20/09/14

DOA SIAPA YANG TERKABUL DI CALIFORNIA?


DOA SIAPA YANG TERKABUL DI CALIFORNIA?
Oleh: Jum’an

2013 adalah tahun paling kering selama 4 abad terakhir di California. Waduk serbaguna Folsom yang menampung 1,25 milyar m3 air yang diandalkan sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik, sumber air minum, irigasi serta fasilitas rekreasi airnya menyusut hingga tinggal seperlimanya. Reruntuhan desa Mormon Island yang sengaja digenangi air bendungan 59 tahun yg lalu muncul kembali kepermukaan. Banyak prospektor amatir dengan menyandang metal detector mencari sisa-sisa barang logam yang berharga karena Mormon Island adalah daerah pertambangan emas pada tahun 1800-an. Karena kemarau yang makin mengkhawatirkan, penduduk wilayah Sacramento diminta untuk mencari cara-cara mengurangi penggunaan air mereka sebesar 20 persen. Banyak petunjuk praktis diberikan seperti mematikan kran saat menggosok gigi atau mencuci piring dapat menghemat sekitar 8 liter air per menit. Mandi lebih cepat satu menit berarti menghemat 10 liter air. Gunakan sapu untuk membersihkan halaman atau trotoar, jangan disemprot dengan air. Belum lagi peraturan penghemataan air untuk pertanian, pemeliharaan taman dan industri. Tetapi semuanya adalah upaya darurat karena solusi yang ditunggu-tunggu adalah turunnya hujan dari langit. Gereja-gereja di California meminta jemaat mereka untuk berpuasa dan berdoa dengan harapan Tuhan akan menurunkan hujan yang sangat mereka butuhkan. Demikan pula rumah-rumah peribadatan kaum Yahudi.

Umat Islam mengenal solat sunnah untuk memohon hujan yang disebut solat Istisqo. Ketika terjadi kemarau panjang dizaman nabi s.a.w dulu, saat beliau sedang berkhotbah jum’at diatas mimbar seorang sahabat bangkit berdiri dan menginterupsi: “Ya Rasulullah, harta benda kami telah musnah dan mata pencaharian terputus, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menurunkan hujan.” Hingga kini teladan rasulullah melaksanakan solat Istisqo tetap dipegang oleh umat Islam dimanapun. Bahkan para kiyai di desa-desa pun tahu benar syarat dan rukunnya. Tidak terkecuali umat Islam yang tinggal di Caifornia. Pada hari Sabtu yang cerah tanggal 1 Feb. 2014, lebih dari 1000 kaum muslimin dari San Fransisco Bay Area California berkumpul di alun-alun Almaeda County untuk menyelenggarakan solat Istisqo. Keesokan harinya, hari Minggu 2 Februari turun hujan terbesar di California pada tahun 2014 dan menjadi titik awal berakhirnya kemarau panjang di California. Sebelumnya, pada 11 Januari terjadi hujan rintik-rintik ketika sekitar 100 orang menyelenggarakan solat istisqo ditepi danau Folsom.  Meskipun mereka yakin bahwa turunnya hujan itu merupakan pengabulan atas doa mereka, dalam dunia modern dimana sains menjadi raja, banyak orang termasuk sebagian kaum muslimin, ragu dan bertanya-tanya apakah apakah solat istisqo itu direncanakan pada tanggal ketika ramalan cuaca sudah menunjukkan akan datangnya hujan. Menurut Imam Tahir Anwar rencana solat istisqo itu sudah diumumkan pada acara peringatan Maulid Nabi di Santa Clara pada 18 Jan 2014. Semula akan diadakan seminggu setelah maulid tetapi untuk menyesuaikan jadwal dengan Syekh Hamza Yusuf akhirnya diputuskan untuk diadakan pada 1 Februari. Jadi bukan disesuaikan dengan ramalan cuaca. Pada peringtan maulid itu juga telah dbagikan lebih dari 1000 lembar pamphlet berisi doa panjang memohon hujan kepada hadirin. Meskipun faktanya terjadi hujan lebat sehari setelah solat Istisqo itu, kita tidak pernah tahu alasan Allah mengabulkan, menolak atau mengundur pengabulan doa umatnya. Bahkan tidak tahu doa siapa yang dikabulkanNya.

Konon ketika Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan atas desakan umatnya yang menderita karena musim kemarau yang berkepanjangan, Allah memberitahu bahwa Ia menahan hujan karena dosa satu orang. Nabi Musa a.s. lalu mengumpulkan ribuan orang dan berseru bahwa Allah telah menahan hujan karena salah seorang diantara mereka telah berbuat durhaka selama 40 tahun. Beliau minta agar orang itu keluar dan bertobat. Tetapi tak seorangpun yang tampil. Si pedurhaka menghadapai dilemma berat: kalau tampil ia akan sangat malu dan dikutuk orang banyak dan bila tidak, Allah pasti tidak akan menurunkan hujan. Ia pun bertobat diam-diam mohon ampun kepada Allah. Allah lalu mengampuninya dan hujanpun diturunkan.  Nabi Musa berkata: Ya Allah mengapa kau turunkan juga hujan padahal tak seorangpun yang unjuk diri? Allah pun memberitahu “Hai Musa, sesungguhnya Aku telah menutupi dosanya, dan engkau juga harus menutupi dosanya.”


