11/05/18
05/01/18
25/04/17
MBAKYU SAYA BERBEDA PARTAI
MBAKYU
SAYA BERBEDA PARTAI
Oleh: Jum’an
Dua mbakyu saya yang oleh teman-teman saya dipanggil
dengan Yupatmah dan Yunur, sebagaimana wanita baik-baik dikeluarga kita,
mempunyai pernik-pernik mutiara yang pantas dicatat dalam hidupnya. Bukan saya
menyanjung kedua almarhumah kakak perempuan saya itu, karena kita sama-sama
tahu, dalam kehidupan yang serba kekurangan banyak niat baik tak terlaksana dan
silang sengketa mudah terjadi.
Penderitaan masa kanak-kanak dizaman revolusi, wabah
penyakit, musim paceklik dan tekanan kehidupan lainnya telah menempa mereka
tahan penderitaan dan kuat menjalani hidup. Keduanya hanya bersekolah sampai
Sekolah Rakyat kelas tiga ditambah khatam Qur’an. Meskipun masa kanak-kanak dan
remajanya dijalani bersama, keduanya tumbuh menjadi dua pribadi yang khas dan
berbeda dimasa tua mereka.
Yupatmah, yang langsing dimasa
mudanya menjadi wanita kurus beranak enam memilih tinggal di Banyumas,
membuka warung kecil didepan pasar. Ia pengikut Muhammadiyah yang taat, serius
dan sangat anti bid’ah. Ia mendirikan mushola (satu-satunya dilingkungan yang
kebanyakan abangan) yang sampai sekarang menjadi ampiran pedagang pasar
Banyumas untuk solat lohor dan untuk anak-anak mengaji sehabis maghrib.
Yupatmah pekerja yang ulet, hemat dan melindungi anak-anaknya lebih dari
apapun. Ia sinis terhadap kebanyakan pengemis yang berbadan sehat, yang
dianggapnya mengemis hanya karena malas.
Ketika gigi atas tengahnya lepas, saya usulkan supaya
pasang gigi palsu biar nampak “cantik”. Dia jawab: Nggak. Takut sulit matinya –
lagipula ompongnya tidak mengurangi kefasihan melafalkan ayat qur’an kalau
mengajar ngaji. Diakhir hayatnya ia berpesan supaya tidak ada bunga-bunga,
tidak boleh ada masak-masak dirumah. Ketika anak-anak menangisinya dirumah
sakit, ia mengatakan: tidak usah menangis. Semua sudah ada aturannya , semua
sudah ada ketentuannya.
Sementara itu Yunur yang tinggal di Jakarta,
beranak dua orang dan tetap berbadan gemuk seperti waktu anak-anak dulu. Setiap
Jum’at pagi ia suka duduk didepan pintu dengan segepok uang receh, menjemput
puluhan perempuan pengemis yang selalu lewat beberapa rombongan. Ia membiayai
Yupatmah naik haji dan mengirimkan uang bulanan untuk pengurus musholanya di
Banyumas. Usholli dan bacaan solatnya tetap yang berasal dari guru ngajinya
didesa dulu. Dia selalu datang kalau diundang yasinan atau tahlil tetangga.
Pokoknya dia tidak main prinsip. Sangat suka membaca koran, nonton TV, bahkan
tahu banyak tentang lakon-lakon pewayangan. Teman-teman saya dan juga
teman-teman anaknya kebanyakan akrab dengan dia. Ia juga mengikuti
berita-berita politik, bahkan pernah mempertanyakan kenapa saya seperti kurang
senang waktu Presiden Suharto jatuh.
Suatu kali, pagi-pagi buta ada
perempuan kurus minta dibukakan pintu dan karena disangka pengemis, Yunur tidak
mau membukakan. Dengan bahasa Banyumas yang medok perempuan itu membentak ”
He..ini Patmah mbakyumu, bukan pengemis..” Peristiwa itu dikenang seluruh
keluarga sampai sekarang.
Kalau sedang bete Yupatmah suka ke Jakarta tinggal
beberapa minggu. Kalau dilihatnya Yunur membagi-bagi uang receh untuk pengemis,
dia mencolek saya: Lihat itu mbakyumu.. sama sekali tidak mendidik.. memberi
kok pengemis malas”
“Siapa yang mau menerima mereka kerja.. kalau bisa kerja
tentu mereka tidak mengemis” jawab Yunur.
