22/10/15

MUSLIHAT AKHIR MASA JABATAN


MUSLIHAT AKHIR MASA JABATAN
Oleh: Jum’an

Perasaan senang selalu timbul ketika orang berhasil menyelesaikan tahap akhir dalam kegiatannya seperti menyelesaikan kuliah di Perguruan Tinggi atau membangun rumah. Kita serta merta menjadi baik budi dan murah hati. Mengunjungi teman lama, makan di luar bersama keluarga atau bersedekah. Disertai harapan agar kesalahan-kesalahan yang dilakukan waktu menyelesaikan kegiatan itu tertebus dan agar terhindar dari terpeleset pada momen momen terakhir. Tetapi segala sesuatu selalu ada sisi terang dan sisi gelapnya. Demikian pula dengan sensasi yang menyenangkan dari tahap akhir suatu kegiatan. Euforia karena keberhasilan sekaligus mengendorkan kewaspadaan. Perasaan tanpa beban menyebabkan  orang cenderung bertindak menggampangkan dan gegabah.  

Menurut hasil sebuah penelitian terbukti bahwa pada babak akhir suatu kegiatan, orang cenderung terangsang untuk menipu ketika mereka memiliki peluang. Motivasi dibalik perbuatan jahat tersebut adalah kekhawatiran mereka akan menyesali kehilangan kesempatan yang terakhir. Dalam penelitian itu ratusan peserta direkrut melalui internet untuk berpartisipasi dalam eksperimen melempar koin dan menebak sendiri apakah koin itu akan jatuh pada permukaan yang satu atau yang sebaliknya. Setiap eksperimen terdiri dari 20 kali lemparan. Sebagian diminta untuk mengulang eksperimen itu sebanyak 7 ronde, yang lain 10 ronde dan kelompok lain lagi 13 ronde. Tebakan yang benar akan diberi kompensasi sedikit uang tunai. Semua diminta untuk melaporkan hasil tebakannya dengan jujur agar penelitian itu bernilai. Tetapi karena mereka mengerjakannya secara pribadi, maka bila peserta berbohong pun tidak akan ketahuan. Tetapi menurut statistik, koin yang dilempar berkali-kali, kemungkinan jatuh pada satu sisi atau sisi yang lain rata-rata adalah sama yaitu sekitar 50%. Pada ronde-ronde awal laporan hasil tebakan yang benar memang menunjukkan angka disekitar 50. Tetapi pada ronde akhir angka itu berubah drastis. Mereka yang diminta mengikuti percobaan 7 ronde, menipu dan melaporkan tebakan benarnya sangat tinggi pada ronde ke tujuh. Demikian pula yang diminta mencoba 10 ronde, mereka masih jujur sampai ronde ke 9 dan menipu seenaknya pada ronde ke 10. Demikian pula kelompok 13 ronde. Ini membuktikan kecenderungan menipu pada tahap akhir memang benar terjadi. Dan bahwa apa yang membuat orang ingin menipu bukan berapa banyak kesempatan yang mereka miliki, tetapi berapa banyak peluang yang masih tersisa.

Untuk memperjelas apakah fenomena penipuan pada tahap akhir ini juga berlaku dalam kehidupan yang nyata, diadakan eksperimen sejenis. Para peserta penelitian diminta untuk membaca 7 atau 10 buah artikel dan akan dibayar sesuai dengan lamanya waktu yang mereka laporkan untuk menyelesaikan setiap artikel. Tanpa sepengetahuan mereka, waktu mereka juga dicatat dengan timer rahasia. Hasilnya tidak berbeda dengan eksperimen melempar koin, ketika mereka membaca artikel terakhir mereka melaporkan menghabiskan waktu setidaknya 25% lebih dari yang sebenarnya mereka lakukan, demi bayaran lebih tentunya. Kecurangan kebanyakan terjadi ketika orang berfikir mereka mendekati garis finish.

Menggunakan analogi akhir masa jabatan dengan ronde terakhir atau garis finish, sangat pantas diduga bahwa seseorang pada akhir masa jabatannya cenderung berkeinginan menipu untuk kepentingan pribadi setiap ada kesempatan. Sebab kalau tidak, ia akan kehilangan kesempatan terakhir yang ada. Apalagi menurut penelitian itu, kemampuan untuk mengantisipasi masa depan meningkat ketika seseorang berada pada tahap akhir kegiatannya. Kemampuan antisipasi dapat membantu orang memeras tenaga untuk memeperoleh tambahan hasil hingga maksimal pada saat-saat terakhir seperti petinju yang hampir kalah, tetapi berhasil menghajar lawannya hingga K.O. pada ronde terakhir.


