28/03/13

SUKU SAYA LEBIH BERBUDAYA


Oleh: Jum'an

Konon pada bulan Agustus 1563 raja Charles IX dari Perancis medatangkan tiga orang suku kanibal dari negri jajahannya Brazil untuk menyaksikan kehidupan “beradab” di istana Reims dan kemegahan kota Rouen di Perancis utara. King Charles saat itu bersusia 13 tahun, sedangkan ketiga orang kanibal yang sangat udik itu, belum pernah bepergian keluar dari Brazil sebelumnya. Raja sempat mengintrogasi mereka cukup lama. Pertemuan antara dua budaya yang kontras dan langka itu ditulis oleh eseis terkenal abad 16 Michel de Montaigne yang juga diperkenalkan dengan ketiga orang itu. Ketika ditanya pendapat mereka tentang lingkungan yang baru dilihatnya, mereka menyampaikan tiga hal yang menarik perhatian mereka tetapi Montaigne hanya ingat dua diantaranya, karena ia menulisnya 16 tahun sesudah peristiwa itu, lagipula ada kesulitan bahasa antara dia, si penterjemah dan para kanibal itu. Karena mereka melihat masyarakat Perancis dengan pandangan yang baru dan lugu, apa yang mereka anggap akrab dan jujur menjadi terasa absurd. Meskipun demikian pandangan mereka sungguh mengungkap moral.

Pertama mereka sangat heran melihat pria-pria bertubuh tegap, tinggi dan gagah, berjenggot dan bersenjata lengkap (yang mereka maksud para pengawal raja) bersedia tunduk pada perintah seorang anak kecil; sesuatu yang tak terpikirkan dalam masyarakat mereka. Mengapa mereka tidak memilih seorang diantara mereka sendiri untuk menjadi pimpinannya. Kedua mereka merasa terkejut melihat ketimpagan bangsa Perancis yang mencolok; ada orang-orang yang serba ada, memiliki segala sesuatu sementara sebagian lain mengemis didepan rumah mereka: kurus, lapar karena kemiskinan. Dalam pandangan mereka manusia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Aneh bahwa sebagaian harus menderita ketidak adilan seperti itu; kenapa tidak mereka cekek saja orang-orang kaya itu atau bakar rumah mereka. Montaigne menunulis Des Cannibals dengan gaya provokatif; bukan dengan membenarkan praktek kanibalisme, tetapi membandingkannya dengan budaya Eropah abad 16 yang menurutnya tidak kalah mengerikan dari pada tindakan para kanibal yang memakan daging musuhnya.

Menurutnya suku pribumi Brazil mempunyai kesederhanaan berfikir yang sehat dan kemuliaan dasar, mereka tidak mengenal kata pelayan, kaya, miskin tidak ada istilah bohong, khianat, pura-pura atau tamak. Atribut yang paling penting bagi mereka adalah keberanian berperang dan bahwa peperangan itu semata­mata untuk membuktikan kedewasaan para pejuang, karena lahan dan makanan tersedia cukup untuk semua orang. Mereka yang paling berani boleh memiliki istri paling banyak sedangkan kekayaan dimiliki bersama. Musuh yang tertangkap dipaksa meminta ampun. Tetapi yang paling mereka banggakan adalah untuk mempersilahkan sipenangkap musuh tadi untuk memakan dagingnya, karena mereka juga memakan daging anggota keluarga serta leluhur mereka. Sementara bangsa Eropah abad itu mempunyai kebiasaan menghukum orang diantaranya dengan mengumpankannya hidup-hidup kepada anjing dan babi, yang jelas lebih mengerikan daripada praktek kanibal. Namun demikian bangsa Eropah Barat abad 16 sangat yakin akan keunggulan moral mereka, bahwa semua non-Eropa adalah liar, kanibal, manusia rendahan, menakutkan, tidak terhormat, dan jangan dipercaya. Kenyataan ini oleh Montaigne disebut sebagai fenomena etnosentrisme suatu kecenderungan budaya untuk menilai budaya asing menggunakan tolok ukur budaya sendiri, sesuai dengan keyakinan dan praktek etnis sendiri tanpa memperhatikan keyakinan etnis lain. Inilah biang rasialisme dan kesukuan. Menurut Montaigne fenomena etnosentrisme sangat jelas dan tidak memerlukan konfirmasi empiris lebih lanjut. Bahwa semua kita sedikit banyak etnosentris sampai batas-batas tertentu. Apapun yang bertentangan dengan kebiasaan kita, semua kita sebut bar-bar. Kita melihat kebudayaan kita yang paling yang sempurna, sistim politik kita yang sempurna, cara melakukan segala sesuatu yang paling sempurna dan paling ulung.