Ah memang kedua mbakyu saya beda partai. Tapi tidak apa.
Yang sering, mereka justru saling mengagumi dan sayang satu sama lain, yang
satu dengan pengetahuan populernya, yang satu dengan fanatik Muhammadiahnya.
(Ini adalah tulisan ulangan th 2009)
(Ini adalah tulisan ulangan th 2009)
14/04/17
HURUF ARAB MENAKUTKAN
HURUF ARAB JADI MENAKUTKAN
Oleh:
Jum’an
Hajer Sharief(24th) adalah
seorang aktivis perdamaian, deradikalisasi dan anti kekerasan dari Libia. Anggota
kelompok penasehat PBB tentang resolusi Dewan Keamanan 2250 yang ditunjuk oleh
Sekjen Dewan Keamanan Bank-ki Moon serta pengacara Yayasan Kofi Annan
“Extremely Together”. Ia juga penerima Penghargaan Mahasiswa untuk Perdamaian
2017. Suatu hari ia ia duduk di coffee shop di Inggris sambil membaca sebuah
buku yang ditulis dalam bahasa Arab. Karena merasa bĂȘte, ia menaruh bukunya
diatas meja dan keluar sebentar untuk menghirup udara segar . Tiba-tiba datang seorang
pria Inggris setengah baya yang tadi duduk dimeja sebelah menghampirinya dan berkata: “Anda meninggalkan buku anda
diatas meja!” Hajer pun mengucapkan terima kasih kepadanya karena pria itu
mungkin mengira ia lupa meninggalkan buku itu. Tapi pria itu meneruskan: “Tapi
buku itu berbahasa Arab! Anda tidak boleh meninggalkannya di meja seperti
iu! Anda tahu bahayanya!
Hajerpun merasa tersadar. Pria itu bukan mencoba
mengingatkan bahawa bukunya tertinggal saja! Tapi memperingatkan bahwa orang
tidak boleh meninggalkan buku berbahasa Arab di atas meja, karena akan akan
menyebabkan orang merasa terancam keamanannya!
Jadi Hajer bertanya apakah masalahnya bukan ia
meninggalkan buku di atas meja, tetapi karena buku itu ditulis dalam bahasa
Arab? “Ya! Buku yang ditulis dalam bahasa Arab ditinggal di atas meja, Anda
tahu apa artinya, itu akan akan membuat orang merasa khawatir”, lalu pria itu
melenggang pergi.
Meluasnya Islamofobia didunia Barat jelas telah
membangkitkan kebencian terhadap Arab yang begitu saja mereka asosiaikan dengan
Islam dan bahkan terorisme. Ditambah lagi dengan ketidak-tahuan mereka akan
tulisan dan bahasa Arab. Timbullah anggapan bahwa huruf Arab pasti berkaitan
dengan Islam dan terorisme. ISIS telah membajak dua kalimat syahadat Islam
menjadi lambing mereka. Padahal kedua kalimat syahadat itu merupakan ikrar
dasar semua umat Islam bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
rasulNya. Dengan menuliskannya dengan bentuk huruf tertentu diatas kain hitam
timbul kesan bahwa ISIS lah penguasa kalimat syahadat itu. Setidak-tidaknya
begitulah yang mereka kehendaki. Bukankah bendera kerajaan Saudi Arabia yang
anti ISIS juga bertuliskan kedua laimat syahadat? Demikian pula dirumah-rumah
umat Islam Indonesia tulisan itu banyak terlihat?
Tetapi Hajer
Sharif merasa cukup beruntung bertemu pria yang rendah hati itu yang
hanya ingin memberi saran, dan Hajer ingin menyampaikan kepada semua pembacanya
yang mungkin memiliki buku-buku bahasa Arab. Seandainya pria itu seorang
islamofobis yang ekstrim, kejadiannya tidak akan se-aman itu!
20/08/16
HILANG IMAN DI OLIMPIADE?
HILANG IMAN DI OLIMPIADE?
