05/10/13

MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH


MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH
Oleh: Jum’an

Ya! Menikahlah mumpung kiamat masih jauh. Insyaallah anak-anak, cucu dan cicit anda kelak masih dapat menikmati hidup sejahtera sampai tua. Semoga untuk seterusnya, setidak-tidaknya untuk waktu yang cukup lama.  Andapun semoga akan meninggal ketika tidur pada usia lanjut dengan tenang dan khusnul khotimah. Seandainya anda tahu bahwa dunia akan mengalami kiamat sebulan sesudah anda meninggal, apakah anda masih tetap mau menikah?  Menikahlah karena menikah itu sunnatullah; tetapi anda sadar bahwa dunia dan seisinya akan hancur lebur sebulan sesudah anda dikubur. Saat itu mungkin anak anda sedang berpraktek sebagai dokter atau menjadi guru, sedangkan cucu-cucu anda masih bersekolah. Tiba-tiba mereka dan semua manusia didunia mengalami bencana kiamat yang sangat mengerikan. Gempa 10 skala Richter, ombak setinggi pohon kelapa. Tidakkah anda merasa kasihan membayangkan anak-anak dan cucu anda dilanda tsunami atau tertimbun gunung longsor karena bumi yang memuntahkan isinya? Tidak mungkin tidak, hati menjadi kecut membayangkannya. Siapa yang sanggup hidup dengan kesadaran akan meninggal dengan tenang waktu tidur, semenatara sebulan kemudian anak-anak dan cucunya sekarat tercekik disergap maut. Makin tak berselera rasanya membayangkan kemesraan hidup berkeluarga. Lebih layak kalau anda tidak punya anak, tidak punya cucu atau tidak menikah sama sekali karena mungkin istri anda baru akan meninggal beberapa tahun sesudah anda sehingga iapun ikut terseret oleh bencana yang menakutkan itu. Mungkin sebaiknya anda batalkan saja niat pernikahan anda daripada selalu cemas nantinya.

Ya tetapi itu kan hanya seandainya. Kalau kiamat betul terjadi sebulan sesudah anda meningggal. Tetapi juga, itu berarti bahwa anda hanya dapat menikah dan hidup bahagia berdasar asumsi bahwa setelah anda mati, kehidupan orang lain akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama. Diam-diam kita sangat memerlukan agar orang-orang lain hidup terus jika kita sudah mati nanti. Kebahagiaan kita sekarang tergantung pada keselamatan orang lain kelak sesudah kita tidak ada. Mungkin kecintaan kepada keluarga yang menyebabkan anda merasa tergantung pada keselamatan masa depan mereka. Dengan kata lain, keyakinan bahwa orang lain akan tetap hidup sesudah kematian kita merupakan jaminan kelangsungan hidup kita saat ini.

Mari kita buat seandainya yang lain, bukan kiamat sebulan sesudah anda meninggal. Tetapi seandainya kecerobohan manusia menggunakan ilmu pengetahuannya seperti rekayasa genetika, penggunaan tenaga nuklir atau apapun, menyebabkan kemandulan yang yak dapat disembuhkan pada manusia. Sejak saat itu tak ada lagi bayi lahir. Enam tahun kemudian semua sekolah TK terpaksa ditutup kerena semua anak yang ada diseluruh dunia sudah lulus TK nol besar. Enam tahun kemudian semua SD terpaksa ditutup karena tidak ada murid baru. Begitu seterusnya sehingga sehingga sekitar 20 tahun sejak terjadinya bencana kemandulan, semua fasilitas pendidikan tidak aktif lagi. Tak ada lagi Balita, tak ada lagi ABG tak ada ceria dan tangis anak-anak, tak ada lagi canda seronok anak-anak muda. Tak ada lagi orang yang baru; kitalah generasi terakhir manusia. Bayangkan kalau orang yang termuda disekitar kita umurnya 30 tahun, tidak ada lagi yang lebih muda. Semua bersama-sama menua, rapuh dan lemah lalu punah. Meskipun hewan dan tumbuh-tumbuhan masih tetap hidup. Untuk mengatasi kesedihan, kecemasan dan keputus-asaan yang terjadi mungkin sebagian orang mengisi sisa hidupnya dengan mencari kesenangan duniawi sepuas mungkin. Makan, sex, wisata serta bersenang-senang bersama keluarga. Yang lain memilih berkutat dengan urusan ukhrowi, khusuk beribadah, beramal dan pasrah kepada Gusti Alloh. Imajinasi tentang kemandulan global ini meyadarkan kita bahwa tidak adanya generasi yang baru membuat banyak hal terasa sia-sia. Meskipun tidak cemas oleh anak cucu kita yang teriksa, kita cemas semata-mata karena tidak orang-orang baru yang muncul. Bahwa semua orang tergantung pada keberadaan orang lain yang akan datang. 

Dari dua bayangan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan generasi anak-cucu sungguh penting. Sekarang saja, sebelum mereka lahir, kita sudah diberiya persekot berupa jaminan kelangsungan dan ketenagan hidup. Kepedulian kita terhadap mereka bukan saja merupakan misi melanjutkan keturunan, tetapi juga sebagai kompensasi atas jasa mereka yang sudah kita terima terlebih dulu. Maka sudah selayaknya kita berusaha melempangkan jalan untuk menyongsong kedatangan mereka. Jangan mengotori udara, jangan membabat hutan, jangan mencemari alam karena akan menyulitkan masa depan mereka kelak. Bahkan sesudah lama kita tidak ada, doa mereka masih dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak.