Begitu esei Montaigne lima abad yang lalu. Ia sendiri berpendapat bahwa semua manusia terpapar pada kelemahan, kebiadaban dan salah perhitungan yang sama. Memakan daging sesama manusia atau mengumpankan orang kepada anjing memang tidak; esensinya tetap saja etnosentris. Apakah manusia abad 21 masih bersikap demikian? Anda bisa menilainya sendiri. Entah serendah apa Amerika menilai bangsa kita, tetapi menurut kita sepak-terjang mereka cukup bar-bar. Kalau kita bisa mencuri-dengar bisik-bisik orang Papua tentang suku kita dan bagaimana kita (yang merasa paling berbudaya) selama ini menilai mereka, mungkin kita bisa merasakan betapa etnosentrisnya kita ini.

10/03/13

GADING RETAK - SANTA BERNODA

GADING YANG RETAK - SANTA YANG BERNODA
Oleh: Jum’an

Dalam majalah Time Agustus 2007 terdapat tulisan berjudul “ Krisis Iman Bunda Teresa” yang menceritakan pengakuan terus terang dari Mother Teresa kepada pendeta tempat dia mengaku dosa tentang kesia-siaannya dalam mencari Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa dalam setengah abad terakhir ia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Kepada pendeta Van Der Peet ia berkata: “Yesus sangat mencintaimu; tetapi bagiku terasa begitu sepi dan hampa, saya terawang tak terlihat, saya simak tak terdengar – lidah bergerak tapi tak terucap…. Tolong doakan saya agar saya dapat menjangkauNya.”  Biarawati keturunan Albania yang nama aslinya Agnes Gonxha itu, lahir tahun 1910 di Skopje Macedonia. Semasa hdupnya ia dikenal sebagai Santa dari Kalkuta, penolong orang-orang termiskin dari yang miskin di sejumlah Negara Asia, Afrika dan Amerika Latin dan giat membantu korban bencana banjir, epidemi, kelaparan dan pengungsi. Untuk semua iti ia telah memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian, Hadiah Perdamaian dari Paus Yohanes XXIII, Hadiah Perdamaian Internasional Nehru, Hadiah Balzan, Templeton Dan Magsaysay. Demikian sehingga hampir diseluruh dunia orang tanpa keberatan memanggilnya Bunda.

Tetapi sebagaimana kata peribahasa: tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Citranya yang keramat bila diteliti dan dicermati nampaklah noda-nodanya kontras dengan faktanya; antara yang dibayangkan orang dan kenyatannya. Penelitian yang dilakukan oleh Serge Laviree dan Genevieve Chenard dari Universitas Montreal serta Carole Senechal dari Universitas Ottawa Kanada menyimpulkan bahwa citra humanis, suci dan penolong yang luar biasa dari Mother Teresa hanyalah mitos belaka, hasil promosi dan publikasi media yang berlebihan. Dalam kenyataannya ia menghimpun orang-orang sakit dan orang-orang miskin dalam rumah kematian dan jauh lebih senang mendoakan mereka daripada memberi pertolongan medis praktis meskipun yayasannya memiliki dana jutaan dolar. Baginya bukan masalah uang, tetapi menyangkut pandangan Mother Teresa (MT) sendiri tentang penderitaan dan kematian. ”Ada keindahan dalam melihat orang miskin menerima takdir mereka, menderita seperti Kristus yang disalib. Dunia banyak memperoleh keuntungan dari penderitaan mereka” begitu ia menjawab kritik-kritik yang diterimanya. Sebuah konsepsi yang rasanya tidak manusiawi! MT memang sangat pemurah dengan doa-doanya tetapi kikir dengan uangnya. Ketika banyak terjadi banjir di India serta tragedi Bhopal (ledakan pabrik pestisida 1984 dengan 2000 korban lebih), dia memberikan berbagai doa dan medali Perawan Maria tetapi tidak ada bantuan langsung atau keuangan. Disisi lain, ia tanpa ragu-ragu menerima gelar kehormatan serta hibah uang dari Diktator Haiti, Duvalier.

