10/02/13

SAYA DIATAS RATA-RATA


Oleh: Jum'an..

Diantara rekan-rekan sekantor rasanya kebaikan budi dan kemurahan hati, termasuk nilai kinerja saya adalah diatas rata-rata. Demikian pula diantara tetangga, rekan-rekan seprofesi serta rekan-rekan seusia, saya merasa demikian. Padahal mungkin sulit bagi saya mencapai nilai diatas rata-rata kalau benar-benar diuji dalam bidang tertentu seperti pengetahuan computer, bermain catur ataupun mengemudi mobil. Tetapi begitulah, diberbagai arena saya merasa berada diatas rata-rata. Kalau nilai terbaik 10, nilai saya mungkin tujuh. Apakah anda punya perasaan begitu juga? Kalau memang demikian, benarlah apa yang dinyatakan oleh  David Dunning yang telah meneliti  gejala ini selama beberapa puluh tahun. Psikolog dari Univ. Cornell ini mengatakan bahwa fenomena berkhayal unggul itu memang melekat erat pada semua orang.

Kalau anda mengenal saya dari dekat anda dapat menilai berapa nilai saya kira-kira menurut anda. Mungkin hanya empat atau lima. Hanya saja anda pasti merasa rikuh untuk mengatakannya didepan saya. Apalagi bila anda merasa kurang pandai menilai orang lain, anda semakin tidak mau mengatakan bahwa saya dibawah rata-rata. Karena itu ilusi superioritas saya terlindung dari gangguan dan, kata Dunning, perasaan unggul itu ternyata baik bagi kesehatan mental kita. Kebanyakan orang cukup teliti dalam menilai orang lain; tetapi berlebihan ketika menilai kemampuan sendiri, seolah-olah bebas dari segala kendala. Dalam penelitian klasik tahun 1977, 94% para professor menilai diri mereka “diatas rata-rta” relatif terhadap rekan-rekan mereka. Dalam penelitian lain 32% karyawan sebuah perusahaan software menilai diri mereka lebih baik dari hampir semua rekan kerja mereka. Para sopir, menurut penelitian Mark Horswill psikolog Univ. Queensland Australia, menilai diri mereka diatas rata-rata, meskipun dalam test persepsi kecelakaan nilai mereka rendah. Sopir lama, sopir baru, sopir muda dan sopir tua sama. Anehnya mereka yang paling tidak berkompeten adalah yang paling mungkin untuk melebih-lebihkan kemampuan mereka, sementara mereka yang berkompeten cenderung merendahkan diri, karena apa yang mereka rasakan mudah dikiranya mudah juga bagi orang lain.

Satu-satunya kelompok yang terbebas dari berkhayal unggul adalah orang-orang yang menderita depresi dan kecemasan. Mereka tidak punya kecenderungan membesar-besarkan diri. Semakin parah depresi mereka semakin besar kemungkinan mereka meremehkan diri. Karena itu ilusi super yang melekat pada semua orang itu, menurut Horswill mungkin merupakan mekanisme perlindungan bagi  kesehatan mental kita. Dengan ilusi bahwa kita unggul, harga diri kita seperti terlindungi. Menurut David Dunning, ilusi super atau membesar-besarkan diri bervariasi diantara berbagai budaya. Di Amerika fenomena itu sangat kentara, sementara di Korea, Jepang atau China hampir tak teramati. Orang timur lebih mementingkan peningkatan diri sementara budaya Barat cenderung mementingkan harga diri.

Lalu bagaimana kita mensikapi ilusi kita yang salah itu? Karena tidak mungkin menilai diri sendiri dengan objektif, sebaiknya kita berusaha menyesuaikan diri dengan realitas. Salah satunya dengan melihat dan mencontoh perlaku orang lain yang jelas-jelas berjasa bagi masyarakat. Karena umumnya kita cukup teliti dalam menilai orang lain kita harus berinisiatif menangkap dan memperhatikan  kritik-kritik konstruktif dari orang lain. Kata Dunning “Jalan menuju mawas diri adalah melalui orang lain” 

