Tampilkan postingan dengan label India. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label India. Tampilkan semua postingan

05/01/14

NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI


NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI
Oleh: Jum’an

Batas usia nikah untuk perempuan, menurut UU Perkawinan No.1 Th.74 adalah 16 tahun dan untuk pria 19 tahun. Dalam Peraturan Menteri Agama No.11 th.2007, bila calon suami belum 19 tahun dan calon isteri belum 16 tahun, mereka harus mendapat dispensasi dari pengadilan. Jika calon suami dan dan calon isteri belum genap berusia 21 tahun, harus ada izin dari orang tua atau wali mereka. Bila keduanya sudah lewat 21 tahun, mereka bebas menikah tanpa izin orang tua masing-masing. Agar tidak membingungkan, intinya batas usia nikah perempuan di Indonesia adalah 16 dan laki-laki 19 tahun. Di India batas untuk prempuan adalah 18 tahun, pria 21 tahn. Orang Islam yang melanggar undang-undang itu baik di Indonesia maupun di India kebanyakan beralasan bahwa Nabi Muhammad juga menikahi Aisyah pada usia muda. Sementara kita tahu efek negatif dari pernikahan terlalu muda, untuk menghadapi alasan para pelanggar mungkin perlu diberikan keterangan yang lebih dapat mereka terima. Dibawah ini sebagian penjelasan dari Dr. Amina Wadud  Professor Emerita (pari-purna) Studi Islam dalam blognya yang berjudul “Early Marriage and Early Islam”  yang menjelaskan bahwa Sunah sebagai alasan utuk nikah dini adalah keliru. Bulan Oktober yang lalu, Sembilan Organisasi Islam di Kerala, India, dimana Dr. Amina tinggal, telah mengadakan pendekatan dengan Mahkamah Agung untuk dapat mengecualikan perempuan Muslim dari undang-undang yang mengatur usia perkawinan minimum. Menurut mereka, larangan  Pernikahan Anak 2006 yang berlaku sekarang, yang mengatur usia minimum 18 tahun untuk perempuan dan 21 th untuk laki-laki, melanggar hak dasar kaum Muslimin untuk mempraktekkan agama mereka.

India adalah negara berpenduduk lebih dari 1 miliar dengan tingkat kemiskinan sebesar 22%, negara terburuk ke-55 dalam angka kematian ibu (450 per 100.000), dan angka kematian bayi, 44-55 per 1000. Semua ini berhubugan langsung terhadap pernikahan anak (dini): kemiskinan, angka kematian ibu, dan dengan demikian kematian bayi secara langsung berkaitan dengan usia perkawinan nasional. Dengan demikian salah satu cara mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan ibu, dan bayi adalah dengan mencegah perkawinan dini. Sejak diberlakukannya UU Perkawinan Anak di India pada 2006, angka kematian ibu dan bayi telah menurun dari tahun ketahun. Tetapi organisasi Islam di Kerala justru meminta Mahkamah Agung agar kaum muslimin dikecualikan karena "melanggar hak dasar untuk mempraktekkan agama mereka "! Mereka juga tidak memberikan bukti bahwa pernikahan anak adalah "fundamental" bagi agama kita, yang tanpanya akan "menghalangi" upaya kita untuk menjalankan agama. Karena tidak adanya bukti-bukti seperti itu Dr. Amina berusaha untuk menggambarkan secara obyektif proses sejarah dan budaya yang mungkin menyebabkan kesalah-pahaman seperti itu.

