Tampilkan postingan dengan label MISKIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MISKIN. Tampilkan semua postingan

24/11/13

MISKIN SALAH SENDIRI?


MISKIN SALAH SENDIRI?
Oleh: Jum’an

Ketika saya menderita sakit, tidak sedikit orang-orang yang peduli memberi nasehat agar saya banyak-banyak istighfar, berzikir, membaca Al-Qur’an serta bersedekah. Tujuannya tentu saja agar saya memperoleh kesembuhan disamping berobat dokter. Saya meng-iyakan saja nasehat mereka; tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan. Ada hal yang tidak mereka ketahui tentang saya: bahwa penyakit yang saya derita (dan juga kebanyakan penyakit) telah melumpuhkan semangat dan mengkaburkan kejernihan berfikir, tidak lagi seperti ketika saya dalam keadaan sehat, pikirang terang. Saat sehat, satu doa pun saya ulang-ulang. Istighfar dan zikir enteng. Bacaan Qur’an-pun terasa pesonanya. Begitulah agaknya keadaan orang yang menderita kemiskinan. Kemiskinan itu telah melumpuhkan akal sehat dan nalar mereka. Anjuran agar bekerja lebih giat, mengajukan kredit usaha kecil dengan memenuhi berbagai persyaratan dan melampirkan macam-macam bukti. Formulir, meterai, stempel. Apalagi mengikuti macam-macam kursus kewira-usahaan. Semua tidak mudah dicerna oleh otak mereka. Ibarat mengajak pengemis berolah raga!

Banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa akibat kemiskinan, seperti khawatir apakah besok-besok masih bisa makan atau tidak, bagaimana membayar hutang yang menumpuk, dapat merongrong balik menjadikan simiskin kekurangan kekuatan mental dan daya pikir untuk mengatasi kemiskinannya. Penelitian Dean Spears dari Univ. Princeton (2011) mengaitkan kemiskinan dengan menurunnya pengendalian diri; bahwa kemiskinan mempersulit pengambilan keputusan ekonomi dan melumpuhkan pengendalian perilaku. Penelitian lain juga menemukan bahwa kemiskinan merusak kemampuan untuk mengendalikan diri. Tiap orang memiliki energi mental terbatas. Makin banyak energi itu dihabiskan untuk menghawatiran kebutuhan dasar sehari-hari, makin sedikit yang tersisa untuk membuat perencanaan dan keputusan yang sehat dalam jangka pendek dan keberhasilan jangka panjang. Orang miskin sering mengalami rasa putus asa yang melumpuhkan. Khawatir dapat menjadi umpan balik yang cenderung menyempitkan pandangan, semacam jerat yang sulit dilepaskan.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Science menunjukkan bahwa stres karena kekhawatiran keuangan dapat benar-benar merusak fungsi kognitif orang miskin. Data dari orang-orang berpenghasilan rendah di Amerika dan petani miskin di India, sama-sama membuktikan bahwa baru merenungkan rencana keputusan saja, sudah melemahkan kinerja otak mereka. Orang miskin Amerika yang diminta untuk memikirkan perbaikan mobil dengan biaya yg tinggi, ketika menjalani test kemampuan berfikir hasilnya lebih buruk dibanding mereka yang diminta memikirkan perbaikan mobil dg biaya yg lebih rendah ataupun dari orang yang lebih kaya. Para peneliti itu juga mengamati hasil test kemampuan berfikir para petani miskin di Tamil Nadu India, sebelum dan sesudah musim panen. Daya pikir para petani sesudah panen (meskipun belum menikmati hasilnya) yg merasa lebih aman ternyata lebih baik daripada sebelum panen yang masih merasa khawatir. Temuan ini menambah bukti bahwa bahaya kemiskinan tidak terbatas pada dampak langsung dari kekurangan materi, tetapi berakibat pada menurunnya kemampuan berfikir, yang penting bagi kita bila ingin memahami tentang orang miskin. Berdasarkan kenyataan itu diadakanlah penelitian tentang manfaat bantuan langsung tunai tanpa syarat kepada orang miskin. Para peneliti telah menemukan bahwa pemberian uang tunai satu kali untuk penduduk miskin di Uganda telah menghasilkan peningkatan besar dalam pendapatan mereka selama 4 tahun berikutnya.  Mudah dipahami bahwa suntikan dana awal itu telah memberi hasil yang nyata. Tapi kemungkinan besar justru kelegaan mental yang ditimbulkan oleh bantuan tunai tanpa syarat yang sebenarnya menjadikan mereka dapat mengambil keputusan dan pemecahan masalah yang lebih tajam.


