05/08/15

MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI


MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI
Oleh: Jum’an

Alim dalam bahasa Indonesia berarti banyak mempunyai ilmu terutama dalam hal agama Islam. Juga berarti saleh yaitu taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah atau suci dan beriman. Apakah saya termasuk orang alim? Pengetahuan agama Islam saya, syahadat serta rutinitas ibadah saya menunjukkan bahwa saya berada di atas jalur untuk menjadi orang alim. Karena pandangan tentang diri-sendiri adalah subjektif dan tingkat kealiman sebenarnya tidak dapat diukur, saya perkirakan bahwa tingkat kealiman saya mungkin rendah sekali. Tetapi karena kebaikan yang hanya yang sebesar zarahpun tetap berharga, saya berani mengaku mempunyai tingkat keimanan serta kealiman tertentu betapapun rendahnya dihadapan Allah dan dalam pandangan orang lain. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman saya sering atau kadang-kadang merasa begitu dekat dengan Allah; perasaan yang pasti juga sering anda alami. Sedekat yang sering digambarkan orang sebagai “seolah-olah berdialog langsung” denganNya. Biasanya saya lalu meneteskan air mata atau tersedu-sedu atau hati menjadi lega atau bangkit bersemangat ataupun tidak risau lagi tentang kesulitan duniawi. Seperti yang dikatakan dalam Qur’an: Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram? Pengalaman dan perasaan seperti itu saya anggap mempunyai nilai spiritual yang dalam dan saya menikmatinya.

Setelah lama merenungkan kilas balik pengalaman batin itu saya menengarai adanya pengaruh yang menyimpang terhadap perilaku hidup saya. Kedekatan itu lama-lama menimbulkan keyakinan bahwa Allah memang memperhatikan saya secara pribadi, memahami semua kelemahan-kelemahan saya dan dengan sifatNya yang Maha Pemurah lalu mengasihani, memberikan maaf dan kelonggaran untuk saya. Saya merasa sebagai seorang hamba yang disayangiNya. Dan ini membuat saya tidak risi atau canggung mengendorkan disiplin beribadah. Saya sering terlambat salat tanpa perasaan menyesal karena yakin bahwa Dia mengerti saya: hambaKu yang lemah ini terlalu lelah mengais rejeki yang halal. Biarlah terlambat salat sedikit tak apa. Begitu bayangan sikap Allah dalam kepala saya.

Apakah ini sebuah anugerah atau perangkap? Kelemahan mental yang menyamar sebagai ketaatan beragama? Apakah perasaan akrab saya kepadaNya itu palsu? Sesuatu yang bukan saja subyektif tetapi justru merupakan godaan dan perangkap setan? Bagaimana pengalaman batin yang saya rasakan begitu meresap dalam hati yang saya anggap sebagai prestasi dalam menghayati nilai-nilai agama ternyata telah mengaburkan orientasi saya. Saya menjadi terlalu mudah memmaafkan diri sendiri dan menjadikan kata hati sebagai panutan. Yakin Allah berpihak kepada saya. Saya lalu menduga bahwa orang yang lebih dan benar-benar alim juga menghadapi perangkap seperti ini. Keyakinan memiliki hubungan khusus dengan Allah dan memperoleh  dispensasi dan kelonggaran untuk memotong kompas menempuh jalan samping sendiri.  Apa jadinya kalau ia memegang jabatan pemerintahan atau bendahara yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan umat. Dengan dalih demi kesejahteraan umat, menghimpun dana melalui jalan samping tentulah diperkenankan Tuhan. Ini merupakan konskwensi logis dari keyakinan seorang alim apabila dugaan saya diatas adalah benar.


Berbeda dengan orang alim, penganut aliran yang kelewat fanatik dapat terperangkap lebih dalam: bukan saja merasa mepunyai hubungan khusus dan memperoleh dispensasidari Allah swt. Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dari pada orang lain. Bahwa Allah adalah monopoli mereka dan memihak kepada mereka. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari dapat melambungkan ego manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Orang alim seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi kealiman (seperti juga semua sifat baik lainnya) juga membawa godaan yang dapat menjadikan orang terperangakap ke jalan yang sesat. Tetapi anda boleh juga memungkas pendapat saya dengan mengatakan: Kalau ada orang alim korupsi, artinya dia bukan orang alim. Titik

