11/02/15

MASA IYA LELUHUR SAYA KERA


MASA IYA LELUHUR SAYA KERA
Oleh: Jum’an

Beginilah saya. Tanpa pernah membaca sendiri teori Darwin, merasa begitu yakin bahwa isinya hanyalah tentang nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini. Sangat risih rasanya ketika harus mempercayai atau tidak mempercayai teori evolusi itu. Bagaimana mungkin dengan pengetahuan yang hanya sekuku hitam harus memutuskan sesuatu yang menyangkut keimanan. Dalam tulisan Jangan Tidak Percaya Evolusi  saya mengutip beberapa kontroversi yang terjadi dikalangan umat Islam dan agama lain dalam menyikapi teori evolusi Darwin itu. Dari satu sisi, sebagai penganut agama yang sangat menganjurkan menggunakan akal dan menuntut ilmu saya percaya pada kebenaran proses evolusi seperti yang dikatakan oleh Dr. Ehab Abouheif dalam tulisan diatas: “Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan.” Akan tetapi ketika sebagai konsekwensinya harus juga percaya bahwa manusia berasal dari kera saya sungguh-sungguh keberatan. Sepengetahuan saya Al-Qur’an tidak menyiratkan sedikitpun tentang itu. Pilihan saya sampai saat ini, leluhur manusia adalah Adam dan Hawa. Dengan demikian sikap saya terus menerus mendua dan tidak utuh. Dan ternyata bukan hanya evolusi kera menjadi manusia, bukan hanya saya dan umat Islam saja, tetapi semua umat beragama mengalaminya ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu pengetahuan. Teori Big-Bang tentang terbentuknya alam raya tidak kalah rancunya untuk dipercayai atau tidak dipercayai.

Dalam suatu Penelitian Agama dan Sains yang baru, terungkap adanya kelompok orang-orang Amerika yang mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pandangan agama dan ilmu pengetahuan, yang sebelumnya luput dari perhatian. Mereka, yang merupakan 21% dari orang Amerika, sangat mengerti tentang ilmu pengetahuan, menghargai sains dan teknologi, tetapi juga sangat religius dan menolak teori-teori ilmiah tertentu. Karena menurut teori yang populer saat ini Amerika sedang bergerak menjauhi agama kearah yang lebih sekuler, para peneliti itu menjuluki kelompok baru ini sebagai kaum pasca-sekuler. Dengan kata lain, mereka sekaligus ilmiah dan juga religius tetapi ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu, cara mereka mengambil sikap berbeda dari kaum modern yang berdiri diatas landasan akal dan kaum tradisional yang bersandar pada agama. Ketika terjadi benturan antara ilmu dan agama seperti tentang evolusi manusia, teori terbentuknya alam semesta, serta tentang umur bumi, mereka  memilih mengambil pandangan ilmu pengetahuan atau pandangan agama, tergantung mana yang menarik menurut pribadi mereka dalam memahami dunia. Kaum pasca-sekuler tahu pikiran para ilmuwan. Mereka hanya tidak setuju pada beberapa isu utama dan yang berdampak pada pandangan politik mereka. Sebagai contoh, kaum modern yang selalu berlandasan pada akal paling mendukung penelitian kedokteran menggunakan stem sel dari janin manusia dan hak aborsi bagi kaum wanita. Tetapi kaum pasca-sekuler yang juga pro dan sains minded, justru memilih berpihak kepada pandangan agama yang cenderung menolak kedua hal tersebut. Mereka juga menolak teori evolusi.

Saya percaya pada proses evolusi tapi tidak mau memihak pada orang yang mengatakan nenek-moyang saya kera. Saya tidak mau masuk partai mereka dan tidak rela menjadikan mereka sebagai pemimpin. Hati nurani saya melawan. Dan dalam  dunia yang hanya sementara dan fana ini, saya bergantung pada keluarga, kerabat dan jamaah yang agamis, meskipun mereka tidak percaya dengan teori evolusi. Apakah kepercayaan saya terhadap evolusi parallel dengan kaum pasca-sekuler?  Atau sikap saya plin-plan? Jangan-jangan anda begitu juga. Bagaimanapun saya merasa perlu membela diri. Hati nurani dan akal pikiran adalah perangkat hidup bawaan, asli minalloh. Menuruti kata hati dan menggunakan akal pada gilirannya sama pentingnya. Jadi menolak percaya bahwa leluhur kita kera karena mengikuti suara hati, adalah hak yang sah. Bukan plin-plan dan bukan mendua.


