01/02/14

KITA DAN FUNDAMENTALIS AMERIKA


KITA DAN FUNDAMENTALIS AMERIKA
Oleh: Jum’an

Barna Group, sebuah perusahaan survey Kristen Injili di California dan American Bible Study (ABS) melakukan penelitian terhadap 100 kota di AS, dan memperingkatnya menurut “Bible-mindedness” mereka, yaitu seberapa sering responden membaca Bible dan seberapa akurat kitab suci itu menurut pikiran mereka. Data-data didasarkan pada wawancara telepon dan online dengan 46.000 lebih sampel acak orang dewasa, selama 7 tahun sampai dengan Agustus 2013. ABS mencantumkan 10 kota paling Bible-minded diantaranya Chattanooga di Tennesee dan Jackson di Mississippi. Sedangkan 10 kota paling tidak Bible-minded diantaranya Providence (Rhode Island) dan Portland (Maine). Hasil penelitian ini banyak mendapat komentar dan tanggapan. Salah satu diantaranya dari James Peron, presiden Moorfield Storey Institute, sebuah think-tank independen yang berjudul “Bible-mindedness, Morality and Crime” . Ia menghubungkan hasil survey Barna Group dan ABS dengan tingkat kejahatan dari ke 20 kota tersebut untuk melihat aspek praktisnya dalam kehidupan. Menurut Peron, penelitian Barna Group dan ABS dapat dikatakan memberikan gambaran kota-kota yang paling banyak, dan paling sedikit penganut Kristen fundamentalisnya.

Dalam hubungannya dengan data-data pembunuhan, pemerkosaan dan perampokan dari 10 kota paling bible-minded dengan 10 kota yang paling tidak Bible-minded, Peron menemukan: Untuk setiap 100.000 penduduk kota Bible-minded tercantum rata-rata 1,2 pembunuhan. Di kota yang paling tidak Bible-minded hanya 0,7 pembunuhan per 100.000 orang. Dengan kata lain, anda hampir dua kali lebih mungkin terbunuh di kota yang paling Bible-minded daripada dikota yang paling tidak Bible-minded. Tingkat pemerkosaan per 100.000 orang adalah 5,4 di 10 kota paling fundamentalis dan 3,9 di 10 kota paling sekuler (tidak Bible–minded). Di 10 kota paling fundamentalis tercatat 127,7 pencurian per 100.000 orang, sementara untuk 10 kota sekuler rata-rata adalah 109. Degan kata lain lebih aman untuk tinggal dikota-kota sekuler, termasuk bebas dari gangguan para pendakwah yang menyebalkan yang selalu mengetuk pintu untuk menyelamatkan jiwa anda.

Penelitian Barna Group tentang pandangan kaum fundamentalis terhadap diri-sendiri, pandangan sekulkaris terhadap mereka serta bagaimana kenyataan kehidupan mereka, menunjukkan bahwa makin banyak orang memandang negatif terhadap para fundamentalis, dan orang luar mengatakan mereka sebagai terlalu suka menghakimi, dan kebanyakan munafik. Parahnya lagi, kaum muda mereka yang secara teratur pergi kegereja, sering mempuyai persepsi negatif yang sama seperti orang luar.

Jika kota-kota yang Bible-minded lebih rawan kejahatan, artinya membaca dan percaya pada Bible tidak memiliki pengaruh positif pada bagaimana orang berperilaku, dan mungkin justru memiliki pengaruh negatif. Jika persentase orang yang percaya pada Bible lebih tinggi, dan jika kepercayaan pada Bible berarti meningkatkan moralitas, maka tingkat kejahatan umum harusnya lebih rendah, bukan lebih tinggi. Itulah sebabnya orang luar memandang kaum fundamentalis kebanyakan munafik.

Dalam buku terbitan Barna Group “Un-Christian” diakui bahwa orang Kristen tidak lebih bermoral dalam bagaimana mereka hidup daripada yang lain. Sebagian besar gaya hidup orang Kristen fundamentalis sama dengan yang sekuler. Mereka sama-sama mungkin bertaruh atau berjudi, mengunjungi situs porno, mengambil sesuatu yang bukan milik mereka, mempercayai peramal dan cenayang, berkelahi atau memaki, minum dan mabuk, menggunakan obat terlarang, berbohong, merebut hak dan memfitnah orang lain. Tetapi meskipun mereka tidak lebih bermoral dari orang lain, mereka percaya bahwa orang lain tidak mau mengikuti aliran mereka karena “tidak sanggup mengikuti standar yang ketat untuk mengikuti Kristus." Ini membuat mereka merasa seolah-olah “lebih baik dari pada orang lain" meskipun kenyataannya tindakan mereka tidak berbeda dari orang yang tak beriman. Dalam penilaian Peron, mereka adalah orang-orang yang membutuhkan rasa lebih super dari orang lain dan menggunakan "iman" mereka sebagai alasan. Tidak berarti mereka lebih bermoral dalam arti apapun, hanya merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.

Meskipun kita tidak dapat menyamakan umat Islam di Indonesia dengan umat Kristen di Amerika, keduanya sama-sama terlibat masalah fundamentalisme. Bahkan penganut semua agama. Kita juga menengarai adanya kelompok-kelompok orang-orang yang tersirat merasa lebih baik dari orang lain karena yakin bahwa Allah berpihak kepada mereka. Sikap memonopoli Allah, tanpa disadari dapat melambungkan rasa takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Ini adalah jebakan setan yang berbahaya. Ini adalah kesempitan hati yang menyamar sebagai ketaatan beragama.


