16/05/15

AGAMAKU AGAMAMU - NEGERIKU NEGERIKU


AGAMAKU AGAMAMU – NEGERIKU NEGERIKU
Oleh: Jum’an

Abu Bakar, sahabat saya mempunyai cara berpikir yang kadang-kadang mengejutkan. Suatu kali ia berkata bahwa bumi ini milik Allah sebagaimana disebut dalam Qur’an. Mengapa sekarang dikapling-kapling menjadi negara-negara yang saling melarang memasuki petak masing-masing? Ia yakin bahwa Allah tidak menghendaki begitu. Bumi adalah milik Allah untuk kesejahteraan bersama semua umat manusia. Daripada memberikan jawaban yang tidak jelas saya hanya menimpali bahwa mungkin, bangsa China ingin bersatu lalu membentuk negara China begitu juga bangsa Melayu, bangsa Arab dan yang lainnya lalu masing-masing membuat aturan sendiri-sendiri. Abu hanya diam, wajahnya jelas meremehkan teori saya. Istilah milik Allah seperti tertulis dalam Surat An-Najm ayat 31 (Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) dicerna secara berbeda-beda diantaranya seperti cara Abu Bakar yang begitu harfiah tadi. Belum tentu salah atau benar, tetapi dapat diperkirakan bahwa Abu akan memilih agamanya daripada negerinya bila suatu saat terpaksa harus memilih.

Seperti kita saksikan sekarang ini, banyak umat Islam dari berbagai bangsa dan negara pergi ke negara-negara Timur Tengah untuk berjihad membela kelompok yang mereka sukai, yang berarti bahwa mereka lebih mengutamakan agamanya daripada negerinya. Bila prosedur resmi memasuki negara-negara itu tidak memungkinkan, mereka tidak segan-segan untuk menempuh jalan belakang. Mereka juga tega untuk meninggalkan anak isteri demi berjihad dan mati syahid. Padahal ada puluhan kelompok yang saling bermusuhan disana. Anda ingin menjadi relawan berjihad membela Bashar Assad? Atau bergabung dengan pemberontak Houti di Yaman atau bergabung dengan ISIS? Bagi yang pemahamannya tentang bumi Allah sama dengan Abu, berangkat saja! Apa salahnya? Batas-batas negara adalah buatan menusia sedangkan Indonesia, Siria, Irak dan Yaman sama-sama bumi Allah! Kita sepenuhnya berhak untuk merambahnya. Apa sulitnya masuk kesana. Demi persatuan Islam, demi kebenaran, demi…….. Bahkan tak ketinggalan sejumlah kaum wanita menyediakan diri dinikahi para pejuang dan ikut di medan tempur disana. Seolah-olah keadaan sudah demikian gentingnya sehingga masing-masing mengikuti apa yang ada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Benarkah begitu mendalam iman dan takwa mereka, begitu kuat ukhuwah dan cintanya sesama umat Islam melebihi cinta kepada keluarga dan negaranya sendiri? Wallohu a’lam.

Yang jelas pada saat yang sama ada bukti yang menunjukkan keadaan sebaliknya dimana kita bersikap tidak peduli terhadap saudara-saudara seiman yang sedang ditimpa kesengsaraan. Bukti bahwa negeriku lebih penting daripada ukhuwah agamaku. Ribuan pengungsi Rohingya yang beragama Islam yang terusir dari Myanmar telah ditolak mendarat di Serambi Mekah Aceh dan diusir pula oleh pemerintah Malaysia yang menyatakan bahwa agama resminya Islam.  Mereka meminum air kencingnya sendiri  untuk bertahan hidup terapung-apung di laut karena sia-sia mengharapkan bantuan sesama umat Islam Malaysia dan Indonesia.  Sementara pengungsi muslimin dari Libia yang ingin masuk ke daratan Eropah, mendapat perlakuan yang lebih manusiawi dari mereka. Nampak bahwa kemanusiaan mereka lebih dewasa ketimbang keislaman kita.


Membaca penderitaan kaum pengungsi Rohingya terbayang di mata saya, mereka itu seperti saudara kita dari kampung yang terpaksa mengemis kekota dan bertemu dengan kita. Ia ingin bernaung barang semalam di emperan rumah kita, mengharap sesuap nasi dan seteguk air, karena dalam anggapannya kitalah yang paling pantas menolongnya. Tetapi kita berkata kepadanya: Jangan mengemis kesini. Kita memang bersaudara kita memang seagama, tapi minta saja kepada tetangga sebelah sana! Jangan minta air dari saya apalagi menginap di emperan rumah saya. Minum air kencingmu sendiri kalau perlu! Agamamu dan agamaku memang satu tetapi negeriku adalah negeriku, bukan negerimu!                                                                            