Lagi pula teori ilmu pengetahuan bisa berubah dengan ditemukannya fakta-fakta baru oleh para ilmuwan.  Menurut ahli biologi abad ke-19 Louis Dollo, evolusi hanya berjalan satu arah, tidak dapat melangkah balik; sekali sebuah struktur hilang, jalur itu tertutup untuk selamanya. Tetapi sebuah penelitian baru oleh Univ. Chile  menunjukkan bahwa evolusi dapat berbalik arah atau reversibel. Penelitian itu memukan bahwa bahwa ruas tulang yang telah hilang dari dinosaurus selama puluhan juta tahun, muncul kembali ketika dinosaurus berevolusi menjadi burung dan terbang. Pergelangan kaki depan dinosaurus berkaki empat terdiri dari 11 ruas yang diperlukan untuk menahan berat badan. Ketika berevolusi menjadi dinosaurus berkaki dua sekitar 230 juta tahun yang lalu, pergelangan itu menyusut tinggal 3 ruas. Diantara yang hilang adalah ruas berbentuk biji kacang yg disebut pisiform. Ketika dinosaurus berkaki dua berevolusi menjadi burung, sendi pergelangan di sayap, antara segmen tengah dan akhir, muncul lagi –yg meningkatkan fleksibilitas sehingga sayap bisa melipat kembali kearah tubuh. Burung juga menumbuhkan sebuah tulang di tempat yang sama berbentuk seperti kacang, untuk menyalurkan kekuatan bagi sayap. Konon sejenis katak pohon dari Amerika Selatan kehilangan gigi bawahnya dan tumbuh kembali setelah 200 juta tahun. Dalam embrio manusia, ada potensi yang sama. Mungkin tulang ekor kita, ruas terbawah dari tulang belakang akan tumbuh menjadi ekor yang panjang dimasa depan ketika manusia mungkin perlu bergelantungan lagi diatas pohon. Bagaimanapun…….. jangan percaya bahwa leluhur kita kera.

28/01/15

PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI


PROVOKASI SALAH-SALAH BISA MATI
Oleh: Jum’an

Untuk mengimbangi pekerjaan kantor yang membosankan karyawan selalu punya cara. Bercanda untuk membangkitkan suasana ceria. Tentang apa saja dan siapa saja seperti sindiran  untuk karyawati gemuk, bos yang botak, lemburan fiktif, tentang mertua, perselingkuhan dan apa saja. Ditelinga saya yang lebih tua tidak selalu terdengar menyenangkan, kadang-kadang risi dan menyakitkan hati. Contohnya bila sasarannya respsionis  kami yang sedikit oversize, berwajah bulat dan kebetulan berhidung pesek. Selalu ada yang kreatif dan cekatan menemukan julukan yang mengena dan provokatif. Saya rasa ia pasti merasa tersinggung dan marah. Sementara ia telah gagal berjuang untuk melangsingkan badan justru diejek dengan julukan truk tronton dan hidungnya dibilang mancung kedalam. Tetapi karena hati lebih arif dari mata dan telinga, selama tidak terasa ada nada kebencian, resepsionis kita tetap tersenyum-senyum saja. Nampaknya ia justru ikut bergembira karena tanpa upaya apapun telah berhasil ikut menghidupkan suasana. Juga karena kami karyawan yang hanya belasan orang, merupakan komunitas kecil yang senasib, lingkungan terbatas dan materi gurauannya ringan-ringan saja. Ada benang merah antara sindiran halus (satir) dan kebencian. Bagi yang seumur saya, mungkin masih ingat peristiwa ini. Kebanyakan umat Islam di desa-desa yang mengenakan kain sarung ketika pergi ke masjid; tetapi ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1960-an menjuluki kita sebagai “kaum sarungan”, kita segera tahu itu bukan sekedar sindiran tapi provokasi yang mengundang  permusuhan. Antara sesama kita, sebutan kaum sarungan atau pecian terdengar damai-damai saja.

Kebebasan berekspresi bukan berarti siapa saja berhak untuk didengar kapan saja, dimana saja tentang apa saja dan siapa saja. Ada saat-saat ketika dapat atau harus dirtarik garis batas demi alasan moral atau hukum, ada saat-saat lain dimana tidak pantas dan salah untuk membuat garis tersebut. Paus Franciscus mengatakan kebebasan berekspresi ada batasnya terutama ketika menghina atau mengejek iman seseorang. Kebebasan berbicara memang bukan saja merupakan hak asasi, tetapi adalah kewajiban setiap manusia untuk menyampaikan pikirannya, demi kebaikan bersama. Bagaimanapun tetap ada batas-batasnya. "Jika teman baik saya Dr. Gasparri ini mengucapkan kutukan terhadap ibu saya, dia akan saya pukul.” Dr. Gasparri adalah  pejabat Vatikan yang memimpin rombongan perjalanan Paus ke Philipina. "Ini normal. Anda tidak boleh memprovokasi. Anda tidak bisa menghina iman orang lain. Anda tidak bisa mengolok-olok iman orang lain. Banyak orang yang berbicara buruk tentang agamanya atau agama lain, yang mengolok-olok mereka, yang mempermainkan agama-agama lain," katanya. "Mereka adalah provokator. Dan apa yang terjadi pada mereka adalah apa yang akan terjadi pada Dr. Gasparri jika ia mengucapkan kutukan terhadap ibu saya. Ada batas."

Sementara itu Roskomnadzor, badan pengawas media dan komunikasi Rusia memperingatkan bahwa publikasi karikatur yang menggambarkan peribadatan umat beragama yang menyinggung perasaan adalah melawan norma-norma etika dan moral yg sudah berlaku selama berabad-abad. Di bawah hukum Rusia disejajarkan dengan menghasut kebencian etnis dan agama. Publikasi ini juga melanggar undang-undang media dan anti-ekstremisme Rusia. Meskipun Pemerintah Rusia membela Perancis dan Menteri LN Sergei Lavrov ikut berpawai di Paris, para komentator pro-Kremlin menuduh kartunis Charlie Hebdo yang memprovokasi serangan. Dewan Mufti Rusia, otoritas Muslim tertinggi disana mengutuk serangan itu tetapi mengatakan bahwa "dosa provokasi tidak kalah berbahaya bagi perdamaian dibanding dosa orang-orang yang terpancing oleh provokasi itu." Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov juga mengatakan bahwa para pelukis karikatur Nabi Muhammad saw itu "orang tanpa nilai-nilai spiritual dan moral."

