14/04/15

MENDENGAR ENAK - MENYANYI SUMBANG


MENDENGAR ENAK – MENYANYI SUMBANG
Oleh: Jum’an

Bagi yang mendambakan hidup tenteram dan harmonis, menutupi aib dan noda adalah wajar dan perlu. Baik merahasiakan penyakit, sejarah hitam masa lalu ataupun perselingkuhan. Saya juga menyembunyikan banyak hal, kalau tidak, bagaimana di usia setua ini masih bisa terseok-seok mengais rejeki. Selain jenis aib yang klasik dan konvensional seperti diatas saya juga menutup rapat-rapat rahasia cacat yang cukup fatal yang jangan-jangan diantara anda merahasiakannya juga. Kini setelah ancaman dan bahayanya tidak ada lagi karena sudah kedaluwarsa saya rela untuk berbagi dengan siapa saja yang sudi membacanya. Siapa tahu ada manfaatnya. Dengan ikhlas dan legowo saya mengakui bahwa seumur hidup saya benar-benar tidak pernah bisa menyanyikan lagu apapun. Tidak pernah bisa mengaji dengan lagu atau menyerukan azan dengan lagu. Yang menyedihkan dan memalukan adalah tidak pernah bisa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya ataupun lagu mars Maju Tak Gentar yang semua orang bisa menyanyikannya dengan mudah. Saya hanya tertolong karena kedua lagu itu selalu dinyanyikan dalam upacara bersama sehingga ketika suara saya terdengar sumbang ditelinga sendiri, buru-buru saya hentikan dan ikut menggerakkan bibir saja. Kakak saya yang ketika belajar di Sekolah Rakyat selalu duduk satu kelas dengan saya, juga mempunyai cacat yang sama. Guru kami sangat tahu itu; masih teringat hingga kini ketika dia mempermalukan kami berdua didepan semua murid. Dua kakak beradik ini tidak bisa menyanyi. Selama bertahun-tahun saya merasa teraniaya dan terhina ketika tiba mata pelajaran seni suara.

Apakah ini sejenis cacat keturunan? Konon orang yang gagap tak terkendali bisa menyanyi dengan baik. Orang yg tak bisa bicara karena stroke kadang-kadang bernyanyi. Penderita penyakit Alzheimer yang hampir tak bisa mengingat namanya sendiri kadang-kadang mampu menyanyi. Mungkinkah karena kendala mental, kurang percaya diri dan merasa malu sehingga suara yang keluar lemah dan gemetar? Saya benar-benar merasa putus asa, terutama setelah suara penyanyi tenar yang merdu, suara qari’ dan muadzin yang enak didengar tersedia setiap saat melalui media elektronik, kaset dan CD. Mengapa harus tersiksa mendengarkan suara sendiri yang sumbang kalau penyanyi tenar bersedia menyanyikannya kapan saja?

Dalam pergaulan sehari-hari ketika sama-sama diam sambil mendengarkan lagu-lagu, selera saya cukup bersaing dan sama terhormatnya dengan rekan-rekan yang lain. Dalam keadaan diam, batin saya bisa menyanyikan lagu-laguGesang, bahkan LucianoPavarotti dengan suara yang persis sama. Serasa suara saya kembar dengan suara mereka sama bagusnya. Tetapi begitu saya mencoba membuka mulut yang keluar tidak lebih dari suara keledai, sember dan sumbang. Jauh dari Bengawan Solo atau Ave Maria. Saya sudah sering mecoba menyanyi sendiri ditempat yang sepi, tetap saja suara saya membelot keluar jalur. Jadi bukan masalah mental atau kurang percaya diri. Padahal saya mempunyai pita suara yang utuh yang dapat mengeluarkan nada yang saya kehendaki dan menaik-turunkannya dengan baik. Menurut situs“EasyEarTraining”  nyanyian kita akan selaras bila kita dapat mengendalikan tinggi rendah nada (mengatur pita suara) dan menyesuaikan (melalui pendengaran) nada yang sedang kita nyanyikan dengan nada yang seharusnya kita nyanyikan.

Menurut penelitian, pada prinsipnya baik musisisi maupun non musisi, semua mampu mencocokkan nada dengan baik. Hanya saja ketika mereka diminta menggunakan suara sendiri untuk mencocokkan nada, hanya sedikit non-musisi yang berhasil. Masalahnya, begitu telinga kita tahu bahwa nada yang keluar dari mulut berbeda dari yang seharusnya dinyanyikan, pita suara kita tidak segera melakukan koreksi untuk menyesuaikan. Otak kita memiliki kemampuan untuk memberitahu suara yang harus dihasilkan dengan nada yang benar tetapi memberikan petunjuk yang salah pada pita suara untuk mencocokkan nada yg dimaksud. Otak orang yang tidak bisa menyanyi bersikeras, terus menerus memaksa memproduksi kesalahan, meskipun telinganya segera tahu. Mereka tahu suara mereka sumbang, tetapi mereka tidak dapat menemukan jalan menuju nada yang tepat.