Di California umat Islam berdoa, umat agama lainpun berdoa bahkan orang yang tak beragama serta hewan dan tanaman juga sangat mengharapkan turunnya hujan. Dan urusan mereka semua ada ditangan Allah. Urusan Dia lah doa siapa yang Ia jawab. Menurut Irfan Rydan yang meliput peristiwa solat Istisqo di alun-alum Almaeda, ada beberapa orang non-muslim yang ikut bergabung, termasuk seorang pria dengan anjingnya duduk di deretan paling belakang. Siapa yang tahu, kata Irfan, Allah kasihan terhadap anjing itu: Karena dalam doa itu mereka memohon Allah menurunkan hujan untuk tanaman dan hewan-hewan dan memohon agar Allah tidak menghukum mereka serta anak-anak yang tidak bersalah karena dosa-dosa kita. Dalam surat Al-Maidah ayat 48 Allah bersabda: “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan.” Jadi kita tidak usah ikut campur bagaimana liku-liku Allah mengurus makhlukNya.

06/09/14

AGAMA - MENGAPA RUWET BEGINI?


AGAMA – MENGAPA RUWET BEGINI?
Oleh: Jum’an

Budi pekerti yang baik, hati yang tenteram, dan kerukunan bersama adalah suatu idaman dalam kehidupan beragama saya. Sedikit banyak saya telah merasakan dan menikmatinya. Mungkin karena pergaulan saya yang sempit dan tidak terlibat dalam kegiatan masyarakat yang berarti, maka kenikmatan itu terasa nyata. Tetapi menikmati ketenteraman sambil menutup mata dari kenyataan sebaliknya di dunia luar adalah tidak jujur. Setiap hari kita dihadapkan pada berita-berita kekejaman dan kejahatan perang serta penderitaan umat. Pada 22 Agustus lalu, 70 jamaah solat Jum’at di masjid Sunni di propinsi Diyala Irak, tewas dibantai sekelompok milisi Syiah. Konon itu pembalasan terhadap tewasnya sejumlah milisi Syiah dalam bentrokan dengan kaum Sunni sebelumnya. Gerakan ISIS membantai minoritas Yazidi karena dianggap menyembah berhala, berencana menyerbu Ka’bah dan membunuh “para penyembah batu”, mengancam membom Candi Borobudur, menyembelih wartawan Amerika James Foley dan bahkan mengancam membunuh Paus. Belum lagi kekerasan agama lain seperti radikalisme penganut Budha di Myanmar dan Sri Langka, ekstremis Hindu di India serta kekerasan kaum Kristen ultra-kanan di Dunia Barat. Tindakan-tindakan kejam diatas semua dimotivasi oleh oleh klaim yang dimiliki oleh penganut semua agama: Yaitu bahwa merekalah pemilik kebenaran dan yang lain tidak. Pantaslah kalau banyak orang yang menyimpulkan bahwa agama lah penyebab semua kekejaman dan penderitaan itu. Setidaknya agama dapat menimbulkan kekejaman dan penderitaan.

Secara teoritis, ada alasan bahwa agama dapat menyebabkan penderitaan mental dan membahayakan jiwa. Dr Marlene Winell adalah salah satu pelopor teori itu, yang berbicara psikologi bagaimana agama benar-benar dapat menyakiti orang.  Marlene, konsultan pengembangan sumber daya manusia dari California dan anak seorang pendeta, 20 tahun berprofesi menyembuhkan orang dari gejala trauma karena agama (Religious Trauma Sydrome / RTS). Menurutnya banyak gejala psikologis berbahaya dapat ditimbulkan oleh agama dan berlanjut dari sana. Tetapi Asosiasi Konseling Kristen menolak pendapat Dr. Marlene. Menurut mereka bukan agama, iman atau kitab yang dapat menyebabkan penderitaan, tetapi mereka yang menafsirkan doktrin itu yang akhirnya melakukan penyalahgunaan. Kata Marlene, gejala trauma yang menyakitkan itu berasal dari dua hal: terbenam dalam aliran agama yang otoriter dan dampak sekunder dari meninggalkan kelompok agama. Keduanya merupakan hal yang krusial dan sebagian besar orang tidak mampu melakukannya. Melalui pendidikan, pemerintah atau orang tua mempengaruhi dan akhirnya membentuk hati nurani seorang anak. Proses ini dapat dikatakan sebagai indoktrinasi. Berpaling dari sistem kepercayaan yang sudah dianut adalah melawan naluri seseorang, dan tidak alami dan mengakibatkan rasa bersalah. Itulah mengapa agama benar-benar dapat menyakiti seseorang secara mental dan emosional.

Dr. Charles Kimball, direktur Studi Agama Univ. Oklahoma adalah seorang pendeta yang kebetulan arif dalam perbandingan agama-agama dan selalu bekerja dengan organisasi lintas agama internasional. Dalam bukunya When Religion Becomes Evil (Ketika Agama Menjadi Jahat) ia menulis bahwa, agama-agama dunia yang telah teruji abadi, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Budha dan Hindu semua didasarkan pada prinsip-prinsip dasar cinta,  perdamaian, kebaikan dan harmoni. Namun, keaslian itu terkikis dan esensinya hilang ketika kecurangan manusia berakar kedalam agama-agama itu. Dari contoh masa lampau dan masa kini, semuanya telah bersalah melakukan tindakan barbar dan kekerasan yang mengerikan. Dr. Kimball menengarai setidaknya empat tanda-tanda peringatan ketika agama akan berubah menjadi kejahatan  diantaranya klaim kebenaran mutlak, menuntut kesetiaan buta, memastikan waktu kiamat, dan menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Atau dengan kata lain mengabaikan kemanusiaan atas nama Tuhan. Setiap orang atau komunitas agama yang mengklaim pengetahuan agama yang mutlak dan sempurna dan memaksa orang-orang untuk berfikir sama, adalah perwujudan dari kelompok agama yang tak sehat. Jika organisasi keagamaan mengatas namakan agamanya untuk membenarkan menyakiti orang lain, agama itu telah menjadi jahat. Ketika agama menggunakan cara kekerasan atau anti-sosial berarti agama telah terkontaminasi.

