12/11/15

MENUA DENGAN LAPANG DADA


SAMBUT HARI TUA DENGAN LAPANG DADA
Oleh: Jum’an Basalim

Proses penuaan adalah fenomena alamiah dan universal, semua orang akan menua dengan sendirinya. Suatu saat dalam hidup kita terpaksa membiarkan sesuatu terlepas, menangisi yang hilang dan menggeliat bangkit untuk meneruskan pejalanan. Orang tua memang menurun fisik dan memorinya. Di Amerika dimana sikap generasi muda terhadap orang tua tidak terlalu ramah, ada sebutan ”Dirty Old Man” dengan konotasi bahwa orang tua itu lusuh dan tidak berguna. Tidak ada lagi kontribusinya untuk masyarakat karena lemah dan rentan. Di China orang tua lebih dihormati. Pemerintah di sana memberikan lima jaminan bagi orang tua: cukup makan, cukup pakaian, papan, pengobatan dan biaya penguburan. Lepas dari sampai dimana bukti pelaksanaannya, ini menunjukkan bahwa masyarakat China memberikan tempat terhormat bagi orang tua mereka. Di Indonesia orang tua juga mempunyai kedudukan yang mulia. Pepunden tempat kita sungkem di hari Lebaran, memohon restu dan nasihat.

Hari tua itu lebih baik disambut dengan ramah, jangan sekali-sekali dilawan. Kalau bisa, menualah dengan ikhlas. Takut seksualitas menurun, rambut memutih dan kulit keriput? Ketakutan itu timbul hanya karena kita membayangkannya dengan otak muda. Pada saat mengalaminya kelak, kita akan memahaminya sebagai kewajaran belaka. Asalkan kita menjaga keseimbangan jasmani dan rohani. Usia tua berarti menghampiri maut. Maka banyak orang menghadapinya dengan rasa cemas yang mendalam dan berkepanjangan. Orang yang beriman dan percaya kepada kehidupan akhirat dan meyakininya dengan sungguh-sungguh, menanggapinya dengan sikap yang lebih ringan bahkan disertai harapan akan kehidupan yang baik di sana nanti. Kebersamaan spiritual dengan orang-orang yang se-iman juga memberikan rasa senasib dan sepenanggungan yang menghilangkan kecemasan. Hidup bukanlah sebuah jalan yang terus menurun dari dataran tinggi yang terang benderang menuju lembah kematian yang gelap gulita. Meskipun kebanyakan orang muda beranggapan bahwa orang tua itu mudah tersinggung dan pemarah, penelitian menunjukkan orang menjadi lebih bahagia ketika sudah tua. Penelitian membuktikan bahwa grafik tingkat kebahagiaan manusia berbentuk huruf U dengan titik yang terendah pada usia sekitar 45 tahun, kemudian naik lagi. Meskipun kualitas fisik manusia menurun setelah usia pertengahan, kepuasan mental justru meningkat. Kebanyakan orang hidup ceria sampai usia 20 tahun. Lalu menurun sampai usia pertengahan yang dikenal sebagai krisis paruh baya yaitu pada umur 45 – 50 tahun. Yang mengejutkan adalah yang terjadi sesudah itu. Meskipun karena menua orang kehilangan miliknya yang berharga seperti vitalitas, ketajaman mental dan penglihatan, mereka ternyata memperoleh apa yang dicari orang dalam hidup selama ini yaitu kebahagiaan. Ini dapat disebabkan oleh kemampuan mereka mengatasi sesuatu dengan lebih baik, dapat juga oleh menurunnya harapan dari kehidupan, dimana orang tua tidak lagi bersedia memaksa diri dalam bidang pribadi maupun pekerjaan. Banyak penjelasan mengapa grafik kebahagiaan berbentuk huruf U tetapi penyebab yang dominan adalah menurunnya ambisi dan penerimaan kenyataan apa adanya. Penelitian yang lain menemukan bahwa otak orang tua lebih suka untuk memproses informasi positif dibanding otak orang muda. Orang tua memandang dunia melalui kacamata berwarna sejuk, lebih mengingat yang baik daripada yang buruk.

