakit yang tidak satupun anda derita saat ini seperti: hipertensi, diabetes, katarak, radang sendi, keropos tulang, penyakit jantung, kanker, pikun dan buyutan. Kelak dihari tua, mereka akan antre atau berombongan menyambut kedatangan anda! Antara thn 2000 - 2050, jumlah orang Amerika yang berusia diatas 65 tahun diperkirakan akan meningkat sebesar 135%. Jumlah mereka yang lebih dari 85 tahun akan meningkat sebesar 350%. Meningkatnya jumlah manula membutuhkan perawatan yang mahal sementara mereka tidak lagi produktif. Mereka makin menurun kualitas hidup dan kemampuannya. Sekitar 10% dari orang Amerika yang berusia diatas 65 tahun (dan 30% dari yang berusia diatas 85) menderita penyakit Alzheimer.

Dr. Joanne Lynn M.D. adalah pakar geriatri yang terkenal dalam membantu pasien usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Membantu mereka untuk mendekati akhir hayat dengan kesadaran dan keyakinan yang lebih besar. Ia sering memulai ceramah-ceramahnya dengan menayakan apakah diantara hadirin ada yang ingin mati oleh penyakit kangker. Tak seorangpun. Apakah ada yang memilih mati karena serangan jantung. Ada yang mengacungkaan tangan satu atau dua orang. “Nah” katanya “ berarti semua yang lainnya ingin mati tua, proses yang panjang, lambat dan menyakitkan dengan penderitaan yang terus meningkat, kelemahan mental dan fisik, reyot dan pikun”. Penyakit yang  lebih menakutkan yang menunggu setelah seseorang mencapai usia 65 tahun, kecuali jantung dan kangker adalah penyakit-penyakit yang mempengaruhi kemampuan mental kita, termasuk Alzheimer dan demensia. Antara tahun 2000 dan 2010 saja, jumlah orang Amerika yang meninggal akibat Alzheimer meningkat 68%. Demensia adalah istilah untuk berbagai penyakit dan kondisi yang timbul ketika sel-sel saraf otak mati atau tidak berfungsi secara normal. Kerusakan saraf otak ini menyebabkan perubahan dalam memori, perilaku serta kemampuan untuk berpikir jernih. Pada penyakit Alzheimer, kerusakan di otak ini akhirnya merusak kemampuan individu untuk melaksanakan fungsi-fungsi dasar tubuh seperti berjalan dan menelan. Penyakit Alzheimer pada akhirnya fatal. Ini membuktikan bahwa mati tua belum tentu merupakan pilihan terbaik.

Tidak mengherankan bila generasi yang sedang menjelang lanjut usia bertanya-tanya: Bagaimana kalau kita sendiri yang membuat keputusan medis dan mengucapkan "selamat tinggal" untuk orang-orang tercinta sebelum kita pikun? Bagaimana kalau kita (mereka maksud saya) secara sukarela berhenti makan dan minum “Voluntarily Stopping Eating and Drinking”  (VSED). Dengan bantuan pengawasan staf medis, VSED dapat menjadi cara mudah untuk mengakhiri hidup seseorang. Biasanya setelah 5 sampai 20 hari, orang akan mati karena dehidrasi. Tentu saja ini ditentang oleh kelompok pro-life yang juga anti aborsi dan anti euthanasia (suntik mati) karena sama artinya dengan bunuh diri. Bahkan diskusi terbuka tentang VSED dikhawatirkan akan membuka jalan menuju pelecehan dan pemaksaan terhadap orang tua. Setan tentu sudah siap dengan skenarionya. Ini bukalah khas Amerika. Semua bangsa dinegeri maju akan panjang harapan hidupnya. Makin sejahtera, makin terjamin kesehatannya dan makin banyak manulanya. Kita pun sedang berlomba menuju kesana…..


