26/10/13

MADONNA, KABBALAH DAN ALQUR'AN


MADONNA, KABBALAH DAN ALQUR’AN
Oleh: Jum’an

Anda pasti tahu siapa itu Madonna: Super Star & Queen of Pop Amerika yang nama aslinya Madonna Louise Ciccone (55 th). Guiness World Records menjulukinya artis rekaman wanita terlaris sepanjang masa dan majalah Time menobatkannya sebagai satu dari 25 Wanita Paling Berpengaruh dalam musik kontemporer dan rocker wanita terlaris abad 20. Kisah hidup Madonna yang profesi lengkapnya sebagai penyanyi, penari, pengarang lagu, penulis, aktris, sutradara, pengusaha dan dermawan, menarik untuk dibaca karena penuh keberanian, kontroverisial, bandel dan inspiratif. Dalam essainya untuk majalah Harper’s Bazaar ia menyatakan tak ada gunanya hidup di bumi ini kalau dia tidak berani dalam menjalani hidup dan pekerjaannya. Memang terdengar ekstrim, tetapi dari pengalaman masa remajanya ia sudah menengarai bahwa ada dua kategori manusia; yaitu mereka yang hidup mengikuti kebiasaan dan bermain aman, dan orang-orang yang menentang tradisi dan berkiprah menurut iramanya sendiri. Ia memilih masuk ke kategori yang kedua. Bulu ketiaknya tidak dicukur dan ia tidak mau memakai make-up sebagimana gadis-gadis sebayanya. Karena itu ia tidak disukai oleh laki-laki dan tidak punya banyak teman; orang enggan untuk mendekatinya. Tapi itu membawa hikmah: dengan tidak populer dan tidak bersosialisasi, banyak waktu untuk fokus pada masa depannya. Iapun berangkat pindah ke New York untuk mengejar cita-cita menjadi seniman sejati. Ternyata New York tidak menyambutnya dengan ramah.  Tahun pertama ia ditodong orang bersenjata, diperkosa diatap sebuah gedung dan tiga kali dirampok. Kebisingan lalu lintas dan arus manusia mengejutkan urat syaraf. Muak oleh bau kencing dan muntah dimana-mana terutama ditangga masuk apartemennya. Gelandangan dipojok-pojok jalan; ia tidak menduga sebelumnya. Kadang-kadang ia menangis dikamarnya sambil memandangi burung-burung merpati berak dijendela. Tetapi ia berhasil mengerahkan tenaga dan menyatukan tekad untuk bertahan. Kalau orang lain bisa sayapun pasti bisa; begitu semboyannya. Sebagai bintang pop pada usia 25, ia lebih berani, eksentrik dan provokatif. Ia memakai seombyok kalung salib dilehernya dan kalau ditanya wartawan ia menjawab alasannya karena Yesus baginya sexy. Sebenarnya juga untuk menyulut provokasi. Ia memang senang memprovokasi karena itu “sudah ada dalam DNA-nya. Tetapi hampir selalu ada alasannya” katanya. Pada usia 35 ia merasa perlu meningkatkan dirinya dan mulai mencari makna dari tujuan hidup yang sebenarnya. Ia ingin menjadi seorang ibu, tapi ia menyadari bahwa sebagai pemuja kebebasan mungkin tidak memenuhi syarat untuk membesarkan anak dengan baik. Ia memutuskan untuk mencari pegangan rohani.

Meskipun Madonna dilahirkan dan beragama Katolik, ia memilih untuk bergabung dengan aliran spiritual Kabbalah, sebuah tradisi agama Yahudi yang berasal dari pandangan mistik dan wahyu kitab Taurat. Keputusan yang membangkitkan kegusaran orang banyak itu dilakukannya pada 1996 ketika ia berusia 38 tahun. Ketika dunia tahu saya belajar Kabbalah –tulisnya dalam Harper’s Bazaar, saya dtiuduh menganut aliran sesat, dicuci otak, menyerahkan semua uang saya dan tuduhan gila lainnya. Tradisi Kabbalah begitu rumit dan mudah disalah-fahami. Untuk menganutnya diperlukan pengetahuan hukum Yahudi yang kuat dan hanya untuk mereka yang berusia diatas 40 tahun. Diperlukan disiplin dalam studi mistis, doa dan meditasi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi Madonna mendalami tafsir mistik dari Perjanjian Lama (Taurat) dan memahami rahasia alam semesta bukanlah hal yang berbahaya dan tidak menyakiti siapapun. Saya hanya mencoba berusaha menjadi orang yang lebih baik. Hidup tidak lagi terasa seperti rangkaian peristiwa acak. Semuanya nampak tertata. Saya melihat bahwa menjadi kaya dan terkenal tidak akan memberi kepuasan abadi dan bukan akhir perjalanan. Sekarang, pada usia 55 dan tetap tenar, ia menjanda dengan 4 anak tinggal di New York. Ia mendidik anak-anaknya untuk befikir terbuka dan berani memilih melakukan sesuatu yang benar untuk dilakukan, bukan karena mengikuti orang lain.