07/05/15

PILIH SEGERA! PERCAYA SOMAT ATAU TIDAK


PILIH SEGERA! PERCAYA SOMAT ATAU TIDAK
Oleh: Jum’an

Ada peribahasa Afrika yang mengatakan: Berhati-hatilah jika ada orang telanjang menawari anda baju! Orang yang tidak menghargai dirinya, mustahil akan mencintai orang lain! Mengapa tak dipakainya baju itu untuk menutupi auratnya sendiri. Artinya jangan percaya kepada niat baik yang sulit diterima akal sehat. Ada pula peribahasa: Jangan mempercayai wanita yang menjawab dengan jujur berapa umurnya. Wanita macam itu akan mengatakan apa saja kepada orang lain. Sudah biasa usia wanita adalah rahasia mereka. Mengapa harus diobral kepada orang lain kalau mengelak juga mudah dan aman? Wajar kalau kita kurang percaya kepada orang yang berperilaku menyimpang dari adat kebiasaan. Orang telanjang yang menawarkan baju dan wanita yang merahasiakan usianya mengingatkan kita bahwa tidak semua orang mudah dipercaya. Berprasangka baik adalah anjuran Rasulullah s.a.w, sebagai bekal untuk berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya akal sehat dan hati nurani kitalah yang akan menilainya. Kata pengarang Ernest Hemingway, cara terbaik untuk membuktikan seseorang bisa dipercaya atau tidak ialah dengan mempercayainya. Karena khianat baru terjadi sesudah ada kepercayaan lebih dahulu; atau orang cenderung bertindak jujur bila dipercaya. Bagaimanapun akhirnya kita harus memilih untuk mempercayai atau tidak mempercayai seseorang. Bila tidak kita akan terus merasa ragu dan curiga dalam menjalin hubungan, terutama dimana kepercayaaan merupakan syarat utama.

Keluarga saya menjadi tegang gara-gara perbedaan kepercayaan. Bukan kepercayaan Agama tetapi kepercayaan kepada seseorang montir. Beginilah nasib saya. Mobil tua terus dipelihara: mogok didorong, peot dikenteng, karatan didempul. Montir andalan kami seorang berperawakan kecil berwajah brewok bernama Somat. Satu-satunya montir yang saya kenal. Ia adalah langganan keponakan saya Po In selama bertahun-tahun sehingga saya yang baru belakangan memakai hanya numpang percaya. Tapi terbukti ia memang ahli mobil tua. Oli rembes, rem blong, mesin ngadat semua bisa diselesaikan dengan mudah. Ganti onderdil yang sudah jarang penjualnya dia tahu kemana mencarinya. Bila perlu dikikir sedikit agar pas masuknya. Ketrampilannya yang lengkap memudahkan ia mengambil keuntungan dari segala penjuru. Kadang-kadang selesai bekerja ia mengucapkan kata-kata bernada filsafat dengan gratis. Seperti ketika selesai memperbaiki pembuka jendela yang macet, ia mengingatkan saya supaya pelan-pelan memutarnya sambil berkata: Kalau mobil tua, kita harus mengikuti dia; kalau mobil baru, dia harus menuruti kita. Siapa yang bisa berkata begitu kalau bukan mereka yang berpelngalaman menggeluti mobil tua?

Somat memang kreatif dalam menjual ketrampilannya. Sambil menggarap order, dia selalu mnemukan kerusakan lain dan menayakan apakah mau diperbaiki juga. Saya bekali dia uang 500 ribu untuk membeli onderdil, ia tukar tambah 200 ribu dengan onderdil bekas yang masih bagus dan dikembalikannya yang 300 ribu. Katanya yang untuk Honda Civic th 90 sudah jarang ada. Cara begini jelas tidak transparan, manipulatif dan …., dilematis! Kalau diminta nota pembelian selalu lupa atau, tar dulu Pak, tangan saya sedang kotor tapi akhirnya tidak juga. Ketika saya tanyakan berapa ongkosnya ia bilang ini sisa tadi masih ada 50 Pak, tambah 100 lagi saja. Mobil pun rapih, garansi. Siapa lagi kalau bukan jasa Somat. Tetapi ia jelas meninggalkan tanda tanya yang sulit diawab: jujurkah dia, pantaskah ia kita percaya? Beberapa tahun saya meragukan kejujurannya: tetap meminta bantuanya tetapi dengan curiga dan diam-diam mengutuknya. Ini tidak sehat. Harus diakhiri, saya harus memilih percaya atau tidak percaya pada kejujuran Somat. Selanjutnya teruskan dengan ikhlas atau cari montir lain. Memangnya dia satu-satunya montir mobil di Jakarta?

Masalah yang terlalu lama dipendam, seperti bisul di pantat akan pecah sendiri.  Belum lama ini datang saatnya untuk kembali minta bantuan Somat. Menghidupkan aki yang mati karena dua hari kunci kontak tidak dicabut. Dari kantor saya tilpun kerumah, apakah Somat sudah selesai kerjanya. Ternyata belum, dia sedang menyewa aki penolong ke bengkel sambil membeli oli. Membeli oli? Siapa yang menyuruh, oli untuk apa? Katanya oli power steering tinggal sedikit perlu ditambah. Liciknya dia!  Saya naik darah sambil mengumpat. “Oke, turuti saja dia lalu bayar dan suruh pergi maling itu!” Saya pikir inilah saatnya memilih untuk tidak mempercayai Somat. Saya bertemu muka dengan dia tepat didepan rumah ketika saya pulang kantor dengan taksi dan dia baru selesai bekerja. Saya tanya ongkosnya berapa dan jawabnya: “Ini uang yang tadi (uang sewa aki dan beli oli) masih sisa lima puluh. Tambah 50 lagi saja Pak.” Ketika saya merogoh kantong ternyata dompet saya tidak ada. Saya segera sadar ketinggalan ditaksi sementara taksi itu sudah agak jauh. Somat lalu cepat-cepat lari dan masih dapat terkejar karena macet di ujung gang. Dalam dompet itu ada KTP, kartu kridit, kartu ATM dan uang lebih dari satu juta yang baru saya ambil dari ATM.


