05/01/14

NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI


NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI
Oleh: Jum’an

Batas usia nikah untuk perempuan, menurut UU Perkawinan No.1 Th.74 adalah 16 tahun dan untuk pria 19 tahun. Dalam Peraturan Menteri Agama No.11 th.2007, bila calon suami belum 19 tahun dan calon isteri belum 16 tahun, mereka harus mendapat dispensasi dari pengadilan. Jika calon suami dan dan calon isteri belum genap berusia 21 tahun, harus ada izin dari orang tua atau wali mereka. Bila keduanya sudah lewat 21 tahun, mereka bebas menikah tanpa izin orang tua masing-masing. Agar tidak membingungkan, intinya batas usia nikah perempuan di Indonesia adalah 16 dan laki-laki 19 tahun. Di India batas untuk prempuan adalah 18 tahun, pria 21 tahn. Orang Islam yang melanggar undang-undang itu baik di Indonesia maupun di India kebanyakan beralasan bahwa Nabi Muhammad juga menikahi Aisyah pada usia muda. Sementara kita tahu efek negatif dari pernikahan terlalu muda, untuk menghadapi alasan para pelanggar mungkin perlu diberikan keterangan yang lebih dapat mereka terima. Dibawah ini sebagian penjelasan dari Dr. Amina Wadud  Professor Emerita (pari-purna) Studi Islam dalam blognya yang berjudul “Early Marriage and Early Islam”  yang menjelaskan bahwa Sunah sebagai alasan utuk nikah dini adalah keliru. Bulan Oktober yang lalu, Sembilan Organisasi Islam di Kerala, India, dimana Dr. Amina tinggal, telah mengadakan pendekatan dengan Mahkamah Agung untuk dapat mengecualikan perempuan Muslim dari undang-undang yang mengatur usia perkawinan minimum. Menurut mereka, larangan  Pernikahan Anak 2006 yang berlaku sekarang, yang mengatur usia minimum 18 tahun untuk perempuan dan 21 th untuk laki-laki, melanggar hak dasar kaum Muslimin untuk mempraktekkan agama mereka.

India adalah negara berpenduduk lebih dari 1 miliar dengan tingkat kemiskinan sebesar 22%, negara terburuk ke-55 dalam angka kematian ibu (450 per 100.000), dan angka kematian bayi, 44-55 per 1000. Semua ini berhubugan langsung terhadap pernikahan anak (dini): kemiskinan, angka kematian ibu, dan dengan demikian kematian bayi secara langsung berkaitan dengan usia perkawinan nasional. Dengan demikian salah satu cara mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan ibu, dan bayi adalah dengan mencegah perkawinan dini. Sejak diberlakukannya UU Perkawinan Anak di India pada 2006, angka kematian ibu dan bayi telah menurun dari tahun ketahun. Tetapi organisasi Islam di Kerala justru meminta Mahkamah Agung agar kaum muslimin dikecualikan karena "melanggar hak dasar untuk mempraktekkan agama mereka "! Mereka juga tidak memberikan bukti bahwa pernikahan anak adalah "fundamental" bagi agama kita, yang tanpanya akan "menghalangi" upaya kita untuk menjalankan agama. Karena tidak adanya bukti-bukti seperti itu Dr. Amina berusaha untuk menggambarkan secara obyektif proses sejarah dan budaya yang mungkin menyebabkan kesalah-pahaman seperti itu.

Cukup bukti bahwa salah satu istri Rasulullah berusia di bawah 18 ketika mereka menikah. Hal itu tidak aneh dan tidak aib disana pada waktu itu. “Ibu saya belum berusia 18 ketika menikah dengan ayah saya, dan terjadi pada abad 20 di Amerika yang Demokratis” tulis Dr. Amina. “Sementara saya mengakui bahwa ini memang terjadi, saya tidak menetapkan itu sebagai model untuk seterusnya. Yang ingin saya tunjuk adalah cara berfkir miring yang memaksakan bahwa peristiwa seperti ini merupakan model untuk seterusnya. Kita ambil contoh Rasulullah. Kita mengikuti Sunnah Rasul sebagai salah satu sumber utama hukum, etika dan perilaku. Sunnah artinya "perilaku normatif Nabi Muhammad saw.” Kita berkata, "normatif", karena Nabi juga dikenal mempunyai perilaku istimewa dalam praktek spiritualnya, ibadah, dan kedudukan sosial. Kekecualian ini tidak memiliki kekuatan pada masyarakat dan tidak pernah dikodekan menjadi undang-undang sebagai rekomendasi, persyaratan, ataupun "fundamental". Misalnya, Nabi menikah 9 kali. Semua, kecuali satu dari istri-istrinya sebelumnya pernah menikah, dan mengingat waktu di mana mereka tinggal, mereka cukup tua. Istri pertamanya, Khadijah, yang beliau nikahi pada saat ia menerima panggilan kenabian, adalah 15 tahun lebih tua darinya: Nabi 25, Khadijah 40. Pernikahan mereka berlangsung selama lebih dari 25 tahun, sampai Khadijah meninggal. Mereka menghasilkan empat anak perempuan yang hidup. Selama itu Nabi tetap melakukan monogami, meskipun kebiasaan poligami pada waktu itu sudah berjalan. Karena pernikahan ini adalah yang terpanjang bagi Nabi, mengapa bukan ini yang dijadikan standar kita mengukur normatif atau Sunnah?

Selain itu, semua istrinya, kecuali satu, adalah wanita yang lebih tua, sudah menikah sebelumnya, (baik bercerai atau janda). Karena itu, menjadikan pernikahan Nabi dg Aisyah yang masih muda sebagai preseden (kejadian awal dan dapat dipakai sbg contoh selajutnya) adalah jelas miring. Menurut Dr. Amina juga keji, memutar-balik citra Nabi, menghina nama Islam dan jelas berbahaya……. Syech Puji, ketahuilah itu!