Begitulah kira-kira kesimpulan penelitian itu tentang cacat yang selama ini saya rahasiakan. Saya tidak bisa menyanyi karena salah di otak! Bukan di pita suara maupun ditelinga saya; kedua-duanya tidak bermasalah. Ketika saya mendengar Gesang menyanyikan “Bengawan Solo” dan berniat untuk menirukannya, otak saya salah memerintahkan pita suara untuk menghasilkan nada yang sama. Seolah-olah seseorang mengacaukan tombol pada keyboard computer kita sehinga ketika ditekan huruf A yang yang tampil dilayar justru huruf F. Telinga kita segera tahu begitu terdengar suara kita sumbang, itulah sebabnya kita malu mendengar suara sendiri.


Menurut Sean Hutchins peneliti dari lembaga riset kognisi bakat musik di Montreal, menyembuhkan otak orang yang tidak bisa bernyanyi adalah mungkin, tetapi untuk orang dewasa merupakan tugas yang sangat sulit, membutuhkan latihan setiap hari selama bertahun-tahun. Jadi bagi saya mustahil dapat dicapai dan lebih baik saya terima apa adanya. Toh saya masih bebas bisa menikmati musik seperti orang lain. Dan siapa tahu, cacat saya dibidang musik merangsang kearifan yang lebih dibidang lain. 

28/03/15

MAU COBA STEAK HYENA - BISMILLAH


MAU COBA STEAK HYENA – BISMILLAH
Oleh: Jum’an

Bagi penggemar dunia fauna terutama yang suka menonton NatGeo Wild atau Animal Planet pasti tahu apa itu “Hyena” hewan asal Afrika, Timur Tengah dan Asia Tengah yang perawakannya mirip anjing dengan suara meringkik yang khas. Dalam bahasa Arab disebut Ad-dhobu’ (الضبع). Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebut dubuk yaitu binatang buas yg suka makan bangkai, bulunya ada yang loreng dan ada yang tutul. Mereka yang berasal dari lingkungan pesantren mungkin lebih akrab dengan nama ini karena dubuk disebut-sebut dalam hadis dan sering menjadi pembicaraan. Hyena suka mencuri atau menghabiskan sisa makanan singa atau binatang buas lainnya. Konon mereka juga suka membongkar kuburan manusia dan memangsa isinya. Menurut  International Business Times (UK) populasi global hyena loreng pada 2008 kurang dari 10 ribu ekor dan diklasifikasikan sebagai hampir terancam punah. Ancaman utama datang dari manusia. Mereka diburu untuk digunakan sebagai obat-obat tradisional, terutama bagian otaknya dan kulitnya diperdagangkan secara ilegal. Pemburu hyena di Maroko sanggup berjalan ratusan kilometer untuk menangkap spesies ini, karena harga jualnya yang tinggi. Hyena banyak juga dibunuh orang dengan racun karena dianggap mengancam kehidupan ternak dan manusia. Sekarang ancaman kepunahan hyena loreng makin bertambah dengan meningkatnya selera orang-orang Saudi terhadap daging binatang buas itu untuk dimakan.

Belum lama ini Saudi Gazette sebuah harian di Jeddah memuat judul “Orang-orang Saudi melahap daging Hyena sementara hewan itu sedang terancam punah”. Berburu dan memakan daging hyena mungkin terdengar aneh bagi banyak orang, tapi tidak bagi orang Saudi; banyak dari mereka menganggapnya sebagai santapan yang lezat dan nikmat. Sementara mereka maruk menyantap daging binatang buas itu, jarang yang menyadari bahwa hewan itu berada di ambang kepunahan. Menurut harian Al-Watan hyena berada dlm daftar hewan yg terancam punah.  Direktur Wildlife Research Centre di Taif, Ahmad Al-Bouq mengatakan ancaman terhadap spesies ini sangat serius. Hyena terancam punah di Saudi Arabia," kata Bouq.

Sementara kebanyakan mazhab menganggap hyena haram, mazhab Syafi'i justru menghalalkannya. Dan, karena keempat mazhab diberikan hak yang sama di Saudi Arabia, maka bagi pengikut mazhab Syafi’i tidak dilarang untuk memakannya. Tapi sebagian besar daftar makanan, memasukkannya ke dalam kategori terlarang. Prof. Dr. Saud Thubaiti, dosen Fakultas Syariah Univ. Umm Al-Qura Makkah mengatakan bahwa Nabi (saw) telah melarang makan daging binatang pemangsa yang mempunyai taring dan burung yang mempunyai cakar tetapi beliau mengizinkan memakan daging hyena. Posting pembahasan tentang hukum memakan daging hyena menurut Islam dapat dibaca diantaranya disini dan disini dan juga disini. Dan banyak sumber lainnya.
Kelompok ekstrim Al-Syabaab di Somalia yang termasuk aliansi Al-Qaeda, pada Agustus  2012 juga menyatakan daging hyena adalah halal dan sejak itu restoran-restoran mulai menjualnya dan harganya telah meningkat begitu tinggi sehingga sekarang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang kaya. Daging hyena juga dimakan di Pakistan dan Iran, di mana ia juga dianggap halal. Kata seorang penggemar daging hyena di Arab Saudi, ia menyukai rasa daging hyena karena memiliki rasa yang unik dan memiliki efek yang lebih kuat dari obat kuat (perangsang seks) yang terkenal. Menurut Saudi Gazette hyena sedang banyak dikonsumsi oleh orang Saudi dan dianggap "hidangan unik yang lezat dan nikmat". Pemburu hyena biasanyan segera membersihkan jeroan binatang itu setelah membunuh atau menyembelihnya untuk mencegah racun keluar dari jeroan ke dalam daging. Dr. Saud Thubaiti mengatakan banyak orang jijik dengan daging hyena karena bentuk hewan itu, dan fakta bahwa hyena adalah predator, pemangsa hewan lain.  Ada pula yang mengungkapkan kekecewaan dan keheranannya pada orang-orang yang makan daging hyena, karena hyena adalah pememakan bangkai. Dr. Mundzir Abdullah, seorang internis, mengatakan tidak ada studi ilmiah yang membuktikan bahwa daging hyena bermanfaat bagi kesehatan manusia, ataupun sebaliknya. Dia juga mengatakan bahwa makan daging hyena tidak menyembuhkan penyakit sebagaimana dipercaya oleh sebagian orang. Tetapi ia menyarankan bahwa lebih baik untuk menghindari memakannya karena hyena adalah hewan pemakan bangkai.