Bukan Madonna kalau hanya sejauh itu keberaniannya. Sekarang ia menjalin asmara  dengan Brahim Zaibat, penari usia 25 tahun keturunan Aljazair yang beragama Islam. Diam-diam membuat kehebohan baru. Madonna mulai mempelajari Al-Qur’an. Dia juga membangun sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan mempelajari Qur’an di Negara-negara Islam seperti Pakistan dan Afganistan. “Saya pikir mempelajari semua kitab suci adalah penting. Saya setuju dengan kata teman saya, seorang Muslim yang baik adalah seorang Yahudi yang baik dan seorang Yahudi yang baik adalah seorang Kristen yang baik.” Para pengamat mengkritik Madonna karena menganggap enteng dan bermain-main dengan agama. Dan bahwa minatnya lebih terinspirasi oleh hubungan asmaranya dengan Brahim Zaibat daripada oleh keyakinannya. Pengamat yang lebih pemaaf mengatakan bahwa pernyataan dan tindakan Madonna merupakan langkah signifikan menuju literasi dan toleransi beragama. Madonna yang mengatakan bahwa gagasan berani sudah menjadi norma dalam hidupnya tahu bahwa perubahan besar dan peralihan dalam hidupnya nampak berani bagi penggemarnya. Madonna menjadi wanita yang sangat langka: seorang super-star yang akrab dengan kitab suci tiga agama samawi yaitu Injil, Taurat dan Al-Qur’an. Tidak banyak orang seperti dia. Tahun lalu ia mengunjungi masjid Ayasofia di Istanbul,Turki bersama Brahim Zaibat. Senang rasanya saya membayangkan Madonna berkerudung menghadiri pengajian! Tetapi kalau gagal masuk Islam, Allah juga tidak rugi………… 

13/10/13

GEORGE BUSH MELAWAN YA'JUJ DAN MA'JUJ


GEORGE BUSH MELAWAN YA’JUJ DAN MA’JUJ
Oleh: Jum’an

Umat Islam, umat Nasrani, Yahudi dan bahkan penganut Zoroaster sama-sama mengenal fenomena tentang Ya’juj dan Ma’juj (yang dalam bahasa Inggris disebut Gog dan Magog) yaitu suatu bangsa yang akan muncul di akhir zaman yang merusak dan menghancurkan kehidupan dimuka bumi. Ya’juj dan Ma’juj disebut-sebut dalam Alqur’an, Kitab Perjanjian Baru dan Kitab Perjanjian Lama. Jadi sebagai gambaran, baik Mahmoud Ahmadinejad, Benyamin Netanyahu, George Bush maupun Saddam Hussein sama-sama mengenal sosok Ja’juj dan Ma’juj. George Bush? Presiden Amerika yang tanpa alasan mendasar menyerbu dan menyengsarakan rakyat Irak sampai sekarang?  Ya! Seberapa tahu dia tentang Ya’juj dan Ma’juj? Ketika ditanya tentang keyakinan agama dan keputusannya untuk mencalonkan diri menjadi Presiden pada 2001, Bush membuat testimoni bahwa ia telah diselamatkan Tuhan (terlahir kembali) sebagai seorang Kristen yang taat pada usia 40. Bahkan dia adalah satu-satunya dari lima tokoh diatas yang terang-terangan menyataan bahwa Tuhan memeritahkan dirinya untuk menggagalkan sepak-terjang Ya’juj dan Ma’juj.

Tahun 1995 James Haught dari The Charleston Gazette menulis berita berjudul “A French Revelation, orThe Burning Bush” yang oleh The Toronto Star (Kanada) disebut “lebih aneh dari cerita fiksi”.  Koran Swiss juga menulis berita sarkastis berjudul “Ketika Presiden Bush melihat datangnya Ramalan Injil”.  Konon ketika George Bush sedang menyusun koalisi untuk menyerbu Irak awal 2003, ia menilpun Presiden Perancis Jacques Chirac meminta agar pasukan Perancis ikut bergabung dengan Amerika menyerang Irak kerena invasi itu merupakan misi dari Tuhan. Sesudah Jacques Chirac tidak lagi menjabat Presiden, ia menceritakan bahwa Bush mengatakan kepadanya: “Gog dan Magog sedang meraja-lela di Timur Tengah… Ramalan Injil telah datang… Perang ini (penyerangan Irak) adalah kehendak Tuhan untuk memusnahkan musuh umat-Nya sebelum Zaman Baru dimulai.” Chirac mengatakan terbelalak dan bertanya-tanya bagaimana seorang Presiden Amerika bisa begitu fanatik dan dangkal keyakinannya.  Chirac-pun menolak ajakan Bush. Sebaliknya ia minta theolog Dr. Thomas Romer, untuk menganalisa ajakan aneh itu. Romer menjelaskan, dalam Kitab Perjanjian Lama Yehezkiel dikisahkan bahwa Tuhan murka kepada Gog dan Magog, kekuatan misterius dan menakutkan yang mengancam Israel. Tuhan bersumpah untuk membantai mereka tanpa ampun. Pada 2007 Romer menuliskan perilaku aneh Bush itu dalam majalah resmi Universitas Lausanne Perancis. Mantan Presiden Chirac juga menegaskan kembali peristiwa sinting itu dalam wawancara panjang dengan jurnalis Jean-Claude Maurice yang kemudian dituangkan dalam bukunya “Si Vous le Repetes, Je Dementirai” (If You Repeat, I Will Deny).