06/07/14

NASIB SEORANG WANITA MURTAD


NASIB SEORANG WANITA MURTAD
Oleh: Jum’an

Renungkan sejenak mama wanita ini: Maryam Yahya Ibrahim Ishaq! Tiap suku katanya adalah wahyu: Maryam ibunda Isa a.s. wanita paling mulia di dunia. Yahya, nabi yang diberkahi Allah sejak lahir, Ibrahim nabi semua agama samawi dan Ishaq, nabi yang namanya disebut sebanyak 15 kali dalam Qur’an. Orang tuanya pasti mengharapkannya menjadi muslimah murni. Tetapi skenario kehidupan berjalan lain. Maryam yang lahir 27 tahun lalu, menikah dengan Daniel Wani, seorang pria Sudan Kristen warga Negara Amerika yang lemah kaki dan selalu duduk di kursi roda. Mereka menikah 2011 dan mempunyai dua anak, Martin 20 bulan dan seorang bayi perempuan Maya, yang lahir dalam penjara 27 Mei 2014. Maryam dilaporkan murtad dan berzina oleh saudari tirinya karena menikah dengan Daniel Wani. Ia ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan pada 15 Mei. Sementara ia ditahan dipenjara menunggu eksekusi, Dunia Barat memprotes keras hukuman itu terutama Amerika, Inggris, Belanda dan Kanada. Akhirnya pengadilan banding membebaskan Maryam pada 24 Juni 2014 lalu. Keluarga itu memutuskan untuk pindah ke Amerika, tetapi ia ditahan polisi di airport dan dibawa ke kedutaan Amerika, untuk pengurusan dokumen perjalanannya dan menunggu perundingan antara pemerintah Amerika dan Sudan. 

Tetapi kisah Maryam tidaklah se hitam-putih dan transparan seperti itu. Selama berada dipenjara yang pengap bersama Martin, ia dalam keadaan hamil 8 bulan (pengadilan mengizinkan Maryam untuk melahirkan bayinya dulu sebelum di eksekusi), dan demi keamanan kakinya dirantai. Disitulah ia melahirkan anak keduanya dalam keadaan kaki dibelenggu. Daniel, suami Maryam sangat kecewa dengan sikap Amerika: Presiden Obama maupun Menlu Kerry bungkam dari awal dan baru pada 12 Juni bersuara. Mungkin karena Daniel sendiri adalah imigran dari Sudan Selatan yang baru menjadi warga Negara Amerika kurang dari 10 tahun. Kisah Maryam lebih runyam lagi. Ayahnya adalah seorang Islam, dan ibunya seorang Kristen Ortodoks Ethiopia. Setelah melahirkan Maryam, ia dicerai dan sejak itu Maryam dibesarkan oleh ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita Muslim dan beranak pinak. Salah seorang anak perempuan dari istri yang baru itulah konon yang melaporkan bahwa Maryam murtad dan berzina. Samani Abdullah salah seorang anak laki-lakinya, juga giat menghasut agar hukuman mati untuk Maryam harus dilaksanakan. Maryam sendiri sejak kecil diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam ajaran Kristen. Karena itu ketika pengadilan menuduhnya murtad ia membantah karena sejak kecil ia sudah Kristen. Ia tidak mau berpura-pura menjadi Islam untuk menyelamatkan diri. Ia menolak untuk kembali ke Islam, karena ia bukan penganut Islam. Tetapi pengadilan berpendapat bhwa Maryam seharusnya mengikuti agama ayahnya yang notabene tidak pernah bersamanya. Pengadilan menyalahkakan Maryam karena memilih atau dididik dengan agama Kristen. Masih kurang runyam? Maryam dan suaminya Daniel ternyata telah sukses dalam berusaha. Mereka mempunyai sebuah salon, ladang pertanian dan toko disebuah shopping mall. Pengacara Maryam menuduh bahwa saudara-saudara tirinya mengincar mengambil alih bisnis suami-istri itu bila eksekusi Maryam sampai dilaksanakan. Cara pemerintah Sudan yang kaku dalam menangani kasus ini juga menuai tuduhan bahwa pemerintahan Presiden Omar Bashir berambisi sebagai penegak Islam untuk menutupi korupsi yang meraja lela.


Sebagai muslim awam yang tidak penah mendapat pendidikan agama yang resmi dan mendalam, tidak mungkin saya ikut berkomentar tentang hukum orang murtad. Saya pasti akan dibantai oleh mereka yang sudah bependirian teguh. Dengan pengetahuan agama yang cupet, saya hanya dapat mengandalkan akal sehat, hati nurani serta pengetahuan dari sana-sini untuk memilih bila ada lebih dari satu pendapat yang berbeda. Misalnya tentang apakah orang murtad harus dihukum mati. Selama ini dalam pengertian saya, barang siapa murtad harus dibunuh. Karena rasanya saya tidak bakal murtad, saya merasa tidak peduli. Lagi pula kita sering melihat orang berpindah agama dari maupun kedalam Islam melalui perkawinan sebagai hal yang tidak menghebohkan. Sementara itu, tanpa maksud meringankan agama, saya lebih terbiasa mengharapkan rohman dan rohim Allah daripada ketakutan kepada syadidul ‘iqob-Nya. Saya meresapi ayat 256 Albaqoroh: “La ikroha fiddin” (tak ada paksaan dalam agama) karena membebaskan orang dari memaksa orang lain masuk Islam. Al-Kahfi 29: "Kebenaran itu dari Tuhanmu; barangsiapa yang beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang mau kafir biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka…..” Ayat 20 Ali Imran: "Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu (Nabi Muhammad) hanyalah menyampaikan saja.”  Allah akan menjadi hakim tunggal dari tindakan kemurtadan. 