David Brooks pengamat politik dan budaya Amerika dalam tulisannya ”I am not Charlie Hebdo” menjelaskan kemunafikan banyak orang Amerika yang menyanjung keberanian Charlie Hebdo untuk menyebarkan hal-hal yang ofensif, pada kenyataannya tidak toleran terhadap siapapun yang menyinggung pandangan mereka sendiri. Para penggambar karikatur Nabi Muhammad saw adalah generasi hipokrit yang paling merasa yakin alias fundamentalis dalam kebebasan berbicara tanpa batas untuk mengatakan tentang apa saja, kapan saja dan siapa saja. Mereka bangga dan terlatih membuat sindiran yang menusuk hati dan membakar telinga dengan dalih kebebasan ber ekspresi dan semangat provokasi. Baik Paus Franciscus dari Vatican, Roskomnadzor Pengawas Media Rusia, apalagi kita yang merasa Junjungan kita dijadikan olok-olok, sepakat bahwa para kartunis itu adalah jelas provokator. Saya hanya ingin menambahkan, jangan suka memprovikasi salah-salah bisa mati!


11/01/15

MENYANDERA DOA NABI


MENYANDERA DOA NABI
Oleh: Jum’an


Salah satu doa yang sering saya baca adalah memohon perlindungan Allah dari 8 hal yaitu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, takut miskin dan bakhil,  terhimpit hutang dan ditindas orang. Saya membacanya hampir setiap hari karena doa ini selalu relevan dimana saja dan kapan saja. Biasanya saya membacanya tiga kali secara beruntun. Pertama saya ucapkan dalam bahasa Arab seperti ketika Rasulullah s.a.w. mengajarkan untuk pertama kalinya kepada Abu Umamah, lalu saya perjelas dengan bahasa Indonesia dan terakhir saya resapkan dalam bahasa Jawa yang paling intim bagi saya. Tidak hanya sampai disitu. Kadang kadang doa itu saya ambil alih dan saya rubah bentuknya menjadi sebuah tekad, bukan lagi doa. Saya bertekad untuk tidak lagi-lagi gelisah dan bersedih, saya bertekad tidak akan berputus asa dan bermalas-malas. Saya bertekad untuk menjauhi hutang dan saya tidak sudi ditindas orang. Dengan izin Allah selalu. Lancangkah saya berbuat demikian? Bukan khawatir doa tidak terkabul tetapi ada semangat yang berbeda yang saya rasakan. Berdoa memberikan suasana defensif seperti penumpang kendaraan yang terikat seat belt: terlindung dari benturan tetapi tidak ada alternatif lain. Sedangkan ketika bertekad saya sepenuhnya mengandalkan kepada akal dan kemampuan diri-sendiri.

Perumpamaan hidup seorang muslim mungkin seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi. Satu sisi bergambar orang yang tunduk dan pasrah diciptakan hanya untuk mengabdi. Sedang sisi lainnya gambar kehidupan yang aktif, dinamis dan kreatif. Dalam ungkapan sahabat nabi Ibnu Umar yang sering kita dengar: Beribadah seperti mau mati esok hari dan berkiprah seperti mau hidup untuk selamanya. Tidak ada yang dapat mencegah bila Allah akan memberi. Tidak ada yang mampu memberi bila Alloh mencegahnya, kata Raulullah. Tidak ada seekor hewanpun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…semuanya tertera dalam loh mahfudz. Segala kekuasaan ada dalam genggamaNya. La quwwata illa billah. Demikian mutlak kekuasaannya, sehingga kita hanya bisa pasrah pada kehendakNya: Buckle up, fasten your seat belt. Pasang gesper, eratkan sabuk pengaman.

Disaat yang sama Allah menghendaki manusia untuk menjadi khalifah dibumi. Bahkan ketika malaikat berkeberatan karena manusia suka merusak dan menumpahkan darah, Allah menjawab: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Nasib bangsa tidak akan berubah kalau tidak mereka rubah sendiri; begitu dikatakan dalam Alqur’an. Niatlah yang melahirkan realitas.  “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” Jelas bahwa bahwa tekad (niat, kesadaran) merupakan unsur vital yang akan menjelmakan pengalaman kita. Ilmu Psiko-neuro-imunologi dapat menjelaskan bagaimana tekad menjelma menjadi tindakan. Menurut hadis Nabi, kita disuruh mengambil keputusan sendiri dalam urusan yang kita lebih mengetahui. Suatu kali beliau mengamati sekelompok petani kurma yang sedang melakukan penyerbukan yaitu melekatkan tepung sari keatas kepala putik bunga kurma supaya terjadi pembuahan yang merata dan panen yang berlimpah. Mula-mula beliau mencegah mereka melakukannya. Tetapi ketika mengetahui panen berikutnya benar-benar menurun, beliau menganjurkan untuk kembali melakukannya. Beliau mengatakan diantaranya: “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.”


