19/03/15

TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT


TINGGALKAN STANDAR MALAIKAT
Oleh: Jum’an

Ketika ada rejeki tak terduga diakhir tahun, saya alokasikan seluruhnya untuk memperbaiki mobil yang sudah peot-peot dan penuh goresan, belum pernah di kenteng atau dicat ulang. Tentu saya sisakan sebagian untuk transportasi kekantor selama mobil menginap dibengkel. Sudah lama saya merindukan penampilan body yang mulus dan mengkilap; tentu akan ada pengaruhnya terhadap suasana hati dan moga-moga juga peruntungan. Saya memilih bengkel “Body Repair dan Cat Oven” bukan sekedar las-ketok-duco manual pinggir jalan. Setelah lebih dari dua minggu ditunggu tunggu, iapun pulang dengan membawa pesona dan wibawa: bentuknya gagah, warnanya terang, tanpa peot tanpa baret, gres seperti baru. Sakti benar uang itu. Diubahnya wajah buruk yang dekil menjadi cantik dan gaul. Tanpa banyak bertanya, langsung memberi bukti dan daya guna! Sayapun merasakan dampaknya. Timbul gairah dan keceriaan baru dalam keseharian saya. Alangkah senangnya bila suasana baru yang menyenangkan ini dapat bertahan lama. Sayapun bertekad untuk menjaganya se-awet mungkin. Mengemudi dengan ekstra hati-hati untuk menghindari serempetan dan benturan. Terutama ketika melalui jalan sempit, parkir mudur di kandangnya yang pas-pasan atau  dimana saja. Saya siap menegakkan disiplin dalam memelihara mobil saya.

Siapapun yang ingin mencapai keinginan yang ideal haruslah memasang standar yang tinggi, aturan yang ketat dan disiplin yang kuat. Berlaku untuk siapa saja; para produsen, penyedia jasa, penulis, maupun ibu rumah tangga. Berdisiplin dalam berkendara bukanlah solusi yang tuntas karena yang separohnya lagi tergantung pada disiplin kendaraan lain. Sehingga disamping mengendalikan diri kita harus sekaligus terus menerus awas dan waspada terhadap suasana sekitar yang anda tahu, tidak peduli dengan keselamatan kendaraan kita. Karena mereka, terutama para pengendara motor yang jumlahnya ribuan, nampaknya siap untuk menyerempet setiap saat. Belum lagi pengemis anak-anak di lampu merah yang suka menempelkan muka dengan ingusnya dijendela. Nampaknya kesaktian uang tidak hanya membawa berkah tetapi juga ketegangan dan permusuhan. Saya belum pernah merasa sebenci ini terhadap pengendara motor maupun pengemis. Yang membuat kita frustrasi karena kita tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengendalikan mereka. Rasanya hanya malaikat yang sanggup melakukan tugas ganda seperti itu karena mereka hanya menjalankan perintah dan tidak memikirkan diri sendiri. Membenci pengemis yang seharusnya dikasihani, para pengedara motor yang juga sesama pencari nafkah adalah perbuatan yang salah. Apa lagi hanya demi penampilan sebuah mobil yang kalau dijual hanya cukup untuk membayar uang muka mobil yang baru. Sebenarnya selama ini ia saya pelihara hanya karena tidak mampu membeli yang lebih baru. Jadi apa boleh buat, dingin saya selimuti, sakit saya obati, rusak saya perbaiki. Berburu onderdil bekas pun saya jalani. Sungguh tidak seimbang. Sementara wajah baru hasil perbaikan sudah mulai pudar dan keceriaan saya sudah tak terasa lagi, saya masih memasang standar malaikat, tegang mengawasi musuh-musuh yang saya ciptakan sendiri. Sebenarnya tidak masuk akal kalau mereka berniat menyerempet mobil saya hanya karena iri melihat kemulusannya. Kenapa saya harus tegang dan melotot.

Suatu kali tanpa ketahuan asal-usulnya saya melihat sebuah goresan tajam cukup panjang di lambung kiri belakang, seperti bekas paku. Saya merasa sakit hati, serasa ditusuk dari belakang oleh siluman yang tidak mungkin saya lacak siapa dia. Yang jelas bukan seorang yang selama ini saya awasi yaitu pengendara motor ataupun pengemis. Entah siapa. Bagaimanapun perjuangan saya yang menegangkan telah berakhir dan gagal. Sejak itu dari hari kehari ketegangan saya menurun demikian pula kebencian saya terhadap pengendara motor dan pengemis. Saya tetap berhati-hati dalam mengemudi maupun memarkir, hanya saja tanpa beban ketegangan takut lecet atau penyok tersodok. Dan saya tidak keberatan seandainya ada tambahan satu atau dua goresan lagi. Mencapai keunggulan dalam suatu pekerjaan memang merupakan idaman setiap kita tetapi mencapai kesempurnaan adalah hak dan wilayah Allah saja. There is always room for improvement – selalu ada ruangan untuk perbaikan, tetapi akan tiba saatnya dimana usaha perbaikan tidak lagi memberikan hasil yang sesuai dengan waktu yang dibutuhkn. Jika pemuasan dilakukakn terus menerus maka kenikmatan akan terus-menerus menurun sampai sampai akhirnya jenuh. Sebaiknya kita tahu lebih dulu akan keterbatasan-keterbatasan kita, bila tidak kita akan berakhir tanpa menghasilkan apapun. Lepaskan saja standar malaikat, bertindaklah realistis. Kita terbatas, jauh dari sempurna. Apalagi bila kita bekerja bersama, bila hasil kerja kita baik belum tentu yang lain sebaik kita. Dengan mengakui keterbatasan yang kita miliki, kita tidak perlu malu mengatakan “maaf saya tidk bisa”. Melepaskan obsesi adalah lega seperti melepaskan beban berat dipundak. Kita tidak lagi ketakutan berbuat kesalahan.


