01/06/13

HADIS ABAD KE 21 VERSI TURKI


HADIS ABAD 21 VERSI TURKI
Oleh: Jum’an

Sekitar 5 tahun lalu British Broadcasting Corporations (BBC) menyiarkan bahwa Pemerinta Turki akan menerbitkan kompilasi hadis edisi baru hasil re-interpretasi revolusioner serta modernisasi yang radikal. Berita yang merisaukan para ulama dan umat Islam itu dibantah oleh Direktorat Agama Turki yang mengatakan, berita itu merupakan cara pandang Kristen yang keliru terhadap perkembangan Islam. Prof. Hakki Unal dari Fakultas Agama Universitas Ankara menyatakan inisiatif re-interpretasi hadis itu merupakan upaya untuk memperjelas makna Islam dalam masyarakat modern. Seorang ulama Saudi dengan sinis betanya: Apakah anda mau menerbitkan Qur’an baru sesudah ini? Tetapi proyek reformasi hadis yang didukung Pemerintah berjalan terus. Pimpinan proyek itu, seorang petinggi Direktorat Urusan Agama (Dyanet) Mehmet Ozafsar berkata: “Kita bukan hidup di abad 20 lagi. Kita memerlukan suatu karya baru tentang Islam dalam perspektif budaya hari ini.”  “Dalam menghakimi suatu tindakan, kita jangan hanya membuka Qur’an atau kumpulan Hadis, menemukan satu ayat atau Hadis dan berkata ‘Aha! ini dia hukumnya!’  Itu berarti literalisme dan kebodohan; kata Mehmet Pacaci, petinggi Dyanet lainnya kepada Reuters

Begitulah, 100 orang pakar hadis telah memilih 500 dari 17.000 hadis tentang akidah, iman dan sosial, bekerja tekun selama 6 tahun dan akhirnya lahirlah sebuah eksiklopedia 7 jilid yang berisi hadis-hadis yang penting menurut para penyusunnya. Dikelompokkan berdasar subyek diikuti dengan esai pendek penjelasan hadis itu dalam konteks sejarahnya dan apa artinya hari ini. Hasil karya mereka akan dirilis resmi bulan Ramadan mendatang. Sebenarnya menseleksi dan mencermati hadis bukan hal baru dalam Islam. Para ulama terdahulu telah melakukannya untuk membantu umat Islam mempelajari hadis tanpa harus menelusuri kitab-kitab klasik yang panjang dan rumit. Hanya saja kali ini seleksi dan pembahasan itu dilakukan berdasarkan perspektif Turki hari ini, yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas masyarakat Muslim serta ekonomi yang dinamis.

Seberapa menyimpang hadis-hadis edisi Turki ini dari pengertian kita? Apakah sabda-sabda Rasulullah itu diselewengkan, kata-katanya dirubah, dinyatakan tidak asli atau sebagian dipersalahkan dan tidak diakui? Tidak demikian. Menurut Tom Heneghan editor berita Agama Reuters “tidak seperti Tesis Marthin Luther th 517 yang mengutuk praktek Gereja Katolik Roma dan melancarkan Reformasi Protestan.”  Mereka hanya membahas pandangan Islam tentang aqidah, iman dan kehidupan dalam terminologi yang difahami oleh orang Turki modern yang awam. Para ahli hadis itu adalah penganut Islam Sunni dengan akidah yang kuat yang tidak menggunakan penafsiran literal seperti yang dianut kaum muslimin dikebanyakan negara lain. Menurut Ozafsar, Turki mempunyai pandangan yang berbeda tentang budaya Islam. Temasuk tradisi sekuler yang kuat yang membolehkan konsumsi alkohol, berpakaian ala Barat utuk wanita. Turki juga membolehkan imam dan khatib wanita di masjid -masjid. Delegasi keagamaan Turki sering mengunjungi Universitas Al-Azhar Cairo yang merupakan tempat utama pedidikan Sunni.

Di Mesir dimana ulama Islam tradisional, ulama Ikhwanul Muslimin yang sedang berkuasa dan ulma Salafi radikal saling berbeda pendapat atas isu-isu utama keimanan, koleksi hadits Turki ini bisa membawa perspektif baru untuk perdebatan. Menurut penasehat Mufti Besar Mesir, Ibrahim Negm, ada sambutan baik terhadap interpretasi baru ini dikalangan intelektual Mesir. Mereka sangat terkesan dengan model Turki, tidak hanya di bidang ekonomi dan politik tetapi juga dalam orientasi keagamaan moderat. Turki mereka pandang sebagai "antitesis dari model Wahhabi-Salafi."

Otoritas keagamaan yang berwenang di Turki menjelaskan bahwa pembahasan yang menyangkut isu-isu modern seperti hak-hak wanita tidak disajikan sebagai sikap resmi yang harus disebarkan para imam atau diterapkan oleh para hakim syariah. Tujuannya bukan untuk menjawab topik masa kini seperti isu-isu gender, hukuman dan jihad. Mengenai sekolah bagi anak perempuan misalnya  diterangkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim, karena itu merupakan hak bagi anak perempuan dan wanita dewasa juga. Tulisan lain tentang wanita menekankan bawa ketika Nabi memerintah di Madinah, wanita pergi ke masjid, menjalankan bisnis. Mereka aktif disemua bidang kehidupan. Hadis tentang hukuman yang keras seperti potong tangan bagi pencuri dimasukkan ke dalam perspektif sejarah sehingga tidak diambil sebagai model untuk zaman modern. Di masa Nabi masyarakat membutuhkan aturan-aturan ini untuk kedamaian masyarakat. Hari ini kita memiliki sistem sosial yang berbeda. Kita dapat mengatakan aturan-aturan dan hukuman yang bersifat historis.