Pemikiran yg menggurui, bahwa kita harus berhati-hati dalam memberi bantuan, dan mengharuskan untuk melampirkan persyaratan yang rumit dan seleksi, mungkin justru dapat menambah masalah kemiskinan. Para pemimpin berpikir, orang miskin diberi bantuan gratis hanya akan menjadikan mereka tambah malas! Sesederhana itukah? Bukti dari Uganda diatas menunjukkan sebaliknya. Dimanapun, tekanan kekhawatiran keuangan yang berterusan merupakan penghalang besar bagi pengambilan keputusan yg bijak yang dibutuhkan oleh orang-orang dalam keadaan sulit untuk berhasil. Jadi jangan katakan bahwa mereka miskin akibat perilaku mereka sendiri. Jerat kemiskinan yang sulit dilepaskan telah melumpuhkan mereka sehingga idak bisa berperilaku produktif.

09/06/13

GERAKAN BERBURU ANAK YATIM


GERAKAN BERBURU ANAK YATIM
Oleh: Jum’an

Konon sejak aktris cantik Angelina Jolie mengadopsi Zahara anak Ethiopia, jumlah orang Amerika yang mengadopsi anak Ethiopia melonjak empat kali lipat. Mereka terpaksa berurusan dengan agen-agen oportunis karena tidak adanya aturan yang jelas. Disana ada 5 juta anak yatim dan di Amerika ada jutaan keluarga yang butuh anak angkat. Adopsi internasional yang mereka anggap sebagai solusi ideal untuk negeri miskin seperti Ethiopia, ternyata penuh masalah. Banyak orang tua angkat curiga atau menemukan anak yang baru mereka adopsi bukanlah anak yatim. Anak itu mungkin juga memiliki sederet masalah kesehatan yang ditutup-tutupi oleh para pejabat korup. Keluarga yang melepaskan juga mungkin telah ditipu menyerahkan mereka melalui cara yang tak berperasaan. Kantor berita Australia ABC yang menelusuri  adopsi di Ethiopia mengisahkannya sebagai tragis, memyedihkan dan menunjukkan kekejaman bisnis adopsi internasional dalam memburu keuntungan. Selama dekade terakhir, banyak orang Amerika bersemangat untuk mengadopsi anak anak dari negara-negara miskin atau bermasalah seperti negara-negara bekas blok Soviet, Nepal, Uganda, Korea, Vietnam, Guatemala, China dan Rusia. Ketiga yang terakhir ini, pada 2005 merupakan pemasok 85% anak angkat untuk Amerika! Sayang banyak orang Barat tak tahu betapa adopsi intrnasional sangat menyedihkan di beberapa negara. Adopsi internasional telah menjadi ranah Wild West, yang bebas dari hukum, peraturan, atau pengawasan yang berarti. Biaya adopsi seorang bayi mencapai 25.000 sampai 50.000 dollar Amerika. Uang sebanyak itu – kali sekian ribu - telah menyebabkan kasus korupsi di banyak negara. Jutaan dolar itu sebagian digunakan untuk usaha tak bermoral seperti membeli, menipu, memaksa, dan kadang-kadang bahkan menculik anak-anak dari keluarga yang mencintai dan akan membesarkan mereka.

Akibat maraknya skandal dan korupsi, adopsi internasional oleh Amerika telah menurun hampir 60 persen dari puncakya pada 2004. Beberapa tahun lalu, Rusia merasa benar-benar tersinggung ketika seorang ibu angkat dari Amerika mengembalikan anak Rusia umur 7 tahun sendirian dalam pesawat dari Tennesee ke Moskow hanya dibekali tulisan "Saya tidak ingin lagi mengasuh anak ini.” Insiden ini dan berbagai skandal lainnya membuat Rusia dan negara-negara pemasok utama termasuk Korea Selatan, Cina, Guatemala semuanya mengurangi izin adopsi oleh Amerika.

Pada 17 Mei 2013 sekitar 500 orang tua angkat dari 37 negara bagian Amerika mengadakan “Pawai Menyongsong Anak Yatim” (Step Forward for Orphans March)" di Washington. Pawai penuh semangat ini diadakan oleh kelompok “Both Ends Burning” untuk memprotes peraturan yang mereka anggap tidak adil dan menghambat proses adopsi internasional. Mereka menuntut agar jumlah anak yang memasuki AS untuk diadopsi dinaikkan 5 kali lipat, perubahan dramatis dari tingkat adopsi yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pimpinan mereka Craig Juntunen berkata: "Sekarang ini proses adopsi terlalu ketat, birokratis berantakan, kita benar-benar menghalangi keluarga dan anak-anak berkumpul bersama-sama. (Seolah-olah anak- anak luar negri sudah menjadi keluarga mereka!) Ini gila." Pawai itu, katanya, adalah awal dari "gerakan sosial yang tak akan terbendung" yang akan "menggalang tuntutan sosial dan politik untuk mengeluarkan anak-anak yatim dari panti asuhan masuk ke dalam keluarga." Menurun drastisnya adopsi Amerika juga membuat mereka ingin merubah citra adopsi menjadi sesuatu yang lebih diminati dan orang rela melepaskan anaknya untuk diadopsi. FRC sebuah organisasi Kristen menyarankan untuk mengubah bahasa mengenai adopsi untuk menyajikan adopsi sebagai heroik, tidak egois, penuh kasih dan matang - dan sebaliknya, menggambarkan ibu-ibu muda atau belum menikah yang memilih untuk mengasuh sendiri anak-anak mereka sebagai belum matang dan egois

