28/07/13

NAMAI ALI JANGAN KEVIN


NAMAI ALI JANGAN KEVIN
Oleh: Jum’an


Apalah artinya nama. Jika mawar diganti namanya dengan melati, baunya tidak akan berubah. Nama hanyalah label dan label tidak akan mengubah esensi. Seorang keponakan saya bernama Nadia; waktu ia dilahirkan bapaknya sedang terpesona oleh performa pesenam legendaris Rumania, Nadia Elena Comaneci. Nadia sendiri tidak tahu ketika diberi nama itu; orang tuanya yang mau. Ia hanya bisa menyandang nama itu sepanjang hayat. Sekarang sebagai seorang ibu ia meberi label anak-anaknya dengan nama yang lebih menarik dan trendy. Benarkah nama hanyalah label dan tidak merubah esensi orang yang menyandangnya? Itu hanya sentimen yang berlebihan; ilmu psikologi modern membuktikan beda. Penelitian menunjukkan bahwa nama yang diberikan kepada seorang anak yang baru lahir akan berdampak terhadap kehidupannya dikemudian hari. Ketika tumbuh dewasa ia akan terpengaruh oleh nama mereka secara langsung maupun tak langsung. Nama memiliki potensi untuk mempengaruhi kepribadian, harga diri, asmara dan bahkan kemungkinan kebiasaan merokok.

Studi oleh Intitut fur Psychologie, Max Plank Research (Berlin) dan Duke Univ, Durham USA menemukan bahwa orang-orang yang namanya dianggap positip lebih mungkin menikmati interaksi sosial yang positip, sementara orang-orang dengan nama negatif lebih mungkin mengalami penolakan masyarakat. Para ilmuwan itu berpendapat bahwa kesan awal membentuk dasar yang kuat untuk memproses informasi selanjutnya tentang seseorang. Dan nama merupakan salah satu unsur informasi awal yang kita terima ketika kita bertemu orang baru. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penolakan oleh masyarakat cenderung menurunkan harga diri, meningkatkan kemungkinan merokok, dan menurunkan tingkat pencapaian dalam pendidikan seseorang. Jika nama yang dianggap negatif memberikan kontribusi terhadap penolakan sosial, berarti orang-orang dengan nama negatif akan memiliki harga diri rendah, lebih mungkin untuk merokok, dan tidak berpendidikan maju seperti rekan-rekan mereka bernama positif.

Para peneliti memperhatikan puluhan ribu profil “kencan online” yang dibuat oleh para pengguna internet yang memakai nama yang sangat positip, agak positip dan yang berkesan negatip. Sesuai dugaan, mereka dengan nama-nama yang lebih positif menerima lebih banyak sambutan, sementara mereka yang namanya terkesan negatip lebih sedikit sambutannya. Dengan kata lain, pengajak kencan online yang namanya dianggap negatif lebih mungkin untuk ditolak. Nama favorit tentu bervariasi sesuai dengan tempat dan waktu. Tapi khusus dalam penelitian ini, user pria dengan nama yang paling positif (“Alexander”) menerima kunjungan dua kali lebih banyak dari pengguna yang namanya paling terkesan negatif ("Kevin"). Juga sesuai prediksi, orang-orang dengan nama negatif cenderung rendah diri, kurang pendidikan, dan suka merokok. Gadis lajang Jerman ternyata lebih memilih untuk tetap lajang (membujang) ketimbang memadu cinta dengan pria benama Kevin. Pantaslah ketika rakyat Inggris sibuk menebak-nebak nama “royal baby” mereka minggu lalu, Developmental Psychologist Jason Goldman menulis dalam The Guardian, menyarankan kepada Pangeran William dan isterinya Kate: Apapun yang anda lakukan, jangan beri nama putra kalian Kevin.

Dalam sejarah Islam kita mengenal tokoh Ali bin Abi Talib yaitu sepupu sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dikenal memiliki berbagai kelebihan dalam pengetahuan, kebranian, kealiman dan kedermawanan. Beliau adalah tokoh yang namanya banyak dipakai orang. Sebuah ungkapan dalam bahasa Arab mengatakan: Namai Ali dan biarkan. Artinya dengan nama Ali saja, sudah cukup sebagai bekal menjalani hidup. Jadi, namai Ali jangan Kevin……….. 