Penelitian itu menyebutkan MT memiliki 517 misi di 100 negara tetapi sebagian besar pasiennya tidak dirawat dengan baik dan banyak yang dibiarkan mati. Tetapi ketika MT sendiri membutuhkan perawatan akhir hayat, ia memperolehnya dari rumah sakit Amerika yang modern dan mewah. Mother Teresa dipercayai mempunyai mukjizat menyembuhkan penyakit. Monica Besra seorang wanita Benggali mengaku melihat cahaya memancar dari gambar MT yang kebetulan dimilikinya dan sesudah itu penyakit kankernya sembuh. Dr. Ranjan Mustafi yang nerawatnya menegaskan bahwa Monica tidak menderita kanker, sedangkan pasien TBC dan kista ovarium yang dikatakan sembuh oleh mukjizat MT, sebenarnya sembuh karena pengobatan yang sedang dijalani. Tetapi Vatikan tidak menghiraukannya dan tetap dengan rencana beatifikasi, yaitu menobatkannya sebagai santa (orang suci). Ketiga peneliti dari Kanada itu juga mengutip beberapa hal yang tidak diperhitungkan dalam proses beatifikasi oleh Vatican, seperti cara MT yang meragukan dalam merawat orang sakit, kontak-kontak politiknya yang pantas dipertanyakan, manajemen nya yang mencurigakan dalam mengelola uang sangat besar yang ia terima serta pandangannya yang terlalu dogmatis  tentang aborsi, kontrasepsi dan perceraian.

Citra humanis MT yang mendunia serta beatifikasi atau penobatannya sebagai orang suci oleh Paus tidak lepas dari peran media yang mendalanginya dengan efektif. Menurut ketiga peneliti diatas, dalam pertemuan MT dengan Malcolm Muggeridge dari BBC th. 1968 di London, Malcolm memutuskan untuk mempromosikan Mother Teresa dengan membuat film-film yang mendramatisir kegiatan-kegiatannya. Setelah itu MT melakukan perjalanan keliling dunia dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Dalam Biografi MT oleh Meg Greene (2004) diceritakan bahwa yayasan yang didirikannya di Kalkuta dikritik oleh majalah kedokteran Inggris Lancet karena tidak profesional. Dalam SF Weekly  Jan. 2011 terdapat artikel  berjudul “Tainted Saint” (Santa yang bernoda) yang menceritakan MT ketika membela pendeta favoritnya Donald McGuire yang terlibat pelecehan seksual terhadap anak-anak pada th 1993. McGuire sudah diberhentikan dari jabatannya tetapi MT mendesak atasannya untuk mengangkatnya kembali dengan segera. McGuire pun bertugas kembali , kembali juga tabiat pedofilnya.

Meskipun cara MT merawat orang sakit meragukan, yaitu melihat penderitaan mereka sebagai keindahan bukan dengan menghilangkannya, ketiga peneliti menyebutkan efek positif dari mitos Bunda Teresa bahwa citra kasih sayang dan penolongnya telah menginspirasi banyak relawan kemanusiaan yang kerjanya memang benar-benar telah mengatasi penderitaan fakir miskin….  Mother Teresa meninggal tahun 1997 dalam usia 87 tahun.

03/03/13

ORANG ALIM HATINYA KURANG PEKA?