Penting untuk diingat bahwa agama adalah lembaga manusia, itulah sebabnya mengapa agama yang indah dapat mengambil jalan yang salah. Sepanjang sejarah, orang telah disesatkan oleh para pemimpin politik karismatik sehingga masuk akal bahwa mereka dapat disesatkan oleh para pemimpin agama karismatik juga. Seorang pemimpin agama bisa mengutip ayat kitab suci di luar konteks dan menggunakannya untuk membenarkan perilaku kejam atau kekerasan. Ayat-ayat itu sebenarnya terbuka untuk banyak penafsiran dan setiap pemimpin yang mengklaim memiliki "kebenaran mutlak" membuka pintu untuk penyalahgunaan. Setiap kali seorang pemimpin agama menuntut "kesetiaan buta" untuk kewenangannya atau organisasinya dan melarang pertanyaan atau perbedaan pendapat, agamanya itu tercemar.

Kita harus memiliki pikiran terbuka dan menjaga kekuatan berpikir kritis tetap kita aktifkan. Ini adalah pertahanan terbaik terhadap manipulasi oleh pemimpin agama yang kasar. Sebagai sebagai pemerhati agama-agama, Dr. Kimball justru memilih ayat Qur’an (surat Al-Maidah ayat 48) untuk menjelaskan tentang perselisihan agama:

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan.” 

24/08/14

JANGAN SEKARANG - BESOK SAJA


JANGAN SEKARANG – BESOK SAJA!
Oleh: Jum’an

Saya mau mulai menulis e-mail permintaan sample dari sebuah produsen bahan kimia. Baru saja mulai dengan Dear Sir, tangan kanan saya lepas dari keyboard, menuju ke cangkir kopi dan mengantar ke bibir saya untuk menyeruputnya. Karena nikmatnya, syaraf saya terbuka dan pikiran saya berubah untuk membaca berita dulu sebelum menyelesaikan e-mail. Ada link dalam berita yang saya baca dan ketika saya klik ternyata berisi artikel panjang yang informatif dan menarik. Saya membacanya sampai selesai dan menyarankan rekan disebelah ikut membaca. Lalu kami saling memberi komentar. Walhasil setelah lebih dari dua jam, barulah email selesai saya tulis. Anda mungkin pernah membaca tentang sseorang yang mau menulis novel atau menyusun makalah yang tidak pernah kunjung selesai karena setiap kali ia memulai, ada saja pekerjaan sederhana dan remeh yang menginterupsi. Memotong kuku, membeli rokok, memberi makan burung, membaca koran, diajak teman keluar sebentar minum kopi. Katanya ia tidak punya waktu untuk bekerja serius. Tentu saja kalau begitu caranya. Bila tugas pekerjaan sampai terhenti ditengah akan sulit untuk meneruskannya lagi. Umumnya kita sendiri yang menundanya bukan karena perintah atau permintaan orang lain.

Menurut penelitian psikolog Dr. Ferrari hampir seperempat penduduk dewasa sedunia adalah penunda yang kronis. Bagi para penunda kronis, ini bukan soal manajemen waktu. Kita tidak bisa mengatur waktu. Kita harus mengatur diri kita sendiri, kata Ferrari. Untuk itu kita harus tahu mengapa kita sampai menunda-nunda. Ada tiga hal yang mungkin menjadi penyebab. Salah satu sebab mengapa kita enggan untuk menyelesaikan tugas adalah ketakutan kita untuk dievaluasi. Kita tidak ingin orang menilai kemampuan kita, kita lebih suka usaha kita yang mereka nilai. Mengulur penyelesaian pekerjaan bisa menjadi salah satu cara untuk menghindari ketakutan dievaluasi dengan tajam. Yang kedua mungkin sebaliknya: kita bukan takut gagal dievaluasi tetapi justru takut sukses karena bila hasil kerja kita saat ini terlalu sempurna, mungkin kita memempatkan diri terlalu tinggi yang menyulitkan diri-sendiri diwaktu yang akan datang. Ini kembali ke soal tanggung jawab. Bagaimana jika kita tidak se-sempurna itu untuk tugas berikutnya? Dan yang ketiga, kita enggan untuk mengakhiri kenikmatan terlalu dini. Jika kita merasakan waktu yang menyenangkan ketika mengerjakan suatu, akan terasa kecewa untuk mengakhirinya. Ini dapat menyebabkan kita untuk hanya megulang-ulang apa yang kita kerjakan, sekedar untuk menghindari selesai.

Kebanyakan penunda yang parah, adalah juga orang baik-baik. Artinya menunda-nunda bukanlah sesuatu yang seburuk menipu atau mencuri. Lagi pula sebenarnya jumlah pekerjaan yang dapat kita lakukan tidak terbatas. Tetapi dalam sepotong waktu hanya satu pekerjaan yang dapat kita lakukan, tidak lebih. Jadi masalahnya bukanlah bagaimana untuk menghindari penundaan, tapi bagaimana untuk menunda dengan baik. Menunda itu bisa dengan menghentikan kerja lalu tidak berbuat apa-apa, atau beralih mengerjakan sesuatu yang kurang penting, atau mengerjakan sesuatu yang lebih penting. Penundaan yg baik adalah menyingkirkan tugas kecil untuk melakukan sesuatu yang lebih penting dan nyata. Profesor botak yang lupa makan, mandi dan bercukur, atau seniman yang berkutat menekuni lukisan di sanggarnya adalah contoh penunda yang baik; mereka menunda hal-hal kecil untuk mengerjakan hal-hal besar.

