05/05/13

JANGAN TAK PERCAYA EVOLUSI



JANGAN TIDAK PERCAYA EVOLUSI
Oleh: Jum’an

Pada 5 Januari 2013, The Deen Institute, lembaga yang menggalakkan berpikir kritis dan  dialog yang rasional dikalangan mahasiswa Islam di Inggris, telah mengadakan konferensi tentang kompatibilitas teori evolusi modern dengan teologi Islam di Aula London University. Dialog dengan topik  “Apakah Umat Islam Salah Faham tentang Evolusi?” yang cukup menegangkan karena sejumlah organisasi mahasiswa menolak berpartisipasi ini, merupakan event pertama dimana cendekiawan muslim terkemuka menangani topik kontroversial evolusi dalam forum publik. Dua tahun yang lalu Dr Usama Hasan, wakil ketua masjid at-Tawhid di London diberhentikan sebagai imam Jumat selama 25 tahun karena diancam akan dibunuh, setelah menyatakan pandangannya tentang evolusi. Sejumlah demonstran membagi-bagikan selebaran anonym yang mengutip tokoh agama bahwa setiap Muslim yang percaya pada evolusi adalah murtad dan harus dieksekusi. Dr Usama Hasan berasal dari keluarga Islam yang taat dan putera seorang ulama Wahabi terkenal.  “Umat Islam tidak boleh makmum di belakang seseorang yang percaya pada evolusi” kata Salir al-Sadlan seorang ulama senior Saudi dalam kotbahnya di masjid di Birmingham.

Dr. Usama adalah salah satu pembicara dalam dialog ini. Pembicara lainnya termasuk seorang pakar biologi evolusi, seorang ahli antropologi biologi, seorang ulama dan seorang kreasionis (kepercayaan bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan tanpa proses) dari Turki yg terkenal. Sebanyak 850 hadirin duduk tak beranjak selama 7 jam meski topik ini sangat sensitif dan kontroversial; tak ada ejekan maupun gangguan. Sebagian besar hadirin adalah profesional muda yang tidak punya pendapat kuat tapi sangat berminat mendengarkan posisi umat Islam tentang evolusi. Mereka tidak kecewa. Diskusi seperti ini biasanya tergelincir oleh retorika dari para kreasionis. Keberhasilan acara ini karena fakta bahwa semua panelis, kecuali tokoh kreasionis dari Turki, kurang lebih menerima konsensus ilmiah tentang evolusi, sehingga diskusi dapat memusat pada pertanyaan: Dapatkah kaum Muslimin mendamaikan antara evolusi manusia dengan iman mereka?

Kita tahu banyak ilmuwan Muslim yang tidak hanya memahami evolusi, tetapi juga telah memikirkan implikasinya terhadap keyakinan agamanya. Dr. Ehab Abouheif adalah ahli biologi evolusi yang memimpin penelitian di McGill University Kanada dan mengerjakan penelitian tentang evolusi pada semut. Awan 2012 lalu Abouheif membuat kejutan dengan penemuan spesies semut yang mengandung gen yang lamban dapat diaktifkan menjadi semut-semut prajurit yang super. Prof. Ehab Abouheif menjelaskan kasus ilmiah tentang evolusi biologi dan berbicara tentang perlunya umat Islam memahami prinsip dasar biologi modern ini. Dia mencontohkan dirinya dalam melawan kesalah-pahaman bahwa seseorang tidak dapat mendamaikan evolusi dengan Islam. Abouheif, adalah seorang ilmuwan sekaligus seorang beriman yang tulus. "Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan," katanya. Sebagai tamu American Islamic Congress di Univ. Boston, Abouheif mengemukakan pendapat pribadinya tidak hanya tentang agama sebagai seorang ilmuwan dan seorang Muslim, tetapi juga keprihatinannya tentang konsekuensi bagi negara-negara Islam yang gagal untuk merangkul tradisi ilmiah. Jika kita menolak evolusi sebagai sains dan tak bersedia untuk menyimak bukti, berarti untuk semua ilmu pengetahuan, ketika bersinggungan dengan masalah sosial atau politik, kita juga tidak akan percaya. Dia menghimbau agar dunia Muslim menjadi inovator dan terlibat memimpin dalam teknologi dan inovasi, dan ikut dalam produksi, bukan hanya menjadi konsumen. Ia merasa sangat prihatin ketika Pemerintah Saudi terpaksa minta bantuan negara Barat untuk memberikan vaksin H1N1 untuk para jamaah haji pada 2009, padahal seharusnya dapat memproduksinya sendiri.