27/01/13

GOD IS NOT A CHRISTIAN


TUHAN ITU BUKAN KRISTEN
Oleh: Jum'an

Dalam KTT Perdamaian Dunia 2009 di Vancouver Kanada, Dalai Lama (sekarang 78th) pemimpin spiritual Tibet dan Uskup Desmond Tutu (82th) dari Afrika Selatan berkesempatan beraudiensi dengan hadirin termasuk beberapa pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian. Catatan singkat dialog langka antara kedua lansia tokoh spiritual dibawah ini dikutip dari buku Dalali Lama “The wisdom of Compassion” yang dimuat dalam Huffington Post awal Januari ini. Ketika itu Dalai Lama berkata: "Saya ingin, bagaiman cara terbaik untuk berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan yang lebih mendalam seperti cinta, kasih sayang dan pengampunan, tanpa mengandalkan kepada Tuhan, tapi mengandalkan kepada diri kita sendiri. Saya sendiri sebagai seorang bikhsu yang percaya, mengikuti sebanyak mungkin ajaran Budha untuk meningkatkan diri. Tetapi saya tidak pernah menyentuh hal ini bila berbicara dengan orang lain. Ajaran Budha adalah kepentingan saya bukan kepentingan orang lain. Terus terang...., ketika anda (Tutu) dan orang-orang berbicara tentang Tuhan, Sang Pencipta, saya termasuk yang tidak percaya. Dalam agama Budha tidak ada Sang Pencipta. Memang kami mengakui Budha, para bodhisatwa yaitu manusia-manusia yang lebih tinggi, lebih cerah. Tetapi kalau kita hanya mengandalkan mereka, kita hanya bisa duduk bermalas-malas. Tidak membantu. Itulah pendapat saya."

Lalu Desmond Tutu menimpali: "Ketika anda mengatakan ada atau tidaknya Tuhan, saya berpikir siapa yag anda salahkan?” Sebelum Tutu melanjutkan, Dalai Lama menginterupsi: "Maaf... Boleh saya potong?... Sebentar?" "Silahkan!" kata Tutu. Dalai Lama meneruskan: "Masalahnya, jika kita melibatkan keyakinan agama, maka banyak variasi dan perbedaan pandangan yang mendasar. Jadi sangat rumit. Itulah mengapa India menggunakan pendekatan sekuler waktu membuat draft konstitusi. Terlalu banyak agama disana, Hindu, Islam, Budha, Yahudi, Sikh, Zoroaster, Jainisme. Agama yang bertuhan maupun yang tidak bertuhan. Lalu siapa yang memutuskan mana yang benar?"

Desmond Tutu menjawab: "Izinkan saya mengatakan bahwa satu diantara hal yg perlu kita tetapkan; yaitu (Tutu terdiam sejenak) Tuhan itu bukanlah (penganut) Kristen." Ia diam lagi, melihat Dalai Lama tertawa. "Anda lebih lega sekarang?" "Kita bisa lanjutkan tapi...." Kemudian Tutu berbicara tentang kebesaran Tuhan yang sangat mempesona hadirin terutama karena spontanitasnya dalam mengemukakan isi hatinya. Diantaranya, pernyataanya mengapa Tuhan membiarkan saja orang mengambil jalan yang salah; seperti mengapa dibiarkannya institusi Gereja membenarkan politik Aprtheid di Afrika Selatan selama hampir 50 tahun. Kalau saya yang menjadi Tuhan, katanya, pasti sudah saya tumpas mereka. Tuhan memang Maha Kuasa tetapi juga (sambil berbisik) tak berdaya.....”