11/07/15

MENGHITUNG RAKAAT TARAWIH


MENGHITUNG RAKAAT TARAWIH
Oleh: Jum’an

Mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja. Demikian menurut sebuah artikel dalam majalah Scientific American. Membawa gelas penuh air sambil memikirkan caranya akan membuat tangan kita bergoyang dan menumpahkannya; berpidato sambil memikirkan bagamana cara memulainya bisa membuat kita tersedak. Karena itu koreografer terkenal George Balanchine menasehati para penarinya “Don’t think, dear; just do.” Jangan dipikir, lakukan saja! Bagi yang sudah terlatih melakukan sesuatu, memikirkan apa yang sedang dilakukannya akan mengurangi kecermatan, menyebabkan kesalahan dan kadang-kadang bahkan ketidak-berdayaan total. Gerakan gerakan kita ternyata menunjukkan kemanjuran yang tidak kita sangka dan menjadikan kita percaya diri. Begitulah kita melaksanakan salat sehari-hari dengan urutan langkah yang tertib dari takbir hingga salam. Kita melakukan Salat Intuitif dan Otomatis tanpa berkonsentrasi bagaimana memulai dan berpindah dari satu rukun ke rukun berikutnya. Percaya diri dan tidak pernah tersesat ditengah atau diperpindahan rakaat atau tersedak ketika membaca fatihah.

Tetapi stamina orang sedikit demi sedikit menurun dangan bertambahnya usia. Otot mengendor, gigi goyah tulang melemah. Kita terpaksa memakai alat-alat bantu seperti tongkat untuk berjalan, kacamata untuk melihat dan hearing aid untuk mendengar. Demikian pula dengan performa ingatan kita. Macam-macam cara orang untuk membangkitkan ingatan, mencegah kelupaan yang sering terjadi. Pada bulan suci Ramadan dimana kita disunahkan melaksanakan salat tarawih yang panjang setiap malam, saya ingin berbagi cara yang sangat pribadi dalam menjaga ke 11 atau ke 23 rakaat seutuhnya. Bisa ditiru, tapi tidak perlu karena sperti mengada-ada dan masing-masing kita memiliki cara sendiri-sendiri.


Saya hampir selalu melakukan tarawih sendirian, sambil duduk di kursi karena keadaan. Orang seusia saya mudah tersesat melacak 11 rakaat salat tarawih dengan pola 4 x 2 rakaat + 3 rakaat witir (apalagi yang tarawih 23 rakaat). Untuk menggambarkan betapa  salat tarawih 11 rakaat itu tidak sederhana dan perlu dikawal, kita tahu  bawa rukun salat ada 13 amalan, berarti dalam 11 rakaat (5 kali salam), kita harus mengulang 65 amalan. Satu rakaat terdiri dari satu kali berdiri, satu kali ruku’, dan dua kali sujud. Dalam dua rakaat saya membaca dua surat pendek yang berbeda. Surat yang pertama tetap (surat An-Nas) dan surat yang kedua berbeda untuk mempermudah mengingat saya berada di rakaat pertama atau kedua. Saya menggunakan empat buah perangkat digital untuk mengontrol akurasi jumlah rakaat yaitu dua buah remote control TV, sebuah hand-phone dan sebatang stylus pen. Alasannya sangat sederhana: karena keempat benda itulah yang selalu ada diatas tempat tidur saya dan dalam jangkauan tangan. Dan mengapa hanya 4 padahal saya perlu memonitor 5 kali salam, karena tiga rakaat terakhir berbeda dengan dua dua yang sebelumnya sehingga tidak memerlukan pembantu ingatan. Keempatnya saya tumpuk disamping kursi tempat saya salat. Setiap kali selesai salam, satu dari keempat perangkat itu saya singkirkan. Begitu seterusnya, masing-masing mewakili dua rakaat. Setelah semua tersingkirkan berarti saya tinggal melanjutkan 3 rakaat witir. Mudah dan tidak perlu ditiru bukan? Lagipula salat tarawih tinggal beberapa hari lagi. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin……….

27/06/15

GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA


GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA
Oleh: Jum’an

Pada bulan Mei yang lalu terjadi kerusuhan antar geng motor kulit putih di Waco,Texas yang mengakibatkan 9 orang tewas 18 luka-luka dan 192 orang ditahan dengan tuduhan melakukan kejahatan terorganisir. Cara polisi mengani dan media meliput insiden itu banyak mengundang pertanyaan, karena sangat berbeda dengan perlakuan mereka dalam menghadapi insiden kulit hitam di Ferguson (Missouri) dan Baltimore (Maryland). Di Waco aparat penegak hukum nampak relatif santai sementara anggota geng yang ditangkap nampak duduk-duduk tanpa di borgol dan dibiarkan menggunakan ponsel mereka. Tidak ada satupun berita yang menyebut-nyebut ras dalam peristiwa itu. Sikap kendor ini sangat kontras dengan kebrutalan mereka menghadapi tersangka kulit hitam seperti Freddie Gray di Baltimore yang akhirnya mati dialam tahanan polisi tanpa bukti kesalahan yang berarti. Tidak ada seorangpun tokoh kulit putih yang berpengaruh yang mencela teror geng motor di Texas itu. Kepolisian diseluruh Amerika telah larut dalam rasialisme yang melembaga dan standar ganda dalam menangani tersangka minoritas.