20/07/13

JIN QARIN DAN DOPPELGANGER


JIN QARIN DAN DOPPELGANGER
Oleh: Jum’an

Ketika kita merasa bimbang untuk mulai berbuat curang, selalu hadir sosok yang membisikkan supaya kita tidak usah ragu-ragu.Kecurangamu itu, bisiknya, toh bertujuan baik, demi anak istri. Tidak ada yang dirugikan. Allah pasti tahu bahwa kamu kesusahan dan mensejahterakan keluarga adalah ibadah untukNya juga. Dia tahu hatimu baik. Lagipula orang lain juga berbuat begitu; lanjutkan saja! Sosok pembisik itu benar-benar terasa kehadirannya, akrab dan bersahabat, suaranya hampir terdengar ditelinga kita. Sepertinya ia tahu benar rahasia hati kita dan terasa bukan orang lain, mungkin kembaran virtual yang selalu mendampingi kita. Sosok pembisik itulah jin Qarin. Ia benar-benar ada yang diciptakan Allah untuk masing-masing kita, seorang satu. “Tidak ada seorang pun diantara kalian yang tidak di tunjuknya jin pendamping (Qarin)”, kata Rausulullah. Kelak di akhirat Qarin sang pembisik itu akan dihadirkan bersama kita dalam sidang pengadilan “final justice”. Ketika seseorang pembangkang membela diri dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia disesatkan oleh pembisiknya, Qarinnya mengelak dan mengatakan “Ya Allah, bukan saya yang menyesatkannya tetapi dia sendiri yang memang sesat.” (surat Qaf, ayat 27). Maka kedua-duanya akan menerima hukuman yang setimpal. Anda dapat menggugel Qarin dari internet, menanyakannya kepada ulama atau membacanya sendiri dalam Qur’an dan Hadis. Bahwa rasanya ada sosok lain yang ikut menghuni dalam jasad kita pernah saya tulis dalam “Ada Orang Lain dalam Diri Saya?” , menceritakan kembali tulisan Ramachandran dalam The Scientific American berjudul “Hey, Is That Me over There?”

Dalam cerita rakyat Jerman dikenal sosok yang disebut Doppelganger (Inggris = Double Walker) yaitu kembaran diri yang dipercaya menyertai setiap manusia di bumi. Dalam tulisannya The True Stories of Doppelgangers, Stephen Wagner seorang penulis dan peneliti paranormal berpengalaman menyebutkan, banyak tokoh-tokoh dalam sejarah  yang mengaku bertemu atau ditemui oleh dirinya sendiri – doppelganger mereka– atau mengalami fenomena bi-lokasi yaitu seseorang berada didua tempat terpisah pada saat yang sama. Doppelganger tidak bisa dibedakan dari pemiliknya dan dapat berinteraksi dengan orang lain seperti diri yang sebenarnya. Umumnya doppelganger hanya dapat dilihat oleh pemiliknya dan biasanya merupakan pertanda akan datangnya kematian bagi orang itu. Tetapi kadang-kadang juga dapat dilihat oleh orang lain. Dalam kisah-kisah nyata itu disebutkan bahwa Ratu Elizabeth I, Presiden Kennedy, serta Presiden Lincoln termasuk orang-orang yang pernah bertemu dengan doppelgangernya. Ratu Elizabeth I terperanjat ketika melihat dirinya sendiri berbaring ditempat tidurnya. Ia meninggal beberapa waktu sesudah itu. Emile Sagee (1845) seorang guru perempuan, tidak pernah melihat kembarannya tetapi murid-muridnya sering memergokinya ikut mengajar dikelas atau berjalan dikebun diluar jendela sementara Emile mengajar. Stephen Wagner juga meberikan beberapa contoh peristiwa dimana seseorang berada didua tempat terpisah pada saat yang sama.

Dalam Biografi Alm. KH. Hamim Tohari Jazuli  alias Gus Miek (1940 -1993) disebutkan bahwa ketika Kiai Romli Tamim dari Pesantren Darul Ulum Jombang, seorang mursyid tarekat Qodiriyah meninggal pada tahun 1958, Gus Miek menolak ajakan ayahnya untuk ikut takziah ke Jombang. Ia memilih untuk tinggal dirumah di Kediri. Ketika sang ayah (KH. Ahmad Jazuli) sampai di Jombang ternyata Gus Miek sudah ada disana dan keluarga Kiai Romli menjelaskan bahwa Gus Miek sudah berada di Jombang selama seminggu menemani almarhum sebelum meninggal. Kaum santri menyebut fenomena seperti ini sebagai karomah. Mereka mengenal berbagai karomah kiai-kiai besar. Stephen Wagner pasti tidak merasa heran dengan kisah Gus Miek; meskipun banyak diantara kita yang menganggapnya sebagai khurafat dan takhayul belaka.

Qarin dan Doppelganger adalah dua fenomena yang berasal dari dua sumber yang jauh berbeda. Qarin jelas disebut-sebut dalam Qur’an dan Hadis sedangkan Doppelganger berasal dari cerita rakyat Jerman. Bagaimanapun Doppelganger, menolong saya untuk memahami mengapa Gus Miek bisa berada di Jombang dan di Kediri pada saat yang bersamaan.  Wallohu a’lam bissawab.