Dari banyak ayat tentang murtad dalam Al-Qur’an tidak satupun yang menyebutkan hukuman dunia. Berbeda dengan Qur’an, Injil mencantumkan hukuman sangat berat bagi orang murtad. Bila ada keluarga (saduara, anak, istri) atau teman yang membujuk untuk murtad maka bunuhlah dia! Pertama tanganmu sendiri yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian semua orang. Engkau harus melempari dia dengan batu, sampai mati …… Bila di salah satu kota yang diberikan Tuhan kepadamu untuk tinggal kaudengar orang mengajak berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal, maka bunuhlah penduduk kota itu dengan pedang, dan tumpaslah kota itu serta segala isi dan hewannya. Seluruh jarahan harus kaukumpulkan kau bakar habis kota dengan seluruh jarahan itu… Waalohu a’lam bissawaab!

03/11/13

MOMINA BIBI - SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN


MOMINA BIBI- SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN
Oleh: Jum’an

Alkisah pada sore hari yang cerah tahun lalu, tepatnya tanggal 24-10-2012 yaitu dua hari menjelang hari raya Idul Adha, sebuah pesawat tak berawak AS menembakkan rudal tepat mengenai sasaran, yang ternyata seorang nenek 67 tahun bernama Momina (Mu’minah) Bibi. Nenek dari 9 cucu itu tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat itu dia sedang memetik sayur-sayuran di ladang bersama salah seorang cucunya Nabeela (9 th). Zubeir (13) kakak Nabeela baru saja pulang sekolah berada tak jauh dari sana. Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah terpencil di Waziristan Utara, Pakistan. Momina adalah seorang bidan desa. Suaminya Rahman pensiunan kepala sekolah dan anaknya Rafiq (ayah 3 anak: Zubeir, Nabeela dan Asma 5 th.) adalah seorang guru. Hari itu Rafiq dalam perjalanan pulang naik bis dari mengantarkan kue-kue lebaran untuk keluarga adiknya. Sampai di perhentian dekat rumahnya ia melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan jenasah. Dengan was-was ia bertanya pada seorang anak, siapa yang meninggal. Jawabnya, ibu dari seorang bernama Latif yg tewas oleh serangan pesawat tak berawak. Anak itu tidak tahu bahwa Latif adalah kakak Rafiq. Ia pun syok, semua bawaannya terjatuh dan bergegas lari kerumah. Ia makin takut ketika ingat bahwa anak-anaknya selalu dekat dengan neneknya. Ketika Rafiq tiba di rumah, ternyata sisa-sisa jasad ibunya yg hangus sudah dimakamkan. Nabeela dan Zubeir terluka dan dibawa ke rumah sak. Rafiq berfikir jangan-jangan mereka tak tertolong.

Berita yang tersiar berbeda-beda. Ada yang melaporkan bahwa lima militan tewas. Ada juga yang menulis bahwa Momina sedang menyiapkan makan untuk beberapa militant sehingga ia ikut terbunuh. Satu lagi, bahwa ada seorang militan naik sepeda motor, tepat di sampingnya sehingga ia ikut terkena. Semuanya tidak jelas. Kata Rafiq hanya ada satu orang yang tewas yaitu ibunya yang berusia 67 tahun yaitu Momina Bibi. Semuanya baru jelas setelah Peneliti dari Amnesti International Mustafa Qadri mengusutnya hingga tuntas. Mustafa melakukan wawancara dengan banyak warga desa tempat kejadian secara terpisah tanpa diketahui bahwa ia dari Amnesti Internasional. Setelah berminggu-minggu ia menyimpulkan bahwa laporan keluarga Momina dapat dipercaya. Dia menyimpulkan sangat tidak mungkin bahwa ada militan yang hadir pada saat serangan rudal itu terjadi. Ia juga menemukan potongan-potongan logam yang menurut analisa seorang ahli, sangat mungkin berasal dari rudal jenis Hellfire. Ada juga anggota keluarga yang melihat drone itu secara fisik. Diantara bukti yang paling mencolok bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak AS adalah ketepatan tembakannya yang luar biasa. Secara fisik memengenai sasarannya yaitu tubuh Momina Bibi. Dia benar-benar merupakan sasaran tembak dan hancur berkeping-keping. Mereka betul-betul berniat mengarah orang ini.