Setelah saling mengucapkan terima kasih, saya merenung meneteskan air mata. Orang yang baru saya sumpahi “maling” itu telah menyelamatkan saya! Isi dompet utuh, aki tok cer dan setir enteng karena oli power steering penuh. Alhamdulilah, astagfirullah. Saya memutuskan utuk mempercayai Somat dan saya terima ia apa adanya. Selama ada Somat, saya tidak akan minta bantuan sipapun! Po In bilang Somat memang jujur. Ia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Tetapi anaknya tetap curiga. Ibunya memang terlalu mudah mempercayai orang dan sering tertipu! 

30/04/15

MAAF MBA ATUN KITA BELUM JODOH


MAAF MBA ATUN - KITA BELUM JODOH
Oleh: Jum’an
(Saya senang tulisan th 2009 ini masih sering dibaca orang. Di Wordpress saja, th 2014 masih ada 1,200 pembaca. Smp April, th. ini ada 580 orang. Untuk orang spt saya alhamdulillah sekali, ini saya muat lagi. Mba Atun meninggal 2 bulan yang lalu.)
Sejak kecil memang saya sudah mulai dibentuk. Karena sampai tamat SMP tidak pernah berpindah tempat tinggal, maka tulang-tulang dan gigi saya hanya terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari hasil bumi desa kelahiran saya. Demikian pula sebagian ciri-ciri hidup saya sudah mulai terbentuk didesa itu.
Suatu pagi hari dimasa kanak-kanak, karena sakit yang tak kunjung sembuh saya disuruh berjongkok dekat padasan – tempat mengambil air wudu. Dibawah kain ibu, saya dimandikan dengan urine hangat langsung dari pancurannya. Itulah terapi pamungkas setelah semua cara gagal dicoba. Tentu saja sesudah itu saya dicuci bersih karena ibu saya yang guru ngaji, tahu hukum najis mutawasitoh itu. Pada kesempatan lain, nama saya diganti karena badan saya ceking dan sakit-sakitan, mungkin panggilan baru akan lebih merangsang pertumbuhan. Itulah bagian dari awal terbentuknya pola hidup saya.
Setelah dewasa dan terpelajar saya berkiblat kepada pengobatan medis untuk memelihara kesehatan. Tetapi pengobatan medis yang terlalu mahal itu menakutkan: pisau bedah, jarum suntik, bius total, cuci darah, amputasi.....
Sementara pengobatan nonmedis meyajikan jamu-jamu godok yang serba herbal, wirid, tenaga dalam dan air doa. Kalau memang sama-sama dapat menyembuhkan, tentu yang kedua inilah pilihan utama saya.
Kecuali mengandalkan terapi gelombang kejut -ESWL- yang tidak juga sekali tuntas dan obat-obatan untuk menghilangkan batu ginjal, saya menjalankan upaya non-medis juga. Gagal dengan operasi goresan kuku Haji Fauzi antara Puncak dan Cipanas yang katanya ampuh, saya tetap tidak putus asa.
Waktu itu sedang ramai tersiar nama Ibu Atun dari Pemalang ahli pengobatan alternatif yang dapat mengobati macam-macam jenis penyakit. Pasiennya terdiri dari rakyat jelata, pejabat tinggi dan selebritis, bukan saja dari Nusantara tetapi juga Malaysia, Singapura dan Hongkong. (Sebagian testimoni ada disini). Besan saya yang kebetulan orang sana, menceritakan bahwa tetangganya yang terkena penyakit kaki gajah (filariasis) sembuh ditangan ibu Atun –sebenarnya lebih tepat dipanggil mba Atun karena ia masih lajang waktu itu-. Katanya darah hitam bercampur lemak dikeluarkan dari kedua kaki dan dibersihkannya menggunakan kapas.
Sesudah satu setengah bulan mendaftar dan mendapat nomor urut tujuhpuluh sekian untuk hari itu, batu ginjal sayapun dikeluarkan oleh ibu Atun.
“Boleh saya bawa pulang untuk kenang-kenangan Bu?” kata saya sambil meminta kapas ditangannya yang masih basah oleh darah. Silahkan, katanya.
Dalam perjalanan pulang saya cium-cium kapas dan saya raba-raba batu sebesar butir beras itu. Rasanya bau darah saya tidak amis begini dan batu ginjal saya mirip kristal garam tidak seperti serpihan tulang. Foto rontgen yang saya lakukan dua minggu kemudian membuktikan bahwa batu ginjal saya masih utuh. Maaf mba Atun, kita mungkin belum jodoh.
Bahkan waktu ginjal saya makin tidak berfungsi dan harus menjalani cuci darah saya tetap meminum air doa, pijat refleksi, serta rajin berobat kepad Ir. KRM. H. Gembong Danudiningrat yang berwibawa itu.