Pembicara lainnya, Prof. Fatimah Jackson, adalah pakar antropologi biologi di Univ. Carolina Utara. Dia mengajarkan evolusi sejak sebelum masuk Islam pada 1970-an dan tidak pernah menganggap keduanya saling bertentangan. Baginya ilmu pengetahuan hanyalah mengatakan "bagaimana" sesuatu terjadi, dan bukan "mengapa". Evolusi tidak menggantikan iman, tetapi justru melengkapinya. Abouheif dan Jackson adalah peneliti berprestasi yang menerima pandangan ilmiah tentang evolusi. Mereka sangat antusias tentang pekerjaan mereka dan tak tergoyahkan dalam membela iman mereka.
Dialog juga menampilkan debat teologis antara Dr.Usama Hasan dan Syaikh Yasir Qadhi. Dr.Usama menyatakan pada dasarnya ada ruang dalam Islam untuk mengakomodir evolusi manusia. Hasan membantah bahwa kepercayaan evolusi pasti akan mengarah pada ateisme. "Ilmu pengetahuan mengatakan kepada kita bagaimana kita diciptakan, wahyu memberitahu kita mengapa." Ilmu pengetahuan tidak bisa mengukur keberadaan jiwa, demikian pula tak ada eksperimen yang bisa membuktikan ataupun menolak adanya Tuhan, katanya. Hassan menyatakan bahwa pandangannya tentang evolusi tetap dalam batas-batas pemikiran Islam dan bahwa perbedaan pendapat itu diperbolehkan. Syaikh Yasir Qadhi tidak setuju: "Adalah tak bermoral untuk memiliki dua pendapat Islam yang berbeda tentang masalah ini." Menurut Syaikh Yasir, ia menerima semua evolusi kecuali untuk manusia. Adalah salah kalau umat Islam mengatakan tidak percaya pada evolusi. Sebagian besar prinsip evolusi tidak menimbulkan masalah bagi teologi Islam” katanya. Tidak mengapa umat Islam percaya ada dinosaurus, spesiasi (proses evolusi munculnya spesies baru) dan bahkan nenek moyang bersama untuk semua hewan di Bumi - kecuali satu pengecualian - umat manusia. "Kami adalah spesies terhormat berbeda dari hewan dalam hal metakognisi, bahasa, moral, kreativitas dan agama."

Namun, ia mengakui bahwa maksimal yang kita bisa katakan dari perspektif teologis Islam adalah bahwa Allah menyisipkan Adam kedalam tatanan alamiah. "Allah menciptakan Adam sesuai/ cocok masuk ke dalam skema besar alam. Ibarat kartu domino yang memainkannya harus saling sambung menyambung, Adam adalah domino terakhir ditempatkan langsung oleh Allah. Adam dan Hawa tidak memiliki orang tua - mereka tidak berevolusi. Selain dari itu tidak dapat dibenarkan menurut Al-Qur’an." Dari sudut pandangnya, orang beriman akan melihat domino terakhir ini sebagai mukjizat dari Allah swt. Syaikh Yasir menunjukkan bahwa secara historis umat Islam tidak anti-ilmu pengetahuan, berbeda dengan sejarah umat Kristen. Tapi dia melanjutkan: "Kita perlu menempatkan ilmu di tempat yang tepat". Dalam pandangannya, "ilmu pengetahuan adalah studi tentang memahami ciptaan Allah". Penulis John Farrel dalam membandingkan ilmuwan Islam dan Kristen menghadapi kaum kreasionis yang menentang sains dan evolusi menyimpulkan bahwa sains tidak banyak betentangan dengan ajaran Islam dibandingkan yang timbul dalam Kristen tradisional.

Dr. Oktar Babuna, juru bicara Harun Yahya, pendiri gerakan kreasionis dari Turki yang sering dituduh mengaburkan pemikiran ilmiah, mengatakan bahwa evolusi bukan teori ilmiah karena belum diverifikasi oleh bukti ilmiah. Menurut logikanya, jika perubahan kecil berturut-turut terakumulasi menjadi perubahan besar selama pembentukan spesies baru, maka jumlah bentuk peralihan akan melebihi jumlah spesies yang asli dan spesies yang sudah berubah dalam catatan fosil. Abouheif dan Fatimah Jackson menjelaskan bahwa harapan menemukan fosil transisi (missing link) berasal dari kekeliruan anggapan Babuna bahwa evolusi berjalan bertahap (perubahan kecil yang berturut-turut) dan linear. Padahal menurut paleontolog Niles Eldredge dan Stephen Jay Gould (1972) sebagian besar evolusi ditandai oleh periode panjang yang stabil yang diselingi oleh kejadian langka (jarang, sesekali) persimpangan evolusi. Teori punctuated equilibrium (kesetimbangan berselang) ini kontras terhadap gagasan populer bahwa perubahan evolusioner ditandai dengan pola perubahan halus dan kontinyu dalam catatan fosil. Abouheif menyesalkan bahwa Babuna menyeret kita kembali ke teori Darwin 1859 versi evolusi sebelum penemuan DNA

Ini adalah perdebatan serius tentang topik yang penting. Namun, nada perdebatan dan kualitas pertukaran intelektual di acara London ini adalah menggairahkan dan itu menunjukkan Islam modern memiliki kedewasaan untuk mengatasi tantangan yang dirasakan dari ide ilmiah. Begitu menurut Dr. Yasmin Khan, dan Salman Hameed dalam Harian Nasional Inggris “The Guardian” 

20/04/13

TEKA-TEKI PEWARIS DUNIA



TEKA TEKI PEWARIS DUNIA
Oleh: Jum’an

Dalam tulisan saya yang lalu "Mungkinkah Umat Islam Akan Punah" saya mengutip tentang menurunnya tingkat kelahiran yang drastis dari beberapa Negara Islam yang mengundang pertanyaan apakah yang akan terjadi kelak. Penulis Yahudi Amerika David Goldman memberi judul bukunya (2011) “Bagaimana  Peradaban Runtuh (Dan Mengapa Islam akan Runtuh Juga)” Sebenarnya bukan hanya penduduk negara-negara Islam saja yang mengalami penurunan angka kelahiran tetapi juga agama dan negara lain. Penyebabnya adalah pengaruh kehidupan modern dengan kemakmuran yang meningkat, urbanisasi, keluarga berencana, pendidikan wanita dll. Saat ini dunia sedang mengalami pergeseran yang luar biasa dari pertumbuhan menuju ke penurunan jumlah penduduk. Yang paling menonjol adalah nagara-negara Eropah yang angka kelahiran penduduknya lebih rendah dari angka kematian. Tak cukup untuk ganti yang mati. Eropah dikatakan berada dalam jalur kepunahan yang disengaja. India, Asia Tenggara dan Amerika Latin juga sedang mengikuti jalan yang sama. 