Konon para penenun karpet Persia yang indah-indah itu, menggunakan cara yang unik untuk menunjukkan ketidaksempurnaan mereka: mereka sengaja membuat kesalahan kecil dalam pekerjaan mereka. Dengan begitu, mereka tahu karpet tidak sempurna dan terbebas dari perasaan menyaingi Tuhan karena hanya Dialah yang sempurna. Karena itu mari kita rayakan lecet pertama pada mobil kita, uban-uban pertama dikepala kita serta kerut-kerut di leher kita. 

01/03/15

PENGHINAAN DAN PEMBALASAN


PENGHINAAN DAN PEMBALASAN
Oleh: Jum’an

Selama hidup kita tumbuh menjadi lebih matang dan dewasa melalui saling hubungan antara sesama manusia. Menurut teori, hubungan merupakan kebutuhan sentral bagi manusia. Penelitian masa-kini tentang otak menunjukkan bahwa manusia tercipta untuk saling berhubungan. Orang memerlukan hubungan sebagaimana mereka membutuhkan udara, makanan, dan air, lebih dari keperluan mereka akan kebebasan dan kemerdekaan. Dari logika primanya hubungan, penghinaan dapat di artikan sebagai pelanggaran berat, serangan terhadap kebutuhan asasi seseorang untuk berhubungan. Penghinaan membahayakan kelangsungan hidup seseorang karena mengancam hubungan yang vital bagi seseorang. Penghinaan merupakan kekuatan yang paling telak dampaknya sebagai penyebab perpecahan antara manusia dan merusak hubungan. Penghinaan menyakitkan hati dan membangkitkan emosi untuk membalas dendam.

Saya sakit hati karena kau hina, maka kupukul engkau. Setimpal! Eh, engkau malah membacok. Kubunuh kau sekalian! Cubitlah daku engkau kucakar. Gigitlah daku engkau ku telan. Saling membalas sampai tidak ketahuan lagi siapa yang memulai. Cycle of Revenge  akan menggelinding terus tanpa henti dan tak terelakkan akan membawa kerusakan. Karenanya seperti kata peribahasa, sebelum berangkat membalas dendam galilah dua liang lahat: satu untuk musuhmu dan satu lagi untuk dirimu. Penelitian membuktikan bahwa membalas dendam untuk melampiaskan emosi meskipun lebih tunai ketimbang pengadilan yang berlarut-larut, ternyata tidak menuntaskan solusi. Seperti air asin yang tidak memuaskan dahaga. Pikiran seorang pembalas dendam akan melekat terus pada sasarannya, sehingga luka hatinya tetap menganga dan akan semakin makin parah bila balas dendamnya tidak atau belum terlaksana. Pembalas dendam umumnya menyebut tindakannya sebagai membela diri, melindungi hak atau menegakkan keadilan. Selalu! Hanya Tuhanlah yang maha tahu. Serangan 11 Sept. 2001 dibenarkan oleh Bin Ladin segagai pembalasan yang setimpal atas penggunaan tanah airnya (Saudi Arabia – dimana dua tempat suci Islam berada) sebagai pangkalan untuk menyerbu Iraq pada Perang Teluk. Tetapi serangan 11 September justru dijadikan sebagai justifikasi oleh Amerika untuk menyerbu Afganistan dan kemudian Iraq. Balas-membalas pun silih berganti sampai sekarang. Pembalasan dendam adalah pangkal kehancuran.

Dalam wawancara dengan Qantara, Karen Armstrong mantan biarawati dan sarjana perbandingan agama Inggris, (biografi oleh Dziki Fuad disini) mengungkapkan bahwa ada tradisi panjang dan memalukan penghinaan terhadap Islam di Eropa. Armstrong menolak gagasan bahwa Islam pada dasarnya lebih keras daripada Kristen. Dunia Barat bersikukuh bahwa kekerasan yang dilakukan umat Islam berpangkal dari ayat-ayat Qur’an tertentu. Karen mengatakan bahwa kekerasan umat Islam adalah justru sebagian merupakan produk dari penghinaan Barat. Sepanjang sejarah ayat-ayat Al-Quran tidak menginspirasi kegiatan terorisme. Setiap imperium (India, Cina, Persia, Romawi, kerajaan Inggris dan juga kerajaan Islam) tergantung pada kekuatan. Selain itu, sampai periode modern, Islam memiliki catatan toleransi yang jauh lebih baik dari Kristen Barat. Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka membantai penduduk Muslim dan Yahudi yang mengejutkan Timur Tengah, yang belum pernah melihat kekerasan tak terkendali itu, kata Armstrong. Lebih banyak kekerasan baik dalam Injil Ibrani dan Perjanjian Baru daripada ada dalam Qur’an. Para theolog yang mengklaim bahwa tidak ada ayat dalam Injil yang seperti dalam surat al-Baqoroh ayat 191-93 mungkin lupa akan Kitab Wahyu (Book of Revelation), yang merupakan teks paling disukai kaum fundamentalis Kristen yang menantikan pertempuran Akhir Zaman yang akan menghancurkan musuh-musuh Allah. Bahkan Yesus, yang mengatakan kepada murid-muridnya untuk mencintai musuh-musuh mereka dan memberikan pipi kiri jika ditampar pipi kanannya, memperingatkan para pengikutnya: "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, bukanlah  perdamaian Aku bawa datang tapi pedang. "(Matius 10: 34). Semua kitab suci memiliki ayat-ayat keras yang dapat dikutip diluar konteks, diberi arti yang tidak semestinya, sengaja untuk menghapuskan ajaran damai yang menginspirasi semua agama dengan sangat baik. Kepercayaan Barat bahwa Islam adalah agama yang membawa kekerasan didalamnya, berasal dari zaman Perang Salib. Ketika mereka menyerang kaum Muslimin, para biarawan diam-diam merasa cemas dan bersalah atas kebrutalan pejuang mereka karena Yesus mengatakan kepada para pengikutnya untuk mencintai musuh-musuh mereka bukan untuk memusnahkan mereka.  Para biarawan itu memproyeksikan kecemasan perilaku mereka sendiri kepada korban-korbannya dan menyebarkan bahwa Islam adalah agama pedang.