Sementara orang muda cenderung menikmati pengalaman yang menggairahkan seperti seperti berkelana, jatuh cinta atau mencari sensasi, orang tua lebih menyukai pengalaman biasa dan kesenangan sehari-hari, dan memperoleh jati-diri dari jenis pengalaman ini. Semakin tua, orang semakin menghargai hal-hal kecil. Orang tua, karena menyadari lebih dekat dengan kematian, mereka lebih hidup untuk saat ini, fokus pada hal-hal penting sekarang dan kurang pada tujuan jangka panjang. Orang muda menyangka, alangkah menakutkannya mendekati kematian. Tetapi orang tua tahu apa yang lebih penting dengan niat memanfaatkan sisa usia sebaik-baiknya. Kebanyakan orang tua memutuskan untuk menerima kekuatan dan kelemahan mereka, apa adanya dan melepaskan harapan untuk menjadi orang yang terkenal atau berkedudukan. Alangkah leganya merasakan sensasi ketika kita menyerah berjuang untuk tetap tampak muda. Tak usah mengecat rambut dan diet yang menyiksa. Menerima ketuaan adalah sumber kelegaan yang membahagiakan. Orang yang lega dan bahagia lebih cepat sembuh dari penyakit dibanding mereka yang cemas dan ambisius. Jadi meskipun orang tua cenderung kurang sehat daripada yang lebih muda, kebahagiaan mereka membantu melawan kerapuhan.

Ada bonus istimewa bagi kita di hari tua yaitu cucu. Cucu adalah sumber kebahagiaan, kemesraan dan kegembiraan. Megasuh dan mendidik adalah kewajiban orang tuanya. Cucu adalah sepenuhnya balas-jasa dari anak tanpa mengurangi hak mereka sebagai ayah-ibu. Berkah dari Sang Pengasih; sumber keceriaan yang instan, penenteram resah dan gelisah, obat rindu dan hiburan diusia senja. Cucu adalah kompensasi dari Tuhan untuk kita yang menua. Bagi sang cucu, kakek dan nenek itu orang tua ya, guru ya dan teman main juga ya. Kakek dan nenek yang berambut perak dan berhati emas; murah dengan pelukan dan ciuman, dongeng dan oleh-oleh. Tempat terbaik bagi cucu yang bersedih adalah dipangkuan kakek. Menjadi kakek cukup membebaskan seseorang dari dari tanggung jawab sehingga ia boleh berteman saja dengan cucunya. Jangan sedih jangan berduka. Pada usia 80 tahun nanti semoga kita lebih bahagia daripada waktu kita berumur 20 tahun.


06/11/15

TUHAN SEMBILAN SENTI


TUHAN SEMBILAN SENTI
Oleh: Taufiq Ismail 



Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

22/10/15

MUSLIHAT AKHIR MASA JABATAN


MUSLIHAT AKHIR MASA JABATAN
Oleh: Jum’an

Perasaan senang selalu timbul ketika orang berhasil menyelesaikan tahap akhir dalam kegiatannya seperti menyelesaikan kuliah di Perguruan Tinggi atau membangun rumah. Kita serta merta menjadi baik budi dan murah hati. Mengunjungi teman lama, makan di luar bersama keluarga atau bersedekah. Disertai harapan agar kesalahan-kesalahan yang dilakukan waktu menyelesaikan kegiatan itu tertebus dan agar terhindar dari terpeleset pada momen momen terakhir. Tetapi segala sesuatu selalu ada sisi terang dan sisi gelapnya. Demikian pula dengan sensasi yang menyenangkan dari tahap akhir suatu kegiatan. Euforia karena keberhasilan sekaligus mengendorkan kewaspadaan. Perasaan tanpa beban menyebabkan  orang cenderung bertindak menggampangkan dan gegabah.  