Prof. Eric Kaufmann, dosen ilmu politik pada Universitas London Inggris, mengamati fenomena yang menarik yaitu sementara angka kelahiran dunia anjlok, kaum fundamentalis baik Islam, Nasrani maupun Yahudi justru melawan tren global itu dengan angka kelahiran yang tetap tinggi. Dalam bukunya “Shall The Religious Inherit the World” (2010) ia menulis bahwa senjata utama kaum fundamentalis adalah demografi, jumlah penganut. Kaum Yahudi ultra-ortodox yang dulu merupakan minoritas kecil di Israel sekarang anak-anak mereka merupakan sepertiga dari murid sekolah di negara itu. Tahun 2050 nanti, mereka akan menjadi mayoritas. Di dunia Islam kaum fundamentalis mengalami lonjakan yang luar biasa sejak tahun 60an. Tidak lama lagi kaum Salafi yang fanatik, dengan tingkat kelahiran yang tinggi dan kecenderungan isolasionis, akan menjadi mayoritas yang dominan. Kaum fundamentalis Mormon di Amerika juga dikenal anti pembatasan kelahiran dan angka kelahiran mereka tinggi. Pengikut gerakan Quiverfull, sekte Kristen konservatif yang berkeyakinan bahwa anak adalah berkah tertinggi dan merupakan “anak panah ditangan ksatria” bahkan mempunyai “rencana 200 tahun” untuk mencapai dominasi demografi.

Kebangkitan kaum fundamentalis dapat menyulut kekerasan agama. Tetapi menurut Kaufmann kekerasan bukan masalah utama. Dalam kenyataannya kaum fundamentalis tidak lebih keras dari kaum anarkis, kaum komunis, kaum neo-konservatif atau bahkan korporasi atau para bankir yang menjajah ekonomi dunia.

Umumnya kaum fundamentalis hidup tidak konsumtif, mereka senang berkorban, tidak mementingkan hidup “kini dan disini”. Mereka bekerja keras untuk membangun dunia tersendiri yang berbeda dari mainstream dengan membangun sekolah-sekolah dan pusat-pusat kegiatan sendiri. Mereka mempunyai rasa kebersamaan yang kuat, menikah dalam kelompoknya sendiri, dan bekerjasama demi kebaikan bersama kelompok mereka. Rasa keagamaannya kuat, sehingga kaum sekuler tidak punya celah untuk memikat anak-anak mereka.

Ancaman terbesar dari kebangkitan kaum fundamentalis menurut Kaufmann adalah ancaman kultural, mereka dapat menggantikan rasio dan kebebasan dengan fanatisme moral yang akan berdampak di segala bidang. Ancaman itupun menurutnya masih lebih merupakan persepsi ketimbang kenyataan. Liberalisme sekuler, kata Kaufman,  sedang mengalami keruntuhan karena sarat dengan kontradiksinya sendiri. Bukannya membuat dunia lebih adil, teori-teori keadilan liberal telah melipat gandakan ketidakadilan. Pasar bebas hanya menumpuk kekayaan di tangan segelintir orang. Negara-negara sedang berkembang tersisih dan diperbudak. Nilai prediksi ajaran mereka adalah nol besar.
Mereka yang selama ini merasa bahwa agama tidak lagi layak-jual  dan menyangka kaum agama akan punah, mungkin akan terkejut melihat pegeseran demografi saat ini. Kaum fundamentalis justru siap mengambil alih dunia dan mengubur hantu liberalisme. Begitu kata Eric Kaufmann.

Jadi siapakah gerangan yang lebih berpotensi mewarisi dunia? Kaum liberal-sekuler dengan ajaran kebebasan dan rasional mereka, atau kaum fundamentalis dengan fanatisme moral mereka? Ataukah modernisme juga akan melunturkan cita-cita kaum fundamentalis? Entahlah. Alqur’an mengatakan dalam Surat al-Anbiya ayat 105 bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang saleh”. Saya percaya!

06/04/13

MUNGKINKAH UMAT ISLAM AKAN PUNAH?



MUNGKINKAH UMAT ISLAM AKAN PUNAH?
Oleh: Jum’an

Nadia mempunyai enam saudara kandung: dua laki-laki dan empat perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Ia mempunyai dua orang anak, enam saudaranya yang lain masing-masing juga mempunyai dua atau tiga anak, sedangkan seorang saudara perempuan lainnya memilih menjadi wanita karir, hampir berakhir masa suburnya belum juga mau menikah. Begitulah Nadia hanya melahirkan dua anak sementara ibunya melahirkan 7 anak; suatu penurunan angka kelahiran yang tajam. Akibatnya Nadia banyak saudara tetapi miskin anak. Mungkin bukan hanya keluarga Nadia tetapi banyak juga keluarga kita yang bernasib sama, bahkan merupakan trend nasional  sebagai dampak keberhasilan keluarga berencana yang kita banggakan. Salah seorang karyawati dikantor saya yang dua kali hamil berturut-turut dalam waktu tidak lama, menjadi cemoohan sinis dalam bisik-bisik diantara kami. Mau dikasih makan apa? Menyemai benih pengemis, ejek yang lainnya.