14/07/13

SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS


SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS
Oleh: Jum’an

CPU komputer saya ada dibawah meja berukuran 120 x 75 cm diatas dingklik setinggi 10 centi. Karena ruang gerak terlalu sempit saya menggunakan jempol kaki untuk menekan tombol on-off tiap kali menghidupkan komputer. Tetapi mencolokkan flashdisk kedalam lubang USB tidak mungkin menggunakan kaki, jadi saya terpaksa mengulurkan tangan kebawah meja mecari lubang kecil itu tanpa melihatnya. Mula-mula selalu kesasar dan lama meraba-raba, tapi untuk selanjutnya tangan saya seperti punya mata sendiri dan tak pernah salah. Tahu persis dimana titik yang saya cari. Demikian pula dengan parkir paralel atau memarkir mobil kedalam garasi yang sempit. Sesudah beberapa kali kesulitan maju mundur, selanjutnya mobil dan badan kita serasa menyatu sehingga jarak beberapa centimeter saja serasa terdeteksi dengan baik; tak pernah menyerempet tembok atau mobil lain. Anda begitu juga; untuk hal yang sama atau yang lain. Gerakan gerakan kita ternyata menunjukkan kemanjuran yang tidak kita sangka dan menjadikan kita percaya diri.
Tetapi ingat-ingat ini: Sekali kita sudah terbiasa dengan letak lubang USB dibawah meja atau parkir parallel atau ketrampilan lainnya, jangan lagi dipikir waktu mengerjakannya. Sebab memikirkan sesuatu yang sedang kita kerjakan akan merusak kinerja kita. Dalam blognya The Myth of ‘Just Do It’  Barbara Montero seorang profesor filsafat mengutip rumus seorang tokoh baseball Yogi Berra: “Anda tidak bisa memukul dan berpikir pada saat  yang sama.” Juga nasehat koreografer terkenal George Balanchine kepada para penarinya “Don’t think, dear; just do.” Jangan dipikir, lakukan saja! Bagi yang sudah terlatih melakukan sesuatu, memikirkan apa yang sedang dilakukannya mengarah pada ketidak-akuratan, kesalahan dan kadang-kadang bahkan ketidak-berdayaan total. Membawa gelas penuh air sambil memikirkan caranya akan membuat tangan kita bergoyang dan menumpahkannya; berpidato sambil memikirkan bagamana cara memulainya bisa membuat kita tersedak. Sebabnya, menurut sebuah artikel dalam The Scientific American yang pernah saya kutip dalam tulisan saya Akibat Terlalu Banyak Berpikir, "Mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja."
Saya kira fenomena diatas ada kaitannya dengan usaha saya yang selalu gagal untuk melaksanakan tertib solat dengan baik. Bukankah kita yang selalu melakukan solat wajib lima kali sehari sangat terlatih dan lancar melakukan urutan langkah-langkah dari takbir hingga salam? Kita melakukannya secara intuitif dan otomatis. Tidak kita pikir-pikir lagi. Meskipun demikian tidak jarang diantara kita yang tersesat di rakaat mana kita sedang berada. Saat itulah kita berfikir untuk mencari kejelasan supaya dapat melanjutkan langkah berikutnya. Karena daya ingat yang menurun dimakan usia, saya memakai cara begini: Ketika berdiri untuk mulai setiap rakaat, pikiran saya berkata: ini adalah rakaat ke sekian. Saya berharap cara ini akan menghilangkan keraguan. Tetapi waktu melakukan rakaat berikutnya selalu muncul pikiran: rakaat yang sebelum ini tadi sudah saya kerjakan atau baru rencana dalam pikiran?  Pikiran pun menjadi buntu dan solat 4 rakaat saya tetap berpotensi meleset menjadi tiga atau lima rakaat. Kita memang sulit untuk mengerjakan sesuatu sambil memantaunya secara bersamaan.
Dalam sebuah penelitian, dua kelompok mahasiswa diberi tugas untuk memberikan peringkat lima buah merk selai, dari yang terbaik sampai yang terburuk. Kelompok pertama hanya diminta menentukan peringkatnya saja, sedangkan kelompok kedua diminta juga untuk menyertakan alasan-alasan mereka. Hasilnya, kelompok pertama menunjukkan pernilaian yang cukup konsisten, selaras baik antar mereka dalam satu kelompok maupun dengan pernilaian dari Lembaga Konsumen.  Sedangkan penilaian oleh lompok kedua yang harus menyertakan alasan, ternyata kacau dan saling berbeda baik antar anggota kelompok maupun dengan penilaian Lembaga Konsumen. Para peneliti menduga karena kelompok kedua lebih banyak berpikir dalam menilai dan mempengaruhi hasil penilaian mereka.

Bagi mereka yang sudah ahli atau terbiasa baik dalam berolah raga, menari, menyanyi, berkhotbah maupun solat, tidaklah seharusnya untuk berfikir waktu mengerjakannya karena pertimbangan cermat dapat menimbulkan kesulitan. Wallohu a’lam 

03/07/13

SOLAT BERBAHASA JAWA

SOLAT BERBAHASA JAWA
Oleh: Jum’an

Pak Sri teman saya asli Solo mengatakan bahwa ia merasa lebih sreg bila berdoa dalam bahasa Jawa. Katanya lebih terasa kalau dia mengucapkan Duh Gusti dibandingkan Ya Robbi. Dengan rendah hati ia mengatakakan seandainya diizinkan, ia ingin solat menggunakan bahasa Jawa: setidak-tidaknya pada tahiyat akhir saja. Saya tertegun mendengarkan curhatnya. Saya hanya menimpali bahwa keinginannya mirip dengan keinginan saya dalam menjalankan profesi sehari-hari. Setiap kali berurusan dengan suhu, volume, berat atau jarak, selalu terasa ada yang janggal yang tidak sreg. Karena menerapkan teknologi Amerika, suhu terpaksa dinyatakan dalam derajat Fahrenheit, bukan dalam derajat Celcius (Centigrade), padahal saya lebih sreg menggunakan derajat Celcius karena lebih mudah dibayangkan. 0o C adalah sedingin menggenggam es batu dan 100o C sepanas tersiram air mendidih. Sedangkan 100o F tak terbayang seberapa panas, kecuali jika saya konversikan lebih dulu. Begitu juga volume, berat dan jarak saya lebih sreg menggunakan liter, kilogram dan meter daripada feet, pound dan gallon. Lebih terbayang. Pak Sri juga ingin doa dan solatnya lebih terasa, seperti manisnya rasa buah, tidak seperti menelan kapsul vitamin meskipun mungkin sama khasiatnya. Meskipun tak pernah terlintas untuk solat menggunakan bahasa Jawa, saya memahami pentingnya ibadah yang terasa sampai kehati tidak verbalististis dan mekanistis. Bagi Pak Sri bahasa Jawa tidak hanya enak diucapkan tetapi terasa meresap sampai kehati dibanding bahasa Arab yang tidak ia kuasai dengan baik. Saya maklum karena sebagai orang Banyumas saya juga setali tiga uang.