Sehubungan dengan serangan terhadap Charlie Hebdo, Karen mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw sebagai lambang suci ummat Islam telah dikarikaturkan di Barat sebagai tokoh kekerasan, ayan dan penipu licik. Gambaran yang menyimpang dari Islam telah dikembangkan sejak abad pertengahan ketika umat Kristen Eropah memerangi umat Islam di Palestina untuk merebut Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslimin. Jadi serangan terhadap para karikaturis di Paris itu adalah bagian dari produk penghinaan Barat terhadap Islam.


Buku Karen Armstrong terbaru berjudul "Fields of Blood: Religion and the History of Violence" (2014) menceritakan tentang kekerasan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam. Pada 1999 Armstrong menerima Muslim Public Affairs Council’s Media Award, memberi ceramah pada Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) serta memperoleh penghargaan dari Pusat Islam California atas usahanya mempromosikan saling pengertian antara agama.

11/02/15

MASA IYA LELUHUR SAYA KERA


MASA IYA LELUHUR SAYA KERA
Oleh: Jum’an

Beginilah saya. Tanpa pernah membaca sendiri teori Darwin, merasa begitu yakin bahwa isinya hanyalah tentang nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini. Sangat risih rasanya ketika harus mempercayai atau tidak mempercayai teori evolusi itu. Bagaimana mungkin dengan pengetahuan yang hanya sekuku hitam harus memutuskan sesuatu yang menyangkut keimanan. Dalam tulisan Jangan Tidak Percaya Evolusi  saya mengutip beberapa kontroversi yang terjadi dikalangan umat Islam dan agama lain dalam menyikapi teori evolusi Darwin itu. Dari satu sisi, sebagai penganut agama yang sangat menganjurkan menggunakan akal dan menuntut ilmu saya percaya pada kebenaran proses evolusi seperti yang dikatakan oleh Dr. Ehab Abouheif dalam tulisan diatas: “Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan.” Akan tetapi ketika sebagai konsekwensinya harus juga percaya bahwa manusia berasal dari kera saya sungguh-sungguh keberatan. Sepengetahuan saya Al-Qur’an tidak menyiratkan sedikitpun tentang itu. Pilihan saya sampai saat ini, leluhur manusia adalah Adam dan Hawa. Dengan demikian sikap saya terus menerus mendua dan tidak utuh. Dan ternyata bukan hanya evolusi kera menjadi manusia, bukan hanya saya dan umat Islam saja, tetapi semua umat beragama mengalaminya ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu pengetahuan. Teori Big-Bang tentang terbentuknya alam raya tidak kalah rancunya untuk dipercayai atau tidak dipercayai.

Dalam suatu Penelitian Agama dan Sains yang baru, terungkap adanya kelompok orang-orang Amerika yang mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pandangan agama dan ilmu pengetahuan, yang sebelumnya luput dari perhatian. Mereka, yang merupakan 21% dari orang Amerika, sangat mengerti tentang ilmu pengetahuan, menghargai sains dan teknologi, tetapi juga sangat religius dan menolak teori-teori ilmiah tertentu. Karena menurut teori yang populer saat ini Amerika sedang bergerak menjauhi agama kearah yang lebih sekuler, para peneliti itu menjuluki kelompok baru ini sebagai kaum pasca-sekuler. Dengan kata lain, mereka sekaligus ilmiah dan juga religius tetapi ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu, cara mereka mengambil sikap berbeda dari kaum modern yang berdiri diatas landasan akal dan kaum tradisional yang bersandar pada agama. Ketika terjadi benturan antara ilmu dan agama seperti tentang evolusi manusia, teori terbentuknya alam semesta, serta tentang umur bumi, mereka  memilih mengambil pandangan ilmu pengetahuan atau pandangan agama, tergantung mana yang menarik menurut pribadi mereka dalam memahami dunia. Kaum pasca-sekuler tahu pikiran para ilmuwan. Mereka hanya tidak setuju pada beberapa isu utama dan yang berdampak pada pandangan politik mereka. Sebagai contoh, kaum modern yang selalu berlandasan pada akal paling mendukung penelitian kedokteran menggunakan stem sel dari janin manusia dan hak aborsi bagi kaum wanita. Tetapi kaum pasca-sekuler yang juga pro dan sains minded, justru memilih berpihak kepada pandangan agama yang cenderung menolak kedua hal tersebut. Mereka juga menolak teori evolusi.