Oleh: Jum’an
Demi cita-cita mulia untuk merebut medali Olimpiade 2016
di Rio De Janeiro, tim bola tangan wanita Argentina selalu berdoa, berdoa dan
berdoa. Menuurt pelatihnya, Eduardo
Peruchena, seminggu sebelum pertandingan mulai mereka secara keseluruhan menghabiskan
waktu 66 jam untuk bermeditasi dan berdoa. Tetapi apa hendak dikata mereka
kalah dalam semua pertandingan mereka. Demikian pula tim voli putra dari
Mexico. Apakah Tuhan sengaja menghendaki mereka begitu? Jika benar Tuhan memilih
pemenang dalam olah raga, berarti tim bola tangan wanita Argentina dan tim voli
pria Meksiko ini pasti sangat kecewa. Sekarang semua anggota dari kedua tim menyerah
tentang iman Kristiani mereka. Karena berdoa jelas tidak ada hasilnya, mungkin lebih
baik mengurangi berdoa dan lebih banyak berlatih. Begitu kata sang pelatih.
Tim bola tangan wanita Argentina dikalahkan oleh tim-tim dari Rusia, Korea Selatan, Swedia, Belanda dan Perancis; negara-negara yang yang paling tidak relijius didunia. "Kami yakin lawan-lawan kami bahkan tidak meminta apapun dari Tuhan. Jika Tuhan tidak mau memberi kenikmatan untuk umatnya sendiri, bagaimana kita akan memihak Dia?" Pelatih tim Meksiko Jorge Azair setuju dengan Eduardo dan ia mengatakan: “Dalam Olimpiade 2020 di Tokio nanti, kita akan bersaing sebagai orang-orang ateis." Para atlet pemenang medali banyak yang menyatakan bahwa iman mereka kepada Tuhanlah penyebab kemenangan mereka, sementara mereka yang tidak berhasil terpuruk oleh dua kekecewaan: sudah kalah, masih dibilang bahwa Tuhan masih terus menguji mereka!
Jorge memberi nasehat begini: “Kalahkan mereka di depan
net, kalahkan mereka dengan dengan serve dan blocking anda. Jangan mengkaitkan
kesuksesan anda dengan yang Maha Kuasa OK? Ini tidak akan menghalangi kemenangan
anda, dan mungkin menyelamatkan yang kalah dari kehilangan iman. Sumber: Olympics
squads lose.
24/06/16
KERUDUNG SIMPATI LARYCIA
KERUDUNG SIMPATI LARYCIA
Oleh: Jum’an
Profesor Dr. Larycia Hawkins (kita singkat Larycia),
wanita kulit hitam 43 tahun yang berwajah manis dengan senyum ekspresif –
adalah Profesor Ilmu Politik Wheaton College (singkat Wheaton), Illinois AS, sebuah perguruan tinggi Kristen Evangelis (Pengabar
Injil, Protestan konservatif), almamater Billy Graham penginjil Amerika yang pernah
terkenal disana. Larycia adalah Guru Besar tetap wanita kulit hitam pertama di
perguruan tinggi itu. Pada Desember 2015, ia menjadi pusat kontroversi yang
menggegerkan dunia Kristen Amerika. Ia meposting foto dirinya waktu kebaktian
di Gereja Chicago dalam Facebooknya dengan mengenakan kerudung layaknya seorang
muslimah. Dibawahnya tertulis komentar
“Islam dan Kristen meyembah Tuhan yag sama”. Hal itu dilakukannya sebagai solidaritas
terhadap wanita dan umat Islam yang mengalami tekanan akibat Islamofobi di
negara itu.
Pada kesempatan lain ia menjelaskan:
“Saya mencintai jiran Muslim
saya karena mereka layak dicintai berdasarkan martabatnya sebagai sesama
manusia. Saya bersikap solider dalam kemanusiaan dengan mereka karena semula kita
sama-sama diciptakan Tuhan dari tanah liat yang sama. Saya bersikap solider
dalam agama dengan umat Islam karena mereka, seperti saya, seorang Kristen,
adalah “people of the book” (ahlul kitab?). Dan seperti dikatakan Paus Fransiskus,
kita menyembah Tuhan yang sama. Sebagai bagian dari ibadah Advent saya, saya
akan memakai kerudung untuk bekerja di Wheaton, berjalan-jalan di kota, di
gereja, di bandara dan dalam penerbangan.”