Lama sesudah semua usai dengan izin Alloh, saya baru menyadari apa yang saya peroleh dari Haji Fauzi, Bu Atun dan terutama Romo Gembong dari Kraton Yogya itu. Yaitu harapan. Harapanlah yang telah ikut menopang pertahanan saya melawan penderitaan dan cobaan selama itu.

27/04/15

NILA SETITIK DAN SUSU SEBELANGA


NILA SETITIK DAN SUSU SE BELANGA
Oleh: Jum’an

Ibarat pintu kaca yang bening lebih mudah terbentur daripada yang bernoda, emas murni lebih lembek dari yang 22 karat – makin sempurna karakteristik sesuatu makin rentan ia terhadap kerusakan. Setiap kekuatan membawa kelemahanya sendiri – bahkan orang yag terlalu jujur lebih mudah tertipu. Begitulah dunia dan kehidupan kita. Pada tahun 2009 sebuah pesawat jet Airbus 320 milik US Airways  dengan 150 penumpang  jatuh di dekat Manhattan karena beberapa  ekor angsa tersedot dan mematikan kedua mesin jetnya. Sebelumnya, pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines jatuh sesudah take-off karena kedua mesinnya menghisap kawanan burung merpati. Dari 100 penumpang, 35 tewas dan 21 luka-luka.

Bagaimana mungkin pesawat besar dan canggih bisa jatuh oleh burung yang kecil? Burung mudah terhisap masuk mesin jet dan mengenai pisau-pisau kipas mesin. Pisau kipas bergetar dan menghantam bilah yg lain beruntun, mengakibatkan kegagalan mesin. Bahkan burung kecil seperti jalak pun dapat menyebabkan mesin mati. Burung sangat berbahaya bagi pesawat terbang khususnya pada ketinggian beberapa ribu kaki di mana mereka terbang. Jika terlalu dekat dengan lubang mesin, mereka akan langsung tersedot masuk. Tak banyak yang bisa diperbuat untuk mencegah pesawat terbang menabrak burung. Bahkan NASA takut pesawat ulang-aliknya menabrak burung, bukan karena menjatuhkan pesawat tetapi melecetkan lapisan penahan panas yang dapat memicu kerusakan dan bencana. NASA akan menghentikan hitungan aba-aba untuk take-off bila ada burung melintas dan saat mendarat pesawat membunyikan suara dentuman meriam untuk memastikan landasan pacu bebas dari burung-burung. Aneh bukan?

Setelah serangan menara WTC pada 9/11/2001, dirancanglah sistim pengamanan agar orang tidak mudah menerobos masuk kokpit, mekanisme canggih untuk menutup pintu kokpit dari dalam sekuat dan secepat mungkin. Mungkin disainernya baru sadar sekarang bahwa rancangan canggihnya itu telah memudahkan Andreaz Lubitz co-pilot Germanwings mengunci ruang kokpit dari dalam sementara kapten pilot Sondheimer keluar ke toilet. Pintupun tertutup tanpa bisa dibuka lagi meskipun mengunakan kampak. Lalu Andreaz yang menderita gangguan mental itu sengaja menukikkan Airbus A320 dengan 142 penumpang itu dan menabrak pegunungan Alpen Perancis. Konon Adreaz juga membubuhkan obat diuretik yang merangsang kebelet pipis kedalam kopi kapten pilot.  Sukses menyempurnakan mekanisme pengamanan untuk mencegah pembajakan oleh teroris justru telah memudahkan co-pilot untuk menyendiri dalam kokpit, yang terbukti dari peristiwa diatas, berakibat fatal. Alangkah ironisnya!

Hal-hal yang kita anggap sepele, seperti nila setitik, suatu saat dapat merusak susu se belanga. Pada Januari 2011 pesawat Boeing 77 United Airlines  dengan 241 penumpang yang sedang terbang menuju Frankfurt dari Chicago terpaksa berbelok ke Toronto di Canada karena masalah komunikasi dan navigasi. Penyebabnya, kopi sang pilot tumpah di kokpit karena getaran turbulensi dan memicu transponder pesawat mengirimkan sinyal bahaya. Ketika pilot berusaha mengirimkan sinyal untuk mengingatkan pengawas lalu lintas udara bahwa mereka kehilangan kontak radio, ia keliru mengirimkan kode  bahaya  internasional untuk pembajakan. Akhirnya, segera setelah isu pembajakan reda, United Airline terpaksa mengirim Boeing 777 lain ke Toronto  untuk mengambil semua penumpang dan dibawa kembali ke Chicago, sebelum esok harinya diterbangkan ke Frankfurt. Sedangkan pesawat yang ketumpahan kopi, diterbangkan tanpa penumpang ke Washington untuk perbaikan. Tumpahan kopi itu juga sekaligus mengacaukan sinyal navigasi yang memberitahu pilot untuk mengarah ke Toronto, bukannya melintasi Atlantik menunju Frankfurt di Jerman. Cairan tumpah di kokpit biasanya hanya menyebabkan karatan pada lantai dan dinding samping  bukan kerusakan pada sistim radio. Ini memang jarang terjadi karena kokpit harus lulus test sebelum pesawat disertifikasi.Tidak boleh ada cairan akan menembus peralatan apapun. Semua dirancang dengan segel, jalur pembuangan dan alat kusus pengatur kelembababan. Alangkah berantakannya akibat secangkir kopi yg tumpah dikokpit Boeing 777 itu.

