Tampilkan postingan dengan label TERORIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TERORIS. Tampilkan semua postingan

27/06/15

GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA


GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA
Oleh: Jum’an

Pada bulan Mei yang lalu terjadi kerusuhan antar geng motor kulit putih di Waco,Texas yang mengakibatkan 9 orang tewas 18 luka-luka dan 192 orang ditahan dengan tuduhan melakukan kejahatan terorganisir. Cara polisi mengani dan media meliput insiden itu banyak mengundang pertanyaan, karena sangat berbeda dengan perlakuan mereka dalam menghadapi insiden kulit hitam di Ferguson (Missouri) dan Baltimore (Maryland). Di Waco aparat penegak hukum nampak relatif santai sementara anggota geng yang ditangkap nampak duduk-duduk tanpa di borgol dan dibiarkan menggunakan ponsel mereka. Tidak ada satupun berita yang menyebut-nyebut ras dalam peristiwa itu. Sikap kendor ini sangat kontras dengan kebrutalan mereka menghadapi tersangka kulit hitam seperti Freddie Gray di Baltimore yang akhirnya mati dialam tahanan polisi tanpa bukti kesalahan yang berarti. Tidak ada seorangpun tokoh kulit putih yang berpengaruh yang mencela teror geng motor di Texas itu. Kepolisian diseluruh Amerika telah larut dalam rasialisme yang melembaga dan standar ganda dalam menangani tersangka minoritas.

 Kata seorang komentator politik liputan berita kerusuhan geng motor kulit putih di Texas tidak ada yang menyebutkan ras, tapi ketika orang kulit hitam yang terlibat dalam kekerasan, “kulit hitam” pasti disebut. Media memberikan narasi yang bias sehingga pembaca yang dimintai pendapat cenderung mengatakan bahwa kejahatan lebih banyak dilakukan oleh orang kulit hitam atau berwarna. Ketika orang-orang kulit putih melakukan tindak kekerasan, disebutnya sebagai penyimpangan, seolah-olah peristiwa yang tidak biasanya terjadi, dan tidak mewakili kelompok ras mereka. Dalam berita kekerasan oleh orang kulit hitam, kecuali ras disebut dg jelas, masih dengan penekanan tambahan seperti bahwa tempat kejadiannya memang rawan kejahatan dan narkoba. Menurut penelitian, pandangan bias terhadap kulit hitam di AS memang melekat dan nyata, seperti juga pandangan tentang keunggulan orang kulit putih dan hak istimewa mereka. Orang kulit putih begitu yakin bahwa urat jahat memang sudah merupakan bawaan setiap orang berkulit hitam. Padahal ras tidak ada hubungannya dengan kejahatan. Orang dari semua ras melakukan kejahatan dan juga menjadi korban, tak ada korelasinya dengan warna kulit.

Jika ada seorang Islam mengancam kekerasan di Amerika, akan diperlakukan sebagai terorisme yang gawat. Jajak pendapat PEW menunjukkan bahwa mayoritas kulit putih Amerika berkeyakinan bahwa kekerasan melekat dalam ajaran Islam yang terbukti dari dukungan mayoritas kaum muslimin di beberapa Negara terhadap hukuman mati bagi orang yang murtad atau menghujat. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa hukuman mati karena murtad atau menghujat Islam sangat jarang dilaksanakan dinegara muslim manapun, sementara di Di AS rata-rata sekitar 30 anggota komunitas LGBT dibunuh setiap tahun. Dalam Bible hubungan sesama jenis merupakan dosa berat yang harus dihukum mati. Tak sedikit pendeta fundamentalis yang setuju untuk melaksanakannya. Diantaranya Steven Anderson dari gereja Baptis Arizona yang dengan berapi-api menyerukan pembunuhan semua kaum homoseks. Ia mengklaim dapat membuat dunia bebas dari penyakit AIDS dalam waktu singkat dengan cara membunuh semua kaum homoseks dan waria. Ia mengutip ayat-ayat Bible untuk mendukung ide radikalnya. Ia berpegangan pada Imamat 20:13 tentang kaum homo yang harus dihukum mati. "Itulah saudara-saudara, obat untuk memberantas AIDS menurut Bible, bukan dengan mengabiskan milyaran dolar untuk penelitian dan pengujian. Jika kita bunuh kaum homo seperti diperintahkan Tuhan, AIDS tidak akan merajalela " "Tidak boleh ada kaum atau lesbian atau waria masuk kedalam gereja ini selama saya pendeta di sini. Never! Demikian pula dengan pendeta Curtis Knap dari Gereja Baptis New Hope Kansas dan Sean Harris dari Gereja Baptis North Carolina. Mereka tidak hanya percaya bahwa kaum gay harus dihukum mati, tetapi memerintahkan jemaatnya harus agresif dan memukul anak-anak mereka sendiri jika mereka menunjukkan tanda-tanda homoseksualitas. Yang lebih merisaukan menurut majalah Liberal Unite adalah bahwa mereka tidak hanya menyebarkan khotbah penuh kebencian kepada orang dewasa dalam jemaat, tetapi mereka juga kepada anak anak. "Tak ada ada kaum homoseks yang masuk surga." Jadi pantas kalau rata-rata ada 30 orang dari komuitas LGBT dibumuh di Amerika.