Konon suatu saat Raden Ajeng Kartini merasa bosan mengaji dan menghafal dalam bahasa Arab tanpa memahami artinya. Ia dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngaji yang mengaharapkannya menjadi wanita yang soleh. Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya Estella Zeehandelaar, seorang tokoh feminis Yahudi Belanda. Salah satu baris surat bertanggal 6 November 1899 itu berbunyi: Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” Ini tragis! Karena guru ngaji yang mungkin tidak pandai menyajikan materinya dalam bahasa Jawa yang difahami dan diresapi, Kartini berpaling kepada komunitas Belandanya. Tetapi bukan salah sang guru ngaji. Kartini memang dibawah pengaruh mereka; bahkan ia memandang Dr. Snouck Hurgronje orientalis-kolonialis Balanda sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Kepada Rosa Abendanon istri Menteri Agama & Kebudayaan Hindia Belanda waktu itu, Kartini menulis: “… sudikah nyonya menanyakan kepada beliau apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” Mempertentangkan arti soleh dan baik hati adalah tidak relefan; bahkan dalam hal ini terdengar provokatif dan menunjukkan ketidak sukaan kepada bahasa Arab, padahal RA Kartinii adalah cucu dari pasangan KH Madirono seorang guru agama dan Nyai Hajjah Siti Aminah.

Kebanyakan kita menyangka bahwa apa yang kita ungkapkan dengan kata-kata sama persis dengan yang kita rasakan dalam pikiran. Yang kita ucapkan tergantung dari apa yang kita gambarkan dalam pikiran kita. Tetapi ada pendapat yang sebaliknya yaitu apa kita rasakan, apa yang kita lihat, tergantung dari kata yang kita ucapkan. Artinya persepsi seseorang tergantung dari bahasa orang itu. Menurut Hipotesa Sapir-Whorf  bahasa menentukan atau sangat mempengaruhi cara berfikir dan perilaku masyarakat pengguna bahasa itu dan bahwa  macam-macam bahasa tidak dapat diterjemahkan satu dengan lainnya. Bahasa seseorang memang berpengaruh terhadap persepsi dan pemikirannya, sebagaimana terbukti dari penelitian dua orang dari Ben-Gurion Univ. Israel dan Bangor Univ. Inggris. Subyek dalam penelitian mereka adalah orang-orang Arab warga Israel, yang fasih dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab, yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang menggunakan bahasa Ibrani. Terbukti bahwa asosiasi positif mereka dengan bangsanya sendiri (sesame Arab) lebih lemah ketika mereka diuji dalam bahasa Ibrani daripada ketika mereka diuji dalam bahasa Arab. Mereka berfikir Arab lebih positif ketika mereka dalam lingkungan berbahasa Arab daripada lingkungan berbahasa Ibrani. Padanan awamnya, Kartini yang fasih berbahasa Belanda dan Jawa berkurang simpatinya kepada guru ngaji bangsa sendiri ketika ia bergaul dengan komunitas yang berbahasa Belanda. Karena itu ia memilih bertanya kepada Snouck Hurgronje daripada kepada ulama Islam berbahasa Jawa

Saya juga sering berdoa dalam bahasa Indonesia atau Jawa terutama bila harus menyebut hal-hal yang bersifat masa-kini atau khas-pribadi. Tetapi melakukan solat menggunakan bahasa Jawa, … tidak akan! Karena seperti dikatakan Edward Sapir diatas, pada hakekatnya suatu bahasa tidak dapat diterjemahkan kedalam bahasa lain. Apalagi ayat suci Qur’an. Anda tidak akan solat dalam bahasa selain bahas Arab bukan? Saya dan Pak Sri juga tidak.