Belum lengkap rasanya jika saya tidak mengutip berita terbaru tentang “yang sepele yang mebahayakan” berikut ini. Hari Jum’at 17 April lalu, pesawat Falcon 50 milik pemerintah Serbia anjlok lebih dari satu mil dari ketinggian 33.000 kaki selama 60 detik diatas laut Adriatik karena satu dari 3 mesin jet itu tiba-tiba mati. Penyebabnya, co-pilot menumpahkan kopi pada panel instrumen dan tidak sengaja mengaktifkan saklar darurat ketika ia berusaha untuk membersihkannya, yang menyebabkan mesin ketiga mati sebentar. Dalam 1 menit jatuh yang serasa kiamat itu semua penumpang, yaitu Presiden Tomislav Nicolic dan dan 10 orang rombongannya, terlempar-lempar mengerikan, sampai pilot dapat menstabilkan pesawatnya. Tidak ada yang tewas. Itu saja untungnya. Mereka mau bertemu Paus di Roma tapi terpaksa kembali ke Belgrado. Pemerintah memutuskan untuk tidak menggunakan lagi pesawat buatan Perancis tahun 1981 itu untuk perjalanan rombongan presiden. Co-pilot diskors karena membahayakan keselamatan penerbangan dan Presiden akan naik penerbangan komersial saja lain kali.

Demikianlah, perbaikan selamanya dimungkinkan tetapi kesempurnaan selamanya tidak akan pernah tercapai…….

14/04/15

MENDENGAR ENAK - MENYANYI SUMBANG


MENDENGAR ENAK – MENYANYI SUMBANG
Oleh: Jum’an

Bagi yang mendambakan hidup tenteram dan harmonis, menutupi aib dan noda adalah wajar dan perlu. Baik merahasiakan penyakit, sejarah hitam masa lalu ataupun perselingkuhan. Saya juga menyembunyikan banyak hal, kalau tidak, bagaimana di usia setua ini masih bisa terseok-seok mengais rejeki. Selain jenis aib yang klasik dan konvensional seperti diatas saya juga menutup rapat-rapat rahasia cacat yang cukup fatal yang jangan-jangan diantara anda merahasiakannya juga. Kini setelah ancaman dan bahayanya tidak ada lagi karena sudah kedaluwarsa saya rela untuk berbagi dengan siapa saja yang sudi membacanya. Siapa tahu ada manfaatnya. Dengan ikhlas dan legowo saya mengakui bahwa seumur hidup saya benar-benar tidak pernah bisa menyanyikan lagu apapun. Tidak pernah bisa mengaji dengan lagu atau menyerukan azan dengan lagu. Yang menyedihkan dan memalukan adalah tidak pernah bisa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya ataupun lagu mars Maju Tak Gentar yang semua orang bisa menyanyikannya dengan mudah. Saya hanya tertolong karena kedua lagu itu selalu dinyanyikan dalam upacara bersama sehingga ketika suara saya terdengar sumbang ditelinga sendiri, buru-buru saya hentikan dan ikut menggerakkan bibir saja. Kakak saya yang ketika belajar di Sekolah Rakyat selalu duduk satu kelas dengan saya, juga mempunyai cacat yang sama. Guru kami sangat tahu itu; masih teringat hingga kini ketika dia mempermalukan kami berdua didepan semua murid. Dua kakak beradik ini tidak bisa menyanyi. Selama bertahun-tahun saya merasa teraniaya dan terhina ketika tiba mata pelajaran seni suara.

Apakah ini sejenis cacat keturunan? Konon orang yang gagap tak terkendali bisa menyanyi dengan baik. Orang yg tak bisa bicara karena stroke kadang-kadang bernyanyi. Penderita penyakit Alzheimer yang hampir tak bisa mengingat namanya sendiri kadang-kadang mampu menyanyi. Mungkinkah karena kendala mental, kurang percaya diri dan merasa malu sehingga suara yang keluar lemah dan gemetar? Saya benar-benar merasa putus asa, terutama setelah suara penyanyi tenar yang merdu, suara qari’ dan muadzin yang enak didengar tersedia setiap saat melalui media elektronik, kaset dan CD. Mengapa harus tersiksa mendengarkan suara sendiri yang sumbang kalau penyanyi tenar bersedia menyanyikannya kapan saja?