ORANG ALIM HATINYA KURANG PEKA?
Oleh: Jum’an
Sudah biasa bagi anak-anak desa generasi saya dulu mengenakan kain sarung yang sudah kumal karena malas mencucinya untuk solat sehari-hari karena kain sarung itu masih “suci” artinya tidak terkena najis. Istimewanya meskipun kain sarung kami baru dicuci bersih, kalau secara tidak sengaja terpercik air seni, kurang dari setetes sekalipun, kami pasti mencucinya kembali bersih-bersih, bukan bagian yang terkena najis etapi seluruhnya. Sampai sekarang umat Islam generasi saya umumnya tetap membedakan kata suci untuk pakaian yang boleh dipakai untuk solat dengan kata bersih untuk pakaian yang pantas dipakai kekantor misalnya. Suci berarti bersih menurut aturan agama, sedangkan pakaian bersih artinya tidak tampak kotor dan dekil dipandang mata. Bukan hanya itu. Kita juga membedakan pula orang baik menurut agama dan orang baik dalam pengertian umum. Wanita soleh berarti ia mengikuti perintah dan petunjuk Allah sedangkan wanita baik hati adalah baik berdasar penilaian masyarakat. Dalam kumpulan surat-suratnya Raden Ajeng Kartini pernah menulis: “Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati”  seperti pernah saya mengutipnya dulu. Bukan hanya tentang pakaian yang suci dan wanita soleh, Agama memang membawa ajaran moral tersendiri yang tidak selalu selaras dengan nurani manusia. Dan bukan umat Islam saja yang membedakan moralitas agama dengan etika sekuler.
Setiap kali mendirikan solat, kita selalu mengucapkan ikrar bahwa solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, hingga tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengikuti dengan pasrah kehendak Allah. Tetapi Allah juga bersabda dalam Qur’an bahwa semua manusia (yang kafir atau ateis sekalipun) telah diciptakanNya dalam struktur yang sebaik-baiknya, kemudian Dia sempurnakan lagi, lalu ditentukan kadarnya dan diberikannya petunjuk, sehingga tanpa bimbingan agamapun manusia sudah mempunyai bekal potensi dan kecenderungan untuk berbuati baik. Menurut penelitian Universitas Barkeley California orang atheis dan yang tak beragama lebih didorong oleh rasa kasih sayang mereka untuk membantu orang lain daripada orang-orang yang relijius. Bukan berarti bahwa orang yang relijius tidak bersedia menolong, tetapi nampaknya rasa kasih sayang kurang menarik orang relijius dibanding kelompok orang lain. Orang-orang yang kurang atau tidak religius, mengandalkan perasaan hati mereka apakah mau menolong orang lain atau tidak. Sementara orang yang lebih relijius mungkin mendasarkan pertolongan mereka tidak pada emosi tetapi lebih pada factor-afaktor lain seperti doktrin, identitas komunal, atau reputasi; demikian hasil studi itu.
Seperti banyak kita temui orang-orang yang tidak relijius tetapi suka menolong dan berderma. Mereka mengikuti perasaan hati mereka, yang adalah karunia Allah juga, dan tumbuh menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Menurut penelitian, orang yang berkepribadian rendah hati (humble, andap-asor dalam bhs Jawa) terbukti lebih bersedia untuk mengulurkan tangan untuk membantu dibanding mereka yang arogan. Mereka juga cenderung menjadi pemimpin yang efektif dan lebih disukai dari pada mereka yang memamerkan prestasi mereka.
Jika benar hasil penelitian Robb Willer dari Universitas Berkeley diatas bahwa orang relijius lebih mendasarkan kemurahan hatinya kepada doktrin daripada kepada perasaan, maka dapat difahami bahwa banyak orang yang begitu relijius, perasaan mereka tidak peka. Ibarat pisau yang tumpul karena jarang diasah. Mengapa banyak tokoh yang nampaknya alim menyelewengkan uang negara yang sebenarnya merupakan hak rakyat miskin. Meskipun saya bukan orang yang terlalu relijius, saya curiga mengapa hati saya kurang tergerak untuk mengeluarkan uang untuk korban musibah kebakaran, banjir dsb. Saya meneteskan air mata melihat laporan korban banjir di televisi, tetapi sesenpun tidak keluar dari dompet saya untuk menolong mereka. Kalau anda juga merasa demikian, artinya kita tidak menyadari bahwa hati-nurani kita sedikit banyak sudah membawa petunjuk dari Allah swt. Dalam hal tolong-menolong kita kurang menghargai rasa kasih sayang yang merupakan unsur ciptaanNya dalam diri kita.
Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam saya percaya bahwa sifat-sifat baik yang saya miliki tumbuh dari keimanan saya. Kalau saya mengakuinya dari diri sendiri, itupun saya percaya berasal dari potensi yang sudah ditanamkan Allah sejak awal. Bedanya dengan kebaikan mereka yang tak beragama, mereka tidak mungkin mengakui kebaikannnya berasal dari potensi pemberian Allah dan tidak pula mereka peruntukkan bagi Allah. 

24/02/13

MENGINGAT MATI MENYEGARKAN HIDUP



Oleh: Jum’an

Tidaklah menyimpang dari dugaan kalau dalam penelitian terbukti bahwa orang Islam akan meningkat kepercayaannya kepada Allah ketika diingatkan dan berfikir tentang kematian. Demikian pula ketika orang Kristen memikirkan kematian, mereka bertambah yakin akan Tuhan mereka. Tetapi orang ateis ketika diingatkan tentang kematian, hatinya tak bergeming dan tetap tidak percaya. Sedangkan kaum agnostik yang ragu-ragu (karena menurut mereka kebenaran adanya Tuhan sangat sulit dibuktikan) ketika diingatkan akan kematian, mereka menjadi lebih bersedia untuk percaya adanya Tuhan, hanya saja mereka tidak pilih-pilih untuk percaya kepada Allah, Budha maupun Yesus; meskipun penelitian ini diadakan di Amerika, lingkungan yang mayoritas Kristen. Temuan ini meyakinkan bahwa agama yang menjanjikan kehidupan akhirat yang kekal, dapat membantu kita menyikapi soal kematian dan bahwa orang mengatasi rasa takut mati menurut kepercayaannya sendiri-sendiri. Mudah difahami bahwa orang yang religious cenderung makin kuat kepercayaan kepada agamanya sendiri dan semakin menjauhi kepercayaan agama lain.