Menurut laporan terbaru Komisi Pusat Perencanaan Maroko, trend tingkat kelahiran di Maroko telah menurun secara dramatis dari 4.5 anak per-wanita pada 1987 turun menjadi hanya seperohnya yaitu 2.4 anak per-wanita pada 2010. Di Turki tingkat kelahiran saat ini hanya 1,5 anak per-wanita, turun dari 6,5 anak per-wanita satu generasi sebelumnya, jauh dibawah angka kesimbangan untuk regenerasi. Kesuburan wanita Iran, hanya dalam satu generasi telah menurun hampir 6 anak per-wanita dari 7,5 menjadi hanya 1,5 anak per-wanita. Disana kebanyakan orang mempunyai 6 atau 7 saudara tetapi hanya memiliki  1 atau 2 anak saja. Orang Arab diwilayah Yudea dan Samaria  generasi yang lalu mempunyai rata-rata 8 anak, sementara sekarang hanya 3, sama dengan tingkat kesuburan orang Israel. Di Pakistan kesuburan menurun lebih dari 3 anak per-wanita. Sedangkan di Mesir dan Indonesia menurun 4 anak per-wanita (mungkin dari 7 manjadi 3 seperti  di keluarga Nadia).  

Data angka penurunan kelahiran diatas dimuat dalam buku David Goldman “How Civilization Die”  2011 yang lalu. Goldman adalah seorang penulis Yahudi Amerika pendukung Israel tulen yang opini dan analisanya dapat kita duga. Buku ini membahas tentang runtuhnya demografi, angka kelahiran yang menurun secara dramatis dan meningkatnya populasi lanjut usia, tidak hanya di Eropah tetapi, diluar kesadaran kita, juga di banyak dunia Muslim. Terlepas dari analisa dan opini penulisnya yang anti Islam,  fakta tentang penurunan angka kelahiran di beberapa negara Islam diatas sungguh mengagetkan dan menakutkan. Banyak negara-negara Islam yang tingkat kelahiran penduduknya menurun hampir serendah negara-negara Eropah. Akibat runtuhnya tingkat kelahiran, sebagian besar Eropah sekarang “berada pada jalur sengaja menuju kepunahan”. Eropah, meskipun dalam kemunduran mungkin memiliki sumber daya untuk mendukung populasi yang menua. Tetapi negara-negara Islam yang miskin, populasi yang menua berarti sebuah peradaban diambang kehancuran. Penyusutan populasi bukanlah kabar baik seperti pendapat beberapa pengamat.Tanpa orang muda yang cukup untuk mempertahankan tingkat produksi dan mendukung penduduk usia lanjut yang makin banyak, penurunan angka kelahiran menimbulkan ancaman terhadap stabilitas dunia yang lebih mengerikan dari skenario kiamat yang disebabkan ledakan penduduk

Menurut Goldman orang-orang yang beriman memiliki lebih banyak anak dan orang-orang sekuler memiliki sedikit atau tidak sama sekali sehingga para pengamat liberal merasa ketakutan bahwa kelak dunia akan diwarisi oleh mereka.  Memang benar bahwa kelahiran dinegara Muslim jauh melebihi angka kelahiran di Barat, tapi sebagian besar dunia Islam menyusul krisis demografi Barat dengan kecepatan yang mengejutkan. Negara-negara muslim terpelajar seperti Iran, Turki, Aljazair, Tunisia dll, angka kelahirannya menurun dibawah tingkat kestabilan. Goldman berpendapat bahwa peradaban tanpa keyakinan agama yang kuat akan kehilangan keinginan untuk berkembang biak. Menurutnya orang bertahan hidup ketika hidup mereka ditopang oleh makna yang mengatasi kematian baik melalui keyakinan tetang hidup yang kekal ataupun keyakinan atas kelestarian budaya mereka. Ketika sumber makna itu layu, orang merangkul kematian melalui keengganan membiak, nafsu dan perang. Mereka berhenti memiliki anak, mengkusamkan indra mereka dengan alkohol dan obat obatan, menjadi sedih dan terlalu sering mengabaikan diri sendiri.