Wheaton College sebagai perguruan
berdoktrin Protestan konservatif, penyebar utama Evangelisme, tidak suka
stafnya mengatakan bahwa Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama. Wheaton, dengan
semboyan membentuk sarjana yang ilmiah dan iman yang mendalam mengalami dilema
kerena sebagai pusat penyebaran ilmu liberal yang sekuler dan sekaligus berpegang
pada doktrin agama yang konservatif akan banyak mengalami friksi internal. Kasus
Larycia ini merupakan batu ujian. Memecat Larycia berarti bertentangan dengan
semboyan kebebasan berfikir sedangkan mempertahankannya akan terasa melunakkan
doktrin keimanan perguruan tinggi itu.
Larycia lalu dikenakan cuti
administratif, sambil dipertimbangkan apakah pernyataannya “menyembah Tuhan
yang sama” bertentangan dengan keyakinan dasar college atau tidak. Mula-mula ia
akan diteruskan untuk tetap menjabat. Pernyataannya bahwa orang Islam dan
Kristen keduanya termasuk people of the book dan bersama orang Yahudi sama-sama
menyembah Tuhan dari Ibrahim, telah didukung oleh para teolog Evangelis sendiri.
Tetapi otoritas Wheaton menganggapnya belum cukup; lalu mereka secara resmi mencopot
dia dari posisinya. Pimpinan Wheaton meminta maaf secara terbuka dan
menyampaikan apresiasi kepada Larycia yang disambut baik oleh Larycia.
Sengketa itu memecah
komunitas perguruan tinggi yang dianggap sebagai pegibar panji-panji Evangelisme
Amerika itu. Sebagian besar menentang pemecatan itu, sebagian lagi setuju. Banyak
alumni yang mengingatkan bahwa pemecatan
Larycia berpotensi melumpuhkan Wheaton. Di sisi lain, banyak juga mahasiswa dan
dosen yang mendukung tindakan pemecatan itu. Muncul pula situs fitnah “Wheaton
Islamic Center” yang mengaku bahwa situs itu, Larycia dan pendukungnya terkait
dengan ISIS. Ada pihak-pihak yang menganggap komentar Facebook Larycia itu
sebagai pengkhianatan terhadap Umat Kristen Timur Tengah yang telah dianiaya
oleh umat Islam, sementara yang lain percaya bahwa komentarnya mencerminkan
hubungan Larycia dengan Islam. Yang lain mengkritik perguruan tinggi itu yang
terburu-buru membawanya ke pers lebih dulu. Semua itu menunjukkan betapa
meresahkannya masalah ini. Perdebatan para teolog Evangelis berkisar
tentang bagaimana keyakinan Kristen tentang Trinitas, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak
dan Roh Kudus, berbeda dari Tuhan Islam dan Yahudi. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah mengajarkan bahwa kaum Muslimin
dan Kristen menyembah satu Tuhan, meskipun mereka melihat Yesus berbeda.
Menurut
Beniamin Corey, Evangelisme yang awalnya lahir sebagai penentang
fundamentalisme, sekarang sama saja. Mereka dapat disebut sebagai fundamentalisme
masa kini. Ibarat anak yang bersumpah tidak akan meniru bapaknya tapi 20 tahun
kemudian baru menyadari bahwa wajahya sama persis dengan bapaknya. Menurut
Corey alasan yang sebenarnya pemecatan Larycia bukanlah apakah pernyataan
Larycia “Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama” bertentangan dengan
doktrin iman Wheaton tetapi karena Wheaton menganggap Larycia “Mencintai Musuh
Bersama”. Top of Form
Perekat yang menyatukan kaum
fundamentalis bersama menurut Corey adalah kesepakatan untuk melawan musuh
bersama dan Larycia telah menolak gagasan bahwa Muslim adalah musuh bersama. Bagi
Evangelis di Amerika jelas bahwa Islam adalah musuh besar mereka masa kini.
Sehingga kata-kata Larycia bahwa dia "berdiri dalam solidaritas"
dengan umat Islam adalah pengkhianatan terhadap salah satu keyakinan terdalam
mereka, dan ini (bagi mereka) membuatnya tidak dapat dipercaya. Meskipun mereka
akhirnya sepakat untuk "berpisah" dengan saling menghormati tapi
banyak hal yang ditutup-tutupi. Misalnya pertanyaan teologis apakah umat Kristen
dan Muslim "menyembah Tuhan yang sama" tetap belum terselesaikan
karena baik Larycia maupun otoritas Wheaton keduanya tidak mau mundur.