Menurut Kathryn Joice, dalam Huffington Post 9 Juni menuliskan bahwa Pawai Menyongsong Anak Yatim dan usulan pengubahan istilah adopsi adalah bagian dari Gerakan Adopsi Kristen. Sejak tahun 2000an, sejumlah pemimpin Kristen Protestan Amerika yang termotivasi oleh gagasan bahwa ada ratusan juta anak yatim di dunia, dan bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk merawat mereka, mulai meniup terompet bahwa adopsi dan perawatan anak yatim adalah panggilan khas Kristen. Adopsipun menjadi semacam badai pendorong bagi banyak orang Kristen Amerika. Para pemimpin penginjil menyusun theologi adopsi: “Kita mengadopsi anak-anak, sama seperti Allah telah mengadopsi kita.” Gerakan keagamaan yang bagi mereka beriktikad baik ini ternyata bermasalah. Sebagai efek samping dari ribuan umat Kristen yang baru dibangkitkan untuk mengadopsi, terjadilah bottleneck tak terduga: makin banyak calon pengadopsi yang mengantri, tingkat adopsi domestik maupun internasional malah menurun drastis. Baik adopsi bayi domestik yang lahir dari ibu yang tidak menikah atau anak yatim di luar negeri, tampaknya terlalu sedikit yang dapat diadopsi untuk memenuhi permintaan calon orang tua angkat yg meroket. Ternyata ada kekeliruan yang mendasar tentang anak yatim. UNICEF mendefinisikan yatim sebagai anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Dengan definisi ini ada 132 juta anak yatim di Afrika, Asia dan Amerika Latin 2005. Mereka bukan hanya anak-anak yang kehilangan kedua orang tua, tapi termasuk yang tak ber-ayah tetapi ibunya masih hidup atau tak ber-ibu tetapi ayahnya masih hidup. Dari 132 juta anak yang diklasifikasi sebagai yatim, hanya 13 juta yang benar-benar kehilangan kedua orang tuanya. Jadi bahwa ada 210 juta anak yatim dunia yang menunggu adopsi tidak benar.
Tingkat adopsi domestik juga menurun. Dulu, sebelum aborsi disahkan atau orang tua tunggal diterima, banyak wanita yang hamil yang tak terduga cenderung melepaskan bayinya untuk diadopsi; sekarang jumlah tersebut menurun tinggal 1% saja. Menurut Kelompok konservatif FRC, semua anak yang lahir dari ibu yang tidak menikah secara de facto adalah "anak yatim" yang tersedia untuk diadopsi (definisi dari alkitab kata mereka). Masalah lainnya, upaya untuk meningkatkan angka adopsi tampaknya lebih merupakan keinginan calon orang tua angkat. Permintaan adopsi terus meningkat, bukan hanya datang dari pasangan yang mandul tetapi juga demi panggilan Tuhan!

Menurut Kathryn Joice, Gerakan Adopsi Kristen perlu memahami bahwa krisis yang sebenarnya bukanlah soal anak yatim tetapi masalah kemiskinan, pembangunan yang buruk dan kurangnya infrastruktur kesejahteraan anak yang membuat banyak keluarga terpaksa menitipkan anaknya ke panti asuhan, sementara belum mampu membesarkan sendiri. Realitas itu sangat jelas terlihat di negara-negara berkembang, tapi sulit didengar ditelinga banyak orang tua angkat - khususnya oleh anggota Gerakan Adopsi Kristen. Tetapi jika mereka benar-benar memaksudkan adopsi menjadi sesuatu yang lebih menolong daripada menyakitkan, mereka perlu mempertimbangkan bagaimana sistem dan keyakinan mereka tentang adopsi dapat ditinjau kembali.


Professor David Mark Smolin, seorang pakar hukum dari Alabama, menulis sebuah risalah yang mengkritik bahwa analisa teologis dan penafsiran kitab suci yang mendasari gerakan adopsi Kristen adalah jelas-jelas sangat keliru. Berdasarkan pada standar, metode, dan pra-anggapan yang dianut bersama secara  luas oleh para pendeta Kristen dalam menganalisa kitab suci dan teologi, maka analisa khusus gerakan adopsi Kristen tentang konsep-konsep seperti "adopsi" dan "anak yatim" benar-benar kurang sempurna dan telah menghasilkan kesimpulan yang telah terbukti keliru. Dan bahwa kesalahan dari analisa Kitab Suci dan Teologi ini, kini menghasilkan praktek-praktek yg dalam istilah-istilah agama disebut "berdosa" dan dalam bahasa yang lebih sekular bisa disebut eksploitatif. Kritik teologis David Smolin itu dapat diunduh sisini.