Para imam suka sekali membumbui khotbah mereka dengan hadis karena hadis meliputi begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari. Tetapi jika mereka membaca dari sumber aslinya, mungkin memilih hadis-hadis yang tidak sesuai dengan kehidupan Turki modern. Kami keberatan para khatib menggunakan terlalu banyak hadis. Dengan karya referensi baru dari pemerintah, yang menggaji para imam, mereka hanya akan menggunakan hadits dan interpretasi dari kitab hadis edisi baru ini.

26/05/13

GEREJA SCOTLAND, STEPHEN HAWKING DAN PALESTINA


GEREJA SCOTLAND, STEPHEN HAWKING PALESTINA
Oleh Jum’an

Tujuh tahun yang lalu, 171 Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Palestina bergabung dalam gerakan untuk melancarkan kampanye boikot, divestasi dan sanksi  terhadap Israel (BDS Movement) dengan tujuan diberlakukannya hukum internasional serta pengakuan hak-hak rakyat Palestina. Mereka menghimbau “rakyat yang berhati nurani di seluruh dunia untuk melancarkan boikot meluas dan melakukan divestasi dan sanksi terhadap Israel seperti yang diterapkan terhadap Afrika Selatan pada era apartheid." Kegiatan gerakan BDS, para pendiri, pendukung serta prestasi mereka dapat dilihat dalam situs diatas, termasuk deretan prestasi 2012. Bulan Mei ini BDS telah mencatat dua kemenangan besar. Pertama keputusan kosmolog dan fisikawan internasional terkenal, Stephen Hawking untuk memboikot dan menolak undangan dari Shimon Peres untuk menghadiri konferensi ilmiah yang disponsori oleh Israel. Yang kedua suatu makalah amat penting yang dikeluarkan oleh Gereja Skotlandia sehubungan dengan Sidang Majlis bulan Mei 2013, yang berisi diantaranya bahwa keberadaan Negara Yahudi Israel tidak dapat dibenarkan menurut kitab Injil.
Fisikawan Inggris Stephen Hawking mengumumkan menarik diri dari Konferensi Ilmiah bulan Juni, sebuah konferensi bergengsi yang disponsori oleh presiden Israel, Shimon Peres. Hawking telah menerima undangan untuk menghadiri konferensi, tapi kemudian menolaknya setelah menerima banyak email dari akademisi Palestina yang memintanya untuk menghormati boikot akademik terhadap Israel. Belakangan diketahui bahwa Hawking juga menerima himbauan dari 20 akademisi dari berbagai universitas ternama Inggris seperti Cambridge, London, Leeds, Southampton, Warwick, Newcastle dll termasuk M.I.T. (USA) untuk memboikot konferensi ilmiah itu. Mereka menganjurkan boikot sebagai cara yang tepat kaum ilmuwan untuk menanggapi praktek diskriminasi  terang-terangan dan sistimatis terhadap penduduk Palestina dan non-Yahudi lainnya. Keputusan Hawking juga menyiratkan bahwa nalar dan moralitas haruslah berjalan seiring. Prestai ilimiah Israel yang membanggakan harus dinilai nihil jika teknologi tersebut digunakan untuk menerapkan kekerasan dan memperkuat pendudukan militer. 'Ilmu pngetahuan' itulah andalan mereka untuk meyerbu Gaza yang merenggut ribuan nyawa yang tewas dan terluka.
Hawking bukanlah orang yang relijius tetapi seorang sarjana berprinsip dengan track record yang terhormat. Karena itu boikotnya terhadap konferensi ilmiah Israel merupakan pukulan moral yang menentukan. Ia berkeyakinan bahwa kebijaksanaan pemerintah Israel saat ini cenderung mengarah menuju bencana. Peristiwa ini sungguh menggelisahkan pemerintah Israel yang tidak berhasil membujuk sekutu-sekutunya. "Belum pernah ada seorang ilmuwan sederajat dia yang memboikot Israel" kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor. Karya ilmiah Hawking memiliki dampak demikian mendasar hingga hampir seluruh bidang penelitian dari teori relativitas, mekanika kuantum dan bidang studi lainnya terpaksa ditinjau ulang. Tokoh besar yang menderita kelumpuhan fisik total ini telah memberikan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan; hanya segelintir pria dan wanita yang sederajat dengannya dalam sejarah.
Pada 3 Mei 2013 Gereja Skotlandia menerbitkan laporan berjudul: "WARISAN ABRAHAM? PERIHAL NEGERI YANG DIJANJIKAN” Naskah 5000 kata untuk konsumsi nasional dan internasional ini isinya bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional saat ini dimana kebanyakan gereja utama di seluruh dunia memandang dan membenarkan “hak untuk exist” Israel adalah didasarkan kepada janji Tuhan dalam Injil. Itu tidak benar!  "Tanah yang dijanjikan' dalam Injil bukanlah berarti  tempat," kata makalah itu, "itu hanya metafora, kiasan tentang bagaimana seharusnya segala-sesuatu berlaku antara umat Tuhan. 'Tanah yang dijanjikan' ini dapat ditemukan - atau dibangun - di mana saja. "Keinginan banyak orang di Israel untuk memperoleh tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi adalah salah. Ekspansi pemukiman, tembok pemisah dan tindakan kekerasan melipat-duakan kesalahan itu jika dicarikan pembenarannya dari kitab Injil." Sementara beberapa gereja utama tetap diam, Gereja Skotlandia menanggapi masalah ini dengan keberanian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka mendesak untuk menjawab pertanyaan: "Apa yang dituntut Tuhan dari kalian…?” Kesimpulan politik utama laporan itu adalah pengakuan bahwa "situasi saat ini menunjukkan ketidaksetaraan kekuasaan dan perdamaian hanya mungkin jika pendudukan militer Israel di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, dan blokade Gaza, dihentikan.