Kisah punahnya suatu peradaban (seperti kaum Ad dan Tsamud) yang hidup pada abad ke 20 dan abad 8 sebelum Masehi banyak disebut-sebut dalam Alqur’an. Bahkan dalam surat Al-Maaidah ayat 54 dan surat Muhammad ayat 38 Allah mengingatkan orang-orang yang beriman, apabila mereka berpaling, akan digantikan dengan ummat yang baru, yang lebih cinta kepada Allah dan dicintai Allah. David Goldman melihat tanda-tanda kearah itu, bukan saja bagi umat Islam tetapi juga umat-umat dan peradaban yang lain. Wallohu a’lam ……………

28/03/13

SUKU SAYA LEBIH BERBUDAYA


Oleh: Jum'an

Konon pada bulan Agustus 1563 raja Charles IX dari Perancis medatangkan tiga orang suku kanibal dari negri jajahannya Brazil untuk menyaksikan kehidupan “beradab” di istana Reims dan kemegahan kota Rouen di Perancis utara. King Charles saat itu bersusia 13 tahun, sedangkan ketiga orang kanibal yang sangat udik itu, belum pernah bepergian keluar dari Brazil sebelumnya. Raja sempat mengintrogasi mereka cukup lama. Pertemuan antara dua budaya yang kontras dan langka itu ditulis oleh eseis terkenal abad 16 Michel de Montaigne yang juga diperkenalkan dengan ketiga orang itu. Ketika ditanya pendapat mereka tentang lingkungan yang baru dilihatnya, mereka menyampaikan tiga hal yang menarik perhatian mereka tetapi Montaigne hanya ingat dua diantaranya, karena ia menulisnya 16 tahun sesudah peristiwa itu, lagipula ada kesulitan bahasa antara dia, si penterjemah dan para kanibal itu. Karena mereka melihat masyarakat Perancis dengan pandangan yang baru dan lugu, apa yang mereka anggap akrab dan jujur menjadi terasa absurd. Meskipun demikian pandangan mereka sungguh mengungkap moral.

Pertama mereka sangat heran melihat pria-pria bertubuh tegap, tinggi dan gagah, berjenggot dan bersenjata lengkap (yang mereka maksud para pengawal raja) bersedia tunduk pada perintah seorang anak kecil; sesuatu yang tak terpikirkan dalam masyarakat mereka. Mengapa mereka tidak memilih seorang diantara mereka sendiri untuk menjadi pimpinannya. Kedua mereka merasa terkejut melihat ketimpagan bangsa Perancis yang mencolok; ada orang-orang yang serba ada, memiliki segala sesuatu sementara sebagian lain mengemis didepan rumah mereka: kurus, lapar karena kemiskinan. Dalam pandangan mereka manusia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Aneh bahwa sebagaian harus menderita ketidak adilan seperti itu; kenapa tidak mereka cekek saja orang-orang kaya itu atau bakar rumah mereka. Montaigne menunulis Des Cannibals dengan gaya provokatif; bukan dengan membenarkan praktek kanibalisme, tetapi membandingkannya dengan budaya Eropah abad 16 yang menurutnya tidak kalah mengerikan dari pada tindakan para kanibal yang memakan daging musuhnya.

Menurutnya suku pribumi Brazil mempunyai kesederhanaan berfikir yang sehat dan kemuliaan dasar, mereka tidak mengenal kata pelayan, kaya, miskin tidak ada istilah bohong, khianat, pura-pura atau tamak. Atribut yang paling penting bagi mereka adalah keberanian berperang dan bahwa peperangan itu semata­mata untuk membuktikan kedewasaan para pejuang, karena lahan dan makanan tersedia cukup untuk semua orang. Mereka yang paling berani boleh memiliki istri paling banyak sedangkan kekayaan dimiliki bersama. Musuh yang tertangkap dipaksa meminta ampun. Tetapi yang paling mereka banggakan adalah untuk mempersilahkan sipenangkap musuh tadi untuk memakan dagingnya, karena mereka juga memakan daging anggota keluarga serta leluhur mereka. Sementara bangsa Eropah abad itu mempunyai kebiasaan menghukum orang diantaranya dengan mengumpankannya hidup-hidup kepada anjing dan babi, yang jelas lebih mengerikan daripada praktek kanibal. Namun demikian bangsa Eropah Barat abad 16 sangat yakin akan keunggulan moral mereka, bahwa semua non-Eropa adalah liar, kanibal, manusia rendahan, menakutkan, tidak terhormat, dan jangan dipercaya. Kenyataan ini oleh Montaigne disebut sebagai fenomena etnosentrisme suatu kecenderungan budaya untuk menilai budaya asing menggunakan tolok ukur budaya sendiri, sesuai dengan keyakinan dan praktek etnis sendiri tanpa memperhatikan keyakinan etnis lain. Inilah biang rasialisme dan kesukuan. Menurut Montaigne fenomena etnosentrisme sangat jelas dan tidak memerlukan konfirmasi empiris lebih lanjut. Bahwa semua kita sedikit banyak etnosentris sampai batas-batas tertentu. Apapun yang bertentangan dengan kebiasaan kita, semua kita sebut bar-bar. Kita melihat kebudayaan kita yang paling yang sempurna, sistim politik kita yang sempurna, cara melakukan segala sesuatu yang paling sempurna dan paling ulung.

Begitu esei Montaigne lima abad yang lalu. Ia sendiri berpendapat bahwa semua manusia terpapar pada kelemahan, kebiadaban dan salah perhitungan yang sama. Memakan daging sesama manusia atau mengumpankan orang kepada anjing memang tidak; esensinya tetap saja etnosentris. Apakah manusia abad 21 masih bersikap demikian? Anda bisa menilainya sendiri. Entah serendah apa Amerika menilai bangsa kita, tetapi menurut kita sepak-terjang mereka cukup bar-bar. Kalau kita bisa mencuri-dengar bisik-bisik orang Papua tentang suku kita dan bagaimana kita (yang merasa paling berbudaya) selama ini menilai mereka, mungkin kita bisa merasakan betapa etnosentrisnya kita ini.