Tapi ada pula segi positip aliran fundamentalis, seperti saya tulis dalam Teka-teki Pewaris Dunia, umumnya kaum fundamentalis hidup tidak konsumtif, mereka senang berkorban, tidak mementingkan hidup “kini dan disini”. Mereka bekerja keras untuk membangun dunia tersendiri yang berbeda dari mainstream dengan membangun sekolah-sekolah dan pusat-pusat kegiatan sendiri. Mereka mempunyai rasa kebersamaan yang kuat, dan bekerjasama demi kebaikan bersama kelompok mereka. Rasa keagamaannya kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan ideologi orang lain.

23/01/14

KONTROVERSI PENGUBURAN OBL


KONTROVERSI PENGUBURAN OSAMA BIN LADEN
Oleh: Jum’an

Osama Bin Laden, Pemipin Al-Qaeda ditembak mati oleh pasukan khusus Angkatan Laut Amerika (US Navy SEAL) pada 1 Mei 2011 di rumah persembunyiannya di Abbottabad Pakistan. Untuk menyakinkan bahwa yang mereka tembak benar-benar Osama Bin Laden agen-agen CIA mengambil sample DNA-nya untuk dibandingkan dengan profil dari beberapa anggota keluarganya. Istri Bin Laden yang tinggal dirumah itu juga menyaksikan jenazah suaminya. Demikian pula Safiyah putri Bin Laden yg waktu itu berusia 10 tahun. CIA juga membandingkan foto-foto jenazah dengan foto-foto Bin Laden yang ada. Menurut penasehat antiterorisme Presiden Obama, John O. Brennan, berbagai bentuk identifikasi ditempuh untuk meyakinkan diri sebelum memberitahu rakyat Amerika dan dunia bahwa Bin Laden benar-benar sudah tewas.  Foto-foto jenazah tidak segera  dirilis; meskipun perlu untuk menuntaskan spekuklasi bahwa pria yang tewas itu benar-benar Bin Laden, tetapi ditakutkan bahwa foto-foto itu justru akan merangsang kebangkitan para jihadis. Jasad Osama segera diterbangkan dengan helikopter ke markas Amerika di Afghanistan selanjutnya ke kapal induk USS Carl Vinson untuk untuk ditenggelamkan kedasar Laut Arabia Utara. Brennan menegaskan bahwa penguburan dilakukan sepenuhnya secara Islam dan tidak melewati 24 jam dari saat kematiannya. Jenazah dimandikan, dibungkus kain kafan putih, dimasukkan dalam kantong mayat yang diberi pemberat dan dibacakan doa dalam bahasa Arab. Kantong jenazah itu diletakkan diatas papan lalu diluncurkan kelaut dari dek kapal paling bawah. Kata John Brennan, perencanaan penguburan bin Laden sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya untuk berjaga-jaga dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan termasuk apakah Osama akan tertangkap hidup atau mati. Pemerintah AS telah berkonsultasi dengan ahli-ahli Islam tentang seluk beluk penguburan menurut Islam. Adapun alasan mereka menguburnya di laut adalah untuk mencegah agar makamnya tidak dijadikan tempat keramat oleh para pengikut dan simpatisannya kelak.

Secara umum Islam mengizinkan penguburan di laut dalam keadaan tertentu seperti untuk orang yang meninggal dalam perjalanan laut dan terlalu jauh dari darat untuk memungkinkan penguburan. Sehingga beberapa cendekiawan dan ulama Islam berbeda pendapat mengenai apakah penguburan di laut untuk Osama sesuai atau justru merupakan penghinaan terhadap umat Islam. Sebagian mengatakan, Bin Laden yang mati didarat seharusnya dikubur didarat dengan kuburan sederhana, dengan muka dihadapkan  kearah kiblat (Mekkah). Daily Mail Inggris tanggal 3 Mei 2011 memuat beberapa komentar  tentang penguburan Osama Bin Laden. Tokoh radikal hizbut-tahrir, Omar Bakri Mohammed yang dilarang tinggal di Inggris mengatakan: “Amerika ingin menghina umat Islam melalui pemakaman ini". Mufti Besar Dubai, Mohammed al-Qubaisi mengatakan: “Penguburan di laut diperbolehkan bagi umat Islam dalam keadaan luar biasa. Ini tidak termasuk diantaranya. Amerika boleh mengatakan menguburnya di laut, tapi mereka tidak bisa mengatakan melakukannya menurut Islam”. Ulama Sunni dari Baghdad, Abdul Sattar al-Janabi menambahkan: "Apa yang dilakukan oleh Amerika dilarang oleh Islam dan menjengkelkan sebagian kaum Muslimin. Tidak dapat diterima dan hampir merupakan kejahatan untuk melemparkan tubuh seorang Muslim ke laut." Tetapi Mohammed Qudah, profesor hukum Islam Universitas Jordan, berpendapat pemakaman di laut tidak dilarang. “Tanah dan laut milik Allah, yang mampu melindungi dan membangkitkan orang mati pada hari kiyamat kelak.”

