24/11/13

MISKIN SALAH SENDIRI?


MISKIN SALAH SENDIRI?
Oleh: Jum’an

Ketika saya menderita sakit, tidak sedikit orang-orang yang peduli memberi nasehat agar saya banyak-banyak istighfar, berzikir, membaca Al-Qur’an serta bersedekah. Tujuannya tentu saja agar saya memperoleh kesembuhan disamping berobat dokter. Saya meng-iyakan saja nasehat mereka; tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan. Ada hal yang tidak mereka ketahui tentang saya: bahwa penyakit yang saya derita (dan juga kebanyakan penyakit) telah melumpuhkan semangat dan mengkaburkan kejernihan berfikir, tidak lagi seperti ketika saya dalam keadaan sehat, pikirang terang. Saat sehat, satu doa pun saya ulang-ulang. Istighfar dan zikir enteng. Bacaan Qur’an-pun terasa pesonanya. Begitulah agaknya keadaan orang yang menderita kemiskinan. Kemiskinan itu telah melumpuhkan akal sehat dan nalar mereka. Anjuran agar bekerja lebih giat, mengajukan kredit usaha kecil dengan memenuhi berbagai persyaratan dan melampirkan macam-macam bukti. Formulir, meterai, stempel. Apalagi mengikuti macam-macam kursus kewira-usahaan. Semua tidak mudah dicerna oleh otak mereka. Ibarat mengajak pengemis berolah raga!

Banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa akibat kemiskinan, seperti khawatir apakah besok-besok masih bisa makan atau tidak, bagaimana membayar hutang yang menumpuk, dapat merongrong balik menjadikan simiskin kekurangan kekuatan mental dan daya pikir untuk mengatasi kemiskinannya. Penelitian Dean Spears dari Univ. Princeton (2011) mengaitkan kemiskinan dengan menurunnya pengendalian diri; bahwa kemiskinan mempersulit pengambilan keputusan ekonomi dan melumpuhkan pengendalian perilaku. Penelitian lain juga menemukan bahwa kemiskinan merusak kemampuan untuk mengendalikan diri. Tiap orang memiliki energi mental terbatas. Makin banyak energi itu dihabiskan untuk menghawatiran kebutuhan dasar sehari-hari, makin sedikit yang tersisa untuk membuat perencanaan dan keputusan yang sehat dalam jangka pendek dan keberhasilan jangka panjang. Orang miskin sering mengalami rasa putus asa yang melumpuhkan. Khawatir dapat menjadi umpan balik yang cenderung menyempitkan pandangan, semacam jerat yang sulit dilepaskan.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Science menunjukkan bahwa stres karena kekhawatiran keuangan dapat benar-benar merusak fungsi kognitif orang miskin. Data dari orang-orang berpenghasilan rendah di Amerika dan petani miskin di India, sama-sama membuktikan bahwa baru merenungkan rencana keputusan saja, sudah melemahkan kinerja otak mereka. Orang miskin Amerika yang diminta untuk memikirkan perbaikan mobil dengan biaya yg tinggi, ketika menjalani test kemampuan berfikir hasilnya lebih buruk dibanding mereka yang diminta memikirkan perbaikan mobil dg biaya yg lebih rendah ataupun dari orang yang lebih kaya. Para peneliti itu juga mengamati hasil test kemampuan berfikir para petani miskin di Tamil Nadu India, sebelum dan sesudah musim panen. Daya pikir para petani sesudah panen (meskipun belum menikmati hasilnya) yg merasa lebih aman ternyata lebih baik daripada sebelum panen yang masih merasa khawatir. Temuan ini menambah bukti bahwa bahaya kemiskinan tidak terbatas pada dampak langsung dari kekurangan materi, tetapi berakibat pada menurunnya kemampuan berfikir, yang penting bagi kita bila ingin memahami tentang orang miskin. Berdasarkan kenyataan itu diadakanlah penelitian tentang manfaat bantuan langsung tunai tanpa syarat kepada orang miskin. Para peneliti telah menemukan bahwa pemberian uang tunai satu kali untuk penduduk miskin di Uganda telah menghasilkan peningkatan besar dalam pendapatan mereka selama 4 tahun berikutnya.  Mudah dipahami bahwa suntikan dana awal itu telah memberi hasil yang nyata. Tapi kemungkinan besar justru kelegaan mental yang ditimbulkan oleh bantuan tunai tanpa syarat yang sebenarnya menjadikan mereka dapat mengambil keputusan dan pemecahan masalah yang lebih tajam.


Pemikiran yg menggurui, bahwa kita harus berhati-hati dalam memberi bantuan, dan mengharuskan untuk melampirkan persyaratan yang rumit dan seleksi, mungkin justru dapat menambah masalah kemiskinan. Para pemimpin berpikir, orang miskin diberi bantuan gratis hanya akan menjadikan mereka tambah malas! Sesederhana itukah? Bukti dari Uganda diatas menunjukkan sebaliknya. Dimanapun, tekanan kekhawatiran keuangan yang berterusan merupakan penghalang besar bagi pengambilan keputusan yg bijak yang dibutuhkan oleh orang-orang dalam keadaan sulit untuk berhasil. Jadi jangan katakan bahwa mereka miskin akibat perilaku mereka sendiri. Jerat kemiskinan yang sulit dilepaskan telah melumpuhkan mereka sehingga idak bisa berperilaku produktif.