Kalau mereka bersikukuh bahwa Islam membawa ajaran kekerasan bukankah bukti diatas menunjukkan hal yang sama untuk agama mereka? Kalau mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pendang, bukankah seharusnya mereka sudah membaca Injil Matius 10: 34 : “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku (Kristus) datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah perdamaian Aku bawa datang tapi pedang.”


Seandainya saja orang Amerika tidak menganut standar ganda dan rasialisme dan benar-benar menyimak Bible mereka dengan seksama niscaya mereka akan berhenti menuduh bahwa Al-Qur’an memerintahkan kejahatan dan kekerasan kepada umatnya. Orang Amerika dan Kristen tidaklah jauh berbeda dengan kaum Muslimin di Timur Tengah. Komedian Bill Maher  pernah mengatakan bahwa di Amerika banyak fundamentalis Kristen gila; kita nampak lebih baik hanya karena mereka tidak kita biarkan mengatur negara. Agama tidak menciptakan teroris. Masyarakatlah yang menciptakannya. Islam maupun Kristen, di Timur Tengah maupun di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa menyalahkan kitab suci umat Islam atas tindakan ekstrimis sama saja dengan menyalahkan pabrik sepeda motor Honda sebagai pelopor geng motor. 

03/11/13

MOMINA BIBI - SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN


MOMINA BIBI- SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN
Oleh: Jum’an

Alkisah pada sore hari yang cerah tahun lalu, tepatnya tanggal 24-10-2012 yaitu dua hari menjelang hari raya Idul Adha, sebuah pesawat tak berawak AS menembakkan rudal tepat mengenai sasaran, yang ternyata seorang nenek 67 tahun bernama Momina (Mu’minah) Bibi. Nenek dari 9 cucu itu tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat itu dia sedang memetik sayur-sayuran di ladang bersama salah seorang cucunya Nabeela (9 th). Zubeir (13) kakak Nabeela baru saja pulang sekolah berada tak jauh dari sana. Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah terpencil di Waziristan Utara, Pakistan. Momina adalah seorang bidan desa. Suaminya Rahman pensiunan kepala sekolah dan anaknya Rafiq (ayah 3 anak: Zubeir, Nabeela dan Asma 5 th.) adalah seorang guru. Hari itu Rafiq dalam perjalanan pulang naik bis dari mengantarkan kue-kue lebaran untuk keluarga adiknya. Sampai di perhentian dekat rumahnya ia melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan jenasah. Dengan was-was ia bertanya pada seorang anak, siapa yang meninggal. Jawabnya, ibu dari seorang bernama Latif yg tewas oleh serangan pesawat tak berawak. Anak itu tidak tahu bahwa Latif adalah kakak Rafiq. Ia pun syok, semua bawaannya terjatuh dan bergegas lari kerumah. Ia makin takut ketika ingat bahwa anak-anaknya selalu dekat dengan neneknya. Ketika Rafiq tiba di rumah, ternyata sisa-sisa jasad ibunya yg hangus sudah dimakamkan. Nabeela dan Zubeir terluka dan dibawa ke rumah sak. Rafiq berfikir jangan-jangan mereka tak tertolong.

Berita yang tersiar berbeda-beda. Ada yang melaporkan bahwa lima militan tewas. Ada juga yang menulis bahwa Momina sedang menyiapkan makan untuk beberapa militant sehingga ia ikut terbunuh. Satu lagi, bahwa ada seorang militan naik sepeda motor, tepat di sampingnya sehingga ia ikut terkena. Semuanya tidak jelas. Kata Rafiq hanya ada satu orang yang tewas yaitu ibunya yang berusia 67 tahun yaitu Momina Bibi. Semuanya baru jelas setelah Peneliti dari Amnesti International Mustafa Qadri mengusutnya hingga tuntas. Mustafa melakukan wawancara dengan banyak warga desa tempat kejadian secara terpisah tanpa diketahui bahwa ia dari Amnesti Internasional. Setelah berminggu-minggu ia menyimpulkan bahwa laporan keluarga Momina dapat dipercaya. Dia menyimpulkan sangat tidak mungkin bahwa ada militan yang hadir pada saat serangan rudal itu terjadi. Ia juga menemukan potongan-potongan logam yang menurut analisa seorang ahli, sangat mungkin berasal dari rudal jenis Hellfire. Ada juga anggota keluarga yang melihat drone itu secara fisik. Diantara bukti yang paling mencolok bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak AS adalah ketepatan tembakannya yang luar biasa. Secara fisik memengenai sasarannya yaitu tubuh Momina Bibi. Dia benar-benar merupakan sasaran tembak dan hancur berkeping-keping. Mereka betul-betul berniat mengarah orang ini.