Dalam pergaulan sehari-hari ketika sama-sama diam sambil mendengarkan lagu-lagu, selera saya cukup bersaing dan sama terhormatnya dengan rekan-rekan yang lain. Dalam keadaan diam, batin saya bisa menyanyikan lagu-laguGesang, bahkan LucianoPavarotti dengan suara yang persis sama. Serasa suara saya kembar dengan suara mereka sama bagusnya. Tetapi begitu saya mencoba membuka mulut yang keluar tidak lebih dari suara keledai, sember dan sumbang. Jauh dari Bengawan Solo atau Ave Maria. Saya sudah sering mecoba menyanyi sendiri ditempat yang sepi, tetap saja suara saya membelot keluar jalur. Jadi bukan masalah mental atau kurang percaya diri. Padahal saya mempunyai pita suara yang utuh yang dapat mengeluarkan nada yang saya kehendaki dan menaik-turunkannya dengan baik. Menurut situs“EasyEarTraining”  nyanyian kita akan selaras bila kita dapat mengendalikan tinggi rendah nada (mengatur pita suara) dan menyesuaikan (melalui pendengaran) nada yang sedang kita nyanyikan dengan nada yang seharusnya kita nyanyikan.

Menurut penelitian, pada prinsipnya baik musisisi maupun non musisi, semua mampu mencocokkan nada dengan baik. Hanya saja ketika mereka diminta menggunakan suara sendiri untuk mencocokkan nada, hanya sedikit non-musisi yang berhasil. Masalahnya, begitu telinga kita tahu bahwa nada yang keluar dari mulut berbeda dari yang seharusnya dinyanyikan, pita suara kita tidak segera melakukan koreksi untuk menyesuaikan. Otak kita memiliki kemampuan untuk memberitahu suara yang harus dihasilkan dengan nada yang benar tetapi memberikan petunjuk yang salah pada pita suara untuk mencocokkan nada yg dimaksud. Otak orang yang tidak bisa menyanyi bersikeras, terus menerus memaksa memproduksi kesalahan, meskipun telinganya segera tahu. Mereka tahu suara mereka sumbang, tetapi mereka tidak dapat menemukan jalan menuju nada yang tepat.

Begitulah kira-kira kesimpulan penelitian itu tentang cacat yang selama ini saya rahasiakan. Saya tidak bisa menyanyi karena salah di otak! Bukan di pita suara maupun ditelinga saya; kedua-duanya tidak bermasalah. Ketika saya mendengar Gesang menyanyikan “Bengawan Solo” dan berniat untuk menirukannya, otak saya salah memerintahkan pita suara untuk menghasilkan nada yang sama. Seolah-olah seseorang mengacaukan tombol pada keyboard computer kita sehinga ketika ditekan huruf A yang yang tampil dilayar justru huruf F. Telinga kita segera tahu begitu terdengar suara kita sumbang, itulah sebabnya kita malu mendengar suara sendiri.


Menurut Sean Hutchins peneliti dari lembaga riset kognisi bakat musik di Montreal, menyembuhkan otak orang yang tidak bisa bernyanyi adalah mungkin, tetapi untuk orang dewasa merupakan tugas yang sangat sulit, membutuhkan latihan setiap hari selama bertahun-tahun. Jadi bagi saya mustahil dapat dicapai dan lebih baik saya terima apa adanya. Toh saya masih bebas bisa menikmati musik seperti orang lain. Dan siapa tahu, cacat saya dibidang musik merangsang kearifan yang lebih dibidang lain. 

28/03/15

MAU COBA STEAK HYENA - BISMILLAH


MAU COBA STEAK HYENA – BISMILLAH
Oleh: Jum’an

Bagi penggemar dunia fauna terutama yang suka menonton NatGeo Wild atau Animal Planet pasti tahu apa itu “Hyena” hewan asal Afrika, Timur Tengah dan Asia Tengah yang perawakannya mirip anjing dengan suara meringkik yang khas. Dalam bahasa Arab disebut Ad-dhobu’ (الضبع). Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebut dubuk yaitu binatang buas yg suka makan bangkai, bulunya ada yang loreng dan ada yang tutul. Mereka yang berasal dari lingkungan pesantren mungkin lebih akrab dengan nama ini karena dubuk disebut-sebut dalam hadis dan sering menjadi pembicaraan. Hyena suka mencuri atau menghabiskan sisa makanan singa atau binatang buas lainnya. Konon mereka juga suka membongkar kuburan manusia dan memangsa isinya. Menurut  International Business Times (UK) populasi global hyena loreng pada 2008 kurang dari 10 ribu ekor dan diklasifikasikan sebagai hampir terancam punah. Ancaman utama datang dari manusia. Mereka diburu untuk digunakan sebagai obat-obat tradisional, terutama bagian otaknya dan kulitnya diperdagangkan secara ilegal. Pemburu hyena di Maroko sanggup berjalan ratusan kilometer untuk menangkap spesies ini, karena harga jualnya yang tinggi. Hyena banyak juga dibunuh orang dengan racun karena dianggap mengancam kehidupan ternak dan manusia. Sekarang ancaman kepunahan hyena loreng makin bertambah dengan meningkatnya selera orang-orang Saudi terhadap daging binatang buas itu untuk dimakan.