Menurut hasil sebuah penelitian terbukti bahwa pada babak akhir suatu kegiatan, orang cenderung terangsang untuk menipu ketika mereka memiliki peluang. Motivasi dibalik perbuatan jahat tersebut adalah kekhawatiran mereka akan menyesali kehilangan kesempatan yang terakhir. Dalam penelitian itu ratusan peserta direkrut melalui internet untuk berpartisipasi dalam eksperimen melempar koin dan menebak sendiri apakah koin itu akan jatuh pada permukaan yang satu atau yang sebaliknya. Setiap eksperimen terdiri dari 20 kali lemparan. Sebagian diminta untuk mengulang eksperimen itu sebanyak 7 ronde, yang lain 10 ronde dan kelompok lain lagi 13 ronde. Tebakan yang benar akan diberi kompensasi sedikit uang tunai. Semua diminta untuk melaporkan hasil tebakannya dengan jujur agar penelitian itu bernilai. Tetapi karena mereka mengerjakannya secara pribadi, maka bila peserta berbohong pun tidak akan ketahuan. Tetapi menurut statistik, koin yang dilempar berkali-kali, kemungkinan jatuh pada satu sisi atau sisi yang lain rata-rata adalah sama yaitu sekitar 50%. Pada ronde-ronde awal laporan hasil tebakan yang benar memang menunjukkan angka disekitar 50. Tetapi pada ronde akhir angka itu berubah drastis. Mereka yang diminta mengikuti percobaan 7 ronde, menipu dan melaporkan tebakan benarnya sangat tinggi pada ronde ke tujuh. Demikian pula yang diminta mencoba 10 ronde, mereka masih jujur sampai ronde ke 9 dan menipu seenaknya pada ronde ke 10. Demikian pula kelompok 13 ronde. Ini membuktikan kecenderungan menipu pada tahap akhir memang benar terjadi. Dan bahwa apa yang membuat orang ingin menipu bukan berapa banyak kesempatan yang mereka miliki, tetapi berapa banyak peluang yang masih tersisa.

Untuk memperjelas apakah fenomena penipuan pada tahap akhir ini juga berlaku dalam kehidupan yang nyata, diadakan eksperimen sejenis. Para peserta penelitian diminta untuk membaca 7 atau 10 buah artikel dan akan dibayar sesuai dengan lamanya waktu yang mereka laporkan untuk menyelesaikan setiap artikel. Tanpa sepengetahuan mereka, waktu mereka juga dicatat dengan timer rahasia. Hasilnya tidak berbeda dengan eksperimen melempar koin, ketika mereka membaca artikel terakhir mereka melaporkan menghabiskan waktu setidaknya 25% lebih dari yang sebenarnya mereka lakukan, demi bayaran lebih tentunya. Kecurangan kebanyakan terjadi ketika orang berfikir mereka mendekati garis finish.

Menggunakan analogi akhir masa jabatan dengan ronde terakhir atau garis finish, sangat pantas diduga bahwa seseorang pada akhir masa jabatannya cenderung berkeinginan menipu untuk kepentingan pribadi setiap ada kesempatan. Sebab kalau tidak, ia akan kehilangan kesempatan terakhir yang ada. Apalagi menurut penelitian itu, kemampuan untuk mengantisipasi masa depan meningkat ketika seseorang berada pada tahap akhir kegiatannya. Kemampuan antisipasi dapat membantu orang memeras tenaga untuk memeperoleh tambahan hasil hingga maksimal pada saat-saat terakhir seperti petinju yang hampir kalah, tetapi berhasil menghajar lawannya hingga K.O. pada ronde terakhir.


Ketika masa jabatan menjelang berakhir maka situasi menjadi rawan terhadap penyelewengan. Sesuai dengan kewenangan yang dimiliki, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok, mereka merekayasa kegiatan-kegiatan yang dapat mengalirkan uang untuk mereka secara tidak halal. Membangun fasilitas-fasilitas yang tidak urgen misalnya gedung pertemuan, komputerisasi administrasi, atau bila perlu memindahkan lokasi pasar. Saya menduga bahwa banyak proyek rekayasa yang diputuskan disaat menjelang akhir jabatan yang telah mengakibatkan banyak kebocoran dalam pembiayaannya. Oleh karena itu kewaspadaan yang lebih, perlu ditegakkan terhadap keputusan-keputusan yang diambil pada akhir masa jabatan untuk mencegah adanya kesengajaan memanfaatkan peluang terakhir untuk korupsi. Percayalah!