29/09/13

WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?


WHISTLE BLOWER PENGKHIANAT ATAU PAHLAWAN?
Oleh: Jum’an

Tahun 1961 Dr. Stanley Milgram dari Yale University mengadakan eksperimen yang sangat terkenal tentang Ketaatan Orang Kepada Otoritas. Eksperimen itu dengan meyakinkan membuktikan bahwa mayoritas orang biasa, laki-laki maupun perempuan, dapat berbuat keji yang diluar dugaan hanya dengan alasan sesuai perintah, hormat kepada atasan, sesuai prosedur dsb.  Letnan Gestapo Adolf Eichmann yang membantai ribuan kaum Yahudi di kamar-kamar gas di Auschwitz Austria, didepan pengadilan maupun dalam buku memoirnya menyatakan: “Saya sama sekali tidak menyesal.” Hannah Arendt dalam bukunya “Eichmann in Jerusalem” mencoba membuktikan bahwa Adolf Eichmann bukanlah seorang monster sadis melainkan sekedar seorang birokrat yang taat memenuhi kewajibannya.  Dalam blog saya (KITA RAJA TEGA) banyak saya kutipkan contohnya. Ini membuktikan betapa ketaatan kita kepada otoritas (kekuasaan yg sah dan berwenang) dapat memembuat kita mengkhianati nilai-nilai moral.

Bradley Manning (yang sejak 22-8-2013 berganti nama menjadi Chelsea Manning) adalah tentara Amerika yang pada bulan Agustus lalu dijatuhi hukuman penjara 35 tahun karena menjadi whistleblower membocorkan dokumen rahasia Departemen Pertahanan dan Negara ketika ia bertugas di Irak sebagai analis intelejen. Ia merasa terpanggil untuk melawan aturan aturan internal birokrasi. Dalam pengadilan dia menggambarkan salah satu kasus yang dialaminya. Pada Februari 2010, ia menerima laporan bahwa Polisi Federal Irak menahan 15 orang karena mencetak tulisan-tulisan "anti-Irak". Setelah diteliti, Manning menemukan bahwa tak satupun dari 15 orang itu pernah memiliki hubungan dengan tindakan anti-Irak atau dicurigai sebagai anggota organisasi teroris. Manning lalu menyuruh tulisan yg diduga anti-Irak diterjemahkan dan ternyata bahwa, berbeda keterangan polisi federal, tulisan yang dikatakan anti-Irak adalah data-data korupsi rinci dalam kabinet pemerintahan Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan dampaknya pada rakyat Irak. Ketika ia melaporkan temuan ini kepada perwira yang bertanggung jawab, dia diberitahu untuk tutup mulut saja. Manning tidak bisa bermain bersama. Dia mengatakan, dia tahu jika dia terus membantu Polisi Federal Baghdad mengidentifikasi lawan politik Perdana Menteri al-Maliki, orang-orang-orang itu akan ditangkap dan dalam tahanan Unit Khusus Kepolisian Federal Baghdad, sangat mungkin disiksa dan tidak terlihat lagi untuk waktu yang lama – atau dibunuh. Ketika atasannya tidak mau mengatasi masalah tersebut, ia memutuskan memberikan informasi ini kepada WikiLeaks. Untuk tindakannya itu ia diganjar 35 tahun penjara dan dipecat dengan tidak hormat. Padahal prajurit umur 25 tahun itu menyandang berbagai tanda jasa: National Defense Service Medal, Iraq Campaign Medal, Global War on Terrorism Service Medal, Army Service Ribbon dan Armmy Overseas Service Ribbon.

Edward Snowden (29 th) adalah whistleblower pembocor rahasia program penyadapan oleh Pemerintah Amerika. Yaitu penyadapan telepon rakyat AS untuk memantau kemungkinan adanya terroris dari luar negeri menghubungi orang di Amerika. Dan Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan FBI yang menyadap jaringan internet untuk memantau aktifitas yang mencurigakan dari luar negeri. Snowden merasa bahwa, menghadapi apa yang jelas salah, ia tidak bisa berperan dengan baik dalam birokrasi dari komunitas intelijen. Ia mengatakan: “Membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang disini sudah merupakan pekerjaan biasa, orang cenderung tidak menganggapnya serius dan mengalihkan perhatian mereka. Tapi lama-lama kesadaran akan kesalahan seperti itu terus menumpuk dan anda merasa terdorong untuk berbicara. Semakin anda berbicara, semakin anda diabaikan. Semakin Anda diberitahu itu bukan masalah, sampai akhirnya anda menyadari bahwa hal-hal ini perlu ditentukan oleh masyarakat dan bukan oleh seseorang yang hanya disewa oleh pemerintah.” Birokrasi menyuruh dia tutup mulut dan mengabaikan tapi Snowden merasa bahwa hal tersebut adalah salah secara moral.