Ketika masa jabatan menjelang berakhir maka situasi menjadi rawan terhadap penyelewengan. Sesuai dengan kewenangan yang dimiliki, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok, mereka merekayasa kegiatan-kegiatan yang dapat mengalirkan uang untuk mereka secara tidak halal. Membangun fasilitas-fasilitas yang tidak urgen misalnya gedung pertemuan, komputerisasi administrasi, atau bila perlu memindahkan lokasi pasar. Saya menduga bahwa banyak proyek rekayasa yang diputuskan disaat menjelang akhir jabatan yang telah mengakibatkan banyak kebocoran dalam pembiayaannya. Oleh karena itu kewaspadaan yang lebih, perlu ditegakkan terhadap keputusan-keputusan yang diambil pada akhir masa jabatan untuk mencegah adanya kesengajaan memanfaatkan peluang terakhir untuk korupsi. Percayalah!

16/10/15

BERKERUMUN DAN BERDESAKAN


BAHAYA BERKERUMUN DAN BERDESAKAN
Oleh: Jum’an

Tragedi Mina 2015 yang menewaskan lebih dari 1000 jamaah haji mengingatkan bahwa potensi bahaya kerumunan massa adalah nyata dan menakutkan sehingga orang harus waspada  setiap saat. Kesalahan manusia berulang dari waktu kewaktu seiring dengan dinamika kehidupan yang tidak pernah berhenti. Penyelenggara acara-acara perhimpunan besar yang rutin harus selalu berusaha menjaga, mengatisipasi dan mengevaluasi keamanan dan keselamatan hadirin yang terlibat dalam acara itu. Lebih-lebih peyelenggaraan ibadah haji yang berskala internasiaonal. Pemerintah Arab Saudi telah melibatkan ahli-ahli dari seluruh dunia termasuk dari perusahaan desain tingkat Dunia terkenal  Arthur Gensler Associates  dari San Francisco AS dalam Mega Project “Redesigning Mecca” untuk meningkatkan aliran dan keselamatan di semua situs utama haji, dari masjidil-haram sampai ke Mina. Seperti kita ketahui tragedi kematian massal karena berdesakan tidak hanya terjadi pada jamaah haji dan acara ziarah keagamaan lainnya tetapi juga dalam banyak acara–acara sosial budaya seperti prosesi pemakaman, acara hiburan, pembagian bahan makanan, bencana alam, insiden kebakaran, kerusuhan dan acara olahraga. Salah satu insiden desak-desakan massa yang fatal yang mungkin pertama kali didokumentasikan terjadi pada tahun 1896 ketika penobatan Tsar Nicholas II di Rusia. Sebanyak 1.000 orang tewas setelah rumor menyebar dikalangan pengunjung bahwa stan pembagian hadiah kehabisan souvenir. Pada tahun 1941, selama pemboman kota Chongqing di Cina oleh Jepang 1.000 orang tewas ketika berdesak-desakan di terowongan Jiaochangkou yang merupakan jalur menuju ke tempat perlindungan dari serangan udara. Suatu studi epidemiologi mencatat sebanyak 215 peristiwa fatal berdesakan antara tahun 1980 dan 2007.

Berdesak-desakan adalah gerakan akibat rangsangan massal diantara kerumunan ternak atau manusia dimana mereka secara kolektif mulai bergerak tanpa arah atau tujuan yang jelas. Rangsangan ini merupakan respons biologis di dalam otak dan kelenjar endokrin, yang bagi hewan ternak berguna untuk membantu menghindarkan diri dari sergapan predator. Anehnya manusia begitu rentan terhadap bahaya ketika berada dalam kerumunan massa. Padahal ikan teri (bilis) sampai jenis burung jalak sangat kompak dalam berkoordinasi ketika mereka sedang ramai berkelompok. Mereka tidak pernah saling bertabrakan. Ribuan burung yang terbang dengan kecepatan tinggi sanggup melakukan manuver secara tiba-tiba dengan koordinasi yang tepat; sungguh mengagumkan. Ternyata hewan memiliki sistem sosial dan membuat keputusan bersama yang sangat teratur. Menurut pakar ekologi Dr. Iain Couzin kawanan burung atau kelompok ikan yang sangat sigap berkordinasi menandakan bahwa mereka telah ber-evolusi  untuk melakukannya.  Sayangnya, manusia tidak demikian. Kita telah berkembang menjadi kelompok keluarga kecil. Pada manusia biasanya insiden berdesakan terjadi karena rasa panik yang menyebar, bukan karena lingkungan yg benar-benar berbahaya. Respons mereka lah yang menciptakan bahaya. Respons kolektif yang kuat adalah hal yang sangat berbahaya dalam situasi tertentu.