Gambar pada kedua sisi koin kehidupan itu sangat berbeda tapi sama indahnya sama menariknya. Orang tidak dapat memilih mata uang yang hanya bergambar sebelah karena tidak akan akan mempunyai nilai tukar. Saya memilih berdoa untuk memohon ampun dan rahmat dan bertekad untuk menghindari himpitan hutang dan penindasan. Itupun tidak selalu, mungkin begitulah gambaran kepribadian saya. Seperti berada dipekarangan yang luas saya berjemur dibawah matahari pagi dan berlindung dibawah pohon yang rindang ditengah hari yang. Anda mungkin lain lagi. 

20/12/14

PENGAMPUNAN UNTUK RASIALIS PANUTAN


PENGAMPUNAN UNTUK RASIALIS PANUTAN
Oleh: Jum’an

Mark Wahlberg adalah aktor dan produser Hollywood yang sukses. Anak bungsu 9 bersaudara dari keluarga pekerja di Massachusetts; sekarang berusia 43 tahun. Bapak dari empat anak, kaya dan mapan, relijius dan pemurah. Ia tinggal rumah mewah 14 juta dollar di Baverly Hills lengkap dengan bermacam fasilitas olah raga dan hiburan. Diluar bisnis film dan televisi ia mempunyai sejumlah restoran “Wahlburgers” serta perusahaan pengelola keuangan. Tidak disangka nasibnya sebaik itu. Ia putus sekolah pada umur 14 tahun lalu menjadi anak jalanan yang liar mencuri dan menjual obat-obat terlarang; tumbuh brutal, arogan dan rasialis. Sekarang Mark bukan saja baik, tetapi juga berniat menjadi relawan sebagai pasukan cadangan di Kepolisian Los Angeles. Bagi mereka yang hanya mengenal Mark Wahlberg sesudah jaya, hal itu tidak mengherankann tetapi mereka yang tahu asal-usulnnya akan lain. Ada satu kendala yang merintangi niat baiknya. Mark memiliki sejarah kriminal, terutama kejahatan rasial dari masa remajanya di Boston. Sekarang, ia ingin menghapus semua noda itu sama sekali. Dia memohon Dewan Pengampunan Massachusetts untuk menghapus bukti-bukti kejahatannya dari catatan publik. "Saya telah mendedikasikan diri untuk menjadi warga negara yang lebih baik sehingga saya bisa menjadi panutan bagi anak-anak saya dan orang lain," katanya dalam permohonan itu. "Menerima pengampunan akan menjadi pengakuan formal bahwa saya bukan lagi orang jahat.” Mark bukan hanya ingin membersihkan namanya, tetapi juga belasan tato yang diukir disekujur badannya. Menghapus tato adalah sesuatu yang menyakitkan, serasa disiram minyak panas. Tato Bob Marley di bahu kiri Mark sudah 30 kali dicoba dihapus tetapi belum hilang padahal kata dokter, 5-7 kali datang saja akan beres. Dia selalu membawa dua dari 4 anaknya - untuk melihat dia terbakar oleh laser, sebagai pelajaran agar mereka tidak bodoh berhias tato seperti ayahnya. Tato adalah cacat paling ringan yang dibuat Mark. Yang lain-lainnya jauh lebih serius dan lebih sangat kriminal.

Kejahatan rasial pertama terjadi saat Mark berusia 15 tahun dan sudah kecanduan narkoba. Dua hari berturut-turut ia dan gengnya mengincar sekelompok murid kulit hitam, menyerang dan melecehkan mereka. Pada 15-6-1986 Mark dan tiga remaja kulit putih lain mengejar Jesse Coleman (12 th) dan dua saudaranya ketika mereka pulang sekolah dan meneriaki mereka: "Kami tidak suka negro hitam disini. Minggat kalian jauh-jauh!" Mereka terus mengejar sambil berteriak "Bunuh Negro! Bunuh Negro!" Mereka melempari ketiga kakak-beradik itu dengan batu. Ketika sampai di kedai Burger King mereka menghilang takut dilihat orang banyak. Keesokan harinya, ketika Jesse berjalan ke pantai bersama teman-teman sekelasnya, Mark dan gengnya membuntuti dari belakang. Dalam perjalanan pulang, mereka  mulai meneriakkan penghinaan rasial pada di anak-anak itu; sambil memanggil lebih banyak lagi teman-temannya untuk bergabung dan melempari batu, diantaranya mengenai guru wanita berkulit putih. Dua tahun kemudian, tahun 1988 Mark mengalihkan sasaran kebenciannya terhadap orang Asia. Pada 8 April, Thanh Lam yang sedang berjalan kerumahnya dipukul dengan batang kayu oleh Mark Wahlberg sampai pingsan, sambil mengumpat dan menyebut Thanh "Vietnam Sialan!" lalu ditinggalkan terkapar begitu saja. Mark kemudian mengejar pria Vietnam lain bernama Hoa Trinh; ia pura-pura merangkul mau minta tolong tetapi lalu menjotos mata pria itu, sampai tersungkur dan Trinh akhirnya buta sebelah mata untuk selamanya. Semua kejahatan itu tercatat dalam dokumentasi negara dan Mark mengakuinya secara terbuka. Ia dihukumum 2 tahun penjara, tetapi hanya menjalaninya selama 45 hari lalu dilepas.