Demikian diantara kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Kenneth Vail psikolog Universitas Missiouri dan rekan-rekan tentang Agama dan Kematian.  Ia merekrut 20 mahasiswa Kristen, 28 ateis, 40 Muslim dan 28 penganut agnostik. Semuanya mahasiswa Amerika kecuali 40 yang Muslim, mereka mahasiswa Iran yang belajar di Iran. Sesuai dengan dugaan para peneliti terungkap bahwa ketika orang Kristen berfikir tentang kematian, mereka lebih tegas keyakinannya kepada Yesus Kristus ketimbang orang Kristen yang tidak pernah diingatkan soal kematian mereka. Mereka juga makin tidak percaya dengan kebenaran agama lain. Demikian pula sebaliknya dengan orang Islam. Juga terungkap, mithos bahwa orang ateis akan beriman jika terancam kematian (no atheist in foxholes) adalah tidak benar. Orang atheist tetap atheist meskipun mereka diingatkan akan kematian mereka yang tak terelakkan. Penelitian ini juga menunjukkan betapa berbeda-bedanya cara orang menagani rasa takut akan kematian mereka. Bukti bahwa mengingat dan berfikir tentang kematian ternyata meningkatkan iman orang Islam kepada Allah merupakan fakta yang penting dan bermanfaat bagi kita.

Menurut suatu teori dalam ilmu psikologi sosial, kesadaran akan kematian yang tak terelakkan, dapat mendorong manusia untuk mengisi hidup mereka dengan sesuatu yang lebih penting dan bermakna, dan menyatukan diri dengan sesuatu yang lebih besar seperti agama atau Negara. Peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, telah menimbulkan rasa takut luar biasa dan membangkitkan kesadaran akan kematian. Peristiwa itu telah memberikan sekaligus dampak negatif maupun dampak positif. Kebanyakan media cenderung memfokuskan diri kepada reaksi negatif terhadap aksi terorisme seperti meningkatnya permusuhan antar agama, kekerasan dan rasialisme. Tapi menurut Kenneth Vail penelitian juga menemukan bahwa sesudah peristiwa itu orang lebih menunjukkan rasa syukur, harapan, dan kepemimpinan yg lebih baik.

Memikirkan tentang kematian dengan sadar, dapat memotivasi orang untuk menjaga kesehatan dan menyegarkan kembali cita-cita perorangan. Sementara secara tidak disadari mendorong manusia untuk hidup sesuai dengan standar dan keyakinan yang positif, membangun hubungan baik, melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat, hidup berdampingan, dan memperkaya kehidupan mereka sendiri.
Menurut kesimpulan penelitian tentang sikap orang terhadap kematian, memikirkan kematian dapat memperbaiki kehidupan. Menurut istilah mereka, menari dengan kematian adalah langkah yang pelik tetapi anggun menuju kehidupan yang lebih baik. Barangkali hadis Nabi yang mengatakan “Perbanyaklah mengingat kematian” memang perlu kita budayakan.

10/02/13

SAYA DIATAS RATA-RATA


Oleh: Jum'an..

Diantara rekan-rekan sekantor rasanya kebaikan budi dan kemurahan hati, termasuk nilai kinerja saya adalah diatas rata-rata. Demikian pula diantara tetangga, rekan-rekan seprofesi serta rekan-rekan seusia, saya merasa demikian. Padahal mungkin sulit bagi saya mencapai nilai diatas rata-rata kalau benar-benar diuji dalam bidang tertentu seperti pengetahuan computer, bermain catur ataupun mengemudi mobil. Tetapi begitulah, diberbagai arena saya merasa berada diatas rata-rata. Kalau nilai terbaik 10, nilai saya mungkin tujuh. Apakah anda punya perasaan begitu juga? Kalau memang demikian, benarlah apa yang dinyatakan oleh  David Dunning yang telah meneliti  gejala ini selama beberapa puluh tahun. Psikolog dari Univ. Cornell ini mengatakan bahwa fenomena berkhayal unggul itu memang melekat erat pada semua orang.