Dari sudut lain, apakah Bin Ladin berhak untuk memperoleh penguburan Islam? Ada juga yang berpendapat tidak. Pada tahun 2005 Komisi Islam Spanyol pada dasarnya telah mengkucilkan Bin Laden, dan menyatakan bahwa dia tidak harus diperlakukan sebagai seorang Muslim.  Mereka pasti merasa bingung sekarang, mengapa Amerika bersikukuh dan bersusah-susah untuk memberikan kehormatan dengan melaksanakan penguburan secara Islam. Fatwa Komisi Islam Spanyol itu mengutuk bin Laden dan anggota Al Qaeda sebagai murtad karena mereka menggunakan kekerasan, dan mengajak umat Islam untuk memerangi secara aktif melawan terorisme. Fatwa ini secara khusus mengecam Bin Laden, dan sebagai pengingat bahwa hampir 1 juta umat Islam Spanyol mengutuk terorisme. Mansur Escudero, Sekjen Komisi Islam Spanyol mengatakan: "Ini adalah kontribusi kami komunitas Muslim Spanyol yang menyatakan bahwa bin Laden dan Al Qaeda bukan Muslim; mereka berada di luar Islam" Fatwa tersebut menyebut-nyebut Alquran dan Sunnah Nabi dalam mengkucilkan bin Laden. "Sejak Bin Laden dan organisasinya membela legalitas terorisme dan mendasarkan pembelaan itu pada Alquran dan Sunnah  ... [mereka] telah membuat dirinya murtad." Fatwa ini nampaknya tidak terlalu bergaung dan tidak mempunyai dampak yang berarti, kecuali bagi menjaga hubungan muslimin Spanyol dari friksi-friksi dengan kaum Nasrani dan Yahudi di sana. Tidak urung Escudero yang banyak berperan dalam fatwa ini menjadi target ancaman dari kelompok Al-Qaeda di Irak.


Di sisi lain ada kaum Muslimin yang percaya bahwa kematian Bin Laden adalah syahid dan ia akan masuk sorga. Dari perspektif teologis, tidak begitu penting bagaimana cara Amerika membuang mayat dari kapal induk USS Carl Vinson. Rasanya tidak penting-penting amat untuk diperdebatkan…….

14/01/14

FAUSTIAN BARGAIN DAN BULUS JIMBUNG


FAUSTIAN BARGAIN DAN BULUS JIMBUNG
Oleh: Jum’an

Faust adalah seorang ilmuwan yang menjual jiwanya kepada setan. Meskipun hanya merupakan fiksi dalam karya sastra (Goethe 1749-1832), legenda Faust sebenarnya didasarkan pada tokoh nyata, seorang penyihir yang hidup di Jerman pada abad ke 15. Ia telah belajar bertahun-tahun tanpa prestasi yang memuaskan, sehingga kehilangan iman dan idealisme. Dia ingkar kepada Tuhan dan membuat kesepakatan berbahaya dengan Iblis di mana ia menyerahkan jiwanya pada kutukan abadi dengan imbalan memperoleh kekuasaan dan pengetahuan dalam kehidupan. Legenda ini telah menginspirasi banyak penulis besar, musisi, dan seniman lainnya. Banyak sekali variasi pada tema dalam teater, musik, film, puisi, seni, dan sastra. Kini nama "Faust" telah melekat pada citra tokoh yang berkuasa yang kesombongan dan keangkuhannya menyebabkan kehancurannya. Istilah “Faustian bargain” menunjuk pada kesepakatan aib untuk memperoleh kekuasaan duniawi dengan mengorbankan nilai spiritual yang lebih tinggi.

Dr Johann Georg Faust adalah seorang ahli kimia yang lahir di Jerman pada 1466. Ia meninggalkan jabatannya sebagai pengajar di Kreuznach setelah menganiaya beberapa anak laki-laki di sana. Dia pindah Universitas Heidelberg untuk belajar, dan memperoleh gelar dalam theology pada 1509, lalu hijrah ke Polandia untuk mempelajari ilmu sihir di Universitas Kraków. Pendeta Martin Luther yakin bahwa Faust mengikat kesepakatan dengan setan. Setelah itu Faust muncul di Universitas Erfurt di Jerman tengah. Dia diusir oleh Pendeta Katedral Dr Klinge karena menolak untuk bertobat. Ia mengaku telah menandatangani perjanjian dengan Iblis, dan bahwa ia lebih percaya Iblis daripada Tuhan. Sementara itu kejeniusan serta ketenarannya makin tersohor. Faust telah meramal dengan tepat bahwa Uskup Franz von Waldeck akan berhasil merebut kota Münster, dan prediksinya tentang hasil ekspedisi Philipp von Hutten ke Venezuela terbukti benar. Sekali ketika berada di penjara, ia berkata kepada pendeta penjara bahwa ia dapat menghilangan rambut diwajahnya tanpa pisau cukur asalkan di diberi sebotol anggur. Setelah sang pendeta menyediakan anggur, Faust memberinya salep arsenik, yang ketika dicoba bukan hanya rambut, kulit muka pendeta itupun terkelupas. Faust meninggal pada 1540. Dalam legenda dikatakan ia mati mengerikan, Iblis telah mencabik-cabik tubuhnya, membuangnya keatas kotoran dan matanya terpaku di tembok.

Perjanjian dengan iblis untuk memperoleh kekayaan dengan tebusan jiwa adalah yang di Jawa disebut upaya nyupang atau pesugihan. Jika Faust menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan dan pengetahuan tak-terbatas (meski setan hanya memberinya sedikit) dan tidak melibatkan nyawa orang lain sebagai tebusan, penganut ilmu pesugihan biasanya hanya menuntut kekayaan berupa harta, dan mengorbankan jiwanya serta nyawa anak-anak atau anggota keluarga lainnya. Di Klaten (Jateng) ada ilmu pesugihan yang disebut “bulus jimbung”.  Pelakunya selain menjadi kaya dalam waktu singkat dan misterius, badannya ditandai belang-belang yang makin lama makin menjalar. Ia juga harus merelakan anaknya meninggal tiap tahun, atau orang lain serumah yang dipelihara sebagai tumbal. Konon roh pelakunya akan berubah menjadi “kura-kura belang”. Lokasi untuk membuat kesepakatan nista ini ada di Desa Jimbung, Kalikotes, Kabupaten Klaten. Tempat-tempat menuntut pesugihan yang lain misalnya Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah, Gunung Kawi Jawa Timur, Parangtritis Yogyakarta serta Gunung Gede Cibodas Jawa Barat.