Pdt
Dr David Gushee, Direktur Pusat
Teologi Universitas Mercer mengatakan, pemecatan Larycia ini merupakan berita
buruk bagi Evangelisme Amerika. Telah terbentuk front yang siap membela Larycia
dan front Evangelis yang siap melawan. Saya pribadi menolak berpihak dengan
sisi Kristen Evangelis Amerika yang bersiap melawan Larycia. Saya akan
berjuang, bersama banyak orang lain, untuk versi iman Kristen yang lebih baik
dari daripada yang mereka tawarkan. Banyak pengamat khawatir, Wheaton akan
selalu tunduk kepada alumni konservatif yang banyak menyumbangnya, orang-orang
yang menjaga dompet dan arah teologis dari perguruan tinggi itu.
Sejak Maret 2016 Larycia bergabung
dengan Universitas Virginia, menangani
penelitian Proyek Pluralisme serta Proyek Ras, Agama dan Kebudayaan. "Profesor
Larycia mempunyai wawasan yang tajam tentang hubungan agama dan ras dan akan
sangat memperkaya pengetahuan kami dlm bidang ini," kata James Davison
Hunter, direktur eksekutif dan pendiri lembaga itu. "Kami beruntung
memiliki kesempatan untuk menyambut dia di sini." Pada tahun 2007, Larycia
pernah menjadi penliti di UVA tentang sejarah kepresidenan, kebijakan, dan
politik. Demikian kisah Larycia yang berjanji akan terud memakai kerudungnya.
13/05/16
MUHAMMAD SEBAGAI ROH KEBENARAN
Muhammad
sebagai Roh Kebenaran
Sebuah
Kesaksian Kristen MELAWAN Islamofobi
Oleh: Dr. Ian Mevorach
[Pendeta Dr. Ian Mevorach adalah seorang Sarjana
Filsafat dari Middlebury College, Master Teologi (M. Div.) dari Univ. Boston,
dan Ph.D dalam Etika Teologi. Pendiri dan pemimpin spiritual dari Common Street
Spiritual Center, Massachussetts (www.commonstreet.org),
yang merupakan komunitas inklusif, berbasis kasih sayang dan terbuka untuk
semua agama. Co-founder dari Jaringan Gereja-Gereja Baptis Amerika dan mewakili
Gereja-Gereja Baptis Amerika dalam dialog Yahudi-Kristen-Islam, dan dialog
antar agama pada umumnya. Blog ini diterjemahkan dari Huffington
Post, 5 Maret 2016.]
Islamofobi di Amerika telah meningkat sejak peristiwa 11
September 2001. Kampanye Partai Republik dlm pemilihan Presiden Aamerika 2016
telah sekaligus mengungkapkan dan memperburuk gejala yang meresahkan ini. Donald
Trump dan politisi lainnya telah memanfaatkan ketakutan dan kebencian Muslim
untuk kepentingan politik. Mereka membangun di atas pondasi yang sebagian besar
disebabkan oleh retorika Islamophobia dari aliran Kristen Kanan yg terus
menerus. Sekarang kita merasakan suasana kebencian (xenophobia) di negeri ini
yang mengingatkan orang akan kebangkitan Nazi di Jerman.
Ketika Hitler berkuasa di Jerman, ada sejumlah kecil pemimpin
Kristen yang vokal (the Confessing
Church movement) dalam menentang Nazi. Di antaranya yang paling
terkenal, Dietrich Bonhoeffer. Dia meninggal dalam penjara setelah terlibat
dalam konspirasi yang gagal untuk membunuh Hitler. Dalam tulisannya di penjara,
ia membantah sikap anti Yahudi dari orang Kristen dan mengakui kenyataan bahwa
Yesus Kristus adalah seorang Yahudi. Dengan demikian ia terpecah dengan sikap anti-Semitisme
dari Lutheranisme dan Kristen secara umum yang bersejarah, yg dapat ditelusuri
kembali ke abad-abad awal kekristenan. Misalnya, pemimpin seperti Uskup Agung
Konstantinopel John Chrysostom (pertengahan akhir abad ke-4), yang dianggap
sebagai orang suci, berkhotbah dengan penuh kebencian dan pedas terhadap kaum
Yahudi, menyalahkan mereka karena membunuh Kristus. Khotbah-khotbahnya
menghasut kekerasan massa terhadap kaum Yahudi. Pengkambing hitaman semacam ini
terhadap orang-orang Yahudi begitu mengakar dalam agama Kristen bahkan dapat
terlihat jelas dalam Injil sendiri. Dalam Injil Yohanes Yahudi disebut
"anak-anak Iblis" dan dalam Injil Matius pengamat Yahudi pada
eksekusi Yesus berkata, "darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas
anak-anak kami" (Mat 27:25, NRSV). Sejak peristiwaw Holocaust, arus utama
Kristen, termasuk Protestan, Katolik, dan Kristen Ortodoks telah secara fundamental
merevisi pandangan kami pada orang-orang Yahudi dan agama Yahudi; kami telah
mengakui anti-Semitisme umat Kristen dalam sejarah dan tidak lagi menyalahkan
orang Yahudi karena membunuh Kristus atau mencoba untuk mengkonversi
orang-orang Yahudi masuk Kristen. Hari ini, hati nurani para pemimpin Kristen
dipanggil untuk mengambil sikap yang vokal terhadap Islamofobi. Kita dipanggil
untuk membasmi Islamophobia keluar dari agama kita sebelum mengarah ke bencana
genosida lain.
