Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

24/06/16

KERUDUNG SIMPATI LARYCIA


KERUDUNG SIMPATI LARYCIA
Oleh: Jum’an

Profesor Dr. Larycia Hawkins (kita singkat Larycia), wanita kulit hitam 43 tahun yang berwajah manis dengan senyum ekspresif – adalah Profesor Ilmu Politik Wheaton College (singkat Wheaton), Illinois AS, sebuah perguruan tinggi Kristen Evangelis (Pengabar Injil, Protestan konservatif), almamater Billy Graham penginjil Amerika yang pernah terkenal disana. Larycia adalah Guru Besar tetap wanita kulit hitam pertama di perguruan tinggi itu. Pada Desember 2015, ia menjadi pusat kontroversi yang menggegerkan dunia Kristen Amerika. Ia meposting foto dirinya waktu kebaktian di Gereja Chicago dalam Facebooknya dengan mengenakan kerudung layaknya seorang muslimah. Dibawahnya tertulis komentar  “Islam dan Kristen meyembah Tuhan yag sama”.  Hal itu dilakukannya sebagai solidaritas terhadap wanita dan umat Islam yang mengalami tekanan akibat Islamofobi di negara itu.

Pada kesempatan lain ia menjelaskan:  “Saya mencintai jiran Muslim saya karena mereka layak dicintai berdasarkan martabatnya sebagai sesama manusia. Saya bersikap solider dalam kemanusiaan dengan mereka karena semula kita sama-sama diciptakan Tuhan dari tanah liat yang sama. Saya bersikap solider dalam agama dengan umat Islam karena mereka, seperti saya, seorang Kristen, adalah “people of the book” (ahlul kitab?). Dan seperti dikatakan Paus Fransiskus, kita menyembah Tuhan yang sama. Sebagai bagian dari ibadah Advent saya, saya akan memakai kerudung untuk bekerja di Wheaton, berjalan-jalan di kota, di gereja, di bandara dan dalam penerbangan.”

Wheaton College sebagai perguruan berdoktrin Protestan konservatif, penyebar utama Evangelisme, tidak suka stafnya mengatakan bahwa Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama. Wheaton, dengan semboyan membentuk sarjana yang ilmiah dan iman yang mendalam mengalami dilema kerena sebagai pusat penyebaran ilmu liberal yang sekuler dan sekaligus berpegang pada doktrin agama yang konservatif akan banyak mengalami friksi internal. Kasus Larycia ini merupakan batu ujian. Memecat Larycia berarti bertentangan dengan semboyan kebebasan berfikir sedangkan mempertahankannya akan terasa melunakkan doktrin keimanan perguruan tinggi itu.

Larycia lalu dikenakan cuti administratif, sambil dipertimbangkan apakah pernyataannya “menyembah Tuhan yang sama” bertentangan dengan keyakinan dasar college atau tidak. Mula-mula ia akan diteruskan untuk tetap menjabat. Pernyataannya bahwa orang Islam dan Kristen keduanya termasuk people of the book dan bersama orang Yahudi sama-sama menyembah Tuhan dari Ibrahim, telah didukung oleh para teolog Evangelis sendiri. Tetapi otoritas Wheaton menganggapnya belum cukup; lalu mereka secara resmi mencopot dia dari posisinya. Pimpinan Wheaton meminta maaf secara terbuka dan menyampaikan apresiasi kepada Larycia yang disambut baik oleh Larycia.

Sengketa  itu memecah komunitas perguruan tinggi yang dianggap sebagai pegibar panji-panji Evangelisme Amerika itu. Sebagian besar menentang pemecatan itu, sebagian lagi setuju. Banyak alumni  yang mengingatkan bahwa pemecatan Larycia berpotensi melumpuhkan Wheaton. Di sisi lain, banyak juga mahasiswa dan dosen yang mendukung tindakan pemecatan itu. Muncul pula situs fitnah “Wheaton Islamic Center” yang mengaku bahwa situs itu, Larycia dan pendukungnya terkait dengan ISIS. Ada pihak-pihak yang menganggap komentar Facebook Larycia itu sebagai pengkhianatan terhadap Umat Kristen Timur Tengah yang telah dianiaya oleh umat Islam, sementara yang lain percaya bahwa komentarnya mencerminkan hubungan Larycia dengan Islam. Yang lain mengkritik perguruan tinggi itu yang terburu-buru membawanya ke pers lebih dulu. Semua itu menunjukkan betapa meresahkannya masalah ini. Perdebatan para teolog Evangelis berkisar tentang bagaimana keyakinan Kristen tentang Trinitas, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus, berbeda dari Tuhan Islam dan Yahudi. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah mengajarkan bahwa kaum Muslimin dan Kristen menyembah satu Tuhan, meskipun mereka melihat Yesus berbeda.