16/10/15

BERKERUMUN DAN BERDESAKAN


BAHAYA BERKERUMUN DAN BERDESAKAN
Oleh: Jum’an

Tragedi Mina 2015 yang menewaskan lebih dari 1000 jamaah haji mengingatkan bahwa potensi bahaya kerumunan massa adalah nyata dan menakutkan sehingga orang harus waspada  setiap saat. Kesalahan manusia berulang dari waktu kewaktu seiring dengan dinamika kehidupan yang tidak pernah berhenti. Penyelenggara acara-acara perhimpunan besar yang rutin harus selalu berusaha menjaga, mengatisipasi dan mengevaluasi keamanan dan keselamatan hadirin yang terlibat dalam acara itu. Lebih-lebih peyelenggaraan ibadah haji yang berskala internasiaonal. Pemerintah Arab Saudi telah melibatkan ahli-ahli dari seluruh dunia termasuk dari perusahaan desain tingkat Dunia terkenal  Arthur Gensler Associates  dari San Francisco AS dalam Mega Project “Redesigning Mecca” untuk meningkatkan aliran dan keselamatan di semua situs utama haji, dari masjidil-haram sampai ke Mina. Seperti kita ketahui tragedi kematian massal karena berdesakan tidak hanya terjadi pada jamaah haji dan acara ziarah keagamaan lainnya tetapi juga dalam banyak acara–acara sosial budaya seperti prosesi pemakaman, acara hiburan, pembagian bahan makanan, bencana alam, insiden kebakaran, kerusuhan dan acara olahraga. Salah satu insiden desak-desakan massa yang fatal yang mungkin pertama kali didokumentasikan terjadi pada tahun 1896 ketika penobatan Tsar Nicholas II di Rusia. Sebanyak 1.000 orang tewas setelah rumor menyebar dikalangan pengunjung bahwa stan pembagian hadiah kehabisan souvenir. Pada tahun 1941, selama pemboman kota Chongqing di Cina oleh Jepang 1.000 orang tewas ketika berdesak-desakan di terowongan Jiaochangkou yang merupakan jalur menuju ke tempat perlindungan dari serangan udara. Suatu studi epidemiologi mencatat sebanyak 215 peristiwa fatal berdesakan antara tahun 1980 dan 2007.

Berdesak-desakan adalah gerakan akibat rangsangan massal diantara kerumunan ternak atau manusia dimana mereka secara kolektif mulai bergerak tanpa arah atau tujuan yang jelas. Rangsangan ini merupakan respons biologis di dalam otak dan kelenjar endokrin, yang bagi hewan ternak berguna untuk membantu menghindarkan diri dari sergapan predator. Anehnya manusia begitu rentan terhadap bahaya ketika berada dalam kerumunan massa. Padahal ikan teri (bilis) sampai jenis burung jalak sangat kompak dalam berkoordinasi ketika mereka sedang ramai berkelompok. Mereka tidak pernah saling bertabrakan. Ribuan burung yang terbang dengan kecepatan tinggi sanggup melakukan manuver secara tiba-tiba dengan koordinasi yang tepat; sungguh mengagumkan. Ternyata hewan memiliki sistem sosial dan membuat keputusan bersama yang sangat teratur. Menurut pakar ekologi Dr. Iain Couzin kawanan burung atau kelompok ikan yang sangat sigap berkordinasi menandakan bahwa mereka telah ber-evolusi  untuk melakukannya.  Sayangnya, manusia tidak demikian. Kita telah berkembang menjadi kelompok keluarga kecil. Pada manusia biasanya insiden berdesakan terjadi karena rasa panik yang menyebar, bukan karena lingkungan yg benar-benar berbahaya. Respons mereka lah yang menciptakan bahaya. Respons kolektif yang kuat adalah hal yang sangat berbahaya dalam situasi tertentu.