11/11/13

SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA


SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA
Oleh Jum’an

Bila anda akrab dengan dunia perwayangan terutama epos Mahabarata anda mungkin mengenal tokoh Dewi Sakuntala, permaisuri Raja Duswanta leluhur kaum Pandawa dan Korawa. Konon ibunya adalah seorang bidadari dari kahyangan. Rasanya saya pernah memiliki gambar Dewi Sakuntala berukuran 3X4 cm untuk bermain Umbul Wayang dimasa kanak-anak dahulu. Dia adalah tokoh fiktif dalam mitologi Hindu. Shakuntala Dewi yang saya tulis ini adalah seorang wanita dalam kehidupan nyata. Namanya sangat mungkin diilhami dari mitologi yang sama karena dia adalah wanita India yang juga beragama Hindu. Ia lahir pada 4 November 1929 didaerah kumuh di Distrik Bangalore India Selatan. Orang tuanya termasuk kasta Brahmana yang miskin. Ayahnya menolak mengikuti tradisi keluarga untuk menjadi pendeta, ia justru menjadi pemain sirkus, yang mahir dalam akrobat, permainan tali, penjinak singa dan adegan manusia yang ditembakkan dengan meriam. Menurut pengakuan Shakuntala Dewi dalam Majalah Hinduism Today, ibunya menikah pada umur 14 tahun dengan ayahnya yang berusia 60 tahun. Pada usia 3 tahun, ketika diajak bermain kartu, ayahnya sadar bahwa Dewi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mengingat angka-angka. “Ini dia rejeki  kiriman Tuhan!” pikirnya. Ia pun terkenal melalui pertunjukan kemampuannya di sirkus, dan juga pertunjukan keliling yang diatur oleh ayahnya. Merekapun memperoleh kehidupan dari situ. Ketika berumur 5 tahun Dewi sudah mahir hitung menghitung diluar kepala, sekaligus  menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk keluarganya yang beranggotakan 10 orang. Ini mendorongnya untuk melatih diri setiap hari agar bisa terus melakukan pertunjukan untuk mendukung kehidupan keluarganya. "Pada usia 6 tahun, saya memberikan pertunjukan besar pertama saya di Universitas Mysore, dan ini adalah awal dari maraton saya dalam pertunjukan publik." Dewi menunjukkan bakat matematika nya di seluruh dunia, di perguruan tinggi, di bioskop, radio, dan televisi.

Ketika ia muncul di BBC tahun 1950, jawabannya terhadap soal perhitungan yang sulit ternyata berbeda dari pewawancara.  Ternyata Dewi yang benar. Demikian pula yang terjadi di Universitas Roma. Tahun 1976 The New York Times menyatakan kagum pada kemampuannya: "Dia bisa menjawab akar pangkat tiga dari 188.132.517 - atau hampir semua bilangan lainnya - dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengajukan pertanyaan. Ia dapat menyebutkan jatuh pada hari apa setiap tanggal pada abad terakhir.” Tetapi bagaimanapun Shakuntala Devi manusia biasa. Terhadap pertanyaan “jatuh pada hari apa saja tanggal 14 pada tahun 1935”, semuanya dijawab dengan benar kecuali 14 Januari adalah Senin bukan Selasa dan 14 Desember adalah hari Sabtu bukan Minggu.

Pada 1977, di Southern Methodist Univ. di Dallas, ia menghitung akar pangkat 23 dari bilangan 201 digit (terdiri dari 201 angka) dalam 50 detik dengan tepat, mengalahkan komputer Univac, yang menyelesaikannya dalam 62 detik. Pada tahun 1980, dia dengan benar mengalikan dua buah bilangan 13 digit hanya dalam 28 detik di Imperial College di London. Prestasi yang tercatat dalam Guinness Book of World Records 1982 ini adalah luar biasa karena waktu 28 detik itu termasuk untuk mengucapkan jawaban yang 26-digit itu. Ini dia angka-angka itu: 7.686.369.774.870 X 2.465.099.745.779. Jawabannya adalah 18.947.668.177.995.426.462.773.730. “Ini adalah rahmat Tuhan semata. Saya tidak berjasa apa-apa” kata Dewi tentang kemampuan dirinya. Ia dapat mengadakan pertunjukan sampai 2 jam, tetapi untuk melakukannya lagi ia harus menenangkan diri dua atau tiga hari. Menurut Prof Arthur Jensen, dalam penelitiannya tentang Shakuntala Dewi: "Dewi menjawab hampir semua soal lebih cepat dari kecepatan saya menyalinnya di notebook saya." Jensen meberikan dua soal, akar pangkat tiga dari 61.629.875, dan akar pangkat tujuh dari 170.859.375. Shakuntala Dewi memberikan jawaban yang benar yaitu 395 dan 15, bahkan sebelum istri Jensen mulai menekan stopwatch.


Itulah Shakuntala Dewi, genius matematika yang tak ada duanya. Ia tidak mempunyai pendidikan formal. Ia pernah masuk sekolah tetapi dikeluarkan karena ayahnya tidak mampu bayar. Berasal dari keluarga yang tidak biasa, masa kanak-kanaknya tidak bahagia; ia bercerai dengan suaminya yang ternyata seorang gay. Ayahnya terbiasa memukuli ibunya. Bahkan ketika sebagai kanak-kanak Shakuntala menolak untuk mengadakan pertunjukan karena sedang malas, ayahnya memukuli ibunya dan ibunya memukuli Shakuntala. Kata Dewi, ibunya merasakan pukulan suaminya sebagai rahmat; lebih baik daripada dipukul tetangga. Shakuntala Dewi meninggal pada 21 April 2013 di Bangalore India pada usia 83 tahun karena masalah pernafasan dan jantung. Ia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Anupama. Untuk mengingat hari kelahiran Shakuntala Dewi, pada tanggal 4 November 2014 yang lalu logo Google tampil dengan gambar Dewi dan tulisan google dengan angka-angka kalkulator terbalik.