Menunda adalah praktek melaksanakan tugas-tugas yang kurang penting sebagai ganti tugas-tugas yang lebih mendesak, atau yang lebih menyenangkan menggantikan yang kurang menyenangkan, dan dengan demikian menunda tugas mendatang ke lain waktu, kadang-kadang sampai "menit terakhir" sebelum batas waktu (wikipedia). Kebiasaan menunda nampaknya erat hubungannya dengan kecenderungan manusia mencari kesenangan untuk menghindari perasaan tidak enak dan menunda tugas yg penuh tekanan. Banyak pula yang memandang penundaan sebagai cara yang berguna untuk menandai apa yang penting bagi kita secara pribadi karena jarang menunda-nunda bila seseorang benar-benar menghargai pekerjaannya.

Penundaan dengan menghentikan kerja yang penting dan menggantinya dengan sesuatu yang kurang penting seperti contoh penulis novel diatas, adalah berbahaya karena tidak terasa menunda. Mereka memang menyelesaikan sesuatu, tetapi bukan pekerjaan yang merupakan tujuan utama. Mengapa kita enggan menekuni pekerjaan penting yang makan waktu? Salah satu alasannya adalah bahwa imbalannya masih terlalu lama dan kurang nyata. Jika kita mengerjakan sesuatu yang selesai dalam waktu singkat, kita dapat mengharapkan kepuasan dengan prestasi yang cukup singkat. Tapi yag lebih menakutkan, menghadapi tugas pekerjaan besar memang terasa menyakitkan seperti ada vacuum cleaner yang siap menyedot imajinasi kita. Semua ide awal yang kita miliki disedotnya habis dengan cepat, dan meskipun sudah habis bersih, vacuum cleaner itu masih terus menghisap.


Kita tidak dapat menatap pekerjaan besar terlalu langsung didepan mata. Kita harus mendekatinya dari samping, mencari sudut yang pas sehingga dapat menangkap beberapa bagian yang menyenangkan yang memancar dari situ, tapi jangan terlalu  banyak sehingga dapat melumpuhkan kita. Kita dapat mempertajam sudutnya setelah berjalan, seperti perahu layar dapat berlayar dengan berpegangan pada angin setelah mulai berlayar. Menurut Paul Graham cara memecahkan masalah penundaan adalah dengan membiarkan kenikmatan menarik kita ketimbang memaksa diri dengan jadwal tugas-tugas. Kerjakan sebuah proyek ambisius yang benar-benar kita nikmati, dan berlayarlah sedekat mungkin dengan angin, dan relakan pekerjaan-pekerjaan kecil kita tinggalkan.

18/08/14

BENARKAH BERSATU KITA TEGUH?


BENARKAH BERSATU KITA TEGUH?
Oleh: Jum’an


Saya kira anda akan merasa familiar dengan pengalaman masa lampau saya ini. Sering terjadi di dalam kelas, saya merasa bingung ketika kesulitan memahami penjelasan dari Pak Guru. Untungnya meskipun murid bebas bertanya kapan saja, Pak Guru biasanya menanyakan: “Ada yang kurang jelas?” Tetapi saya hanya terdiam tidak mengangkat tangan, sambil menengok kanan-kiri sampai Pak Guru dengan lega berkata: ”Kalau begitu mari kita lanjutkan!” . Ia pasti berpikir murid-muridnya pintar-pintar dan sudah merasa jelas dan ia merasa bahwa cara dia memberi pelajaran mudah dimengerti. Padahal saya masih menunggu kalau-kalau ada murid lain yang mengangkat tangan, sebab kalau saya sendirian melakukan itu, alangkah malunya ditatap begitu banyak murid lain karena hanya saya yang tidak mengerti. Alangkah bodohnya saya. Padahal, terbukti belakangan, kebanyakan murid-murid yang lain juga sama tidak mengertinya. Mereka tidak berani mengangkat tangan karena menyangka semua murid-murid lain merasa sudah jelas. Mereka diam dengan alasan yang sama dengan alasan saya mengapa tidak berani mengangkat tangan untuk bertanya. Demikian pula pengalaman bersama mengikuti seminar, meskipun sang penceramah selalu mengawali acaranya dengan berkata: “Kalau ada keterangan saya yang kurang jelas nanti, segera hentikan saya dan tanyakan!” Kebiasaan buruk itu sudah berlaku sejak entah kapan dan akan berterusan entah sampai kapan, padahal masing-masing kita sudah tahu bahwa kebiasaan buruk itu sudah seharusnya berakhir.

Itulah fenomena yang terjadi bila kita berada dalam sebuah kelompok. Kita menjadi berpikir, merasa dan melakukan hal-hal yang kalau kita sendirian tidak mungkin terjadi. Identitas pribadi serasa hilang dan larut kedalam kehendak kelompok yang tidak benar-benar mewakili kehendak masing-masing anggota. Kepribadian normal kita menjadi berubah. Hal itu kita alami ketika kita ikut terlibat dalam suatu demonstrasi, protes maupun menonton sepak-bola. Anda yang sehari-hari santun berubah brutal membakar toko, merusak pagar stadion, bahkan melempari penumpang kereta api yag tidak tahu menahu. Tentu ada gurunya, yaitu sejenis yang dalam kelas berkata: kalau begitu mari kita lanjutkan, sementara mayoritas muridnya tidak ada yang memahami penjelasan sang guru. Demikian pula dalam menanggapi opini publik seperti isu-isu tentang perbedaan suku dan agama. Meskipun semua orang menyadari sudah bukan zamannya lagi, tetapi sebagaimana yang terjadi didalam kelas,  isu-isu itu tetap tetap muncul terus menerus. Penyebab asalnya adalah karena kita semua adalah makhluk sosial yang secara alami memiliki karakter kelompok seperti juga murid-murid dalam kelas.