Ada empat unsur utama yang perlu diingat untuk dapat memahami penyebab, upaya pencegahan dan kemungkinan meringankan bahaya kerumunan yang sedang berlangsung. Juga untuk mengingatkan bahwa situasi kerumunan dapat dengan cepat menjadi ancaman dan berpotensi mematikan. Pertama, kekuatan desakan dari kerumunan massa. Kekuatan desakan beberapa orang saja sudah cukup mematikan. Dalam kerumunan yang padat seseorang tidak dapat menahan kaki di tanah dan tidak bisa mengontrol kemana akan bergerak. Ia hanya bisa mencoba untuk menjaga keseimbangan saja. Desakan massa dapat meningkat sampai tidak mungkin untuk ditahan.  Sebagian besar kematian dalam tragedi berdesakan adalah karena sesak nafas, bukan karena terinjak-injak. Besarnya kekuatan desakan massa terlihat dari pagar baja yang sampai bengkok setelah beberapa insiden yang fatal. Kekuatan itu berasal dari dorongan dan efek domino dari orang yang bersandar satu sama lain. Sesak nafas terjadi pada orang-orang yang tertumpuk secara vertikal, atau dorongan  dan himpitan horizontal. Unsur yang ke dua adalah informasi, yang menyebabkan massa bertindak atau bereaksi. Termasuk semua sarana komunikasi, pemandangan dan suara yang mempengaruhi persepsi massa, pengumuman kepada publik, tindakan personil, tanda-tanda, dan bahkan loket karcis, yang dapat memicu gerakan kelompok yang cepat. Yang ketiga, ruang atau tempat dimana insiden kerumunan terjadi. Konfigurasi, daya tampung dan kemampuan mengatur lalu lintas hadirin menentukan kepadatan kerumunan. Ruang tempat berdiri dan duduk, perkiraan jumlah hadirin, kapasitas koridor,  tangga, pintu, eskalator, dan lift. Yang terakhir adalah unsur waktu: lamanya acara, penjadwalan serta kecepatan untuk mengatur kelancaran. Perlu diingat bahwa pada proses kedatangan kepadatan lebih bertahap dan renggang sebelum acara, dibandingkan saat keluar dimana kerumunan bergerak lebih capat dan lebih padat.

Strategi sederhana untuk mencegah bencana kerumunan massa adalah dengan mengorganisir dan mengontrol lalu lintas dengan sarana pembatas. Tetapi pagar pembatas dalam beberapa kasus dapat menggiring kerumunan menuju daerah yang justru sudah padat. Oleh karena itu pagar pembatas dapat menjadi solusi maupun penyebab berdesakan. Yang menjadi masalah adalah kurangnya umpan balik dari orang-orang yang terhimpit dibagian depan kepada orang banyak yang mendesak dari belakang - umpan balik sebenarnya dapat diberikan oleh pengawas dari tempat yang lebih tinggi, seperti panggung atau diatas kuda, yang dapat mengamati kerumunan dan menggunakan pengeras suara untuk berkomunikasi dan mengarahkan orang banyak.

Kerumunan yang besar bisa sangat aman, dan kerumunan kecil dapat mematikan. Secara umum kerapatan empat orang per meter persegi adalah rasio yang aman. Jika lebih dari itu-terutama dalam kerumunan yang bergerak- sebaiknya anda mencari jalan untuk keluar. Jika tidak, jika seseorang mendorong anda, anda tidak akan memiliki ruang untuk menapakkan kaki untuk menstabilkan diri. Jika anda jatuh, orang lain mungkin tersandung anda, membuat tabrakan beruntun. Sementara itu kerumunan yang selebihnya akan terus merangsek maju, tidak menyadari situasi anda, dan tekanan akan menumpuk. Tanda bahaya lain yang lebih jelas adalah bila anda merasa tersentuh dari keempat sisi; kiri kanan depan belakang. Itulah saat untuk anda berusaha menghindar dari krumunan. Kesempatan terakhir adalah ketika anda merasakan gelombang kejut merambat melalui kerumunan. Yaitu ketika orang-orang di belakang mendorong maju, tetapi orang-orang di depan tidak dapat bergerak. Jika anda merasakan goyangan penonton seperti ini, Anda berada dalam bahaya serius. Tunggu sampai kerumunan berhenti bergerak dan kemudian lambat-lambat cari jalan ke samping dan ke belakang, zig-zag untuk menyelamatkan diri.