29/12/13

KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID


KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID
Oleh: Jum’an

Zainal Abidin Muhamad Husain Abu Zubaidah atau Abu Zubaidah atau Zain atau Hani adalah tokoh Al-Qaeda yang sekarang berumur 42 tahun dan sudah lebih dari 10 tahun berada dalam kamp tahahan Guantanamo, Cuba. Menurut versi Amerika Abu Zubaidah adalah dedengkot teroris yang sangat berbahaya. Ia dinyatakan sebagai orang nomor 3 dalam Al-Qaeda. Menurut dokumen Departemen Pertahanan Abu Zubaidah terlibat dalam semua perencanaan aksi teror terhadap Amerika ketika ia menjadi petugas logistik Al Qaeda. Ia adalah konspirator serangan 11 September 2001, tangannya ada di setiap operasi penting Al–Qaeda. PBB menjulukinya rekan terkemuka Osama bin Laden dan Al-Qaeda. George Bush menamai Abu Zubaidah pimpinan perencanaan operasi pembunuhan dan penghacuran." CIA mengakui Abu Zubaidah adalah sosok yg penuh keyakinan, percaya diri dan berwibawa. Selama interogasi pada zaman Bush berkuasa, Abu Zubaidah menjalani 83 kali siksaan water-boarding dan mengalami banyak teknik interogasi yang kejam termasuk penelanjangan paksa, kurang tidur, disekap diruang sempit dan gelap, tidak diberi makan, posisi stres , dan siksaan fisik lainnya.

Belum lama ini Jason Leopold dari Aljazeera menerima terjemahan resmi buku harian milik Abu Zubaidah dari seorang mantan pejabat intelijen Amerika. Buku harian enam jilid yang ditulis selama 20 tahun itu ditemukan ketika Abu Zubaidah ditangkap pada 2002 di Pakistan. Bagi pejabat keamanan Amerika buku harian Abu Zbaidah merupakan sumber informasi yang sangat berharga untuk menemukan kelemahan mental dari tokoh yang menurut mereka memegang informasi penting rencana masa depan Al-Qaeda. Buku harian ini tidak hanya penting dari segi intelejen, karena isinya menunjukkan potret paling rinci dari kehidupan pribadi seorang mujahid berdedikasi yang pernah kita lihat. Isinya memperkuat kejelasan bahwa Amerika telah membuat kesalahan dasar yang signifikan dalam menghadapi peristiwa serangan 11 September 2001 dan menghadapi ancaman Islam radikal. Hani, nama panggilan Abu Zubaidah dalam keluarganya, adalah warga Palestina kelahiran Riyadh 12 Maret 1971. Anak ke 5 dari 10 bersaudara - 5 laki-laki dan 5 perempuan dari suami-istri Muhamad Abu Zubaidah (pengusaha kelas menengah dan guru bahasa Arab) dan Malikah;  Sang ayah ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dan menekankan pentingnya pendidikan. Hani dikuliahkan di Fakultas Teknik jurusan komputer di India. Menurut adiknya Hisham, Hani sehari-hari mengenakan bluejean yang merisaukan ayahnya, yang menginginkan anak-anaknya berpakaian tradisional Arab. Hani juga berbakat musik dan pelindung Hisyam dari kenakalan teman-temannya. "Hani adalah kakak yang baik," kata Hisyam. "Dia selalu ada ketika saya butuh pertolongan. Jika anak-anak lebih tua mulai mempermainkan saya waktu bermain sepak-bola, Hani datang menantang mereka. Hani selalu menekankan agar saya jangan mau dipermainkan orang lain.” Menurut  Hisyam, Hani tidak menunjukkan tanda-tanda ekstrimisme agama (Menurut versi Amerika dia termasuk pemuda Islam Saudi yang radikal). "Dia tidak pernah religius," kata Hisyam. "Dia suka merokok, bermain musik dan bersenang-senang." Hani lulus SMA dan meninggalkan Saudi pada umur 16 tahun dan sejak itu terpisah hingga kini. "Saya dan Hani adalah kambing hitam keluarga," kata Hisyam. "Semua saudara-saudara saya yang lain adalah dokter, profesor, psikolog. Aku tidak mampu bersaing dengan mereka." Ketika remaja Hani pernah pindah ke West-Bank bergabung dalam perjuangan melawan Israel. Abu Zubaidah telah bergabung dengan Taliban sebagai sejak awal 90-an, setelah mundurnya Soviet dari Afganistan dan tetap berada disana bersama Mujahidin melawan pemberontak komunis dan sisa-sisa mantan rezim Soviet, dan belakangan memimpin kamp pelatihan Al-Qaeda di Khalden Afganistan.

Tergantung orang menyebutnya, Teroris ataupun Mujahid, bukanlah superman, mereka bukan ahli taktik yang brilian atau prajurit yang sangat terlatih. Seringkali mereka adalah orang-orang sederhana yang berdebat dengan satu sama lain tetang hal-hal remeh, seperti terbaca dalam buku harian Hani. Tetapi Amerika menghadapinya secara all-out dengan biaya keuangan dan politik yang sangat besar.  Buku harian Hani mengungkapkan bahwa dia adalah seorang pria yang sangat anti Amerika, sekaligus menyenangi budaya Barat seperti music pop dan soft-drink. Setelah invasi AS ke Afghanistan 2001, Abu Zubaidah mencatat "Saya ingin melihat kejatuhan dan kehancuran Amerika dan Israel. Musuh-musuh Islam yang menduduki negeri kami, menghina bangsa kami, dan tdak menghargai agama kami.” Belum pernah terpikir dalam benak Amerika bahwa seorang penggemar Pepsi Cola dan lagu-lagu Barat bersedia melakukan tidakan yang begitu berani dan yakin disetujui oleh iman mereka. Ken Ballen, penasehat think tank Terror Free Tomorrow mengatakan: "Jika kita tidak mengerti apa yang memotivasi orang, bagaimana kita akan efektif berurusan dengan mereka? Jika kita dapat memahami, kita dapat menanggapi. Menyerbu Afganistan tidak sedikitpun mencegah serangan lebih lanjut. Perang Irak yang sangat mahal juga kontraproduktif.”