Karakter kelompok yang bersifat negatif ini sudah lebih dari satu abad ditengarai orang, bahkan dijadikan dasar bertindak oleh hampir semua pemerintahan didunia dalam menyikapi gerakan massa. Gustave Le Bon, psikolog sosial, sosiolog dan antropolog dari Perancis menulisnya dalam buku The Crowd: A Study of the Popular Mind (1895).  Ia menjelaskan bahwa manusia dalam kelompok besar adalah berbahaya, bahwa mereka secara spontan berubah menjadi manusia hewani yang mudah terombang -ambing dan rentan terhadap kekerasan. Meski fenomena ini dengan jelas dapat kita saksikan, penelitian-penelitian membuktikan bahwa padangan tentang sikap hewani itu tidak sepenuhnya benar. Para psikolog terus mencoba untuk menelusuri apa pengaruh orang banyak terhadap pikiran pribadi kita dan mengapa demikian. Michael Bond, penulis ilmiah dari Inggris yang menulis tentang bagaimana orang di sekitar kita mempengaruhi segala sesuatu yg kita lakukan (The Power of Others: Peer Pressure, Groupthink, and How the People Around Us Shape Everything We Do) menjelaskan bahwa makin banyak penelitian ilmu-ilmu sosial dilakukan, semakin sedikit kebenaran ide tentang sifat hewani yg ceroboh yang terbukti. Menurutnya tindakan polisi yang mendasarkan pada pandangan itu dengan membubarkan demonstran menggunakan gas air mata justru menciptakan situasi yang mereka coba cegah. Hampir di setiap bidang kehidupan, perilaku kita dipengaruhi oleh orang lain, lebih dari yang kita bayangkan: geng remaja, korps militer, team ekspedisi, dan penonton sepak bola. Dari permukaan, masing-masing kelompok ini mungkin tampak biasa, tapi kekuatan yang mengikat dan mendorong mereka dapat mempengaruhi kita semua.

Dalam dekade terakhir, psikolog telah menemukan bagaimana dan mengapa sifat sosial bawaan kita berpengaruh besar terhadap bagaimana kita berpikir dan bertindak, mendorong kita untuk berprestasi tinggi dan sekaligus bertindak kejam dan membabi buta. Kita berhutang budi kepada orang-orang disekitar kita: ketika kita pikir bahwa kita lah yang berperan, ternyata itu adalah pengaruh kekuatan dari orang lain. Kita tidak pernah sendirian. Orang-orang dalam kehidupan kita mempengaruhi setiap aspek dari perilaku kita dengan cara yang kita sering tidak menyadarinya. Meskipun kita menganggap diri kita sebagai individu bebas, pilihan kita dipengaruhi oleh orang lain dan hal yang menakutkan adalah bahwa kita tidak menyadari itu. Michael Bond telah menyelidiki terobosan terbaru dalam psikologi sosial untuk mengungkapkan bagaimana cara menjaga diri terhadap bahaya pemikiran kelompok, bagaimana membangun kerja sama tim dan bertindak lebih etis, mengidentifikasi tujuan bersama dan bagaimana bertahan saat-saat menghadapi isolasi. Demikian ditulis dalam salah satu ulasan buku tersebut. Kita harus berhati-hati agar dapat memanfaatkan sifat kolektif kita demi kehidupan yang lebih damai dan bermanfaat. 

03/08/14

APAKAH REJEKI SAYA TERTUKAR?


APAKAH REJEKI SAYA TERTUKAR?
Oleh: Jum’an

Bukankah sudah sewajarya bahwa hal-hal yang baik dialami oleh orang baik dan hal-hal buruk akan menimpa orang jahat? Yang bekerja giat, jujur, yang suka memberi, yang cinta sesama, seharusnya hidup lebih sejahtera dibanding mereka yang curang, suka menipu dan melecehkan orang lain? Bukankah begitu kehendak Allah menurut pemahaman banyak orang? Tetapi mengapa Allah membiarkan banyak hal baik terjadi pada orang jahat dan banyak hal buruk justru menimpa orang baik? Tidak jarang porsi yang sudah jelas merupakan milik orang baik, tidak dapat dinikmati tanpa harus mereka rebut terlebih dahulu. Dilain pihak penipu pajak, perusak lingkungan dan koruptor hidup hidup nikmat nyaman sejahtera. Kadang kadang kita tidak faham bagaimana cara Allah membagi rejeki. Sepertinya banyak yang tertukar-tukar! Mungkin dalam kehidupan duniawi ini Allah menggunakan rumus yang sama untuk seluruh umat manusia: yang beriman dan yang tidak, yang jahat maupun yang baik. Siapa cepat dia dapat; siapa kuat akan bertahan. Tidak ada subsidi, tidak ada prioritas. Terserah pada niat dan tindakan masing-masing. Itulah barangkali rumus ilmu hidup didunia. “Barang siapa menginginkan dunia maka ada ilmunya. Barangsiapa menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Demikian sabda Rasulullah SAW. Jangan kecil hati kalau anda yang merasa sebagai orang yang baik terpaksa menderita dan sengsara. Yang akan memberikan hasil bukanlah semata-mata tindakan tetapi justru niat dibelakangnya. Niatlah yang melahirkan realitas. “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” Hadis shahih ini dikatakan oleh Imam Syafi’i mencakup sepertiga ilmu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan, sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Seperti tak bisa diartikan lain bahwa bukan tindakan yang kita lakukan tapi niat (kesadaran) dibelakangnya yang menjadikan pengalaman kita. Jika orang serakah percaya mereka layak atau mampu menciptakan kekayaan, merekapun akan mengalaminya.