Orang Jawa yang santun dan andap-asor maupun orang Amerika yang gagah perkasa dapat sama-sama musyriknya, menjual jiwanya kepada setan, rela masuk neraka abadi. Bukan sekedar dalam arti kiasan tetapi nyata demi kekayaan, kekuasaan, ketenaran dan kenikmatan hidup didunia. Dengan tumbal dan teknik yang sedikit berbeda, dalam era masa kini, Faustian bargain ataupun budaya pesugihan nampaknya juga ditempuh oleh banyak politisi, penguasa maupun pengusaha. Mereka mengorbankan kepentingan rakyat untuk ambisi pribadi, mencuri uang negara untuk kampanye, korupsi untuk kemenangan partai. Para pengusaha menyengsarakan karyawannya dan mengemplang pajak untuk menebalkan kantong mereka. Semua tidak jauh berbeda dari perilaku Faust atau Pesugihan Bulus Jimbung yang musyrik itu bukan?

05/01/14

NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI


NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI
Oleh: Jum’an

Batas usia nikah untuk perempuan, menurut UU Perkawinan No.1 Th.74 adalah 16 tahun dan untuk pria 19 tahun. Dalam Peraturan Menteri Agama No.11 th.2007, bila calon suami belum 19 tahun dan calon isteri belum 16 tahun, mereka harus mendapat dispensasi dari pengadilan. Jika calon suami dan dan calon isteri belum genap berusia 21 tahun, harus ada izin dari orang tua atau wali mereka. Bila keduanya sudah lewat 21 tahun, mereka bebas menikah tanpa izin orang tua masing-masing. Agar tidak membingungkan, intinya batas usia nikah perempuan di Indonesia adalah 16 dan laki-laki 19 tahun. Di India batas untuk prempuan adalah 18 tahun, pria 21 tahn. Orang Islam yang melanggar undang-undang itu baik di Indonesia maupun di India kebanyakan beralasan bahwa Nabi Muhammad juga menikahi Aisyah pada usia muda. Sementara kita tahu efek negatif dari pernikahan terlalu muda, untuk menghadapi alasan para pelanggar mungkin perlu diberikan keterangan yang lebih dapat mereka terima. Dibawah ini sebagian penjelasan dari Dr. Amina Wadud  Professor Emerita (pari-purna) Studi Islam dalam blognya yang berjudul “Early Marriage and Early Islam”  yang menjelaskan bahwa Sunah sebagai alasan utuk nikah dini adalah keliru. Bulan Oktober yang lalu, Sembilan Organisasi Islam di Kerala, India, dimana Dr. Amina tinggal, telah mengadakan pendekatan dengan Mahkamah Agung untuk dapat mengecualikan perempuan Muslim dari undang-undang yang mengatur usia perkawinan minimum. Menurut mereka, larangan  Pernikahan Anak 2006 yang berlaku sekarang, yang mengatur usia minimum 18 tahun untuk perempuan dan 21 th untuk laki-laki, melanggar hak dasar kaum Muslimin untuk mempraktekkan agama mereka.

India adalah negara berpenduduk lebih dari 1 miliar dengan tingkat kemiskinan sebesar 22%, negara terburuk ke-55 dalam angka kematian ibu (450 per 100.000), dan angka kematian bayi, 44-55 per 1000. Semua ini berhubugan langsung terhadap pernikahan anak (dini): kemiskinan, angka kematian ibu, dan dengan demikian kematian bayi secara langsung berkaitan dengan usia perkawinan nasional. Dengan demikian salah satu cara mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan ibu, dan bayi adalah dengan mencegah perkawinan dini. Sejak diberlakukannya UU Perkawinan Anak di India pada 2006, angka kematian ibu dan bayi telah menurun dari tahun ketahun. Tetapi organisasi Islam di Kerala justru meminta Mahkamah Agung agar kaum muslimin dikecualikan karena "melanggar hak dasar untuk mempraktekkan agama mereka "! Mereka juga tidak memberikan bukti bahwa pernikahan anak adalah "fundamental" bagi agama kita, yang tanpanya akan "menghalangi" upaya kita untuk menjalankan agama. Karena tidak adanya bukti-bukti seperti itu Dr. Amina berusaha untuk menggambarkan secara obyektif proses sejarah dan budaya yang mungkin menyebabkan kesalah-pahaman seperti itu.