Seperti halnya dengan sikap anti-Semitisme Kristen,
Islamofobi Kristen memiliki akar yang dalam. Dalam tulisan-tulisan Kristen
tertua tentang Islam, St. John dari Damaskus
(abad ke-8 M), Muhammad digambarkan sebagai orang sesat yang terinspirasi oleh
iblis; Islam itu sendiri dikategorikan sebagai bid'ah Kristen. Tragisnya, ini
telah menjadi penilaian Kristen dominan terhadap Muhammad dan Islam sampai hari
ini, dengan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Dante, Thomas Aquinas, dan Martin
Luther semua membuat klaim provokatif yang serupa. Pada abad ke-15, Nicholas dari Cusa
menyesali perang antara Kristen dan Muslim dan berusaha untuk menyatukan kedua agama
secara teologis. Namun, ia tidak berhasil dan malah akhirnya menulis cacian yang
menyangkal Qur'an dan lagi membingkai Muhammad sebagai orang sesat yang terinspirasi
oleh setan. Contoh sebaliknya yang paling menonjol dari tradisi yang cukup
suram dari polemik Kristen terhadap Islam ini adalah St Fransiskus dari Assisi.
Selama Perang Salib dari abad ke-13, Francis berhasil mendialogkan dengan
Sultan Malek al-Kamil dari Mesir dan negosiasi gencatan senjata antara pejuang
Kristen dan Muslim. Sultan tidak tertarik bernegosiasi dengan Paus atau
pemimpin lainnya, tetapi hanya dengan Francis, yang ia kagumi dan dipercaya
sebagai orang yang berintegritas, damai, dan pengabdian kepada Allah. Kaum Kristen
Kanan di Amerika bukanlah menciptakan Islamophobia, mereka hanya melanjutkan
urat kebencian tradisi Kristen ini.
Dari awal, orang Kristen telah bereaksi terhadap Islam
dalam semangat kompetisi dan ketidakpercayaan. Bukannya merangkul dan
menghargai Islam sebagai saudara kandung seiman, orang Kristen telah mencoba
untuk mendiskreditkan Islam. Sekarang, di abad ke-21, sudah saatnya bagi orang
Kristen untuk mengakui betapa salahnya kita. Islam adalah agama terbesar kedua
di planet ini dan merupakan bagian integral dari peradaban manusia seperti yang
kita kenal. Islam adalah agama yang kompleks indah yang mendukung martabat
manusia, seni dan ilmu pengetahuan, spiritualitas, keadilan ekonomi, lingkungan
dan ras, dan banyak lagi. Sebagai orang Kristen hari ini kita dipanggil untuk
mengakui integritas Islam dan merangkul Islam sebagai saudara seiman. Dan
kuncinya, saya percaya, untuk membuat pergeseran paradigma ini adalah memilih
untuk melihat Muhammad secara berbeda, dalam cahaya iman kita.