03/11/13

MOMINA BIBI - SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN


MOMINA BIBI- SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN
Oleh: Jum’an

Alkisah pada sore hari yang cerah tahun lalu, tepatnya tanggal 24-10-2012 yaitu dua hari menjelang hari raya Idul Adha, sebuah pesawat tak berawak AS menembakkan rudal tepat mengenai sasaran, yang ternyata seorang nenek 67 tahun bernama Momina (Mu’minah) Bibi. Nenek dari 9 cucu itu tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat itu dia sedang memetik sayur-sayuran di ladang bersama salah seorang cucunya Nabeela (9 th). Zubeir (13) kakak Nabeela baru saja pulang sekolah berada tak jauh dari sana. Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah terpencil di Waziristan Utara, Pakistan. Momina adalah seorang bidan desa. Suaminya Rahman pensiunan kepala sekolah dan anaknya Rafiq (ayah 3 anak: Zubeir, Nabeela dan Asma 5 th.) adalah seorang guru. Hari itu Rafiq dalam perjalanan pulang naik bis dari mengantarkan kue-kue lebaran untuk keluarga adiknya. Sampai di perhentian dekat rumahnya ia melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan jenasah. Dengan was-was ia bertanya pada seorang anak, siapa yang meninggal. Jawabnya, ibu dari seorang bernama Latif yg tewas oleh serangan pesawat tak berawak. Anak itu tidak tahu bahwa Latif adalah kakak Rafiq. Ia pun syok, semua bawaannya terjatuh dan bergegas lari kerumah. Ia makin takut ketika ingat bahwa anak-anaknya selalu dekat dengan neneknya. Ketika Rafiq tiba di rumah, ternyata sisa-sisa jasad ibunya yg hangus sudah dimakamkan. Nabeela dan Zubeir terluka dan dibawa ke rumah sak. Rafiq berfikir jangan-jangan mereka tak tertolong.

Berita yang tersiar berbeda-beda. Ada yang melaporkan bahwa lima militan tewas. Ada juga yang menulis bahwa Momina sedang menyiapkan makan untuk beberapa militant sehingga ia ikut terbunuh. Satu lagi, bahwa ada seorang militan naik sepeda motor, tepat di sampingnya sehingga ia ikut terkena. Semuanya tidak jelas. Kata Rafiq hanya ada satu orang yang tewas yaitu ibunya yang berusia 67 tahun yaitu Momina Bibi. Semuanya baru jelas setelah Peneliti dari Amnesti International Mustafa Qadri mengusutnya hingga tuntas. Mustafa melakukan wawancara dengan banyak warga desa tempat kejadian secara terpisah tanpa diketahui bahwa ia dari Amnesti Internasional. Setelah berminggu-minggu ia menyimpulkan bahwa laporan keluarga Momina dapat dipercaya. Dia menyimpulkan sangat tidak mungkin bahwa ada militan yang hadir pada saat serangan rudal itu terjadi. Ia juga menemukan potongan-potongan logam yang menurut analisa seorang ahli, sangat mungkin berasal dari rudal jenis Hellfire. Ada juga anggota keluarga yang melihat drone itu secara fisik. Diantara bukti yang paling mencolok bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak AS adalah ketepatan tembakannya yang luar biasa. Secara fisik memengenai sasarannya yaitu tubuh Momina Bibi. Dia benar-benar merupakan sasaran tembak dan hancur berkeping-keping. Mereka betul-betul berniat mengarah orang ini.

Momina dan suaminya Rahman, beserta anak-cucunya, adalah keluarga Islam yang bahagia. Nabeela menghabiskan sebagian besar hari-harinya bersama neneknya. "Saya benar-benar menyukai nenek saya," katanya. "Saya senang mengikuti dan belajar bagaimana melakukan sesuatu." Di kebun dihari naas itu, ia bersama neneknya sedang memetik sayuran-sayuran. Neneknya menujukkan cara membedakan kacang yang sudah boleh dipetik dan yang belum. Momina menjahit baju cucu-cunya, menikmati senangnya anak-anak berhari raya. Zubeir mengatakan neneknya disukai oleh semua orang. "Tidak ada orang lain seperti dia. Kita semua mencintainya." Sejak kematian ibunya, kata Rafiq, kehidupan telah berubah. "Tanpa dia serasa anggota tubuh kami telah dipotong," katanya. Momina ibarat benang yang menguntai kalung mutiara. Dia adalah perekat keluarga. Bagi Rahman, pensiunan kepala sekolah yang dihormati, kematian istrinya sangatlah menyedihkan. Pasangan itu tidak terbiasa berpisah, kata Rafiq. "Setelah kematian ibu, ayah jarang sekali tersenyum. Ia seperti tidak bersemangat lagi untuk melajutkan hidup."