Sebuah organisasi Etnis Asia dan Kepulauan Pasifik di Amerika telah mengajukan petisi menentang pengampunan  yang diminta oleh Mark Wahlberg: "Kami menuntut Dewan Pengampunan dan Gubernur Massachusetts untuk menolak pengampunan bagi kejahatan rasial Mark Wahlberg. Memberikan pengampunan merupakan penghinaan terhadap keadilan dan tidak menghormati para korban kejahatannya." Menurut Nam Pham, tokoh masyarakat Vietnam di Boston,  Mark Wahlberg harus meminta maaf langsung kepada Thanh Lam, dan Hoa Trinh, orang Vietnam yang dia siksa 25 tahun yang lalu. Orang-orang yang dulu termasuk murid-murid kulit hitam yang menjadi korban juga menentang permintaan pengampunannya itu. Tetapi Emmett Folgert, pendiri organisasi sosial pemuda di Boston, mengatakan kemampuan Wahlberg untuk melewati kejahatannya dan mencapai sukses besar merupakan sumber inspirasi. "Dia adalah panutan bagi siapa saja yang berasal dari golongan berpenghasilan rendah dan berhasil sukses," kata Folgert, yang mengenal Mark sejak ia masih anak nakal 13 tahun. Wahlberg banyak menyumbang organisasi itu secara teratur dan setiap tahun mengirimkan ratusan anak-anak disana ke pusat-pusat pelatihan, kata Folgert. "Dia benar-benar layak untuk diampuni. Lihatlah jasa-jasanya."


Mengingat rasialisme yang berakar sangat kuat dalam sejarah budaya dan politik Amerika, kasus Mark Wahlberg menjadi sulit (atau justru mudah) untuk diramal bagaimana akhirnya nanti. Orang yang sudah bertobat memang layak diampuni, tetapi siapa yang tahu isi hatinya? Ia mungkin telah jenuh dengan dunia film dan memerlukan “surat bekelakuan baik” untuk melangkah menjadi politisi atau gubernur seperti Arnold Schwarzenegger atau Ronald Reagan. Patut diduga ia akan mendapat pengampunan karena dia dianggap “The Real American”. Tunggu saja beritanya kalau berminat…

06/12/14

TERTIDUR DI GEREJA INGGRIS


TERTIDUR DI GEREJA INGGRIS
Oleh: Jum’an

Saya masih ingat menjadi murid SMA tahun 1960-an. Setiap siang hari Jum’at sepulang sekolah, saya mengenakan kain sarung berpanas-panas bersepeda pergi ke masjid. Sementara pada hari Minggu pagi siswa-siswi Kristen yang seusia saya, segar sehabis mandi pagi dan berpakaian necis, berpasangan masing-masing membawa alkitab ukuran palmtop, bergandengan pergi ke gereja. Ada rasa iri dihati saya melihat mereka berpasangan ketempat kebaktian dipagi hari ceria dan bersemangat. Seperti jalan-jalan pagi menghirup udara segar. Ketika kita sama-sama dewasa menjadi kaum pekerja mencari sesuap nasi, saya tidak lagi merasa iri kerena pada hari Minggu saya dapat berleha-leha sepajang hari sementara mereka harus bangun pagi, mandi, berdandan untuk pergi ke gereja. Silahkan!  Gambaran itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Tetapi kini, kewajiban pergi ke gereja pada hari Minggu dirasakan makin berat oleh kaum katolik di Inggris. Dalam kehidupan ekstra sibuk masa kini, hari minggu dinilai tidak ideal untuk pergi ke gereja. Orang sibuk dengan berbelanja, hiburan bersama keluarga, merapihkan rumah dan halaman. Umat makin mengebelakangkan tradisi berabad-abad menghadiri kebaktian hari Minggu karena hiburan dan ikatan sosial lainnya. Pimpinan gereja Lichfield, Pendeta Adrian Dorber, mengatakan banyak orang sebenarnya masih mendambakan ibadah yang tenang, tetapi mencari saat yang kurang mendesak dibandingkan hari Minggu pagi. Sebagai jalan keluar mereka memilih pergi kegereja katedral (keuskupan) yang besar dipertengahan minggu daripada kegereja-gereja paroki pada hari Minggu. Kenaikan jemaat Katedral menunjukkan banyak orang tertarik dengan formalitas dan tidak perlu saling kenal di gereja yang besar. Dalam dekade terakhir jumlah orang dewasa yang menghadiri gereja katedral naik 30% lebih, sementara pengunjung kebaktian hari Minggu di paroki-paroki turun separohnya sejak 1960-an.

Tahun lalu Lord Carey, mantan Uskup Agung Canterbury (pimpinan tertinggi Gereja Inggris dan Agama Katolik Anglican sedunia) memberikan sebuah peringatan fatal bahwa Gereja Inggris akan punah dalam waktu satu generasi mendatang jika tidak melakukan terobosan yang dramatis untuk menarik kaum muda kembali beriman. Para pendeta kini dicekam rasa kalah dan jemaat makin menurun oleh rasa enggan, sementara masyarakat hanya menanggapi keduanya dengan mengangkat bahu dan menguap bosan. Uskup Agung York, Dr. John Sentamu menggaris-bawahi peringatan Lord Carey dengan menyerukan kampanye ambisius yang ditujukan untuk "penginjilan kembali Inggris" kalau tidak, “kita akan menjadi fosil".  Ia berharap Gereja mau mengadopsi sikap para misionaris baru dan menghentikan perdebatan berkepanjangan seperti sibuk menata meja-kursi ketika rumah sedang terbakar. "Tragisnya yang selalu kita lakukan adalah reorganisasi struktur, berdebat tentang kata-kata dan ungkapan, sementara masyarakat dibiarkan menggelepar di tengah kecemasan dan putus asa". Uskup Blackburn mengatakan Gereja Inggris harus membuat perubahan besar-besaran yang radikal untuk menghentikan penyusutan jemaat, atau layu di abad 21. Beberapa perbaikan dan penyesuaian saja tidak akan cukup. Jika penurunan berlanjut seperti sekarang, tidak akan ada lagi Gereja Inggris di Lancashire pada tahun 2050.