Bukan hanya kali itu Bush menunjukkan fanatisme yang kelewatan. Pada 2005 The Guardian Inggris mengutip kalimat-kalimat Bush kepada Menteri Luar Negeri Palestina Nabil Shaath: “Saya didorong oleh misi dari Tuhan. Tuhan memberitahu saya ‘George, lawanlah teroris di Afganistan. Dan saya kerjakan. Tuhan memberitahu saya ‘George, berangkat dan akhiri tirani di Irak’. Dan saya lakukan” Bush mengungkapkan betapa dalam semangat agamanya itu kepada delegasi KTT Israel-Palestina di Shram el-Sheikh Mesir, 4 bulan setelah perang Irak dimulai pada 2003. “Dan sekarang, sekali lagi, saya merasa Tuhan mengatakan kepada saya, ‘George, pergilah perjuangkan Negara Palesina dan keamanan untuk Israel, dan perdamaian di Timur Tengah.’ Dan demi Tuhan saya akan melakukannya. Begitulah … George Bush merasa mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk melawan Gog dan Magog yang dalam persepsinya tidak lain adalah dengan Afganistan dan Irak.

Majalah GQ Magazine pada Maret 2009 mengungkap bahwa Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld biasa menyertakan ayat-ayat injil yang bernada perang dan kiamat bersama foto-foto pertempuran dari Irak dalam briefing intelejen hariannya kepada Bush. Satu diantaranya: “Pakailah seluruh perlengkapan dari Allah, sehingga ketika hari malapetaka datang, anda akan dapat berdiri Tegak!”  Menurut James Haught, Presiden Bush memang gila agama, mantan pemabok berpikiran sempit yang mengaku telah diselamatkan Tuhan. Dia tidak sepantasnya dipercaya memegang posisi untuk memulai peperangan.

Dalih resmi George Bush menyerang Irak ternyata tidak berdasar.  Irak tidak mempunyai senjata pemusnah massal, tergabung dengan barisan teroris seperti diduga oleh Gedung Putihpun tidak terbukti. Jadi apa? Mau menguasai minyak Irak? Melindungi Israel? Atau melampiaskan dendam ayahnya (Presiden AS 89-93) pada Saddam Husein? Sulit dibantah bahwa salah satu penyebab perang Irak yang tak terkira besar akibatnya itu, adalah fanatisme Bush yang berlebihan dengan persepsinya yang kerdil tentang hari kiamat serta Ya’juj dan Ma’juj.

05/10/13

MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH


MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH
Oleh: Jum’an

Ya! Menikahlah mumpung kiamat masih jauh. Insyaallah anak-anak, cucu dan cicit anda kelak masih dapat menikmati hidup sejahtera sampai tua. Semoga untuk seterusnya, setidak-tidaknya untuk waktu yang cukup lama.  Andapun semoga akan meninggal ketika tidur pada usia lanjut dengan tenang dan khusnul khotimah. Seandainya anda tahu bahwa dunia akan mengalami kiamat sebulan sesudah anda meninggal, apakah anda masih tetap mau menikah?  Menikahlah karena menikah itu sunnatullah; tetapi anda sadar bahwa dunia dan seisinya akan hancur lebur sebulan sesudah anda dikubur. Saat itu mungkin anak anda sedang berpraktek sebagai dokter atau menjadi guru, sedangkan cucu-cucu anda masih bersekolah. Tiba-tiba mereka dan semua manusia didunia mengalami bencana kiamat yang sangat mengerikan. Gempa 10 skala Richter, ombak setinggi pohon kelapa. Tidakkah anda merasa kasihan membayangkan anak-anak dan cucu anda dilanda tsunami atau tertimbun gunung longsor karena bumi yang memuntahkan isinya? Tidak mungkin tidak, hati menjadi kecut membayangkannya. Siapa yang sanggup hidup dengan kesadaran akan meninggal dengan tenang waktu tidur, semenatara sebulan kemudian anak-anak dan cucunya sekarat tercekik disergap maut. Makin tak berselera rasanya membayangkan kemesraan hidup berkeluarga. Lebih layak kalau anda tidak punya anak, tidak punya cucu atau tidak menikah sama sekali karena mungkin istri anda baru akan meninggal beberapa tahun sesudah anda sehingga iapun ikut terseret oleh bencana yang menakutkan itu. Mungkin sebaiknya anda batalkan saja niat pernikahan anda daripada selalu cemas nantinya.

Ya tetapi itu kan hanya seandainya. Kalau kiamat betul terjadi sebulan sesudah anda meningggal. Tetapi juga, itu berarti bahwa anda hanya dapat menikah dan hidup bahagia berdasar asumsi bahwa setelah anda mati, kehidupan orang lain akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama. Diam-diam kita sangat memerlukan agar orang-orang lain hidup terus jika kita sudah mati nanti. Kebahagiaan kita sekarang tergantung pada keselamatan orang lain kelak sesudah kita tidak ada. Mungkin kecintaan kepada keluarga yang menyebabkan anda merasa tergantung pada keselamatan masa depan mereka. Dengan kata lain, keyakinan bahwa orang lain akan tetap hidup sesudah kematian kita merupakan jaminan kelangsungan hidup kita saat ini.

