Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan

21/06/13

SEDEKAH PELINDUNG JANTUNG & API NERAKA


SEDEKAH: MELINDUNGI JANTUNG & API NERAKA
Oleh: Jum’an

Prof. Stephen Post, Ph.D. adalah pakar bioetika dari Case Western Reserve University yang memiliki Sertifikat Pengakuan Khusus dari Konggres AS atas kontribusinya dalam bidang kedokteran. Dalam bukunya “Why Good Things Happen to Good People” (2007) ia menyajikan kisah-kisah nyata untuk menunjukkan bagaimana perbuatan “memberi” membuka pintu menuju kesehatan, kebahagiaan , dan hidup lebih lama. Beliau telah mengabdikan bagian besar hidupnya bagi penelitian ilmiah untuk membuktikan manfaat peningkatan kualitas kehidupan dari perilaku memberi. Penelitiannya menunjukkan bahwa bila kita memberi, terutama jika kita mulai pada umur muda, maka mulai dari kepuasan hidup, potensi diri dan kesehatan fisik meningkat secara signifikan. Kematian tertunda. Depresi berkurang. Kesejahteraan dan keberuntungan meningkat. Dalam buku ini Prof. Stephen telah mensarikan penelitian akademik menjadi pesan inspirasional. Disajikan pula bukti-bukti bahwa orang yang suka memberi selama tahun-tahun SMA memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik sepanjang hidup mereka. Studi lain menunjukkan, orang tua yang melakukan pemberian, hidup lebih lama daripada mereka yang tidak. Membantu orang lain telah terbukti membawa manfaat kesehatan bagi orang dengan penyakit kronis, termasuk HIV, multiple sclerosis dan masalah jantung. Dan studi menunjukkan bahwa orang dari segala usia yang membantu orang lain secara teratur, bahkan dengan cara yang kecil, merasa paling bahagia.
Menurut  Dr. David R. Hamilton, ketika kita melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, kita merasa senang. Dari segi biokimia diyakini bahwa perasaan senang yang kita dapatkan adalah karena peningkatan kadar morfin dan heroin alamiah dalam otak, yang disebut opioid endogen. Mereka menyebabkan peningkatan kadar dopamin dalam otak sehingga kita merasakan kegembiraan alami. Itulah mengapa perbuatan baik membuat kita lebih bahagia. Tindakan kebaikan umumnya disertai dengan kehangatan emosional. Kehangatan emosional menghasilkan hormon oksitosin, di otak dan di seluruh tubuh. Oksitosin menyebabkan pelepasan bahan kimia yang disebut oksida nitrat dalam pembuluh darah, yang melebarkan pembuluh darah. Hal ini mengurangi tekanan darah dan karena itu oksitosin dikenal sebagai hormon 'kardioprotektif' karena melindungi jantung (dengan menurunkan tekanan darah). Kuncinya adalah bahwa tindakan kebaikan dapat menghasilkan oksitosin dan karena itu kebaikan dikatakan melidungi jantung. Oksitosin dikenal juga sebagai hormon kedermawanan, katalisator silaturahmi, pembangkit ukhuwah.
Menurut Dr. Hamilton dua penyebab yang mempercepat proses penuaan adalah radikal bebas dan peradangan (inflamasi), yang berasal dari pilihan gaya hidup yang tidak sehat. Tetapi penelitian mutakhir menunjukkan bahwa oksitosin (yang kita produksi melalui kehangatan emosional) mengurangi kadar radikal bebas dan inflamasi pada sistem kardiovaskular dan karena itu memperlambat penuaan. Kebetulan kedua radikal bebas dan inflamasi juga memainkan peran utama dalam penyakit jantung jadi ini juga alasan lain mengapa kebaikan adalah baik untuk jantung.
Penelitian  dari Universitas Bristish Columbia mengungkapkan bahwa berbuat atau bertingkah laku baik, dapat membuat orang yang cemas merasa jauh lebih baik. Selama 4 minggu, sejumlah orang dengan kecemasan tinggi ditugaskan untuk melakukan perbuatan baik untuk orang lain setidaknya enam kali seminggu, termasuk hal-hal seperti memegangi pintu agar orang dibelakang ikut lewat, melakukan pekerjaan untuk orang lain, menyumbang untuk amal, dan membeli makan siang untuk teman. Menurut Lynn Alden, profesor psikologi yang merancang penelitian itu, melakukan hal-hal yg baik untuk orang lain menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam suasana hati yang positif. Juga meningkatkan keakraban dan menurunkan kecenderungan individu yang cemas menghindar dari orang banyak.
Para peneliti juga percaya bahwa melakukan tindakan-tindakan kebaikan kecil dan bersyukur dapat membuat orang lebih bahagia. Menurut professor psikologi Universitas California yang telah mempelajari kebahagiaan selama lebih dari 20 tahun, Sonja Lyubomirsky, kegiatan positif meningkatkan emosi positif, pikiran dan perilaku, pada gilirannya meningkatkan kebahagiaan. Berulang kali melakukan tindakan kebaikan yang sama mungkin kehilangan kemampuannya untuk meningkatkan kebahagiaan, katanya. Variasi, frekwensi dan motivasi semua memainkan peran. Penelitian Sonja menemukan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tindakan-tindakan kebaikan menjadi lebih bahagia dari waktu ke waktu.Kenapa? "Karena, saat anda baik kepada orang lain, anda merasa sebagai orang baik -lebih bermoral, optimis, dan positif," katanya.