09/09/15

LHO! ANDA KAN PAUS



LHO! ANDA KAN PAUS
Oleh: Jum’an

Siapalah saya ini mau mepersunting puteri juragan! Bagai pungguk merindukan bulan.  Saya sadar dan tahu diri, saya hanya satpam kantor koperasi, miskin dan kurang gizi. Mengenaskan betul nada ungkapan ini. Sebuah pengakuan yang rendah hati, pasrah,  bersahaja, terus terang, dan mengundang simpati. Siapalah saya ini juga memberi jalan  untuk mengelak dari beban atau tuntutan yang terlalu berat. Kalau anda diminta untuk memprediksi bagaimana ekonomi Indonesia 10 tahun yang akan datang, jangan lama-lama berpikir ucapkan saja mantera ini: Siapalah saya ini diminta meramal ekonomi bangsa satu dekade kedepan! Lebih-lebih bila anda diminta menilai pribadi seseorang. Jangan suka menghakimi jangan mudah menilai katakan saja siapalah saya ini untuk menilai pribadi orang.  Ingat ketika Paus Francis ditanya oleh wartawan tentang sikapnya terhadap pendeta gay. Beliau menjawab:Jika seseorang gay dan ia mencari Tuhan dan memiliki niat baik, siapalah saya ini untuk menghakimi?" Paus bukan orang awam yang dapat menggunakan ungkapan sekehendak hatinya seperti kita. Ucapannya ternyata telah menghebohkan dan mengundang kontroversi. Banyak orang yang mendengarnya kaget dan bingung: Lho anda kan Paus! yang tugasnya justru untuk menghakimi mana yang salah dan mana yang benar? Mengapa tiba-tiba mengatakan siapalah saya ini untuk menghakimi? Bukankah penghakiman - terutama dalam hal seksualitas - sudah berabad-abad menjadi bagian dari job description kepausan?. Seperti orang tahu, agama Katholik, sebagaimana Islam juga, mengaharamkan homoseks sebagai salah satu dosa besar. 

Ungkapan Paus siapalah saya ini untuk menilai, menurut NewYork Times tentulah tidak bermaksud menafikan kewenangan gereja dalam hal iman dan moral. Ia hanya mengadopsi nada rendah hati. Perbuatan homoseks jelas dosa tetapi kecenderungan gay menurut Paus bukan masalah. Tetapi pemilihan nada rendah hati dan penggunaan kata gay oleh Paus menjadi penting dan mempunyai dampak. Ini memberi sinyal bahwa Vatican akan berhenti meng-kambinghitam-kan kaum gay dalam masalah personalia dan kedinasan. Dan juga berdampak besar yang melegakan kaum gay, lesbian, biseksual dan transgender muda terutama yang dibesarkan dalam keluarga Katolik, yang selama ini berpikir bahwa aspirasi mereka hanyalah dosa dan keji, noda moral urutan tertinggi.

Bagaimanapun nada, kesan dan dampak ucapan Paus tentang siapalah dia untuk menilai, banyak juga orang yang lebih suka mengartikan apa adanya, secara harfiah. Ronald Mann, professor Fisika Univ. Louisville menulisnya dalam Crisis Magazine. Ia merasa gerah dan bosan dengan kekonyolan ucapan Paus “siapalah saya ini”. Hanya Tuhan yang bisa menilai jiwa manusia. Tetapi omong kosong untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menghakimi perilaku manusia. Keengganan untuk menilai perilaku moral adalah konsekuensi tak terelakkan dari subjektivisme yang telah mengikis kepercayaan pada kemampuan untuk menentukan kebenaran moral obyektif yang mendasari penilaian yang baik. Penghakiman adalah bagian penting dari pelaksanaan kewenangan. Jika Anda tidak memiliki keberanian untuk menilai, maka Anda harus menghindari posisi otoritas. Tidak mau menghakimi adalah kutukan zaman kita. Tidak mau menghakimi adalah melalaikan tugas yang menimpa begitu banyak hirarki Gereja. Mengaburkan pesan Tuhan, menabur kebingungan di kalangan umat beriman, dan melemahkan usaha awam untuk melawan kepalsuan.

Tidak adanya penilaian dan penghakiman yg kompeten sehubungan dengan skandal sodomi meningkatkan perilaku menyimpang dari sedikit pendeta yg bobrok menjadi skandal internasional yang menjadikan kepausan dicemooh dan melumpuhkan Gereja selama beberapa dekade. Kebanyakan pendeta, uskup, kardinal, dan paus adalah orang-orang baik yang berdedikasi. Tapi mereka memiliki kesalahan, bias, dan kesombongan seperti orang lain juga. Menjilat merupakan bahaya yang selalu ada. Semua orang selalu ingin dipromosikan ketingkat yang sebenarnya ia belum mampu mengerjakannya. Dan ini jelas berlaku bagi anggota hirarki Gereja. Sehingga mereka sering menyerah pada semangat sesaat yang menyamar sebagai kepedulian gereja. Sikap transparan, terbuka dan rendah hati memang terpuji tapi mengendalikan narasi ketika seorang pejabat otoritas berbicara didepan umum adalah penting. Media masa kini sangat siap mengolah dan menafsirkan serta menyiarkannya. 