Kalau anda mengenal saya dari dekat anda dapat menilai berapa nilai saya kira-kira menurut anda. Mungkin hanya empat atau lima. Hanya saja anda pasti merasa rikuh untuk mengatakannya didepan saya. Apalagi bila anda merasa kurang pandai menilai orang lain, anda semakin tidak mau mengatakan bahwa saya dibawah rata-rata. Karena itu ilusi superioritas saya terlindung dari gangguan dan, kata Dunning, perasaan unggul itu ternyata baik bagi kesehatan mental kita. Kebanyakan orang cukup teliti dalam menilai orang lain; tetapi berlebihan ketika menilai kemampuan sendiri, seolah-olah bebas dari segala kendala. Dalam penelitian klasik tahun 1977, 94% para professor menilai diri mereka “diatas rata-rta” relatif terhadap rekan-rekan mereka. Dalam penelitian lain 32% karyawan sebuah perusahaan software menilai diri mereka lebih baik dari hampir semua rekan kerja mereka. Para sopir, menurut penelitian Mark Horswill psikolog Univ. Queensland Australia, menilai diri mereka diatas rata-rata, meskipun dalam test persepsi kecelakaan nilai mereka rendah. Sopir lama, sopir baru, sopir muda dan sopir tua sama. Anehnya mereka yang paling tidak berkompeten adalah yang paling mungkin untuk melebih-lebihkan kemampuan mereka, sementara mereka yang berkompeten cenderung merendahkan diri, karena apa yang mereka rasakan mudah dikiranya mudah juga bagi orang lain.

Satu-satunya kelompok yang terbebas dari berkhayal unggul adalah orang-orang yang menderita depresi dan kecemasan. Mereka tidak punya kecenderungan membesar-besarkan diri. Semakin parah depresi mereka semakin besar kemungkinan mereka meremehkan diri. Karena itu ilusi super yang melekat pada semua orang itu, menurut Horswill mungkin merupakan mekanisme perlindungan bagi  kesehatan mental kita. Dengan ilusi bahwa kita unggul, harga diri kita seperti terlindungi. Menurut David Dunning, ilusi super atau membesar-besarkan diri bervariasi diantara berbagai budaya. Di Amerika fenomena itu sangat kentara, sementara di Korea, Jepang atau China hampir tak teramati. Orang timur lebih mementingkan peningkatan diri sementara budaya Barat cenderung mementingkan harga diri.

Lalu bagaimana kita mensikapi ilusi kita yang salah itu? Karena tidak mungkin menilai diri sendiri dengan objektif, sebaiknya kita berusaha menyesuaikan diri dengan realitas. Salah satunya dengan melihat dan mencontoh perlaku orang lain yang jelas-jelas berjasa bagi masyarakat. Karena umumnya kita cukup teliti dalam menilai orang lain kita harus berinisiatif menangkap dan memperhatikan  kritik-kritik konstruktif dari orang lain. Kata Dunning “Jalan menuju mawas diri adalah melalui orang lain” 

27/01/13

GOD IS NOT A CHRISTIAN


TUHAN ITU BUKAN KRISTEN
Oleh: Jum'an

Dalam KTT Perdamaian Dunia 2009 di Vancouver Kanada, Dalai Lama (sekarang 78th) pemimpin spiritual Tibet dan Uskup Desmond Tutu (82th) dari Afrika Selatan berkesempatan beraudiensi dengan hadirin termasuk beberapa pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian. Catatan singkat dialog langka antara kedua lansia tokoh spiritual dibawah ini dikutip dari buku Dalali Lama “The wisdom of Compassion” yang dimuat dalam Huffington Post awal Januari ini. Ketika itu Dalai Lama berkata: "Saya ingin, bagaiman cara terbaik untuk berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan yang lebih mendalam seperti cinta, kasih sayang dan pengampunan, tanpa mengandalkan kepada Tuhan, tapi mengandalkan kepada diri kita sendiri. Saya sendiri sebagai seorang bikhsu yang percaya, mengikuti sebanyak mungkin ajaran Budha untuk meningkatkan diri. Tetapi saya tidak pernah menyentuh hal ini bila berbicara dengan orang lain. Ajaran Budha adalah kepentingan saya bukan kepentingan orang lain. Terus terang...., ketika anda (Tutu) dan orang-orang berbicara tentang Tuhan, Sang Pencipta, saya termasuk yang tidak percaya. Dalam agama Budha tidak ada Sang Pencipta. Memang kami mengakui Budha, para bodhisatwa yaitu manusia-manusia yang lebih tinggi, lebih cerah. Tetapi kalau kita hanya mengandalkan mereka, kita hanya bisa duduk bermalas-malas. Tidak membantu. Itulah pendapat saya."