 Kata seorang komentator politik liputan berita kerusuhan geng motor kulit putih di Texas tidak ada yang menyebutkan ras, tapi ketika orang kulit hitam yang terlibat dalam kekerasan, “kulit hitam” pasti disebut. Media memberikan narasi yang bias sehingga pembaca yang dimintai pendapat cenderung mengatakan bahwa kejahatan lebih banyak dilakukan oleh orang kulit hitam atau berwarna. Ketika orang-orang kulit putih melakukan tindak kekerasan, disebutnya sebagai penyimpangan, seolah-olah peristiwa yang tidak biasanya terjadi, dan tidak mewakili kelompok ras mereka. Dalam berita kekerasan oleh orang kulit hitam, kecuali ras disebut dg jelas, masih dengan penekanan tambahan seperti bahwa tempat kejadiannya memang rawan kejahatan dan narkoba. Menurut penelitian, pandangan bias terhadap kulit hitam di AS memang melekat dan nyata, seperti juga pandangan tentang keunggulan orang kulit putih dan hak istimewa mereka. Orang kulit putih begitu yakin bahwa urat jahat memang sudah merupakan bawaan setiap orang berkulit hitam. Padahal ras tidak ada hubungannya dengan kejahatan. Orang dari semua ras melakukan kejahatan dan juga menjadi korban, tak ada korelasinya dengan warna kulit.

Jika ada seorang Islam mengancam kekerasan di Amerika, akan diperlakukan sebagai terorisme yang gawat. Jajak pendapat PEW menunjukkan bahwa mayoritas kulit putih Amerika berkeyakinan bahwa kekerasan melekat dalam ajaran Islam yang terbukti dari dukungan mayoritas kaum muslimin di beberapa Negara terhadap hukuman mati bagi orang yang murtad atau menghujat. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa hukuman mati karena murtad atau menghujat Islam sangat jarang dilaksanakan dinegara muslim manapun, sementara di Di AS rata-rata sekitar 30 anggota komunitas LGBT dibunuh setiap tahun. Dalam Bible hubungan sesama jenis merupakan dosa berat yang harus dihukum mati. Tak sedikit pendeta fundamentalis yang setuju untuk melaksanakannya. Diantaranya Steven Anderson dari gereja Baptis Arizona yang dengan berapi-api menyerukan pembunuhan semua kaum homoseks. Ia mengklaim dapat membuat dunia bebas dari penyakit AIDS dalam waktu singkat dengan cara membunuh semua kaum homoseks dan waria. Ia mengutip ayat-ayat Bible untuk mendukung ide radikalnya. Ia berpegangan pada Imamat 20:13 tentang kaum homo yang harus dihukum mati. "Itulah saudara-saudara, obat untuk memberantas AIDS menurut Bible, bukan dengan mengabiskan milyaran dolar untuk penelitian dan pengujian. Jika kita bunuh kaum homo seperti diperintahkan Tuhan, AIDS tidak akan merajalela " "Tidak boleh ada kaum atau lesbian atau waria masuk kedalam gereja ini selama saya pendeta di sini. Never! Demikian pula dengan pendeta Curtis Knap dari Gereja Baptis New Hope Kansas dan Sean Harris dari Gereja Baptis North Carolina. Mereka tidak hanya percaya bahwa kaum gay harus dihukum mati, tetapi memerintahkan jemaatnya harus agresif dan memukul anak-anak mereka sendiri jika mereka menunjukkan tanda-tanda homoseksualitas. Yang lebih merisaukan menurut majalah Liberal Unite adalah bahwa mereka tidak hanya menyebarkan khotbah penuh kebencian kepada orang dewasa dalam jemaat, tetapi mereka juga kepada anak anak. "Tak ada ada kaum homoseks yang masuk surga." Jadi pantas kalau rata-rata ada 30 orang dari komuitas LGBT dibumuh di Amerika.

Kalau mereka bersikukuh bahwa Islam membawa ajaran kekerasan bukankah bukti diatas menunjukkan hal yang sama untuk agama mereka? Kalau mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pendang, bukankah seharusnya mereka sudah membaca Injil Matius 10: 34 : “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku (Kristus) datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah perdamaian Aku bawa datang tapi pedang.”