Anda yang begitu berhati-hati, hanya makan makanan yang terpilih, bergizi dan seimbang masih juga gemuk dan penyakitan. Sementara orang lain melahap semua yang dia suka, tetap saja ramping dan bugar. Ada yang berpendapat bahwa itu disebabkan faktor keturunan atau genetika, tapi penemuan terbaru dalam epigenetik mengungkapkan bahwa gen tidak mengontrol tubuh kita, justru lingkungan sel yg mengontrol. Dan apa yang mengontrol lingkungan sel kita? Kesadaran kita, niat kita. Ilmu Psikoneuroimunologi dapat menjelaskan bagaimana pikiran kita menimbulkan impuls kimia dan listrik yang kemudian mengirimkan perintah ke sel-sel dalam tubuh kita, bagaimana pikiran menjelma menjadi tindakan. Berlaku sama bagi yang adil dan yang serakah! Tindakan memang penting untuk menjelmakan sesuatu, tetapi seperti kata hadis diatas, kita hanya akan memperoleh apa yang kita niatkan.

Penderitaan bukanlah pengertian yang berdiri sendiri. Kita mengenal arti penderitaan hanya karena kita mengenal pengertian tentang kesenangan, seperti kita mengenal arti keburukan karena terjalin erat dengan arti yang sebaliknya, yaitu kebaikan. Tanpa penderitaan, kesenangan juga akan tidak berarti. Tetapi untuk mengandaikan bahwa kita semua bernasib sama tak ada yang senang dan tak ada yang susah, tidak mungkin karena bertentangan dengan kenyataan hidup kita sebagai manusia. Karena kita mempunyai akal dan hati nurani, kita mengenal untung dan rugi, mengenal kenikmatan dan penderitaan. Penderitaan memang menyakitkan tapi karena pengertiannya terkait dengan kesenangan, orang baik yang menderita tidak selalu berarti tidak adil. Kecuali bila penderitaan ada sendirian, tanpa kaitan dengan kesenangan. Kehidupan Nabi Muhammad SAW, suri tauladan kita yang dijamin sebagai ahli surga juga tidak sepi dari penderitaan sebagaimana manusia lainnya. Beliau mengajarkan, ketika hal-hal buruk terjadi pada orang baik - atau siapa saja - untuk menjaga kesabaran ketika merasakan kesedihan, dan untuk menjaga kepercayaan pada Allah. Nasehat itu tertuang dalam surat bela sungkawa (takziah) Rasulullah kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal  ketika putranya meninggal. Surat yang sangat bermakna itu diantaranya berbunyi demikian:   “.………….. bahwa jiwa, harta, dan anak-anak kita semua itu pemberian Allah yang menyenangkan hati dan pinjamanNya yang dititipkan, kita bersenang-senang dengan semua itu sampai kepada masa yang ditentukan dan akan ditarik kembali pada waktu yang ditentukan. Kemudian Allah mewajibkan kita bersyukur jika diberi dan sabar jika diuji, dan putramu itu berasal dari pemberian Allah yang menyenangkan dan pinjamannya yang dititipkan, Allah telah memuaskan engkau dengan kesenangan dan kini diambil oleh Allah dengan jaminan pahala yang besar jika engkau sabar dan ikhlas. Karena itu, wahai Mu’adz, jangan sampai duka hatimu menghilangkan pahalamu sehingga kau akan menyesali apa yang terlepas dari tanganmu dan andaikan engkau mengetahui pahala musibahmu, niscaya akan mengetahui bahwa musibah itu kecil (dibanding pahala bila bersabar). Dan ketahuilah bahwa dukacita ini tidak dapat mengembalikan orang yang telah mati dan tidak bisa mengurangi kesedihan karena itu hilangkan susahmu dengan apa (pahala/anugerah) yang akan turun padamu, seakan-akan sudah turun. Wassalam “

Mungkin rejeki saya tidak tertukar, mungkin mereka memang lebih berhak dari saya. Rejeki tak pernah tertukar. la mani'a lima a'thoita, wala mu'tia lima mana'ta. Tak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Dan penderitaan ini harus kita rasakan; masih bukan apa-apa dibanding kenikmatan yang kita terima. Sabaaar……….

20/07/14

FATWA PALING BERSEJARAH MUI


FATWA PALING BERSEJARAH MUI
Oleh: Jum’an

Bulan Januari yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa No. 4 Tahun 2014 tentang “Perlidungan Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem”  yang menyatakan bahwa perburuan liar atau perdagangan ilegal satwa langka adalah haram. Seperti diketahui saat ini banyak sekali satwa yang terancam punah karena tindakan manusia; padahal manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi yang diberi amanah untuk menjaga semua satwa dan lingkungannya. Karena semua makhluk hidup diciptakan Allah untuk menjaga ekosistem yang seimbang yang diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia yang berkelanjutan. Fatwa ini mengutip 13 ayat dari 8 surat dalam Qur’an tentang hubungan Allah, manusia, satwa dan alam; juga belasan hadis, prinsip-prinsip hukum Islam, undang-undang RI, serta hasil diskusi dan kunjungan lapangan MUI bersama Kemenhut, UNAS dan WWF tentang perlindungan satwa langka menurut Kebijaksanaan Islam. Ketua MUI Dr. Din Syamsuddin mengatakan fatwa ini merupakan tonggak sejarah penting ditengah kerusakan ekosistem yang makin parah. Ia berharap fatwa ini diterjemahkan keberbagai bahasa dunia (Versi bhs Inggris dpt dilihat disini) dan menjadi bekal para mubaligh. Ia juga berharap sosialisasi fatwa ini bisa menjadi gerakan, melibatkan Kemenhut, Pemda, Ormas Islam dan komunitas pencinta satwa di tanah air. MUI siap menyediakan naskah-naskah khotbah Jum’at dan ceramah keagamaan di seluruh tanah air terkait ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang memuat tentang perlindungan terhadap satwa.