Hani sangat menyukai lagu-lagu Chris de Burgh, penyanyi Irlandia terutama lagu "The Lady in Red". Ia mengeluhkan bahwa lagu-lagu Chris membuatnya merasa haru – meskipun lembut dan indah tetapi membawa kesedihan dan kegelisahan jiwa, tulisnya pada 1990 dalam buku hariannya yang pertama. Hani juga penggemar film-film India. Ia menulis bahwa film Rambo III - di mana Sylvester Stallone bergabung dengan pasukan Afghanistan untuk melawan Soviet – adalah konyol.... saya tak kuat menawan tawa menonton film ini. Dia juga sering menulis tentang keluarganya dan kerinduan yang mendalam untuk mempunyai istri dan keluarga sendiri - sesuatu yang tidak sejajar dengan gairahnya mencari kesyahidan. Suatu kali ia membayangkan hidup berumah tangga, bermain dan menyayangi anaknya dan bahkan menamparnya bila perlu. “Ya! Menamparnya, kenapa tidak?" Pada tanggal 20 Maret 2002, Abu Zubaidah menulis catatan harian terakhirnya: "Tidak ada yang baru." Delapan hari kemudian, tepat pukul 2 pagi, CIA, FBI dan intelijen Pakistan menggerebek 14 rumah di Faisalabad, Pakistan, dan menangkap 52 tersangka, termasuk Abu Zubaidah.


Setelah bertahun-tahun Amerika melihat Abu Zubaidah sebagai tokoh utama bahkan orang nomor 3 dalam Al-Qaeda, pada 2007 CIA menyatakan menyadari bahwa Abu Zubaidah tidaklah signifikan: “Maaf, kami menemukan bahwa anda bukan Nomor 3, bukan mitra, bahkan bukan seorang pejuang," Menurut pengacara Brent Mickum dari The Guardian, ''Dia tidak pernah terbukti menjadi anggota Taliban atau Al-Qaeda ataupun menjadi anggota atau pendukung dari angkatan bersenjata yang bersekutu melawan Amerika.” Tidak menghargai kesahajaan mereka telah membuat Amerika salah membayangkan mereka yang sebenarnya. Jika anda membaca buku harian Abu Zubaidah, ternyata mereka adalah laki-laki biasa.

19/12/13

BERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?



SEBERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?
Oleh: Jum’an

Filosof Yunani Socrates (469 SM - 399 SM) suka mempertanyakan hal-hal yang aneh dan menjengkelkan yang mengganggu pandangan yang sudah mapan, terus menerus menantang para penguasa. Orang yang wajahnya tidak tampan, bertubuh gempal dan tidak pernah memakai alas kaki ini, berkeliling kemana-mana menanyai para pemuda serta masyarakat  tentang keadilan dan kebijaksanaan. Perilakunya itu membangkitkan kebencian para penguasa kepadanya yang menyebutnya sebagai lalat yang usil.  Kebencian akhirnya memuncak dan Socrates ditangkap dan diadili didepan 500 orang juri kota Athena. Ia diadili dengan tiga tuduhan yaitu meracuni pikiran generasi muda, tidak mempercayai para dewa dan memperkenalkan agama baru. Juri menjatuhkan hukuman mati dengan meminum racun setelah dilakukan voting yang hasilnya 280 setuju dan 220 menolak. Sementara menunggu eksekusi, diruang tahanan ia bertemu dengan sahabatnya Crito yang menawarkan bantuan untuk melarikan diri dari tahanan karena keputusan hukuman mati itu dianggapnya sangat tidak adil dan sarat dengan kepentingan politik. Socrates menolak dengan alasan bahwa merespon ketidak-adilan dengan ketidak-adilan adalah salah. Inilah argumentasi Crito: Jika eksekusi sampai terlaksana , orang akan mengatakan bahwa Crito dan teman-temannya tidak mampu menolong Socrates yang sebenarnya mempunyai banyak pendukung. Dari segi moral tidak adil kalau Socrates mengikuti kehendak musuh-musuhnya karena itu merupakan pilihan termudah, bukan pilihan yang berani, terhormat dan luhur. Ini adalah jalan kematian yang tidak adil. Socrates adalah pengecut jika tidak melawan. Sebagai seorang ayah Socrates juga wajib memelihara dan mendidik tiga orang anaknya serta mencegah agar mereka tidak menjadi anak yatim. Jika itu terjadi berarti Sicrates mengkhianati anak-anaknya. Pokoknya kegagalan untuk melarikan diri dari tahanan akan sangat konyol kerena teman-teman Socrates tidak becus menangai masalah, pengecut dan memalukan.