Pihak-pihak yang menyalahkan Snowden sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut masalah moral yang menurut Manning dan Snowden (bagaiman menurut anda?) adalah penting. Mereka hanya menggunakan alasan seperti: "Agar masyarakat berjalan dengan baik, harus ada landasan dasar kepercayaan dan kerjasama, rasa hormat pada lembaga dan menghormati prosedur umum. Dengan memutuskan secara sepihak membocorkan rahasia dokumen NSA, Snowden telah mengkhianati semua ini."
“Tujuan saya untuk memberi tahu rakyat Amerika tentang hal-hal yang dilakukan atas nama mereka, dan tindakan-tindakan yang akan merugikan mereka.” kata Snowden.


Umumnya komentator pemerintah berpendapat bahwa semua aktor ini perlu dibawa ke pengadilan, sementara komentator independen cenderung mendukung. Jajak pendapat Majalah Time baru-baru ini menunjukkan bahwa 70% dari generasi usia 18 – 34 tahun percaya bahwa “Snowden telah melakukan hal yang baik”. Apakah ini berarti generasi muda telah kehilangan arah? Menurut Peter Ludlow professor filsafat dari Northwestern Univ. dalam blognya “The Banality of Systemic Evil” generasi muda tidak kehilangan arah tetapi justru sebaliknya. Jelas, ada prinsip moral yang mendasari tindakan para whistleblower itu. Menurut Ludlow prinsip moral telah jelas diartikulasikan, dan itu justru dapat menyelamatkan masyarakat dari masa depan yang sangat buruk. Jadi, pengkhianat atau pahlawankah seorang whistleblower? Apa dosanya?

23/09/13

TERSANDERA OLEH TENGGANG RASA


TERSANDERA OLEH TENGGANG RASA
Oleh: Jum’an
Menghargai perasaan orang lain atau bertenggang rasa adalah baik dan perlu demi kelancaran hubungan sesama kita. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya dan tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya sendiri. Kita tidak dapat menyadari identitas kita kecuali melalui kehidupan bermasyarakatl. Dalam Video eksperimen Dr. Tronick: “Still Face”  ini, anak umur 1 tahun jelas dapat merasakan perubahan ekspresi wajah ibunya. Ia gelisah dan menangis ketika ibunya tidak menanggapi perasannya. Ini mungkin bakat yang diberikan Sang Pencipta sebagai bekal pertahanan dan perkembangan hidupnya nanti. Meskipun tenggang rasa adalah baik dan manusiawi kita tidak mungkin untuk selalu menyenangkan hati orang lain. Ada saatnya kita harus mengatakan tidak, karena masing-masing kita memiliki batas-batas kepribadian sendiri . Yaitu aturan dan prinsip tentang apa yang kita anggap boleh atau tidak boleh untuk dilakukan, meliputi masalah  fisik, mental, emosiaonal dll. Batas-batas emosional misalnya, membedakan dan memisahkan emosi dan tanggung jawab kita dari emosi dan tanggung jawab orang lain. Seperti garis imajiner atau medan kekuatan yang memisahkan kita dengan orang lain. Batas batas emosional yang sehat membuat kita tidak seenaknya menasehati, menyalahkan atau menerima kesalahan orang lain. Melindungi kita dari perasaan bersalah karena perasaan negatif atau masalah orang lain. Jika kita kesulitan untuk mengatakan tidak dengan alasan tenggang rasa ketika kita terganggu oleh tuntutan orang, merasa dikendalikan, dilecehkan, atau bahkan dipaksa menerima kebaikan, adalah tanggung jawab kita untuk ber-reaksi. Tenggang rasa dapat berubah menjadi kurang baik dan merusak, bahkan menyandera kita. Ada dua penyebab mengapa kita dapat dikendalikan oleh perasaan orang lain yang menyebabkan kita merasa tersandera.
Pertama bila orang lain memiliki batas-batas kepribadian yang buruk dan sengaja mengharapkan kita merasa bertanggung jawab atas perasaan negatifnya, untuk selalu merasakan apa yang dia rasakan. Kalau ia dongkol, kita tidak boleh bercanda dan kalau dia senang dia tak mau mengerti mengapa kita bisa bersedih. Mereka umumnya adalah orang-orang yang narsistis atau penderita gangguan kepribadian (Borderline Personality Disorder - BPD). Mereka mungkin dengan aktif berusaha untuk memanipulasi kita dengan perasaan mereka. Mereka menyalahkan dan menuduh kita tidak sensitif terhadap kebutuhan mereka, mereka melemparkan persoalan-persoalan mereka pada kita, bahkan mereka mengancam mau bunuh diri. Mereka mencari penyaluran bagi penderitaannya sendiri.
Yang kedua bila batas-batas kepribadian kita sendiri yang lemah dan tidak sehat. Kita menjadi seperti karet busa atau spons yang menyerap air comberan sekalipun. Kita terbiasa menyerap dan menghayati perasaan orang lain seolah-olah perasaan kita sendiri. Tidak peduli apakah orang lain itu baik atau buruk- kita sangat terpengaruh oleh suasana hati mereka dan kita menghisap semuanya seperti spons menghisap air. Banyak penyebab mengapa seseorang bisa menjadi seperti spons. Umumnya (tetapi tidak selalu), mereka memiliki orang tua dengan gangguan kepribadian, narsistis, pemabuk, atau orang tua yang kasar yang suasana hatinya sangat tidak stabil. Lama-lama anak tersebut merasa dia "bertanggung jawab" atas perilaku dan perasaan orang tuanya. Dia bisa menghabiskan masa dewasanya mencoba untuk menyenangkan orang lain, dan menghambakan diri pada perasaan orang lain, meskipun orang lain itu tidak bermaksud memperbudak atau menyanderanya! Wajah seorang pimpinan mampak kurang ceria mungkin habis bertengkar dengan isterinya dirumah. Kita merasa khawatir dan berdebar-debar mendengar dan menanggapi kata-katanya, kita mengambil alih ketidak-senangannya seolah-olah itu tanggung jawab kita.
Apa yang dapat kita lakukan untuk memperkuat batas-batas kepribadian kita guna menghadapi para penyandera? Richard Zwolinski (Standing Up ForYou With An Emotional Hostage Taker) memberkan beberapa tips, sebagian diantaranya:

Pertama, kita perlu menegaskan pada diri sendiri: “Saya bukan Dia.” Saya bertanggung jawab untuk perasaan saya sendiri; saya tak bertanggung jawab atas perasaan orang lain (dengan asumsi bahwa kita tidak menghina, mengabaikan atau melecehkan orang lain). Saya tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang-orang yang menguras saya. Saya mampu menangani perasaan sendiri. Kedua, kumpulkan tekad dan kekuatan untuk mengucapkan ini pada orang yang mengganggu kita: “Saya bukan karung tinju sasaran emosional anda. Keruwetan anda adalah urusan anda bukan urusan saya.” Disisi lain, kita harus memahami perbedaan antara penyanderaan dan keluhan yang wajar. Mungkin mereka mempunyai alasan yang sah untuk minta kita bertanggung jawab atas tindakan yang telah kita lakukan. Jika seseorang yang secara umum baik mengeluh tentang perilaku kita yang menurutnya berbahaya atau menyakitkan hati, tetaplah terbuka dan positif, mendengarkan keluhan mereka, dan mengatasinya. Sisihkan ego kita dan minta maaf dan mencoba untuk memperbaiki. Kita juga bisa salah.

13/09/13

SISI GELAPKU TAKTERKALAHKAN


SISI GELAPKU TAK TERKALAHKAN
Oleh: Jum’an

Entah sudah berapa puluh tahun, hampir dapat dikatakan sepanjang hayat saya berjuang melawan nafsu tetapi tidak pernah berhasil mengalahkannya. Sampai seusia ini masih saja berperilaku tidak sehat. Tidak mampu menghentikan berpura-pura, makin canggih dalam berbohong dan cenderung berprasangka tidak baik terhadap orang lain. Belum lagi kebiasaan menghindar dari tanggung jawab, merasa paling benar sendiri dan masih banyak lagi yang kalau saya ceritakan semua, habislah saya. Padahal saya selalu berikhtiar dan berdoa agar akhlak saya makin hari makin baik. Mungkin terlalu saya dramatisir. Mungkin saya yang kurang gigih berusaha dan kurang khusyuk berdoa, tetapi saya jelas merasakan bahwa nafsu jahat atau sisi gelap jiwa saya bukanlah lawan  yang enteng dan sembarangan. Ia terlalu kuat untuk dapat dikalahkan. Ia menghadapi serangan saya dengan senjata dan strategi yang berbeda sama sekali. Saya merasa seperti bertinju melawan penyihir. Saya menyerangnya secara frontal tetapi ia menyelinap dan merangkul saya dari belakang. Ia menempel, merasuk dan lengket dibagian bawah sadar saya, mencari hal-hal yang buruk dan menghipnotis saya untuk mengerjakannya. Dikondisikannya saya untuk terus menerus kembali melakukan hal-hal yang tidak sehat yang megakibatkan citra saya menjadi buruk dan hidup saya tidak menyenangkan. Semula saya menyangka bahwa sisi gelap itu hanyalah sekedar tabir hitam yang diam yang menghalangi pandangan saya dari melihat dan melakukan kebaikan, yang kalau saya bacakan a’zubillahi minassyaitonirrojim pasti akan tersingkap menyingkir.  Ternyata bukan dan tidak. Ia lebih mirip dengan makhluk hidup yang aktif, bahkan giat dan merangsek saya untuk mengulangi perbuatan-perbuatan yang saya sudah tahu bahayanya dan saya bakal menyesalinya.  Dengan kata lain ia berusaha menyabot program hidup saya tanpa peduli dengan nama baik maupun dosa yang harus saya tanggung. Pokoknya ia besikeras agar saya mengekspresikan diri melalui hal-hal yang negatip.
Padahal rasanya nilai saya diatas rata-rata dan sangat layak untuk menjadi seorang karyawan yang produktif, cekatan, rajin dan berdisiplin. Tetapi sisi gelap jiwa saya telah menjegalnya menjadi hanya seorang karyawan yang loyo, tidak bertanggung jawab, lamban dan suka mangkir. Dimanjakannya saya dengan tidur larut malam, bangun kesiangan dan memulai jam kantor dengan kelayapan dipelosok-pelosok internet belama-lama. Itu hanya satu dari banyak jenis sabotase yang mengakibatkan hidup saya tidak menyenangkan dan tidak disukai orang. Diyakinkannya saya bahwa bermalas-malas dan memuaskan nafsu adalah hak asasi saya.  Saya merasa terjebak, tidak punya pilihan dan kendali atas perilaku saya sendiri dan merasa tergantung pada belas kasihannya, meskipun saya harus mengakui bahwa itu berasal dari dalam pikiran saya sendiri. Saya benar-benar merasa dikhianati oleh diri sendiri.
Saya ingin hidup layak: bekerja mencari nafkah, beribadah, menghormati dan dihormati oleh orang lain, berbuat baik untuk sesama, hidup lebih sederhana serta makan-minum, olah raga dan tidur yang teratur. Tetapi sisi gelap saya tidak peduli dengan semua ini. Ia ingin agar saya tampil sebaliknya sebagai sosok yang terpuruk, sial dan tidak berharga. Kalau ada kebaikan yang masih dapat saya lakukan, saya melakukannnya tanpa gairah, sehingga jangan-jangan tidak ada pahalanya. Pertempuran antara keinginan untuk hidup bahagia atau tunduk pada rayuan sisi gelap yang merasuki bawah sadar ini menjadikian hidup terasa begitu melelahkan.