Belum lama ini Saudi Gazette sebuah harian di Jeddah memuat judul “Orang-orang Saudi melahap daging Hyena sementara hewan itu sedang terancam punah”. Berburu dan memakan daging hyena mungkin terdengar aneh bagi banyak orang, tapi tidak bagi orang Saudi; banyak dari mereka menganggapnya sebagai santapan yang lezat dan nikmat. Sementara mereka maruk menyantap daging binatang buas itu, jarang yang menyadari bahwa hewan itu berada di ambang kepunahan. Menurut harian Al-Watan hyena berada dlm daftar hewan yg terancam punah.  Direktur Wildlife Research Centre di Taif, Ahmad Al-Bouq mengatakan ancaman terhadap spesies ini sangat serius. Hyena terancam punah di Saudi Arabia," kata Bouq.

Sementara kebanyakan mazhab menganggap hyena haram, mazhab Syafi'i justru menghalalkannya. Dan, karena keempat mazhab diberikan hak yang sama di Saudi Arabia, maka bagi pengikut mazhab Syafi’i tidak dilarang untuk memakannya. Tapi sebagian besar daftar makanan, memasukkannya ke dalam kategori terlarang. Prof. Dr. Saud Thubaiti, dosen Fakultas Syariah Univ. Umm Al-Qura Makkah mengatakan bahwa Nabi (saw) telah melarang makan daging binatang pemangsa yang mempunyai taring dan burung yang mempunyai cakar tetapi beliau mengizinkan memakan daging hyena. Posting pembahasan tentang hukum memakan daging hyena menurut Islam dapat dibaca diantaranya disini dan disini dan juga disini. Dan banyak sumber lainnya.
Kelompok ekstrim Al-Syabaab di Somalia yang termasuk aliansi Al-Qaeda, pada Agustus  2012 juga menyatakan daging hyena adalah halal dan sejak itu restoran-restoran mulai menjualnya dan harganya telah meningkat begitu tinggi sehingga sekarang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang kaya. Daging hyena juga dimakan di Pakistan dan Iran, di mana ia juga dianggap halal. Kata seorang penggemar daging hyena di Arab Saudi, ia menyukai rasa daging hyena karena memiliki rasa yang unik dan memiliki efek yang lebih kuat dari obat kuat (perangsang seks) yang terkenal. Menurut Saudi Gazette hyena sedang banyak dikonsumsi oleh orang Saudi dan dianggap "hidangan unik yang lezat dan nikmat". Pemburu hyena biasanyan segera membersihkan jeroan binatang itu setelah membunuh atau menyembelihnya untuk mencegah racun keluar dari jeroan ke dalam daging. Dr. Saud Thubaiti mengatakan banyak orang jijik dengan daging hyena karena bentuk hewan itu, dan fakta bahwa hyena adalah predator, pemangsa hewan lain.  Ada pula yang mengungkapkan kekecewaan dan keheranannya pada orang-orang yang makan daging hyena, karena hyena adalah pememakan bangkai. Dr. Mundzir Abdullah, seorang internis, mengatakan tidak ada studi ilmiah yang membuktikan bahwa daging hyena bermanfaat bagi kesehatan manusia, ataupun sebaliknya. Dia juga mengatakan bahwa makan daging hyena tidak menyembuhkan penyakit sebagaimana dipercaya oleh sebagian orang. Tetapi ia menyarankan bahwa lebih baik untuk menghindari memakannya karena hyena adalah hewan pemakan bangkai.


Kemungkinan kita menjumpai menu “Grilled Loin of Hyena” atau “Hyena Burger” dan sejenisnya adalah jarang. Di Indonesia tidak ada hyena, jadi tak usah peduli. Tetapi banyak orang kita yang pergi ataupun tinggal di Saudi Arabia, sehingga kemungkinan menjumpai menu daging hyena tetap ada. Bila anda seorang yang peduli madzhab dan mengikuti madzhab Syafi’i, silahkan bismillah! Bila anda pengikut Hambali, Hanafi atau Maliki, pesan saja steak yang lain. Apapun madzhab anda, bila anda peduli lingkungan dan konservasi alam, ingat bahwa tidak etis memakan daging hewan yang sedang terancam punah. Bila anda mencari menu perangsang seks yang melebihi Viagra anda tetap harus merasa tega mengunyah daging hewan pemakan bangkai termasuk mayat manusia…….

19/03/15

TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT


TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT
Oleh: Jum’an

Ketika ada rejeki tak terduga diakhir tahun, saya alokasikan seluruhnya untuk memperbaiki mobil yang sudah peot-peot dan penuh goresan, belum pernah di kenteng atau dicat ulang. Tentu saya sisakan sebagian untuk transportasi kekantor selama mobil menginap dibengkel. Sudah lama saya merindukan penampilan body yang mulus dan mengkilap; tentu akan ada pengaruhnya terhadap suasana hati dan moga-moga juga peruntungan. Saya memilih bengkel “Body Repair dan Cat Oven” bukan sekedar las-ketok-duco manual pinggir jalan. Setelah lebih dari dua minggu ditunggu tunggu, iapun pulang dengan membawa pesona dan wibawa: bentuknya gagah, warnanya terang, tanpa peot tanpa baret, gres seperti baru. Sakti benar uang itu. Diubahnya wajah buruk yang dekil menjadi cantik dan gaul. Tanpa banyak bertanya, langsung memberi bukti dan daya guna! Sayapun merasakan dampaknya. Timbul gairah dan keceriaan baru dalam keseharian saya. Alangkah senangnya bila suasana baru yang menyenangkan ini dapat bertahan lama. Sayapun bertekad untuk menjaganya se-awet mungkin. Mengemudi dengan ekstra hati-hati untuk menghindari serempetan dan benturan. Terutama ketika melalui jalan sempit, parkir mudur di kandangnya yang pas-pasan atau  dimana saja. Saya siap menegakkan disiplin dalam memelihara mobil saya.