10/03/13

GADING RETAK - SANTA BERNODA

GADING YANG RETAK - SANTA YANG BERNODA
Oleh: Jum’an

Dalam majalah Time Agustus 2007 terdapat tulisan berjudul “ Krisis Iman Bunda Teresa” yang menceritakan pengakuan terus terang dari Mother Teresa kepada pendeta tempat dia mengaku dosa tentang kesia-siaannya dalam mencari Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa dalam setengah abad terakhir ia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Kepada pendeta Van Der Peet ia berkata: “Yesus sangat mencintaimu; tetapi bagiku terasa begitu sepi dan hampa, saya terawang tak terlihat, saya simak tak terdengar – lidah bergerak tapi tak terucap…. Tolong doakan saya agar saya dapat menjangkauNya.”  Biarawati keturunan Albania yang nama aslinya Agnes Gonxha itu, lahir tahun 1910 di Skopje Macedonia. Semasa hdupnya ia dikenal sebagai Santa dari Kalkuta, penolong orang-orang termiskin dari yang miskin di sejumlah Negara Asia, Afrika dan Amerika Latin dan giat membantu korban bencana banjir, epidemi, kelaparan dan pengungsi. Untuk semua iti ia telah memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian, Hadiah Perdamaian dari Paus Yohanes XXIII, Hadiah Perdamaian Internasional Nehru, Hadiah Balzan, Templeton Dan Magsaysay. Demikian sehingga hampir diseluruh dunia orang tanpa keberatan memanggilnya Bunda.

Tetapi sebagaimana kata peribahasa: tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Citranya yang keramat bila diteliti dan dicermati nampaklah noda-nodanya kontras dengan faktanya; antara yang dibayangkan orang dan kenyatannya. Penelitian yang dilakukan oleh Serge Laviree dan Genevieve Chenard dari Universitas Montreal serta Carole Senechal dari Universitas Ottawa Kanada menyimpulkan bahwa citra humanis, suci dan penolong yang luar biasa dari Mother Teresa hanyalah mitos belaka, hasil promosi dan publikasi media yang berlebihan. Dalam kenyataannya ia menghimpun orang-orang sakit dan orang-orang miskin dalam rumah kematian dan jauh lebih senang mendoakan mereka daripada memberi pertolongan medis praktis meskipun yayasannya memiliki dana jutaan dolar. Baginya bukan masalah uang, tetapi menyangkut pandangan Mother Teresa (MT) sendiri tentang penderitaan dan kematian. ”Ada keindahan dalam melihat orang miskin menerima takdir mereka, menderita seperti Kristus yang disalib. Dunia banyak memperoleh keuntungan dari penderitaan mereka” begitu ia menjawab kritik-kritik yang diterimanya. Sebuah konsepsi yang rasanya tidak manusiawi! MT memang sangat pemurah dengan doa-doanya tetapi kikir dengan uangnya. Ketika banyak terjadi banjir di India serta tragedi Bhopal (ledakan pabrik pestisida 1984 dengan 2000 korban lebih), dia memberikan berbagai doa dan medali Perawan Maria tetapi tidak ada bantuan langsung atau keuangan. Disisi lain, ia tanpa ragu-ragu menerima gelar kehormatan serta hibah uang dari Diktator Haiti, Duvalier.

Penelitian itu menyebutkan MT memiliki 517 misi di 100 negara tetapi sebagian besar pasiennya tidak dirawat dengan baik dan banyak yang dibiarkan mati. Tetapi ketika MT sendiri membutuhkan perawatan akhir hayat, ia memperolehnya dari rumah sakit Amerika yang modern dan mewah. Mother Teresa dipercayai mempunyai mukjizat menyembuhkan penyakit. Monica Besra seorang wanita Benggali mengaku melihat cahaya memancar dari gambar MT yang kebetulan dimilikinya dan sesudah itu penyakit kankernya sembuh. Dr. Ranjan Mustafi yang nerawatnya menegaskan bahwa Monica tidak menderita kanker, sedangkan pasien TBC dan kista ovarium yang dikatakan sembuh oleh mukjizat MT, sebenarnya sembuh karena pengobatan yang sedang dijalani. Tetapi Vatikan tidak menghiraukannya dan tetap dengan rencana beatifikasi, yaitu menobatkannya sebagai santa (orang suci). Ketiga peneliti dari Kanada itu juga mengutip beberapa hal yang tidak diperhitungkan dalam proses beatifikasi oleh Vatican, seperti cara MT yang meragukan dalam merawat orang sakit, kontak-kontak politiknya yang pantas dipertanyakan, manajemen nya yang mencurigakan dalam mengelola uang sangat besar yang ia terima serta pandangannya yang terlalu dogmatis  tentang aborsi, kontrasepsi dan perceraian.