Socrates menjawab bahwa ia harus mengikuti bimbingan akal dengan argumentasi yang direnungkan dengan matang. Ia berpendapat, jika melakukan ketidak-adilan adalah tidak baik, maka tidak baik juga melakukan ketidak-adilan dalam menanggapi ketidak-adilan. Crito setuju; tapi itu belum menjawab apakah adil atau tidak bagi Socrates untuk melarikan diri dari tahanan. Lalu Socrates mempertanyakan apa kata hukum negara seandainya ia berhasil melarikan diri. Menurut Socrates hukum akan mengatakan bahwa pelarian dirinya adalah merusak dan tidak adil. Selanjutnya hukum negara akan mengatakan bahwa hubungan antara warga dengan negara adalah seperti anak dengan orang tuanya, seperti budak dengan tuannya. Hukum akan mengatakan bahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan pendidikan dan keikut-sertaan dalam semua manfaat dan kebaikan yang disediakan bagi semua warga. Hukum akan menanyakan bukankah Socrates telah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan jawaban hukum ini, malah justru bertanya kepada Crito apakah mereka tidak harus menerimanya saja. Crito mengatakan mereka harus menerimanya saja …… dan begitulah Socrates di eksekusi dengan meminum racun pada usia 70 th.

Orang Amerika dapat meninggalkan kewarganegaraan mereka secara sukarela; yang dikenal dengan tindakan ekspatriasi. Dari 2011 sampai kwartal ketiga 2013 tercatat 2400 orang melepaskan kewarga-negaraan mereka dan terus meningkat dari tahun ketahun. Kebanyakan mereka adalah orang kaya dengan alasan menghindari pajak yang terlalu berat. Seseorang tentunya berhak untuk bertindak sesuai denan cara yang menguntungkan dirinya. Orang kaya yang melepaskan kewarga-negaraannya demi pajak berpendapat mereka berhak melakukannya demi keuntungan mereka dan itu adalah kalkulasi yang rasional. Penghematan pajak sangat berarti bagi orang kaya, terutama jika mereka tidak terlalu membutuhkan kelebihan sebagai warga negara Amerika, atau mereka bisa mendapat keuntungan yang sebanding dg menjadi warga negara lain yg pajaknya tidak terlalu memberatkan. Sebenarnya orang kaya tidak terlalu menderita oleh pajak yg tinggi. Umumnya mereka mahir merekayasa peraturan pajak yg rumit untuk mengelak. Lagipula melepaskan kewarga-negaraan Amerika bukan hal yang ringan. Mereka tidak hanya kehilangan perlindungan dari pemerintah AS, tapi juga keuntungan finansial tidak segera dirasakan. Bahkan, mantan warga negara AS diharuskan untuk mengajukan pengembalian pajak selama beberapa tahun setelah melepaskan kewarga-negaraan. Mungkin mereka berpikir, meskipun begitu masih lebih menguntungkan dibanding menjadi warga Negara Amerika. Buktinya sudah sejak lama orang-orang kaya disana melepaskan kewarganegaraan mereka.


Tetapi rasanya melepaskan kewarga-negaraan, lebih-lebih demi uang (siapapun termasuk kita) secara moral mencurigakan. Dimana  patriotisme dan nasionalisme mereka? Dimana rasa persatuan dan kesetiaan mereka kepada negara? Belum lagi tuduhan sebagai orang yang egois. Apakah anda lebih menyukai sikap Socrates yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya seperti anak dengan orang tuanya atau bahkan budak dengan tuannya sehingga melepaskan kewarga-negaraan berarti mengkhianati orang tua yang telah mengasuh dan membesarkan anda? Atau seperti orang kaya Amerika yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya adalah hubungan bisnis belaka, bahwa warga negara pada dasarnya adalah pelanggan? 

08/12/13

BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA


BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA?
Oleh: Jum’an

Kita sama-sama mengetahui bahwa cuaca buruk di muka bumi makin sering terjadi dan bertambah mengerikan. Peningkatan ini pastilah ada asal-usul dan sebab musababnya. Entah kehendak Allah untuk menghukum manusia atas dosa-dosanya yang semakin beragam dan menggila atau akibat ulah manusia yang merusak alam dan merangsang terjadinya banjir dan badai. Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa tsunami yang melanda Aceh pada 2004 atau topan raksasa Haiyan di Filipina akhir-akhir ini adalah akibat dari perbuatan manusia merusak alam, tetapi para ahli percaya bahwa aktivitas manusia merupakan kekuatan utama di balik perubahan iklim dan perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak badai dahsyat seperti Haiyan, Sandy dan Phailin. Anggapan bahwa bencana yang mengerikan, seperti angin topan, gempa maupun tsunami adalah tindakan Tuhan untuk mengingatkan atau menghukum umat manusia, banyak dipercayai oleh kaum beragama baik Islam, Yahudi maupun Nasrani. Di Barat dan di Timur, di negeri maju maupun di negeri terbelakang. Tidak hanya sekali saya mendengar khotib solat Jum’at yang menyatakan dengan nada menuduh bahwa masyarakat Aceh yang bergelar Serambi Mekah telah meninggalkan agamanya, hilang iman mereka dan karena itu Allah menurunkan bencana bagi mereka. Ada pula ulama Iran yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tidak sopan dan berperilaku sembarangan yang seharusnya dipersalahkan atas terjadinya gempa. Menyingkap Kerudung Mengundang Gempa. Di negeri Barat banyak tokoh agama Yahudi maupun Nasrani yang meyakini bahwa gempa besar yang terjadi adalah akibat dari kegiatan-kegiatan homoseksual (perkawinan sesama jenis) yang menentang fitrah manusia atau kehendak Tuhan. Cobalah Google “homosex and earthquake” andapun akan tahu.