Meskipun dasar moral keputusan Hawking dan Gereja Skotlandia berbeda tetapi ada dua hal yang jelas terbukti: Pertama, seruan boikot global BDS terus mendapat sambutan dari tokoh dan badan yang berpengaruh. Kedua, Israel semakin defensif karena alasan resmi pendudukan Palestina semakin berantakan dimata masyarakat sipil seluruh dunia. Belum pernah Israel kehilangan kontrol atas penjelasan yang telah disusun dengan hati-hati tentang alasan pendudukan militer dan pelanggaran hak asasi manusia di Palestina lebih dari yang mereka alami saat ini. 

19/05/13

DENG XIAOPING & KUCING HITAMNYA



DENG XIAOPING & KUCING HITAMNYA
Oleh: Jum’an

Sebuah jajak pendapat oleh lembaga survey terkenal Baseera di Mesir menunjukkan bahwa populariatas Presiden Mohammad Mursi telah menurun tajam dari 78% pada Sept. 2012 anjlok menjadi 49% beberapa pekan terakhir. Mereka yang tak setuju dengan kinerja Presiden naik dari 15% menjadi 43% dalam tujuh bulan terakhir. Setelah 100 hari menjabat, 58% responden menyatakan akan memilih dia lagi sedang hari-hari terakhir ini hanya 35% yang menyatakan demikian. Mursi adalah ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang dibentuk oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dar FJP pada pemilu 2012 dan menang. Di Tunisia yang mengalami revolusi lebih awal (2011), Mohammad Rashid Ghannushi pemimpin partai Islam Hizb-Nahdhah yang berkuasa tidak jauh berbeda nasibnya. Ia dilempari tomat dan telur busuk dalam acara peringatan jatuhnya pemerintah yang sebelumnya, karena banyak warga yang tidak puas dengan kinerja pemerintah. Menurut hasil survei bulan Februari lainnya, 77% responden menyatakan Tunisia bergerak kearah yang salah. Tingkat ketidak-puasan terhadap kinerja pemerintah tertinggi selama 2 tahun.

Demikian dimuat dalam The Daily Star Lebanon 13 Maret yang lalu. Disertai banyak contoh kasus lain termasuk Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon disimpulkan bahwa kinerja, dan bukan kesalehan yang merupakan faktor utama bagi suatu gerakan Islam untuk memperoleh dukungan rakyat setelah mereka memegang kendali  pemerintahan. Ikhwanul Muslimin adalah organisasi yang berlandaskan dan memandang Islam sebagai dien yang universal dan menyeluruh, bukan sekedar urusan ibadah ritual. Tujuannya mewujudkan terbentuknya individu muslim, rumah tangga serta pemerintahan yang Islami, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan mengibarkan bendera jihad dan dakwah sehingga dunia mendapatkan ketenteraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia seperti Partai Masyumi, Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Konflik kepentingan idealisme dan tuntutan rakyat bagi partai politik yang berkuasa  selalu terjadi dimana-mana. Partai yang semula populer karena idealismenya ternyata kinerjanya buruk ketika harus menjalankan roda pemerintahan.

Deng Xiaoping adalah Perdana Menteri RRC dan tokoh paling berkuasa China sesudah Mao Zedong dari tahun 70-an s/d awal 90-an. Tidak seperti Mao, Deng tidak menganggap politik sebagai panglima. Pandangan politik haruslah komunis tetapi ekonomi tidak harus, sebab tujuan pembangunan ekonomi Cina adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Teori tradisional Maois memfokuskan pengembangan China pada pembangunan sosialisme dan perjuangan kelas, sementara teori Deng menekankan pembangunan ekonomi dan stabilitas. Ia memasukkan pola ekonomi pasar dalam sistem politik Marxis-Leninis. Menurutnya menjunjung ajaran Mao tidak berarti meniru tindakannya secara membabi buta seperti yang dilakukan pemerintahan PM Hua Guofeng sebelumnya. Deng juga menganjurkan membuka Cina ke dunia luar serta mendukung pragmatisme politik dan ekonomi.

Semboyan Deng yang terkenal adalah: “Tidak peduli kucing putih atau kucing hitam asalkan bisa menangkap tikus” Dengan kata lain ia tidak terlalu khawatir tentang apakah kebijakan itu kapitalis atau sosialis asalkan meningkatkan perekonomian. Sementara semboyan di era Mao Zedong adalah: "Kereta sosialis yang datang terlambat lebih baik daripada kereta kapitalis yang tepat waktu". Sukses pertumbuhan ekonomi China yang fenomenal adalah berkat jasa pragmatisme teori Deng Xiaoping.

Hampir bersamaan waktu dengan gejolak Partai Komunis China dimasa Deng Xiaoping, Partai Nahdatul Ulama (NU) di Indonesia juga menghadapi dualisme kepentingan antara idealisme dan tuntutan masyarakat. NU akhirnya tidak lagi menjadi partai politik dan kembali ke organisasi sosial keagamaan pada 1984.
Nahdatul Ulama didirikan tahun 1926 sebagai gerakan sosial-keagamaan dengan tujuan mempertahankan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan untuk menghadapi tekanan-tekanan Pemerintah Penjajah Belanda terhadap ummat Islam di Indonesia. Garis perjuangan sosial keagamaan ini mengalami banyak kendala dan kritik internal sejak NU menjadi partai politik pada tahun 1952. Oleh karena itu pada Muktamar ke 27 tahun 1984 di Situbondo diputuskan untuk kembali ke khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan dan tidak terlibat dalam politik praktis lagi.
Adapun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sekarang disibukkan dengan kemelut impor daging sapi, menurut Harian Republika adalah :”Partai Islam Pengadopsi Ikhwanul Muslimin yang Gagal