Serangan pesawat tanpa awak (drone) berbeda dengan pertempuran lain di mana orang tak berdosa bisa tertembak tanpa sengaja. Drone mengincar sasarannya sebelum membunuhnya. Amerika memutuskan untuk membunuh seseorang, orang yang mereka lihat dari video. Seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dia. AS memang sengaja untuk membunuh Momina yang dibidik melalui layar komputer. Selama setahun Pemerintah Amerika tidak pernah mengakui peristiwa ini. Keluarga Rahman telah menceritakan semua ini dihadapan Amnesti Internasional serta wartawan The Guardian Inggris. Akhirnya Kongres AS mengundang Rafiq dan kedua anaknya Zubeir dan Nabeela ke Gedung Putih untuk memberikan kesaksian pada 29 Oktober 2013, beberapa hari yang lalu. Nabeela bercerita sambil memegang gambar serangan yang menewaskan neneknya yang dilukis sendiri diatas selembar kertas. Ketika ia berada tidak jauh dari neneknya dikebun sayur, tiba-tiba ada suara gemuruh. Seperti terjadi kebakaran. Ia takut sekali. Tangannya terasa sakit seperti terkena sesuatu. Ia pun langsung berlari. Sambil lari ia melihat tangannya berdarah. Nabeela terus berlari sampai ia diselamatkan oleh para tetangga. "Saya melihat nenek saya tepat sebelum terjadi ledakan tapi hanya sekejap karena sesudah itu gelap, tapi saya bisa mendengar ia menjerit."


Zubeir mengungkapkan, pada hari neneknya tewas langit cerah, dia baru saja pulang sekolah dan semua orang sudah bersemangat menjelang Idul Adha, sementara terlihat ada pesawat berputar-putar diangkasa. Bukan pesawat terbang, bukan helikopter, kata Zubeir, dia tahu bedanya dari bentuk dan suaranya. "Saya yakin itu adalah sebuah drone." Ia melihat sepasang "bola api" menembus langit biru.  Setelah terjadi ledakan, suasana gelap tertutup asap dan puing-puing. Zubeir terluka oleh pecahan peluru. Ia merasa seperti di neraka. Banyak anggota Kongres yang menangis mendengar kisah mereka. Tetapi para pejabat pemerintah tidak dapat berkata apa-apa, kecuali mengulangi kata-kata Presiden mereka Barrack Obama: "Kalau kita tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi jaringan teroris akan terjadi korban lebih banyak lagi - tidak hanya di kota-kota kita di Amerika dan fasilitas kami di luar negeri, tetapi juga di tempat-tempat dimana para teroris bersarang."………………………….. 

26/10/13

MADONNA, KABBALAH DAN ALQUR'AN


MADONNA, KABBALAH DAN ALQUR’AN
Oleh: Jum’an

Anda pasti tahu siapa itu Madonna: Super Star & Queen of Pop Amerika yang nama aslinya Madonna Louise Ciccone (55 th). Guiness World Records menjulukinya artis rekaman wanita terlaris sepanjang masa dan majalah Time menobatkannya sebagai satu dari 25 Wanita Paling Berpengaruh dalam musik kontemporer dan rocker wanita terlaris abad 20. Kisah hidup Madonna yang profesi lengkapnya sebagai penyanyi, penari, pengarang lagu, penulis, aktris, sutradara, pengusaha dan dermawan, menarik untuk dibaca karena penuh keberanian, kontroverisial, bandel dan inspiratif. Dalam essainya untuk majalah Harper’s Bazaar ia menyatakan tak ada gunanya hidup di bumi ini kalau dia tidak berani dalam menjalani hidup dan pekerjaannya. Memang terdengar ekstrim, tetapi dari pengalaman masa remajanya ia sudah menengarai bahwa ada dua kategori manusia; yaitu mereka yang hidup mengikuti kebiasaan dan bermain aman, dan orang-orang yang menentang tradisi dan berkiprah menurut iramanya sendiri. Ia memilih masuk ke kategori yang kedua. Bulu ketiaknya tidak dicukur dan ia tidak mau memakai make-up sebagimana gadis-gadis sebayanya. Karena itu ia tidak disukai oleh laki-laki dan tidak punya banyak teman; orang enggan untuk mendekatinya. Tapi itu membawa hikmah: dengan tidak populer dan tidak bersosialisasi, banyak waktu untuk fokus pada masa depannya. Iapun berangkat pindah ke New York untuk mengejar cita-cita menjadi seniman sejati. Ternyata New York tidak menyambutnya dengan ramah.  Tahun pertama ia ditodong orang bersenjata, diperkosa diatap sebuah gedung dan tiga kali dirampok. Kebisingan lalu lintas dan arus manusia mengejutkan urat syaraf. Muak oleh bau kencing dan muntah dimana-mana terutama ditangga masuk apartemennya. Gelandangan dipojok-pojok jalan; ia tidak menduga sebelumnya. Kadang-kadang ia menangis dikamarnya sambil memandangi burung-burung merpati berak dijendela. Tetapi ia berhasil mengerahkan tenaga dan menyatukan tekad untuk bertahan. Kalau orang lain bisa sayapun pasti bisa; begitu semboyannya. Sebagai bintang pop pada usia 25, ia lebih berani, eksentrik dan provokatif. Ia memakai seombyok kalung salib dilehernya dan kalau ditanya wartawan ia menjawab alasannya karena Yesus baginya sexy. Sebenarnya juga untuk menyulut provokasi. Ia memang senang memprovokasi karena itu “sudah ada dalam DNA-nya. Tetapi hampir selalu ada alasannya” katanya. Pada usia 35 ia merasa perlu meningkatkan dirinya dan mulai mencari makna dari tujuan hidup yang sebenarnya. Ia ingin menjadi seorang ibu, tapi ia menyadari bahwa sebagai pemuja kebebasan mungkin tidak memenuhi syarat untuk membesarkan anak dengan baik. Ia memutuskan untuk mencari pegangan rohani.