Ketika terjadi gempa dahsyat di Lisbon 250 tahun lalu, ketegangan antara kaum agama dan para intelektual memuncak. Inilah sekelumit kisah gempa dahsyat dan ketegangan itu: Tanggal 1 November tahun 1755 jatuh pada hari Minggu. Pagi hari itu cuaca di Lisbon ibukota Portugal sangat cerah dan hangat. Lisbon merupakan salah satu pelabuhan paling penting dan terkaya di Eropa pada saat itu. Penduduknya yang terkenal relijius sedang merayakan “Hari Semua Orang Kudus” (All Saint’s Day) dengan penuh gairah. Gereja-gereja dipenuhi jemaat pengunjung. Pukul 9.30 pagi terjadi getaran gempa yang lemah yang disusul dengan suara gemuruh yang makin keras dan makin keras, sampai menyerupai dentuman meriam dan terjadilah guncangan dahsyat yang pertama. Pada 09:40 semua lonceng kota berbunyi bersamaan karena guncangan gempa dan beberapa detik kemudian gedung-gedung mulai runtuh. Tiga guncangan besar berturut-turut terjadi selama 10 menit berikutnya, kebanyakan orang tewas akibat runtuhnya gereja-gereja yang penuh pengunjung yg sedang mengikuti misa kedua pagi hari itu.

Orang-orang melarikan diri ke arah pelabuhan di mana ada lapangan istana yang luas untuk perlindungan yg aman dari reruntuhan bangunan. Di sana mereka menyaksikan kejadian yang sangat aneh: Laut surut dan berubah menjadi daratan dan sungai Tagus kering sampai kedasar. Jam 10 lebih 10, gelombang tsunami setinggi 12 meter melanda kota dan menghancurkan seluruh pelabuhan; ribuan orang yang berada di sepanjang pantai tewas ditelan ombak. Setelah gempa dan tsunami reda, kebakaran yang mengerikan terjadi, berkobar selama lima hari lima malam menghancurkan apa yang masih disisakan oleh gempa dan tsunami. Akhirnya lebih dari tiga perempat kota rata dengan tanah, sekitar 90,000 dari 275,000 penduduk tewas. Gempa yang terjadi pada hari raya umat Katolik dan menghancurkan hampir seluruh gereja dikota Lisbon yang relijius itu sangat mengguncang kehidupan spiritual dan intelektual bangsa Eropah.

Banyak tokoh agama dan pendeta, seperti biasa menyebut gempa itu sebagai kemarahan dan hukuman Tuhan terhadap dosa-dosa manusia.Tetapi para intelektual waktu itu, seperti ahli filsafat Voltaire dan Jean Jacques Rousseau, menolak pendapat gempa sebagai hukuman Tuhan tetapi menyebutnya sebagai kejadian alam yang netral. Sekarang, dua setengan abad kemudian kita tahu bahwa kulit bumi merupakan lempeng-lempeng tektonik yang mengambang di atas magma cair. Gempa bumi terjadi karena pergeseran antar lempeng-lempeng ini.Teori lempeng tektonik merupakan tulang punggung geologi modern dan dapat menjelaskan hampir semua pristiwa gempa besar didunia.


Menurut sejarah, manusia baru menghuni bumi beberapa ratus ribu tahun terakhir, sedangkan badai, gempa dan letusan gunung berapi telah berlangsung selama 4 miliar tahun atau lebih. Bagaimana mungkin akhlak masyarakat Aceh dikait-kaitkan sebagai penyebab gempa yang sudah berjalan milyaran tahun? Keyakinan kita tetap, bahwa Allah adalah sumber hukum yang mengendalikan fenomena alam - tetapi sangat tidak relevan untuk mengatakan bahwa gempa Aceh 2004 disebakan oleh dosa-dosa masyarakatnya. Apapun pendapat kita, sikap yang jelas lebih bermanfaat adalah berusaha mengurangi korban yang jatuh karena bencana alam itu. Jika kita ingin menyelamatkan nyawa mereka, sangat penting bagi kita memahami ilmu dibalik gempa bumi, meteorologi dan klimatologi daripada mencari-cari dosa orang-orang yang sedang haus pertolongan. Wallohu a’lam.

24/11/13

MISKIN SALAH SENDIRI?


MISKIN SALAH SENDIRI?
Oleh: Jum’an

Ketika saya menderita sakit, tidak sedikit orang-orang yang peduli memberi nasehat agar saya banyak-banyak istighfar, berzikir, membaca Al-Qur’an serta bersedekah. Tujuannya tentu saja agar saya memperoleh kesembuhan disamping berobat dokter. Saya meng-iyakan saja nasehat mereka; tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan. Ada hal yang tidak mereka ketahui tentang saya: bahwa penyakit yang saya derita (dan juga kebanyakan penyakit) telah melumpuhkan semangat dan mengkaburkan kejernihan berfikir, tidak lagi seperti ketika saya dalam keadaan sehat, pikirang terang. Saat sehat, satu doa pun saya ulang-ulang. Istighfar dan zikir enteng. Bacaan Qur’an-pun terasa pesonanya. Begitulah agaknya keadaan orang yang menderita kemiskinan. Kemiskinan itu telah melumpuhkan akal sehat dan nalar mereka. Anjuran agar bekerja lebih giat, mengajukan kredit usaha kecil dengan memenuhi berbagai persyaratan dan melampirkan macam-macam bukti. Formulir, meterai, stempel. Apalagi mengikuti macam-macam kursus kewira-usahaan. Semua tidak mudah dicerna oleh otak mereka. Ibarat mengajak pengemis berolah raga!

Banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa akibat kemiskinan, seperti khawatir apakah besok-besok masih bisa makan atau tidak, bagaimana membayar hutang yang menumpuk, dapat merongrong balik menjadikan simiskin kekurangan kekuatan mental dan daya pikir untuk mengatasi kemiskinannya. Penelitian Dean Spears dari Univ. Princeton (2011) mengaitkan kemiskinan dengan menurunnya pengendalian diri; bahwa kemiskinan mempersulit pengambilan keputusan ekonomi dan melumpuhkan pengendalian perilaku. Penelitian lain juga menemukan bahwa kemiskinan merusak kemampuan untuk mengendalikan diri. Tiap orang memiliki energi mental terbatas. Makin banyak energi itu dihabiskan untuk menghawatiran kebutuhan dasar sehari-hari, makin sedikit yang tersisa untuk membuat perencanaan dan keputusan yang sehat dalam jangka pendek dan keberhasilan jangka panjang. Orang miskin sering mengalami rasa putus asa yang melumpuhkan. Khawatir dapat menjadi umpan balik yang cenderung menyempitkan pandangan, semacam jerat yang sulit dilepaskan.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Science menunjukkan bahwa stres karena kekhawatiran keuangan dapat benar-benar merusak fungsi kognitif orang miskin. Data dari orang-orang berpenghasilan rendah di Amerika dan petani miskin di India, sama-sama membuktikan bahwa baru merenungkan rencana keputusan saja, sudah melemahkan kinerja otak mereka. Orang miskin Amerika yang diminta untuk memikirkan perbaikan mobil dengan biaya yg tinggi, ketika menjalani test kemampuan berfikir hasilnya lebih buruk dibanding mereka yang diminta memikirkan perbaikan mobil dg biaya yg lebih rendah ataupun dari orang yang lebih kaya. Para peneliti itu juga mengamati hasil test kemampuan berfikir para petani miskin di Tamil Nadu India, sebelum dan sesudah musim panen. Daya pikir para petani sesudah panen (meskipun belum menikmati hasilnya) yg merasa lebih aman ternyata lebih baik daripada sebelum panen yang masih merasa khawatir. Temuan ini menambah bukti bahwa bahaya kemiskinan tidak terbatas pada dampak langsung dari kekurangan materi, tetapi berakibat pada menurunnya kemampuan berfikir, yang penting bagi kita bila ingin memahami tentang orang miskin. Berdasarkan kenyataan itu diadakanlah penelitian tentang manfaat bantuan langsung tunai tanpa syarat kepada orang miskin. Para peneliti telah menemukan bahwa pemberian uang tunai satu kali untuk penduduk miskin di Uganda telah menghasilkan peningkatan besar dalam pendapatan mereka selama 4 tahun berikutnya.  Mudah dipahami bahwa suntikan dana awal itu telah memberi hasil yang nyata. Tapi kemungkinan besar justru kelegaan mental yang ditimbulkan oleh bantuan tunai tanpa syarat yang sebenarnya menjadikan mereka dapat mengambil keputusan dan pemecahan masalah yang lebih tajam.


Pemikiran yg menggurui, bahwa kita harus berhati-hati dalam memberi bantuan, dan mengharuskan untuk melampirkan persyaratan yang rumit dan seleksi, mungkin justru dapat menambah masalah kemiskinan. Para pemimpin berpikir, orang miskin diberi bantuan gratis hanya akan menjadikan mereka tambah malas! Sesederhana itukah? Bukti dari Uganda diatas menunjukkan sebaliknya. Dimanapun, tekanan kekhawatiran keuangan yang berterusan merupakan penghalang besar bagi pengambilan keputusan yg bijak yang dibutuhkan oleh orang-orang dalam keadaan sulit untuk berhasil. Jadi jangan katakan bahwa mereka miskin akibat perilaku mereka sendiri. Jerat kemiskinan yang sulit dilepaskan telah melumpuhkan mereka sehingga idak bisa berperilaku produktif.

11/11/13

SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA


SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA
Oleh Jum’an

Bila anda akrab dengan dunia perwayangan terutama epos Mahabarata anda mungkin mengenal tokoh Dewi Sakuntala, permaisuri Raja Duswanta leluhur kaum Pandawa dan Korawa. Konon ibunya adalah seorang bidadari dari kahyangan. Rasanya saya pernah memiliki gambar Dewi Sakuntala berukuran 3X4 cm untuk bermain Umbul Wayang dimasa kanak-anak dahulu. Dia adalah tokoh fiktif dalam mitologi Hindu. Shakuntala Dewi yang saya tulis ini adalah seorang wanita dalam kehidupan nyata. Namanya sangat mungkin diilhami dari mitologi yang sama karena dia adalah wanita India yang juga beragama Hindu. Ia lahir pada 4 November 1929 didaerah kumuh di Distrik Bangalore India Selatan. Orang tuanya termasuk kasta Brahmana yang miskin. Ayahnya menolak mengikuti tradisi keluarga untuk menjadi pendeta, ia justru menjadi pemain sirkus, yang mahir dalam akrobat, permainan tali, penjinak singa dan adegan manusia yang ditembakkan dengan meriam. Menurut pengakuan Shakuntala Dewi dalam Majalah Hinduism Today, ibunya menikah pada umur 14 tahun dengan ayahnya yang berusia 60 tahun. Pada usia 3 tahun, ketika diajak bermain kartu, ayahnya sadar bahwa Dewi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mengingat angka-angka. “Ini dia rejeki  kiriman Tuhan!” pikirnya. Ia pun terkenal melalui pertunjukan kemampuannya di sirkus, dan juga pertunjukan keliling yang diatur oleh ayahnya. Merekapun memperoleh kehidupan dari situ. Ketika berumur 5 tahun Dewi sudah mahir hitung menghitung diluar kepala, sekaligus  menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk keluarganya yang beranggotakan 10 orang. Ini mendorongnya untuk melatih diri setiap hari agar bisa terus melakukan pertunjukan untuk mendukung kehidupan keluarganya. "Pada usia 6 tahun, saya memberikan pertunjukan besar pertama saya di Universitas Mysore, dan ini adalah awal dari maraton saya dalam pertunjukan publik." Dewi menunjukkan bakat matematika nya di seluruh dunia, di perguruan tinggi, di bioskop, radio, dan televisi.