Kemungkinan kita menjumpai menu “Grilled Loin of Hyena” atau “Hyena Burger” dan sejenisnya adalah jarang. Di Indonesia tidak ada hyena, jadi tak usah peduli. Tetapi banyak orang kita yang pergi ataupun tinggal di Saudi Arabia, sehingga kemungkinan menjumpai menu daging hyena tetap ada. Bila anda seorang yang peduli madzhab dan mengikuti madzhab Syafi’i, silahkan bismillah! Bila anda pengikut Hambali, Hanafi atau Maliki, pesan saja steak yang lain. Apapun madzhab anda, bila anda peduli lingkungan dan konservasi alam, ingat bahwa tidak etis memakan daging hewan yang sedang terancam punah. Bila anda mencari menu perangsang seks yang melebihi Viagra anda tetap harus merasa tega mengunyah daging hewan pemakan bangkai termasuk mayat manusia…….

19/03/15

TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT


TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT
Oleh: Jum’an

Ketika ada rejeki tak terduga diakhir tahun, saya alokasikan seluruhnya untuk memperbaiki mobil yang sudah peot-peot dan penuh goresan, belum pernah di kenteng atau dicat ulang. Tentu saya sisakan sebagian untuk transportasi kekantor selama mobil menginap dibengkel. Sudah lama saya merindukan penampilan body yang mulus dan mengkilap; tentu akan ada pengaruhnya terhadap suasana hati dan moga-moga juga peruntungan. Saya memilih bengkel “Body Repair dan Cat Oven” bukan sekedar las-ketok-duco manual pinggir jalan. Setelah lebih dari dua minggu ditunggu tunggu, iapun pulang dengan membawa pesona dan wibawa: bentuknya gagah, warnanya terang, tanpa peot tanpa baret, gres seperti baru. Sakti benar uang itu. Diubahnya wajah buruk yang dekil menjadi cantik dan gaul. Tanpa banyak bertanya, langsung memberi bukti dan daya guna! Sayapun merasakan dampaknya. Timbul gairah dan keceriaan baru dalam keseharian saya. Alangkah senangnya bila suasana baru yang menyenangkan ini dapat bertahan lama. Sayapun bertekad untuk menjaganya se-awet mungkin. Mengemudi dengan ekstra hati-hati untuk menghindari serempetan dan benturan. Terutama ketika melalui jalan sempit, parkir mudur di kandangnya yang pas-pasan atau  dimana saja. Saya siap menegakkan disiplin dalam memelihara mobil saya.

Siapapun yang ingin mencapai keinginan yang ideal haruslah memasang standar yang tinggi, aturan yang ketat dan disiplin yang kuat. Berlaku untuk siapa saja; para produsen, penyedia jasa, penulis, maupun ibu rumah tangga. Berdisiplin dalam berkendara bukanlah solusi yang tuntas karena yang separohnya lagi tergantung pada disiplin kendaraan lain. Sehingga disamping mengendalikan diri kita harus sekaligus terus menerus awas dan waspada terhadap suasana sekitar yang anda tahu, tidak peduli dengan keselamatan kendaraan kita. Karena mereka, terutama para pengendara motor yang jumlahnya ribuan, nampaknya siap untuk menyerempet setiap saat. Belum lagi pengemis anak-anak di lampu merah yang suka menempelkan muka dengan ingusnya dijendela. Nampaknya kesaktian uang tidak hanya membawa berkah tetapi juga ketegangan dan permusuhan. Saya belum pernah merasa sebenci ini terhadap pengendara motor maupun pengemis. Yang membuat kita frustrasi karena kita tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengendalikan mereka. Rasanya hanya malaikat yang sanggup melakukan tugas ganda seperti itu karena mereka hanya menjalankan perintah dan tidak memikirkan diri sendiri. Membenci pengemis yang seharusnya dikasihani, para pengedara motor yang juga sesama pencari nafkah adalah perbuatan yang salah. Apa lagi hanya demi penampilan sebuah mobil yang kalau dijual hanya cukup untuk membayar uang muka mobil yang baru. Sebenarnya selama ini ia saya pelihara hanya karena tidak mampu membeli yang lebih baru. Jadi apa boleh buat, dingin saya selimuti, sakit saya obati, rusak saya perbaiki. Berburu onderdil bekas pun saya jalani. Sungguh tidak seimbang. Sementara wajah baru hasil perbaikan sudah mulai pudar dan keceriaan saya sudah tak terasa lagi, saya masih memasang standar malaikat, tegang mengawasi musuh-musuh yang saya ciptakan sendiri. Sebenarnya tidak masuk akal kalau mereka berniat menyerempet mobil saya hanya karena iri melihat kemulusannya. Kenapa saya harus tegang dan melotot.