Pada kesempatan lain Dalai Lama berkata: "Menurut saya semua agama mempunyai potensi yang baik untuk meningkatkan kondisi manusia. Tetapi sejumlah penganut agama, mereka tidak benar-benar serius tentang ajaran agamanya sendiri. Mereka karena egoisme, uang atau kekuasaan, menggunakan agama untuk keuntungan pribadi. Tetapi kalau ditimbang-timbang secara keseluruhan jauh lebih banyak segi positif dari negatifnya. Jauh, jauh lebih banyak." "Benar" kata Tutu. Menurutnya agama sendiri secara moral adalah netral, bukan baik bukan buruk. Kristen telah melahirkan Ku Kux Klan, pembunuh dan dokter-dokter pelaku aborsi. Apa yang anda lakukan dengan agama, itulah yang penting. Ibarat pisau anda bisa menggunakannya untuk memotong roti atau…. membunuh. Agama adalah baik bila ia menghasilkan seorang Dalai Lama, mother Theresa dan Martin Luther King. Tetapi kita harus sangat hati-hati jangan sampai mengatakan bahwa kerena ada orang Islam yang jahat berarti Islam adalah agama yang tidak baik. Karena ada penganut Budha yang jahat, agama Budha adalah buruk. Lihat saja diktator-diktator Budha Di Burma."
Kedua lansia itu berbicara seperti tanpa beban, seperti menjadi kanak-kanak lagi. Tertawa riang, saling menyindir, berbisik, mengakui kelemahan masing-masing. Persahabatan mereka tampak begitu tulus. Tutu pernah mengatakan kepada Dalai Lama di Oslo: “Ingat kamera sedang menyorot anda. Jangan bertingkah seperti anak sekolah yang nakal. Tampillah sebagaimana orang suci….” Tetapi pada saatnya mereka kentara sebagai tokoh spiritual yang matang. Agar anda tidak salah faham dengan tulisan ini, ikutilah link-link diatas. Lebih lengkap, lebih jelas.

19/01/13

MAUNYA MEREKA KITA TETAP MISKIN


Oleh: Jum'an

Setiap hari Jum’at pagi dirumah Haji Ali di Tanah Abang berlangsung pembagian sedekah untuk rombongan ibu-ibu miskin yang datang bergantian sepanjang pagi. Mereka berkelompok 10-15 orang setiap rombongan. Semua berjalan tertib karena sudah biasa dan nampak sudah terjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara kedua pihak. Haji Ali merelakan sebagian rizki yang diperolehnya dan ibu-ibu miskin itu terpenuhi kebutuhan dapurnya untuk hari itu. Haji Ali memperoleh pahala, ibu-ibu itu mendapatkan rizkinya melalui tangan Haji Ali. Kebiasaan itu sudah menjadi tradisi sejak belasan tahun saya tinggal disitu. Dari satu sisi fenomena diatas merupakan gambaran sejuk mayarakat yang islami dimana orang-orang kaya saling berbagi dengan kaum fakir-miskin. Dinamika yang menurut saya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sampai kapan kiranya tradisi demikian akan berlangsung? Bukankah mereka yang miskin tidak seharusnya tetap miskin? Sementara Haji Ali jangan-jangan lebih senang dengan keadaan tetap seperti sekarang. Ia mungkin cenderung menikmati keadaan status-quo. Ia merasa bahwa tugas ubudiahnya sudah ia tunaikan dengan memberi mereka sedekah setiap Jum’at. Percayakah anda bahwa ada orang-orang yang sadar maupun tak sadar senang memelihara dan menikmati keadaan status quo seperti itu? Lebih senang bila yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin?

Tahun-tahun belakangan ini banyak anak-anak perempuan miskin dari kampung saya yang berhasil bekerja sebagi pembantu rumah tangga di luar negri dengan gaji yang relatif besar. Orang tua mereka dapat membeli sawah dan membangun rumah dan tampil setaraf dengan warga desa yang lain. Sahabat-sahabat saya sekampung umumnya enggan menceritakan kisah sukses itu. Seperti kurang rela melihat perubahan nasib itu. Mereka lebih bangga menceritakan anaknya yang berhasil menjadi pegawai negri sebagai guru SD atau kaeraywan dikantor kecamatan. Mereka lebih suka kalau gadis-gadis miskin itu tetap miskin dan sabar menerima takdir mereka. Sikap seperti itu nampaknya memang jamak.

Leila de Bruyne, pendiri yayasan “Flying Kite” yang bertujuan membantu meningkatkan taraf hidup anak-anak yatim di Kenya Afrika, mengamati hal yang sama.  Ia merasa kecewa ketika sebuah proyek listrik tenaga matahari disana ingin meng-gratiskan sebagian listriknya untuk penerangan panti asuhannya, karena banyak pihak yang tidak setuju. Para donatur, relawan dan pendukung yayasannya, berpendapat bahwa membesarkan anak-anak di rumah yatim dengan fasilitas modern akan membuat mereka kehilangan hubungan dengan masyarakat sekitarnya yang kebanyakan kaum miskin. Kebanyakan mereka, seperti juga para turis, ingin mengagumi Kenya dari sambutan rakyatnya yang ramah-tamah, miskin tetapi bahagia ditengah pemandangan alam Afrika yang eksotis. Padahal Leila lebih memahami betapa sakit rasanya menjadi orang miskin; tetapi kolega-koleganya memilih keramah-tamahan dan keindahan alam. Mereka lebih suka keadaan status-quo yaitu agar Kenya dan anak-anak yatimnya tetap miskin.