Siapapun yang ingin mencapai keinginan yang ideal haruslah memasang standar yang tinggi, aturan yang ketat dan disiplin yang kuat. Berlaku untuk siapa saja; para produsen, penyedia jasa, penulis, maupun ibu rumah tangga. Berdisiplin dalam berkendara bukanlah solusi yang tuntas karena yang separohnya lagi tergantung pada disiplin kendaraan lain. Sehingga disamping mengendalikan diri kita harus sekaligus terus menerus awas dan waspada terhadap suasana sekitar yang anda tahu, tidak peduli dengan keselamatan kendaraan kita. Karena mereka, terutama para pengendara motor yang jumlahnya ribuan, nampaknya siap untuk menyerempet setiap saat. Belum lagi pengemis anak-anak di lampu merah yang suka menempelkan muka dengan ingusnya dijendela. Nampaknya kesaktian uang tidak hanya membawa berkah tetapi juga ketegangan dan permusuhan. Saya belum pernah merasa sebenci ini terhadap pengendara motor maupun pengemis. Yang membuat kita frustrasi karena kita tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengendalikan mereka. Rasanya hanya malaikat yang sanggup melakukan tugas ganda seperti itu karena mereka hanya menjalankan perintah dan tidak memikirkan diri sendiri. Membenci pengemis yang seharusnya dikasihani, para pengedara motor yang juga sesama pencari nafkah adalah perbuatan yang salah. Apa lagi hanya demi penampilan sebuah mobil yang kalau dijual hanya cukup untuk membayar uang muka mobil yang baru. Sebenarnya selama ini ia saya pelihara hanya karena tidak mampu membeli yang lebih baru. Jadi apa boleh buat, dingin saya selimuti, sakit saya obati, rusak saya perbaiki. Berburu onderdil bekas pun saya jalani. Sungguh tidak seimbang. Sementara wajah baru hasil perbaikan sudah mulai pudar dan keceriaan saya sudah tak terasa lagi, saya masih memasang standar malaikat, tegang mengawasi musuh-musuh yang saya ciptakan sendiri. Sebenarnya tidak masuk akal kalau mereka berniat menyerempet mobil saya hanya karena iri melihat kemulusannya. Kenapa saya harus tegang dan melotot.

Suatu kali tanpa ketahuan asal-usulnya saya melihat sebuah goresan tajam cukup panjang di lambung kiri belakang, seperti bekas paku. Saya merasa sakit hati, serasa ditusuk dari belakang oleh siluman yang tidak mungkin saya lacak siapa dia. Yang jelas bukan seorang yang selama ini saya awasi yaitu pengendara motor ataupun pengemis. Entah siapa. Bagaimanapun perjuangan saya yang menegangkan telah berakhir dan gagal. Sejak itu dari hari kehari ketegangan saya menurun demikian pula kebencian saya terhadap pengendara motor dan pengemis. Saya tetap berhati-hati dalam mengemudi maupun memarkir, hanya saja tanpa beban ketegangan takut lecet atau penyok tersodok. Dan saya tidak keberatan seandainya ada tambahan satu atau dua goresan lagi. Mencapai keunggulan dalam suatu pekerjaan memang merupakan idaman setiap kita tetapi mencapai kesempurnaan adalah hak dan wilayah Allah saja. There is always room for improvement – selalu ada ruangan untuk perbaikan, tetapi akan tiba saatnya dimana usaha perbaikan tidak lagi memberikan hasil yang sesuai dengan waktu yang dibutuhkn. Jika pemuasan dilakukakn terus menerus maka kenikmatan akan terus-menerus menurun sampai sampai akhirnya jenuh. Sebaiknya kita tahu lebih dulu akan keterbatasan-keterbatasan kita, bila tidak kita akan berakhir tanpa menghasilkan apapun. Lepaskan saja standar malaikat, bertindaklah realistis. Kita terbatas, jauh dari sempurna. Apalagi bila kita bekerja bersama, bila hasil kerja kita baik belum tentu yang lain sebaik kita. Dengan mengakui keterbatasan yang kita miliki, kita tidak perlu malu mengatakan “maaf saya tidk bisa”. Melepaskan obsesi adalah lega seperti melepaskan beban berat dipundak. Kita tidak lagi ketakutan berbuat kesalahan.


Konon para penenun karpet Persia yang indah-indah itu, menggunakan cara yang unik untuk menunjukkan ketidaksempurnaan mereka: mereka sengaja membuat kesalahan kecil dalam pekerjaan mereka. Dengan begitu, mereka tahu karpet tidak sempurna dan terbebas dari perasaan menyaingi Tuhan karena hanya Dialah yang sempurna. Karena itu mari kita rayakan lecet pertama pada mobil kita, uban-uban pertama dikepala kita serta kerut-kerut di leher kita.