Lalu Desmond Tutu menimpali: "Ketika anda mengatakan ada atau tidaknya Tuhan, saya berpikir siapa yag anda salahkan?” Sebelum Tutu melanjutkan, Dalai Lama menginterupsi: "Maaf... Boleh saya potong?... Sebentar?" "Silahkan!" kata Tutu. Dalai Lama meneruskan: "Masalahnya, jika kita melibatkan keyakinan agama, maka banyak variasi dan perbedaan pandangan yang mendasar. Jadi sangat rumit. Itulah mengapa India menggunakan pendekatan sekuler waktu membuat draft konstitusi. Terlalu banyak agama disana, Hindu, Islam, Budha, Yahudi, Sikh, Zoroaster, Jainisme. Agama yang bertuhan maupun yang tidak bertuhan. Lalu siapa yang memutuskan mana yang benar?"

Desmond Tutu menjawab: "Izinkan saya mengatakan bahwa satu diantara hal yg perlu kita tetapkan; yaitu (Tutu terdiam sejenak) Tuhan itu bukanlah (penganut) Kristen." Ia diam lagi, melihat Dalai Lama tertawa. "Anda lebih lega sekarang?" "Kita bisa lanjutkan tapi...." Kemudian Tutu berbicara tentang kebesaran Tuhan yang sangat mempesona hadirin terutama karena spontanitasnya dalam mengemukakan isi hatinya. Diantaranya, pernyataanya mengapa Tuhan membiarkan saja orang mengambil jalan yang salah; seperti mengapa dibiarkannya institusi Gereja membenarkan politik Aprtheid di Afrika Selatan selama hampir 50 tahun. Kalau saya yang menjadi Tuhan, katanya, pasti sudah saya tumpas mereka. Tuhan memang Maha Kuasa tetapi juga (sambil berbisik) tak berdaya.....”

Pada kesempatan lain Dalai Lama berkata: "Menurut saya semua agama mempunyai potensi yang baik untuk meningkatkan kondisi manusia. Tetapi sejumlah penganut agama, mereka tidak benar-benar serius tentang ajaran agamanya sendiri. Mereka karena egoisme, uang atau kekuasaan, menggunakan agama untuk keuntungan pribadi. Tetapi kalau ditimbang-timbang secara keseluruhan jauh lebih banyak segi positif dari negatifnya. Jauh, jauh lebih banyak." "Benar" kata Tutu. Menurutnya agama sendiri secara moral adalah netral, bukan baik bukan buruk. Kristen telah melahirkan Ku Kux Klan, pembunuh dan dokter-dokter pelaku aborsi. Apa yang anda lakukan dengan agama, itulah yang penting. Ibarat pisau anda bisa menggunakannya untuk memotong roti atau…. membunuh. Agama adalah baik bila ia menghasilkan seorang Dalai Lama, mother Theresa dan Martin Luther King. Tetapi kita harus sangat hati-hati jangan sampai mengatakan bahwa kerena ada orang Islam yang jahat berarti Islam adalah agama yang tidak baik. Karena ada penganut Budha yang jahat, agama Budha adalah buruk. Lihat saja diktator-diktator Budha Di Burma."
Kedua lansia itu berbicara seperti tanpa beban, seperti menjadi kanak-kanak lagi. Tertawa riang, saling menyindir, berbisik, mengakui kelemahan masing-masing. Persahabatan mereka tampak begitu tulus. Tutu pernah mengatakan kepada Dalai Lama di Oslo: “Ingat kamera sedang menyorot anda. Jangan bertingkah seperti anak sekolah yang nakal. Tampillah sebagaimana orang suci….” Tetapi pada saatnya mereka kentara sebagai tokoh spiritual yang matang. Agar anda tidak salah faham dengan tulisan ini, ikutilah link-link diatas. Lebih lengkap, lebih jelas.