Ada empat unsur utama yang perlu diingat untuk dapat memahami penyebab, upaya pencegahan dan kemungkinan meringankan bahaya kerumunan yang sedang berlangsung. Juga untuk mengingatkan bahwa situasi kerumunan dapat dengan cepat menjadi ancaman dan berpotensi mematikan. Pertama, kekuatan desakan dari kerumunan massa. Kekuatan desakan beberapa orang saja sudah cukup mematikan. Dalam kerumunan yang padat seseorang tidak dapat menahan kaki di tanah dan tidak bisa mengontrol kemana akan bergerak. Ia hanya bisa mencoba untuk menjaga keseimbangan saja. Desakan massa dapat meningkat sampai tidak mungkin untuk ditahan.  Sebagian besar kematian dalam tragedi berdesakan adalah karena sesak nafas, bukan karena terinjak-injak. Besarnya kekuatan desakan massa terlihat dari pagar baja yang sampai bengkok setelah beberapa insiden yang fatal. Kekuatan itu berasal dari dorongan dan efek domino dari orang yang bersandar satu sama lain. Sesak nafas terjadi pada orang-orang yang tertumpuk secara vertikal, atau dorongan  dan himpitan horizontal. Unsur yang ke dua adalah informasi, yang menyebabkan massa bertindak atau bereaksi. Termasuk semua sarana komunikasi, pemandangan dan suara yang mempengaruhi persepsi massa, pengumuman kepada publik, tindakan personil, tanda-tanda, dan bahkan loket karcis, yang dapat memicu gerakan kelompok yang cepat. Yang ketiga, ruang atau tempat dimana insiden kerumunan terjadi. Konfigurasi, daya tampung dan kemampuan mengatur lalu lintas hadirin menentukan kepadatan kerumunan. Ruang tempat berdiri dan duduk, perkiraan jumlah hadirin, kapasitas koridor,  tangga, pintu, eskalator, dan lift. Yang terakhir adalah unsur waktu: lamanya acara, penjadwalan serta kecepatan untuk mengatur kelancaran. Perlu diingat bahwa pada proses kedatangan kepadatan lebih bertahap dan renggang sebelum acara, dibandingkan saat keluar dimana kerumunan bergerak lebih capat dan lebih padat.

Strategi sederhana untuk mencegah bencana kerumunan massa adalah dengan mengorganisir dan mengontrol lalu lintas dengan sarana pembatas. Tetapi pagar pembatas dalam beberapa kasus dapat menggiring kerumunan menuju daerah yang justru sudah padat. Oleh karena itu pagar pembatas dapat menjadi solusi maupun penyebab berdesakan. Yang menjadi masalah adalah kurangnya umpan balik dari orang-orang yang terhimpit dibagian depan kepada orang banyak yang mendesak dari belakang - umpan balik sebenarnya dapat diberikan oleh pengawas dari tempat yang lebih tinggi, seperti panggung atau diatas kuda, yang dapat mengamati kerumunan dan menggunakan pengeras suara untuk berkomunikasi dan mengarahkan orang banyak.

Kerumunan yang besar bisa sangat aman, dan kerumunan kecil dapat mematikan. Secara umum kerapatan empat orang per meter persegi adalah rasio yang aman. Jika lebih dari itu-terutama dalam kerumunan yang bergerak- sebaiknya anda mencari jalan untuk keluar. Jika tidak, jika seseorang mendorong anda, anda tidak akan memiliki ruang untuk menapakkan kaki untuk menstabilkan diri. Jika anda jatuh, orang lain mungkin tersandung anda, membuat tabrakan beruntun. Sementara itu kerumunan yang selebihnya akan terus merangsek maju, tidak menyadari situasi anda, dan tekanan akan menumpuk. Tanda bahaya lain yang lebih jelas adalah bila anda merasa tersentuh dari keempat sisi; kiri kanan depan belakang. Itulah saat untuk anda berusaha menghindar dari krumunan. Kesempatan terakhir adalah ketika anda merasakan gelombang kejut merambat melalui kerumunan. Yaitu ketika orang-orang di belakang mendorong maju, tetapi orang-orang di depan tidak dapat bergerak. Jika anda merasakan goyangan penonton seperti ini, Anda berada dalam bahaya serius. Tunggu sampai kerumunan berhenti bergerak dan kemudian lambat-lambat cari jalan ke samping dan ke belakang, zig-zag untuk menyelamatkan diri.