Menurut Beniamin Corey, Evangelisme yang awalnya lahir sebagai penentang fundamentalisme, sekarang sama saja. Mereka dapat disebut sebagai fundamentalisme masa kini. Ibarat anak yang bersumpah tidak akan meniru bapaknya tapi 20 tahun kemudian baru menyadari bahwa wajahya sama persis dengan bapaknya. Menurut Corey alasan yang sebenarnya pemecatan Larycia bukanlah apakah pernyataan Larycia “Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama” bertentangan dengan doktrin iman Wheaton tetapi karena Wheaton menganggap Larycia “Mencintai Musuh Bersama”. Top of Form
Perekat yang menyatukan kaum fundamentalis bersama menurut Corey adalah kesepakatan untuk melawan musuh bersama dan Larycia telah menolak gagasan bahwa Muslim adalah musuh bersama. Bagi Evangelis di Amerika jelas bahwa Islam adalah musuh besar mereka masa kini. Sehingga kata-kata Larycia bahwa dia "berdiri dalam solidaritas" dengan umat Islam adalah pengkhianatan terhadap salah satu keyakinan terdalam mereka, dan ini (bagi mereka) membuatnya tidak dapat dipercaya. Meskipun mereka akhirnya sepakat untuk "berpisah" dengan saling menghormati tapi banyak hal yang ditutup-tutupi. Misalnya pertanyaan teologis apakah umat Kristen dan Muslim "menyembah Tuhan yang sama" tetap belum terselesaikan karena baik Larycia maupun otoritas Wheaton keduanya tidak mau mundur.

Pdt Dr David Gushee, Direktur Pusat Teologi Universitas Mercer mengatakan, pemecatan Larycia ini merupakan berita buruk bagi Evangelisme Amerika. Telah terbentuk front yang siap membela Larycia dan front Evangelis yang siap melawan. Saya pribadi menolak berpihak dengan sisi Kristen Evangelis Amerika yang bersiap melawan Larycia. Saya akan berjuang, bersama banyak orang lain, untuk versi iman Kristen yang lebih baik dari daripada yang mereka tawarkan. Banyak pengamat khawatir, Wheaton akan selalu tunduk kepada alumni konservatif yang banyak menyumbangnya, orang-orang yang menjaga dompet dan arah teologis dari perguruan tinggi itu.


Sejak Maret 2016 Larycia bergabung dengan Universitas Virginia, menangani  penelitian Proyek Pluralisme serta Proyek Ras, Agama dan Kebudayaan. "Profesor Larycia mempunyai wawasan yang tajam tentang hubungan agama dan ras dan akan sangat memperkaya pengetahuan kami dlm bidang ini," kata James Davison Hunter, direktur eksekutif dan pendiri lembaga itu. "Kami beruntung memiliki kesempatan untuk menyambut dia di sini." Pada tahun 2007, Larycia pernah menjadi penliti di UVA tentang sejarah kepresidenan, kebijakan, dan politik. Demikian kisah Larycia yang berjanji akan terud memakai kerudungnya.

27/06/15

GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA


GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA
Oleh: Jum’an

Pada bulan Mei yang lalu terjadi kerusuhan antar geng motor kulit putih di Waco,Texas yang mengakibatkan 9 orang tewas 18 luka-luka dan 192 orang ditahan dengan tuduhan melakukan kejahatan terorganisir. Cara polisi mengani dan media meliput insiden itu banyak mengundang pertanyaan, karena sangat berbeda dengan perlakuan mereka dalam menghadapi insiden kulit hitam di Ferguson (Missouri) dan Baltimore (Maryland). Di Waco aparat penegak hukum nampak relatif santai sementara anggota geng yang ditangkap nampak duduk-duduk tanpa di borgol dan dibiarkan menggunakan ponsel mereka. Tidak ada satupun berita yang menyebut-nyebut ras dalam peristiwa itu. Sikap kendor ini sangat kontras dengan kebrutalan mereka menghadapi tersangka kulit hitam seperti Freddie Gray di Baltimore yang akhirnya mati dialam tahanan polisi tanpa bukti kesalahan yang berarti. Tidak ada seorangpun tokoh kulit putih yang berpengaruh yang mencela teror geng motor di Texas itu. Kepolisian diseluruh Amerika telah larut dalam rasialisme yang melembaga dan standar ganda dalam menangani tersangka minoritas.