Momina dan suaminya Rahman, beserta anak-cucunya, adalah keluarga Islam yang bahagia. Nabeela menghabiskan sebagian besar hari-harinya bersama neneknya. "Saya benar-benar menyukai nenek saya," katanya. "Saya senang mengikuti dan belajar bagaimana melakukan sesuatu." Di kebun dihari naas itu, ia bersama neneknya sedang memetik sayuran-sayuran. Neneknya menujukkan cara membedakan kacang yang sudah boleh dipetik dan yang belum. Momina menjahit baju cucu-cunya, menikmati senangnya anak-anak berhari raya. Zubeir mengatakan neneknya disukai oleh semua orang. "Tidak ada orang lain seperti dia. Kita semua mencintainya." Sejak kematian ibunya, kata Rafiq, kehidupan telah berubah. "Tanpa dia serasa anggota tubuh kami telah dipotong," katanya. Momina ibarat benang yang menguntai kalung mutiara. Dia adalah perekat keluarga. Bagi Rahman, pensiunan kepala sekolah yang dihormati, kematian istrinya sangatlah menyedihkan. Pasangan itu tidak terbiasa berpisah, kata Rafiq. "Setelah kematian ibu, ayah jarang sekali tersenyum. Ia seperti tidak bersemangat lagi untuk melajutkan hidup."

Serangan pesawat tanpa awak (drone) berbeda dengan pertempuran lain di mana orang tak berdosa bisa tertembak tanpa sengaja. Drone mengincar sasarannya sebelum membunuhnya. Amerika memutuskan untuk membunuh seseorang, orang yang mereka lihat dari video. Seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dia. AS memang sengaja untuk membunuh Momina yang dibidik melalui layar komputer. Selama setahun Pemerintah Amerika tidak pernah mengakui peristiwa ini. Keluarga Rahman telah menceritakan semua ini dihadapan Amnesti Internasional serta wartawan The Guardian Inggris. Akhirnya Kongres AS mengundang Rafiq dan kedua anaknya Zubeir dan Nabeela ke Gedung Putih untuk memberikan kesaksian pada 29 Oktober 2013, beberapa hari yang lalu. Nabeela bercerita sambil memegang gambar serangan yang menewaskan neneknya yang dilukis sendiri diatas selembar kertas. Ketika ia berada tidak jauh dari neneknya dikebun sayur, tiba-tiba ada suara gemuruh. Seperti terjadi kebakaran. Ia takut sekali. Tangannya terasa sakit seperti terkena sesuatu. Ia pun langsung berlari. Sambil lari ia melihat tangannya berdarah. Nabeela terus berlari sampai ia diselamatkan oleh para tetangga. "Saya melihat nenek saya tepat sebelum terjadi ledakan tapi hanya sekejap karena sesudah itu gelap, tapi saya bisa mendengar ia menjerit."


Zubeir mengungkapkan, pada hari neneknya tewas langit cerah, dia baru saja pulang sekolah dan semua orang sudah bersemangat menjelang Idul Adha, sementara terlihat ada pesawat berputar-putar diangkasa. Bukan pesawat terbang, bukan helikopter, kata Zubeir, dia tahu bedanya dari bentuk dan suaranya. "Saya yakin itu adalah sebuah drone." Ia melihat sepasang "bola api" menembus langit biru.  Setelah terjadi ledakan, suasana gelap tertutup asap dan puing-puing. Zubeir terluka oleh pecahan peluru. Ia merasa seperti di neraka. Banyak anggota Kongres yang menangis mendengar kisah mereka. Tetapi para pejabat pemerintah tidak dapat berkata apa-apa, kecuali mengulangi kata-kata Presiden mereka Barrack Obama: "Kalau kita tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi jaringan teroris akan terjadi korban lebih banyak lagi - tidak hanya di kota-kota kita di Amerika dan fasilitas kami di luar negeri, tetapi juga di tempat-tempat dimana para teroris bersarang."…………………………..