12/05/13

VAN DOORN: YA NABI, I AM SORRY



VAN DOORN: YA NABI, I AM VERY SORRY
Oleh: Jum’an

Ingatkah anda kisah Umar bin Khattab ra sebelum ia masuk Islam, ketika dengan garangnya bergegas dengan pedang terhunus mau membunuh Nabi? Ketika melewati rumah saudara perempuannya Fatimah, didengarnya ia sedang membaca ayat-ayat Qur'an. Setelah memarahinya, ia tertegun sejenak merenungkan makna ayat-ayat yang baru didengarnya. Sebelumnya Umar menolak keras agama baru ini dan memihak propaganda yang penuh kebencian dan keonaran dijalan-jalan dan lembah Makkah. Yakin dengan kebenaran dan keindahan pesan ayat-ayat itu, ia segera memutuskan untuk memeluk Islam. Selanjutnya adalah sejarah kejayaan Islam. Sekarang 14 abad kemudian tepatnya akhir April 2013, sejarah berulang. Seorang pria kulit putih 46 tahun, datang ke Makkah dan Madinah bukan untuk melampiaskan kebenciannya kepada Nabi tetapi untuk umrah, bertobat dan mohon ampun. Ia adalah Arnoud Van Doorn, seorang tokoh terpelajar dari keluarga terhormat, dari Dewan Kota Den Haag Belanda. 

Beberapa tahun lalu Van Doorn adalah politikus vokal dari partai sayap kanan (Partij voor de Vrijheid, PVV) yang anti-Islam dan anti-imigran, pimpinan Greet Wilders. Van Doorn adalah orang kepercayaannya. Partai ini telah menyebarkan kebencian terhadap Islam sejak Perang Dunia II. Partai inilah yang bertanggung-jawab memproduksi film Fitna yang menghujat Islam dan berakhir dengan heboh protes di seluruh dunia. Ketika menyaksikan kemarahan Umat Islam yang begitu besar, Van Doorn merasa penasaran dan berupaya serius untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadits dan koleksi biografi Nabi Muhammad saw. Setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa Islam adalah kebalikan total dari apa yang dia pikir sebelumnya, dan kemudian jalanpun terbuka baginya untuk memeluk Islam. Ia mengakui bahwa visinya tentang Islam terbentuk 10-15 tahun yang lalu hanya berdasarkan stereotip negatif dan prasangka yang disebarkan oleh media. "Bagi saya Islam adalah agama kekerasan yang menindas perempuan dan tidak pantas dianut masyarakat," katanya. Di Makkah Van Doorn menjadi tamu Syekh Abdul-Rahman Al-Sudais, Imam Masjidil Haram. Sudais merasa bersyukur Allah telah memilih Van Doorn untuk menjadi seorang Muslim. Ketika Van Doorn menyatakan kesedihan dan penyesalan karena ikut menyebarkan film Fitna, Sudais mengutip ayat 114 Surat Hud yang menyatakan bahwa perbuatan baik akan menghapus yang buruk (innal hasanaat yudhbinas sayyiaat). Van Doorn bermaksud untuk berbuat baik dengan membuat film tentang Nabi Muhammad saw, untuk menyajikan gambaran yang benar tentang Islam.

Van Doorn mendapat kehormatan ikut menyulam Kiswah yaitu kain penutup Ka’bah yang akan dipasang tahun ini dan mengunjungi Universitas Ummul Qura serta Pusat Percetakan Aqur’an di Madinah. Van Doorn mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah untuk berdoa dan menyatakan maaf karena terlibat dalam kasus film yang menghujat Islam. Sheikh Ali Al-Hudaifi dan Sheikh Salah Al-Badar (dua imam Masjid Nabawi) memberikan pencerahan kepadanya bagaimana menjalani kehidupan seorang Muslim yang baik dan menghadapi tantangan yang dihadapi Islam di Barat .

Sampai sekarang Van Doorn tetap menjadi anggota Parlemen Belanda sebagai wakil independent dan menjadi penasihat wilayah di Balaikota Den Haag. Secara pribadi ia menegaskan keputusannya untuk mengamalkan Islam dalam surat resmi kepada walikota. Ia juga mengajukan permintaan resmi kepada wali kota untuk diizinkan melakukan shalat wajib selama jam kerjanya. Sarannya untuk kaum Muslimin yang tinggal di Eropa adalah bersabar, tabah dan mematuhi standar perilaku dan karakter yang baik digariskan oleh Islam. "Suka atau tidak, kita semua mewakili Islam, katanya. Setiap kesalahan yang kita buat dapat dikaitkan dengan agama kita.”

Dalam wawancara eksklusif dengan Saudi Gazette, Doorn mengatakan akan mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan pesan sejati Islam dan Nabinya melalui promosi film di seluruh dunia. "Saya akan mencoba segala upaya untuk melindungi hak-hak kaum Muslimin di Eropa serta untuk melayani Islam dan pengikutnya di seluruh dunia. Saya akan mencoba yang terbaik untuk memperbaiki kerusakan yang telah saya timbulkan terhadap Islam dan Nabinya akibat film ’Fitna’, "

Berita Arnoud masuk Islam pertama muncul bulan lalu ketika ia menulis dalam akun tweeternya: "New Start". Pada 27 Februari 2013, Arnoud mentweet syahadat dalam bahasa Arab “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad abduhu wa rasuluhu”, deklarasi seseorang yang masuk Islam. Ia mengumumkan masuk Islam tanpa memberikan alasan keputusannya tersebut. Kalangan orang dekatnya, mereka tahu bahwa sejak terjadinya prahara film Fitna, ia telah aktif mempelajari Islam selama hampir satu tahun. Ia benar-benar merasa penasaran. “Saya orang yang senang mencari sesuatu di bawah permukaan, jadi saya menilai tidak berdasarkan penampilan atau hanya yang dikatakan orang dan kita dengar”. Aboe Khoulani, rekannya di Dewan Kota Den Haag membantunya berhubungan dengan masjid as-Soennah, yang membimbingnya lebih jauh dengan antusias.