21/06/13

SEDEKAH PELINDUNG JANTUNG & API NERAKA


SEDEKAH: MELINDUNGI JANTUNG & API NERAKA
Oleh: Jum’an

Prof. Stephen Post, Ph.D. adalah pakar bioetika dari Case Western Reserve University yang memiliki Sertifikat Pengakuan Khusus dari Konggres AS atas kontribusinya dalam bidang kedokteran. Dalam bukunya “Why Good Things Happen to Good People” (2007) ia menyajikan kisah-kisah nyata untuk menunjukkan bagaimana perbuatan “memberi” membuka pintu menuju kesehatan, kebahagiaan , dan hidup lebih lama. Beliau telah mengabdikan bagian besar hidupnya bagi penelitian ilmiah untuk membuktikan manfaat peningkatan kualitas kehidupan dari perilaku memberi. Penelitiannya menunjukkan bahwa bila kita memberi, terutama jika kita mulai pada umur muda, maka mulai dari kepuasan hidup, potensi diri dan kesehatan fisik meningkat secara signifikan. Kematian tertunda. Depresi berkurang. Kesejahteraan dan keberuntungan meningkat. Dalam buku ini Prof. Stephen telah mensarikan penelitian akademik menjadi pesan inspirasional. Disajikan pula bukti-bukti bahwa orang yang suka memberi selama tahun-tahun SMA memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik sepanjang hidup mereka. Studi lain menunjukkan, orang tua yang melakukan pemberian, hidup lebih lama daripada mereka yang tidak. Membantu orang lain telah terbukti membawa manfaat kesehatan bagi orang dengan penyakit kronis, termasuk HIV, multiple sclerosis dan masalah jantung. Dan studi menunjukkan bahwa orang dari segala usia yang membantu orang lain secara teratur, bahkan dengan cara yang kecil, merasa paling bahagia.
Menurut  Dr. David R. Hamilton, ketika kita melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, kita merasa senang. Dari segi biokimia diyakini bahwa perasaan senang yang kita dapatkan adalah karena peningkatan kadar morfin dan heroin alamiah dalam otak, yang disebut opioid endogen. Mereka menyebabkan peningkatan kadar dopamin dalam otak sehingga kita merasakan kegembiraan alami. Itulah mengapa perbuatan baik membuat kita lebih bahagia. Tindakan kebaikan umumnya disertai dengan kehangatan emosional. Kehangatan emosional menghasilkan hormon oksitosin, di otak dan di seluruh tubuh. Oksitosin menyebabkan pelepasan bahan kimia yang disebut oksida nitrat dalam pembuluh darah, yang melebarkan pembuluh darah. Hal ini mengurangi tekanan darah dan karena itu oksitosin dikenal sebagai hormon 'kardioprotektif' karena melindungi jantung (dengan menurunkan tekanan darah). Kuncinya adalah bahwa tindakan kebaikan dapat menghasilkan oksitosin dan karena itu kebaikan dikatakan melidungi jantung. Oksitosin dikenal juga sebagai hormon kedermawanan, katalisator silaturahmi, pembangkit ukhuwah.
Menurut Dr. Hamilton dua penyebab yang mempercepat proses penuaan adalah radikal bebas dan peradangan (inflamasi), yang berasal dari pilihan gaya hidup yang tidak sehat. Tetapi penelitian mutakhir menunjukkan bahwa oksitosin (yang kita produksi melalui kehangatan emosional) mengurangi kadar radikal bebas dan inflamasi pada sistem kardiovaskular dan karena itu memperlambat penuaan. Kebetulan kedua radikal bebas dan inflamasi juga memainkan peran utama dalam penyakit jantung jadi ini juga alasan lain mengapa kebaikan adalah baik untuk jantung.
Penelitian  dari Universitas Bristish Columbia mengungkapkan bahwa berbuat atau bertingkah laku baik, dapat membuat orang yang cemas merasa jauh lebih baik. Selama 4 minggu, sejumlah orang dengan kecemasan tinggi ditugaskan untuk melakukan perbuatan baik untuk orang lain setidaknya enam kali seminggu, termasuk hal-hal seperti memegangi pintu agar orang dibelakang ikut lewat, melakukan pekerjaan untuk orang lain, menyumbang untuk amal, dan membeli makan siang untuk teman. Menurut Lynn Alden, profesor psikologi yang merancang penelitian itu, melakukan hal-hal yg baik untuk orang lain menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam suasana hati yang positif. Juga meningkatkan keakraban dan menurunkan kecenderungan individu yang cemas menghindar dari orang banyak.
Para peneliti juga percaya bahwa melakukan tindakan-tindakan kebaikan kecil dan bersyukur dapat membuat orang lebih bahagia. Menurut professor psikologi Universitas California yang telah mempelajari kebahagiaan selama lebih dari 20 tahun, Sonja Lyubomirsky, kegiatan positif meningkatkan emosi positif, pikiran dan perilaku, pada gilirannya meningkatkan kebahagiaan. Berulang kali melakukan tindakan kebaikan yang sama mungkin kehilangan kemampuannya untuk meningkatkan kebahagiaan, katanya. Variasi, frekwensi dan motivasi semua memainkan peran. Penelitian Sonja menemukan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tindakan-tindakan kebaikan menjadi lebih bahagia dari waktu ke waktu.Kenapa? "Karena, saat anda baik kepada orang lain, anda merasa sebagai orang baik -lebih bermoral, optimis, dan positif," katanya.

Apa yang saya kutip diatas tidak lain adalah  tentang amal saleh, memberikan sedekah, menolong orang lain, dan bersyukur. Hal-hal yang seharusnya akrab dalam kehidupan serorang muslim. Hadis mengatakan bahwa sedekah menyembuhkan penyakit,  sedekah memperpanjang umur, sedekah mencegah kematian su’ul khotimah, sedekah (meskipun hanya sepotong kurma) melindungi kita dari api neraka, sedekah mendinginkan panasnya kubur. Sedekah menghilangkan sifat sombong dan kemiskinan. Padahal menyingkirkan duri dari jalanan, senyum pada saudara, berkata baik-baik, menunjukkan jalan orang yang pusing nyari alamat…itulah sedekah. Masyaallah!