Cukup bukti bahwa salah satu istri Rasulullah berusia di bawah 18 ketika mereka menikah. Hal itu tidak aneh dan tidak aib disana pada waktu itu. “Ibu saya belum berusia 18 ketika menikah dengan ayah saya, dan terjadi pada abad 20 di Amerika yang Demokratis” tulis Dr. Amina. “Sementara saya mengakui bahwa ini memang terjadi, saya tidak menetapkan itu sebagai model untuk seterusnya. Yang ingin saya tunjuk adalah cara berfkir miring yang memaksakan bahwa peristiwa seperti ini merupakan model untuk seterusnya. Kita ambil contoh Rasulullah. Kita mengikuti Sunnah Rasul sebagai salah satu sumber utama hukum, etika dan perilaku. Sunnah artinya "perilaku normatif Nabi Muhammad saw.” Kita berkata, "normatif", karena Nabi juga dikenal mempunyai perilaku istimewa dalam praktek spiritualnya, ibadah, dan kedudukan sosial. Kekecualian ini tidak memiliki kekuatan pada masyarakat dan tidak pernah dikodekan menjadi undang-undang sebagai rekomendasi, persyaratan, ataupun "fundamental". Misalnya, Nabi menikah 9 kali. Semua, kecuali satu dari istri-istrinya sebelumnya pernah menikah, dan mengingat waktu di mana mereka tinggal, mereka cukup tua. Istri pertamanya, Khadijah, yang beliau nikahi pada saat ia menerima panggilan kenabian, adalah 15 tahun lebih tua darinya: Nabi 25, Khadijah 40. Pernikahan mereka berlangsung selama lebih dari 25 tahun, sampai Khadijah meninggal. Mereka menghasilkan empat anak perempuan yang hidup. Selama itu Nabi tetap melakukan monogami, meskipun kebiasaan poligami pada waktu itu sudah berjalan. Karena pernikahan ini adalah yang terpanjang bagi Nabi, mengapa bukan ini yang dijadikan standar kita mengukur normatif atau Sunnah?

Selain itu, semua istrinya, kecuali satu, adalah wanita yang lebih tua, sudah menikah sebelumnya, (baik bercerai atau janda). Karena itu, menjadikan pernikahan Nabi dg Aisyah yang masih muda sebagai preseden (kejadian awal dan dapat dipakai sbg contoh selajutnya) adalah jelas miring. Menurut Dr. Amina juga keji, memutar-balik citra Nabi, menghina nama Islam dan jelas berbahaya……. Syech Puji, ketahuilah itu!


11/11/13

SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA


SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA
Oleh Jum’an

Bila anda akrab dengan dunia perwayangan terutama epos Mahabarata anda mungkin mengenal tokoh Dewi Sakuntala, permaisuri Raja Duswanta leluhur kaum Pandawa dan Korawa. Konon ibunya adalah seorang bidadari dari kahyangan. Rasanya saya pernah memiliki gambar Dewi Sakuntala berukuran 3X4 cm untuk bermain Umbul Wayang dimasa kanak-anak dahulu. Dia adalah tokoh fiktif dalam mitologi Hindu. Shakuntala Dewi yang saya tulis ini adalah seorang wanita dalam kehidupan nyata. Namanya sangat mungkin diilhami dari mitologi yang sama karena dia adalah wanita India yang juga beragama Hindu. Ia lahir pada 4 November 1929 didaerah kumuh di Distrik Bangalore India Selatan. Orang tuanya termasuk kasta Brahmana yang miskin. Ayahnya menolak mengikuti tradisi keluarga untuk menjadi pendeta, ia justru menjadi pemain sirkus, yang mahir dalam akrobat, permainan tali, penjinak singa dan adegan manusia yang ditembakkan dengan meriam. Menurut pengakuan Shakuntala Dewi dalam Majalah Hinduism Today, ibunya menikah pada umur 14 tahun dengan ayahnya yang berusia 60 tahun. Pada usia 3 tahun, ketika diajak bermain kartu, ayahnya sadar bahwa Dewi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mengingat angka-angka. “Ini dia rejeki  kiriman Tuhan!” pikirnya. Ia pun terkenal melalui pertunjukan kemampuannya di sirkus, dan juga pertunjukan keliling yang diatur oleh ayahnya. Merekapun memperoleh kehidupan dari situ. Ketika berumur 5 tahun Dewi sudah mahir hitung menghitung diluar kepala, sekaligus  menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk keluarganya yang beranggotakan 10 orang. Ini mendorongnya untuk melatih diri setiap hari agar bisa terus melakukan pertunjukan untuk mendukung kehidupan keluarganya. "Pada usia 6 tahun, saya memberikan pertunjukan besar pertama saya di Universitas Mysore, dan ini adalah awal dari maraton saya dalam pertunjukan publik." Dewi menunjukkan bakat matematika nya di seluruh dunia, di perguruan tinggi, di bioskop, radio, dan televisi.