09/09/15

LHO! ANDA KAN PAUS



LHO! ANDA KAN PAUS
Oleh: Jum’an

Siapalah saya ini mau mepersunting puteri juragan! Bagai pungguk merindukan bulan.  Saya sadar dan tahu diri, saya hanya satpam kantor koperasi, miskin dan kurang gizi. Mengenaskan betul nada ungkapan ini. Sebuah pengakuan yang rendah hati, pasrah,  bersahaja, terus terang, dan mengundang simpati. Siapalah saya ini juga memberi jalan  untuk mengelak dari beban atau tuntutan yang terlalu berat. Kalau anda diminta untuk memprediksi bagaimana ekonomi Indonesia 10 tahun yang akan datang, jangan lama-lama berpikir ucapkan saja mantera ini: Siapalah saya ini diminta meramal ekonomi bangsa satu dekade kedepan! Lebih-lebih bila anda diminta menilai pribadi seseorang. Jangan suka menghakimi jangan mudah menilai katakan saja siapalah saya ini untuk menilai pribadi orang.  Ingat ketika Paus Francis ditanya oleh wartawan tentang sikapnya terhadap pendeta gay. Beliau menjawab:Jika seseorang gay dan ia mencari Tuhan dan memiliki niat baik, siapalah saya ini untuk menghakimi?" Paus bukan orang awam yang dapat menggunakan ungkapan sekehendak hatinya seperti kita. Ucapannya ternyata telah menghebohkan dan mengundang kontroversi. Banyak orang yang mendengarnya kaget dan bingung: Lho anda kan Paus! yang tugasnya justru untuk menghakimi mana yang salah dan mana yang benar? Mengapa tiba-tiba mengatakan siapalah saya ini untuk menghakimi? Bukankah penghakiman - terutama dalam hal seksualitas - sudah berabad-abad menjadi bagian dari job description kepausan?. Seperti orang tahu, agama Katholik, sebagaimana Islam juga, mengaharamkan homoseks sebagai salah satu dosa besar. 

Ungkapan Paus siapalah saya ini untuk menilai, menurut NewYork Times tentulah tidak bermaksud menafikan kewenangan gereja dalam hal iman dan moral. Ia hanya mengadopsi nada rendah hati. Perbuatan homoseks jelas dosa tetapi kecenderungan gay menurut Paus bukan masalah. Tetapi pemilihan nada rendah hati dan penggunaan kata gay oleh Paus menjadi penting dan mempunyai dampak. Ini memberi sinyal bahwa Vatican akan berhenti meng-kambinghitam-kan kaum gay dalam masalah personalia dan kedinasan. Dan juga berdampak besar yang melegakan kaum gay, lesbian, biseksual dan transgender muda terutama yang dibesarkan dalam keluarga Katolik, yang selama ini berpikir bahwa aspirasi mereka hanyalah dosa dan keji, noda moral urutan tertinggi.

Bagaimanapun nada, kesan dan dampak ucapan Paus tentang siapalah dia untuk menilai, banyak juga orang yang lebih suka mengartikan apa adanya, secara harfiah. Ronald Mann, professor Fisika Univ. Louisville menulisnya dalam Crisis Magazine. Ia merasa gerah dan bosan dengan kekonyolan ucapan Paus “siapalah saya ini”. Hanya Tuhan yang bisa menilai jiwa manusia. Tetapi omong kosong untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menghakimi perilaku manusia. Keengganan untuk menilai perilaku moral adalah konsekuensi tak terelakkan dari subjektivisme yang telah mengikis kepercayaan pada kemampuan untuk menentukan kebenaran moral obyektif yang mendasari penilaian yang baik. Penghakiman adalah bagian penting dari pelaksanaan kewenangan. Jika Anda tidak memiliki keberanian untuk menilai, maka Anda harus menghindari posisi otoritas. Tidak mau menghakimi adalah kutukan zaman kita. Tidak mau menghakimi adalah melalaikan tugas yang menimpa begitu banyak hirarki Gereja. Mengaburkan pesan Tuhan, menabur kebingungan di kalangan umat beriman, dan melemahkan usaha awam untuk melawan kepalsuan.

Tidak adanya penilaian dan penghakiman yg kompeten sehubungan dengan skandal sodomi meningkatkan perilaku menyimpang dari sedikit pendeta yg bobrok menjadi skandal internasional yang menjadikan kepausan dicemooh dan melumpuhkan Gereja selama beberapa dekade. Kebanyakan pendeta, uskup, kardinal, dan paus adalah orang-orang baik yang berdedikasi. Tapi mereka memiliki kesalahan, bias, dan kesombongan seperti orang lain juga. Menjilat merupakan bahaya yang selalu ada. Semua orang selalu ingin dipromosikan ketingkat yang sebenarnya ia belum mampu mengerjakannya. Dan ini jelas berlaku bagi anggota hirarki Gereja. Sehingga mereka sering menyerah pada semangat sesaat yang menyamar sebagai kepedulian gereja. Sikap transparan, terbuka dan rendah hati memang terpuji tapi mengendalikan narasi ketika seorang pejabat otoritas berbicara didepan umum adalah penting. Media masa kini sangat siap mengolah dan menafsirkan serta menyiarkannya. 

Yang menarik bukan hanya siapalah saya ini, tetapi juga siapalah dia itu: Siapalah dia itu! Mencaci maki pemerintah seenak perutnya. Kasih dia jabatan ….paling juga tidak becus! Memang siapalah saya ini tetapi siapalah dia itu.