Sebuah laporang hasil penelitian 2012 sangat mengejutkan pemerintah Inggris karena terungkap bahwa jurang antara orang kaya dan orang miskin disana begitu dalam, jauh diluar dugaan. Penelitian yang diungkapkan oleh Nick Clegg wakil Perdana Menteri Inggris itu menunjukkkan bukti kesesenjangan yang mencolok antara peluang hidup orang miskin dan orang kaya di Inggris. Diakuinya pendapatan dan latar belakang tingkat sosial orang tua sangat mempengaruhi nasib masa depan hidup anak-anak, dan hampir tidak berubah selama puluhan tahun. Ia bertekad untuk mempersempit kesenjangan itu dan membantah mitos bahwa perataan pendapatan akan menurunknan standar nasional. Mitos itu, katanya, sering ditonjolkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari keadaan status-quo. The Church of England mengakui Inggris sebagai salah satu Negara Barat yang paling tidak merata kesejahteraannya, perbedaan antara lingkungan terkaya dan termiskin sangat mengkhawatirkan.

Jadi bukan hanya dugaan kita bahwa ada orang-orang yang menghendaki kita tetap miskin; Leila de Bruyne merasakannya dan Wakil Perdana Mentri Inggris Nick Clegg juga mengakui dan mengutuknya. Disamping itu naluri jahat kita sering mengatakan bahwa kebanyakan orang miskin itu disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri; mereka malas dan pantas kalau miskin…. 

05/01/13

MENYESALI KIAMAT YANG GAGAL


Oleh: Jum’an

Agama-agama samawi Islam, Nasrani dan Yahudi ketiganya mengakui bahwa hari kiamat akan terjadi. Dunia dan seisinya akan hancur, manusia akan diadili dan alam yang baru akan dimulai. Tetapi tidak disebutkan kapan akan terjadi, kecuali dalam bentuk lambang dan tamsil. Dalam Qur’an Surat al-A’raf dijelaskan bahwa pengetahuan tentang kiamat haya ada disisi Allah. Tak seorang pun yang tahu kapan akan datangnya kecuali Dia. Mungkin itulah sebabnya kita jarang mendengar ramalan hari kiamat dari alim-ulama Islam. Benjamin Radford, kolumnis Live Science mencatat 11 ramalan kiamat yang gagal dari 1806 –  1900 - 2011 yang kebanyakan berasal dari para pendeta, ahli astronomi dan peramal seperti Nostradamus. Ramalan kiamat 21 Desember 2012 yang juga gagal tidak berasal dari tokoh atau perspektif agama, tetapi dari salah penafsiran tentang berakhirnya kalender jangka panjang suku Maya oleh orang-orang masa kini. Prasasti suku Maya tidak menuliskan ramalan akan datangnya kiamat. Bermacam-macam sikap orang menanggapi ramalan kiamat dari yang ketakutan dan membuat bunker bawah tanah sampai yang tidak peduli, tergantung siapa dan seberapa kuat karisma sang peramal. Setelah ramalan tak terbukti, reaksi orangpun beragam; kebanyakan orang yang percaya merasa bergembira, sebagian lain tidak percaya lagi dengan segala jenis ramalan, dan ada pula yang (anehnya) makin percaya dan justru meyakini bahwa kiamat itu dibatalkan Tuhan karena doa mereka; seperti yang pernah saya kutip dalam tulisan saya “Kiamat Sudah Dekat”
Stephen Kent, soiolog dari Universitas Alberta mengatakan dampak kiamat yang gagal  21-12-12 lalu dapat menyebabkan penganut setia ramalan itu menderita trauma. Ini karena mereka menganggap hari itu akan menjadi arena pergulatan manusia melawan maut. Orang-orang yang percaya biasanya yakin pada akhirnya mereka akan menang, baik karena diselamatkan Tuhan atau karena berhasil mambuat perlindungan yang kuat. Mereka memprediksi bahwa pengetahuan khusus mereka akan memungkinkan mereka bertahan hidup, bahwa mereka akan lolos dari maut sementara orang lain belum tentu. Kemenangan yang mereka idam-idamkan terpaksa pupus karena pertandingan yang akan mereka menangkan ternyata batal. Pantas bila mereka merasa kecewa sampai menderita trauma.
Demikian pula perangkap yang dialami penganut aliran agama yang terlalu fanatik. Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dan sorganya dari pada orang lain. Orang yang taat dan khusuk seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Memiliki adalah status yang lebih tinggi daripada dimiliki; dan secara tersirat kita tahu penganut aliran fanatik berkeyakinan bahwa Allah dapat mereka monopoli dan berpihak kepada mereka. Ini adalah kesempitan hati yang menyamar sebagai ketaatan beragama. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari telah melambungkan ego mereka manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Kita menengarai adanya orang-orang seperti itu. Seolah-olah merekalah pemilik sorga (nauzubillah). Mereka selalu manganggap bencana alam sebagai azab Allah bagi umat yang berdosa dan cenderung memandangnya sebagai sesuatu yang positip. Mereka meyakini bahwa Allah menghukum rakyat Aceh dengan tsunami karena telah mengotori serambi Mekah itu dengan kemusyrikan dan kemunafikan. Kalau ada ramalan bencana alam yang gagal, tidak mustahil mereka merasa menyesal karena kehilangan kesempatan menyaksikan Allah menyiksa para pendosa. Wallohu a’lam bissawaab.