Tetapi saya tidak percaya bahwa nafsu jahat tak terkalahkan. Setan hanya bisa menggoda dan tidak bisa memaksa. Dan manusia, saya dan anda, mempunyai kekuatan luar biasa yang baru sebagian kecil yang kita manfaatkan. Bila anda mempunyai sisi gelap seperti saya, selamat berjuang untuk membersihkan tabir hitam yang lengket dibawh sadar anda

01/09/13

PENGEMIS JALANAN SEBAIKNYA KITA APAKAN


PENGEMIS JALANAN SEBAIKNYA KITA APAKAN
Oleh: Jum’an

Konon dalam bukunya “Thus Spoke Zarathustra”, Friedrich Nietzsche tokoh eksistensialis Jerman abad 19 yang ateistis menulis bahwa pengemis itu seharusnya ditiadakan karena serba menjengkelkan: diberi salah tidak diberi juga salah. Pengemis memang idealnya jangan sampai ada; bukan karena mereka menjengkelkan, tapi karena mereka merupakan bukti nyata ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat. Mengambil sikap yang bulat dan konsekwen terhadap pengemis memang tidak mudah.  Banyak orang berfikir bahwa menyantuni pengemis sama dengan melestarikan keberadaan mereka. Tidak mendidik tapi malah menyuburkan. Tetapi bagi saya yang tinggal di Jakarta yang setiap hari berpapasan dengan puluhan pengemis, tidak mungkin menutup mata dan menganggap mereka tidak ada. Kita sudah terlanjur beretika dan beragama: nurani kita sensitif, hati kita mudah tersentuh. Tidak tega melihat anak-anak dibawah umur dan perempuan tua yang bongkok dan keriput mengemis diterik matahari. Lebih dari itu kita mendustai agama jika menolak anjuran memberi makan orang miskin. Pengemis orang miskin bukan? Pokoknya membenci pengemis dosanya segunung. Karena Friedric Nietzsche tidak mengenal dosa dan agama, hak dia lah untuk mmemilih opsi “ditiadakan” saja.
Meskipun kita bukan pengikut Nietzsche dan sadar bahwa agama menganjurkan untuk menyantuni kaum miskin, memberikan uang receh kepada pengemis tetap banyak yang tidak suka. Saya memilih bersikap mendua: kalau ingin memberi ya saya beri, kalau tidak ya tidak. Meskipun sikap mendua menandakan kelemahan. Dua orang kakak saya berbeda sikap terhadap pengemis sejak muda sampai akhir hayat mereka. (Mbakyu Saya Berbeda Partai). Mungkin saya membenarkan kedua-duanya.
Ada kalanya saya merasa senang, rela dan bersemangat menderma untuk pengemis jalanan. Baik yang tua dan keriput, yang nampak bersih dan masih sehat, yang masih usia SD maupun sudah senja.  Mereka mengemis karena tidak ada cara lain yang mereka miliki atau mereka ketahui. Pasti bukan semata-mata karena malas. Saya sengaja mengumpulkan uang receh buat mereka. Mereka itu orang-orang yang suka damai, tidak pernah membuat gaduh, merampas atau mencuri. Itu adalah nilai-positip dan terpuji yang tidak pernah mereka pamerkan. Mereka tidak memilih potongan baju, ukuran maupun warna, semuanya cocok untuk mereka. Ketika saya tidak punya receh, senyum dan kata maaf pun mereka terima. Kebanyakan mereka membalas dengan senyum juga. Ada kalanya saya pilih-pilih pengemis juga. Kalau sisa recehan tinggal sedikit saya pilih berikan kepada pengemis kecil yang ceria daripada yang tua dan menyedihkan. Saya juga merasa lebih tertarik kepada pengemis yang mengingatkan pada orang yang pernah saya kenal. Nenek saya dikampung dulu misalnya, teman main masa anak-anak atau tetangga. Saya merasa bersahabat dengan mereka. Sama-sama makhluk yang lemah, sama-sama punya penderitaan. Bukan penampilan dan kekayaan tetapi akhlak dan hati yang lebih penting.
Ketika seseorang tertimpa musibah atau bencana yang parah sampai makan sehari-hari pun kesulitan, ada tiga jalan yang mungkin ia tempuh. Ia dapat bekerja keras memeras otak dan tenaga untuk bangkit kembali.  Ini merupakan jalan yang terhormat dan bermartabat. Tetapi sangat sulit dan berat untuk ditempuh karena sarat dengan kendala.  Atau ia memilih jalan sewenang-wenang dan membabi-buta dengan dengan dengan mencuri atau merebut jatah orang lain. Atau menjadi pengemis jalanan…. Mengemis lebih terhormat dan sopan daripada mencuri karena pengemis menerima atas belas kasihan dan keihlasan dari pemberinya. Mencuri dan merebut justru dukutuk orang banyak, atau dipukuli bila tertangkap. Menjadi mengemis merupakan solusi yang paling layak dan aman. Semoga orang mau tahu itu.