Sama seperti Bonhoeffer mengakui kenyataan bahwa Yesus
Kristus adalah seorang Yahudi, sehingga mengidentifikasi dirinya sebagai
seorang Kristen dengan dan untuk orang-orang Yahudi, demikian juga orang
Kristen saat ini memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi diri dengan dan
untuk umat Islam dengan positif mengidentifikasi Yesus dengan Muhammad. Dasar Islamofobi
Kristen adalah penolakan Muhammad sebagai roh kesesatan (spirit of error);
fondasi Islamophilia (cinta Islam) Kristen adalah pengakuan Muhammad sebagai
roh kebenaran. Yesus, dalam Injil Yohanes, memprediksi kedatangan seorang nabi
masa depan dia sebut "roh kebenaran":
"Aku masih mempunyai banyak hal untuk kusampaikan
kepadamu, tetapi kamu tidak dapat menanggungnya sekarang. Ketika Roh Kebenaran
datang, dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; karena ia tidak akan
berbicara sendiri, tetapi akan berbicara apa pun yang ia dengar, dan ia akan
memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dia akan memuliakan Aku (Yesus),
karena ia akan membawa apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kamu
sekalian. Semua yang Bapa punya adalah milikku. Untuk alasan ini saya
mengatakan bahwa ia akan mengambil apa yang kepunyaan saya dan menyatakan
kepada kalian " (Yohanes 16: 12-15, NRSV).
Hari ini sebagai umat Kristen kita memiliki kesempatan
untuk merangkul Muhammad, Al-Qur'an, dan Islam dalam sebuah ekspresi iman di
dalam Yesus. Pelukan semacam ini akan memiliki implikasi politik yang besar dan
akan secara radikal mengubah kualitas hubungan Kristen-Muslim. Sekarang kita (umat
Kristen) memiliki kesempatan untuk mengakui dan melepaskan reaksi negatif
Kristen terhadap Islam, dan untuk mencari hubungan kolaboratif dengan umat
Islam. Adaptasi penting Kristen ini, yaitu memilih untuk melihat Muhammad
sebagai "roh kebenaran" yang dikatakan oleh Yesus akan membimbing
kita ke dalam semua kebenaran, akan memungkinkan Kristen dan Islam untuk
bekerja sama untuk perdamaian, keadilan, dan penyembuhan bumi; itu akan
membantu mengakhiri kecenderungan ketidakpercayaan Kristen dan ketakutan terhadap
Muslim.
Dalam Al-Qur'an, Yesus berkata, "'Hai Bani Israil!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang datang
sebelum saya dalam Taurat dan membawa kabar gembira tentang Rasulullah yang datang
setelah saya yang namanya Ahmad '"(Qur’an 61: 6). Dalam ayat ini kita
memiliki visi Yesus yang menegaskan baik Yudaisme dan Islam; ini adalah visi
Yesus yang saya percaya bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk
mengadopsinya pada abad ke-21. Bayangkan sebuah kekristenan yang bisa merangkul
sepenuhnya norma-norma kitab suci Yahudi-Kristen-Muslim dan terlibat dalam
dialog teologis dan etis yang mengalir bebas dengan tetangga Yahudi dan Muslim.
Bayangkan betapa sebuah yang Kristen yang terbuka untuk transformasi dan
penyembuhan dialog ini, akan membawa kebaikan ke seluruh keluarga agama Ibrahim.
Ya, Kristen telah membuat kesalahan besar dalam hal baik
Yudaisme dan Islam; tradisi kita penuh dengan anti-Semitisme dan Islamophobia.
Tapi itu dalam kemampuan kita untuk
belajar dari sejarah dan membetulkan arah yang benar kami kedepan. Penilaian
pertama tradisi kami untuk Muhammad telah menjadi bencana dan telah memicu
konflik berabad-abad antara Kristen dan Muslim. Tapi itu tidak terlalu terlambat
untuk mengakui Muhammad sebagai seorang yang Yesus janjikan akan datang kepada
kita: "roh kebenaran yang berasal dari Bapa, Ia akan bersaksi atas nama
saya" (Yohanes 15: 26b, NRSV). "Engkau juga harus bersaksi,"
Yesus berkata, "karena engkau telah dengan saya dari awal" (Yohanes
15:27, NRSV).
Sebagai pengikut Yesus yang setia, sekarang saatnya bagi
kita untuk bersaksi tentang integritas Muhammad dan Islam, untuk bersaksi bahwa
Yahudi dan Muslim adalah saudara kandung terdekat kita dalam iman. Kesaksian ini
dapat membantu menetapkan arah baru untuk abad dan milenium perdamaian antara
orang Yahudi, Kristen, dan Muslim.
Langganan:
Postingan (Atom)