Saya percaya pada proses evolusi tapi tidak mau memihak pada orang yang mengatakan nenek-moyang saya kera. Saya tidak mau masuk partai mereka dan tidak rela menjadikan mereka sebagai pemimpin. Hati nurani saya melawan. Dan dalam  dunia yang hanya sementara dan fana ini, saya bergantung pada keluarga, kerabat dan jamaah yang agamis, meskipun mereka tidak percaya dengan teori evolusi. Apakah kepercayaan saya terhadap evolusi parallel dengan kaum pasca-sekuler?  Atau sikap saya plin-plan? Jangan-jangan anda begitu juga. Bagaimanapun saya merasa perlu membela diri. Hati nurani dan akal pikiran adalah perangkat hidup bawaan, asli minalloh. Menuruti kata hati dan menggunakan akal pada gilirannya sama pentingnya. Jadi menolak percaya bahwa leluhur kita kera karena mengikuti suara hati, adalah hak yang sah. Bukan plin-plan dan bukan mendua.


Lagi pula teori ilmu pengetahuan bisa berubah dengan ditemukannya fakta-fakta baru oleh para ilmuwan.  Menurut ahli biologi abad ke-19 Louis Dollo, evolusi hanya berjalan satu arah, tidak dapat melangkah balik; sekali sebuah struktur hilang, jalur itu tertutup untuk selamanya. Tetapi sebuah penelitian baru oleh Univ. Chile  menunjukkan bahwa evolusi dapat berbalik arah atau reversibel. Penelitian itu memukan bahwa bahwa ruas tulang yang telah hilang dari dinosaurus selama puluhan juta tahun, muncul kembali ketika dinosaurus berevolusi menjadi burung dan terbang. Pergelangan kaki depan dinosaurus berkaki empat terdiri dari 11 ruas yang diperlukan untuk menahan berat badan. Ketika berevolusi menjadi dinosaurus berkaki dua sekitar 230 juta tahun yang lalu, pergelangan itu menyusut tinggal 3 ruas. Diantara yang hilang adalah ruas berbentuk biji kacang yg disebut pisiform. Ketika dinosaurus berkaki dua berevolusi menjadi burung, sendi pergelangan di sayap, antara segmen tengah dan akhir, muncul lagi –yg meningkatkan fleksibilitas sehingga sayap bisa melipat kembali kearah tubuh. Burung juga menumbuhkan sebuah tulang di tempat yang sama berbentuk seperti kacang, untuk menyalurkan kekuatan bagi sayap. Konon sejenis katak pohon dari Amerika Selatan kehilangan gigi bawahnya dan tumbuh kembali setelah 200 juta tahun. Dalam embrio manusia, ada potensi yang sama. Mungkin tulang ekor kita, ruas terbawah dari tulang belakang akan tumbuh menjadi ekor yang panjang dimasa depan ketika manusia mungkin perlu bergelantungan lagi diatas pohon. Bagaimanapun…….. jangan percaya bahwa leluhur kita kera.

28/01/15

PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI


PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI
Oleh: Jum’an

Untuk mengimbangi pekerjaan kantor yang membosankan karyawan selalu punya cara. Bercanda untuk membangkitkan suasana ceria. Tentang apa saja dan siapa saja seperti sindiran  untuk karyawati gemuk, bos yang botak, lemburan fiktif, tentang mertua, perselingkuhan dan apa saja. Ditelinga saya yang lebih tua tidak selalu terdengar menyenangkan, kadang-kadang risi dan menyakitkan hati. Contohnya bila sasarannya respsionis  kami yang sedikit oversize, berwajah bulat dan kebetulan berhidung pesek. Selalu ada yang kreatif dan cekatan menemukan julukan yang mengena dan provokatif. Saya rasa ia pasti merasa tersinggung dan marah. Sementara ia telah gagal berjuang untuk melangsingkan badan justru diejek dengan julukan truk tronton dan hidungnya dibilang mancung kedalam. Tetapi karena hati lebih arif dari mata dan telinga, selama tidak terasa ada nada kebencian, resepsionis kita tetap tersenyum-senyum saja. Nampaknya ia justru ikut bergembira karena tanpa upaya apapun telah berhasil ikut menghidupkan suasana. Juga karena kami karyawan yang hanya belasan orang, merupakan komunitas kecil yang senasib, lingkungan terbatas dan materi gurauannya ringan-ringan saja. Ada benang merah antara sindiran halus (satir) dan kebencian. Bagi yang seumur saya, mungkin masih ingat peristiwa ini. Kebanyakan umat Islam di desa-desa yang mengenakan kain sarung ketika pergi ke masjid; tetapi ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960-an menjuluki kita sebagai “kaum sarungan”, kita segera tahu itu bukan sekedar sindiran tapi provokasi yang mengundang  permusuhan. Antara sesama kita, sebutan kaum sarungan atau pecian terdengar damai-damai saja.