Andrew Norman Wilson seorang kolumnis Inggris terkemuka, mempertanyakan peringatan Lord Carey bahwa Gereja Inggris akan punah dalam satu generasi, bahwa pendeta dicekam oleh rasa kalah dan jemaat menurun karena lelah dan enggan. Apakah Lord Carey menderita sindrom kesal seorang manula? Tetapi Wilson menjawab sendiri:  “Sayangnya Lord Carey memang benar!” Menurutnya Gereja Inggris adalah lembaga yang hampir mati yg diteruskan oleh dan untuk orang-orang tua. Pendeta-pendetanya kurang berpendidikan dan kemampuan public-speaking mereka nihil. Padahal Gereja Inggris membayar birokrat puncaknya lebih dari gaji Perdana Menteri. Sejumlah pegawai biasa di markas Gereja London menerima lebih dari 100.000 pound setahun (sekitar 150 juta rupiah per bulan?). Komisi Amal yang menghimpun dana untuk membantu kaum miskin,  memperingatkan bahwa menyumbang untuk gereja berisiko membawa tujuan yang baik menjadi keburukan dengan memberikan gaji terlalu tinggi bagi pejabat-pejabat Gereja.

Menurut Wilson, ada dua alasan yang sulit dibantah mengapa jemaat begitu menurun. Yang pertama adalah seks. Agama mengajarkan bahwa tidak ada hubungan seksual yang diizinkan di luar pernikahan sementara kini apa yang dulu disebut hidup dalam dosa, benar-benar dianggap normal. Hampir semua orang muda, ketika mereka mencapai saat tertentu dalam hubungan mereka, mencoba hidup bersama.  Alasan kedua adalah hal yang jauh lebih besar yaitu penurunan keyakinan itu sendiri. Kebanyakan orang tidak bisa mempercayai bahwa Tuhan mengambil bentuk seorang manusia yang dilahirkan oleh seorang perawan atau akan bangkit dari kematian. Tidak masuk akal mereka. Bagaimana Gereja dengan cerita-cerita seperti itu mau mengatur bagaimana orang berperilaku di kamar tidur. Ketidak-percayaan, dan perubahan kebiasaan seksual, tidak hanya mempengaruhi penurunan jemaat Anglikan, tetapi seluruh sejarah Gereja Barat. Orang tidak berpikir bahwa kumpul kebo itu adalah dosa, bahwa homoseks adalah dosa dan mereka tidak lagi benar-benar percaya pada penjelmaan. Ini dalah sesuatu yang mengerikan, kata Wilson.


Dalam dunia narsis yang dipenuhi sikap riya dan kepuasan instan, nilai-nilai dan hakekat keimanan bisa nampak usang. Cermin bagi semua umat beragama. Na’uzubillah…. 

23/11/14

AMERIKA: MUDA SEJAHTERA TUA MENDERITA?


AMERIKA: MUDA SEJAHTERA TUA MENDERITA?
Oleh: Jum’an

Rakyat adil makmur sentosa yang merupakan cita-tita kita bersama, insyalloh akan tercapai suatu saat nanti. Kelak rakyat akan merasa aman dan sejahtera, terpenuhi kebutuhan fisik dan mentalnya serta dihormati kedaulatannya. Orang tidak perlu lagi merasa takut akan kelaparan, penyakit dan kerusuhan. Generasi muda akan hidup penuh gairah sampai hari tua yang tenteram dan bahagia. Sementara kita masih merangkak untuk menuju kesana, mari kita mengintip betapa sejahteranya kehidupan mereka yang sudah sampai disana. Amerika! Ya Amerika. Negara Adidaya dan Adikuasa. Semuanya serba maju semuanya serba kesampaian. Menurut Legatum Prosperiy Index 2014 Amerika menempati ranking ke 10 dalam kesejahteraan global sementara Indonesia menempati nomor 71. Harapan hidup mereka pun lebih panjang daripada harapan hidup kita. Dengan kata lain, lantaran kesejahterannya mereka bisa hidup lebih lama dari kita. Kelebihan umur itu mereka nikmati untuk bertamasya ke pelosok-pelosok dunia atau berleha-leha di peristirahatan mereka. Alangkah senangnya bila bangsa kita adil makmur sentosa!

Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Umur panjang sebagai berkah kesejahteraan, bukannya tidak membawa beban ikutan. Anda yang masih muda dapat membuat daftar penyakit yang tidak satupun anda derita saat ini seperti: hipertensi, diabetes, katarak, radang sendi, keropos tulang, penyakit jantung, kanker, pikun dan buyutan. Kelak dihari tua, mereka akan antre atau berombongan menyambut kedatangan anda! Antara thn 2000 - 2050, jumlah orang Amerika yang berusia diatas 65 tahun diperkirakan akan meningkat sebesar 135%. Jumlah mereka yang lebih dari 85 tahun akan meningkat sebesar 350%. Meningkatnya jumlah manula membutuhkan perawatan yang mahal sementara mereka tidak lagi produktif. Mereka makin menurun kualitas hidup dan kemampuannya. Sekitar 10% dari orang Amerika yang berusia diatas 65 tahun (dan 30% dari yang berusia diatas 85) menderita penyakit Alzheimer.

Dr. Joanne Lynn M.D. adalah pakar geriatri yang terkenal dalam membantu pasien usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Membantu mereka untuk mendekati akhir hayat dengan kesadaran dan keyakinan yang lebih besar. Ia sering memulai ceramah-ceramahnya dengan menayakan apakah diantara hadirin ada yang ingin mati oleh penyakit kangker. Tak seorangpun. Apakah ada yang memilih mati karena serangan jantung. Ada yang mengacungkaan tangan satu atau dua orang. “Nah” katanya “ berarti semua yang lainnya ingin mati tua, proses yang panjang, lambat dan menyakitkan dengan penderitaan yang terus meningkat, kelemahan mental dan fisik, reyot dan pikun”. Penyakit yang  lebih menakutkan yang menunggu setelah seseorang mencapai usia 65 tahun, kecuali jantung dan kangker adalah penyakit-penyakit yang mempengaruhi kemampuan mental kita, termasuk Alzheimer dan demensia. Antara tahun 2000 dan 2010 saja, jumlah orang Amerika yang meninggal akibat Alzheimer meningkat 68%. Demensia adalah istilah untuk berbagai penyakit dan kondisi yang timbul ketika sel-sel saraf otak mati atau tidak berfungsi secara normal. Kerusakan saraf otak ini menyebabkan perubahan dalam memori, perilaku serta kemampuan untuk berpikir jernih. Pada penyakit Alzheimer, kerusakan di otak ini akhirnya merusak kemampuan individu untuk melaksanakan fungsi-fungsi dasar tubuh seperti berjalan dan menelan. Penyakit Alzheimer pada akhirnya fatal. Ini membuktikan bahwa mati tua belum tentu merupakan pilihan terbaik.

Tidak mengherankan bila generasi yang sedang menjelang lanjut usia bertanya-tanya: Bagaimana kalau kita sendiri yang membuat keputusan medis dan mengucapkan "selamat tinggal" untuk orang-orang tercinta sebelum kita pikun? Bagaimana kalau kita (mereka maksud saya) secara sukarela berhenti makan dan minum “Voluntarily Stopping Eating and Drinking”  (VSED). Dengan bantuan pengawasan staf medis, VSED dapat menjadi cara mudah untuk mengakhiri hidup seseorang. Biasanya setelah 5 sampai 20 hari, orang akan mati karena dehidrasi. Tentu saja ini ditentang oleh kelompok pro-life yang juga anti aborsi dan anti euthanasia (suntik mati) karena sama artinya dengan bunuh diri. Bahkan diskusi terbuka tentang VSED dikhawatirkan akan membuka jalan menuju pelecehan dan pemaksaan terhadap orang tua. Setan tentu sudah siap dengan skenarionya. Ini bukalah khas Amerika. Semua bangsa dinegeri maju akan panjang harapan hidupnya. Makin sejahtera, makin terjamin kesehatannya dan makin banyak manulanya. Kita pun sedang berlomba menuju kesana…..


13/11/14

APA SALAHNYA MEMBELI GINJAL?


APA SALAHNYA MEMBELI GINJAL?
Oleh: Jum’an

Para penyandang organ cangkokan biasanya membawa serta kenangan tragis mula kejadiannya sampai seumur hidup. Puji syukur ginjal cangkokan saya telah berumur 15 tahunn dan terasa sehat-sehat saja. Seseorang pernah secara tak langsung berpesan agar saya selalu ingat bahwa ginjal baru ini adalah milik orang lain dan saya tidak berhak untuk memiliki dan memanfaatkannya. Pesan yang bernada permusuhan dan menyakitkan hati tetapi menggambarkan pendapat sebagian orang yang meyakini bahwa mencangkok ginjal adalah tabu. Ada pula rekan yang mengisahkan tentang anak perempuannya yang ingin menjadi donor untuk ibunya yang difonis gagal ginjal dan perlu transplantasi. Tapi kata sang ayah: Jangan! Yang sehat biar tetap sehat sedangkan ibunya dapat dicarikan ginjal dari donor komersil. Masuk akal menurut saya. Anehnya cangkok ginjal juga telah menularkan tingkah laku yang kurang etis dalam keseharian saya sampai sekarang. Yaitu timbul perasaan gembira setiap kali mendengar suara kucuran air kencing sendiri waktu pipis di kloset. Saya selalu mendengarkannya sampai tuntas, tidak pernah saya hentikan ditengah dengan mengarahkan titik jatuhnya ke tepi kloset supaya suaranya terhenti. Rasanya seperti mendengar lagu mars untuk menyambut kemenangan melawan gagal ginjal dari tak bisa kencing total (kecuali dengan mencuci darah dengan mesin selama berjam-jam dan biaya jutaan) berganti ginjal baru dengan saringan yang lebih bersih dan lancar alirannya. Hati saya selalu tergeliat ceria mendengar bunyi pancuran yang pernah menghilang selama setahun ketika terpaksa menjalani cuci darah sebelum memutuskan untuk cangkok.