Seandainya saja orang Amerika tidak menganut standar ganda dan rasialisme dan benar-benar menyimak Bible mereka dengan seksama niscaya mereka akan berhenti menuduh bahwa Al-Qur’an memerintahkan kejahatan dan kekerasan kepada umatnya. Orang Amerika dan Kristen tidaklah jauh berbeda dengan kaum Muslimin di Timur Tengah. Komedian Bill Maher  pernah mengatakan bahwa di Amerika banyak fundamentalis Kristen gila; kita nampak lebih baik hanya karena mereka tidak kita biarkan mengatur negara. Agama tidak menciptakan teroris. Masyarakatlah yang menciptakannya. Islam maupun Kristen, di Timur Tengah maupun di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa menyalahkan kitab suci umat Islam atas tindakan ekstrimis sama saja dengan menyalahkan pabrik sepeda motor Honda sebagai pelopor geng motor. 

16/05/15

AGAMAKU AGAMAMU - NEGERIKU NEGERIKU


AGAMAKU AGAMAMU – NEGERIKU NEGERIKU
Oleh: Jum’an

Abu Bakar, sahabat saya mempunyai cara berpikir yang kadang-kadang mengejutkan. Suatu kali ia berkata bahwa bumi ini milik Allah sebagaimana disebut dalam Qur’an. Mengapa sekarang dikapling-kapling menjadi negara-negara yang saling melarang memasuki petak masing-masing? Ia yakin bahwa Allah tidak menghendaki begitu. Bumi adalah milik Allah untuk kesejahteraan bersama semua umat manusia. Daripada memberikan jawaban yang tidak jelas saya hanya menimpali bahwa mungkin, bangsa China ingin bersatu lalu membentuk negara China begitu juga bangsa Melayu, bangsa Arab dan yang lainnya lalu masing-masing membuat aturan sendiri-sendiri. Abu hanya diam, wajahnya jelas meremehkan teori saya. Istilah milik Allah seperti tertulis dalam Surat An-Najm ayat 31 (Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) dicerna secara berbeda-beda diantaranya seperti cara Abu Bakar yang begitu harfiah tadi. Belum tentu salah atau benar, tetapi dapat diperkirakan bahwa Abu akan memilih agamanya daripada negerinya bila suatu saat terpaksa harus memilih.

Seperti kita saksikan sekarang ini, banyak umat Islam dari berbagai bangsa dan negara pergi ke negara-negara Timur Tengah untuk berjihad membela kelompok yang mereka sukai, yang berarti bahwa mereka lebih mengutamakan agamanya daripada negerinya. Bila prosedur resmi memasuki negara-negara itu tidak memungkinkan, mereka tidak segan-segan untuk menempuh jalan belakang. Mereka juga tega untuk meninggalkan anak isteri demi berjihad dan mati syahid. Padahal ada puluhan kelompok yang saling bermusuhan disana. Anda ingin menjadi relawan berjihad membela Bashar Assad? Atau bergabung dengan pemberontak Houti di Yaman atau bergabung dengan ISIS? Bagi yang pemahamannya tentang bumi Allah sama dengan Abu, berangkat saja! Apa salahnya? Batas-batas negara adalah buatan menusia sedangkan Indonesia, Siria, Irak dan Yaman sama-sama bumi Allah! Kita sepenuhnya berhak untuk merambahnya. Apa sulitnya masuk kesana. Demi persatuan Islam, demi kebenaran, demi…….. Bahkan tak ketinggalan sejumlah kaum wanita menyediakan diri dinikahi para pejuang dan ikut di medan tempur disana. Seolah-olah keadaan sudah demikian gentingnya sehingga masing-masing mengikuti apa yang ada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Benarkah begitu mendalam iman dan takwa mereka, begitu kuat ukhuwah dan cintanya sesama umat Islam melebihi cinta kepada keluarga dan negaranya sendiri? Wallohu a’lam.

Yang jelas pada saat yang sama ada bukti yang menunjukkan keadaan sebaliknya dimana kita bersikap tidak peduli terhadap saudara-saudara seiman yang sedang ditimpa kesengsaraan. Bukti bahwa negeriku lebih penting daripada ukhuwah agamaku. Ribuan pengungsi Rohingya yang beragama Islam yang terusir dari Myanmar telah ditolak mendarat di Serambi Mekah Aceh dan diusir pula oleh pemerintah Malaysia yang menyatakan bahwa agama resminya Islam.  Mereka meminum air kencingnya sendiri  untuk bertahan hidup terapung-apung di laut karena sia-sia mengharapkan bantuan sesama umat Islam Malaysia dan Indonesia.  Sementara pengungsi muslimin dari Libia yang ingin masuk ke daratan Eropah, mendapat perlakuan yang lebih manusiawi dari mereka. Nampak bahwa kemanusiaan mereka lebih dewasa ketimbang keislaman kita.