Kebebasan berekspresi bukan berarti siapa saja berhak untuk didengar kapan saja, dimana saja tentang apa saja dan siapa saja. Ada saat-saat ketika dapat atau harus dirtarik garis batas demi alasan moral atau hukum, ada saat-saat lain dimana tidak pantas dan salah untuk membuat garis tersebut. Paus Franciscus mengatakan kebebasan berekspresi ada batasnya terutama ketika menghina atau mengejek iman seseorang. Kebebasan berbicara memang bukan saja merupakan hak asasi, tetapi adalah kewajiban setiap manusia untuk menyampaikan pikirannya, demi kebaikan bersama. Bagaimanapun tetap ada batas-batasnya. "Jika teman baik saya Dr. Gasparri ini mengucapkan kutukan terhadap ibu saya, dia akan saya pukul.” Dr. Gasparri adalah  pejabat Vatikan yang memimpin rombongan perjalanan Paus ke Philipina. "Ini normal. Anda tidak boleh memprovokasi. Anda tidak bisa menghina iman orang lain. Anda tidak bisa mengolok-olok iman orang lain. Banyak orang yang berbicara buruk tentang agamanya atau agama lain, yang mengolok-olok mereka, yang mempermainkan agama-agama lain," katanya. "Mereka adalah provokator. Dan apa yang terjadi pada mereka adalah apa yang akan terjadi pada Dr. Gasparri jika ia mengucapkan kutukan terhadap ibu saya. Ada batas."

Sementara itu Roskomnadzor, badan pengawas media dan komunikasi Rusia memperingatkan bahwa publikasi karikatur yang menggambarkan peribadatan umat beragama yang menyinggung perasaan adalah melawan norma-norma etika dan moral yg sudah berlaku selama berabad-abad. Di bawah hukum Rusia disejajarkan dengan menghasut kebencian etnis dan agama. Publikasi ini juga melanggar undang-undang media dan anti-ekstremisme Rusia. Meskipun Pemerintah Rusia membela Perancis dan Menteri LN Sergei Lavrov ikut berpawai di Paris, para komentator pro-Kremlin menuduh kartunis Charlie Hebdo yang memprovokasi serangan. Dewan Mufti Rusia, otoritas Muslim tertinggi disana mengutuk serangan itu tetapi mengatakan bahwa "dosa provokasi tidak kalah berbahaya bagi perdamaian dibanding dosa orang-orang yang terpancing oleh provokasi itu." Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov juga mengatakan bahwa para pelukis karikatur Nabi Muhammad saw itu "orang tanpa nilai-nilai spiritual dan moral."

David Brooks pengamat politik dan budaya Amerika dalam tulisannya ”I am not Charlie Hebdo” menjelaskan kemunafikan banyak orang Amerika yang menyanjung keberanian Charlie Hebdo untuk menyebarkan hal-hal yang ofensif, pada kenyataannya tidak toleran terhadap siapapun yang menyinggung pandangan mereka sendiri. Para penggambar karikatur Nabi Muhammad saw adalah generasi hipokrit yang paling merasa yakin alias fundamentalis dalam kebebasan berbicara tanpa batas untuk mengatakan tentang apa saja, kapan saja dan siapa saja. Mereka bangga dan terlatih membuat sindiran yang menusuk hati dan membakar telinga dengan dalih kebebasan ber ekspresi dan semangat provokasi. Baik Paus Franciscus dari Vatican, Roskomnadzor Pengawas Media Rusia, apalagi kita yang merasa Junjungan kita dijadikan olok-olok, sepakat bahwa para kartunis itu adalah jelas provokator. Saya hanya ingin menambahkan, jangan suka memprovikasi salah-salah bisa mati!


11/01/15

MENYANDERA DOA NABI


MENYANDERA DOA NABI
Oleh: Jum’an


Salah satu doa yang sering saya baca adalah memohon perlindungan Allah dari 8 hal yaitu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, takut miskin dan bakhil,  terhimpit hutang dan ditindas orang. Saya membacanya hampir setiap hari karena doa ini selalu relevan dimana saja dan kapan saja. Biasanya saya membacanya tiga kali secara beruntun. Pertama saya ucapkan dalam bahasa Arab seperti ketika Rasulullah s.a.w. mengajarkan untuk pertama kalinya kepada Abu Umamah, lalu saya perjelas dengan bahasa Indonesia dan terakhir saya resapkan dalam bahasa Jawa yang paling intim bagi saya. Tidak hanya sampai disitu. Kadang kadang doa itu saya ambil alih dan saya rubah bentuknya menjadi sebuah tekad, bukan lagi doa. Saya bertekad untuk tidak lagi-lagi gelisah dan bersedih, saya bertekad tidak akan berputus asa dan bermalas-malas. Saya bertekad untuk menjauhi hutang dan saya tidak sudi ditindas orang. Dengan izin Allah selalu. Lancangkah saya berbuat demikian? Bukan khawatir doa tidak terkabul tetapi ada semangat yang berbeda yang saya rasakan. Berdoa memberikan suasana defensif seperti penumpang kendaraan yang terikat seat belt: terlindung dari benturan tetapi tidak ada alternatif lain. Sedangkan ketika bertekad saya sepenuhnya mengandalkan kepada akal dan kemampuan diri-sendiri.