Yang menarik bukan hanya siapalah saya ini, tetapi juga siapalah dia itu: Siapalah dia itu! Mencaci maki pemerintah seenak perutnya. Kasih dia jabatan ….paling juga tidak becus! Memang siapalah saya ini tetapi siapalah dia itu.


28/08/15

SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI...


SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI…
Oleh: Jum’an

Saya memang kurang mampu mengontrol tindakan dan perilaku saya sesuai dengan yang saya inginkan. Tidak bisa berdisiplin dalam mengatur waktu sehingga banyak peluang yang terlewat hilang sia-sia. Begitu banyak pekerjaan yang saya rencanakan, sasaran yang ingin saya capai tetapi begitu sedikit yang kesampaian. Satu jam lebih menguap dengan cepat hanya untuk membaca dan membalas e-mail, menengok facebook, menonton video You Tube yang dikirim teman atau membaca berita. Selalu terdengar bisikan yang siap memaafkan menunda pekerjaan yang utama: “Yang itu kan bisa nanti. Kalau bisa besok kenapa harus sekarang. Apa salahnya ditunda sehari”. Kebiasaan tarsok-tarsok ini terasa sebagai beban yang makin berat sehingga menimbulkan rasa dongkol dan membenci diri sendiri karena memang saya sendirilah biang penyebabnya.

Sudah lama saya mempunyai angan-angan untuk menulis tentang Malala Yousafzai. Saya merasa tidak senang karena sebagai seorang muslimah yang belum begitu matang ia disanjung dan diidolakan oleh Media Barat, sampai-sampai dinominasikan untuk memperoleh hadiah Nobel. Risi rasanya mendengar ia mengucapkan kata-kata yang sepantasnya diucapkan orang yang lebih dewasa dengan jari menunjuk-nunjuk seperti menggurui. Saya duga banyak orang juga kurang senang meskipun misi mereka bermaksud meningkatkan pendidikan anak-anak perempuan di lingkungannya. Mulailah saya mengumpulkan dan membaca segala ihwal tentang Malala dan komentar orang-orang mengenai dia. Tetapi karena kebiasaan menunda-nunda, saya lama-lama menjadi kesal karena terlalu asik mengunduh berita dari segala penjuru dan enggan untuk mulai menulis.

Perasaan kesal itu membuat saya kurang bergairah untuk meneruskan rencana menulis tentang Malala. Seperti ada yang memaksa-maksa padahal rencana itu adalah cita-cita saya sendiri. Sampai akhirnya saya tidak tertarik lagi terus menerus melihat potret Malala dan mulai mencari-cari topik lain. Saya memilih membiarkan Malala bertingkah semaunya diusung kesana kemari dan diliput oleh wartawan barat. Biar orang lain saja yang menilai. Saya tidak peduli. Lagipula ia bukan anak Indonesia!

Tidak jarang saya terbelah menjadi dua: saya yang sadar dan berfikir rasional mempunyai rencana dan cita-cita dan saya yang senang menunda, mengelak dan enggan bertindak untuk mencapai cita-cita itu. Sayangnya pergulatan antara keduanya sering dimenangkan oleh bawah sadar saya yang membangkang terhadap kehendak akal sehat.


Memang bawah sadar kita lain kelakuannya. Ia bukan berpedoman kepada rasio. Ia konon bekerja dengan menggunakan prinsip keakraban. Penelitian oleh Robert Zajonc ahli psikologi sosial terkenal telah membuktikan bahwa keakraban sederhana cukup membuat seseorang menyenangi sesuatu. Lebih akrab lebih suka. Dan keakraban semata dapat menyalip pemikiran sadar dan mempengaruhi pengambilan keputusan. Orang cenderung mengembangkan pemilihan berdasarkan keakraban. Kita umumnya lebih akrab yang aman, yang nyaman dan menyenangkan dan tidak dari yang sebaliknya. Begitulah saya selalu memutuskan memilih  mengerjakan yang lebih menyenangkan meskipun niat semula ingin berkarya. Bila tidak ada teguran atau akibat buruk yang terasa saya terus menggunakan autopilot keakraban untuk mengendalikan aktivitas sehari-hari. Kalau hanya kadang-kadang, menunda tidak apa-apa. Setiap orang juga sekali-sekali menunda pekerjaan mereka. Tetapi bila menjadi kecanduan, beginilah akibatnya hanya ingin menulis dua halaman saja tidak tuntas. Akibatnya urunglah niat saya mengumpat Malala…