Membaca penderitaan kaum pengungsi Rohingya terbayang di mata saya, mereka itu seperti saudara kita dari kampung yang terpaksa mengemis kekota dan bertemu dengan kita. Ia ingin bernaung barang semalam di emperan rumah kita, mengharap sesuap nasi dan seteguk air, karena dalam anggapannya kitalah yang paling pantas menolongnya. Tetapi kita berkata kepadanya: Jangan mengemis kesini. Kita memang bersaudara kita memang seagama, tapi minta saja kepada tetangga sebelah sana! Jangan minta air dari saya apalagi menginap di emperan rumah saya. Minum air kencingmu sendiri kalau perlu! Agamamu dan agamaku memang satu tetapi negeriku adalah negeriku, bukan negerimu!                                                                            

07/05/15

PILIH SEGERA! PERCAYA SOMAT ATAU TIDAK


PILIH SEGERA! PERCAYA SOMAT ATAU TIDAK
Oleh: Jum’an

Ada peribahasa Afrika yang mengatakan: Berhati-hatilah jika ada orang telanjang menawari anda baju! Orang yang tidak menghargai dirinya, mustahil akan mencintai orang lain! Mengapa tak dipakainya baju itu untuk menutupi auratnya sendiri. Artinya jangan percaya kepada niat baik yang sulit diterima akal sehat. Ada pula peribahasa: Jangan mempercayai wanita yang menjawab dengan jujur berapa umurnya. Wanita macam itu akan mengatakan apa saja kepada orang lain. Sudah biasa usia wanita adalah rahasia mereka. Mengapa harus diobral kepada orang lain kalau mengelak juga mudah dan aman? Wajar kalau kita kurang percaya kepada orang yang berperilaku menyimpang dari adat kebiasaan. Orang telanjang yang menawarkan baju dan wanita yang merahasiakan usianya mengingatkan kita bahwa tidak semua orang mudah dipercaya. Berprasangka baik adalah anjuran Rasulullah s.a.w, sebagai bekal untuk berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya akal sehat dan hati nurani kitalah yang akan menilainya. Kata pengarang Ernest Hemingway, cara terbaik untuk membuktikan seseorang bisa dipercaya atau tidak ialah dengan mempercayainya. Karena khianat baru terjadi sesudah ada kepercayaan lebih dahulu; atau orang cenderung bertindak jujur bila dipercaya. Bagaimanapun akhirnya kita harus memilih untuk mempercayai atau tidak mempercayai seseorang. Bila tidak kita akan terus merasa ragu dan curiga dalam menjalin hubungan, terutama dimana kepercayaaan merupakan syarat utama.

Keluarga saya menjadi tegang gara-gara perbedaan kepercayaan. Bukan kepercayaan Agama tetapi kepercayaan kepada seseorang montir. Beginilah nasib saya. Mobil tua terus dipelihara: mogok didorong, peot dikenteng, karatan didempul. Montir andalan kami seorang berperawakan kecil berwajah brewok bernama Somat. Satu-satunya montir yang saya kenal. Ia adalah langganan keponakan saya Po In selama bertahun-tahun sehingga saya yang baru belakangan memakai hanya numpang percaya. Tapi terbukti ia memang ahli mobil tua. Oli rembes, rem blong, mesin ngadat semua bisa diselesaikan dengan mudah. Ganti onderdil yang sudah jarang penjualnya dia tahu kemana mencarinya. Bila perlu dikikir sedikit agar pas masuknya. Ketrampilannya yang lengkap memudahkan ia mengambil keuntungan dari segala penjuru. Kadang-kadang selesai bekerja ia mengucapkan kata-kata bernada filsafat dengan gratis. Seperti ketika selesai memperbaiki pembuka jendela yang macet, ia mengingatkan saya supaya pelan-pelan memutarnya sambil berkata: Kalau mobil tua, kita harus mengikuti dia; kalau mobil baru, dia harus menuruti kita. Siapa yang bisa berkata begitu kalau bukan mereka yang berpelngalaman menggeluti mobil tua?