Banyak orang bertanya apa hukumnya cangkok ginjal menurut Islam. Hukum berzina, mencuri, membunuh mudah ditemukan karena sejak dulu orang sudah melakukannya; pasti tercantum dalam Qur’an. Tetapi cangkok ginjal, yang baru ada di abad 20 tidak demikian. Dari ulasan-ulasan yang pernah saya baca, semua disimpulkan dari ayat-ayat yang bersifat umum seperti hal membahayakan diri sendiri, menolong atau meyakiti orang lain. Sepembacaan saya para ulama cenderung membolehkan cangkok ginjal dengan syarat-syarat tertentu. Tetapi ketika sampai pada komersialisasi ginjal, pasien-turis dari negara kaya yang melakukan perjalanan untuk membeli ginjal orang miskin, semua umat beragama dan dunia kedokteran dengan aklamasi dan emosional menolak keras. Orang menganggap bahwa cangkok ginjal dan organ lain adalah mukjizat medis abad ke-20 yang telah menyelamatkan kehidupan jutaan pasien di seluruh dunia, sehingga orang jijik dan benci ketika mukjizat itu dinodai dengan jual beli illegal. Namun para dokter, ahli filsafat dan bio-etika terus bertanya-tanya mengapa reaksi orang begitu emosional ketika menyikapi cangkok ginjal dengan membayar? Apakah anggapan bahwa orang miskin akan menjadi korban? Atau mereka terlanjur yakin bahwa organ tubuh tidak boleh diperjual belikan? Atau karena menodai solidaritas kemanusiaan yang timbul dari menyumbangkan ginjal yang menyelamatkan kehidupan orang lain? Keberatan moral untuk membayar donor ginjal itu nampaknya tidak terbukti, seperti dterlihat dari hasil penelitian Univ. Pennsylvania dan Virginia Medical Center. Penelitian ini menunjukkan bahwa insentif uang meningkatkan persediaan organ untuk transplantasi tanpa mengeksploitasi masyarakat berpenghasilan rendah. Pengaruh uang bagi masyarakat miskin sama dengan bagi orang kaya. Efek tawaran uang $10 ribu kepada orang yang berpenghasilan $100 ribu tampak tidak berbeda jika ditawarkan kepada mereka yang berpenghasilan kurang dari $20 ribur. Ahli-ahli etika khawatir bahwa pembayaran akan menyebabkan donor lalai akan risiko kesehatan menyerahkan organ, tapi studi ini menunjukkan bahwa tidak demikian. Adapun solidaritas kemanusiaan dalam donasi ginjal tidak lagi merupakan isu karena kebutuhan dan persediaan ginjal makin tidak seimbang sampai ketahap berebut. Di Amerika saja pada akhir 2010 hampir 100 ribu orang menunggu transplantasi ginjal dan terus bertambah sementara sekitar 4000 orang meninggal setiap tahun karena menunggu alokasi ginjal. Mengapa hasil penelitian diatas membantah keberatan moral sebagai alasan penolakan jual beli ginjal? Janet Radcliffe pakar Etika Praktis dari Univ. Oxford menduga mungkin reaksi awal terhadap perdagangan organ disebabkan oleh sesuatu yang lain dari etika, misalnya dari kebingungan batin kita.


Bagaimana reaksi anda tentang penawaran ini: “Jika saya beri anda uang 150 juta, maukah anda memberikan satu ginjal anda kepada saya? Satu buah saja. Anda kan punya dua buah padahal sebenarnya anda hanya perlu satu saja untuk tetap hidup sehat. Saya akan menangung semua biaya operasi serta pemulihan selama di Rumah Sakit. Anda hanya diminta membiarkan dokter mengoperasi untuk mengambil satu ginjal dari perut anda. Anda akan menyelamatkan sebuah kehidupan. Anda memberikan sebuah mukjizat. Dan anda mempunyai uang tambahan 150 juta; bisa untuk apa saja.” Sekilas mirip win-win solution bukan? Tetapi bagaimana membandingkan manfaat uang 150 juta dengan ketakutan ketika anda dibaringkan diatas meja operasi dengan segala risikonya? Bagaimanapun jual beli ginjal (kompensasi donor) sudah ada pasarnya. Sebuah tim peleliti dari Kanada menyebutkan pada 2013 harga optimal sebuah ginjal di pasar Amerika adalah 10 ribu dolar. Tetapi Arthur Chaplan, pakar bioetika dari Univ. New York menulis bahwa meskipun 40% orang Amerika yang disurvei bersedia  menyumbangkan ginjal asalkan harganya pas, tidak ada jaminan bahwa persediaan ginjal akan meningkat……….. " Di London pada 1989, empat orang Turki membayar Dokter Raymond Crockett masing-masing 6000 dolar untuk memperoleh ginjal untuk keluarga mereka, yang kemudian menggegerkan dunia kedokteran saat itu sehingga Inggris menerbitkan Human Organ Transplants Act yang mengenakan sangsi berat pada dokter yang berpartisipasi dalam transplantasi komersial.