09/06/13

GERAKAN BERBURU ANAK YATIM


GERAKAN BERBURU ANAK YATIM
Oleh: Jum’an

Konon sejak aktris cantik Angelina Jolie mengadopsi Zahara anak Ethiopia, jumlah orang Amerika yang mengadopsi anak Ethiopia melonjak empat kali lipat. Mereka terpaksa berurusan dengan agen-agen oportunis karena tidak adanya aturan yang jelas. Disana ada 5 juta anak yatim dan di Amerika ada jutaan keluarga yang butuh anak angkat. Adopsi internasional yang mereka anggap sebagai solusi ideal untuk negeri miskin seperti Ethiopia, ternyata penuh masalah. Banyak orang tua angkat curiga atau menemukan anak yang baru mereka adopsi bukanlah anak yatim. Anak itu mungkin juga memiliki sederet masalah kesehatan yang ditutup-tutupi oleh para pejabat korup. Keluarga yang melepaskan juga mungkin telah ditipu menyerahkan mereka melalui cara yang tak berperasaan. Kantor berita Australia ABC yang menelusuri  adopsi di Ethiopia mengisahkannya sebagai tragis, memyedihkan dan menunjukkan kekejaman bisnis adopsi internasional dalam memburu keuntungan. Selama dekade terakhir, banyak orang Amerika bersemangat untuk mengadopsi anak anak dari negara-negara miskin atau bermasalah seperti negara-negara bekas blok Soviet, Nepal, Uganda, Korea, Vietnam, Guatemala, China dan Rusia. Ketiga yang terakhir ini, pada 2005 merupakan pemasok 85% anak angkat untuk Amerika! Sayang banyak orang Barat tak tahu betapa adopsi intrnasional sangat menyedihkan di beberapa negara. Adopsi internasional telah menjadi ranah Wild West, yang bebas dari hukum, peraturan, atau pengawasan yang berarti. Biaya adopsi seorang bayi mencapai 25.000 sampai 50.000 dollar Amerika. Uang sebanyak itu – kali sekian ribu - telah menyebabkan kasus korupsi di banyak negara. Jutaan dolar itu sebagian digunakan untuk usaha tak bermoral seperti membeli, menipu, memaksa, dan kadang-kadang bahkan menculik anak-anak dari keluarga yang mencintai dan akan membesarkan mereka.

Akibat maraknya skandal dan korupsi, adopsi internasional oleh Amerika telah menurun hampir 60 persen dari puncakya pada 2004. Beberapa tahun lalu, Rusia merasa benar-benar tersinggung ketika seorang ibu angkat dari Amerika mengembalikan anak Rusia umur 7 tahun sendirian dalam pesawat dari Tennesee ke Moskow hanya dibekali tulisan "Saya tidak ingin lagi mengasuh anak ini.” Insiden ini dan berbagai skandal lainnya membuat Rusia dan negara-negara pemasok utama termasuk Korea Selatan, Cina, Guatemala semuanya mengurangi izin adopsi oleh Amerika.

Pada 17 Mei 2013 sekitar 500 orang tua angkat dari 37 negara bagian Amerika mengadakan “Pawai Menyongsong Anak Yatim” (Step Forward for Orphans March)" di Washington. Pawai penuh semangat ini diadakan oleh kelompok “Both Ends Burning” untuk memprotes peraturan yang mereka anggap tidak adil dan menghambat proses adopsi internasional. Mereka menuntut agar jumlah anak yang memasuki AS untuk diadopsi dinaikkan 5 kali lipat, perubahan dramatis dari tingkat adopsi yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pimpinan mereka Craig Juntunen berkata: "Sekarang ini proses adopsi terlalu ketat, birokratis berantakan, kita benar-benar menghalangi keluarga dan anak-anak berkumpul bersama-sama. (Seolah-olah anak- anak luar negri sudah menjadi keluarga mereka!) Ini gila." Pawai itu, katanya, adalah awal dari "gerakan sosial yang tak akan terbendung" yang akan "menggalang tuntutan sosial dan politik untuk mengeluarkan anak-anak yatim dari panti asuhan masuk ke dalam keluarga." Menurun drastisnya adopsi Amerika juga membuat mereka ingin merubah citra adopsi menjadi sesuatu yang lebih diminati dan orang rela melepaskan anaknya untuk diadopsi. FRC sebuah organisasi Kristen menyarankan untuk mengubah bahasa mengenai adopsi untuk menyajikan adopsi sebagai heroik, tidak egois, penuh kasih dan matang - dan sebaliknya, menggambarkan ibu-ibu muda atau belum menikah yang memilih untuk mengasuh sendiri anak-anak mereka sebagai belum matang dan egois