Somat memang kreatif dalam menjual ketrampilannya. Sambil menggarap order, dia selalu mnemukan kerusakan lain dan menayakan apakah mau diperbaiki juga. Saya bekali dia uang 500 ribu untuk membeli onderdil, ia tukar tambah 200 ribu dengan onderdil bekas yang masih bagus dan dikembalikannya yang 300 ribu. Katanya yang untuk Honda Civic th 90 sudah jarang ada. Cara begini jelas tidak transparan, manipulatif dan …., dilematis! Kalau diminta nota pembelian selalu lupa atau, tar dulu Pak, tangan saya sedang kotor tapi akhirnya tidak juga. Ketika saya tanyakan berapa ongkosnya ia bilang ini sisa tadi masih ada 50 Pak, tambah 100 lagi saja. Mobil pun rapih, garansi. Siapa lagi kalau bukan jasa Somat. Tetapi ia jelas meninggalkan tanda tanya yang sulit diawab: jujurkah dia, pantaskah ia kita percaya? Beberapa tahun saya meragukan kejujurannya: tetap meminta bantuanya tetapi dengan curiga dan diam-diam mengutuknya. Ini tidak sehat. Harus diakhiri, saya harus memilih percaya atau tidak percaya pada kejujuran Somat. Selanjutnya teruskan dengan ikhlas atau cari montir lain. Memangnya dia satu-satunya montir mobil di Jakarta?

Masalah yang terlalu lama dipendam, seperti bisul di pantat akan pecah sendiri.  Belum lama ini datang saatnya untuk kembali minta bantuan Somat. Menghidupkan aki yang mati karena dua hari kunci kontak tidak dicabut. Dari kantor saya tilpun kerumah, apakah Somat sudah selesai kerjanya. Ternyata belum, dia sedang menyewa aki penolong ke bengkel sambil membeli oli. Membeli oli? Siapa yang menyuruh, oli untuk apa? Katanya oli power steering tinggal sedikit perlu ditambah. Liciknya dia!  Saya naik darah sambil mengumpat. “Oke, turuti saja dia lalu bayar dan suruh pergi maling itu!” Saya pikir inilah saatnya memilih untuk tidak mempercayai Somat. Saya bertemu muka dengan dia tepat didepan rumah ketika saya pulang kantor dengan taksi dan dia baru selesai bekerja. Saya tanya ongkosnya berapa dan jawabnya: “Ini uang yang tadi (uang sewa aki dan beli oli) masih sisa lima puluh. Tambah 50 lagi saja Pak.” Ketika saya merogoh kantong ternyata dompet saya tidak ada. Saya segera sadar ketinggalan ditaksi sementara taksi itu sudah agak jauh. Somat lalu cepat-cepat lari dan masih dapat terkejar karena macet di ujung gang. Dalam dompet itu ada KTP, kartu kridit, kartu ATM dan uang lebih dari satu juta yang baru saya ambil dari ATM.


Setelah saling mengucapkan terima kasih, saya merenung meneteskan air mata. Orang yang baru saya sumpahi “maling” itu telah menyelamatkan saya! Isi dompet utuh, aki tok cer dan setir enteng karena oli power steering penuh. Alhamdulilah, astagfirullah. Saya memutuskan utuk mempercayai Somat dan saya terima ia apa adanya. Selama ada Somat, saya tidak akan minta bantuan sipapun! Po In bilang Somat memang jujur. Ia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Tetapi anaknya tetap curiga. Ibunya memang terlalu mudah mempercayai orang dan sering tertipu! 