Suatu kali tanpa ketahuan asal-usulnya saya melihat sebuah goresan tajam cukup panjang di lambung kiri belakang, seperti bekas paku. Saya merasa sakit hati, serasa ditusuk dari belakang oleh siluman yang tidak mungkin saya lacak siapa dia. Yang jelas bukan seorang yang selama ini saya awasi yaitu pengendara motor ataupun pengemis. Entah siapa. Bagaimanapun perjuangan saya yang menegangkan telah berakhir dan gagal. Sejak itu dari hari kehari ketegangan saya menurun demikian pula kebencian saya terhadap pengendara motor dan pengemis. Saya tetap berhati-hati dalam mengemudi maupun memarkir, hanya saja tanpa beban ketegangan takut lecet atau penyok tersodok. Dan saya tidak keberatan seandainya ada tambahan satu atau dua goresan lagi. Mencapai keunggulan dalam suatu pekerjaan memang merupakan idaman setiap kita tetapi mencapai kesempurnaan adalah hak dan wilayah Allah saja. There is always room for improvement – selalu ada ruangan untuk perbaikan, tetapi akan tiba saatnya dimana usaha perbaikan tidak lagi memberikan hasil yang sesuai dengan waktu yang dibutuhkn. Jika pemuasan dilakukakn terus menerus maka kenikmatan akan terus-menerus menurun sampai sampai akhirnya jenuh. Sebaiknya kita tahu lebih dulu akan keterbatasan-keterbatasan kita, bila tidak kita akan berakhir tanpa menghasilkan apapun. Lepaskan saja standar malaikat, bertindaklah realistis. Kita terbatas, jauh dari sempurna. Apalagi bila kita bekerja bersama, bila hasil kerja kita baik belum tentu yang lain sebaik kita. Dengan mengakui keterbatasan yang kita miliki, kita tidak perlu malu mengatakan “maaf saya tidk bisa”. Melepaskan obsesi adalah lega seperti melepaskan beban berat dipundak. Kita tidak lagi ketakutan berbuat kesalahan.


Konon para penenun karpet Persia yang indah-indah itu, menggunakan cara yang unik untuk menunjukkan ketidaksempurnaan mereka: mereka sengaja membuat kesalahan kecil dalam pekerjaan mereka. Dengan begitu, mereka tahu karpet tidak sempurna dan terbebas dari perasaan menyaingi Tuhan karena hanya Dialah yang sempurna. Karena itu mari kita rayakan lecet pertama pada mobil kita, uban-uban pertama dikepala kita serta kerut-kerut di leher kita. 

01/03/15

PENGHINAAN DAN PEMBALASAN


PENGHINAAN DAN PEMBALASAN
Oleh: Jum’an

Selama hidup kita tumbuh menjadi lebih matang dan dewasa melalui saling hubungan antara sesama manusia. Menurut teori, hubungan merupakan kebutuhan sentral bagi manusia. Penelitian masa-kini tentang otak menunjukkan bahwa manusia tercipta untuk saling berhubungan. Orang memerlukan hubungan sebagaimana mereka membutuhkan udara, makanan, dan air, lebih dari keperluan mereka akan kebebasan dan kemerdekaan. Dari logika primanya hubungan, penghinaan dapat di artikan sebagai pelanggaran berat, serangan terhadap kebutuhan asasi seseorang untuk berhubungan. Penghinaan membahayakan kelangsungan hidup seseorang karena mengancam hubungan yang vital bagi seseorang. Penghinaan merupakan kekuatan yang paling telak dampaknya sebagai penyebab perpecahan antara manusia dan merusak hubungan. Penghinaan menyakitkan hati dan membangkitkan emosi untuk membalas dendam.

Saya sakit hati karena kau hina, maka kupukul engkau. Setimpal! Eh, engkau malah membacok. Kubunuh kau sekalian! Cubitlah daku engkau kucakar. Gigitlah daku engkau ku telan. Saling membalas sampai tidak ketahuan lagi siapa yang memulai. Cycle of Revenge  akan menggelinding terus tanpa henti dan tak terelakkan akan membawa kerusakan. Karenanya seperti kata peribahasa, sebelum berangkat membalas dendam galilah dua liang lahat: satu untuk musuhmu dan satu lagi untuk dirimu. Penelitian membuktikan bahwa membalas dendam untuk melampiaskan emosi meskipun lebih tunai ketimbang pengadilan yang berlarut-larut, ternyata tidak menuntaskan solusi. Seperti air asin yang tidak memuaskan dahaga. Pikiran seorang pembalas dendam akan melekat terus pada sasarannya, sehingga luka hatinya tetap menganga dan akan semakin makin parah bila balas dendamnya tidak atau belum terlaksana. Pembalas dendam umumnya menyebut tindakannya sebagai membela diri, melindungi hak atau menegakkan keadilan. Selalu! Hanya Tuhanlah yang maha tahu. Serangan 11 Sept. 2001 dibenarkan oleh Bin Ladin segagai pembalasan yang setimpal atas penggunaan tanah airnya (Saudi Arabia – dimana dua tempat suci Islam berada) sebagai pangkalan untuk menyerbu Iraq pada Perang Teluk. Tetapi serangan 11 September justru dijadikan sebagai justifikasi oleh Amerika untuk menyerbu Afganistan dan kemudian Iraq. Balas-membalas pun silih berganti sampai sekarang. Pembalasan dendam adalah pangkal kehancuran.