Mari kita buat seandainya yang lain, bukan kiamat sebulan sesudah anda meninggal. Tetapi seandainya kecerobohan manusia menggunakan ilmu pengetahuannya seperti rekayasa genetika, penggunaan tenaga nuklir atau apapun, menyebabkan kemandulan yang yak dapat disembuhkan pada manusia. Sejak saat itu tak ada lagi bayi lahir. Enam tahun kemudian semua sekolah TK terpaksa ditutup kerena semua anak yang ada diseluruh dunia sudah lulus TK nol besar. Enam tahun kemudian semua SD terpaksa ditutup karena tidak ada murid baru. Begitu seterusnya sehingga sehingga sekitar 20 tahun sejak terjadinya bencana kemandulan, semua fasilitas pendidikan tidak aktif lagi. Tak ada lagi Balita, tak ada lagi ABG tak ada ceria dan tangis anak-anak, tak ada lagi canda seronok anak-anak muda. Tak ada lagi orang yang baru; kitalah generasi terakhir manusia. Bayangkan kalau orang yang termuda disekitar kita umurnya 30 tahun, tidak ada lagi yang lebih muda. Semua bersama-sama menua, rapuh dan lemah lalu punah. Meskipun hewan dan tumbuh-tumbuhan masih tetap hidup. Untuk mengatasi kesedihan, kecemasan dan keputus-asaan yang terjadi mungkin sebagian orang mengisi sisa hidupnya dengan mencari kesenangan duniawi sepuas mungkin. Makan, sex, wisata serta bersenang-senang bersama keluarga. Yang lain memilih berkutat dengan urusan ukhrowi, khusuk beribadah, beramal dan pasrah kepada Gusti Alloh. Imajinasi tentang kemandulan global ini meyadarkan kita bahwa tidak adanya generasi yang baru membuat banyak hal terasa sia-sia. Meskipun tidak cemas oleh anak cucu kita yang teriksa, kita cemas semata-mata karena tidak orang-orang baru yang muncul. Bahwa semua orang tergantung pada keberadaan orang lain yang akan datang. 

Dari dua bayangan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan generasi anak-cucu sungguh penting. Sekarang saja, sebelum mereka lahir, kita sudah diberiya persekot berupa jaminan kelangsungan dan ketenagan hidup. Kepedulian kita terhadap mereka bukan saja merupakan misi melanjutkan keturunan, tetapi juga sebagai kompensasi atas jasa mereka yang sudah kita terima terlebih dulu. Maka sudah selayaknya kita berusaha melempangkan jalan untuk menyongsong kedatangan mereka. Jangan mengotori udara, jangan membabat hutan, jangan mencemari alam karena akan menyulitkan masa depan mereka kelak. Bahkan sesudah lama kita tidak ada, doa mereka masih dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak.


29/09/13

WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?


WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?
Oleh: Jum’an

Tahun 1961 Dr. Stanley Milgram dari Yale University mengadakan eksperimen yang sangat terkenal tentang Ketaatan Orang Kepada Otoritas. Eksperimen itu dengan meyakinkan membuktikan bahwa mayoritas orang biasa, laki-laki maupun perempuan, dapat berbuat keji yang diluar dugaan hanya dengan alasan sesuai perintah, hormat kepada atasan, sesuai prosedur dsb.  Letnan Gestapo Adolf Eichmann yang membantai ribuan kaum Yahudi di kamar-kamar gas di Auschwitz Austria, didepan pengadilan maupun dalam buku memoirnya menyatakan: “Saya sama sekali tidak menyesal.” Hannah Arendt dalam bukunya “Eichmann in Jerusalem” mencoba membuktikan bahwa Adolf Eichmann bukanlah seorang monster sadis melainkan sekedar seorang birokrat yang taat memenuhi kewajibannya.  Dalam blog saya (KITA RAJA TEGA) banyak saya kutipkan contohnya. Ini membuktikan betapa ketaatan kita kepada otoritas (kekuasaan yg sah dan berwenang) dapat memembuat kita mengkhianati nilai-nilai moral.

Bradley Manning (yang sejak 22-8-2013 berganti nama menjadi Chelsea Manning) adalah tentara Amerika yang pada bulan Agustus lalu dijatuhi hukuman penjara 35 tahun karena menjadi whistleblower membocorkan dokumen rahasia Departemen Pertahanan dan Negara ketika ia bertugas di Irak sebagai analis intelejen. Ia merasa terpanggil untuk melawan aturan aturan internal birokrasi. Dalam pengadilan dia menggambarkan salah satu kasus yang dialaminya. Pada Februari 2010, ia menerima laporan bahwa Polisi Federal Irak menahan 15 orang karena mencetak tulisan-tulisan "anti-Irak". Setelah diteliti, Manning menemukan bahwa tak satupun dari 15 orang itu pernah memiliki hubungan dengan tindakan anti-Irak atau dicurigai sebagai anggota organisasi teroris. Manning lalu menyuruh tulisan yg diduga anti-Irak diterjemahkan dan ternyata bahwa, berbeda keterangan polisi federal, tulisan yang dikatakan anti-Irak adalah data-data korupsi rinci dalam kabinet pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan dampaknya pada rakyat Irak. Ketika ia melaporkan temuan ini kepada perwira yang bertanggung jawab, dia diberitahu untuk tutup mulut saja. Manning tidak bisa bermain bersama. Dia mengatakan, dia tahu jika dia terus membantu Polisi Federal Baghdad mengidentifikasi lawan politik Perdana Menteri al-Maliki, orang-orang-orang itu akan ditangkap dan dalam tahanan Unit Khusus Kepolisian Federal Baghdad, sangat mungkin disiksa dan tidak terlihat lagi untuk waktu yang lama – atau dibunuh. Ketika atasannya tidak mau mengatasi masalah tersebut, ia memutuskan memberikan informasi ini kepada WikiLeaks. Untuk tindakannya itu ia diganjar 35 tahun penjara dan dipecat dengan tidak hormat. Padahal prajurit umur 25 tahun itu menyandang berbagai tanda jasa: National Defense Service Medal, Iraq Campaign Medal, Global War on Terrorism Service Medal, Army Service Ribbon dan Armmy Overseas Service Ribbon.