Cukup bukti bahwa salah satu istri Rasulullah berusia di bawah 18 ketika mereka menikah. Hal itu tidak aneh dan tidak aib disana pada waktu itu. “Ibu saya belum berusia 18 ketika menikah dengan ayah saya, dan terjadi pada abad 20 di Amerika yang Demokratis” tulis Dr. Amina. “Sementara saya mengakui bahwa ini memang terjadi, saya tidak menetapkan itu sebagai model untuk seterusnya. Yang ingin saya tunjuk adalah cara berfkir miring yang memaksakan bahwa peristiwa seperti ini merupakan model untuk seterusnya. Kita ambil contoh Rasulullah. Kita mengikuti Sunnah Rasul sebagai salah satu sumber utama hukum, etika dan perilaku. Sunnah artinya "perilaku normatif Nabi Muhammad saw.” Kita berkata, "normatif", karena Nabi juga dikenal mempunyai perilaku istimewa dalam praktek spiritualnya, ibadah, dan kedudukan sosial. Kekecualian ini tidak memiliki kekuatan pada masyarakat dan tidak pernah dikodekan menjadi undang-undang sebagai rekomendasi, persyaratan, ataupun "fundamental". Misalnya, Nabi menikah 9 kali. Semua, kecuali satu dari istri-istrinya sebelumnya pernah menikah, dan mengingat waktu di mana mereka tinggal, mereka cukup tua. Istri pertamanya, Khadijah, yang beliau nikahi pada saat ia menerima panggilan kenabian, adalah 15 tahun lebih tua darinya: Nabi 25, Khadijah 40. Pernikahan mereka berlangsung selama lebih dari 25 tahun, sampai Khadijah meninggal. Mereka menghasilkan empat anak perempuan yang hidup. Selama itu Nabi tetap melakukan monogami, meskipun kebiasaan poligami pada waktu itu sudah berjalan. Karena pernikahan ini adalah yang terpanjang bagi Nabi, mengapa bukan ini yang dijadikan standar kita mengukur normatif atau Sunnah?

Selain itu, semua istrinya, kecuali satu, adalah wanita yang lebih tua, sudah menikah sebelumnya, (baik bercerai atau janda). Karena itu, menjadikan pernikahan Nabi dg Aisyah yang masih muda sebagai preseden (kejadian awal dan dapat dipakai sbg contoh selajutnya) adalah jelas miring. Menurut Dr. Amina juga keji, memutar-balik citra Nabi, menghina nama Islam dan jelas berbahaya……. Syech Puji, ketahuilah itu!


29/12/13

KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID


KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID
Oleh: Jum’an

Zainal Abidin Muhamad Husain Abu Zubaidah atau Abu Zubaidah atau Zain atau Hani adalah tokoh Al-Qaeda yang sekarang berumur 42 tahun dan sudah lebih dari 10 tahun berada dalam kamp tahahan Guantanamo, Cuba. Menurut versi Amerika Abu Zubaidah adalah dedengkot teroris yang sangat berbahaya. Ia dinyatakan sebagai orang nomor 3 dalam Al-Qaeda. Menurut dokumen Departemen Pertahanan Abu Zubaidah terlibat dalam semua perencanaan aksi teror terhadap Amerika ketika ia menjadi petugas logistik Al Qaeda. Ia adalah konspirator serangan 11 September 2001, tangannya ada di setiap operasi penting Al–Qaeda. PBB menjulukinya rekan terkemuka Osama bin Laden dan Al-Qaeda. George Bush menamai Abu Zubaidah pimpinan perencanaan operasi pembunuhan dan penghacuran." CIA mengakui Abu Zubaidah adalah sosok yg penuh keyakinan, percaya diri dan berwibawa. Selama interogasi pada zaman Bush berkuasa, Abu Zubaidah menjalani 83 kali siksaan water-boarding dan mengalami banyak teknik interogasi yang kejam termasuk penelanjangan paksa, kurang tidur, disekap diruang sempit dan gelap, tidak diberi makan, posisi stres , dan siksaan fisik lainnya.

Belum lama ini Jason Leopold dari Aljazeera menerima terjemahan resmi buku harian milik Abu Zubaidah dari seorang mantan pejabat intelijen Amerika. Buku harian enam jilid yang ditulis selama 20 tahun itu ditemukan ketika Abu Zubaidah ditangkap pada 2002 di Pakistan. Bagi pejabat keamanan Amerika buku harian Abu Zbaidah merupakan sumber informasi yang sangat berharga untuk menemukan kelemahan mental dari tokoh yang menurut mereka memegang informasi penting rencana masa depan Al-Qaeda. Buku harian ini tidak hanya penting dari segi intelejen, karena isinya menunjukkan potret paling rinci dari kehidupan pribadi seorang mujahid berdedikasi yang pernah kita lihat. Isinya memperkuat kejelasan bahwa Amerika telah membuat kesalahan dasar yang signifikan dalam menghadapi peristiwa serangan 11 September 2001 dan menghadapi ancaman Islam radikal. Hani, nama panggilan Abu Zubaidah dalam keluarganya, adalah warga Palestina kelahiran Riyadh 12 Maret 1971. Anak ke 5 dari 10 bersaudara - 5 laki-laki dan 5 perempuan dari suami-istri Muhamad Abu Zubaidah (pengusaha kelas menengah dan guru bahasa Arab) dan Malikah;  Sang ayah ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dan menekankan pentingnya pendidikan. Hani dikuliahkan di Fakultas Teknik jurusan komputer di India. Menurut adiknya Hisham, Hani sehari-hari mengenakan bluejean yang merisaukan ayahnya, yang menginginkan anak-anaknya berpakaian tradisional Arab. Hani juga berbakat musik dan pelindung Hisyam dari kenakalan teman-temannya. "Hani adalah kakak yang baik," kata Hisyam. "Dia selalu ada ketika saya butuh pertolongan. Jika anak-anak lebih tua mulai mempermainkan saya waktu bermain sepak-bola, Hani datang menantang mereka. Hani selalu menekankan agar saya jangan mau dipermainkan orang lain.” Menurut  Hisyam, Hani tidak menunjukkan tanda-tanda ekstrimisme agama (Menurut versi Amerika dia termasuk pemuda Islam Saudi yang radikal). "Dia tidak pernah religius," kata Hisyam. "Dia suka merokok, bermain musik dan bersenang-senang." Hani lulus SMA dan meninggalkan Saudi pada umur 16 tahun dan sejak itu terpisah hingga kini. "Saya dan Hani adalah kambing hitam keluarga," kata Hisyam. "Semua saudara-saudara saya yang lain adalah dokter, profesor, psikolog. Aku tidak mampu bersaing dengan mereka." Ketika remaja Hani pernah pindah ke West-Bank bergabung dalam perjuangan melawan Israel. Abu Zubaidah telah bergabung dengan Taliban sebagai sejak awal 90-an, setelah mundurnya Soviet dari Afganistan dan tetap berada disana bersama Mujahidin melawan pemberontak komunis dan sisa-sisa mantan rezim Soviet, dan belakangan memimpin kamp pelatihan Al-Qaeda di Khalden Afganistan.