28/08/15

SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI...


SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI…
Oleh: Jum’an

Saya memang kurang mampu mengontrol tindakan dan perilaku saya sesuai dengan yang saya inginkan. Tidak bisa berdisiplin dalam mengatur waktu sehingga banyak peluang yang terlewat hilang sia-sia. Begitu banyak pekerjaan yang saya rencanakan, sasaran yang ingin saya capai tetapi begitu sedikit yang kesampaian. Satu jam lebih menguap dengan cepat hanya untuk membaca dan membalas e-mail, menengok facebook, menonton video You Tube yang dikirim teman atau membaca berita. Selalu terdengar bisikan yang siap memaafkan menunda pekerjaan yang utama: “Yang itu kan bisa nanti. Kalau bisa besok kenapa harus sekarang. Apa salahnya ditunda sehari”. Kebiasaan tarsok-tarsok ini terasa sebagai beban yang makin berat sehingga menimbulkan rasa dongkol dan membenci diri sendiri karena memang saya sendirilah biang penyebabnya.

Sudah lama saya mempunyai angan-angan untuk menulis tentang Malala Yousafzai. Saya merasa tidak senang karena sebagai seorang muslimah yang belum begitu matang ia disanjung dan diidolakan oleh Media Barat, sampai-sampai dinominasikan untuk memperoleh hadiah Nobel. Risi rasanya mendengar ia mengucapkan kata-kata yang sepantasnya diucapkan orang yang lebih dewasa dengan jari menunjuk-nunjuk seperti menggurui. Saya duga banyak orang juga kurang senang meskipun misi mereka bermaksud meningkatkan pendidikan anak-anak perempuan di lingkungannya. Mulailah saya mengumpulkan dan membaca segala ihwal tentang Malala dan komentar orang-orang mengenai dia. Tetapi karena kebiasaan menunda-nunda, saya lama-lama menjadi kesal karena terlalu asik mengunduh berita dari segala penjuru dan enggan untuk mulai menulis.

Perasaan kesal itu membuat saya kurang bergairah untuk meneruskan rencana menulis tentang Malala. Seperti ada yang memaksa-maksa padahal rencana itu adalah cita-cita saya sendiri. Sampai akhirnya saya tidak tertarik lagi terus menerus melihat potret Malala dan mulai mencari-cari topik lain. Saya memilih membiarkan Malala bertingkah semaunya diusung kesana kemari dan diliput oleh wartawan barat. Biar orang lain saja yang menilai. Saya tidak peduli. Lagipula ia bukan anak Indonesia!

Tidak jarang saya terbelah menjadi dua: saya yang sadar dan berfikir rasional mempunyai rencana dan cita-cita dan saya yang senang menunda, mengelak dan enggan bertindak untuk mencapai cita-cita itu. Sayangnya pergulatan antara keduanya sering dimenangkan oleh bawah sadar saya yang membangkang terhadap kehendak akal sehat.


Memang bawah sadar kita lain kelakuannya. Ia bukan berpedoman kepada rasio. Ia konon bekerja dengan menggunakan prinsip keakraban. Penelitian oleh Robert Zajonc ahli psikologi sosial terkenal telah membuktikan bahwa keakraban sederhana cukup membuat seseorang menyenangi sesuatu. Lebih akrab lebih suka. Dan keakraban semata dapat menyalip pemikiran sadar dan mempengaruhi pengambilan keputusan. Orang cenderung mengembangkan pemilihan berdasarkan keakraban. Kita umumnya lebih akrab yang aman, yang nyaman dan menyenangkan dan tidak dari yang sebaliknya. Begitulah saya selalu memutuskan memilih  mengerjakan yang lebih menyenangkan meskipun niat semula ingin berkarya. Bila tidak ada teguran atau akibat buruk yang terasa saya terus menggunakan autopilot keakraban untuk mengendalikan aktivitas sehari-hari. Kalau hanya kadang-kadang, menunda tidak apa-apa. Setiap orang juga sekali-sekali menunda pekerjaan mereka. Tetapi bila menjadi kecanduan, beginilah akibatnya hanya ingin menulis dua halaman saja tidak tuntas. Akibatnya urunglah niat saya mengumpat Malala…