Dalam wawancara dengan Qantara, Karen Armstrong mantan biarawati dan sarjana perbandingan agama Inggris, (biografi oleh Dziki Fuad disini) mengungkapkan bahwa ada tradisi panjang dan memalukan penghinaan terhadap Islam di Eropa. Armstrong menolak gagasan bahwa Islam pada dasarnya lebih keras daripada Kristen. Dunia Barat bersikukuh bahwa kekerasan yang dilakukan umat Islam berpangkal dari ayat-ayat Qur’an tertentu. Karen mengatakan bahwa kekerasan umat Islam adalah justru sebagian merupakan produk dari penghinaan Barat. Sepanjang sejarah ayat-ayat Al-Quran tidak menginspirasi kegiatan terorisme. Setiap imperium (India, Cina, Persia, Romawi, kerajaan Inggris dan juga kerajaan Islam) tergantung pada kekuatan. Selain itu, sampai periode modern, Islam memiliki catatan toleransi yang jauh lebih baik dari Kristen Barat. Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka membantai penduduk Muslim dan Yahudi yang mengejutkan Timur Tengah, yang belum pernah melihat kekerasan tak terkendali itu, kata Armstrong. Lebih banyak kekerasan baik dalam Injil Ibrani dan Perjanjian Baru daripada ada dalam Qur’an. Para theolog yang mengklaim bahwa tidak ada ayat dalam Injil yang seperti dalam surat al-Baqoroh ayat 191-93 mungkin lupa akan Kitab Wahyu (Book of Revelation), yang merupakan teks paling disukai kaum fundamentalis Kristen yang menantikan pertempuran Akhir Zaman yang akan menghancurkan musuh-musuh Allah. Bahkan Yesus, yang mengatakan kepada murid-muridnya untuk mencintai musuh-musuh mereka dan memberikan pipi kiri jika ditampar pipi kanannya, memperingatkan para pengikutnya: "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah  perdamaian Aku bawa datang tapi pedang. "(Matius 10: 34). Semua kitab suci memiliki ayat-ayat keras yang dapat dikutip diluar konteks, diberi arti yang tidak semestinya, sengaja untuk menghapuskan ajaran damai yang menginspirasi semua agama dengan sangat baik. Kepercayaan Barat bahwa Islam adalah agama yang membawa kekerasan didalamnya, berasal dari zaman Perang Salib. Ketika mereka menyerang kaum Muslimin, para biarawan diam-diam merasa cemas dan bersalah atas kebrutalan pejuang mereka karena Yesus mengatakan kepada para pengikutnya untuk mencintai musuh-musuh mereka bukan untuk memusnahkan mereka.  Para biarawan itu memproyeksikan kecemasan perilaku mereka sendiri kepada korban-korbannya dan menyebarkan bahwa Islam adalah agama pedang.

Sehubungan dengan serangan terhadap Charlie Hebdo, Karen mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw sebagai lambang suci ummat Islam telah dikarikaturkan di Barat sebagai tokoh kekerasan, ayan dan penipu licik. Gambaran yang menyimpang dari Islam telah dikembangkan sejak abad pertengahan ketika umat Kristen Eropah memerangi umat Islam di Palestina untuk merebut Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslimin. Jadi serangan terhadap para karikaturis di Paris itu adalah bagian dari produk penghinaan Barat terhadap Islam.


Buku Karen Armstrong terbaru berjudul "Fields of Blood: Religion and the History of Violence" (2014) menceritakan tentang kekerasan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam. Pada 1999 Armstrong menerima Muslim Public Affairs Council’s Media Award, memberi ceramah pada Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) serta memperoleh penghargaan dari Pusat Islam California atas usahanya mempromosikan saling pengertian antara agama.