Ketika ia muncul di BBC tahun 1950, jawabannya terhadap soal perhitungan yang sulit ternyata berbeda dari pewawancara.  Ternyata Dewi yang benar. Demikian pula yang terjadi di Universitas Roma. Tahun 1976 The New York Times menyatakan kagum pada kemampuannya: "Dia bisa menjawab akar pangkat tiga dari 188.132.517 - atau hampir semua bilangan lainnya - dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengajukan pertanyaan. Ia dapat menyebutkan jatuh pada hari apa setiap tanggal pada abad terakhir.” Tetapi bagaimanapun Shakuntala Devi manusia biasa. Terhadap pertanyaan “jatuh pada hari apa saja tanggal 14 pada tahun 1935”, semuanya dijawab dengan benar kecuali 14 Januari adalah Senin bukan Selasa dan 14 Desember adalah hari Sabtu bukan Minggu.

Pada 1977, di Southern Methodist Univ. di Dallas, ia menghitung akar pangkat 23 dari bilangan 201 digit (terdiri dari 201 angka) dalam 50 detik dengan tepat, mengalahkan komputer Univac, yang menyelesaikannya dalam 62 detik. Pada tahun 1980, dia dengan benar mengalikan dua buah bilangan 13 digit hanya dalam 28 detik di Imperial College di London. Prestasi yang tercatat dalam Guinness Book of World Records 1982 ini adalah luar biasa karena waktu 28 detik itu termasuk untuk mengucapkan jawaban yang 26-digit itu. Ini dia angka-angka itu: 7.686.369.774.870 X 2.465.099.745.779. Jawabannya adalah 18.947.668.177.995.426.462.773.730. “Ini adalah rahmat Tuhan semata. Saya tidak berjasa apa-apa” kata Dewi tentang kemampuan dirinya. Ia dapat mengadakan pertunjukan sampai 2 jam, tetapi untuk melakukannya lagi ia harus menenangkan diri dua atau tiga hari. Menurut Prof Arthur Jensen, dalam penelitiannya tentang Shakuntala Dewi: "Dewi menjawab hampir semua soal lebih cepat dari kecepatan saya menyalinnya di notebook saya." Jensen meberikan dua soal, akar pangkat tiga dari 61.629.875, dan akar pangkat tujuh dari 170.859.375. Shakuntala Dewi memberikan jawaban yang benar yaitu 395 dan 15, bahkan sebelum istri Jensen mulai menekan stopwatch.


Itulah Shakuntala Dewi, genius matematika yang tak ada duanya. Ia tidak mempunyai pendidikan formal. Ia pernah masuk sekolah tetapi dikeluarkan karena ayahnya tidak mampu bayar. Berasal dari keluarga yang tidak biasa, masa kanak-kanaknya tidak bahagia; ia bercerai dengan suaminya yang ternyata seorang gay. Ayahnya terbiasa memukuli ibunya. Bahkan ketika sebagai kanak-kanak Shakuntala menolak untuk mengadakan pertunjukan karena sedang malas, ayahnya memukuli ibunya dan ibunya memukuli Shakuntala. Kata Dewi, ibunya merasakan pukulan suaminya sebagai rahmat; lebih baik daripada dipukul tetangga. Shakuntala Dewi meninggal pada 21 April 2013 di Bangalore India pada usia 83 tahun karena masalah pernafasan dan jantung. Ia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Anupama. Untuk mengingat hari kelahiran Shakuntala Dewi, pada tanggal 4 November 2014 yang lalu logo Google tampil dengan gambar Dewi dan tulisan google dengan angka-angka kalkulator terbalik.

03/11/13

MOMINA BIBI - SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN


MOMINA BIBI- SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN
Oleh: Jum’an

Alkisah pada sore hari yang cerah tahun lalu, tepatnya tanggal 24-10-2012 yaitu dua hari menjelang hari raya Idul Adha, sebuah pesawat tak berawak AS menembakkan rudal tepat mengenai sasaran, yang ternyata seorang nenek 67 tahun bernama Momina (Mu’minah) Bibi. Nenek dari 9 cucu itu tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat itu dia sedang memetik sayur-sayuran di ladang bersama salah seorang cucunya Nabeela (9 th). Zubeir (13) kakak Nabeela baru saja pulang sekolah berada tak jauh dari sana. Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah terpencil di Waziristan Utara, Pakistan. Momina adalah seorang bidan desa. Suaminya Rahman pensiunan kepala sekolah dan anaknya Rafiq (ayah 3 anak: Zubeir, Nabeela dan Asma 5 th.) adalah seorang guru. Hari itu Rafiq dalam perjalanan pulang naik bis dari mengantarkan kue-kue lebaran untuk keluarga adiknya. Sampai di perhentian dekat rumahnya ia melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan jenasah. Dengan was-was ia bertanya pada seorang anak, siapa yang meninggal. Jawabnya, ibu dari seorang bernama Latif yg tewas oleh serangan pesawat tak berawak. Anak itu tidak tahu bahwa Latif adalah kakak Rafiq. Ia pun syok, semua bawaannya terjatuh dan bergegas lari kerumah. Ia makin takut ketika ingat bahwa anak-anaknya selalu dekat dengan neneknya. Ketika Rafiq tiba di rumah, ternyata sisa-sisa jasad ibunya yg hangus sudah dimakamkan. Nabeela dan Zubeir terluka dan dibawa ke rumah sak. Rafiq berfikir jangan-jangan mereka tak tertolong.