Momina dan suaminya Rahman, beserta anak-cucunya, adalah keluarga Islam yang bahagia. Nabeela menghabiskan sebagian besar hari-harinya bersama neneknya. "Saya benar-benar menyukai nenek saya," katanya. "Saya senang mengikuti dan belajar bagaimana melakukan sesuatu." Di kebun dihari naas itu, ia bersama neneknya sedang memetik sayuran-sayuran. Neneknya menujukkan cara membedakan kacang yang sudah boleh dipetik dan yang belum. Momina menjahit baju cucu-cunya, menikmati senangnya anak-anak berhari raya. Zubeir mengatakan neneknya disukai oleh semua orang. "Tidak ada orang lain seperti dia. Kita semua mencintainya." Sejak kematian ibunya, kata Rafiq, kehidupan telah berubah. "Tanpa dia serasa anggota tubuh kami telah dipotong," katanya. Momina ibarat benang yang menguntai kalung mutiara. Dia adalah perekat keluarga. Bagi Rahman, pensiunan kepala sekolah yang dihormati, kematian istrinya sangatlah menyedihkan. Pasangan itu tidak terbiasa berpisah, kata Rafiq. "Setelah kematian ibu, ayah jarang sekali tersenyum. Ia seperti tidak bersemangat lagi untuk melajutkan hidup."

Serangan pesawat tanpa awak (drone) berbeda dengan pertempuran lain di mana orang tak berdosa bisa tertembak tanpa sengaja. Drone mengincar sasarannya sebelum membunuhnya. Amerika memutuskan untuk membunuh seseorang, orang yang mereka lihat dari video. Seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dia. AS memang sengaja untuk membunuh Momina yang dibidik melalui layar komputer. Selama setahun Pemerintah Amerika tidak pernah mengakui peristiwa ini. Keluarga Rahman telah menceritakan semua ini dihadapan Amnesti Internasional serta wartawan The Guardian Inggris. Akhirnya Kongres AS mengundang Rafiq dan kedua anaknya Zubeir dan Nabeela ke Gedung Putih untuk memberikan kesaksian pada 29 Oktober 2013, beberapa hari yang lalu. Nabeela bercerita sambil memegang gambar serangan yang menewaskan neneknya yang dilukis sendiri diatas selembar kertas. Ketika ia berada tidak jauh dari neneknya dikebun sayur, tiba-tiba ada suara gemuruh. Seperti terjadi kebakaran. Ia takut sekali. Tangannya terasa sakit seperti terkena sesuatu. Ia pun langsung berlari. Sambil lari ia melihat tangannya berdarah. Nabeela terus berlari sampai ia diselamatkan oleh para tetangga. "Saya melihat nenek saya tepat sebelum terjadi ledakan tapi hanya sekejap karena sesudah itu gelap, tapi saya bisa mendengar ia menjerit."


Zubeir mengungkapkan, pada hari neneknya tewas langit cerah, dia baru saja pulang sekolah dan semua orang sudah bersemangat menjelang Idul Adha, sementara terlihat ada pesawat berputar-putar diangkasa. Bukan pesawat terbang, bukan helikopter, kata Zubeir, dia tahu bedanya dari bentuk dan suaranya. "Saya yakin itu adalah sebuah drone." Ia melihat sepasang "bola api" menembus langit biru.  Setelah terjadi ledakan, suasana gelap tertutup asap dan puing-puing. Zubeir terluka oleh pecahan peluru. Ia merasa seperti di neraka. Banyak anggota Kongres yang menangis mendengar kisah mereka. Tetapi para pejabat pemerintah tidak dapat berkata apa-apa, kecuali mengulangi kata-kata Presiden mereka Barrack Obama: "Kalau kita tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi jaringan teroris akan terjadi korban lebih banyak lagi - tidak hanya di kota-kota kita di Amerika dan fasilitas kami di luar negeri, tetapi juga di tempat-tempat dimana para teroris bersarang."…………………………..