Tetapi ada saatnya datang versi lain dalam pikiran saya yang sama absahnya dengan bermurah hati pada pengemis. Pemgemis ada kalanya memang keterlaluan. Meminjam bayi orang yang masih merah. Dibawah terik matahari dipamerkannya didepan mata kita untuk merangsang rasa kasihan, seolah-olah untuk bayi itulah dia mengemis. Mungkin hasilnya nanti ia bagi dengan ibu sibayi. Rasanya dinegeri lain jarang ada kezaliman seperti ini. Jangan keliru: anak-anak kecil mengemis bukanlah inisiatif sendiri. Kebanyakan mereka suruhan. Bila anda jeli, dekat tiang listrik sana ada boss meraka yang duduk menunggu dan mengawasi hasil kerja anak-anak itu. Lebih parah lagi, sebagian pengemis termasuk orang yang kecukupan dikampungnya, punya sawah dan rumah tembok yang permanen. Sambil menunggu musim panen mereka pergi ke Jakarta untuk mengemis. Kalau anda beri baju bagus, tidak bakal dipakainya karena akan mengurangi karismanya sebagai pengemis. Ada pula pengemis yang pandai menempelkan koreng buatan dikakinya, persis seperti luka yang meradang dengan obat merah dipinggir-pinggirnya, yang berpura-pura pincang, semuanya untuk menaikkan hasil mengemisnya. Pengemis sekarang makin terorganisir dan membentuk sindikat.
Alangkah bodohnya menderma untuk perempuan kejam yang menjemur bayi diterik matahari. Betapa kelirunya menyumbang orang yang mempekerjakan anak-anak mengemis untuk mereka. Bodoh sekali berbagi dengan orang kaya yang mengemis hanya untuk menunggu musim panen datang. Membuang-buang tenaga, menyedot emosi dan jelas tidak mendidik. Kita tidak berhutang sepeserpun kepada mereka, mengapa susah-susah membantu mereka! Silahkan anda pikir, jangan tergesa-gesa memutuskan karena pengemis akan tetap ada dimana-mana sampai akhir zaman.

18/08/13

KAKEK DAN CUCU SALING MENYEHATKAN


KAKEK DAN CUCU SALING MENYEHATKAN
Oleh: Jum’an

Cucu adalah sumber kebahagiaan, kemesraan dan kegembiraan: boleh ditimang-timang tidak usah harus memandikan, boleh disayang-sayang tanpa harus menyekolahkan. Megasuh dan mendidik adalah kewajiban orang tuanya. Cucu adalah sepenuhnya balas-jasa dari anak kita tanpa mengurangi haknya sebagai ayah-ibu. Berkah dari Sang Pengasih untuk disayang dan ditimang. Cucu adalah  sumber keceriaan yang instan, penenteram resah dan gelisah, obat rindu dan hiburan diusia senja. Anak dan menantu mungkin lusuh dan kumuh tetapi cucu selalu baru dan segar. Perjalanan jauh dan melelahkan tidak mengapa demi bertemu cucu. Cucu adalah kompensasi dari Tuhan untuk kita yang menua. Kakek yang baik baik selalu punya tinggalan untuk cucunya. Demikian pula sebaliknya. Bagi cucu, keluarga tanpa nenek tidaklah aci. Kakek dan nenek itu orang tua ya, guru ya dan teman main juga ya. Kakek dan nenek yang berambut seputih perak dan berhati emas; murah dengan pelukan dan ciuman, nasehat dan juga kue dan oleh-oleh. Nenek pasti sudah menunggu saya dari tadi, tak sabar saya untuk memeluknya. Tempat terbaik bagi cucu yang bersedih adalah dipangkuan kakek. Yang kita butuhkan semua ada di persediaan kakek dan berlimpah: cinta tanpa syarat, kebaikan, kesabaran, dongeng yang mempesona, perlindungan, kenyamanan dan pelajaran dalam hidup. Dan yang paling penting oleh-oleh dan hadiahnya. Menjadi kakek cukup membebaskan seseorang dari dari tanggung jawab sehingga ia boleh berteman saja dengan cucunya. Kata orang Amerika, tidak pernan ada koboi yang dapat mencabut pistol secepat kakek mengeluarkan potret cucunya dari dompet untuk dipamerkan. Anda akan merasakan sendiri betapa eratnya tangan mungil mereka menggenggam jari kakeknya.