Menurut Kathryn Joice, dalam Huffington Post 9 Juni menuliskan bahwa Pawai Menyongsong Anak Yatim dan usulan pengubahan istilah adopsi adalah bagian dari Gerakan Adopsi Kristen. Sejak tahun 2000an, sejumlah pemimpin Kristen Protestan Amerika yang termotivasi oleh gagasan bahwa ada ratusan juta anak yatim di dunia, dan bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk merawat mereka, mulai meniup terompet bahwa adopsi dan perawatan anak yatim adalah panggilan khas Kristen. Adopsipun menjadi semacam badai pendorong bagi banyak orang Kristen Amerika. Para pemimpin penginjil menyusun theologi adopsi: “Kita mengadopsi anak-anak, sama seperti Allah telah mengadopsi kita.” Gerakan keagamaan yang bagi mereka beriktikad baik ini ternyata bermasalah. Sebagai efek samping dari ribuan umat Kristen yang baru dibangkitkan untuk mengadopsi, terjadilah bottleneck tak terduga: makin banyak calon pengadopsi yang mengantri, tingkat adopsi domestik maupun internasional malah menurun drastis. Baik adopsi bayi domestik yang lahir dari ibu yang tidak menikah atau anak yatim di luar negeri, tampaknya terlalu sedikit yang dapat diadopsi untuk memenuhi permintaan calon orang tua angkat yg meroket. Ternyata ada kekeliruan yang mendasar tentang anak yatim. UNICEF mendefinisikan yatim sebagai anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Dengan definisi ini ada 132 juta anak yatim di Afrika, Asia dan Amerika Latin 2005. Mereka bukan hanya anak-anak yang kehilangan kedua orang tua, tapi termasuk yang tak ber-ayah tetapi ibunya masih hidup atau tak ber-ibu tetapi ayahnya masih hidup. Dari 132 juta anak yang diklasifikasi sebagai yatim, hanya 13 juta yang benar-benar kehilangan kedua orang tuanya. Jadi bahwa ada 210 juta anak yatim dunia yang menunggu adopsi tidak benar.
Tingkat adopsi domestik juga menurun. Dulu, sebelum aborsi disahkan atau orang tua tunggal diterima, banyak wanita yang hamil yang tak terduga cenderung melepaskan bayinya untuk diadopsi; sekarang jumlah tersebut menurun tinggal 1% saja. Menurut Kelompok konservatif FRC, semua anak yang lahir dari ibu yang tidak menikah secara de facto adalah "anak yatim" yang tersedia untuk diadopsi (definisi dari alkitab kata mereka). Masalah lainnya, upaya untuk meningkatkan angka adopsi tampaknya lebih merupakan keinginan calon orang tua angkat. Permintaan adopsi terus meningkat, bukan hanya datang dari pasangan yang mandul tetapi juga demi panggilan Tuhan!

Menurut Kathryn Joice, Gerakan Adopsi Kristen perlu memahami bahwa krisis yang sebenarnya bukanlah soal anak yatim tetapi masalah kemiskinan, pembangunan yang buruk dan kurangnya infrastruktur kesejahteraan anak yang membuat banyak keluarga terpaksa menitipkan anaknya ke panti asuhan, sementara belum mampu membesarkan sendiri. Realitas itu sangat jelas terlihat di negara-negara berkembang, tapi sulit didengar ditelinga banyak orang tua angkat - khususnya oleh anggota Gerakan Adopsi Kristen. Tetapi jika mereka benar-benar memaksudkan adopsi menjadi sesuatu yang lebih menolong daripada menyakitkan, mereka perlu mempertimbangkan bagaimana sistem dan keyakinan mereka tentang adopsi dapat ditinjau kembali.


Professor David Mark Smolin, seorang pakar hukum dari Alabama, menulis sebuah risalah yang mengkritik bahwa analisa teologis dan penafsiran kitab suci yang mendasari gerakan adopsi Kristen adalah jelas-jelas sangat keliru. Berdasarkan pada standar, metode, dan pra-anggapan yang dianut bersama secara  luas oleh para pendeta Kristen dalam menganalisa kitab suci dan teologi, maka analisa khusus gerakan adopsi Kristen tentang konsep-konsep seperti "adopsi" dan "anak yatim" benar-benar kurang sempurna dan telah menghasilkan kesimpulan yang telah terbukti keliru. Dan bahwa kesalahan dari analisa Kitab Suci dan Teologi ini, kini menghasilkan praktek-praktek yg dalam istilah-istilah agama disebut "berdosa" dan dalam bahasa yang lebih sekular bisa disebut eksploitatif. Kritik teologis David Smolin itu dapat diunduh sisini.

01/06/13

HADIS ABAD KE 21 VERSI TURKI


HADIS ABAD 21 VERSI TURKI
Oleh: Jum’an

Sekitar 5 tahun lalu British Broadcasting Corporations (BBC) menyiarkan bahwa Pemerinta Turki akan menerbitkan kompilasi hadis edisi baru hasil re-interpretasi revolusioner serta modernisasi yang radikal. Berita yang merisaukan para ulama dan umat Islam itu dibantah oleh Direktorat Agama Turki yang mengatakan, berita itu merupakan cara pandang Kristen yang keliru terhadap perkembangan Islam. Prof. Hakki Unal dari Fakultas Agama Universitas Ankara menyatakan inisiatif re-interpretasi hadis itu merupakan upaya untuk memperjelas makna Islam dalam masyarakat modern. Seorang ulama Saudi dengan sinis betanya: Apakah anda mau menerbitkan Qur’an baru sesudah ini? Tetapi proyek reformasi hadis yang didukung Pemerintah berjalan terus. Pimpinan proyek itu, seorang petinggi Direktorat Urusan Agama (Dyanet) Mehmet Ozafsar berkata: “Kita bukan hidup di abad 20 lagi. Kita memerlukan suatu karya baru tentang Islam dalam perspektif budaya hari ini.”  “Dalam menghakimi suatu tindakan, kita jangan hanya membuka Qur’an atau kumpulan Hadis, menemukan satu ayat atau Hadis dan berkata ‘Aha! ini dia hukumnya!’  Itu berarti literalisme dan kebodohan; kata Mehmet Pacaci, petinggi Dyanet lainnya kepada Reuters