Edward Snowden (29 th) adalah whistleblower pembocor rahasia program penyadapan oleh Pemerintah Amerika. Yaitu penyadapan telepon rakyat AS untuk memantau kemungkinan adanya terroris dari luar negeri menghubungi orang di Amerika. Dan Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan FBI yang menyadap jaringan internet untuk memantau aktifitas yang mencurigakan dari luar negeri. Snowden merasa bahwa, menghadapi apa yang jelas salah, ia tidak bisa berperan dengan baik dalam birokrasi dari komunitas intelijen. Ia mengatakan: “Membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang disini sudah merupakan pekerjaan biasa, orang cenderung tidak menganggapnya serius dan mengalihkan perhatian mereka. Tapi lama-lama kesadaran akan kesalahan seperti itu terus menumpuk dan anda merasa terdorong untuk berbicara. Semakin anda berbicara, semakin anda diabaikan. Semakin Anda diberitahu itu bukan masalah, sampai akhirnya anda menyadari bahwa hal-hal ini perlu ditentukan oleh masyarakat dan bukan oleh seseorang yang hanya disewa oleh pemerintah.” Birokrasi menyuruh dia tutup mulut dan mengabaikan tapi Snowden merasa bahwa hal tersebut adalah salah secara moral.

Pihak-pihak yang menyalahkan Snowden sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut masalah moral yang menurut Manning dan Snowden (bagaiman menurut anda?) adalah penting. Mereka hanya menggunakan alasan seperti: "Agar masyarakat berjalan dengan baik, harus ada landasan dasar kepercayaan dan kerjasama, rasa hormat pada lembaga dan menghormati prosedur umum. Dengan memutuskan secara sepihak membocorkan rahasia dokumen NSA, Snowden telah mengkhianati semua ini."
“Tujuan saya untuk memberi tahu rakyat Amerika tentang hal-hal yang dilakukan atas nama mereka, dan tindakan-tindakan yang akan merugikan mereka.” kata Snowden.


Umumnya komentator pemerintah berpendapat bahwa semua aktor ini perlu dibawa ke pengadilan, sementara komentator independen cenderung mendukung. Jajak pendapat Majalah Time baru-baru ini menunjukkan bahwa 70% dari generasi usia 18 – 34 tahun percaya bahwa “Snowden telah melakukan hal yang baik”. Apakah ini berarti generasi muda telah kehilangan arah? Menurut Peter Ludlow professor filsafat dari Northwestern Univ. dalam blognya “The Banality of Systemic Evil” generasi muda tidak kehilangan arah tetapi justru sebaliknya. Jelas, ada prinsip moral yang mendasari tindakan para whistleblower itu. Menurut Ludlow prinsip moral telah jelas diartikulasikan, dan itu justru dapat menyelamatkan masyarakat dari masa depan yang sangat buruk. Jadi, pengkhianat atau pahlawankah seorang whistleblower? Apa dosanya?