Mengingat kebenciannya kepada Islam sebelumnya, tweeter Arnoud pasti mengejutkan dan banyak yang meragukan dan mengecam keras postingnya. Apakah pernyataannya tulus atau aksi politik belaka? Dia mengklaim itu adalah tulus dan menegaskan tentang kepindahan agamanya kepada Al-Jazeera. Ini benar-benar menggetarkan bagi kaum anti-Islam, yang jelas bagi Geert Wilders, karena semua pendiriannya telah dirusak oleh seorang yang pernah menjadi kepercayaannya. Sejumlah orang mencapnya sebagai pengkhianat, sebagian besar lain meyakinkan bahwa ia telah mengambil keputusan yang benar. "Ini adalah keputusan yang sangat besar, yang tidak saya anggap enteng" kata Arnoud. Pada umumnya reaksi di tweeter positip dan mendudukung. Akunnya dibanjiri pengikut baru serta sambutan yang nenggembirakan. Ia merasa senang, orang-orang yang tidak mengenalnya secara pribadi memahami situasi dirinya dan mendukung pilihannya. Baginya menemukan Islam akhirnya menuntun kejalan hidup yang benar.

Tentang keluarnya dari Partai PVV, ia menyatakan: "Saya melihat setiap pengalaman hidup ada hikmahnya. Dan pengalaman saya memiliki relevansi dengan pilihan baru saya. Saya telah membuat kesalahan dalam hidup sebagaimana banyak orang lain. Dari kesalahan-kesalahan ini saya telah belajar banyak. Dan dengan konversi saya ke Islam, saya memiliki perasaan bahwa saya akhirnya menemukan jalan saya. Saya menyadari bahwa ini adalah awal yang baru dan bahwa saya masih harus banyak belajar. Kemungkinan saya akan terus menghadapi banyak perlawanan, juga dari instansi pemerintah tertentu," katanya. "Tetapi saya memiliki iman kepada Allah untuk mendukung dan membimbing saya melewati momen-momen ini."

Ahlan wa Sahlan Ya Van Doorn, semoga Allah membimbing kita mengkuti jalan yang benar. Dan semoga anda dapat meneladani Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Kisah diatas dapat anda klik di link-link berikut; silahkan!

05/05/13

JANGAN TAK PERCAYA EVOLUSI



JANGAN TIDAK PERCAYA EVOLUSI
Oleh: Jum’an

Pada 5 Januari 2013, The Deen Institute, lembaga yang menggalakkan berpikir kritis dan  dialog yang rasional dikalangan mahasiswa Islam di Inggris, telah mengadakan konferensi tentang kompatibilitas teori evolusi modern dengan teologi Islam di Aula London University. Dialog dengan topik  “Apakah Umat Islam Salah Faham tentang Evolusi?” yang cukup menegangkan karena sejumlah organisasi mahasiswa menolak berpartisipasi ini, merupakan event pertama dimana cendekiawan muslim terkemuka menangani topik kontroversial evolusi dalam forum publik. Dua tahun yang lalu Dr Usama Hasan, wakil ketua masjid at-Tawhid di London diberhentikan sebagai imam Jumat selama 25 tahun karena diancam akan dibunuh, setelah menyatakan pandangannya tentang evolusi. Sejumlah demonstran membagi-bagikan selebaran anonym yang mengutip tokoh agama bahwa setiap Muslim yang percaya pada evolusi adalah murtad dan harus dieksekusi. Dr Usama Hasan berasal dari keluarga Islam yang taat dan putera seorang ulama Wahabi terkenal.  “Umat Islam tidak boleh makmum di belakang seseorang yang percaya pada evolusi” kata Salir al-Sadlan seorang ulama senior Saudi dalam kotbahnya di masjid di Birmingham.

Dr. Usama adalah salah satu pembicara dalam dialog ini. Pembicara lainnya termasuk seorang pakar biologi evolusi, seorang ahli antropologi biologi, seorang ulama dan seorang kreasionis (kepercayaan bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan tanpa proses) dari Turki yg terkenal. Sebanyak 850 hadirin duduk tak beranjak selama 7 jam meski topik ini sangat sensitif dan kontroversial; tak ada ejekan maupun gangguan. Sebagian besar hadirin adalah profesional muda yang tidak punya pendapat kuat tapi sangat berminat mendengarkan posisi umat Islam tentang evolusi. Mereka tidak kecewa. Diskusi seperti ini biasanya tergelincir oleh retorika dari para kreasionis. Keberhasilan acara ini karena fakta bahwa semua panelis, kecuali tokoh kreasionis dari Turki, kurang lebih menerima konsensus ilmiah tentang evolusi, sehingga diskusi dapat memusat pada pertanyaan: Dapatkah kaum Muslimin mendamaikan antara evolusi manusia dengan iman mereka?

Kita tahu banyak ilmuwan Muslim yang tidak hanya memahami evolusi, tetapi juga telah memikirkan implikasinya terhadap keyakinan agamanya. Dr. Ehab Abouheif adalah ahli biologi evolusi yang memimpin penelitian di McGill University Kanada dan mengerjakan penelitian tentang evolusi pada semut. Awan 2012 lalu Abouheif membuat kejutan dengan penemuan spesies semut yang mengandung gen yang lamban dapat diaktifkan menjadi semut-semut prajurit yang super. Prof. Ehab Abouheif menjelaskan kasus ilmiah tentang evolusi biologi dan berbicara tentang perlunya umat Islam memahami prinsip dasar biologi modern ini. Dia mencontohkan dirinya dalam melawan kesalah-pahaman bahwa seseorang tidak dapat mendamaikan evolusi dengan Islam. Abouheif, adalah seorang ilmuwan sekaligus seorang beriman yang tulus. "Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan," katanya. Sebagai tamu American Islamic Congress di Univ. Boston, Abouheif mengemukakan pendapat pribadinya tidak hanya tentang agama sebagai seorang ilmuwan dan seorang Muslim, tetapi juga keprihatinannya tentang konsekuensi bagi negara-negara Islam yang gagal untuk merangkul tradisi ilmiah. Jika kita menolak evolusi sebagai sains dan tak bersedia untuk menyimak bukti, berarti untuk semua ilmu pengetahuan, ketika bersinggungan dengan masalah sosial atau politik, kita juga tidak akan percaya. Dia menghimbau agar dunia Muslim menjadi inovator dan terlibat memimpin dalam teknologi dan inovasi, dan ikut dalam produksi, bukan hanya menjadi konsumen. Ia merasa sangat prihatin ketika Pemerintah Saudi terpaksa minta bantuan negara Barat untuk memberikan vaksin H1N1 untuk para jamaah haji pada 2009, padahal seharusnya dapat memproduksinya sendiri.