19/01/13

MAUNYA MEREKA KITA TETAP MISKIN


Oleh: Jum'an

Setiap hari Jum’at pagi dirumah Haji Ali di Tanah Abang berlangsung pembagian sedekah untuk rombongan ibu-ibu miskin yang datang bergantian sepanjang pagi. Mereka berkelompok 10-15 orang setiap rombongan. Semua berjalan tertib karena sudah biasa dan nampak sudah terjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara kedua pihak. Haji Ali merelakan sebagian rizki yang diperolehnya dan ibu-ibu miskin itu terpenuhi kebutuhan dapurnya untuk hari itu. Haji Ali memperoleh pahala, ibu-ibu itu mendapatkan rizkinya melalui tangan Haji Ali. Kebiasaan itu sudah menjadi tradisi sejak belasan tahun saya tinggal disitu. Dari satu sisi fenomena diatas merupakan gambaran sejuk mayarakat yang islami dimana orang-orang kaya saling berbagi dengan kaum fakir-miskin. Dinamika yang menurut saya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sampai kapan kiranya tradisi demikian akan berlangsung? Bukankah mereka yang miskin tidak seharusnya tetap miskin? Sementara Haji Ali jangan-jangan lebih senang dengan keadaan tetap seperti sekarang. Ia mungkin cenderung menikmati keadaan status-quo. Ia merasa bahwa tugas ubudiahnya sudah ia tunaikan dengan memberi mereka sedekah setiap Jum’at. Percayakah anda bahwa ada orang-orang yang sadar maupun tak sadar senang memelihara dan menikmati keadaan status quo seperti itu? Lebih senang bila yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin?

Tahun-tahun belakangan ini banyak anak-anak perempuan miskin dari kampung saya yang berhasil bekerja sebagi pembantu rumah tangga di luar negri dengan gaji yang relatif besar. Orang tua mereka dapat membeli sawah dan membangun rumah dan tampil setaraf dengan warga desa yang lain. Sahabat-sahabat saya sekampung umumnya enggan menceritakan kisah sukses itu. Seperti kurang rela melihat perubahan nasib itu. Mereka lebih bangga menceritakan anaknya yang berhasil menjadi pegawai negri sebagai guru SD atau kaeraywan dikantor kecamatan. Mereka lebih suka kalau gadis-gadis miskin itu tetap miskin dan sabar menerima takdir mereka. Sikap seperti itu nampaknya memang jamak.

Leila de Bruyne, pendiri yayasan “Flying Kite” yang bertujuan membantu meningkatkan taraf hidup anak-anak yatim di Kenya Afrika, mengamati hal yang sama.  Ia merasa kecewa ketika sebuah proyek listrik tenaga matahari disana ingin meng-gratiskan sebagian listriknya untuk penerangan panti asuhannya, karena banyak pihak yang tidak setuju. Para donatur, relawan dan pendukung yayasannya, berpendapat bahwa membesarkan anak-anak di rumah yatim dengan fasilitas modern akan membuat mereka kehilangan hubungan dengan masyarakat sekitarnya yang kebanyakan kaum miskin. Kebanyakan mereka, seperti juga para turis, ingin mengagumi Kenya dari sambutan rakyatnya yang ramah-tamah, miskin tetapi bahagia ditengah pemandangan alam Afrika yang eksotis. Padahal Leila lebih memahami betapa sakit rasanya menjadi orang miskin; tetapi kolega-koleganya memilih keramah-tamahan dan keindahan alam. Mereka lebih suka keadaan status-quo yaitu agar Kenya dan anak-anak yatimnya tetap miskin.

Sebuah laporang hasil penelitian 2012 sangat mengejutkan pemerintah Inggris karena terungkap bahwa jurang antara orang kaya dan orang miskin disana begitu dalam, jauh diluar dugaan. Penelitian yang diungkapkan oleh Nick Clegg wakil Perdana Menteri Inggris itu menunjukkkan bukti kesesenjangan yang mencolok antara peluang hidup orang miskin dan orang kaya di Inggris. Diakuinya pendapatan dan latar belakang tingkat sosial orang tua sangat mempengaruhi nasib masa depan hidup anak-anak, dan hampir tidak berubah selama puluhan tahun. Ia bertekad untuk mempersempit kesenjangan itu dan membantah mitos bahwa perataan pendapatan akan menurunknan standar nasional. Mitos itu, katanya, sering ditonjolkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari keadaan status-quo. The Church of England mengakui Inggris sebagai salah satu Negara Barat yang paling tidak merata kesejahteraannya, perbedaan antara lingkungan terkaya dan termiskin sangat mengkhawatirkan.

Jadi bukan hanya dugaan kita bahwa ada orang-orang yang menghendaki kita tetap miskin; Leila de Bruyne merasakannya dan Wakil Perdana Mentri Inggris Nick Clegg juga mengakui dan mengutuknya. Disamping itu naluri jahat kita sering mengatakan bahwa kebanyakan orang miskin itu disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri; mereka malas dan pantas kalau miskin….