Citra humanis MT yang mendunia serta beatifikasi atau penobatannya sebagai orang suci oleh Paus tidak lepas dari peran media yang mendalanginya dengan efektif. Menurut ketiga peneliti diatas, dalam pertemuan MT dengan Malcolm Muggeridge dari BBC th. 1968 di London, Malcolm memutuskan untuk mempromosikan Mother Teresa dengan membuat film-film yang mendramatisir kegiatan-kegiatannya. Setelah itu MT melakukan perjalanan keliling dunia dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Dalam Biografi MT oleh Meg Greene (2004) diceritakan bahwa yayasan yang didirikannya di Kalkuta dikritik oleh majalah kedokteran Inggris Lancet karena tidak profesional. Dalam SF Weekly  Jan. 2011 terdapat artikel  berjudul “Tainted Saint” (Santa yang bernoda) yang menceritakan MT ketika membela pendeta favoritnya Donald McGuire yang terlibat pelecehan seksual terhadap anak-anak pada th 1993. McGuire sudah diberhentikan dari jabatannya tetapi MT mendesak atasannya untuk mengangkatnya kembali dengan segera. McGuire pun bertugas kembali , kembali juga tabiat pedofilnya.

Meskipun cara MT merawat orang sakit meragukan, yaitu melihat penderitaan mereka sebagai keindahan bukan dengan menghilangkannya, ketiga peneliti menyebutkan efek positif dari mitos Bunda Teresa bahwa citra kasih sayang dan penolongnya telah menginspirasi banyak relawan kemanusiaan yang kerjanya memang benar-benar telah mengatasi penderitaan fakir miskin….  Mother Teresa meninggal tahun 1997 dalam usia 87 tahun.

03/03/13

ORANG ALIM HATINYA KURANG PEKA?


ORANG ALIM HATINYA KURANG PEKA?
Oleh: Jum’an
Sudah biasa bagi anak-anak desa generasi saya dulu mengenakan kain sarung yang sudah kumal karena malas mencucinya untuk solat sehari-hari karena kain sarung itu masih “suci” artinya tidak terkena najis. Istimewanya meskipun kain sarung kami baru dicuci bersih, kalau secara tidak sengaja terpercik air seni, kurang dari setetes sekalipun, kami pasti mencucinya kembali bersih-bersih, bukan bagian yang terkena najis etapi seluruhnya. Sampai sekarang umat Islam generasi saya umumnya tetap membedakan kata suci untuk pakaian yang boleh dipakai untuk solat dengan kata bersih untuk pakaian yang pantas dipakai kekantor misalnya. Suci berarti bersih menurut aturan agama, sedangkan pakaian bersih artinya tidak tampak kotor dan dekil dipandang mata. Bukan hanya itu. Kita juga membedakan pula orang baik menurut agama dan orang baik dalam pengertian umum. Wanita soleh berarti ia mengikuti perintah dan petunjuk Allah sedangkan wanita baik hati adalah baik berdasar penilaian masyarakat. Dalam kumpulan surat-suratnya Raden Ajeng Kartini pernah menulis: “Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati”  seperti pernah saya mengutipnya dulu. Bukan hanya tentang pakaian yang suci dan wanita soleh, Agama memang membawa ajaran moral tersendiri yang tidak selalu selaras dengan nurani manusia. Dan bukan umat Islam saja yang membedakan moralitas agama dengan etika sekuler.
Setiap kali mendirikan solat, kita selalu mengucapkan ikrar bahwa solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, hingga tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengikuti dengan pasrah kehendak Allah. Tetapi Allah juga bersabda dalam Qur’an bahwa semua manusia (yang kafir atau ateis sekalipun) telah diciptakanNya dalam struktur yang sebaik-baiknya, kemudian Dia sempurnakan lagi, lalu ditentukan kadarnya dan diberikannya petunjuk, sehingga tanpa bimbingan agamapun manusia sudah mempunyai bekal potensi dan kecenderungan untuk berbuati baik. Menurut penelitian Universitas Barkeley California orang atheis dan yang tak beragama lebih didorong oleh rasa kasih sayang mereka untuk membantu orang lain daripada orang-orang yang relijius. Bukan berarti bahwa orang yang relijius tidak bersedia menolong, tetapi nampaknya rasa kasih sayang kurang menarik orang relijius dibanding kelompok orang lain. Orang-orang yang kurang atau tidak religius, mengandalkan perasaan hati mereka apakah mau menolong orang lain atau tidak. Sementara orang yang lebih relijius mungkin mendasarkan pertolongan mereka tidak pada emosi tetapi lebih pada factor-afaktor lain seperti doktrin, identitas komunal, atau reputasi; demikian hasil studi itu.
Seperti banyak kita temui orang-orang yang tidak relijius tetapi suka menolong dan berderma. Mereka mengikuti perasaan hati mereka, yang adalah karunia Allah juga, dan tumbuh menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Menurut penelitian, orang yang berkepribadian rendah hati (humble, andap-asor dalam bhs Jawa) terbukti lebih bersedia untuk mengulurkan tangan untuk membantu dibanding mereka yang arogan. Mereka juga cenderung menjadi pemimpin yang efektif dan lebih disukai dari pada mereka yang memamerkan prestasi mereka.
Jika benar hasil penelitian Robb Willer dari Universitas Berkeley diatas bahwa orang relijius lebih mendasarkan kemurahan hatinya kepada doktrin daripada kepada perasaan, maka dapat difahami bahwa banyak orang yang begitu relijius, perasaan mereka tidak peka. Ibarat pisau yang tumpul karena jarang diasah. Mengapa banyak tokoh yang nampaknya alim menyelewengkan uang negara yang sebenarnya merupakan hak rakyat miskin. Meskipun saya bukan orang yang terlalu relijius, saya curiga mengapa hati saya kurang tergerak untuk mengeluarkan uang untuk korban musibah kebakaran, banjir dsb. Saya meneteskan air mata melihat laporan korban banjir di televisi, tetapi sesenpun tidak keluar dari dompet saya untuk menolong mereka. Kalau anda juga merasa demikian, artinya kita tidak menyadari bahwa hati-nurani kita sedikit banyak sudah membawa petunjuk dari Allah swt. Dalam hal tolong-menolong kita kurang menghargai rasa kasih sayang yang merupakan unsur ciptaanNya dalam diri kita.
Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam saya percaya bahwa sifat-sifat baik yang saya miliki tumbuh dari keimanan saya. Kalau saya mengakuinya dari diri sendiri, itupun saya percaya berasal dari potensi yang sudah ditanamkan Allah sejak awal. Bedanya dengan kebaikan mereka yang tak beragama, mereka tidak mungkin mengakui kebaikannnya berasal dari potensi pemberian Allah dan tidak pula mereka peruntukkan bagi Allah. 