 Kata seorang komentator politik liputan berita kerusuhan geng motor kulit putih di Texas tidak ada yang menyebutkan ras, tapi ketika orang kulit hitam yang terlibat dalam kekerasan, “kulit hitam” pasti disebut. Media memberikan narasi yang bias sehingga pembaca yang dimintai pendapat cenderung mengatakan bahwa kejahatan lebih banyak dilakukan oleh orang kulit hitam atau berwarna. Ketika orang-orang kulit putih melakukan tindak kekerasan, disebutnya sebagai penyimpangan, seolah-olah peristiwa yang tidak biasanya terjadi, dan tidak mewakili kelompok ras mereka. Dalam berita kekerasan oleh orang kulit hitam, kecuali ras disebut dg jelas, masih dengan penekanan tambahan seperti bahwa tempat kejadiannya memang rawan kejahatan dan narkoba. Menurut penelitian, pandangan bias terhadap kulit hitam di AS memang melekat dan nyata, seperti juga pandangan tentang keunggulan orang kulit putih dan hak istimewa mereka. Orang kulit putih begitu yakin bahwa urat jahat memang sudah merupakan bawaan setiap orang berkulit hitam. Padahal ras tidak ada hubungannya dengan kejahatan. Orang dari semua ras melakukan kejahatan dan juga menjadi korban, tak ada korelasinya dengan warna kulit.

Jika ada seorang Islam mengancam kekerasan di Amerika, akan diperlakukan sebagai terorisme yang gawat. Jajak pendapat PEW menunjukkan bahwa mayoritas kulit putih Amerika berkeyakinan bahwa kekerasan melekat dalam ajaran Islam yang terbukti dari dukungan mayoritas kaum muslimin di beberapa Negara terhadap hukuman mati bagi orang yang murtad atau menghujat. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa hukuman mati karena murtad atau menghujat Islam sangat jarang dilaksanakan dinegara muslim manapun, sementara di Di AS rata-rata sekitar 30 anggota komunitas LGBT dibunuh setiap tahun. Dalam Bible hubungan sesama jenis merupakan dosa berat yang harus dihukum mati. Tak sedikit pendeta fundamentalis yang setuju untuk melaksanakannya. Diantaranya Steven Anderson dari gereja Baptis Arizona yang dengan berapi-api menyerukan pembunuhan semua kaum homoseks. Ia mengklaim dapat membuat dunia bebas dari penyakit AIDS dalam waktu singkat dengan cara membunuh semua kaum homoseks dan waria. Ia mengutip ayat-ayat Bible untuk mendukung ide radikalnya. Ia berpegangan pada Imamat 20:13 tentang kaum homo yang harus dihukum mati. "Itulah saudara-saudara, obat untuk memberantas AIDS menurut Bible, bukan dengan mengabiskan milyaran dolar untuk penelitian dan pengujian. Jika kita bunuh kaum homo seperti diperintahkan Tuhan, AIDS tidak akan merajalela " "Tidak boleh ada kaum atau lesbian atau waria masuk kedalam gereja ini selama saya pendeta di sini. Never! Demikian pula dengan pendeta Curtis Knap dari Gereja Baptis New Hope Kansas dan Sean Harris dari Gereja Baptis North Carolina. Mereka tidak hanya percaya bahwa kaum gay harus dihukum mati, tetapi memerintahkan jemaatnya harus agresif dan memukul anak-anak mereka sendiri jika mereka menunjukkan tanda-tanda homoseksualitas. Yang lebih merisaukan menurut majalah Liberal Unite adalah bahwa mereka tidak hanya menyebarkan khotbah penuh kebencian kepada orang dewasa dalam jemaat, tetapi mereka juga kepada anak anak. "Tak ada ada kaum homoseks yang masuk surga." Jadi pantas kalau rata-rata ada 30 orang dari komuitas LGBT dibumuh di Amerika.