23/09/13

TERSANDERA OLEH TENGGANG RASA


TERSANDERA OLEH TENGGANG RASA
Oleh: Jum’an
Menghargai perasaan orang lain atau bertenggang rasa adalah baik dan perlu demi kelancaran hubungan sesama kita. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya dan tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya sendiri. Kita tidak dapat menyadari identitas kita kecuali melalui kehidupan bermasyarakatl. Dalam Video eksperimen Dr. Tronick: “Still Face”  ini, anak umur 1 tahun jelas dapat merasakan perubahan ekspresi wajah ibunya. Ia gelisah dan menangis ketika ibunya tidak menanggapi perasannya. Ini mungkin bakat yang diberikan Sang Pencipta sebagai bekal pertahanan dan perkembangan hidupnya nanti. Meskipun tenggang rasa adalah baik dan manusiawi kita tidak mungkin untuk selalu menyenangkan hati orang lain. Ada saatnya kita harus mengatakan tidak, karena masing-masing kita memiliki batas-batas kepribadian sendiri . Yaitu aturan dan prinsip tentang apa yang kita anggap boleh atau tidak boleh untuk dilakukan, meliputi masalah  fisik, mental, emosiaonal dll. Batas-batas emosional misalnya, membedakan dan memisahkan emosi dan tanggung jawab kita dari emosi dan tanggung jawab orang lain. Seperti garis imajiner atau medan kekuatan yang memisahkan kita dengan orang lain. Batas batas emosional yang sehat membuat kita tidak seenaknya menasehati, menyalahkan atau menerima kesalahan orang lain. Melindungi kita dari perasaan bersalah karena perasaan negatif atau masalah orang lain. Jika kita kesulitan untuk mengatakan tidak dengan alasan tenggang rasa ketika kita terganggu oleh tuntutan orang, merasa dikendalikan, dilecehkan, atau bahkan dipaksa menerima kebaikan, adalah tanggung jawab kita untuk ber-reaksi. Tenggang rasa dapat berubah menjadi kurang baik dan merusak, bahkan menyandera kita. Ada dua penyebab mengapa kita dapat dikendalikan oleh perasaan orang lain yang menyebabkan kita merasa tersandera.
Pertama bila orang lain memiliki batas-batas kepribadian yang buruk dan sengaja mengharapkan kita merasa bertanggung jawab atas perasaan negatifnya, untuk selalu merasakan apa yang dia rasakan. Kalau ia dongkol, kita tidak boleh bercanda dan kalau dia senang dia tak mau mengerti mengapa kita bisa bersedih. Mereka umumnya adalah orang-orang yang narsistis atau penderita gangguan kepribadian (Borderline Personality Disorder - BPD). Mereka mungkin dengan aktif berusaha untuk memanipulasi kita dengan perasaan mereka. Mereka menyalahkan dan menuduh kita tidak sensitif terhadap kebutuhan mereka, mereka melemparkan persoalan-persoalan mereka pada kita, bahkan mereka mengancam mau bunuh diri. Mereka mencari penyaluran bagi penderitaannya sendiri.
Yang kedua bila batas-batas kepribadian kita sendiri yang lemah dan tidak sehat. Kita menjadi seperti karet busa atau spons yang menyerap air comberan sekalipun. Kita terbiasa menyerap dan menghayati perasaan orang lain seolah-olah perasaan kita sendiri. Tidak peduli apakah orang lain itu baik atau buruk- kita sangat terpengaruh oleh suasana hati mereka dan kita menghisap semuanya seperti spons menghisap air. Banyak penyebab mengapa seseorang bisa menjadi seperti spons. Umumnya (tetapi tidak selalu), mereka memiliki orang tua dengan gangguan kepribadian, narsistis, pemabuk, atau orang tua yang kasar yang suasana hatinya sangat tidak stabil. Lama-lama anak tersebut merasa dia "bertanggung jawab" atas perilaku dan perasaan orang tuanya. Dia bisa menghabiskan masa dewasanya mencoba untuk menyenangkan orang lain, dan menghambakan diri pada perasaan orang lain, meskipun orang lain itu tidak bermaksud memperbudak atau menyanderanya! Wajah seorang pimpinan mampak kurang ceria mungkin habis bertengkar dengan isterinya dirumah. Kita merasa khawatir dan berdebar-debar mendengar dan menanggapi kata-katanya, kita mengambil alih ketidak-senangannya seolah-olah itu tanggung jawab kita.
Apa yang dapat kita lakukan untuk memperkuat batas-batas kepribadian kita guna menghadapi para penyandera? Richard Zwolinski (Standing Up ForYou With An Emotional Hostage Taker) memberkan beberapa tips, sebagian diantaranya:

Pertama, kita perlu menegaskan pada diri sendiri: “Saya bukan Dia.” Saya bertanggung jawab untuk perasaan saya sendiri; saya tak bertanggung jawab atas perasaan orang lain (dengan asumsi bahwa kita tidak menghina, mengabaikan atau melecehkan orang lain). Saya tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang-orang yang menguras saya. Saya mampu menangani perasaan sendiri. Kedua, kumpulkan tekad dan kekuatan untuk mengucapkan ini pada orang yang mengganggu kita: “Saya bukan karung tinju sasaran emosional anda. Keruwetan anda adalah urusan anda bukan urusan saya.” Disisi lain, kita harus memahami perbedaan antara penyanderaan dan keluhan yang wajar. Mungkin mereka mempunyai alasan yang sah untuk minta kita bertanggung jawab atas tindakan yang telah kita lakukan. Jika seseorang yang secara umum baik mengeluh tentang perilaku kita yang menurutnya berbahaya atau menyakitkan hati, tetaplah terbuka dan positif, mendengarkan keluhan mereka, dan mengatasinya. Sisihkan ego kita dan minta maaf dan mencoba untuk memperbaiki. Kita juga bisa salah.