30/04/15

MAAF MBA ATUN KITA BELUM JODOH


MAAF MBA ATUN - KITA BELUM JODOH
Oleh: Jum’an
(Saya senang tulisan th 2009 ini masih sering dibaca orang. Di Wordpress saja, th 2014 masih ada 1,200 pembaca. Smp April, th. ini ada 580 orang. Untuk orang spt saya alhamdulillah sekali, ini saya muat lagi. Mba Atun meninggal 2 bulan yang lalu.)
Sejak kecil memang saya sudah mulai dibentuk. Karena sampai tamat SMP tidak pernah berpindah tempat tinggal, maka tulang-tulang dan gigi saya hanya terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari hasil bumi desa kelahiran saya. Demikian pula sebagian ciri-ciri hidup saya sudah mulai terbentuk didesa itu.
Suatu pagi hari dimasa kanak-kanak, karena sakit yang tak kunjung sembuh saya disuruh berjongkok dekat padasan – tempat mengambil air wudu. Dibawah kain ibu, saya dimandikan dengan urine hangat langsung dari pancurannya. Itulah terapi pamungkas setelah semua cara gagal dicoba. Tentu saja sesudah itu saya dicuci bersih karena ibu saya yang guru ngaji, tahu hukum najis mutawasitoh itu. Pada kesempatan lain, nama saya diganti karena badan saya ceking dan sakit-sakitan, mungkin panggilan baru akan lebih merangsang pertumbuhan. Itulah bagian dari awal terbentuknya pola hidup saya.
Setelah dewasa dan terpelajar saya berkiblat kepada pengobatan medis untuk memelihara kesehatan. Tetapi pengobatan medis yang terlalu mahal itu menakutkan: pisau bedah, jarum suntik, bius total, cuci darah, amputasi.....
Sementara pengobatan nonmedis meyajikan jamu-jamu godok yang serba herbal, wirid, tenaga dalam dan air doa. Kalau memang sama-sama dapat menyembuhkan, tentu yang kedua inilah pilihan utama saya.
Kecuali mengandalkan terapi gelombang kejut -ESWL- yang tidak juga sekali tuntas dan obat-obatan untuk menghilangkan batu ginjal, saya menjalankan upaya non-medis juga. Gagal dengan operasi goresan kuku Haji Fauzi antara Puncak dan Cipanas yang katanya ampuh, saya tetap tidak putus asa.
Waktu itu sedang ramai tersiar nama Ibu Atun dari Pemalang ahli pengobatan alternatif yang dapat mengobati macam-macam jenis penyakit. Pasiennya terdiri dari rakyat jelata, pejabat tinggi dan selebritis, bukan saja dari Nusantara tetapi juga Malaysia, Singapura dan Hongkong. (Sebagian testimoni ada disini). Besan saya yang kebetulan orang sana, menceritakan bahwa tetangganya yang terkena penyakit kaki gajah (filariasis) sembuh ditangan ibu Atun –sebenarnya lebih tepat dipanggil mba Atun karena ia masih lajang waktu itu-. Katanya darah hitam bercampur lemak dikeluarkan dari kedua kaki dan dibersihkannya menggunakan kapas.
Sesudah satu setengah bulan mendaftar dan mendapat nomor urut tujuhpuluh sekian untuk hari itu, batu ginjal sayapun dikeluarkan oleh ibu Atun.
“Boleh saya bawa pulang untuk kenang-kenangan Bu?” kata saya sambil meminta kapas ditangannya yang masih basah oleh darah. Silahkan, katanya.
Dalam perjalanan pulang saya cium-cium kapas dan saya raba-raba batu sebesar butir beras itu. Rasanya bau darah saya tidak amis begini dan batu ginjal saya mirip kristal garam tidak seperti serpihan tulang. Foto rontgen yang saya lakukan dua minggu kemudian membuktikan bahwa batu ginjal saya masih utuh. Maaf mba Atun, kita mungkin belum jodoh.
Bahkan waktu ginjal saya makin tidak berfungsi dan harus menjalani cuci darah saya tetap meminum air doa, pijat refleksi, serta rajin berobat kepad Ir. KRM. H. Gembong Danudiningrat yang berwibawa itu.

Lama sesudah semua usai dengan izin Alloh, saya baru menyadari apa yang saya peroleh dari Haji Fauzi, Bu Atun dan terutama Romo Gembong dari Kraton Yogya itu. Yaitu harapan. Harapanlah yang telah ikut menopang pertahanan saya melawan penderitaan dan cobaan selama itu.

27/04/15

NILA SETITIK DAN SUSU SEBELANGA


NILA SETITIK DAN SUSU SE BELANGA
Oleh: Jum’an

Ibarat pintu kaca yang bening lebih mudah terbentur daripada yang bernoda, emas murni lebih lembek dari yang 22 karat – makin sempurna karakteristik sesuatu makin rentan ia terhadap kerusakan. Setiap kekuatan membawa kelemahanya sendiri – bahkan orang yag terlalu jujur lebih mudah tertipu. Begitulah dunia dan kehidupan kita. Pada tahun 2009 sebuah pesawat jet Airbus 320 milik US Airways  dengan 150 penumpang  jatuh di dekat Manhattan karena beberapa  ekor angsa tersedot dan mematikan kedua mesin jetnya. Sebelumnya, pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines jatuh sesudah take-off karena kedua mesinnya menghisap kawanan burung merpati. Dari 100 penumpang, 35 tewas dan 21 luka-luka.

Bagaimana mungkin pesawat besar dan canggih bisa jatuh oleh burung yang kecil? Burung mudah terhisap masuk mesin jet dan mengenai pisau-pisau kipas mesin. Pisau kipas bergetar dan menghantam bilah yg lain beruntun, mengakibatkan kegagalan mesin. Bahkan burung kecil seperti jalak pun dapat menyebabkan mesin mati. Burung sangat berbahaya bagi pesawat terbang khususnya pada ketinggian beberapa ribu kaki di mana mereka terbang. Jika terlalu dekat dengan lubang mesin, mereka akan langsung tersedot masuk. Tak banyak yang bisa diperbuat untuk mencegah pesawat terbang menabrak burung. Bahkan NASA takut pesawat ulang-aliknya menabrak burung, bukan karena menjatuhkan pesawat tetapi melecetkan lapisan penahan panas yang dapat memicu kerusakan dan bencana. NASA akan menghentikan hitungan aba-aba untuk take-off bila ada burung melintas dan saat mendarat pesawat membunyikan suara dentuman meriam untuk memastikan landasan pacu bebas dari burung-burung. Aneh bukan?