Kalau mereka bersikukuh bahwa Islam membawa ajaran kekerasan bukankah bukti diatas menunjukkan hal yang sama untuk agama mereka? Kalau mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pendang, bukankah seharusnya mereka sudah membaca Injil Matius 10: 34 : “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku (Kristus) datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah perdamaian Aku bawa datang tapi pedang.”


Seandainya saja orang Amerika tidak menganut standar ganda dan rasialisme dan benar-benar menyimak Bible mereka dengan seksama niscaya mereka akan berhenti menuduh bahwa Al-Qur’an memerintahkan kejahatan dan kekerasan kepada umatnya. Orang Amerika dan Kristen tidaklah jauh berbeda dengan kaum Muslimin di Timur Tengah. Komedian Bill Maher  pernah mengatakan bahwa di Amerika banyak fundamentalis Kristen gila; kita nampak lebih baik hanya karena mereka tidak kita biarkan mengatur negara. Agama tidak menciptakan teroris. Masyarakatlah yang menciptakannya. Islam maupun Kristen, di Timur Tengah maupun di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa menyalahkan kitab suci umat Islam atas tindakan ekstrimis sama saja dengan menyalahkan pabrik sepeda motor Honda sebagai pelopor geng motor. 

16/05/15

AGAMAKU AGAMAMU - NEGERIKU NEGERIKU


AGAMAKU AGAMAMU – NEGERIKU NEGERIKU
Oleh: Jum’an

Abu Bakar, sahabat saya mempunyai cara berpikir yang kadang-kadang mengejutkan. Suatu kali ia berkata bahwa bumi ini milik Allah sebagaimana disebut dalam Qur’an. Mengapa sekarang dikapling-kapling menjadi negara-negara yang saling melarang memasuki petak masing-masing? Ia yakin bahwa Allah tidak menghendaki begitu. Bumi adalah milik Allah untuk kesejahteraan bersama semua umat manusia. Daripada memberikan jawaban yang tidak jelas saya hanya menimpali bahwa mungkin, bangsa China ingin bersatu lalu membentuk negara China begitu juga bangsa Melayu, bangsa Arab dan yang lainnya lalu masing-masing membuat aturan sendiri-sendiri. Abu hanya diam, wajahnya jelas meremehkan teori saya. Istilah milik Allah seperti tertulis dalam Surat An-Najm ayat 31 (Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) dicerna secara berbeda-beda diantaranya seperti cara Abu Bakar yang begitu harfiah tadi. Belum tentu salah atau benar, tetapi dapat diperkirakan bahwa Abu akan memilih agamanya daripada negerinya bila suatu saat terpaksa harus memilih.

Seperti kita saksikan sekarang ini, banyak umat Islam dari berbagai bangsa dan negara pergi ke negara-negara Timur Tengah untuk berjihad membela kelompok yang mereka sukai, yang berarti bahwa mereka lebih mengutamakan agamanya daripada negerinya. Bila prosedur resmi memasuki negara-negara itu tidak memungkinkan, mereka tidak segan-segan untuk menempuh jalan belakang. Mereka juga tega untuk meninggalkan anak isteri demi berjihad dan mati syahid. Padahal ada puluhan kelompok yang saling bermusuhan disana. Anda ingin menjadi relawan berjihad membela Bashar Assad? Atau bergabung dengan pemberontak Houti di Yaman atau bergabung dengan ISIS? Bagi yang pemahamannya tentang bumi Allah sama dengan Abu, berangkat saja! Apa salahnya? Batas-batas negara adalah buatan menusia sedangkan Indonesia, Siria, Irak dan Yaman sama-sama bumi Allah! Kita sepenuhnya berhak untuk merambahnya. Apa sulitnya masuk kesana. Demi persatuan Islam, demi kebenaran, demi…….. Bahkan tak ketinggalan sejumlah kaum wanita menyediakan diri dinikahi para pejuang dan ikut di medan tempur disana. Seolah-olah keadaan sudah demikian gentingnya sehingga masing-masing mengikuti apa yang ada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Benarkah begitu mendalam iman dan takwa mereka, begitu kuat ukhuwah dan cintanya sesama umat Islam melebihi cinta kepada keluarga dan negaranya sendiri? Wallohu a’lam.