23/12/12

HINDARI PELECEHAN VERBAL



Oleh: Juman

Saya jarang sekali berhasil membujuk teman untuk membaca sebuah buku yang menurut saya sangat menarik, meskipun sudah saya ceritakan isinya, saya pinjami bahkan saya berikan buku itu kepadanya. Entah mengapa tetapi kata-kata saya tidak mampu untuk meyakinkan pikiran mereka. Keterangan saya kurang jelas, kurang menarik atau kurang dramatis mungkin. Kecuali, mungkin, anjuran agar saudara kita berhenti merokok yang kita sampaikan dalam suasana nafas kita kembang kempis diruang gawat darurat, sambil menunjukkan potret paru-paru kita yang penuh bercak-bercak noda. Mungkin mereka akan tergerak untuk mentaati. Anda juga tidak akan menghentikan kebiasaan membentak-bentak pelayan anda, kalau hanya saya yang mengatakan bahwa kata-kata kasar dapat memicu orang untuk bunuh diri atau bahkan membunuh anda. Bahwa pelecehan verbal merupakan benih kekerasan fisik dan ancaman penyakit. Dan bahwa kejahatan mulut itu merupakan wabah tersembunyi dalam masyarakat. Anda mungkin menganggapnya sekedar nasehat normatif belaka. Perlu dukungan bukti dan keterlibatan pribadi agar nasehat kita berbobot dan berkesan, seperti uang kertas yang hanya bernilai bila ada cadangan emas yang mendukungnya.

Bahaya pelecehan verbal diatas berasal dari desertasi Alice Carleton yang berjudul: Societys Hidden Pandemic: Verbal Abuse, Precursor to Physical Violence and  a Form of Biochemical Assault . Alice yang lahir dalam lingkungan keluarga miskin sejak kanak-kanak hingga dewasa tidak pernah bebas dari caci-maki ibunya yang kasar dan judes. Dilanjutkan dengan 31 tahun sumpah-serapah dari suami yang ringan tangan dan bermulut kotor. Ia merasa tergugah ketika membaca buku Patricia Evans tentang bahaya pelecehan verbal. Menurut Alice buku itu telah menyelamatkan jiwa dan hidupnya. Caci-maki dan sumpah-serapah seperti yang dirasakannya selama puluhan tahun itu ternyata mempunyai dampak destruktif yang sangat berbahaya yang dikatagorikan sebagai pembunuhan jiwa. Selama 15 tahun sejak itu, ia memfokuskan diri untuk menemukan jawaban tentang penderitaannya dan giat mengadakan penelitian dengan masukan dari para ahli dibidangnya, menulis serta berbicara untuk menyadarkan orang lain tentang pembunuhan yang menghancurkan jiwa itu. Ia mendapatkan gelar Master dengan judul desertasi diatas. Ia sekarang berumur 66 tahun dan menjadi ahli kesehatan mayarakat yang terkenal dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Desertasinya dianggap istimewa bukan hanya karena penelitian akademisnya tetapi pengalaman pribadinya yang menjadi inspirasi untuk mendalami dan menulis tentang pelecehan verbal- karena ia mengalaminya sendiri baik sebagai anak-anak maupun sebagai orang dewasa.