Meskipun Madonna dilahirkan dan beragama Katolik, ia memilih untuk bergabung dengan aliran spiritual Kabbalah, sebuah tradisi agama Yahudi yang berasal dari pandangan mistik dan wahyu kitab Taurat. Keputusan yang membangkitkan kegusaran orang banyak itu dilakukannya pada 1996 ketika ia berusia 38 tahun. Ketika dunia tahu saya belajar Kabbalah –tulisnya dalam Harper’s Bazaar, saya dtiuduh menganut aliran sesat, dicuci otak, menyerahkan semua uang saya dan tuduhan gila lainnya. Tradisi Kabbalah begitu rumit dan mudah disalah-fahami. Untuk menganutnya diperlukan pengetahuan hukum Yahudi yang kuat dan hanya untuk mereka yang berusia diatas 40 tahun. Diperlukan disiplin dalam studi mistis, doa dan meditasi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi Madonna mendalami tafsir mistik dari Perjanjian Lama (Taurat) dan memahami rahasia alam semesta bukanlah hal yang berbahaya dan tidak menyakiti siapapun. Saya hanya mencoba berusaha menjadi orang yang lebih baik. Hidup tidak lagi terasa seperti rangkaian peristiwa acak. Semuanya nampak tertata. Saya melihat bahwa menjadi kaya dan terkenal tidak akan memberi kepuasan abadi dan bukan akhir perjalanan. Sekarang, pada usia 55 dan tetap tenar, ia menjanda dengan 4 anak tinggal di New York. Ia mendidik anak-anaknya untuk befikir terbuka dan berani memilih melakukan sesuatu yang benar untuk dilakukan, bukan karena mengikuti orang lain.


Bukan Madonna kalau hanya sejauh itu keberaniannya. Sekarang ia menjalin asmara  dengan Brahim Zaibat, penari usia 25 tahun keturunan Aljazair yang beragama Islam. Diam-diam membuat kehebohan baru. Madonna mulai mempelajari Al-Qur’an. Dia juga membangun sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan mempelajari Qur’an di Negara-negara Islam seperti Pakistan dan Afganistan. “Saya pikir mempelajari semua kitab suci adalah penting. Saya setuju dengan kata teman saya, seorang Muslim yang baik adalah seorang Yahudi yang baik dan seorang Yahudi yang baik adalah seorang Kristen yang baik.” Para pengamat mengkritik Madonna karena menganggap enteng dan bermain-main dengan agama. Dan bahwa minatnya lebih terinspirasi oleh hubungan asmaranya dengan Brahim Zaibat daripada oleh keyakinannya. Pengamat yang lebih pemaaf mengatakan bahwa pernyataan dan tindakan Madonna merupakan langkah signifikan menuju literasi dan toleransi beragama. Madonna yang mengatakan bahwa gagasan berani sudah menjadi norma dalam hidupnya tahu bahwa perubahan besar dan peralihan dalam hidupnya nampak berani bagi penggemarnya. Madonna menjadi wanita yang sangat langka: seorang super-star yang akrab dengan kitab suci tiga agama samawi yaitu Injil, Taurat dan Al-Qur’an. Tidak banyak orang seperti dia. Tahun lalu ia mengunjungi masjid Ayasofia di Istanbul,Turki bersama Brahim Zaibat. Senang rasanya saya membayangkan Madonna berkerudung menghadiri pengajian! Tetapi kalau gagal masuk Islam, Allah juga tidak rugi………… 

13/10/13

GEORGE BUSH MELAWAN YA'JUJ DAN MA'JUJ


GEORGE BUSH MELAWAN YA’JUJ DAN MA’JUJ
Oleh: Jum’an

Umat Islam, umat Nasrani, Yahudi dan bahkan penganut Zoroaster sama-sama mengenal fenomena tentang Ya’juj dan Ma’juj (yang dalam bahasa Inggris disebut Gog dan Magog) yaitu suatu bangsa yang akan muncul di akhir zaman yang merusak dan menghancurkan kehidupan dimuka bumi. Ya’juj dan Ma’juj disebut-sebut dalam Alqur’an, Kitab Perjanjian Baru dan Kitab Perjanjian Lama. Jadi sebagai gambaran, baik Mahmoud Ahmadinejad, Benyamin Netanyahu, George Bush maupun Saddam Hussein sama-sama mengenal sosok Ja’juj dan Ma’juj. George Bush? Presiden Amerika yang tanpa alasan mendasar menyerbu dan menyengsarakan rakyat Irak sampai sekarang?  Ya! Seberapa tahu dia tentang Ya’juj dan Ma’juj? Ketika ditanya tentang keyakinan agama dan keputusannya untuk mencalonkan diri menjadi Presiden pada 2001, Bush membuat testimoni bahwa ia telah diselamatkan Tuhan (terlahir kembali) sebagai seorang Kristen yang taat pada usia 40. Bahkan dia adalah satu-satunya dari lima tokoh diatas yang terang-terangan menyataan bahwa Tuhan memeritahkan dirinya untuk menggagalkan sepak-terjang Ya’juj dan Ma’juj.