24/02/13

MENGINGAT MATI MENYEGARKAN HIDUP



Oleh: Jum’an

Tidaklah menyimpang dari dugaan kalau dalam penelitian terbukti bahwa orang Islam akan meningkat kepercayaannya kepada Allah ketika diingatkan dan berfikir tentang kematian. Demikian pula ketika orang Kristen memikirkan kematian, mereka bertambah yakin akan Tuhan mereka. Tetapi orang ateis ketika diingatkan tentang kematian, hatinya tak bergeming dan tetap tidak percaya. Sedangkan kaum agnostik yang ragu-ragu (karena menurut mereka kebenaran adanya Tuhan sangat sulit dibuktikan) ketika diingatkan akan kematian, mereka menjadi lebih bersedia untuk percaya adanya Tuhan, hanya saja mereka tidak pilih-pilih untuk percaya kepada Allah, Budha maupun Yesus; meskipun penelitian ini diadakan di Amerika, lingkungan yang mayoritas Kristen. Temuan ini meyakinkan bahwa agama yang menjanjikan kehidupan akhirat yang kekal, dapat membantu kita menyikapi soal kematian dan bahwa orang mengatasi rasa takut mati menurut kepercayaannya sendiri-sendiri. Mudah difahami bahwa orang yang religious cenderung makin kuat kepercayaan kepada agamanya sendiri dan semakin menjauhi kepercayaan agama lain.

Demikian diantara kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Kenneth Vail psikolog Universitas Missiouri dan rekan-rekan tentang Agama dan Kematian.  Ia merekrut 20 mahasiswa Kristen, 28 ateis, 40 Muslim dan 28 penganut agnostik. Semuanya mahasiswa Amerika kecuali 40 yang Muslim, mereka mahasiswa Iran yang belajar di Iran. Sesuai dengan dugaan para peneliti terungkap bahwa ketika orang Kristen berfikir tentang kematian, mereka lebih tegas keyakinannya kepada Yesus Kristus ketimbang orang Kristen yang tidak pernah diingatkan soal kematian mereka. Mereka juga makin tidak percaya dengan kebenaran agama lain. Demikian pula sebaliknya dengan orang Islam. Juga terungkap, mithos bahwa orang ateis akan beriman jika terancam kematian (no atheist in foxholes) adalah tidak benar. Orang atheist tetap atheist meskipun mereka diingatkan akan kematian mereka yang tak terelakkan. Penelitian ini juga menunjukkan betapa berbeda-bedanya cara orang menagani rasa takut akan kematian mereka. Bukti bahwa mengingat dan berfikir tentang kematian ternyata meningkatkan iman orang Islam kepada Allah merupakan fakta yang penting dan bermanfaat bagi kita.

Menurut suatu teori dalam ilmu psikologi sosial, kesadaran akan kematian yang tak terelakkan, dapat mendorong manusia untuk mengisi hidup mereka dengan sesuatu yang lebih penting dan bermakna, dan menyatukan diri dengan sesuatu yang lebih besar seperti agama atau Negara. Peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, telah menimbulkan rasa takut luar biasa dan membangkitkan kesadaran akan kematian. Peristiwa itu telah memberikan sekaligus dampak negatif maupun dampak positif. Kebanyakan media cenderung memfokuskan diri kepada reaksi negatif terhadap aksi terorisme seperti meningkatnya permusuhan antar agama, kekerasan dan rasialisme. Tapi menurut Kenneth Vail penelitian juga menemukan bahwa sesudah peristiwa itu orang lebih menunjukkan rasa syukur, harapan, dan kepemimpinan yg lebih baik.

Memikirkan tentang kematian dengan sadar, dapat memotivasi orang untuk menjaga kesehatan dan menyegarkan kembali cita-cita perorangan. Sementara secara tidak disadari mendorong manusia untuk hidup sesuai dengan standar dan keyakinan yang positif, membangun hubungan baik, melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat, hidup berdampingan, dan memperkaya kehidupan mereka sendiri.
Menurut kesimpulan penelitian tentang sikap orang terhadap kematian, memikirkan kematian dapat memperbaiki kehidupan. Menurut istilah mereka, menari dengan kematian adalah langkah yang pelik tetapi anggun menuju kehidupan yang lebih baik. Barangkali hadis Nabi yang mengatakan “Perbanyaklah mengingat kematian” memang perlu kita budayakan.