05/08/15

MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI


MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI
Oleh: Jum’an

Alim dalam bahasa Indonesia berarti banyak mempunyai ilmu terutama dalam hal agama Islam. Juga berarti saleh yaitu taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah atau suci dan beriman. Apakah saya termasuk orang alim? Pengetahuan agama Islam saya, syahadat serta rutinitas ibadah saya menunjukkan bahwa saya berada di atas jalur untuk menjadi orang alim. Karena pandangan tentang diri-sendiri adalah subjektif dan tingkat kealiman sebenarnya tidak dapat diukur, saya perkirakan bahwa tingkat kealiman saya mungkin rendah sekali. Tetapi karena kebaikan yang hanya yang sebesar zarahpun tetap berharga, saya berani mengaku mempunyai tingkat keimanan serta kealiman tertentu betapapun rendahnya dihadapan Allah dan dalam pandangan orang lain. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman saya sering atau kadang-kadang merasa begitu dekat dengan Allah; perasaan yang pasti juga sering anda alami. Sedekat yang sering digambarkan orang sebagai “seolah-olah berdialog langsung” denganNya. Biasanya saya lalu meneteskan air mata atau tersedu-sedu atau hati menjadi lega atau bangkit bersemangat ataupun tidak risau lagi tentang kesulitan duniawi. Seperti yang dikatakan dalam Qur’an: Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram? Pengalaman dan perasaan seperti itu saya anggap mempunyai nilai spiritual yang dalam dan saya menikmatinya.

Setelah lama merenungkan kilas balik pengalaman batin itu saya menengarai adanya pengaruh yang menyimpang terhadap perilaku hidup saya. Kedekatan itu lama-lama menimbulkan keyakinan bahwa Allah memang memperhatikan saya secara pribadi, memahami semua kelemahan-kelemahan saya dan dengan sifatNya yang Maha Pemurah lalu mengasihani, memberikan maaf dan kelonggaran untuk saya. Saya merasa sebagai seorang hamba yang disayangiNya. Dan ini membuat saya tidak risi atau canggung mengendorkan disiplin beribadah. Saya sering terlambat salat tanpa perasaan menyesal karena yakin bahwa Dia mengerti saya: hambaKu yang lemah ini terlalu lelah mengais rejeki yang halal. Biarlah terlambat salat sedikit tak apa. Begitu bayangan sikap Allah dalam kepala saya.

Apakah ini sebuah anugerah atau perangkap? Kelemahan mental yang menyamar sebagai ketaatan beragama? Apakah perasaan akrab saya kepadaNya itu palsu? Sesuatu yang bukan saja subyektif tetapi justru merupakan godaan dan perangkap setan? Bagaimana pengalaman batin yang saya rasakan begitu meresap dalam hati yang saya anggap sebagai prestasi dalam menghayati nilai-nilai agama ternyata telah mengaburkan orientasi saya. Saya menjadi terlalu mudah memmaafkan diri sendiri dan menjadikan kata hati sebagai panutan. Yakin Allah berpihak kepada saya. Saya lalu menduga bahwa orang yang lebih dan benar-benar alim juga menghadapi perangkap seperti ini. Keyakinan memiliki hubungan khusus dengan Allah dan memperoleh  dispensasi dan kelonggaran untuk memotong kompas menempuh jalan samping sendiri.  Apa jadinya kalau ia memegang jabatan pemerintahan atau bendahara yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan umat. Dengan dalih demi kesejahteraan umat, menghimpun dana melalui jalan samping tentulah diperkenankan Tuhan. Ini merupakan konskwensi logis dari keyakinan seorang alim apabila dugaan saya diatas adalah benar.


Berbeda dengan orang alim, penganut aliran yang kelewat fanatik dapat terperangkap lebih dalam: bukan saja merasa mepunyai hubungan khusus dan memperoleh dispensasidari Allah swt. Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dari pada orang lain. Bahwa Allah adalah monopoli mereka dan memihak kepada mereka. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari dapat melambungkan ego manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Orang alim seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi kealiman (seperti juga semua sifat baik lainnya) juga membawa godaan yang dapat menjadikan orang terperangakap ke jalan yang sesat. Tetapi anda boleh juga memungkas pendapat saya dengan mengatakan: Kalau ada orang alim korupsi, artinya dia bukan orang alim. Titik