11/02/15

MASA IYA LELUHUR SAYA KERA


MASA IYA LELUHUR SAYA KERA
Oleh: Jum’an

Beginilah saya. Tanpa pernah membaca sendiri teori Darwin, merasa begitu yakin bahwa isinya hanyalah tentang nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini. Sangat risih rasanya ketika harus mempercayai atau tidak mempercayai teori evolusi itu. Bagaimana mungkin dengan pengetahuan yang hanya sekuku hitam harus memutuskan sesuatu yang menyangkut keimanan. Dalam tulisan Jangan Tidak Percaya Evolusi  saya mengutip beberapa kontroversi yang terjadi dikalangan umat Islam dan agama lain dalam menyikapi teori evolusi Darwin itu. Dari satu sisi, sebagai penganut agama yang sangat menganjurkan menggunakan akal dan menuntut ilmu saya percaya pada kebenaran proses evolusi seperti yang dikatakan oleh Dr. Ehab Abouheif dalam tulisan diatas: “Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan.” Akan tetapi ketika sebagai konsekwensinya harus juga percaya bahwa manusia berasal dari kera saya sungguh-sungguh keberatan. Sepengetahuan saya Al-Qur’an tidak menyiratkan sedikitpun tentang itu. Pilihan saya sampai saat ini, leluhur manusia adalah Adam dan Hawa. Dengan demikian sikap saya terus menerus mendua dan tidak utuh. Dan ternyata bukan hanya evolusi kera menjadi manusia, bukan hanya saya dan umat Islam saja, tetapi semua umat beragama mengalaminya ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu pengetahuan. Teori Big-Bang tentang terbentuknya alam raya tidak kalah rancunya untuk dipercayai atau tidak dipercayai.

Dalam suatu Penelitian Agama dan Sains yang baru, terungkap adanya kelompok orang-orang Amerika yang mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pandangan agama dan ilmu pengetahuan, yang sebelumnya luput dari perhatian. Mereka, yang merupakan 21% dari orang Amerika, sangat mengerti tentang ilmu pengetahuan, menghargai sains dan teknologi, tetapi juga sangat religius dan menolak teori-teori ilmiah tertentu. Karena menurut teori yang populer saat ini Amerika sedang bergerak menjauhi agama kearah yang lebih sekuler, para peneliti itu menjuluki kelompok baru ini sebagai kaum pasca-sekuler. Dengan kata lain, mereka sekaligus ilmiah dan juga religius tetapi ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu, cara mereka mengambil sikap berbeda dari kaum modern yang berdiri diatas landasan akal dan kaum tradisional yang bersandar pada agama. Ketika terjadi benturan antara ilmu dan agama seperti tentang evolusi manusia, teori terbentuknya alam semesta, serta tentang umur bumi, mereka  memilih mengambil pandangan ilmu pengetahuan atau pandangan agama, tergantung mana yang menarik menurut pribadi mereka dalam memahami dunia. Kaum pasca-sekuler tahu pikiran para ilmuwan. Mereka hanya tidak setuju pada beberapa isu utama dan yang berdampak pada pandangan politik mereka. Sebagai contoh, kaum modern yang selalu berlandasan pada akal paling mendukung penelitian kedokteran menggunakan stem sel dari janin manusia dan hak aborsi bagi kaum wanita. Tetapi kaum pasca-sekuler yang juga pro dan sains minded, justru memilih berpihak kepada pandangan agama yang cenderung menolak kedua hal tersebut. Mereka juga menolak teori evolusi.

Saya percaya pada proses evolusi tapi tidak mau memihak pada orang yang mengatakan nenek-moyang saya kera. Saya tidak mau masuk partai mereka dan tidak rela menjadikan mereka sebagai pemimpin. Hati nurani saya melawan. Dan dalam  dunia yang hanya sementara dan fana ini, saya bergantung pada keluarga, kerabat dan jamaah yang agamis, meskipun mereka tidak percaya dengan teori evolusi. Apakah kepercayaan saya terhadap evolusi parallel dengan kaum pasca-sekuler?  Atau sikap saya plin-plan? Jangan-jangan anda begitu juga. Bagaimanapun saya merasa perlu membela diri. Hati nurani dan akal pikiran adalah perangkat hidup bawaan, asli minalloh. Menuruti kata hati dan menggunakan akal pada gilirannya sama pentingnya. Jadi menolak percaya bahwa leluhur kita kera karena mengikuti suara hati, adalah hak yang sah. Bukan plin-plan dan bukan mendua.


Lagi pula teori ilmu pengetahuan bisa berubah dengan ditemukannya fakta-fakta baru oleh para ilmuwan.  Menurut ahli biologi abad ke-19 Louis Dollo, evolusi hanya berjalan satu arah, tidak dapat melangkah balik; sekali sebuah struktur hilang, jalur itu tertutup untuk selamanya. Tetapi sebuah penelitian baru oleh Univ. Chile  menunjukkan bahwa evolusi dapat berbalik arah atau reversibel. Penelitian itu memukan bahwa bahwa ruas tulang yang telah hilang dari dinosaurus selama puluhan juta tahun, muncul kembali ketika dinosaurus berevolusi menjadi burung dan terbang. Pergelangan kaki depan dinosaurus berkaki empat terdiri dari 11 ruas yang diperlukan untuk menahan berat badan. Ketika berevolusi menjadi dinosaurus berkaki dua sekitar 230 juta tahun yang lalu, pergelangan itu menyusut tinggal 3 ruas. Diantara yang hilang adalah ruas berbentuk biji kacang yg disebut pisiform. Ketika dinosaurus berkaki dua berevolusi menjadi burung, sendi pergelangan di sayap, antara segmen tengah dan akhir, muncul lagi –yg meningkatkan fleksibilitas sehingga sayap bisa melipat kembali kearah tubuh. Burung juga menumbuhkan sebuah tulang di tempat yang sama berbentuk seperti kacang, untuk menyalurkan kekuatan bagi sayap. Konon sejenis katak pohon dari Amerika Selatan kehilangan gigi bawahnya dan tumbuh kembali setelah 200 juta tahun. Dalam embrio manusia, ada potensi yang sama. Mungkin tulang ekor kita, ruas terbawah dari tulang belakang akan tumbuh menjadi ekor yang panjang dimasa depan ketika manusia mungkin perlu bergelantungan lagi diatas pohon. Bagaimanapun…….. jangan percaya bahwa leluhur kita kera.