Kalimat yang melecehkan adalah ucapan yang berusaha melemahkan seseorang, kata-kata yang tidak benar tentang kita seperti kamu bodoh, kamu gila, kamu salah dll. Ucapan yang mencoba memberi definisi lain tentang seseorang suatu yang menurut Alice melanggar hak asasi manusia. Kata-kata seperti itu sudah banyak kita kenal tetapi pelecehan bisa begitu tersamar, tak sadar waktu kita mendengarnya. Teknik yang digunakan dalam kamp-kamp tahanan tidak berbeda dengan cara seorang ibu rumah tangga membodoh-bodohkan pembantunya, atau bahkan anaknya. Meremehkan, mengabaikan, menuduh, menyembunyikan, menolak, mengalihkan, melupakan, memerintah, merintagi. Semua kita pernah merasakan suatu waktu. Tetapi caci maki yang berkelajutan dalam hubungan perorangan tertutama terhadap seorang anak, sangat merusak yang mungkin perlu waktu hampir seumur hidup untuk dapat pulih kembali. Pelecehan verbal sering dirasakan lebih melukai dari kekerasan fisik karena menyentuh bagian terdalam seseorang.

Banyak dampak buruk dari pelecehan lisan baik psikologis maupun fisik. Meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, kerusakan sistim imunitas tubuh, gangguan penyakit kulit dan pencernaan, mati-rasa, frustrasi, mengucilkan diri sampai keinginan untuk bunuh diri. Anda mungkin pernah membaca tentang kuli bangunan yang mencincang mandor atau majikannya sampai mati karena terus menerus dilecehkan. Itulah contoh riil dari kekerasan fisik bila orang tidak bisa menjaga mulut. Pada tingkat ekstrim kejahatan lisan dapat mengakibatkan trauma berkepanjangan seperti yang diderita oleh wanita korban pemerkosaan atau korban bencana alam yang menelan harta dan anggota keluarga. Bukti penelitan Alice Carleton menunjukkan bahwa sumpah serapah dan caci maki yang terus menerus merusak fikiran, jiwa dan tubuh seseorang, lebih-lebih pada anak-anak. Ucapan Menyesal saya melahirkan kamu! dari seorang ibu sangatlah destruktif karena secara psikologis meniadakan keberadaan sang anak dan dirasakan sebagai serangan yang fatal.

Ucapan yang baik dan pememberian maaf lebih baik dari pemberian yang diikuti dengan perkataan yang melukai perasaan. Yang ini ayat Quran (S2:263). Mari kita jaga mulut, hindari pelecehan verbal!