Yang jelas pada saat yang sama ada bukti yang menunjukkan keadaan sebaliknya dimana kita bersikap tidak peduli terhadap saudara-saudara seiman yang sedang ditimpa kesengsaraan. Bukti bahwa negeriku lebih penting daripada ukhuwah agamaku. Ribuan pengungsi Rohingya yang beragama Islam yang terusir dari Myanmar telah ditolak mendarat di Serambi Mekah Aceh dan diusir pula oleh pemerintah Malaysia yang menyatakan bahwa agama resminya Islam.  Mereka meminum air kencingnya sendiri  untuk bertahan hidup terapung-apung di laut karena sia-sia mengharapkan bantuan sesama umat Islam Malaysia dan Indonesia.  Sementara pengungsi muslimin dari Libia yang ingin masuk ke daratan Eropah, mendapat perlakuan yang lebih manusiawi dari mereka. Nampak bahwa kemanusiaan mereka lebih dewasa ketimbang keislaman kita.


Membaca penderitaan kaum pengungsi Rohingya terbayang di mata saya, mereka itu seperti saudara kita dari kampung yang terpaksa mengemis kekota dan bertemu dengan kita. Ia ingin bernaung barang semalam di emperan rumah kita, mengharap sesuap nasi dan seteguk air, karena dalam anggapannya kitalah yang paling pantas menolongnya. Tetapi kita berkata kepadanya: Jangan mengemis kesini. Kita memang bersaudara kita memang seagama, tapi minta saja kepada tetangga sebelah sana! Jangan minta air dari saya apalagi menginap di emperan rumah saya. Minum air kencingmu sendiri kalau perlu! Agamamu dan agamaku memang satu tetapi negeriku adalah negeriku, bukan negerimu!                                                                            

23/01/14

KONTROVERSI PENGUBURAN OBL


KONTROVERSI PENGUBURAN OSAMA BIN LADEN
Oleh: Jum’an

Osama Bin Laden, Pemipin Al-Qaeda ditembak mati oleh pasukan khusus Angkatan Laut Amerika (US Navy SEAL) pada 1 Mei 2011 di rumah persembunyiannya di Abbottabad Pakistan. Untuk menyakinkan bahwa yang mereka tembak benar-benar Osama Bin Laden agen-agen CIA mengambil sample DNA-nya untuk dibandingkan dengan profil dari beberapa anggota keluarganya. Istri Bin Laden yang tinggal dirumah itu juga menyaksikan jenazah suaminya. Demikian pula Safiyah putri Bin Laden yg waktu itu berusia 10 tahun. CIA juga membandingkan foto-foto jenazah dengan foto-foto Bin Laden yang ada. Menurut penasehat antiterorisme Presiden Obama, John O. Brennan, berbagai bentuk identifikasi ditempuh untuk meyakinkan diri sebelum memberitahu rakyat Amerika dan dunia bahwa Bin Laden benar-benar sudah tewas.  Foto-foto jenazah tidak segera  dirilis; meskipun perlu untuk menuntaskan spekuklasi bahwa pria yang tewas itu benar-benar Bin Laden, tetapi ditakutkan bahwa foto-foto itu justru akan merangsang kebangkitan para jihadis. Jasad Osama segera diterbangkan dengan helikopter ke markas Amerika di Afghanistan selanjutnya ke kapal induk USS Carl Vinson untuk untuk ditenggelamkan kedasar Laut Arabia Utara. Brennan menegaskan bahwa penguburan dilakukan sepenuhnya secara Islam dan tidak melewati 24 jam dari saat kematiannya. Jenazah dimandikan, dibungkus kain kafan putih, dimasukkan dalam kantong mayat yang diberi pemberat dan dibacakan doa dalam bahasa Arab. Kantong jenazah itu diletakkan diatas papan lalu diluncurkan kelaut dari dek kapal paling bawah. Kata John Brennan, perencanaan penguburan bin Laden sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya untuk berjaga-jaga dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan termasuk apakah Osama akan tertangkap hidup atau mati. Pemerintah AS telah berkonsultasi dengan ahli-ahli Islam tentang seluk beluk penguburan menurut Islam. Adapun alasan mereka menguburnya di laut adalah untuk mencegah agar makamnya tidak dijadikan tempat keramat oleh para pengikut dan simpatisannya kelak.