Tahun 1995 James Haught dari The Charleston Gazette menulis berita berjudul “A French Revelation, orThe Burning Bush” yang oleh The Toronto Star (Kanada) disebut “lebih aneh dari cerita fiksi”.  Koran Swiss juga menulis berita sarkastis berjudul “Ketika Presiden Bush melihat datangnya Ramalan Injil”.  Konon ketika George Bush sedang menyusun koalisi untuk menyerbu Irak awal 2003, ia menilpun Presiden Perancis Jacques Chirac meminta agar pasukan Perancis ikut bergabung dengan Amerika menyerang Irak kerena invasi itu merupakan misi dari Tuhan. Sesudah Jacques Chirac tidak lagi menjabat Presiden, ia menceritakan bahwa Bush mengatakan kepadanya: “Gog dan Magog sedang meraja-lela di Timur Tengah… Ramalan Injil telah datang… Perang ini (penyerangan Irak) adalah kehendak Tuhan untuk memusnahkan musuh umat-Nya sebelum Zaman Baru dimulai.” Chirac mengatakan terbelalak dan bertanya-tanya bagaimana seorang Presiden Amerika bisa begitu fanatik dan dangkal keyakinannya.  Chirac-pun menolak ajakan Bush. Sebaliknya ia minta theolog Dr. Thomas Romer, untuk menganalisa ajakan aneh itu. Romer menjelaskan, dalam Kitab Perjanjian Lama Yehezkiel dikisahkan bahwa Tuhan murka kepada Gog dan Magog, kekuatan misterius dan menakutkan yang mengancam Israel. Tuhan bersumpah untuk membantai mereka tanpa ampun. Pada 2007 Romer menuliskan perilaku aneh Bush itu dalam majalah resmi Universitas Lausanne Perancis. Mantan Presiden Chirac juga menegaskan kembali peristiwa sinting itu dalam wawancara panjang dengan jurnalis Jean-Claude Maurice yang kemudian dituangkan dalam bukunya “Si Vous le Repetes, Je Dementirai” (If You Repeat, I Will Deny).

Bukan hanya kali itu Bush menunjukkan fanatisme yang kelewatan. Pada 2005 The Guardian Inggris mengutip kalimat-kalimat Bush kepada Menteri Luar Negeri Palestina Nabil Shaath: “Saya didorong oleh misi dari Tuhan. Tuhan memberitahu saya ‘George, lawanlah teroris di Afganistan. Dan saya kerjakan. Tuhan memberitahu saya ‘George, berangkat dan akhiri tirani di Irak’. Dan saya lakukan” Bush mengungkapkan betapa dalam semangat agamanya itu kepada delegasi KTT Israel-Palestina di Shram el-Sheikh Mesir, 4 bulan setelah perang Irak dimulai pada 2003. “Dan sekarang, sekali lagi, saya merasa Tuhan mengatakan kepada saya, ‘George, pergilah perjuangkan Negara Palesina dan keamanan untuk Israel, dan perdamaian di Timur Tengah.’ Dan demi Tuhan saya akan melakukannya. Begitulah … George Bush merasa mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk melawan Gog dan Magog yang dalam persepsinya tidak lain adalah dengan Afganistan dan Irak.

Majalah GQ Magazine pada Maret 2009 mengungkap bahwa Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld biasa menyertakan ayat-ayat injil yang bernada perang dan kiamat bersama foto-foto pertempuran dari Irak dalam briefing intelejen hariannya kepada Bush. Satu diantaranya: “Pakailah seluruh perlengkapan dari Allah, sehingga ketika hari malapetaka datang, anda akan dapat berdiri Tegak!”  Menurut James Haught, Presiden Bush memang gila agama, mantan pemabok berpikiran sempit yang mengaku telah diselamatkan Tuhan. Dia tidak sepantasnya dipercaya memegang posisi untuk memulai peperangan.

Dalih resmi George Bush menyerang Irak ternyata tidak berdasar.  Irak tidak mempunyai senjata pemusnah massal, tergabung dengan barisan teroris seperti diduga oleh Gedung Putihpun tidak terbukti. Jadi apa? Mau menguasai minyak Irak? Melindungi Israel? Atau melampiaskan dendam ayahnya (Presiden AS 89-93) pada Saddam Husein? Sulit dibantah bahwa salah satu penyebab perang Irak yang tak terkira besar akibatnya itu, adalah fanatisme Bush yang berlebihan dengan persepsinya yang kerdil tentang hari kiamat serta Ya’juj dan Ma’juj.