08/12/12

REVOLUSI JILBAB AMERIKA



Oleh: Jum’an


Anda mungkin pernah membaca tulisan saya BAGAIMANA RASANYA TIDAK PAKAI JILBAB  tentang pengalaman Nadia El-Awady, ibu 4 anak dari Kairo, President World Federation of Science Journalist ketika dia mencoba untuk tampil tanpa jilbab didepan umum yang sudah dikenakannya selama 25 tahun. Ia berfikir mengapa memakai jilbab dianggap wajib. Apakah benar-benar wajib atau hanya keputusan sekelompok laki-laki yang menganggap paling sesuai pada zaman itu untuk melindungi kaum wanita? Apa harus sama sampai sekarang? Berikut ini satu lagi topik mengenai jilbab dari aspek yang sangat berbeda yang kebetulan melibatkan seorang wanita asal Kairo juga yaitu Leila Ahmad (72 th.) professor Harvard, pakar theology dengan minat kuhusus dalam bidang feminisme Islam. Ia akan menerima penghargaan Grawemeyer Award untuk bidang Agama 2013 dari Universitas Louisville berkat bukunya “Revolusi Damai: Kebangkitan Jilbab, dari Timur Tengah sampai Amerika”. (A Quiet Revolution: The Veil’s Resurgence in…)
Ia dianggap berjasa untuk ide-ide yang dituangkan dalam bukunya itu. Ia bukan saja berhasil menjelaskan berbagai makna jilbab dalam tradisi Islam yang beragam, tetapi yang paling penting analisanya bahwa terutama di Amerika sesudah peristiwa serangan WTC 11 Sept. 2001, jilbab membawa makna baru dalam interaksi antara gerakan Islam dan tradisi Amerika dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan. Profesor Shannon pada pemberian penghargaan itu mengatakan: “Buku itu merupakan pembuka mata yang luar biasa  yang memberikan pendidikan, wawasan dan harapan.” Dimasa muda Leila di Mesir wanita yang mengenakan jilbab menunjukkan atau dianggap bahwa mereka adalah muslimah yang taat. Dia ingin tahu mengapa jilbab kembali mengalami masa jaya sekarang. Leila Amad mengamati bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, semakin banyak wanita Islam di Amerika yang sehari-hari mengenakan jilbab. Pada mulanya ia menyangka bahwa ini ada hubungannya dengan gerakan Islam fundamentalis, atau penolakan terhadap kesetaraan gender dari pengaruh dominasi kaum pria dalam dunia Islam (yang ia sebut sebagai Islam Patriarkal). Tetapi dalam penelitiannya ia menemukan fakta yang sebaliknya yaitu sebagian mereka mengenakan jilbab sebagai symbol gerakan untuk perubahan sosial dan keadilan.
Setelah mewawancarai banyak wanita Islam dari berbagai latar belakang diseluruh dunia ( para feminis, nasionalis Arab, putri-putri Islam yang saleh dan para aktivis) ia mengungkapkan bahwa banyak dari mereka mengenakan jilbab sebagai symbol suatu gerakan dan untuk menegaskan identitas mereka, terutama di Amerika setelah 11 September 2001. Dengan jilbab mereka ingin mengatakan “Saya bangga menjadi Muslim dan saya ingin menunjukkan kepada anda, anda tidak usah berprasangka buruk terhadap orang Islam”. Sebagian lain berharap jilbab mereka akan membuat wanita lain berpipikir tentang gaya berpakaian mereka sendiri serta sebagai bukti keadilan sosial dan pengabdian. Sementara aktivisme sering memotivasi wanita untuk mengenakan jilbab, komitmen agama tetap menjadi alasan penting juga. "Banyak wanita mengenakan jilbab karena mereka percaya bahwa Allah menghendaki demikian" kata Leila Ahmed. Ia berpendapat bahwa dalam konteks Islam di Amerika masa kini, memakai jilbab jutru dapat menandakan tuntutan kesetaraan.
Sebelum pindah ke Amerika sebagai pengajar dan penulis, Leila yang kelahiran Kairo 1940 memperoleh gelar Doktornya dari Universita Cambridge Inggris.  Ia memfokuskan diri pada femisnisme Islam, terkenal karena karyanya tentang status historis dan sosial wanita dalam komunitas muslim. Ia khusus meneliti peran wanita dalam kaitannya dengan Islam, dan giat memerangi anggapan yang salah tentang wanita Islam baik didalam maupun diluar dunia Islam. Dalam hampir semua tulisannya ia berusaha untuk menghilangkan mitos serta kesalah-fahaman tentang Islam yang dipegang oleh orang-orang non muslim. (Anda dapat menlihat video diskusi tentang buku Leila Ahmed disini.)

01/12/12

DASAR LAKI-LAKI POLIGAM..!!