Secara umum Islam mengizinkan penguburan di laut dalam keadaan tertentu seperti untuk orang yang meninggal dalam perjalanan laut dan terlalu jauh dari darat untuk memungkinkan penguburan. Sehingga beberapa cendekiawan dan ulama Islam berbeda pendapat mengenai apakah penguburan di laut untuk Osama sesuai atau justru merupakan penghinaan terhadap umat Islam. Sebagian mengatakan, Bin Laden yang mati didarat seharusnya dikubur didarat dengan kuburan sederhana, dengan muka dihadapkan  kearah kiblat (Mekkah). Daily Mail Inggris tanggal 3 Mei 2011 memuat beberapa komentar  tentang penguburan Osama Bin Laden. Tokoh radikal hizbut-tahrir, Omar Bakri Mohammed yang dilarang tinggal di Inggris mengatakan: “Amerika ingin menghina umat Islam melalui pemakaman ini". Mufti Besar Dubai, Mohammed al-Qubaisi mengatakan: “Penguburan di laut diperbolehkan bagi umat Islam dalam keadaan luar biasa. Ini tidak termasuk diantaranya. Amerika boleh mengatakan menguburnya di laut, tapi mereka tidak bisa mengatakan melakukannya menurut Islam”. Ulama Sunni dari Baghdad, Abdul Sattar al-Janabi menambahkan: "Apa yang dilakukan oleh Amerika dilarang oleh Islam dan menjengkelkan sebagian kaum Muslimin. Tidak dapat diterima dan hampir merupakan kejahatan untuk melemparkan tubuh seorang Muslim ke laut." Tetapi Mohammed Qudah, profesor hukum Islam Universitas Jordan, berpendapat pemakaman di laut tidak dilarang. “Tanah dan laut milik Allah, yang mampu melindungi dan membangkitkan orang mati pada hari kiyamat kelak.”

Dari sudut lain, apakah Bin Ladin berhak untuk memperoleh penguburan Islam? Ada juga yang berpendapat tidak. Pada tahun 2005 Komisi Islam Spanyol pada dasarnya telah mengkucilkan Bin Laden, dan menyatakan bahwa dia tidak harus diperlakukan sebagai seorang Muslim.  Mereka pasti merasa bingung sekarang, mengapa Amerika bersikukuh dan bersusah-susah untuk memberikan kehormatan dengan melaksanakan penguburan secara Islam. Fatwa Komisi Islam Spanyol itu mengutuk bin Laden dan anggota Al Qaeda sebagai murtad karena mereka menggunakan kekerasan, dan mengajak umat Islam untuk memerangi secara aktif melawan terorisme. Fatwa ini secara khusus mengecam Bin Laden, dan sebagai pengingat bahwa hampir 1 juta umat Islam Spanyol mengutuk terorisme. Mansur Escudero, Sekjen Komisi Islam Spanyol mengatakan: "Ini adalah kontribusi kami komunitas Muslim Spanyol yang menyatakan bahwa bin Laden dan Al Qaeda bukan Muslim; mereka berada di luar Islam" Fatwa tersebut menyebut-nyebut Alquran dan Sunnah Nabi dalam mengkucilkan bin Laden. "Sejak Bin Laden dan organisasinya membela legalitas terorisme dan mendasarkan pembelaan itu pada Alquran dan Sunnah  ... [mereka] telah membuat dirinya murtad." Fatwa ini nampaknya tidak terlalu bergaung dan tidak mempunyai dampak yang berarti, kecuali bagi menjaga hubungan muslimin Spanyol dari friksi-friksi dengan kaum Nasrani dan Yahudi di sana. Tidak urung Escudero yang banyak berperan dalam fatwa ini menjadi target ancaman dari kelompok Al-Qaeda di Irak.


Di sisi lain ada kaum Muslimin yang percaya bahwa kematian Bin Laden adalah syahid dan ia akan masuk sorga. Dari perspektif teologis, tidak begitu penting bagaimana cara Amerika membuang mayat dari kapal induk USS Carl Vinson. Rasanya tidak penting-penting amat untuk diperdebatkan…….