05/08/15

MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI


MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI
Oleh: Jum’an

Alim dalam bahasa Indonesia berarti banyak mempunyai ilmu terutama dalam hal agama Islam. Juga berarti saleh yaitu taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah atau suci dan beriman. Apakah saya termasuk orang alim? Pengetahuan agama Islam saya, syahadat serta rutinitas ibadah saya menunjukkan bahwa saya berada di atas jalur untuk menjadi orang alim. Karena pandangan tentang diri-sendiri adalah subjektif dan tingkat kealiman sebenarnya tidak dapat diukur, saya perkirakan bahwa tingkat kealiman saya mungkin rendah sekali. Tetapi karena kebaikan yang hanya yang sebesar zarahpun tetap berharga, saya berani mengaku mempunyai tingkat keimanan serta kealiman tertentu betapapun rendahnya dihadapan Allah dan dalam pandangan orang lain. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman saya sering atau kadang-kadang merasa begitu dekat dengan Allah; perasaan yang pasti juga sering anda alami. Sedekat yang sering digambarkan orang sebagai “seolah-olah berdialog langsung” denganNya. Biasanya saya lalu meneteskan air mata atau tersedu-sedu atau hati menjadi lega atau bangkit bersemangat ataupun tidak risau lagi tentang kesulitan duniawi. Seperti yang dikatakan dalam Qur’an: Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram? Pengalaman dan perasaan seperti itu saya anggap mempunyai nilai spiritual yang dalam dan saya menikmatinya.

Setelah lama merenungkan kilas balik pengalaman batin itu saya menengarai adanya pengaruh yang menyimpang terhadap perilaku hidup saya. Kedekatan itu lama-lama menimbulkan keyakinan bahwa Allah memang memperhatikan saya secara pribadi, memahami semua kelemahan-kelemahan saya dan dengan sifatNya yang Maha Pemurah lalu mengasihani, memberikan maaf dan kelonggaran untuk saya. Saya merasa sebagai seorang hamba yang disayangiNya. Dan ini membuat saya tidak risi atau canggung mengendorkan disiplin beribadah. Saya sering terlambat salat tanpa perasaan menyesal karena yakin bahwa Dia mengerti saya: hambaKu yang lemah ini terlalu lelah mengais rejeki yang halal. Biarlah terlambat salat sedikit tak apa. Begitu bayangan sikap Allah dalam kepala saya.

Apakah ini sebuah anugerah atau perangkap? Kelemahan mental yang menyamar sebagai ketaatan beragama? Apakah perasaan akrab saya kepadaNya itu palsu? Sesuatu yang bukan saja subyektif tetapi justru merupakan godaan dan perangkap setan? Bagaimana pengalaman batin yang saya rasakan begitu meresap dalam hati yang saya anggap sebagai prestasi dalam menghayati nilai-nilai agama ternyata telah mengaburkan orientasi saya. Saya menjadi terlalu mudah memmaafkan diri sendiri dan menjadikan kata hati sebagai panutan. Yakin Allah berpihak kepada saya. Saya lalu menduga bahwa orang yang lebih dan benar-benar alim juga menghadapi perangkap seperti ini. Keyakinan memiliki hubungan khusus dengan Allah dan memperoleh  dispensasi dan kelonggaran untuk memotong kompas menempuh jalan samping sendiri.  Apa jadinya kalau ia memegang jabatan pemerintahan atau bendahara yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan umat. Dengan dalih demi kesejahteraan umat, menghimpun dana melalui jalan samping tentulah diperkenankan Tuhan. Ini merupakan konskwensi logis dari keyakinan seorang alim apabila dugaan saya diatas adalah benar.


Berbeda dengan orang alim, penganut aliran yang kelewat fanatik dapat terperangkap lebih dalam: bukan saja merasa mepunyai hubungan khusus dan memperoleh dispensasidari Allah swt. Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dari pada orang lain. Bahwa Allah adalah monopoli mereka dan memihak kepada mereka. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari dapat melambungkan ego manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Orang alim seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi kealiman (seperti juga semua sifat baik lainnya) juga membawa godaan yang dapat menjadikan orang terperangakap ke jalan yang sesat. Tetapi anda boleh juga memungkas pendapat saya dengan mengatakan: Kalau ada orang alim korupsi, artinya dia bukan orang alim. Titik

11/07/15

MENGHITUNG RAKAAT TARAWIH


MENGHITUNG RAKAAT TARAWIH
Oleh: Jum’an

Mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja. Demikian menurut sebuah artikel dalam majalah Scientific American. Membawa gelas penuh air sambil memikirkan caranya akan membuat tangan kita bergoyang dan menumpahkannya; berpidato sambil memikirkan bagamana cara memulainya bisa membuat kita tersedak. Karena itu koreografer terkenal George Balanchine menasehati para penarinya “Don’t think, dear; just do.” Jangan dipikir, lakukan saja! Bagi yang sudah terlatih melakukan sesuatu, memikirkan apa yang sedang dilakukannya akan mengurangi kecermatan, menyebabkan kesalahan dan kadang-kadang bahkan ketidak-berdayaan total. Gerakan gerakan kita ternyata menunjukkan kemanjuran yang tidak kita sangka dan menjadikan kita percaya diri. Begitulah kita melaksanakan salat sehari-hari dengan urutan langkah yang tertib dari takbir hingga salam. Kita melakukan Salat Intuitif dan Otomatis tanpa berkonsentrasi bagaimana memulai dan berpindah dari satu rukun ke rukun berikutnya. Percaya diri dan tidak pernah tersesat ditengah atau diperpindahan rakaat atau tersedak ketika membaca fatihah.