Oleh: Jum'an

Anda pasti setuju bahwa hampir semua wanita Indonesia bahkan semua wanita di dunia tidak pernah punya keinginan untuk memiliki suami lebih dari satu orang secara bersamaan. Sebaliknya mayoritas kaum pria berkeinginan untuk menikahi banyak wanita; kalau mampu, kalau berani, kalau dibolehkan dan kalau pihak wanitanya mau. Orang Barat yang umumnya beragama Kristen meskipun bersikukuh mempertahankan budaya monogami dan menunjukkan kebencian terhadap perilaku poligami tetapi mudah diduga bahwa sikap mereka sebenarnya mendua, “benci tapi rindu”. Banyak dari mereka yang kaya dan berpengaruh, para selebriti dan bahkan laki-laki awam dengan berbagai macam cara berusaha menerobos rambu-rambu yang mereka pasang sendiri untuk dapat menjalin hubungan lebih dari satu wanita. Dalam tulisannya "Are People Naturally Polygamous" Dr. Michael Price, dosen psikologi dari Universitas Brunel, London memberikan sederet contoh praktek poligami (yang ia sebut sebagai poligami de facto) yang terjadi di Amerika. Mengapa bangsa berbudaya modern dan pemuja kebebasan memilih sikap mendua yang menyulitkan warganya untuk memenuhi komitmen sosial  mereka? Menurut Price yang juga Direktur Pusat Kebudayaan dan Psikologi Evolusioner Brunel, penyebabnya tidak lain adalah karena mayoritas laki-laki pada dasarnya- secara alamiah memang bersifat poligam.

Dalam "Ehnographic Atlas Codebook", dari 1.231 budaya yang ada didunia, 84.6% diklasifikasikan sebagai pelaku poligami, 15.1% monogami dan 0.3% poliandri. Sejak lebih dari seratus abad yang lalu ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil (hunter-gatherer)  dan suku-suku diseluruh dunia secara historis telah mempraktekkan poligami. Meskipun demikian hanya sebagian kecil yang mampu melakukannya karena untuk menghidupi keluarga besar diperlukan kekayaan dan status tinggi. Sulitnya menimbun kekayaan pada zaman itu menyebabkan mereka yang malakukan poligami hanya mampu menikahi dua atau tiga istri saja. Baru setelah zaman peradaban pertanian skala besar beberapa ribu tahun yang lalu, orang mampu menimbun harta dalam jumlah besar, laki-laki yang mampu berlomba-lomba memiliki istri sebanyak-banyaknya. Begitu menurut Laura Betzig dalam bukunya Despotism and Differential Reproduction. Pola ini terjadi diseluruh dunia. Pikiran manusia modern, kata Michael Price, merupakan adaptasi dari leluhurnya yang berkembang dalam lingkungan poligami. Itulah sebabnya mengapa semangat  poligami tetap hidup dalam budaya Barat sekalipun, meski secara sosial mereka memilih pola monogamis.

Perkawinan poliandri (satu istri dengan lebih dari satu suami) tidak populer karena manfaat poligami bagi pria jauh lebih tinggi dari pada poliandri untuk wanita. Singkatnya dari segi memperoleh keturunan, pria jauh lebih beruntung dari pada wanita dengan memiliki banyak pasangan. Atau, kerugian dari sistim poliandri bagi laki-laki jauh lebih besar dibanding kerugian sistim poligami bagi wanita. Misalnya anda seorang suami kedua dalam perkawinan poliandri; bila istri milik bersama telah hamil oleh benih suami pertama, maka anda harus menunggu 9 bulan lebih sampai ia melahirkan anaknya sebelum anda memperoleh giliran untuk menanamkan benih anda. Tapi bagi seorang istri kedua dalam perkawinan poligami, meskipun istri-istri yang lain sedang hamil anda masih bisa hamil pada saat yang sama. Dan menjadi istri kedua dari seorang pria idaman yang kaya dan mumpuni mungkin menjadi pilihan yang lebih baik daripada menjadi satu-satunya istri dari suami yang kurang berkesan. “Mana ada wanita yang sudi memilih menjadi istri kesekian kalau masih bisa menjadi istri tunggal”? Tetapi kalau pria itu Donald Trump, Sultan Brunei atau Direktur PT. Sumber Rejeki? Nyatanya banyak perempuan didunia lebih memilih untuk melakukan hal itu.

Melihat sifat dasar laki-laki yang memang poligam, kalau saja orang Barat mau mengkaji Islam dengan rendah hati dan fikiran terbuka mereka akan menemukan jalan yang terbaik. Mereka pasti tidak menyangka bahwa Qur’an yang menekankan “…..dan bila kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka satu istri lebih baik!” Disangkanya semua orang Islam dengan seenaknya beristri empat…….