Tergantung orang menyebutnya, Teroris ataupun Mujahid, bukanlah superman, mereka bukan ahli taktik yang brilian atau prajurit yang sangat terlatih. Seringkali mereka adalah orang-orang sederhana yang berdebat dengan satu sama lain tetang hal-hal remeh, seperti terbaca dalam buku harian Hani. Tetapi Amerika menghadapinya secara all-out dengan biaya keuangan dan politik yang sangat besar.  Buku harian Hani mengungkapkan bahwa dia adalah seorang pria yang sangat anti Amerika, sekaligus menyenangi budaya Barat seperti music pop dan soft-drink. Setelah invasi AS ke Afghanistan 2001, Abu Zubaidah mencatat "Saya ingin melihat kejatuhan dan kehancuran Amerika dan Israel. Musuh-musuh Islam yang menduduki negeri kami, menghina bangsa kami, dan tdak menghargai agama kami.” Belum pernah terpikir dalam benak Amerika bahwa seorang penggemar Pepsi Cola dan lagu-lagu Barat bersedia melakukan tidakan yang begitu berani dan yakin disetujui oleh iman mereka. Ken Ballen, penasehat think tank Terror Free Tomorrow mengatakan: "Jika kita tidak mengerti apa yang memotivasi orang, bagaimana kita akan efektif berurusan dengan mereka? Jika kita dapat memahami, kita dapat menanggapi. Menyerbu Afganistan tidak sedikitpun mencegah serangan lebih lanjut. Perang Irak yang sangat mahal juga kontraproduktif.”

Hani sangat menyukai lagu-lagu Chris de Burgh, penyanyi Irlandia terutama lagu "The Lady in Red". Ia mengeluhkan bahwa lagu-lagu Chris membuatnya merasa haru – meskipun lembut dan indah tetapi membawa kesedihan dan kegelisahan jiwa, tulisnya pada 1990 dalam buku hariannya yang pertama. Hani juga penggemar film-film India. Ia menulis bahwa film Rambo III - di mana Sylvester Stallone bergabung dengan pasukan Afghanistan untuk melawan Soviet – adalah konyol.... saya tak kuat menawan tawa menonton film ini. Dia juga sering menulis tentang keluarganya dan kerinduan yang mendalam untuk mempunyai istri dan keluarga sendiri - sesuatu yang tidak sejajar dengan gairahnya mencari kesyahidan. Suatu kali ia membayangkan hidup berumah tangga, bermain dan menyayangi anaknya dan bahkan menamparnya bila perlu. “Ya! Menamparnya, kenapa tidak?" Pada tanggal 20 Maret 2002, Abu Zubaidah menulis catatan harian terakhirnya: "Tidak ada yang baru." Delapan hari kemudian, tepat pukul 2 pagi, CIA, FBI dan intelijen Pakistan menggerebek 14 rumah di Faisalabad, Pakistan, dan menangkap 52 tersangka, termasuk Abu Zubaidah.


Setelah bertahun-tahun Amerika melihat Abu Zubaidah sebagai tokoh utama bahkan orang nomor 3 dalam Al-Qaeda, pada 2007 CIA menyatakan menyadari bahwa Abu Zubaidah tidaklah signifikan: “Maaf, kami menemukan bahwa anda bukan Nomor 3, bukan mitra, bahkan bukan seorang pejuang," Menurut pengacara Brent Mickum dari The Guardian, ''Dia tidak pernah terbukti menjadi anggota Taliban atau Al-Qaeda ataupun menjadi anggota atau pendukung dari angkatan bersenjata yang bersekutu melawan Amerika.” Tidak menghargai kesahajaan mereka telah membuat Amerika salah membayangkan mereka yang sebenarnya. Jika anda membaca buku harian Abu Zubaidah, ternyata mereka adalah laki-laki biasa.

19/12/13

BERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?



SEBERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?
Oleh: Jum’an

Filosof Yunani Socrates (469 SM - 399 SM) suka mempertanyakan hal-hal yang aneh dan menjengkelkan yang mengganggu pandangan yang sudah mapan, terus menerus menantang para penguasa. Orang yang wajahnya tidak tampan, bertubuh gempal dan tidak pernah memakai alas kaki ini, berkeliling kemana-mana menanyai para pemuda serta masyarakat  tentang keadilan dan kebijaksanaan. Perilakunya itu membangkitkan kebencian para penguasa kepadanya yang menyebutnya sebagai lalat yang usil.  Kebencian akhirnya memuncak dan Socrates ditangkap dan diadili didepan 500 orang juri kota Athena. Ia diadili dengan tiga tuduhan yaitu meracuni pikiran generasi muda, tidak mempercayai para dewa dan memperkenalkan agama baru. Juri menjatuhkan hukuman mati dengan meminum racun setelah dilakukan voting yang hasilnya 280 setuju dan 220 menolak. Sementara menunggu eksekusi, diruang tahanan ia bertemu dengan sahabatnya Crito yang menawarkan bantuan untuk melarikan diri dari tahanan karena keputusan hukuman mati itu dianggapnya sangat tidak adil dan sarat dengan kepentingan politik. Socrates menolak dengan alasan bahwa merespon ketidak-adilan dengan ketidak-adilan adalah salah. Inilah argumentasi Crito: Jika eksekusi sampai terlaksana , orang akan mengatakan bahwa Crito dan teman-temannya tidak mampu menolong Socrates yang sebenarnya mempunyai banyak pendukung. Dari segi moral tidak adil kalau Socrates mengikuti kehendak musuh-musuhnya karena itu merupakan pilihan termudah, bukan pilihan yang berani, terhormat dan luhur. Ini adalah jalan kematian yang tidak adil. Socrates adalah pengecut jika tidak melawan. Sebagai seorang ayah Socrates juga wajib memelihara dan mendidik tiga orang anaknya serta mencegah agar mereka tidak menjadi anak yatim. Jika itu terjadi berarti Sicrates mengkhianati anak-anaknya. Pokoknya kegagalan untuk melarikan diri dari tahanan akan sangat konyol kerena teman-teman Socrates tidak becus menangai masalah, pengecut dan memalukan.

Socrates menjawab bahwa ia harus mengikuti bimbingan akal dengan argumentasi yang direnungkan dengan matang. Ia berpendapat, jika melakukan ketidak-adilan adalah tidak baik, maka tidak baik juga melakukan ketidak-adilan dalam menanggapi ketidak-adilan. Crito setuju; tapi itu belum menjawab apakah adil atau tidak bagi Socrates untuk melarikan diri dari tahanan. Lalu Socrates mempertanyakan apa kata hukum negara seandainya ia berhasil melarikan diri. Menurut Socrates hukum akan mengatakan bahwa pelarian dirinya adalah merusak dan tidak adil. Selanjutnya hukum negara akan mengatakan bahwa hubungan antara warga dengan negara adalah seperti anak dengan orang tuanya, seperti budak dengan tuannya. Hukum akan mengatakan bahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan pendidikan dan keikut-sertaan dalam semua manfaat dan kebaikan yang disediakan bagi semua warga. Hukum akan menanyakan bukankah Socrates telah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan jawaban hukum ini, malah justru bertanya kepada Crito apakah mereka tidak harus menerimanya saja. Crito mengatakan mereka harus menerimanya saja …… dan begitulah Socrates di eksekusi dengan meminum racun pada usia 70 th.

Orang Amerika dapat meninggalkan kewarganegaraan mereka secara sukarela; yang dikenal dengan tindakan ekspatriasi. Dari 2011 sampai kwartal ketiga 2013 tercatat 2400 orang melepaskan kewarga-negaraan mereka dan terus meningkat dari tahun ketahun. Kebanyakan mereka adalah orang kaya dengan alasan menghindari pajak yang terlalu berat. Seseorang tentunya berhak untuk bertindak sesuai denan cara yang menguntungkan dirinya. Orang kaya yang melepaskan kewarga-negaraannya demi pajak berpendapat mereka berhak melakukannya demi keuntungan mereka dan itu adalah kalkulasi yang rasional. Penghematan pajak sangat berarti bagi orang kaya, terutama jika mereka tidak terlalu membutuhkan kelebihan sebagai warga negara Amerika, atau mereka bisa mendapat keuntungan yang sebanding dg menjadi warga negara lain yg pajaknya tidak terlalu memberatkan. Sebenarnya orang kaya tidak terlalu menderita oleh pajak yg tinggi. Umumnya mereka mahir merekayasa peraturan pajak yg rumit untuk mengelak. Lagipula melepaskan kewarga-negaraan Amerika bukan hal yang ringan. Mereka tidak hanya kehilangan perlindungan dari pemerintah AS, tapi juga keuntungan finansial tidak segera dirasakan. Bahkan, mantan warga negara AS diharuskan untuk mengajukan pengembalian pajak selama beberapa tahun setelah melepaskan kewarga-negaraan. Mungkin mereka berpikir, meskipun begitu masih lebih menguntungkan dibanding menjadi warga Negara Amerika. Buktinya sudah sejak lama orang-orang kaya disana melepaskan kewarganegaraan mereka.


Tetapi rasanya melepaskan kewarga-negaraan, lebih-lebih demi uang (siapapun termasuk kita) secara moral mencurigakan. Dimana  patriotisme dan nasionalisme mereka? Dimana rasa persatuan dan kesetiaan mereka kepada negara? Belum lagi tuduhan sebagai orang yang egois. Apakah anda lebih menyukai sikap Socrates yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya seperti anak dengan orang tuanya atau bahkan budak dengan tuannya sehingga melepaskan kewarga-negaraan berarti mengkhianati orang tua yang telah mengasuh dan membesarkan anda? Atau seperti orang kaya Amerika yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya adalah hubungan bisnis belaka, bahwa warga negara pada dasarnya adalah pelanggan? 