Tetapi stamina orang sedikit demi sedikit menurun dangan bertambahnya usia. Otot mengendor, gigi goyah tulang melemah. Kita terpaksa memakai alat-alat bantu seperti tongkat untuk berjalan, kacamata untuk melihat dan hearing aid untuk mendengar. Demikian pula dengan performa ingatan kita. Macam-macam cara orang untuk membangkitkan ingatan, mencegah kelupaan yang sering terjadi. Pada bulan suci Ramadan dimana kita disunahkan melaksanakan salat tarawih yang panjang setiap malam, saya ingin berbagi cara yang sangat pribadi dalam menjaga ke 11 atau ke 23 rakaat seutuhnya. Bisa ditiru, tapi tidak perlu karena sperti mengada-ada dan masing-masing kita memiliki cara sendiri-sendiri.


Saya hampir selalu melakukan tarawih sendirian, sambil duduk di kursi karena keadaan. Orang seusia saya mudah tersesat melacak 11 rakaat salat tarawih dengan pola 4 x 2 rakaat + 3 rakaat witir (apalagi yang tarawih 23 rakaat). Untuk menggambarkan betapa  salat tarawih 11 rakaat itu tidak sederhana dan perlu dikawal, kita tahu  bawa rukun salat ada 13 amalan, berarti dalam 11 rakaat (5 kali salam), kita harus mengulang 65 amalan. Satu rakaat terdiri dari satu kali berdiri, satu kali ruku’, dan dua kali sujud. Dalam dua rakaat saya membaca dua surat pendek yang berbeda. Surat yang pertama tetap (surat An-Nas) dan surat yang kedua berbeda untuk mempermudah mengingat saya berada di rakaat pertama atau kedua. Saya menggunakan empat buah perangkat digital untuk mengontrol akurasi jumlah rakaat yaitu dua buah remote control TV, sebuah hand-phone dan sebatang stylus pen. Alasannya sangat sederhana: karena keempat benda itulah yang selalu ada diatas tempat tidur saya dan dalam jangkauan tangan. Dan mengapa hanya 4 padahal saya perlu memonitor 5 kali salam, karena tiga rakaat terakhir berbeda dengan dua dua yang sebelumnya sehingga tidak memerlukan pembantu ingatan. Keempatnya saya tumpuk disamping kursi tempat saya salat. Setiap kali selesai salam, satu dari keempat perangkat itu saya singkirkan. Begitu seterusnya, masing-masing mewakili dua rakaat. Setelah semua tersingkirkan berarti saya tinggal melanjutkan 3 rakaat witir. Mudah dan tidak perlu ditiru bukan? Lagipula salat tarawih tinggal beberapa hari lagi. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin……….

27/06/15

GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA


GENG MOTOR BUKAN SALAH HONDA
Oleh: Jum’an

Pada bulan Mei yang lalu terjadi kerusuhan antar geng motor kulit putih di Waco,Texas yang mengakibatkan 9 orang tewas 18 luka-luka dan 192 orang ditahan dengan tuduhan melakukan kejahatan terorganisir. Cara polisi mengani dan media meliput insiden itu banyak mengundang pertanyaan, karena sangat berbeda dengan perlakuan mereka dalam menghadapi insiden kulit hitam di Ferguson (Missouri) dan Baltimore (Maryland). Di Waco aparat penegak hukum nampak relatif santai sementara anggota geng yang ditangkap nampak duduk-duduk tanpa di borgol dan dibiarkan menggunakan ponsel mereka. Tidak ada satupun berita yang menyebut-nyebut ras dalam peristiwa itu. Sikap kendor ini sangat kontras dengan kebrutalan mereka menghadapi tersangka kulit hitam seperti Freddie Gray di Baltimore yang akhirnya mati dialam tahanan polisi tanpa bukti kesalahan yang berarti. Tidak ada seorangpun tokoh kulit putih yang berpengaruh yang mencela teror geng motor di Texas itu. Kepolisian diseluruh Amerika telah larut dalam rasialisme yang melembaga dan standar ganda dalam menangani tersangka minoritas.