Itu mungkin nostalgia yang dilebih-lebihkan. Tetapi penelitian ilmiah membuktikan bahwa kakek-nenek dan cucu-cucu, mereka benar-benar memainkan peranan penting dalam saling menjaga kesehatan mental masing-masing. Penelitian oleh Boston College selama 20 tahun menemukan bahwa kwalitas hubungan antara kedua generasi itu memiliki dampak yang nyata dan terukur terhadap kesehatan mental mereka. Hasil penelusuran kesehatan mental dari 376 kakek-nenek dan 340 cucu antara 1985-2004 menunjukkan bahwa  kakek-nenek dan cucu-cucu mereka yang sudah dewasa yang tetap merasa saling dekat secara emosional, memiliki gejala depresi yang lebih sedikit. Sekarang ketika harapan hidup rata-rata telah banyak meningkat, hubungan kakek-nenek dengan cucunya bertambah penting karena mereka hidup berdampingan dalam waktu yang lebih lama sehingga dampak positip hubungan mereka dapat menjadi dukungan bagi seluruh kehidupan masyarakat. Sekarang anda mungkin berusia 30 atau bahkan 40 tahun tetapi masih mempunyai kakek atau nenek yang masih sehat. Ini merupakan fenomena baru dalam sejarah; zaman dulu jarang ada yang demikian.

"Para anggota keluarga, seperti kakek, nenek  dan cucu memberikan manfaat penting dalam kehidupan sehari-hari satu sama lain sepanjang masa dewasa," kata peneliti Sara Moorman, profesor sosiologi di Boston College. Selain pengaruh positip kesehatan mental bagi kakek-cucu yang mempunyai hubungan emosional yang dekat, penting bagi kakek-nenek untuk membalas nikmat yang mereka terima dari cucu mereka. Kebanyakan kakek-nenek dalam penelitian itu berharap untuk dapat membantu cucunya bahkan ketika sang cucu tumbuh dewasa, kata Moorman. Di antara kakek-nenek yang merasa mandiri, memberikan nasihat untuk cucu mereka dan sesekali membeli hadiah untuk mereka atau mengajak makan di restoran; dan mereka memiliki gejala depresi lebih sedikit, dibanding mereka yang tak pernah membalas kebaikan cucunya. Penelitian ini juga menemukan bahwa penting bagi cucu untuk menjaga agar kakek mereka tetap merasa mandiri, mengadakan hubungan timbal balik yang sportif untuk menghindari efek negatif dari penuaan terhadap kesehatan mental dan emosional orang tua. Perasaan mandiri, perasaan berharga dan perasaan dibutuhkan adalah bermanfaat bagi semua orang. Jadi biarkan kakek membelikan baju baru untuk anda meskipun dari mengumpulkan sisa uang pensiunnya yang pas-pasan dan tahu gaji anda belasan juta..
Menurut sebuah studi ekstensif di Inggris, keeratan hubungan antar anggota keluarga memang terbukti meningkatkan kesehatan mental terutama bagi kaum pria. Penelitian itu merupakan bagian dari Studi Pembangunan Anak Nasional di Inggris dan dimuat dalam Journal Epidemiology and Community Health 22 Agustus 2013.