28/01/15

PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI


PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI
Oleh: Jum’an

Untuk mengimbangi pekerjaan kantor yang membosankan karyawan selalu punya cara. Bercanda untuk membangkitkan suasana ceria. Tentang apa saja dan siapa saja seperti sindiran  untuk karyawati gemuk, bos yang botak, lemburan fiktif, tentang mertua, perselingkuhan dan apa saja. Ditelinga saya yang lebih tua tidak selalu terdengar menyenangkan, kadang-kadang risi dan menyakitkan hati. Contohnya bila sasarannya respsionis  kami yang sedikit oversize, berwajah bulat dan kebetulan berhidung pesek. Selalu ada yang kreatif dan cekatan menemukan julukan yang mengena dan provokatif. Saya rasa ia pasti merasa tersinggung dan marah. Sementara ia telah gagal berjuang untuk melangsingkan badan justru diejek dengan julukan truk tronton dan hidungnya dibilang mancung kedalam. Tetapi karena hati lebih arif dari mata dan telinga, selama tidak terasa ada nada kebencian, resepsionis kita tetap tersenyum-senyum saja. Nampaknya ia justru ikut bergembira karena tanpa upaya apapun telah berhasil ikut menghidupkan suasana. Juga karena kami karyawan yang hanya belasan orang, merupakan komunitas kecil yang senasib, lingkungan terbatas dan materi gurauannya ringan-ringan saja. Ada benang merah antara sindiran halus (satir) dan kebencian. Bagi yang seumur saya, mungkin masih ingat peristiwa ini. Kebanyakan umat Islam di desa-desa yang mengenakan kain sarung ketika pergi ke masjid; tetapi ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960-an menjuluki kita sebagai “kaum sarungan”, kita segera tahu itu bukan sekedar sindiran tapi provokasi yang mengundang  permusuhan. Antara sesama kita, sebutan kaum sarungan atau pecian terdengar damai-damai saja.

Kebebasan berekspresi bukan berarti siapa saja berhak untuk didengar kapan saja, dimana saja tentang apa saja dan siapa saja. Ada saat-saat ketika dapat atau harus dirtarik garis batas demi alasan moral atau hukum, ada saat-saat lain dimana tidak pantas dan salah untuk membuat garis tersebut. Paus Franciscus mengatakan kebebasan berekspresi ada batasnya terutama ketika menghina atau mengejek iman seseorang. Kebebasan berbicara memang bukan saja merupakan hak asasi, tetapi adalah kewajiban setiap manusia untuk menyampaikan pikirannya, demi kebaikan bersama. Bagaimanapun tetap ada batas-batasnya. "Jika teman baik saya Dr. Gasparri ini mengucapkan kutukan terhadap ibu saya, dia akan saya pukul.” Dr. Gasparri adalah  pejabat Vatikan yang memimpin rombongan perjalanan Paus ke Philipina. "Ini normal. Anda tidak boleh memprovokasi. Anda tidak bisa menghina iman orang lain. Anda tidak bisa mengolok-olok iman orang lain. Banyak orang yang berbicara buruk tentang agamanya atau agama lain, yang mengolok-olok mereka, yang mempermainkan agama-agama lain," katanya. "Mereka adalah provokator. Dan apa yang terjadi pada mereka adalah apa yang akan terjadi pada Dr. Gasparri jika ia mengucapkan kutukan terhadap ibu saya. Ada batas."

Sementara itu Roskomnadzor, badan pengawas media dan komunikasi Rusia memperingatkan bahwa publikasi karikatur yang menggambarkan peribadatan umat beragama yang menyinggung perasaan adalah melawan norma-norma etika dan moral yg sudah berlaku selama berabad-abad. Di bawah hukum Rusia disejajarkan dengan menghasut kebencian etnis dan agama. Publikasi ini juga melanggar undang-undang media dan anti-ekstremisme Rusia. Meskipun Pemerintah Rusia membela Perancis dan Menteri LN Sergei Lavrov ikut berpawai di Paris, para komentator pro-Kremlin menuduh kartunis Charlie Hebdo yang memprovokasi serangan. Dewan Mufti Rusia, otoritas Muslim tertinggi disana mengutuk serangan itu tetapi mengatakan bahwa "dosa provokasi tidak kalah berbahaya bagi perdamaian dibanding dosa orang-orang yang terpancing oleh provokasi itu." Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov juga mengatakan bahwa para pelukis karikatur Nabi Muhammad saw itu "orang tanpa nilai-nilai spiritual dan moral."