Pembicara lainnya, Prof. Fatimah Jackson, adalah pakar antropologi biologi di Univ. Carolina Utara. Dia mengajarkan evolusi sejak sebelum masuk Islam pada 1970-an dan tidak pernah menganggap keduanya saling bertentangan. Baginya ilmu pengetahuan hanyalah mengatakan "bagaimana" sesuatu terjadi, dan bukan "mengapa". Evolusi tidak menggantikan iman, tetapi justru melengkapinya. Abouheif dan Jackson adalah peneliti berprestasi yang menerima pandangan ilmiah tentang evolusi. Mereka sangat antusias tentang pekerjaan mereka dan tak tergoyahkan dalam membela iman mereka.
Dialog juga menampilkan debat teologis antara Dr.Usama Hasan dan Syaikh Yasir Qadhi. Dr.Usama menyatakan pada dasarnya ada ruang dalam Islam untuk mengakomodir evolusi manusia. Hasan membantah bahwa kepercayaan evolusi pasti akan mengarah pada ateisme. "Ilmu pengetahuan mengatakan kepada kita bagaimana kita diciptakan, wahyu memberitahu kita mengapa." Ilmu pengetahuan tidak bisa mengukur keberadaan jiwa, demikian pula tak ada eksperimen yang bisa membuktikan ataupun menolak adanya Tuhan, katanya. Hassan menyatakan bahwa pandangannya tentang evolusi tetap dalam batas-batas pemikiran Islam dan bahwa perbedaan pendapat itu diperbolehkan. Syaikh Yasir Qadhi tidak setuju: "Adalah tak bermoral untuk memiliki dua pendapat Islam yang berbeda tentang masalah ini." Menurut Syaikh Yasir, ia menerima semua evolusi kecuali untuk manusia. Adalah salah kalau umat Islam mengatakan tidak percaya pada evolusi. Sebagian besar prinsip evolusi tidak menimbulkan masalah bagi teologi Islam” katanya. Tidak mengapa umat Islam percaya ada dinosaurus, spesiasi (proses evolusi munculnya spesies baru) dan bahkan nenek moyang bersama untuk semua hewan di Bumi - kecuali satu pengecualian - umat manusia. "Kami adalah spesies terhormat berbeda dari hewan dalam hal metakognisi, bahasa, moral, kreativitas dan agama."

Namun, ia mengakui bahwa maksimal yang kita bisa katakan dari perspektif teologis Islam adalah bahwa Allah menyisipkan Adam kedalam tatanan alamiah. "Allah menciptakan Adam sesuai/ cocok masuk ke dalam skema besar alam. Ibarat kartu domino yang memainkannya harus saling sambung menyambung, Adam adalah domino terakhir ditempatkan langsung oleh Allah. Adam dan Hawa tidak memiliki orang tua - mereka tidak berevolusi. Selain dari itu tidak dapat dibenarkan menurut Al-Qur’an." Dari sudut pandangnya, orang beriman akan melihat domino terakhir ini sebagai mukjizat dari Allah swt. Syaikh Yasir menunjukkan bahwa secara historis umat Islam tidak anti-ilmu pengetahuan, berbeda dengan sejarah umat Kristen. Tapi dia melanjutkan: "Kita perlu menempatkan ilmu di tempat yang tepat". Dalam pandangannya, "ilmu pengetahuan adalah studi tentang memahami ciptaan Allah". Penulis John Farrel dalam membandingkan ilmuwan Islam dan Kristen menghadapi kaum kreasionis yang menentang sains dan evolusi menyimpulkan bahwa sains tidak banyak betentangan dengan ajaran Islam dibandingkan yang timbul dalam Kristen tradisional.

Dr. Oktar Babuna, juru bicara Harun Yahya, pendiri gerakan kreasionis dari Turki yang sering dituduh mengaburkan pemikiran ilmiah, mengatakan bahwa evolusi bukan teori ilmiah karena belum diverifikasi oleh bukti ilmiah. Menurut logikanya, jika perubahan kecil berturut-turut terakumulasi menjadi perubahan besar selama pembentukan spesies baru, maka jumlah bentuk peralihan akan melebihi jumlah spesies yang asli dan spesies yang sudah berubah dalam catatan fosil. Abouheif dan Fatimah Jackson menjelaskan bahwa harapan menemukan fosil transisi (missing link) berasal dari kekeliruan anggapan Babuna bahwa evolusi berjalan bertahap (perubahan kecil yang berturut-turut) dan linear. Padahal menurut paleontolog Niles Eldredge dan Stephen Jay Gould (1972) sebagian besar evolusi ditandai oleh periode panjang yang stabil yang diselingi oleh kejadian langka (jarang, sesekali) persimpangan evolusi. Teori punctuated equilibrium (kesetimbangan berselang) ini kontras terhadap gagasan populer bahwa perubahan evolusioner ditandai dengan pola perubahan halus dan kontinyu dalam catatan fosil. Abouheif menyesalkan bahwa Babuna menyeret kita kembali ke teori Darwin 1859 versi evolusi sebelum penemuan DNA