06/08/13

MENYINGKAP KERUDUNG MENGUNDANG GEMPA


MENYINGKAP KERUDUNG – MENGUNDANG GEMPA
Oleh: Jum’an
Dr. Ir. Munasri dan Dr. Eko Yulianto adalah peneliti geologi dari Puslit Geoteknologi LIPI, lulusan Universitas Tsukuba Jepang dan Universitas Hokkaido. Mereka berdua telah menulis sebuah buku setebal 36 halaman yang berjudul “Bumiku Seperti Kerupuk di atas Bubur”. Buku terbitan LIPI itu dimaksudkan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan kesiap-siagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami kepada masyarakat. Kita dapat membacanya langsung dengan meng-click judul diatas atau memperolehnya gratis dengan menghubungi penulisnya. Kita dapat memahami mekanisme dan mengapa gempa bumi terjadi dari buku yang dibuat sesederhana mungkin, dengan ilustrasi, foto, dan warna-warna yang menarik, untuk konsumsi pelajar, guru maupun pembaca umum. Salut bagi kedua putera bangsa itu. Atau anda dapat memahami banyak hal tentang gempa bumi melalui situs Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Tetapi meskipun kita sudah tahu bahwa kulit bumi itu ibarat kerupuk diatas bubur yang labil, dan sebagian orang tinggal di daerah rawan gempa, kita selalu bertanya-tanya: “Apakah gempa, tsunami dan bencana lainnya merupakan hukuman Tuhan bagi manusia karena banyak melanggar kehendakNya?”
Pada 16 April 2013 gempa 7,8 Skala Richter mengguncang  Iran, menewaskan 34 orang, jutaan dolar kerusakan dan banyak korban luka dan cedera. Iran adalah satu diantara Negara rawan gempa dan gempa kali ini terjadi akibat pergeseran lempeng Arab dibawah lempeng Eurasia. Pernyataan yang tidak diduga-duga diucapkan oleh Hojatoleslam Kazem Sedighi seorang ulama senior Iran. Ia menyatakan dalam khotbah Jum’atnya di Tehran bahwa wanita yang berpakaian tidak sopan dan berperilaku sembarangan yang harus dipersalahkan atas terjadinya gempa tersebut. Ia berkata: "Banyak wanita yang tidak berpakaian dengan sopan ... menyebabkan pemuda sesat, merusak kesucian mereka dan menyebarkan perzinahan didalam masyarakat, yang meningkatkan terjadinya gempa bumi". Wanita Iran memang diwajibkan untuk berpakaian tertutup dari kepala sampai kaki, tetapi banyak dari mereka terutama kaum mudanya, mengabaikan peraturan itu dengan mengenakan pakaian yang ketat dan kerudung ditarik kebelakang untuk menunjukkan bentuk tubuh dan keindahan rambut mereka. "Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari terkubur di bawah reruntuhan gempa?" tanya Sedighi dalam khotbahnya. "Tidak ada solusi lain kecuali berlindung dan menyesuaikan hidup kita dengan moral Islam". Kalau wanita harus bertanggung-jawab atas gempa, bagaimana dengan letusan gunung, banjir dan global warming? Mudah diduga bahwa pernyataan seperti itu menyakitkan hati banyak kaum hawa disana.
Jadi apakah gempa merupakan hukuman Tuhan karena manusia banyak melanggar kehendakNya? Entah hanya kadang-kadang demikian, atau sekedar contoh dalam sejarah sebagai peringatan atau setiap gempa adalah hukuman terhadap  dosa-dosa manusia, tetapi dalam Al-Qur’an (dan kitab-kitab suci agama samawi yang lain) memang disebutkan demikian seperti kaum Nabi Luth yang mengalami gempa besar karena perilaku homosex mereka yang merajalela. Kaum Nabi Nuh yang mengalami banjir besar karena mengingkari dan mempermainkan utusan Allah. Disamping gempa dan banjir, disebutkan juga tentang angin yang dahsyat, udara yang sangat panas, karena manusia menolak untuk beriman, menyembah berhala, menipu, hubungan sesama jenis dll.
Sebagian kaum Yahudi percaya bahwa segala sesuatu merupakan ungkapan dari kehendak Tuhan. Bumi dan semua isinya adalah suatu kesatuan organik; setiap perbuatan, baik ataupun buruk mempengaruhi dan dipengaruhi oleh Tuhan. Jadi jika kita berdosa, Tuhan bereaksi dan itu mungkin berarti gempa bumi atau kelaparan atau tentara yang menyerang. Apapun yang terjadi mencerminkan perilaku kita dan kehendak Tuhan. Ini sejalan dengan pemikiran sebagian kaum Nasrani yang berpendapat bahwa serangan terhadap gedung WTC 11 September 2001 di New York adalah akibat toleransi Amerika terhadap perkawinan sejenis, aborsi, feminis dan lesbian dan pendapat sebagian kita bahwa bencana tsunami Aceh 2004 disebabkan kebejatan moral rakyat Indonesia. Bahkan ada orang-orang Yahudi sendiri yang percaya bahwa “Holocaust adalah hukuman bagi bangsa Yahudi yang mencoba-coba  reformasi Yudaisme di Jerman”. Rabbi Yehuda Levin (60 th) seorang pendeta Yahudi yang terkenal anti homoseks dari Brookliyn New York mengatakan bahwa gempa besar di Pantai Timur AS 2011 disebabkan Tuhan marah atas merebaknya homoseksualitas di Amerika. Kitab Talmud Yerusalem telah menyatakan: “You have shaken your male member in a place where it doesn’t belong. I too will shake the earth”. Ia yakin bahwa perilaku homosex adalah penyebab spiritual dari gempa bumi.
Tetapi sebagian lain kaum Yahudi lebih mempercayai Musa ibn Maimun (Maimonides) seorang pendeta Yahudi dan filosof jaman pertengahan. Ia berpendapat bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah manifestasi dari sifat sementara dari dunia materi. Kita tidak dan tidak dapat mengendalikannya, menghentikannya, atau mengubah peristiwa yang terjadi secara alamiah tersebut. Apa yang dapat kita lakukan adalah menggunakan "kearifan" untuk mengurangi kerusakan yang akan disebabkan.

Mengapa ada rasa enggan di hati saya untuk meyakini bahwa gempa bumi dizaman sekarang dimaksudkan Allah untuk menghukum kita, dan lebih sulit lagi untuk mempercayai bahwa menyingkap kerudung mengundang gempa? Mengapa saya lebih suka dengan Pak Munasri dan Pak Eko dengan kerupuk diatas buburnya? Dan bahkan membenarkan  Musa ibn Maimun? Tetapi saya yakin bahwa Al-Qur’an adalah sabda Allah SWT dan benar,  meskipun pemahaman saya terlalu dangkal.