08/12/13

BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA


BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA?
Oleh: Jum’an

Kita sama-sama mengetahui bahwa cuaca buruk di muka bumi makin sering terjadi dan bertambah mengerikan. Peningkatan ini pastilah ada asal-usul dan sebab musababnya. Entah kehendak Allah untuk menghukum manusia atas dosa-dosanya yang semakin beragam dan menggila atau akibat ulah manusia yang merusak alam dan merangsang terjadinya banjir dan badai. Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa tsunami yang melanda Aceh pada 2004 atau topan raksasa Haiyan di Filipina akhir-akhir ini adalah akibat dari perbuatan manusia merusak alam, tetapi para ahli percaya bahwa aktivitas manusia merupakan kekuatan utama di balik perubahan iklim dan perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak badai dahsyat seperti Haiyan, Sandy dan Phailin. Anggapan bahwa bencana yang mengerikan, seperti angin topan, gempa maupun tsunami adalah tindakan Tuhan untuk mengingatkan atau menghukum umat manusia, banyak dipercayai oleh kaum beragama baik Islam, Yahudi maupun Nasrani. Di Barat dan di Timur, di negeri maju maupun di negeri terbelakang. Tidak hanya sekali saya mendengar khotib solat Jum’at yang menyatakan dengan nada menuduh bahwa masyarakat Aceh yang bergelar Serambi Mekah telah meninggalkan agamanya, hilang iman mereka dan karena itu Allah menurunkan bencana bagi mereka. Ada pula ulama Iran yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tidak sopan dan berperilaku sembarangan yang seharusnya dipersalahkan atas terjadinya gempa. Menyingkap Kerudung Mengundang Gempa. Di negeri Barat banyak tokoh agama Yahudi maupun Nasrani yang meyakini bahwa gempa besar yang terjadi adalah akibat dari kegiatan-kegiatan homoseksual (perkawinan sesama jenis) yang menentang fitrah manusia atau kehendak Tuhan. Cobalah Google “homosex and earthquake” andapun akan tahu.

Ketika terjadi gempa dahsyat di Lisbon 250 tahun lalu, ketegangan antara kaum agama dan para intelektual memuncak. Inilah sekelumit kisah gempa dahsyat dan ketegangan itu: Tanggal 1 November tahun 1755 jatuh pada hari Minggu. Pagi hari itu cuaca di Lisbon ibukota Portugal sangat cerah dan hangat. Lisbon merupakan salah satu pelabuhan paling penting dan terkaya di Eropa pada saat itu. Penduduknya yang terkenal relijius sedang merayakan “Hari Semua Orang Kudus” (All Saint’s Day) dengan penuh gairah. Gereja-gereja dipenuhi jemaat pengunjung. Pukul 9.30 pagi terjadi getaran gempa yang lemah yang disusul dengan suara gemuruh yang makin keras dan makin keras, sampai menyerupai dentuman meriam dan terjadilah guncangan dahsyat yang pertama. Pada 09:40 semua lonceng kota berbunyi bersamaan karena guncangan gempa dan beberapa detik kemudian gedung-gedung mulai runtuh. Tiga guncangan besar berturut-turut terjadi selama 10 menit berikutnya, kebanyakan orang tewas akibat runtuhnya gereja-gereja yang penuh pengunjung yg sedang mengikuti misa kedua pagi hari itu.

Orang-orang melarikan diri ke arah pelabuhan di mana ada lapangan istana yang luas untuk perlindungan yg aman dari reruntuhan bangunan. Di sana mereka menyaksikan kejadian yang sangat aneh: Laut surut dan berubah menjadi daratan dan sungai Tagus kering sampai kedasar. Jam 10 lebih 10, gelombang tsunami setinggi 12 meter melanda kota dan menghancurkan seluruh pelabuhan; ribuan orang yang berada di sepanjang pantai tewas ditelan ombak. Setelah gempa dan tsunami reda, kebakaran yang mengerikan terjadi, berkobar selama lima hari lima malam menghancurkan apa yang masih disisakan oleh gempa dan tsunami. Akhirnya lebih dari tiga perempat kota rata dengan tanah, sekitar 90,000 dari 275,000 penduduk tewas. Gempa yang terjadi pada hari raya umat Katolik dan menghancurkan hampir seluruh gereja dikota Lisbon yang relijius itu sangat mengguncang kehidupan spiritual dan intelektual bangsa Eropah.

Banyak tokoh agama dan pendeta, seperti biasa menyebut gempa itu sebagai kemarahan dan hukuman Tuhan terhadap dosa-dosa manusia.Tetapi para intelektual waktu itu, seperti ahli filsafat Voltaire dan Jean Jacques Rousseau, menolak pendapat gempa sebagai hukuman Tuhan tetapi menyebutnya sebagai kejadian alam yang netral. Sekarang, dua setengan abad kemudian kita tahu bahwa kulit bumi merupakan lempeng-lempeng tektonik yang mengambang di atas magma cair. Gempa bumi terjadi karena pergeseran antar lempeng-lempeng ini.Teori lempeng tektonik merupakan tulang punggung geologi modern dan dapat menjelaskan hampir semua pristiwa gempa besar didunia.


Menurut sejarah, manusia baru menghuni bumi beberapa ratus ribu tahun terakhir, sedangkan badai, gempa dan letusan gunung berapi telah berlangsung selama 4 miliar tahun atau lebih. Bagaimana mungkin akhlak masyarakat Aceh dikait-kaitkan sebagai penyebab gempa yang sudah berjalan milyaran tahun? Keyakinan kita tetap, bahwa Allah adalah sumber hukum yang mengendalikan fenomena alam - tetapi sangat tidak relevan untuk mengatakan bahwa gempa Aceh 2004 disebakan oleh dosa-dosa masyarakatnya. Apapun pendapat kita, sikap yang jelas lebih bermanfaat adalah berusaha mengurangi korban yang jatuh karena bencana alam itu. Jika kita ingin menyelamatkan nyawa mereka, sangat penting bagi kita memahami ilmu dibalik gempa bumi, meteorologi dan klimatologi daripada mencari-cari dosa orang-orang yang sedang haus pertolongan. Wallohu a’lam.