 Kata seorang komentator politik liputan berita kerusuhan geng motor kulit putih di Texas tidak ada yang menyebutkan ras, tapi ketika orang kulit hitam yang terlibat dalam kekerasan, “kulit hitam” pasti disebut. Media memberikan narasi yang bias sehingga pembaca yang dimintai pendapat cenderung mengatakan bahwa kejahatan lebih banyak dilakukan oleh orang kulit hitam atau berwarna. Ketika orang-orang kulit putih melakukan tindak kekerasan, disebutnya sebagai penyimpangan, seolah-olah peristiwa yang tidak biasanya terjadi, dan tidak mewakili kelompok ras mereka. Dalam berita kekerasan oleh orang kulit hitam, kecuali ras disebut dg jelas, masih dengan penekanan tambahan seperti bahwa tempat kejadiannya memang rawan kejahatan dan narkoba. Menurut penelitian, pandangan bias terhadap kulit hitam di AS memang melekat dan nyata, seperti juga pandangan tentang keunggulan orang kulit putih dan hak istimewa mereka. Orang kulit putih begitu yakin bahwa urat jahat memang sudah merupakan bawaan setiap orang berkulit hitam. Padahal ras tidak ada hubungannya dengan kejahatan. Orang dari semua ras melakukan kejahatan dan juga menjadi korban, tak ada korelasinya dengan warna kulit.

Jika ada seorang Islam mengancam kekerasan di Amerika, akan diperlakukan sebagai terorisme yang gawat. Jajak pendapat PEW menunjukkan bahwa mayoritas kulit putih Amerika berkeyakinan bahwa kekerasan melekat dalam ajaran Islam yang terbukti dari dukungan mayoritas kaum muslimin di beberapa Negara terhadap hukuman mati bagi orang yang murtad atau menghujat. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa hukuman mati karena murtad atau menghujat Islam sangat jarang dilaksanakan dinegara muslim manapun, sementara di Di AS rata-rata sekitar 30 anggota komunitas LGBT dibunuh setiap tahun. Dalam Bible hubungan sesama jenis merupakan dosa berat yang harus dihukum mati. Tak sedikit pendeta fundamentalis yang setuju untuk melaksanakannya. Diantaranya Steven Anderson dari gereja Baptis Arizona yang dengan berapi-api menyerukan pembunuhan semua kaum homoseks. Ia mengklaim dapat membuat dunia bebas dari penyakit AIDS dalam waktu singkat dengan cara membunuh semua kaum homoseks dan waria. Ia mengutip ayat-ayat Bible untuk mendukung ide radikalnya. Ia berpegangan pada Imamat 20:13 tentang kaum homo yang harus dihukum mati. "Itulah saudara-saudara, obat untuk memberantas AIDS menurut Bible, bukan dengan mengabiskan milyaran dolar untuk penelitian dan pengujian. Jika kita bunuh kaum homo seperti diperintahkan Tuhan, AIDS tidak akan merajalela " "Tidak boleh ada kaum atau lesbian atau waria masuk kedalam gereja ini selama saya pendeta di sini. Never! Demikian pula dengan pendeta Curtis Knap dari Gereja Baptis New Hope Kansas dan Sean Harris dari Gereja Baptis North Carolina. Mereka tidak hanya percaya bahwa kaum gay harus dihukum mati, tetapi memerintahkan jemaatnya harus agresif dan memukul anak-anak mereka sendiri jika mereka menunjukkan tanda-tanda homoseksualitas. Yang lebih merisaukan menurut majalah Liberal Unite adalah bahwa mereka tidak hanya menyebarkan khotbah penuh kebencian kepada orang dewasa dalam jemaat, tetapi mereka juga kepada anak anak. "Tak ada ada kaum homoseks yang masuk surga." Jadi pantas kalau rata-rata ada 30 orang dari komuitas LGBT dibumuh di Amerika.

Kalau mereka bersikukuh bahwa Islam membawa ajaran kekerasan bukankah bukti diatas menunjukkan hal yang sama untuk agama mereka? Kalau mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pendang, bukankah seharusnya mereka sudah membaca Injil Matius 10: 34 : “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku (Kristus) datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah perdamaian Aku bawa datang tapi pedang.”


Seandainya saja orang Amerika tidak menganut standar ganda dan rasialisme dan benar-benar menyimak Bible mereka dengan seksama niscaya mereka akan berhenti menuduh bahwa Al-Qur’an memerintahkan kejahatan dan kekerasan kepada umatnya. Orang Amerika dan Kristen tidaklah jauh berbeda dengan kaum Muslimin di Timur Tengah. Komedian Bill Maher  pernah mengatakan bahwa di Amerika banyak fundamentalis Kristen gila; kita nampak lebih baik hanya karena mereka tidak kita biarkan mengatur negara. Agama tidak menciptakan teroris. Masyarakatlah yang menciptakannya. Islam maupun Kristen, di Timur Tengah maupun di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa menyalahkan kitab suci umat Islam atas tindakan ekstrimis sama saja dengan menyalahkan pabrik sepeda motor Honda sebagai pelopor geng motor.