05/10/13

MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH


MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH
Oleh: Jum’an

Ya! Menikahlah mumpung kiamat masih jauh. Insyaallah anak-anak, cucu dan cicit anda kelak masih dapat menikmati hidup sejahtera sampai tua. Semoga untuk seterusnya, setidak-tidaknya untuk waktu yang cukup lama.  Andapun semoga akan meninggal ketika tidur pada usia lanjut dengan tenang dan khusnul khotimah. Seandainya anda tahu bahwa dunia akan mengalami kiamat sebulan sesudah anda meninggal, apakah anda masih tetap mau menikah?  Menikahlah karena menikah itu sunnatullah; tetapi anda sadar bahwa dunia dan seisinya akan hancur lebur sebulan sesudah anda dikubur. Saat itu mungkin anak anda sedang berpraktek sebagai dokter atau menjadi guru, sedangkan cucu-cucu anda masih bersekolah. Tiba-tiba mereka dan semua manusia didunia mengalami bencana kiamat yang sangat mengerikan. Gempa 10 skala Richter, ombak setinggi pohon kelapa. Tidakkah anda merasa kasihan membayangkan anak-anak dan cucu anda dilanda tsunami atau tertimbun gunung longsor karena bumi yang memuntahkan isinya? Tidak mungkin tidak, hati menjadi kecut membayangkannya. Siapa yang sanggup hidup dengan kesadaran akan meninggal dengan tenang waktu tidur, semenatara sebulan kemudian anak-anak dan cucunya sekarat tercekik disergap maut. Makin tak berselera rasanya membayangkan kemesraan hidup berkeluarga. Lebih layak kalau anda tidak punya anak, tidak punya cucu atau tidak menikah sama sekali karena mungkin istri anda baru akan meninggal beberapa tahun sesudah anda sehingga iapun ikut terseret oleh bencana yang menakutkan itu. Mungkin sebaiknya anda batalkan saja niat pernikahan anda daripada selalu cemas nantinya.

Ya tetapi itu kan hanya seandainya. Kalau kiamat betul terjadi sebulan sesudah anda meningggal. Tetapi juga, itu berarti bahwa anda hanya dapat menikah dan hidup bahagia berdasar asumsi bahwa setelah anda mati, kehidupan orang lain akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama. Diam-diam kita sangat memerlukan agar orang-orang lain hidup terus jika kita sudah mati nanti. Kebahagiaan kita sekarang tergantung pada keselamatan orang lain kelak sesudah kita tidak ada. Mungkin kecintaan kepada keluarga yang menyebabkan anda merasa tergantung pada keselamatan masa depan mereka. Dengan kata lain, keyakinan bahwa orang lain akan tetap hidup sesudah kematian kita merupakan jaminan kelangsungan hidup kita saat ini.

Mari kita buat seandainya yang lain, bukan kiamat sebulan sesudah anda meninggal. Tetapi seandainya kecerobohan manusia menggunakan ilmu pengetahuannya seperti rekayasa genetika, penggunaan tenaga nuklir atau apapun, menyebabkan kemandulan yang yak dapat disembuhkan pada manusia. Sejak saat itu tak ada lagi bayi lahir. Enam tahun kemudian semua sekolah TK terpaksa ditutup kerena semua anak yang ada diseluruh dunia sudah lulus TK nol besar. Enam tahun kemudian semua SD terpaksa ditutup karena tidak ada murid baru. Begitu seterusnya sehingga sehingga sekitar 20 tahun sejak terjadinya bencana kemandulan, semua fasilitas pendidikan tidak aktif lagi. Tak ada lagi Balita, tak ada lagi ABG tak ada ceria dan tangis anak-anak, tak ada lagi canda seronok anak-anak muda. Tak ada lagi orang yang baru; kitalah generasi terakhir manusia. Bayangkan kalau orang yang termuda disekitar kita umurnya 30 tahun, tidak ada lagi yang lebih muda. Semua bersama-sama menua, rapuh dan lemah lalu punah. Meskipun hewan dan tumbuh-tumbuhan masih tetap hidup. Untuk mengatasi kesedihan, kecemasan dan keputus-asaan yang terjadi mungkin sebagian orang mengisi sisa hidupnya dengan mencari kesenangan duniawi sepuas mungkin. Makan, sex, wisata serta bersenang-senang bersama keluarga. Yang lain memilih berkutat dengan urusan ukhrowi, khusuk beribadah, beramal dan pasrah kepada Gusti Alloh. Imajinasi tentang kemandulan global ini meyadarkan kita bahwa tidak adanya generasi yang baru membuat banyak hal terasa sia-sia. Meskipun tidak cemas oleh anak cucu kita yang teriksa, kita cemas semata-mata karena tidak orang-orang baru yang muncul. Bahwa semua orang tergantung pada keberadaan orang lain yang akan datang. 

Dari dua bayangan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan generasi anak-cucu sungguh penting. Sekarang saja, sebelum mereka lahir, kita sudah diberiya persekot berupa jaminan kelangsungan dan ketenagan hidup. Kepedulian kita terhadap mereka bukan saja merupakan misi melanjutkan keturunan, tetapi juga sebagai kompensasi atas jasa mereka yang sudah kita terima terlebih dulu. Maka sudah selayaknya kita berusaha melempangkan jalan untuk menyongsong kedatangan mereka. Jangan mengotori udara, jangan membabat hutan, jangan mencemari alam karena akan menyulitkan masa depan mereka kelak. Bahkan sesudah lama kita tidak ada, doa mereka masih dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak.


29/09/13

WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?


WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?
Oleh: Jum’an

Tahun 1961 Dr. Stanley Milgram dari Yale University mengadakan eksperimen yang sangat terkenal tentang Ketaatan Orang Kepada Otoritas. Eksperimen itu dengan meyakinkan membuktikan bahwa mayoritas orang biasa, laki-laki maupun perempuan, dapat berbuat keji yang diluar dugaan hanya dengan alasan sesuai perintah, hormat kepada atasan, sesuai prosedur dsb.  Letnan Gestapo Adolf Eichmann yang membantai ribuan kaum Yahudi di kamar-kamar gas di Auschwitz Austria, didepan pengadilan maupun dalam buku memoirnya menyatakan: “Saya sama sekali tidak menyesal.” Hannah Arendt dalam bukunya “Eichmann in Jerusalem” mencoba membuktikan bahwa Adolf Eichmann bukanlah seorang monster sadis melainkan sekedar seorang birokrat yang taat memenuhi kewajibannya.  Dalam blog saya (KITA RAJA TEGA) banyak saya kutipkan contohnya. Ini membuktikan betapa ketaatan kita kepada otoritas (kekuasaan yg sah dan berwenang) dapat memembuat kita mengkhianati nilai-nilai moral.