Perumpamaan hidup seorang muslim mungkin seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi. Satu sisi bergambar orang yang tunduk dan pasrah diciptakan hanya untuk mengabdi. Sedang sisi lainnya gambar kehidupan yang aktif, dinamis dan kreatif. Dalam ungkapan sahabat nabi Ibnu Umar yang sering kita dengar: Beribadah seperti mau mati esok hari dan berkiprah seperti mau hidup untuk selamanya. Tidak ada yang dapat mencegah bila Allah akan memberi. Tidak ada yang mampu memberi bila Alloh mencegahnya, kata Raulullah. Tidak ada seekor hewanpun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…semuanya tertera dalam loh mahfudz. Segala kekuasaan ada dalam genggamaNya. La quwwata illa billah. Demikian mutlak kekuasaannya, sehingga kita hanya bisa pasrah pada kehendakNya: Buckle up, fasten your seat belt. Pasang gesper, eratkan sabuk pengaman.

Disaat yang sama Allah menghendaki manusia untuk menjadi khalifah dibumi. Bahkan ketika malaikat berkeberatan karena manusia suka merusak dan menumpahkan darah, Allah menjawab: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Nasib bangsa tidak akan berubah kalau tidak mereka rubah sendiri; begitu dikatakan dalam Alqur’an. Niatlah yang melahirkan realitas.  “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” Jelas bahwa bahwa tekad (niat, kesadaran) merupakan unsur vital yang akan menjelmakan pengalaman kita. Ilmu Psiko-neuro-imunologi dapat menjelaskan bagaimana tekad menjelma menjadi tindakan. Menurut hadis Nabi, kita disuruh mengambil keputusan sendiri dalam urusan yang kita lebih mengetahui. Suatu kali beliau mengamati sekelompok petani kurma yang sedang melakukan penyerbukan yaitu melekatkan tepung sari keatas kepala putik bunga kurma supaya terjadi pembuahan yang merata dan panen yang berlimpah. Mula-mula beliau mencegah mereka melakukannya. Tetapi ketika mengetahui panen berikutnya benar-benar menurun, beliau menganjurkan untuk kembali melakukannya. Beliau mengatakan diantaranya: “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.”


Gambar pada kedua sisi koin kehidupan itu sangat berbeda tapi sama indahnya sama menariknya. Orang tidak dapat memilih mata uang yang hanya bergambar sebelah karena tidak akan akan mempunyai nilai tukar. Saya memilih berdoa untuk memohon ampun dan rahmat dan bertekad untuk menghindari himpitan hutang dan penindasan. Itupun tidak selalu, mungkin begitulah gambaran kepribadian saya. Seperti berada dipekarangan yang luas saya berjemur dibawah matahari pagi dan berlindung dibawah pohon yang rindang ditengah hari yang. Anda mungkin lain lagi. 

20/12/14

PENGAMPUNAN UNTUK RASIALIS PANUTAN


PENGAMPUNAN UNTUK RASIALIS PANUTAN
Oleh: Jum’an

Mark Wahlberg adalah aktor dan produser Hollywood yang sukses. Anak bungsu 9 bersaudara dari keluarga pekerja di Massachusetts; sekarang berusia 43 tahun. Bapak dari empat anak, kaya dan mapan, relijius dan pemurah. Ia tinggal rumah mewah 14 juta dollar di Baverly Hills lengkap dengan bermacam fasilitas olah raga dan hiburan. Diluar bisnis film dan televisi ia mempunyai sejumlah restoran “Wahlburgers” serta perusahaan pengelola keuangan. Tidak disangka nasibnya sebaik itu. Ia putus sekolah pada umur 14 tahun lalu menjadi anak jalanan yang liar mencuri dan menjual obat-obat terlarang; tumbuh brutal, arogan dan rasialis. Sekarang Mark bukan saja baik, tetapi juga berniat menjadi relawan sebagai pasukan cadangan di Kepolisian Los Angeles. Bagi mereka yang hanya mengenal Mark Wahlberg sesudah jaya, hal itu tidak mengherankann tetapi mereka yang tahu asal-usulnnya akan lain. Ada satu kendala yang merintangi niat baiknya. Mark memiliki sejarah kriminal, terutama kejahatan rasial dari masa remajanya di Boston. Sekarang, ia ingin menghapus semua noda itu sama sekali. Dia memohon Dewan Pengampunan Massachusetts untuk menghapus bukti-bukti kejahatannya dari catatan publik. "Saya telah mendedikasikan diri untuk menjadi warga negara yang lebih baik sehingga saya bisa menjadi panutan bagi anak-anak saya dan orang lain," katanya dalam permohonan itu. "Menerima pengampunan akan menjadi pengakuan formal bahwa saya bukan lagi orang jahat.” Mark bukan hanya ingin membersihkan namanya, tetapi juga belasan tato yang diukir disekujur badannya. Menghapus tato adalah sesuatu yang menyakitkan, serasa disiram minyak panas. Tato Bob Marley di bahu kiri Mark sudah 30 kali dicoba dihapus tetapi belum hilang padahal kata dokter, 5-7 kali datang saja akan beres. Dia selalu membawa dua dari 4 anaknya - untuk melihat dia terbakar oleh laser, sebagai pelajaran agar mereka tidak bodoh berhias tato seperti ayahnya. Tato adalah cacat paling ringan yang dibuat Mark. Yang lain-lainnya jauh lebih serius dan lebih sangat kriminal.