Ini adalah perdebatan serius tentang topik yang penting. Namun, nada perdebatan dan kualitas pertukaran intelektual di acara London ini adalah menggairahkan dan itu menunjukkan Islam modern memiliki kedewasaan untuk mengatasi tantangan yang dirasakan dari ide ilmiah. Begitu menurut Dr. Yasmin Khan, dan Salman Hameed dalam Harian Nasional Inggris “The Guardian” 

20/04/13

TEKA-TEKI PEWARIS DUNIA



TEKA TEKI PEWARIS DUNIA
Oleh: Jum’an

Dalam tulisan saya yang lalu "Mungkinkah Umat Islam Akan Punah" saya mengutip tentang menurunnya tingkat kelahiran yang drastis dari beberapa Negara Islam yang mengundang pertanyaan apakah yang akan terjadi kelak. Penulis Yahudi Amerika David Goldman memberi judul bukunya (2011) Bagaimana  Peradaban Runtuh (Dan Mengapa Islam akan Runtuh Juga) Sebenarnya bukan hanya penduduk negara-negara Islam saja yang mengalami penurunan angka kelahiran tetapi juga agama dan negara lain. Penyebabnya adalah pengaruh kehidupan modern dengan kemakmuran yang meningkat, urbanisasi, keluarga berencana, pendidikan wanita dll. Saat ini dunia sedang mengalami pergeseran yang luar biasa dari pertumbuhan menuju ke penurunan jumlah penduduk. Yang paling menonjol adalah nagara-negara Eropah yang angka kelahiran penduduknya lebih rendah dari angka kematian. Tak cukup untuk ganti yang mati. Eropah dikatakan berada dalam jalur kepunahan yang disengaja. India, Asia Tenggara dan Amerika Latin juga sedang mengikuti jalan yang sama. 

Prof. Eric Kaufmann, dosen ilmu politik pada Universitas London Inggris, mengamati fenomena yang menarik yaitu sementara angka kelahiran dunia anjlok, kaum fundamentalis baik Islam, Nasrani maupun Yahudi justru melawan tren global itu dengan angka kelahiran yang tetap tinggi. Dalam bukunya “Shall The Religious Inherit the World” (2010) ia menulis bahwa senjata utama kaum fundamentalis adalah demografi, jumlah penganut. Kaum Yahudi ultra-ortodox yang dulu merupakan minoritas kecil di Israel sekarang anak-anak mereka merupakan sepertiga dari murid sekolah di negara itu. Tahun 2050 nanti, mereka akan menjadi mayoritas. Di dunia Islam kaum fundamentalis mengalami lonjakan yang luar biasa sejak tahun 60an. Tidak lama lagi kaum Salafi yang fanatik, dengan tingkat kelahiran yang tinggi dan kecenderungan isolasionis, akan menjadi mayoritas yang dominan. Kaum fundamentalis Mormon di Amerika juga dikenal anti pembatasan kelahiran dan angka kelahiran mereka tinggi. Pengikut gerakan Quiverfull, sekte Kristen konservatif yang berkeyakinan bahwa anak adalah berkah tertinggi dan merupakan “anak panah ditangan ksatria” bahkan mempunyai “rencana 200 tahun” untuk mencapai dominasi demografi.

Kebangkitan kaum fundamentalis dapat menyulut kekerasan agama. Tetapi menurut Kaufmann kekerasan bukan masalah utama. Dalam kenyataannya kaum fundamentalis tidak lebih keras dari kaum anarkis, kaum komunis, kaum neo-konservatif atau bahkan korporasi atau para bankir yang menjajah ekonomi dunia.

Umumnya kaum fundamentalis hidup tidak konsumtif, mereka senang berkorban, tidak mementingkan hidup “kini dan disini”. Mereka bekerja keras untuk membangun dunia tersendiri yang berbeda dari mainstream dengan membangun sekolah-sekolah dan pusat-pusat kegiatan sendiri. Mereka mempunyai rasa kebersamaan yang kuat, menikah dalam kelompoknya sendiri, dan bekerjasama demi kebaikan bersama kelompok mereka. Rasa keagamaannya kuat, sehingga kaum sekuler tidak punya celah untuk memikat anak-anak mereka.

Ancaman terbesar dari kebangkitan kaum fundamentalis menurut Kaufmann adalah ancaman kultural, mereka dapat menggantikan rasio dan kebebasan dengan fanatisme moral yang akan berdampak di segala bidang. Ancaman itupun menurutnya masih lebih merupakan persepsi ketimbang kenyataan. Liberalisme sekuler, kata Kaufman,  sedang mengalami keruntuhan karena sarat dengan kontradiksinya sendiri. Bukannya membuat dunia lebih adil, teori-teori keadilan liberal telah melipat gandakan ketidakadilan. Pasar bebas hanya menumpuk kekayaan di tangan segelintir orang. Negara-negara sedang berkembang tersisih dan diperbudak. Nilai prediksi ajaran mereka adalah nol besar.
Mereka yang selama ini merasa bahwa agama tidak lagi layak-jual  dan menyangka kaum agama akan punah, mungkin akan terkejut melihat pegeseran demografi saat ini. Kaum fundamentalis justru siap mengambil alih dunia dan mengubur hantu liberalisme. Begitu kata Eric Kaufmann.

Jadi siapakah gerangan yang lebih berpotensi mewarisi dunia? Kaum liberal-sekuler dengan ajaran kebebasan dan rasional mereka, atau kaum fundamentalis dengan fanatisme moral mereka? Ataukah modernisme juga akan melunturkan cita-cita kaum fundamentalis? Entahlah. Alqur’an mengatakan dalam Surat al-Anbiya ayat 105 bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang saleh”. Saya percaya!

06/04/13

MUNGKINKAH UMAT ISLAM AKAN PUNAH?