Fatwa ini terinspirasi sejak kunjungan lapangan ke Sumatera (Sept. 2013) oleh MUI bersama UNAS, WWF-Indonesia, Kementerian Kehutanan dan Aliansi Agama dan Konservasi (ARC), organisasi yang didirikan oleh Pangeran Philip dari Inggris yang bertujuan membantu agama-agama besar dunia untuk mengembangkan program-program lingkungan berdasarkan ajaran agama masing-masing. Dalam dialog dengan perwakilan masyarakat desa tentang konflik antara penduduk desa dan gajah sumatera dan harimau, muncul pertanyaan tentang status hewan seperti gajah dan harimau menurut hukum Islam.

Menurut Dr. Hayu Prabowo dari MUI, pendekatan keagamaan, dari hati ke hati, dipandang lebih efektif daripada pendekatan represif agar manusia turut menjaga ekosistem bumi. Orang bisa lolos dari peraturan pemerintah, tetapi mereka tidak bisa lepas dari firman Allah. Dalam pandangan Islam, satwa merupakan bagian dari keseimbangan ekosistem yang memberikan manfaat bagi kehidupan seluruh ciptaan Tuhan khususnya umat manusia. Fatwa ini tidak hanya berlaku untuk individu tetapi juga bagi pemerintah, mengingat bahwa korupsi dapat terjadi ketika satwa liar, hutan, dan kepentingan industri seperti bisnis kelapa sawit terlibat dalam konflik.

World Wildlife Fund (WWF), salah satu organisasi konservasi terbesar di dunia, menyambut baik langkah luar biasa dari MUI ini. WWF memuji fatwa ini sebagai yang pertama di dunia dari jenisnya dan akan dipadukan dengan program pendidikan untuk membantu masyarakat menerapkannya. National Geographic Society, lembaga nirlaba ilmiah dan pendidikan terbesar di dunia yang telah mengilhami orang untuk peduli pada planet ini juga menyebut fatwa ini belum pernah terjadi sebelumnya. Fatwa yang pertama dikeluarkan terhadap perdagangan satwa liar. Kelompok konservasi di Indonesia juga merayakan keputusan MUI untuk mengeluarkan fatwa dan berharap perhatian dari para pemimpin agama akan membantu mendukung upaya untuk melindungi satwa liar Indonesia. Tidak ktinggalan juga The American Muslim (TAM) situs yang dibentuk 1989 untuk untuk mendukung dan mengenali Muslim Amerika, ikut menyebarkan fatwa ini dan menyebutnya sebagai perkembangan penting bahkan TAM memuat lengkap 3 halaman pertama fatwa ini beserta ayat-ayat Qur’an didalamnya. Situs Internasional lain yang memuat fatwa ini termasuk SALON Media Group dari Sanfransisco, situs berita yang berfokus pada politik AS dan peristiwa terkini. Mereka menyebut fatwa ini sebagai fatwa pertama di dunia tentang perdagaangan satwa langka. Mereka mengutip pernyataan sekretaris komisi MUI Asrorun Ni'am Sholeh diantranya bahwa barang siapa menghilangkan satu nyawa, berarti ia membunuh satu generasi. Hal ini tidak terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk Allah lainnya, terutama jika mereka mati sia-sia. Situs MONGABAY.COM, yang menerbitkan berita lingkungan, energi, informasi hutan tropis termasuk statistik pembalakan liar di berbagai negara, menulis: “Ulama Islam di Indonesia telah mendapat pujian dari kelompok konservasi setelah MUI mengeluarkan fatwa tentang perburuan dan perdagangan satwa liar”. Penggundulan hutan dan ekspansi kebun kelapa sawit juga telah mengambil korban pada satwa langka. Bulan lalu, tujuh gajah Sumatera ditemukan mati di perkebunan kelapa sawit ilegal di Taman Nasional Tesso Nilo, diyakini telah diracuni oleh staf perkebunan.


Namun sebagaimana anda mafhum fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI tidak selalu ditanggapi serius oleh umat Islam Indonesia seperti fatwa yang mengharamkan rokok. Fatwa tidak mengikat secara hukum dan jarang menghasilkan perubahan kebijakan Pemerintah. Yang paling saya harapkan dan syukuri adalah melalui sambutan luas fatwa ini, sejumlah ayat Qur’an dan hadith tentang perlindungan ekosistem dibaca oleh masyarakat ilmiah Barat yang saya yakin tidak pernah mereka sangka ada sebelumnya. Mereka yang hanya hanya mengasosiasikan Islam dengan terorisme dan penjajahan kaum wanita. Semoga Allah membuka hati mereka. 

06/07/14

NASIB SEORANG WANITA MURTAD


NASIB SEORANG WANITA MURTAD
Oleh: Jum’an

Renungkan sejenak mama wanita ini: Maryam Yahya Ibrahim Ishaq! Tiap suku katanya adalah wahyu: Maryam ibunda Isa a.s. wanita paling mulia di dunia. Yahya, nabi yang diberkahi Allah sejak lahir, Ibrahim nabi semua agama samawi dan Ishaq, nabi yang namanya disebut sebanyak 15 kali dalam Qur’an. Orang tuanya pasti mengharapkannya menjadi muslimah murni. Tetapi skenario kehidupan berjalan lain. Maryam yang lahir 27 tahun lalu, menikah dengan Daniel Wani, seorang pria Sudan Kristen warga Negara Amerika yang lemah kaki dan selalu duduk di kursi roda. Mereka menikah 2011 dan mempunyai dua anak, Martin 20 bulan dan seorang bayi perempuan Maya, yang lahir dalam penjara 27 Mei 2014. Maryam dilaporkan murtad dan berzina oleh saudari tirinya karena menikah dengan Daniel Wani. Ia ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan pada 15 Mei. Sementara ia ditahan dipenjara menunggu eksekusi, Dunia Barat memprotes keras hukuman itu terutama Amerika, Inggris, Belanda dan Kanada. Akhirnya pengadilan banding membebaskan Maryam pada 24 Juni 2014 lalu. Keluarga itu memutuskan untuk pindah ke Amerika, tetapi ia ditahan polisi di airport dan dibawa ke kedutaan Amerika, untuk pengurusan dokumen perjalanannya dan menunggu perundingan antara pemerintah Amerika dan Sudan. 