David Brooks pengamat politik dan budaya Amerika dalam tulisannya ”I am not Charlie Hebdo” menjelaskan kemunafikan banyak orang Amerika yang menyanjung keberanian Charlie Hebdo untuk menyebarkan hal-hal yang ofensif, pada kenyataannya tidak toleran terhadap siapapun yang menyinggung pandangan mereka sendiri. Para penggambar karikatur Nabi Muhammad saw adalah generasi hipokrit yang paling merasa yakin alias fundamentalis dalam kebebasan berbicara tanpa batas untuk mengatakan tentang apa saja, kapan saja dan siapa saja. Mereka bangga dan terlatih membuat sindiran yang menusuk hati dan membakar telinga dengan dalih kebebasan ber ekspresi dan semangat provokasi. Baik Paus Franciscus dari Vatican, Roskomnadzor Pengawas Media Rusia, apalagi kita yang merasa Junjungan kita dijadikan olok-olok, sepakat bahwa para kartunis itu adalah jelas provokator. Saya hanya ingin menambahkan, jangan suka memprovikasi salah-salah bisa mati!


11/01/15

MENYANDERA DOA NABI


MENYANDERA DOA NABI
Oleh: Jum’an


Salah satu doa yang sering saya baca adalah memohon perlindungan Allah dari 8 hal yaitu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, takut miskin dan bakhil,  terhimpit hutang dan ditindas orang. Saya membacanya hampir setiap hari karena doa ini selalu relevan dimana saja dan kapan saja. Biasanya saya membacanya tiga kali secara beruntun. Pertama saya ucapkan dalam bahasa Arab seperti ketika Rasulullah s.a.w. mengajarkan untuk pertama kalinya kepada Abu Umamah, lalu saya perjelas dengan bahasa Indonesia dan terakhir saya resapkan dalam bahasa Jawa yang paling intim bagi saya. Tidak hanya sampai disitu. Kadang kadang doa itu saya ambil alih dan saya rubah bentuknya menjadi sebuah tekad, bukan lagi doa. Saya bertekad untuk tidak lagi-lagi gelisah dan bersedih, saya bertekad tidak akan berputus asa dan bermalas-malas. Saya bertekad untuk menjauhi hutang dan saya tidak sudi ditindas orang. Dengan izin Allah selalu. Lancangkah saya berbuat demikian? Bukan khawatir doa tidak terkabul tetapi ada semangat yang berbeda yang saya rasakan. Berdoa memberikan suasana defensif seperti penumpang kendaraan yang terikat seat belt: terlindung dari benturan tetapi tidak ada alternatif lain. Sedangkan ketika bertekad saya sepenuhnya mengandalkan kepada akal dan kemampuan diri-sendiri.

Perumpamaan hidup seorang muslim mungkin seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi. Satu sisi bergambar orang yang tunduk dan pasrah diciptakan hanya untuk mengabdi. Sedang sisi lainnya gambar kehidupan yang aktif, dinamis dan kreatif. Dalam ungkapan sahabat nabi Ibnu Umar yang sering kita dengar: Beribadah seperti mau mati esok hari dan berkiprah seperti mau hidup untuk selamanya. Tidak ada yang dapat mencegah bila Allah akan memberi. Tidak ada yang mampu memberi bila Alloh mencegahnya, kata Raulullah. Tidak ada seekor hewanpun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…semuanya tertera dalam loh mahfudz. Segala kekuasaan ada dalam genggamaNya. La quwwata illa billah. Demikian mutlak kekuasaannya, sehingga kita hanya bisa pasrah pada kehendakNya: Buckle up, fasten your seat belt. Pasang gesper, eratkan sabuk pengaman.

Disaat yang sama Allah menghendaki manusia untuk menjadi khalifah dibumi. Bahkan ketika malaikat berkeberatan karena manusia suka merusak dan menumpahkan darah, Allah menjawab: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Nasib bangsa tidak akan berubah kalau tidak mereka rubah sendiri; begitu dikatakan dalam Alqur’an. Niatlah yang melahirkan realitas.  “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” Jelas bahwa bahwa tekad (niat, kesadaran) merupakan unsur vital yang akan menjelmakan pengalaman kita. Ilmu Psiko-neuro-imunologi dapat menjelaskan bagaimana tekad menjelma menjadi tindakan. Menurut hadis Nabi, kita disuruh mengambil keputusan sendiri dalam urusan yang kita lebih mengetahui. Suatu kali beliau mengamati sekelompok petani kurma yang sedang melakukan penyerbukan yaitu melekatkan tepung sari keatas kepala putik bunga kurma supaya terjadi pembuahan yang merata dan panen yang berlimpah. Mula-mula beliau mencegah mereka melakukannya. Tetapi ketika mengetahui panen berikutnya benar-benar menurun, beliau menganjurkan untuk kembali melakukannya. Beliau mengatakan diantaranya: “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.”


Gambar pada kedua sisi koin kehidupan itu sangat berbeda tapi sama indahnya sama menariknya. Orang tidak dapat memilih mata uang yang hanya bergambar sebelah karena tidak akan akan mempunyai nilai tukar. Saya memilih berdoa untuk memohon ampun dan rahmat dan bertekad untuk menghindari himpitan hutang dan penindasan. Itupun tidak selalu, mungkin begitulah gambaran kepribadian saya. Seperti berada dipekarangan yang luas saya berjemur dibawah matahari pagi dan berlindung dibawah pohon yang rindang ditengah hari yang. Anda mungkin lain lagi.