MUNGKINKAH UMAT ISLAM AKAN PUNAH?
Oleh: Jum’an

Nadia mempunyai enam saudara kandung: dua laki-laki dan empat perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Ia mempunyai dua orang anak, enam saudaranya yang lain masing-masing juga mempunyai dua atau tiga anak, sedangkan seorang saudara perempuan lainnya memilih menjadi wanita karir, hampir berakhir masa suburnya belum juga mau menikah. Begitulah Nadia hanya melahirkan dua anak sementara ibunya melahirkan 7 anak; suatu penurunan angka kelahiran yang tajam. Akibatnya Nadia banyak saudara tetapi miskin anak. Mungkin bukan hanya keluarga Nadia tetapi banyak juga keluarga kita yang bernasib sama, bahkan merupakan trend nasional  sebagai dampak keberhasilan keluarga berencana yang kita banggakan. Salah seorang karyawati dikantor saya yang dua kali hamil berturut-turut dalam waktu tidak lama, menjadi cemoohan sinis dalam bisik-bisik diantara kami. Mau dikasih makan apa? Menyemai benih pengemis, ejek yang lainnya.

Menurut laporan terbaru Komisi Pusat Perencanaan Maroko, trend tingkat kelahiran di Maroko telah menurun secara dramatis dari 4.5 anak per-wanita pada 1987 turun menjadi hanya seperohnya yaitu 2.4 anak per-wanita pada 2010. Di Turki tingkat kelahiran saat ini hanya 1,5 anak per-wanita, turun dari 6,5 anak per-wanita satu generasi sebelumnya, jauh dibawah angka kesimbangan untuk regenerasi. Kesuburan wanita Iran, hanya dalam satu generasi telah menurun hampir 6 anak per-wanita dari 7,5 menjadi hanya 1,5 anak per-wanita. Disana kebanyakan orang mempunyai 6 atau 7 saudara tetapi hanya memiliki  1 atau 2 anak saja. Orang Arab diwilayah Yudea dan Samaria  generasi yang lalu mempunyai rata-rata 8 anak, sementara sekarang hanya 3, sama dengan tingkat kesuburan orang Israel. Di Pakistan kesuburan menurun lebih dari 3 anak per-wanita. Sedangkan di Mesir dan Indonesia menurun 4 anak per-wanita (mungkin dari 7 manjadi 3 seperti  di keluarga Nadia).  

Data angka penurunan kelahiran diatas dimuat dalam buku David Goldman “How Civilization Die”  2011 yang lalu. Goldman adalah seorang penulis Yahudi Amerika pendukung Israel tulen yang opini dan analisanya dapat kita duga. Buku ini membahas tentang runtuhnya demografi, angka kelahiran yang menurun secara dramatis dan meningkatnya populasi lanjut usia, tidak hanya di Eropah tetapi, diluar kesadaran kita, juga di banyak dunia Muslim. Terlepas dari analisa dan opini penulisnya yang anti Islam,  fakta tentang penurunan angka kelahiran di beberapa negara Islam diatas sungguh mengagetkan dan menakutkan. Banyak negara-negara Islam yang tingkat kelahiran penduduknya menurun hampir serendah negara-negara Eropah. Akibat runtuhnya tingkat kelahiran, sebagian besar Eropah sekarang “berada pada jalur sengaja menuju kepunahan”. Eropah, meskipun dalam kemunduran mungkin memiliki sumber daya untuk mendukung populasi yang menua. Tetapi negara-negara Islam yang miskin, populasi yang menua berarti sebuah peradaban diambang kehancuran. Penyusutan populasi bukanlah kabar baik seperti pendapat beberapa pengamat.Tanpa orang muda yang cukup untuk mempertahankan tingkat produksi dan mendukung penduduk usia lanjut yang makin banyak, penurunan angka kelahiran menimbulkan ancaman terhadap stabilitas dunia yang lebih mengerikan dari skenario kiamat yang disebabkan ledakan penduduk

Menurut Goldman orang-orang yang beriman memiliki lebih banyak anak dan orang-orang sekuler memiliki sedikit atau tidak sama sekali sehingga para pengamat liberal merasa ketakutan bahwa kelak dunia akan diwarisi oleh mereka.  Memang benar bahwa kelahiran dinegara Muslim jauh melebihi angka kelahiran di Barat, tapi sebagian besar dunia Islam menyusul krisis demografi Barat dengan kecepatan yang mengejutkan. Negara-negara muslim terpelajar seperti Iran, Turki, Aljazair, Tunisia dll, angka kelahirannya menurun dibawah tingkat kestabilan. Goldman berpendapat bahwa peradaban tanpa keyakinan agama yang kuat akan kehilangan keinginan untuk berkembang biak. Menurutnya orang bertahan hidup ketika hidup mereka ditopang oleh makna yang mengatasi kematian baik melalui keyakinan tetang hidup yang kekal ataupun keyakinan atas kelestarian budaya mereka. Ketika sumber makna itu layu, orang merangkul kematian melalui keengganan membiak, nafsu dan perang. Mereka berhenti memiliki anak, mengkusamkan indra mereka dengan alkohol dan obat obatan, menjadi sedih dan terlalu sering mengabaikan diri sendiri.

Kisah punahnya suatu peradaban (seperti kaum Ad dan Tsamud) yang hidup pada abad ke 20 dan abad 8 sebelum Masehi banyak disebut-sebut dalam Alqur’an. Bahkan dalam surat Al-Maaidah ayat 54 dan surat Muhammad ayat 38 Allah mengingatkan orang-orang yang beriman, apabila mereka berpaling, akan digantikan dengan ummat yang baru, yang lebih cinta kepada Allah dan dicintai Allah. David Goldman melihat tanda-tanda kearah itu, bukan saja bagi umat Islam tetapi juga umat-umat dan peradaban yang lain. Wallohu a’lam ……………