Begitulah, 100 orang pakar hadis telah memilih 500 dari 17.000 hadis tentang akidah, iman dan sosial, bekerja tekun selama 6 tahun dan akhirnya lahirlah sebuah eksiklopedia 7 jilid yang berisi hadis-hadis yang penting menurut para penyusunnya. Dikelompokkan berdasar subyek diikuti dengan esai pendek penjelasan hadis itu dalam konteks sejarahnya dan apa artinya hari ini. Hasil karya mereka akan dirilis resmi bulan Ramadan mendatang. Sebenarnya menseleksi dan mencermati hadis bukan hal baru dalam Islam. Para ulama terdahulu telah melakukannya untuk membantu umat Islam mempelajari hadis tanpa harus menelusuri kitab-kitab klasik yang panjang dan rumit. Hanya saja kali ini seleksi dan pembahasan itu dilakukan berdasarkan perspektif Turki hari ini, yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas masyarakat Muslim serta ekonomi yang dinamis.

Seberapa menyimpang hadis-hadis edisi Turki ini dari pengertian kita? Apakah sabda-sabda Rasulullah itu diselewengkan, kata-katanya dirubah, dinyatakan tidak asli atau sebagian dipersalahkan dan tidak diakui? Tidak demikian. Menurut Tom Heneghan editor berita Agama Reuters “tidak seperti Tesis Marthin Luther th 517 yang mengutuk praktek Gereja Katolik Roma dan melancarkan Reformasi Protestan.”  Mereka hanya membahas pandangan Islam tentang aqidah, iman dan kehidupan dalam terminologi yang difahami oleh orang Turki modern yang awam. Para ahli hadis itu adalah penganut Islam Sunni dengan akidah yang kuat yang tidak menggunakan penafsiran literal seperti yang dianut kaum muslimin dikebanyakan negara lain. Menurut Ozafsar, Turki mempunyai pandangan yang berbeda tentang budaya Islam. Temasuk tradisi sekuler yang kuat yang membolehkan konsumsi alkohol, berpakaian ala Barat utuk wanita. Turki juga membolehkan imam dan khatib wanita di masjid -masjid. Delegasi keagamaan Turki sering mengunjungi Universitas Al-Azhar Cairo yang merupakan tempat utama pedidikan Sunni.

Di Mesir dimana ulama Islam tradisional, ulama Ikhwanul Muslimin yang sedang berkuasa dan ulma Salafi radikal saling berbeda pendapat atas isu-isu utama keimanan, koleksi hadits Turki ini bisa membawa perspektif baru untuk perdebatan. Menurut penasehat Mufti Besar Mesir, Ibrahim Negm, ada sambutan baik terhadap interpretasi baru ini dikalangan intelektual Mesir. Mereka sangat terkesan dengan model Turki, tidak hanya di bidang ekonomi dan politik tetapi juga dalam orientasi keagamaan moderat. Turki mereka pandang sebagai "antitesis dari model Wahhabi-Salafi."

Otoritas keagamaan yang berwenang di Turki menjelaskan bahwa pembahasan yang menyangkut isu-isu modern seperti hak-hak wanita tidak disajikan sebagai sikap resmi yang harus disebarkan para imam atau diterapkan oleh para hakim syariah. Tujuannya bukan untuk menjawab topik masa kini seperti isu-isu gender, hukuman dan jihad. Mengenai sekolah bagi anak perempuan misalnya  diterangkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim, karena itu merupakan hak bagi anak perempuan dan wanita dewasa juga. Tulisan lain tentang wanita menekankan bawa ketika Nabi memerintah di Madinah, wanita pergi ke masjid, menjalankan bisnis. Mereka aktif disemua bidang kehidupan. Hadis tentang hukuman yang keras seperti potong tangan bagi pencuri dimasukkan ke dalam perspektif sejarah sehingga tidak diambil sebagai model untuk zaman modern. Di masa Nabi masyarakat membutuhkan aturan-aturan ini untuk kedamaian masyarakat. Hari ini kita memiliki sistem sosial yang berbeda. Kita dapat mengatakan aturan-aturan dan hukuman yang bersifat historis.


Para imam suka sekali membumbui khotbah mereka dengan hadis karena hadis meliputi begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari. Tetapi jika mereka membaca dari sumber aslinya, mungkin memilih hadis-hadis yang tidak sesuai dengan kehidupan Turki modern. Kami keberatan para khatib menggunakan terlalu banyak hadis. Dengan karya referensi baru dari pemerintah, yang menggaji para imam, mereka hanya akan menggunakan hadits dan interpretasi dari kitab hadis edisi baru ini.