13/09/13

SISI GELAPKU TAKTERKALAHKAN


SISI GELAPKU TAK TERKALAHKAN
Oleh: Jum’an

Entah sudah berapa puluh tahun, hampir dapat dikatakan sepanjang hayat saya berjuang melawan nafsu tetapi tidak pernah berhasil mengalahkannya. Sampai seusia ini masih saja berperilaku tidak sehat. Tidak mampu menghentikan berpura-pura, makin canggih dalam berbohong dan cenderung berprasangka tidak baik terhadap orang lain. Belum lagi kebiasaan menghindar dari tanggung jawab, merasa paling benar sendiri dan masih banyak lagi yang kalau saya ceritakan semua, habislah saya. Padahal saya selalu berikhtiar dan berdoa agar akhlak saya makin hari makin baik. Mungkin terlalu saya dramatisir. Mungkin saya yang kurang gigih berusaha dan kurang khusyuk berdoa, tetapi saya jelas merasakan bahwa nafsu jahat atau sisi gelap jiwa saya bukanlah lawan  yang enteng dan sembarangan. Ia terlalu kuat untuk dapat dikalahkan. Ia menghadapi serangan saya dengan senjata dan strategi yang berbeda sama sekali. Saya merasa seperti bertinju melawan penyihir. Saya menyerangnya secara frontal tetapi ia menyelinap dan merangkul saya dari belakang. Ia menempel, merasuk dan lengket dibagian bawah sadar saya, mencari hal-hal yang buruk dan menghipnotis saya untuk mengerjakannya. Dikondisikannya saya untuk terus menerus kembali melakukan hal-hal yang tidak sehat yang megakibatkan citra saya menjadi buruk dan hidup saya tidak menyenangkan. Semula saya menyangka bahwa sisi gelap itu hanyalah sekedar tabir hitam yang diam yang menghalangi pandangan saya dari melihat dan melakukan kebaikan, yang kalau saya bacakan a’zubillahi minassyaitonirrojim pasti akan tersingkap menyingkir.  Ternyata bukan dan tidak. Ia lebih mirip dengan makhluk hidup yang aktif, bahkan giat dan merangsek saya untuk mengulangi perbuatan-perbuatan yang saya sudah tahu bahayanya dan saya bakal menyesalinya.  Dengan kata lain ia berusaha menyabot program hidup saya tanpa peduli dengan nama baik maupun dosa yang harus saya tanggung. Pokoknya ia besikeras agar saya mengekspresikan diri melalui hal-hal yang negatip.
Padahal rasanya nilai saya diatas rata-rata dan sangat layak untuk menjadi seorang karyawan yang produktif, cekatan, rajin dan berdisiplin. Tetapi sisi gelap jiwa saya telah menjegalnya menjadi hanya seorang karyawan yang loyo, tidak bertanggung jawab, lamban dan suka mangkir. Dimanjakannya saya dengan tidur larut malam, bangun kesiangan dan memulai jam kantor dengan kelayapan dipelosok-pelosok internet belama-lama. Itu hanya satu dari banyak jenis sabotase yang mengakibatkan hidup saya tidak menyenangkan dan tidak disukai orang. Diyakinkannya saya bahwa bermalas-malas dan memuaskan nafsu adalah hak asasi saya.  Saya merasa terjebak, tidak punya pilihan dan kendali atas perilaku saya sendiri dan merasa tergantung pada belas kasihannya, meskipun saya harus mengakui bahwa itu berasal dari dalam pikiran saya sendiri. Saya benar-benar merasa dikhianati oleh diri sendiri.
Saya ingin hidup layak: bekerja mencari nafkah, beribadah, menghormati dan dihormati oleh orang lain, berbuat baik untuk sesama, hidup lebih sederhana serta makan-minum, olah raga dan tidur yang teratur. Tetapi sisi gelap saya tidak peduli dengan semua ini. Ia ingin agar saya tampil sebaliknya sebagai sosok yang terpuruk, sial dan tidak berharga. Kalau ada kebaikan yang masih dapat saya lakukan, saya melakukannnya tanpa gairah, sehingga jangan-jangan tidak ada pahalanya. Pertempuran antara keinginan untuk hidup bahagia atau tunduk pada rayuan sisi gelap yang merasuki bawah sadar ini menjadikian hidup terasa begitu melelahkan.

Tetapi saya tidak percaya bahwa nafsu jahat tak terkalahkan. Setan hanya bisa menggoda dan tidak bisa memaksa. Dan manusia, saya dan anda, mempunyai kekuatan luar biasa yang baru sebagian kecil yang kita manfaatkan. Bila anda mempunyai sisi gelap seperti saya, selamat berjuang untuk membersihkan tabir hitam yang lengket dibawh sadar anda