Ketika ia muncul di BBC tahun 1950, jawabannya terhadap soal perhitungan yang sulit ternyata berbeda dari pewawancara.  Ternyata Dewi yang benar. Demikian pula yang terjadi di Universitas Roma. Tahun 1976 The New York Times menyatakan kagum pada kemampuannya: "Dia bisa menjawab akar pangkat tiga dari 188.132.517 - atau hampir semua bilangan lainnya - dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengajukan pertanyaan. Ia dapat menyebutkan jatuh pada hari apa setiap tanggal pada abad terakhir.” Tetapi bagaimanapun Shakuntala Devi manusia biasa. Terhadap pertanyaan “jatuh pada hari apa saja tanggal 14 pada tahun 1935”, semuanya dijawab dengan benar kecuali 14 Januari adalah Senin bukan Selasa dan 14 Desember adalah hari Sabtu bukan Minggu.

Pada 1977, di Southern Methodist Univ. di Dallas, ia menghitung akar pangkat 23 dari bilangan 201 digit (terdiri dari 201 angka) dalam 50 detik dengan tepat, mengalahkan komputer Univac, yang menyelesaikannya dalam 62 detik. Pada tahun 1980, dia dengan benar mengalikan dua buah bilangan 13 digit hanya dalam 28 detik di Imperial College di London. Prestasi yang tercatat dalam Guinness Book of World Records 1982 ini adalah luar biasa karena waktu 28 detik itu termasuk untuk mengucapkan jawaban yang 26-digit itu. Ini dia angka-angka itu: 7.686.369.774.870 X 2.465.099.745.779. Jawabannya adalah 18.947.668.177.995.426.462.773.730. “Ini adalah rahmat Tuhan semata. Saya tidak berjasa apa-apa” kata Dewi tentang kemampuan dirinya. Ia dapat mengadakan pertunjukan sampai 2 jam, tetapi untuk melakukannya lagi ia harus menenangkan diri dua atau tiga hari. Menurut Prof Arthur Jensen, dalam penelitiannya tentang Shakuntala Dewi: "Dewi menjawab hampir semua soal lebih cepat dari kecepatan saya menyalinnya di notebook saya." Jensen meberikan dua soal, akar pangkat tiga dari 61.629.875, dan akar pangkat tujuh dari 170.859.375. Shakuntala Dewi memberikan jawaban yang benar yaitu 395 dan 15, bahkan sebelum istri Jensen mulai menekan stopwatch.


Itulah Shakuntala Dewi, genius matematika yang tak ada duanya. Ia tidak mempunyai pendidikan formal. Ia pernah masuk sekolah tetapi dikeluarkan karena ayahnya tidak mampu bayar. Berasal dari keluarga yang tidak biasa, masa kanak-kanaknya tidak bahagia; ia bercerai dengan suaminya yang ternyata seorang gay. Ayahnya terbiasa memukuli ibunya. Bahkan ketika sebagai kanak-kanak Shakuntala menolak untuk mengadakan pertunjukan karena sedang malas, ayahnya memukuli ibunya dan ibunya memukuli Shakuntala. Kata Dewi, ibunya merasakan pukulan suaminya sebagai rahmat; lebih baik daripada dipukul tetangga. Shakuntala Dewi meninggal pada 21 April 2013 di Bangalore India pada usia 83 tahun karena masalah pernafasan dan jantung. Ia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Anupama. Untuk mengingat hari kelahiran Shakuntala Dewi, pada tanggal 4 November 2014 yang lalu logo Google tampil dengan gambar Dewi dan tulisan google dengan angka-angka kalkulator terbalik.