Berita yang tersiar berbeda-beda. Ada yang melaporkan bahwa lima militan tewas. Ada juga yang menulis bahwa Momina sedang menyiapkan makan untuk beberapa militant sehingga ia ikut terbunuh. Satu lagi, bahwa ada seorang militan naik sepeda motor, tepat di sampingnya sehingga ia ikut terkena. Semuanya tidak jelas. Kata Rafiq hanya ada satu orang yang tewas yaitu ibunya yang berusia 67 tahun yaitu Momina Bibi. Semuanya baru jelas setelah Peneliti dari Amnesti International Mustafa Qadri mengusutnya hingga tuntas. Mustafa melakukan wawancara dengan banyak warga desa tempat kejadian secara terpisah tanpa diketahui bahwa ia dari Amnesti Internasional. Setelah berminggu-minggu ia menyimpulkan bahwa laporan keluarga Momina dapat dipercaya. Dia menyimpulkan sangat tidak mungkin bahwa ada militan yang hadir pada saat serangan rudal itu terjadi. Ia juga menemukan potongan-potongan logam yang menurut analisa seorang ahli, sangat mungkin berasal dari rudal jenis Hellfire. Ada juga anggota keluarga yang melihat drone itu secara fisik. Diantara bukti yang paling mencolok bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak AS adalah ketepatan tembakannya yang luar biasa. Secara fisik memengenai sasarannya yaitu tubuh Momina Bibi. Dia benar-benar merupakan sasaran tembak dan hancur berkeping-keping. Mereka betul-betul berniat mengarah orang ini.

Momina dan suaminya Rahman, beserta anak-cucunya, adalah keluarga Islam yang bahagia. Nabeela menghabiskan sebagian besar hari-harinya bersama neneknya. "Saya benar-benar menyukai nenek saya," katanya. "Saya senang mengikuti dan belajar bagaimana melakukan sesuatu." Di kebun dihari naas itu, ia bersama neneknya sedang memetik sayuran-sayuran. Neneknya menujukkan cara membedakan kacang yang sudah boleh dipetik dan yang belum. Momina menjahit baju cucu-cunya, menikmati senangnya anak-anak berhari raya. Zubeir mengatakan neneknya disukai oleh semua orang. "Tidak ada orang lain seperti dia. Kita semua mencintainya." Sejak kematian ibunya, kata Rafiq, kehidupan telah berubah. "Tanpa dia serasa anggota tubuh kami telah dipotong," katanya. Momina ibarat benang yang menguntai kalung mutiara. Dia adalah perekat keluarga. Bagi Rahman, pensiunan kepala sekolah yang dihormati, kematian istrinya sangatlah menyedihkan. Pasangan itu tidak terbiasa berpisah, kata Rafiq. "Setelah kematian ibu, ayah jarang sekali tersenyum. Ia seperti tidak bersemangat lagi untuk melajutkan hidup."

Serangan pesawat tanpa awak (drone) berbeda dengan pertempuran lain di mana orang tak berdosa bisa tertembak tanpa sengaja. Drone mengincar sasarannya sebelum membunuhnya. Amerika memutuskan untuk membunuh seseorang, orang yang mereka lihat dari video. Seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dia. AS memang sengaja untuk membunuh Momina yang dibidik melalui layar komputer. Selama setahun Pemerintah Amerika tidak pernah mengakui peristiwa ini. Keluarga Rahman telah menceritakan semua ini dihadapan Amnesti Internasional serta wartawan The Guardian Inggris. Akhirnya Kongres AS mengundang Rafiq dan kedua anaknya Zubeir dan Nabeela ke Gedung Putih untuk memberikan kesaksian pada 29 Oktober 2013, beberapa hari yang lalu. Nabeela bercerita sambil memegang gambar serangan yang menewaskan neneknya yang dilukis sendiri diatas selembar kertas. Ketika ia berada tidak jauh dari neneknya dikebun sayur, tiba-tiba ada suara gemuruh. Seperti terjadi kebakaran. Ia takut sekali. Tangannya terasa sakit seperti terkena sesuatu. Ia pun langsung berlari. Sambil lari ia melihat tangannya berdarah. Nabeela terus berlari sampai ia diselamatkan oleh para tetangga. "Saya melihat nenek saya tepat sebelum terjadi ledakan tapi hanya sekejap karena sesudah itu gelap, tapi saya bisa mendengar ia menjerit."


Zubeir mengungkapkan, pada hari neneknya tewas langit cerah, dia baru saja pulang sekolah dan semua orang sudah bersemangat menjelang Idul Adha, sementara terlihat ada pesawat berputar-putar diangkasa. Bukan pesawat terbang, bukan helikopter, kata Zubeir, dia tahu bedanya dari bentuk dan suaranya. "Saya yakin itu adalah sebuah drone." Ia melihat sepasang "bola api" menembus langit biru.  Setelah terjadi ledakan, suasana gelap tertutup asap dan puing-puing. Zubeir terluka oleh pecahan peluru. Ia merasa seperti di neraka. Banyak anggota Kongres yang menangis mendengar kisah mereka. Tetapi para pejabat pemerintah tidak dapat berkata apa-apa, kecuali mengulangi kata-kata Presiden mereka Barrack Obama: "Kalau kita tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi jaringan teroris akan terjadi korban lebih banyak lagi - tidak hanya di kota-kota kita di Amerika dan fasilitas kami di luar negeri, tetapi juga di tempat-tempat dimana para teroris bersarang."…………………………..