01/09/13

PENGEMIS JALANAN SEBAIKNYA KITA APAKAN


PENGEMIS JALANAN SEBAIKNYA KITA APAKAN
Oleh: Jum’an

Konon dalam bukunya “Thus Spoke Zarathustra”, Friedrich Nietzsche tokoh eksistensialis Jerman abad 19 yang ateistis menulis bahwa pengemis itu seharusnya ditiadakan karena serba menjengkelkan: diberi salah tidak diberi juga salah. Pengemis memang idealnya jangan sampai ada; bukan karena mereka menjengkelkan, tapi karena mereka merupakan bukti nyata ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat. Mengambil sikap yang bulat dan konsekwen terhadap pengemis memang tidak mudah.  Banyak orang berfikir bahwa menyantuni pengemis sama dengan melestarikan keberadaan mereka. Tidak mendidik tapi malah menyuburkan. Tetapi bagi saya yang tinggal di Jakarta yang setiap hari berpapasan dengan puluhan pengemis, tidak mungkin menutup mata dan menganggap mereka tidak ada. Kita sudah terlanjur beretika dan beragama: nurani kita sensitif, hati kita mudah tersentuh. Tidak tega melihat anak-anak dibawah umur dan perempuan tua yang bongkok dan keriput mengemis diterik matahari. Lebih dari itu kita mendustai agama jika menolak anjuran memberi makan orang miskin. Pengemis orang miskin bukan? Pokoknya membenci pengemis dosanya segunung. Karena Friedric Nietzsche tidak mengenal dosa dan agama, hak dia lah untuk mmemilih opsi “ditiadakan” saja.
Meskipun kita bukan pengikut Nietzsche dan sadar bahwa agama menganjurkan untuk menyantuni kaum miskin, memberikan uang receh kepada pengemis tetap banyak yang tidak suka. Saya memilih bersikap mendua: kalau ingin memberi ya saya beri, kalau tidak ya tidak. Meskipun sikap mendua menandakan kelemahan. Dua orang kakak saya berbeda sikap terhadap pengemis sejak muda sampai akhir hayat mereka. (Mbakyu Saya Berbeda Partai). Mungkin saya membenarkan kedua-duanya.
Ada kalanya saya merasa senang, rela dan bersemangat menderma untuk pengemis jalanan. Baik yang tua dan keriput, yang nampak bersih dan masih sehat, yang masih usia SD maupun sudah senja.  Mereka mengemis karena tidak ada cara lain yang mereka miliki atau mereka ketahui. Pasti bukan semata-mata karena malas. Saya sengaja mengumpulkan uang receh buat mereka. Mereka itu orang-orang yang suka damai, tidak pernah membuat gaduh, merampas atau mencuri. Itu adalah nilai-positip dan terpuji yang tidak pernah mereka pamerkan. Mereka tidak memilih potongan baju, ukuran maupun warna, semuanya cocok untuk mereka. Ketika saya tidak punya receh, senyum dan kata maaf pun mereka terima. Kebanyakan mereka membalas dengan senyum juga. Ada kalanya saya pilih-pilih pengemis juga. Kalau sisa recehan tinggal sedikit saya pilih berikan kepada pengemis kecil yang ceria daripada yang tua dan menyedihkan. Saya juga merasa lebih tertarik kepada pengemis yang mengingatkan pada orang yang pernah saya kenal. Nenek saya dikampung dulu misalnya, teman main masa anak-anak atau tetangga. Saya merasa bersahabat dengan mereka. Sama-sama makhluk yang lemah, sama-sama punya penderitaan. Bukan penampilan dan kekayaan tetapi akhlak dan hati yang lebih penting.
Ketika seseorang tertimpa musibah atau bencana yang parah sampai makan sehari-hari pun kesulitan, ada tiga jalan yang mungkin ia tempuh. Ia dapat bekerja keras memeras otak dan tenaga untuk bangkit kembali.  Ini merupakan jalan yang terhormat dan bermartabat. Tetapi sangat sulit dan berat untuk ditempuh karena sarat dengan kendala.  Atau ia memilih jalan sewenang-wenang dan membabi-buta dengan dengan dengan mencuri atau merebut jatah orang lain. Atau menjadi pengemis jalanan…. Mengemis lebih terhormat dan sopan daripada mencuri karena pengemis menerima atas belas kasihan dan keihlasan dari pemberinya. Mencuri dan merebut justru dukutuk orang banyak, atau dipukuli bila tertangkap. Menjadi mengemis merupakan solusi yang paling layak dan aman. Semoga orang mau tahu itu.
Tetapi ada saatnya datang versi lain dalam pikiran saya yang sama absahnya dengan bermurah hati pada pengemis. Pemgemis ada kalanya memang keterlaluan. Meminjam bayi orang yang masih merah. Dibawah terik matahari dipamerkannya didepan mata kita untuk merangsang rasa kasihan, seolah-olah untuk bayi itulah dia mengemis. Mungkin hasilnya nanti ia bagi dengan ibu sibayi. Rasanya dinegeri lain jarang ada kezaliman seperti ini. Jangan keliru: anak-anak kecil mengemis bukanlah inisiatif sendiri. Kebanyakan mereka suruhan. Bila anda jeli, dekat tiang listrik sana ada boss meraka yang duduk menunggu dan mengawasi hasil kerja anak-anak itu. Lebih parah lagi, sebagian pengemis termasuk orang yang kecukupan dikampungnya, punya sawah dan rumah tembok yang permanen. Sambil menunggu musim panen mereka pergi ke Jakarta untuk mengemis. Kalau anda beri baju bagus, tidak bakal dipakainya karena akan mengurangi karismanya sebagai pengemis. Ada pula pengemis yang pandai menempelkan koreng buatan dikakinya, persis seperti luka yang meradang dengan obat merah dipinggir-pinggirnya, yang berpura-pura pincang, semuanya untuk menaikkan hasil mengemisnya. Pengemis sekarang makin terorganisir dan membentuk sindikat.
Alangkah bodohnya menderma untuk perempuan kejam yang menjemur bayi diterik matahari. Betapa kelirunya menyumbang orang yang mempekerjakan anak-anak mengemis untuk mereka. Bodoh sekali berbagi dengan orang kaya yang mengemis hanya untuk menunggu musim panen datang. Membuang-buang tenaga, menyedot emosi dan jelas tidak mendidik. Kita tidak berhutang sepeserpun kepada mereka, mengapa susah-susah membantu mereka! Silahkan anda pikir, jangan tergesa-gesa memutuskan karena pengemis akan tetap ada dimana-mana sampai akhir zaman.