Setelah serangan menara WTC pada 9/11/2001, dirancanglah sistim pengamanan agar orang tidak mudah menerobos masuk kokpit, mekanisme canggih untuk menutup pintu kokpit dari dalam sekuat dan secepat mungkin. Mungkin disainernya baru sadar sekarang bahwa rancangan canggihnya itu telah memudahkan Andreaz Lubitz co-pilot Germanwings mengunci ruang kokpit dari dalam sementara kapten pilot Sondheimer keluar ke toilet. Pintupun tertutup tanpa bisa dibuka lagi meskipun mengunakan kampak. Lalu Andreaz yang menderita gangguan mental itu sengaja menukikkan Airbus A320 dengan 142 penumpang itu dan menabrak pegunungan Alpen Perancis. Konon Adreaz juga membubuhkan obat diuretik yang merangsang kebelet pipis kedalam kopi kapten pilot.  Sukses menyempurnakan mekanisme pengamanan untuk mencegah pembajakan oleh teroris justru telah memudahkan co-pilot untuk menyendiri dalam kokpit, yang terbukti dari peristiwa diatas, berakibat fatal. Alangkah ironisnya!

Hal-hal yang kita anggap sepele, seperti nila setitik, suatu saat dapat merusak susu se belanga. Pada Januari 2011 pesawat Boeing 77 United Airlines  dengan 241 penumpang yang sedang terbang menuju Frankfurt dari Chicago terpaksa berbelok ke Toronto di Canada karena masalah komunikasi dan navigasi. Penyebabnya, kopi sang pilot tumpah di kokpit karena getaran turbulensi dan memicu transponder pesawat mengirimkan sinyal bahaya. Ketika pilot berusaha mengirimkan sinyal untuk mengingatkan pengawas lalu lintas udara bahwa mereka kehilangan kontak radio, ia keliru mengirimkan kode  bahaya  internasional untuk pembajakan. Akhirnya, segera setelah isu pembajakan reda, United Airline terpaksa mengirim Boeing 777 lain ke Toronto  untuk mengambil semua penumpang dan dibawa kembali ke Chicago, sebelum esok harinya diterbangkan ke Frankfurt. Sedangkan pesawat yang ketumpahan kopi, diterbangkan tanpa penumpang ke Washington untuk perbaikan. Tumpahan kopi itu juga sekaligus mengacaukan sinyal navigasi yang memberitahu pilot untuk mengarah ke Toronto, bukannya melintasi Atlantik menunju Frankfurt di Jerman. Cairan tumpah di kokpit biasanya hanya menyebabkan karatan pada lantai dan dinding samping  bukan kerusakan pada sistim radio. Ini memang jarang terjadi karena kokpit harus lulus test sebelum pesawat disertifikasi.Tidak boleh ada cairan akan menembus peralatan apapun. Semua dirancang dengan segel, jalur pembuangan dan alat kusus pengatur kelembababan. Alangkah berantakannya akibat secangkir kopi yg tumpah dikokpit Boeing 777 itu.

Belum lengkap rasanya jika saya tidak mengutip berita terbaru tentang “yang sepele yang mebahayakan” berikut ini. Hari Jum’at 17 April lalu, pesawat Falcon 50 milik pemerintah Serbia anjlok lebih dari satu mil dari ketinggian 33.000 kaki selama 60 detik diatas laut Adriatik karena satu dari 3 mesin jet itu tiba-tiba mati. Penyebabnya, co-pilot menumpahkan kopi pada panel instrumen dan tidak sengaja mengaktifkan saklar darurat ketika ia berusaha untuk membersihkannya, yang menyebabkan mesin ketiga mati sebentar. Dalam 1 menit jatuh yang serasa kiamat itu semua penumpang, yaitu Presiden Tomislav Nicolic dan dan 10 orang rombongannya, terlempar-lempar mengerikan, sampai pilot dapat menstabilkan pesawatnya. Tidak ada yang tewas. Itu saja untungnya. Mereka mau bertemu Paus di Roma tapi terpaksa kembali ke Belgrado. Pemerintah memutuskan untuk tidak menggunakan lagi pesawat buatan Perancis tahun 1981 itu untuk perjalanan rombongan presiden. Co-pilot diskors karena membahayakan keselamatan penerbangan dan Presiden akan naik penerbangan komersial saja lain kali.

Demikianlah, perbaikan selamanya dimungkinkan tetapi kesempurnaan selamanya tidak akan pernah tercapai…….