Kejahatan rasial pertama terjadi saat Mark berusia 15 tahun dan sudah kecanduan narkoba. Dua hari berturut-turut ia dan gengnya mengincar sekelompok murid kulit hitam, menyerang dan melecehkan mereka. Pada 15-6-1986 Mark dan tiga remaja kulit putih lain mengejar Jesse Coleman (12 th) dan dua saudaranya ketika mereka pulang sekolah dan meneriaki mereka: "Kami tidak suka negro hitam disini. Minggat kalian jauh-jauh!" Mereka terus mengejar sambil berteriak "Bunuh Negro! Bunuh Negro!" Mereka melempari ketiga kakak-beradik itu dengan batu. Ketika sampai di kedai Burger King mereka menghilang takut dilihat orang banyak. Keesokan harinya, ketika Jesse berjalan ke pantai bersama teman-teman sekelasnya, Mark dan gengnya membuntuti dari belakang. Dalam perjalanan pulang, mereka  mulai meneriakkan penghinaan rasial pada di anak-anak itu; sambil memanggil lebih banyak lagi teman-temannya untuk bergabung dan melempari batu, diantaranya mengenai guru wanita berkulit putih. Dua tahun kemudian, tahun 1988 Mark mengalihkan sasaran kebenciannya terhadap orang Asia. Pada 8 April, Thanh Lam yang sedang berjalan kerumahnya dipukul dengan batang kayu oleh Mark Wahlberg sampai pingsan, sambil mengumpat dan menyebut Thanh "Vietnam Sialan!" lalu ditinggalkan terkapar begitu saja. Mark kemudian mengejar pria Vietnam lain bernama Hoa Trinh; ia pura-pura merangkul mau minta tolong tetapi lalu menjotos mata pria itu, sampai tersungkur dan Trinh akhirnya buta sebelah mata untuk selamanya. Semua kejahatan itu tercatat dalam dokumentasi negara dan Mark mengakuinya secara terbuka. Ia dihukumum 2 tahun penjara, tetapi hanya menjalaninya selama 45 hari lalu dilepas.

Sebuah organisasi Etnis Asia dan Kepulauan Pasifik di Amerika telah mengajukan petisi menentang pengampunan  yang diminta oleh Mark Wahlberg: "Kami menuntut Dewan Pengampunan dan Gubernur Massachusetts untuk menolak pengampunan bagi kejahatan rasial Mark Wahlberg. Memberikan pengampunan merupakan penghinaan terhadap keadilan dan tidak menghormati para korban kejahatannya." Menurut Nam Pham, tokoh masyarakat Vietnam di Boston,  Mark Wahlberg harus meminta maaf langsung kepada Thanh Lam, dan Hoa Trinh, orang Vietnam yang dia siksa 25 tahun yang lalu. Orang-orang yang dulu termasuk murid-murid kulit hitam yang menjadi korban juga menentang permintaan pengampunannya itu. Tetapi Emmett Folgert, pendiri organisasi sosial pemuda di Boston, mengatakan kemampuan Wahlberg untuk melewati kejahatannya dan mencapai sukses besar merupakan sumber inspirasi. "Dia adalah panutan bagi siapa saja yang berasal dari golongan berpenghasilan rendah dan berhasil sukses," kata Folgert, yang mengenal Mark sejak ia masih anak nakal 13 tahun. Wahlberg banyak menyumbang organisasi itu secara teratur dan setiap tahun mengirimkan ratusan anak-anak disana ke pusat-pusat pelatihan, kata Folgert. "Dia benar-benar layak untuk diampuni. Lihatlah jasa-jasanya."


Mengingat rasialisme yang berakar sangat kuat dalam sejarah budaya dan politik Amerika, kasus Mark Wahlberg menjadi sulit (atau justru mudah) untuk diramal bagaimana akhirnya nanti. Orang yang sudah bertobat memang layak diampuni, tetapi siapa yang tahu isi hatinya? Ia mungkin telah jenuh dengan dunia film dan memerlukan “surat bekelakuan baik” untuk melangkah menjadi politisi atau gubernur seperti Arnold Schwarzenegger atau Ronald Reagan. Patut diduga ia akan mendapat pengampunan karena dia dianggap “The Real American”. Tunggu saja beritanya kalau berminat…

06/12/14

TERTIDUR DI GEREJA INGGRIS


TERTIDUR DI GEREJA INGGRIS
Oleh: Jum’an

Saya masih ingat menjadi murid SMA tahun 1960-an. Setiap siang hari Jum’at sepulang sekolah, saya mengenakan kain sarung berpanas-panas bersepeda pergi ke masjid. Sementara pada hari Minggu pagi siswa-siswi Kristen yang seusia saya, segar sehabis mandi pagi dan berpakaian necis, berpasangan masing-masing membawa alkitab ukuran palmtop, bergandengan pergi ke gereja. Ada rasa iri dihati saya melihat mereka berpasangan ketempat kebaktian dipagi hari ceria dan bersemangat. Seperti jalan-jalan pagi menghirup udara segar. Ketika kita sama-sama dewasa menjadi kaum pekerja mencari sesuap nasi, saya tidak lagi merasa iri kerena pada hari Minggu saya dapat berleha-leha sepajang hari sementara mereka harus bangun pagi, mandi, berdandan untuk pergi ke gereja. Silahkan!  Gambaran itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Tetapi kini, kewajiban pergi ke gereja pada hari Minggu dirasakan makin berat oleh kaum katolik di Inggris. Dalam kehidupan ekstra sibuk masa kini, hari minggu dinilai tidak ideal untuk pergi ke gereja. Orang sibuk dengan berbelanja, hiburan bersama keluarga, merapihkan rumah dan halaman. Umat makin mengebelakangkan tradisi berabad-abad menghadiri kebaktian hari Minggu karena hiburan dan ikatan sosial lainnya. Pimpinan gereja Lichfield, Pendeta Adrian Dorber, mengatakan banyak orang sebenarnya masih mendambakan ibadah yang tenang, tetapi mencari saat yang kurang mendesak dibandingkan hari Minggu pagi. Sebagai jalan keluar mereka memilih pergi kegereja katedral (keuskupan) yang besar dipertengahan minggu daripada kegereja-gereja paroki pada hari Minggu. Kenaikan jemaat Katedral menunjukkan banyak orang tertarik dengan formalitas dan tidak perlu saling kenal di gereja yang besar. Dalam dekade terakhir jumlah orang dewasa yang menghadiri gereja katedral naik 30% lebih, sementara pengunjung kebaktian hari Minggu di paroki-paroki turun separohnya sejak 1960-an.