Bradley Manning (yang sejak 22-8-2013 berganti nama menjadi Chelsea Manning) adalah tentara Amerika yang pada bulan Agustus lalu dijatuhi hukuman penjara 35 tahun karena menjadi whistleblower membocorkan dokumen rahasia Departemen Pertahanan dan Negara ketika ia bertugas di Irak sebagai analis intelejen. Ia merasa terpanggil untuk melawan aturan aturan internal birokrasi. Dalam pengadilan dia menggambarkan salah satu kasus yang dialaminya. Pada Februari 2010, ia menerima laporan bahwa Polisi Federal Irak menahan 15 orang karena mencetak tulisan-tulisan "anti-Irak". Setelah diteliti, Manning menemukan bahwa tak satupun dari 15 orang itu pernah memiliki hubungan dengan tindakan anti-Irak atau dicurigai sebagai anggota organisasi teroris. Manning lalu menyuruh tulisan yg diduga anti-Irak diterjemahkan dan ternyata bahwa, berbeda keterangan polisi federal, tulisan yang dikatakan anti-Irak adalah data-data korupsi rinci dalam kabinet pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan dampaknya pada rakyat Irak. Ketika ia melaporkan temuan ini kepada perwira yang bertanggung jawab, dia diberitahu untuk tutup mulut saja. Manning tidak bisa bermain bersama. Dia mengatakan, dia tahu jika dia terus membantu Polisi Federal Baghdad mengidentifikasi lawan politik Perdana Menteri al-Maliki, orang-orang-orang itu akan ditangkap dan dalam tahanan Unit Khusus Kepolisian Federal Baghdad, sangat mungkin disiksa dan tidak terlihat lagi untuk waktu yang lama – atau dibunuh. Ketika atasannya tidak mau mengatasi masalah tersebut, ia memutuskan memberikan informasi ini kepada WikiLeaks. Untuk tindakannya itu ia diganjar 35 tahun penjara dan dipecat dengan tidak hormat. Padahal prajurit umur 25 tahun itu menyandang berbagai tanda jasa: National Defense Service Medal, Iraq Campaign Medal, Global War on Terrorism Service Medal, Army Service Ribbon dan Armmy Overseas Service Ribbon.

Edward Snowden (29 th) adalah whistleblower pembocor rahasia program penyadapan oleh Pemerintah Amerika. Yaitu penyadapan telepon rakyat AS untuk memantau kemungkinan adanya terroris dari luar negeri menghubungi orang di Amerika. Dan Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan FBI yang menyadap jaringan internet untuk memantau aktifitas yang mencurigakan dari luar negeri. Snowden merasa bahwa, menghadapi apa yang jelas salah, ia tidak bisa berperan dengan baik dalam birokrasi dari komunitas intelijen. Ia mengatakan: “Membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang disini sudah merupakan pekerjaan biasa, orang cenderung tidak menganggapnya serius dan mengalihkan perhatian mereka. Tapi lama-lama kesadaran akan kesalahan seperti itu terus menumpuk dan anda merasa terdorong untuk berbicara. Semakin anda berbicara, semakin anda diabaikan. Semakin Anda diberitahu itu bukan masalah, sampai akhirnya anda menyadari bahwa hal-hal ini perlu ditentukan oleh masyarakat dan bukan oleh seseorang yang hanya disewa oleh pemerintah.” Birokrasi menyuruh dia tutup mulut dan mengabaikan tapi Snowden merasa bahwa hal tersebut adalah salah secara moral.

Pihak-pihak yang menyalahkan Snowden sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut masalah moral yang menurut Manning dan Snowden (bagaiman menurut anda?) adalah penting. Mereka hanya menggunakan alasan seperti: "Agar masyarakat berjalan dengan baik, harus ada landasan dasar kepercayaan dan kerjasama, rasa hormat pada lembaga dan menghormati prosedur umum. Dengan memutuskan secara sepihak membocorkan rahasia dokumen NSA, Snowden telah mengkhianati semua ini."
“Tujuan saya untuk memberi tahu rakyat Amerika tentang hal-hal yang dilakukan atas nama mereka, dan tindakan-tindakan yang akan merugikan mereka.” kata Snowden.


Umumnya komentator pemerintah berpendapat bahwa semua aktor ini perlu dibawa ke pengadilan, sementara komentator independen cenderung mendukung. Jajak pendapat Majalah Time baru-baru ini menunjukkan bahwa 70% dari generasi usia 18 – 34 tahun percaya bahwa “Snowden telah melakukan hal yang baik”. Apakah ini berarti generasi muda telah kehilangan arah? Menurut Peter Ludlow professor filsafat dari Northwestern Univ. dalam blognya “The Banality of Systemic Evil” generasi muda tidak kehilangan arah tetapi justru sebaliknya. Jelas, ada prinsip moral yang mendasari tindakan para whistleblower itu. Menurut Ludlow prinsip moral telah jelas diartikulasikan, dan itu justru dapat menyelamatkan masyarakat dari masa depan yang sangat buruk. Jadi, pengkhianat atau pahlawankah seorang whistleblower? Apa dosanya?