Apa yang saya kutip diatas tidak lain adalah  tentang amal saleh, memberikan sedekah, menolong orang lain, dan bersyukur. Hal-hal yang seharusnya akrab dalam kehidupan serorang muslim. Hadis mengatakan bahwa sedekah menyembuhkan penyakit,  sedekah memperpanjang umur, sedekah mencegah kematian su’ul khotimah, sedekah (meskipun hanya sepotong kurma) melindungi kita dari api neraka, sedekah mendinginkan panasnya kubur. Sedekah menghilangkan sifat sombong dan kemiskinan. Padahal menyingkirkan duri dari jalanan, senyum pada saudara, berkata baik-baik, menunjukkan jalan orang yang pusing nyari alamat…itulah sedekah. Masyaallah!

08/01/10

TERNYATA DERMAWAN ADA HORMON-NYA


TERNYATA DERMAWAN ADA HORMON-NYA

Oleh: Jum’an

Gerakan koin peduli Prita sungguh fenomenal. Mengajak khalayak ramai mengumpulkan uang recehan 250 juta? Mana mungkin. Tetapi nyatanya dalam waktu singkat terkumpul bukan 250 tetapi 650 juta lebih. Rasa simpati dan peduli, kebersamaan dan kedermawanan seperti tiba-tiba serempak bersatu melawan ketidak-adilan. Salut bagi pemrakarsa, peyumbang, pengumpul dan penghitung dalam GKPP itu dan selamat untuk ibu Prita.

Apakah sifat dermawan baik dermawan uang, tenaga maupun pikiran merupakan bawaan lahir seseorang? Atau dari mata turun kehati seperti cinta. Apakah orang enggan berderma karena tak kenal maka tak sayang, atau memang bawaan urat bakhil dari sononye?

Ketika saya mencoba-coba mencari blog dan artikel tentang kedermawanan (generosity) ternyata ramai orang membicarakannya didunia maya sana. Yang paling menarik bagi saya adalah penelitian Paul Zak dari Claremont University tentang asal muasal biolgis dari sifat dermawan, terutama tentang peranan hormon perangsang syaraf yang disebut oxytocin (oksitosin). Hasil penelitian itu membuktikan bahwa hormon ini merupakan sebagian penyebab kedermawanan seseorang dengan membuka fikiran kita menjadi lebih terhubung dan memahami dalam membaca keadaan orang lain.

Di Laboratorium Pusat Kajian Neuroeconomist Claremont, Paul Zak dan teamnya mengadakan ekperimen kognitif tentang kedermawanaan. Sekelompok orang, sebagian dirangsang dengan hormon oksitosin buatan melaui semprot hidung (nasal spray) dan sisanya dengan oksitosin palsu (placebo). Kepada masing-masing dijanjikan uang sejumlah uang dengan himbauan agar sebagian didermakan kepada orang dari kelompok lain. Terbukti orang-orang yang telah dirangsang dengan oksitosin, mendermakan 80 persen lebih banyak dibanding mereka yang hanya menghirup placebo.

Hormon oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yang terletak dibawah otak, beukuran sebesar biji kedelai. Hormon ini masuk kedalam aliran darah melalui ujung-ujung syaraf. Menurut Shelley Taylor profesor psykologi Universitas California, ada ekfek timbal balik antara kadar oksitosin dalam tubuh kita dengan effek yang ditimbulkannya. Kira-kira begini masksudnya: Kalau kelenjar kita mengeluarkan hormon oksitosin, fikiran kita terbuka dan lebih memahami keadaan orang lain, sehingga diantaranya, kita menjadi rela menderma. Demikian pula bila kita berderma sepenuh hati lillahi ta’ala tanpa mengharap imbalan, akan merangsang kelenjar kita mengeluarkan hormon oksitosin.

Aliran hormon ini, selain menjadikan kita peduli dan dermawan seperti diatas, sekaligus menurunkan tekanan darah, menghilangkan stress dan melambungkan daya tahan tubuh kita. Canggih benar hormon dermawan ini. Katalisator silaturahmi, pembangkit ukhuwah.

Sekarang saya agak faham kalau ada orang tua berkata: Sedekahlah untuk anak yatim, moga-moga penyakitmu lekas sembuh. Rajin-rajinlah berjama’ah dan jagalah silaturahmi agar rejekimu tidak putus. Santunilah fakir miskin.

You Give, You Get ....makin dermawan makin makmur.

Catatan: Referensi sengaja tidak saya cantumkan karena bukan tulisan ilmiah. Kalau anda menggugel Oxytocin digabung dengan Paul Zak, atau Generosity, atau Oprah Magazine bahkan ”Oxytocin and Islam”, anda bakal ketemu banyak.