Tetapi kisah Maryam tidaklah se hitam-putih dan transparan seperti itu. Selama berada dipenjara yang pengap bersama Martin, ia dalam keadaan hamil 8 bulan (pengadilan mengizinkan Maryam untuk melahirkan bayinya dulu sebelum di eksekusi), dan demi keamanan kakinya dirantai. Disitulah ia melahirkan anak keduanya dalam keadaan kaki dibelenggu. Daniel, suami Maryam sangat kecewa dengan sikap Amerika: Presiden Obama maupun Menlu Kerry bungkam dari awal dan baru pada 12 Juni bersuara. Mungkin karena Daniel sendiri adalah imigran dari Sudan Selatan yang baru menjadi warga Negara Amerika kurang dari 10 tahun. Kisah Maryam lebih runyam lagi. Ayahnya adalah seorang Islam, dan ibunya seorang Kristen Ortodoks Ethiopia. Setelah melahirkan Maryam, ia dicerai dan sejak itu Maryam dibesarkan oleh ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita Muslim dan beranak pinak. Salah seorang anak perempuan dari istri yang baru itulah konon yang melaporkan bahwa Maryam murtad dan berzina. Samani Abdullah salah seorang anak laki-lakinya, juga giat menghasut agar hukuman mati untuk Maryam harus dilaksanakan. Maryam sendiri sejak kecil diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam ajaran Kristen. Karena itu ketika pengadilan menuduhnya murtad ia membantah karena sejak kecil ia sudah Kristen. Ia tidak mau berpura-pura menjadi Islam untuk menyelamatkan diri. Ia menolak untuk kembali ke Islam, karena ia bukan penganut Islam. Tetapi pengadilan berpendapat bhwa Maryam seharusnya mengikuti agama ayahnya yang notabene tidak pernah bersamanya. Pengadilan menyalahkakan Maryam karena memilih atau dididik dengan agama Kristen. Masih kurang runyam? Maryam dan suaminya Daniel ternyata telah sukses dalam berusaha. Mereka mempunyai sebuah salon, ladang pertanian dan toko disebuah shopping mall. Pengacara Maryam menuduh bahwa saudara-saudara tirinya mengincar mengambil alih bisnis suami-istri itu bila eksekusi Maryam sampai dilaksanakan. Cara pemerintah Sudan yang kaku dalam menangani kasus ini juga menuai tuduhan bahwa pemerintahan Presiden Omar Bashir berambisi sebagai penegak Islam untuk menutupi korupsi yang meraja lela.


Sebagai muslim awam yang tidak penah mendapat pendidikan agama yang resmi dan mendalam, tidak mungkin saya ikut berkomentar tentang hukum orang murtad. Saya pasti akan dibantai oleh mereka yang sudah bependirian teguh. Dengan pengetahuan agama yang cupet, saya hanya dapat mengandalkan akal sehat, hati nurani serta pengetahuan dari sana-sini untuk memilih bila ada lebih dari satu pendapat yang berbeda. Misalnya tentang apakah orang murtad harus dihukum mati. Selama ini dalam pengertian saya, barang siapa murtad harus dibunuh. Karena rasanya saya tidak bakal murtad, saya merasa tidak peduli. Lagi pula kita sering melihat orang berpindah agama dari maupun kedalam Islam melalui perkawinan sebagai hal yang tidak menghebohkan. Sementara itu, tanpa maksud meringankan agama, saya lebih terbiasa mengharapkan rohman dan rohim Allah daripada ketakutan kepada syadidul ‘iqob-Nya. Saya meresapi ayat 256 Albaqoroh: “La ikroha fiddin” (tak ada paksaan dalam agama) karena membebaskan orang dari memaksa orang lain masuk Islam. Al-Kahfi 29: "Kebenaran itu dari Tuhanmu; barangsiapa yang beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang mau kafir biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka…..” Ayat 20 Ali Imran: "Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu (Nabi Muhammad) hanyalah menyampaikan saja.”  Allah akan menjadi hakim tunggal dari tindakan kemurtadan. 


Dari banyak ayat tentang murtad dalam Al-Qur’an tidak satupun yang menyebutkan hukuman dunia. Berbeda dengan Qur’an, Injil mencantumkan hukuman sangat berat bagi orang murtad. Bila ada keluarga (saduara, anak, istri) atau teman yang membujuk untuk murtad maka bunuhlah dia! Pertama tanganmu sendiri yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian semua orang. Engkau harus melempari dia dengan batu, sampai mati …… Bila di salah satu kota yang diberikan Tuhan kepadamu untuk tinggal kaudengar orang mengajak berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal, maka bunuhlah penduduk kota itu dengan pedang, dan tumpaslah kota itu serta segala isi dan hewannya. Seluruh jarahan harus kaukumpulkan kau bakar habis kota dengan seluruh jarahan itu… Waalohu a’lam bissawaab!