Tahun lalu Lord Carey, mantan Uskup Agung Canterbury (pimpinan tertinggi Gereja Inggris dan Agama Katolik Anglican sedunia) memberikan sebuah peringatan fatal bahwa Gereja Inggris akan punah dalam waktu satu generasi mendatang jika tidak melakukan terobosan yang dramatis untuk menarik kaum muda kembali beriman. Para pendeta kini dicekam rasa kalah dan jemaat makin menurun oleh rasa enggan, sementara masyarakat hanya menanggapi keduanya dengan mengangkat bahu dan menguap bosan. Uskup Agung York, Dr. John Sentamu menggaris-bawahi peringatan Lord Carey dengan menyerukan kampanye ambisius yang ditujukan untuk "penginjilan kembali Inggris" kalau tidak, “kita akan menjadi fosil".  Ia berharap Gereja mau mengadopsi sikap para misionaris baru dan menghentikan perdebatan berkepanjangan seperti sibuk menata meja-kursi ketika rumah sedang terbakar. "Tragisnya yang selalu kita lakukan adalah reorganisasi struktur, berdebat tentang kata-kata dan ungkapan, sementara masyarakat dibiarkan menggelepar di tengah kecemasan dan putus asa". Uskup Blackburn mengatakan Gereja Inggris harus membuat perubahan besar-besaran yang radikal untuk menghentikan penyusutan jemaat, atau layu di abad 21. Beberapa perbaikan dan penyesuaian saja tidak akan cukup. Jika penurunan berlanjut seperti sekarang, tidak akan ada lagi Gereja Inggris di Lancashire pada tahun 2050.

Andrew Norman Wilson seorang kolumnis Inggris terkemuka, mempertanyakan peringatan Lord Carey bahwa Gereja Inggris akan punah dalam satu generasi, bahwa pendeta dicekam oleh rasa kalah dan jemaat menurun karena lelah dan enggan. Apakah Lord Carey menderita sindrom kesal seorang manula? Tetapi Wilson menjawab sendiri:  “Sayangnya Lord Carey memang benar!” Menurutnya Gereja Inggris adalah lembaga yang hampir mati yg diteruskan oleh dan untuk orang-orang tua. Pendeta-pendetanya kurang berpendidikan dan kemampuan public-speaking mereka nihil. Padahal Gereja Inggris membayar birokrat puncaknya lebih dari gaji Perdana Menteri. Sejumlah pegawai biasa di markas Gereja London menerima lebih dari 100.000 pound setahun (sekitar 150 juta rupiah per bulan?). Komisi Amal yang menghimpun dana untuk membantu kaum miskin,  memperingatkan bahwa menyumbang untuk gereja berisiko membawa tujuan yang baik menjadi keburukan dengan memberikan gaji terlalu tinggi bagi pejabat-pejabat Gereja.

Menurut Wilson, ada dua alasan yang sulit dibantah mengapa jemaat begitu menurun. Yang pertama adalah seks. Agama mengajarkan bahwa tidak ada hubungan seksual yang diizinkan di luar pernikahan sementara kini apa yang dulu disebut hidup dalam dosa, benar-benar dianggap normal. Hampir semua orang muda, ketika mereka mencapai saat tertentu dalam hubungan mereka, mencoba hidup bersama.  Alasan kedua adalah hal yang jauh lebih besar yaitu penurunan keyakinan itu sendiri. Kebanyakan orang tidak bisa mempercayai bahwa Tuhan mengambil bentuk seorang manusia yang dilahirkan oleh seorang perawan atau akan bangkit dari kematian. Tidak masuk akal mereka. Bagaimana Gereja dengan cerita-cerita seperti itu mau mengatur bagaimana orang berperilaku di kamar tidur. Ketidak-percayaan, dan perubahan kebiasaan seksual, tidak hanya mempengaruhi penurunan jemaat Anglikan, tetapi seluruh sejarah Gereja Barat. Orang tidak berpikir bahwa kumpul kebo itu adalah dosa, bahwa homoseks adalah dosa dan mereka tidak lagi benar-benar percaya pada penjelmaan. Ini dalah sesuatu yang mengerikan, kata Wilson.


Dalam dunia narsis yang dipenuhi sikap riya dan kepuasan instan, nilai-nilai dan hakekat keimanan bisa nampak usang. Cermin bagi semua umat beragama. Na’uzubillah….